BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
5.2.2. Indeks Kesesuaian Wisata Selam dan Snorkeling
Daya Dukung Kawasan (DDK) untuk wisata bahari khususnya selam dan snorkeling sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian alam dan kepuasan wisatawan. Sebelum menghitung DDK, penting juga untuk mengetahui Indeks
Kesesuaian Wilayah (IKW) untuk menentukan kondisi sebuah destinasi dari kondisi tidak sesuai hingga sangat sesuai.
Ketjulan (2010) mengatakan bahwa, beberapa faktor yang berpengaruh dalam menentukan tingkat kesesuaian untuk pengembangan yakni jenis kegiatan, potensi, dan kondisi sumber daya alam. Parameter penilian IKW selam antara lain: kecerahan, tutupan terumbu karang, jumlah life form terumbu karang, Jenis ikan karang, kecepatan arus, dan kedalaman karang. Sedangkan untuk wisata snorkeling ditambahkan parameter lebar hamparan karang (Yulianda, 2007)
Hasil pengukuran kecerahan untuk perairan pulau Sintok (Tabel 5.10 dan pulau Cilik yaitu 100% (Tabel 5.23). Artinya, kecerahan perairan melebihi dari kedalaman 5 meter dan 10 meter. Berdasarkan penilaian IKW dari Yulianda (2007), mengatakan bahwa kecerahan 100% berada dalam kategori sangat sesuai. Kecerahan perairan merupakan hal penting dalam wisata selam dan snorkeling karena dengan kecerahan yang bagus wisatawan akan dapat melihat terumbu karang dan ikan secara jelas.
Widhianingrum et al. (2013) menambahkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerahan maka semakin baik kondisi perairan dan tingkat keamanan bagi wisatawan. Hal ini berati cahaya matahari dapat menembus kolom perairan hingga dasar perairan. Kecerahan air yang tinggi juga menguntungkan wisatawan karena saat selam dan snorkeling tanpa mengalami hambatan dalam penglihatan dan pengamatan biota-biota.
Tutupan terumbu karang adalah presentase jumlah terumbu karang yang hidup di suatu perairan. Nilai tutupan terumbu karang di titik 1 sampai 4
kedalaman 5 meter secara berurutan yaitu 35,0%, 53,4%, 53,2%, dan 86,2%. Untuk di titik 1 sampai 4 kedalaman 10 meter secara berurutan yaitu 48,6%, 51,6%, 49,3%, dan 43,2%. Selanjutnya untuk titik 5 sampai 8 pada kedalaman 5 meter, secara berurutan nilai tutupan karang yaitu 63,6%, 56,2%, 31%, dan 83,6%. Pada kedalaman 10 untuk titik 5 sampai 8 secara berurutan nilai tutupan terumbu karang yaitu 65%, 61,4%, 2,4%, dan 71,4%. Penilaian terhadap terumbu karang yaitu skor 1 (25% - 50%), skor 2 (50 % - 75%), dan skor 3 (>75%) (Yulianda, 2007).
Tutupan terumbu karang di Karimunjawa merupakan potensi yang sangat besar untuk pemanfaatan wisata selam dan snorkeling. Semakin besar tutupan terumbu karang maka semakin besar juga potensi wisata. Supriharyono (2007) menambahkan bahwa terumbu karang mempunyai nilai estetika yang tinggi, maka menjadi andalan utama wisata bahari yang bisa dinikmati oleh wisatawan.
Jumlah life form terumbu karang yang ditemukan di pulau Sintok yaitu ada 11 jenis (Tabel 5.11), yaitu Acropora branching, Acropora digitate, Acropora sub
massive, Acropora tabulate, Coral Branching, Coral encrusting, Coral foliouse, Coral heliopora, Coral massive, Coral mushroom, dan Coral sub massive.
Kemudian, untuk pulau Cilik ditemukan 9 jenis life form terumbu karang, yaitu
Acropora branching, Acropora digitate, Acropora tabulate, Coral Branching, Coral encrusting, Coral foliouse, Coral massive, Coral mushroom, dan Coral sub massive (Tabel 5.24).
