• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak dan Administrasi Wilayah Kabupaten Sukabum

5 INDEKS PERKEMBANGAN DESA DI KABUPATEN SUKABUMI 1 Pendahuluan Tentang Indeks Perkembangan Desa

5.10 Indeks Perkembangan Desa di Kabupaten Sukabum

Pengukuran indeks perkembangan desa sudah sangat sering dilakukan oleh berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap desa baik di daerah (Badan Perencana Pembangunan Daerah dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa) maupun pusat (Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Kementrian Dalam Negeri), setiap pihak menggunakan indikator yang berbeda-beda tergantung kepada metode dan pendekatannya. Pengukuran indeks perkembangan desa yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sukabumi dengan menggunakan delapan indikator yaitu: Infrastruktur Jalan, Sarana Pendidikan, Akses Pasar, Akses dan Sarana Kesehatan, Tingkat Pengangguran, Jumlah Keluarga PRA Sejahtera, Frekuensi Bencana dan Sumber Air Konsumsi. Delapan indikator ini dipilih berdasarkan tiga dimensi faktor yang dianggap berpengaruh terhadap perkembangan suatu desa/wilayah, adapun tiga dimensi itu adalah: Dimensi Sosial, Dimensi Ekonomi dan Dimensi Ekologi.

Berdasarkan hasil analisis komponen utama (PCA) atas delapan indikator perkembangan desa di Kabupaten Sukabumi berdasarkan data dasar dari Potensi Desa (PODES) tahun 2014, terdapat enam indikator utama yang sangat berpengaruh dalam menggambarkan perkembangan desa di Kabupaten Sukabumi, secara berturut-turut yaitu Sarana Pendidikan, Sarana Kesehatan, Jumlah Keluarga PRA Sejahtera, Infrastruktur Jalan, Akses Pasar dan Pengangguran. Enam indikator ini dapat menggambarkan perkembangan desa sebesar 90 persen dan menjadi komponen utama dalam menentukan berkembang tidaknya sebuah desa/wilayah.

Terdapat 110 desa dari 386 desa dan kelurahan di Kabupaten Sukabumi yang masuk kedalam kategori desa/kelurahan berkembang dan sisanya 276 desa termasuk kategori desa tertinggal, berdasarkan delapan indikator yang digunakan untuk menganalisa perkembangannya. Jumlah ini berarti hanya 28,5 persen desa/kelurahan di Kabupaten Sukabumi yang berkembang, dan 61,5 persen desa lainnya berada dalam kondisi tertinggal. Hal ini menegaskan predikat Kabupaten tertinggal yang disandang Kabupaten Sukabumi sejak lama, walaupun pada tahun 2014 kementrian PDT melalui SK Mentri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal pernah memberikan sertifikat terentaskan, namun demikian keadaaan sebenarnya berdasarkan delapan indikator yang dianalisis masih menempatkan Kabupaten Sukabumi sebagai Kabupaten dengan jumlah desa tidak berkembang nya lebih dari 60 persen.

Hasil analisis yang didapat dalam penelitian ini seakan menegaskan predikat tertinggal Kabupaten Sukabumi kembali melekat sesuai dengan pernyataan Mentri Desa pada peresmian kantor Asosiasi Pemerintah Desa

Indonesia (APDESI) cabang Kabupaten Bekasi Februari 2016. Pernyataan Mentri Desa didasari atas kajian dari Staf Khusus Bidang Daerah Tertinggal berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia dan Infrastruktur.

Jumlah 110 desa berkembang di Kabupaten Sukabumi tersebar di 45 Kecamatan dengan hanya enam kecamatan yang jumlah desa berkembangnya lebih dari 50 Persen yaitu kecamatan Bojonggenteng, Cicurug, Ciracap, Pelabuhanratu, Waluran, Tegalbuleud dan Parungkuda. Dua kecamatan tidak memiliki satupun desa yang berkembang yaitu Cidadap dan Kebonpedes, sedangkang 38 kecamatan lainnya memiliki minimal satu desa yang berkembang. Sebaran desa berkembang paling banyak berada di wilayah selatan dengan 60 desa berkembang yang tersebar di 23 kecamatan dan terdapat empat kecamatan yang memiliki jumlah desa berkembang diatas 50 persen.

Terjadi sebuah fenomena yang menarik pada indeks perkembangan desa di Kabupaten Sukabumi, daerah-daerah yang diharapkan dapat memberikan efek positif terhadap desa lain ternyata tidak berpengaruh. Upaya pemerintah daerah untuk membuka banyak lapangan pekerjaan dengan menarik investor baik dalam negeri maupun luar negeri, tidak banyak memberikan pengaruh pada perkembangan desa di Kabupaten Sukabumi. Hal ini terjadi karena permasalahan ekonomi seperti Pengangguran dan Tingkat Kesejahteraan Keluarga tidak menjadi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan desa.

Skala prioritas pembangunan yang ditetapkan pemerintah Kabupaten Sukabumi cenderung mengejar sasaran-sasaran makro yang akhirnya menimbulkan berbagai ketidakseimbangan pembangunan seperti, disparitas spasial, kesenjangan desa-kota dan lain sebagainya. Pendekatan makro yang dilakukan juga abai pada keragaman sumberdaya lokal yang menjadi potensi serta ciri suatu daerah, bahkan tidak jarang menabrak kearifan budaya lokal.