Selain tutupan karang, jumlah jenis life form terumbu karang juga menjadi bagian penting dari wisata selam dan snorkeling. Semakin banyak life form yang
ditemukan, maka perairan tersebut semakin menarik untuk dikunjungi. Wisatawan dapat melihat beragam terumbu karang. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Plathong et al. (2000) yang menyatakan bahwa, jenis life form terumbu karang dibutuhkan sebagai variasi yang dapat dinikmati di bawah laut
Hasil jenis life form untuk pulau Sintok dan Cilik cukup beragam. Untuk kedalaman 5 dan 10 meter, life form terumbu karang berada di kisaran 1-10 jenis. Hasil yang signifikan terdapat pada titik 7. Pada kedalaman 5 meter, ditemukan 4 jenis life form dan pada kedalaman 10 meter karena hanya ditemukan 1 jenis life
form terumbu karang.
Titik ini cocok dijadikan tempat latihan penyelaman Latihan Perairan Terbuka (LPT) untuk penyelam baru karena sedikit terumbu karang dan banyak pasirnya. Hal tersebut, bisa menimilasir kerusakan terumbu karang dari aktivitas selam. Kegiatan LPT melibatkan sejumlah penyelam pemula dan instruktur selam, sehingga diperlukan lokasi yang relatif luas dan dapat menampung jumlah penyelam dalam satu waktu (Sulisyati, 2016).
Parameter selanjutnya adalah jenis ikan karang. Ikan karang merupakan salah satu biota yang memiliki keanekaragaman spesies tinggi, di mana hidupnya berasosiasi dengan terumbu karang. Hasil pengamatan yang dilakukan di pulau Sintok yaitu ditemukan 34 genus dengan total 4106 ekor. Selanjutnya, hasil pengamatan untuk pulau Cilik yaitu ditemukan 35 genus dengan total 3543 ekor. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Caesio sebanyak 913 ekor di pulau Sintok (Tabel 5.12) dan 633 ekor di pulau Cilik (Tabel 5.25).
Parameter fisika lainnya yaitu kecepatan arus. Kecepatan arus untuk kedua pulau tersebut berkisar pada 3 cm/s sampai 25 cm/s. Kecepatan tersebut pada kondisi sangat sesuai (0-15 cm/s) dan kondisi sesuai (15-30 cm/s) untuk wisata selam dan snorkeling. Juliana et al (2013) menyatakan bahwa kecepatan arus yang layak untuk untuk wisata selam dan snorkeling yaitu 15 cm/s – 40 cm/s. Arus merupakan faktor pembatas kesesuaian wisata selam yang mempengaruhi pergerakan penyelam untuk mengatur keseimbangan (Wijaya et al, 2017).
Parameter selanjutnya yaitu kedalaman terumbu karang. Kedalaman yang dipilih yaitu 5 meter untuk snorkeling dan 10 meter untuk selam. Kedalaman snorkeling masuk dalam kategori sesuai dan untuk selam masuk dalam kategori sangat sesuai. Kedalaman yang paling sesuai untuk snorkeling yaitu 1-3 meter dan untuk selam maksimal 15 meter (Yulianda, 2007). Rudianto et al (2020), menambahkan bahwa semakin dangkal kedalaman air untuk snorkeling, semakin dipilih oleh wisatawan karena lebih dekat dan lebih jelas objek yang dilihat. Selain itu, mereka memilih kedalaman yang relatif aman, nyaman, dan mengutamakan keselamatan saat snorkeling
Selanjutnya, untuk wisata selam kedalaman yang paling sesuai yaitu kedalaman 6-15 meter. Hal tersebut dikarenakan pada kedalaman tersebut pengaruh tekanan air tidak terlalu besar sehingga akan membuat pergerakan penyelaman lebih stabil (Rudianto et al, 2020). Kedalaman 10 meter juga sesuai dengan jenjang awal penyelam yaitu One Star (A1). Jenjang bagi seorang penyelam yang telah mampu menyelam di lingkungan terbatas dengan kondisi
perairan yang baik, jernih dan tidak terlalu dalam yaitu maksimal 30 feet / 10 meter (Coremap Indonesia, 2020).
Parameter tambahan khusus untuk wista snorkeling yaitu lebar hamparan karang. Lebar hamparang terumbu karang untuk pulau Sintok berkisar pada 169 – 331 meter (Tabel 5.13) dan untuk pulau Cilik berkisar pada 69 – 157 meter (Tabel 5.26). Semakin lebar hamparan karang yang ada, maka semakin besar area untuk melakukan kegiatan snorkeling. Namun, yang menjadi perhatian yaitu pada kedalaman perairan. Karena kedua pulau tersebut terdapat perubahan kedalaman pada area yang ada terumbu karang.
Hasil penilaian nilai IKW untuk wisata selam di titik 1, 2, 3, dan 4 (Pulau Sintok) secara berurutan yaitu 70,4% ; 83,3% ; 74,1% ; dan 68,2%. Nilai IKW untuk selam di titik 5,6,7, dan 8 (Pulau Cilik) secara berurutan yaitu 77,8% ; 79,6% ; 53,7% ; dan 85,2%. Selanjutnya, hasil penilaian nilai IKW untuk snorkeling di titik 1, 2, 3, dan 4 secara berurutan yaitu 73,7% ; 80,7% ; 75,4% ; dan 89,5%. Nilai IKW wisata snorkeling pada titik 5, 6, 7, dan 8 secara berurutan yaitu 80,7% ; 78,9% ; 66,7% ; dan 89,5%.
Yulianda (2007), mengatakan bahwa dari nilai IKW wisata selam dan snorkeling dibagi dalam empat kategori, sebagai berikut: sangat sesuai (S1), dengan IKW >75-100%; cukup sesuai (S2) dengan IKW 50-75%; sesuai bersyarat (S3), dengan nilai IKW 25-50%; dan tidak sesuai (N), dengan nilai IKW < 25%. Sehingga, untuk wisata selam di kedua pulau yang termasuk dalam kategori sangat sesuai (S1) yaitu titik 2, 5, 6, dan 8. Sedangkan yang masuk dalam kategori cukup sesuai (S2) yaitu titik 1, 3, 4, dan 7. Untuk wisata snorkeling di kedua
pulau, yang termasuk dalam kategori sangat sesuai (S1) yaitu titik 2, 3, 4, 5, 6, dan 8. Sedangkan yang masuk dalam kategori cukup sesuai (S2) yaitu titik 1 dan 7
Yulianda (2007) dalam Wijaya et al (2015) menambahkan bahwa definisi dari nilai IKW sangat sesuai (S1) yaitu pada kategori kesesuaian ini tidak ada faktor pembatas untuk suatu penggunan tertentu. Dengan kata lain, hanya mempunyai faktor pembatas yang kurang berarti. Kategori cukup sesuai (S2) berarti bahwa pada ketegori kesesuaian ini mempunyai faktor pembatas yang rasional untuk kegiatan wisata. Faktor pembatas tersebut akan mempengaruhi produktivitas kegiatan wisata.
Perhitungan IKW yang paling berbeda terlihat pada titik 7 pada kedalaman 5 yaitu 66,7% (Tabel 5.20) dan 10 meter yaitu 53,7% (Tabel 5.16). Faktor pembatas yang rasional yaitu tutupan terumbu karang dan jumlah life form terumbu karang. Presentase tutupan karang pada kedalaman 5 meter yaitu 31 % (Gambar 5.31) dan kedalaman 10 meter hanya 2,4 % (Gambar 5.27). Life form terumbu karang yang ditemukan pada kedalaman 5 meter yaitu 4 jenis dan pada kedalaman 10 meter hanya 1 jenis (Tabel 5.4). Dengan hasil tersebut di atas, perairan pulau Sintok dan pulau Cilik memenuhi syarat untuk dijadikan salah satu destinasi wisata selam dan snorkeling di kepulauan Karimunjawa.