Pembangunan perdesaan di Kabupaten Sukabumi sudah tidak bisa lagi menggunakan konsep strategi pertumbuhan terpusat (growth pole strategy) karena penetesan dampak ke desa sekitar pusat pertumbuhan berdampak sia-sia, bahkan cenderung efek merusak (backwash effect) desa sekitar (Lipton, dalam Rustiadi, 2011) . Konsep optimalisasi pengembangan potensi basis, keterlibatan masyarakat dalam upaya perencanaan partisipatif dan penguatan kelembagaan di masyarakat menjadi hal utama yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah untuk menggantikan strategi pusat pertumbuhan dalam kebijakan pembangunan perdesaannya seperti yang dikemukakan oleh Mrydal (1988) dan Waterson (1965).

Optimalisasi pengembangan potensi basis dapat dilakukan dengan menggali seluruh sumberdaya yang ada di desa seperti, sumberdaya alam (lahan), sumberdaya manusia, tekonologi, modal dan sosial budaya sebagai kekuatan

social capital. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya di perdesaan pada kenyataanya akan mengalami banyak hambatan karena sudah banyak sumberdaya di desa yang dikuasai oleh sekelompok elit atau bahkan dimiliki orang di luar desa itu sendiri. Permasalahan kepemilikan sumberdaya yang terpusat di lingkaran elit atau masyarakat luar desa dapat menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan bagi masyarakat untuk memperoleh akses pembangunan (Rustiadi, 2011).

Ketimpangan dan ketidakadilan kesempatan setiap unsur masyarakat dalam mengakses pembangunan akan secara lambat laun memendam potensi permasalahan sosial yang dapat meledak sewaktu-waktu. Hal ini secara ekonomi

akan menimbulkan inefisiensi sekaligus menutup akses masyarakat lemah terhadap sumberdaya yang pada akhirnya dapat menimbulkan biaya sosial yang tinggi. Kasus PT. Semen Jawa yang ada di Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi (wilayah utara) yang hingga sekarang masih mendapatkan penolakan dari sebagian besar masyarakat sekitar pabrik, menjadi salah satu contoh ketimpangan yang akhirnya menimbulkan permasalahan sosial dan secara terus menerus mendapatkan penolakan serta menghabiskan energi baik bagi usaha maupun masyarakat itu sendiri. Kondisi yang sama terjadi di Papua, dimana operasi PT. Freepot Indonesia selalu mendapatkan gangguan dari masyarakat sekitar akibat adanya kesenjangan sosial yang terlampau besar antara masyarakat sekitar dengan para pekerja pendatang (Hamsky, 2014).

Contoh lain di Kecamatan Cisaat, sebuah kecamatan yang dianggap maju dan masuk dalam kategori perkotaan, ternyata hanya memiliki empat desa berkembang dan ada sembilan desa tertinggal. Pasar tradisional yang tergolong besar, jalur lintas antar provinsi dan beberapa industri baik industri kecil maupun besar merupakan faktor pendukung bagi kecamatan Cisaat untuk menjadi kecamatan dengan jumlah desa berkembang yang tinggi. Namun demikian, pusat- pusat pertumbuhan yang dirancang bahkan sejak zaman orde lama tidak memberikan efek penetesan pada desa-desa yang menjadi hinterland, dimana pertumbuhan hanya terjadi pada desa-desa yang memang secara sengaja dijadikan pusat pertumbuhan. pada kasus di Kalimantan periode tahun 2008-2011, wilayah yang ditetapkan sebagai pusat pertumbuhan justru berada pada wilayah relatif tertinggal dibandingkan wilayah lain yang bukan sebagai pusat pertumbuhan (Pasaribu, 2014).

Pembangunan manusia merupakan hal penting yang sering dilupakan dalam pembangunan sebuah daerah, faktor yang sering mendasari dilupakannya pembangunan manusia karena tidak bersifat instan dan terlihat. Perbaikan infrastruktur desa secara besar-besaran telah coba dilakukan oleh pemerintah baik melalui peningkatan Dana Desa (DD), Alokasi Dana Desa (ADD) bahkan program Program Nasional Pembangunan Mandiri (PNPM), Program Peningkatan Kualitas Permukiman (P2KP) dan lain sebagainya. Namun demikian perkembangan desa ternyata tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur tersebut, sarana kesehatan, sarana pendidikan, akses pasar merupakan tiga indikator utama dalam perkembangan desa. Saran jalana yang sudah baik, pengangguran, atau pun sarana infrastruktur lainnya tidak menjadi jaminan akan berkembang atau tidaknya desa di Sukabumi.

Porsi dana pemberdayaan dalam struktur dana desa menurut Permendes no 22 tahun 2016 adalah minimal 30-50 persen, dan porsi pembangunan infrastruktur sebesar 50-70 persen. Besaran dana pembangunan infrastruktur yang lebih besar atau sama dengan dana pemberdayaan menunjukkan betapa strategi atau model pembangunan yang diterapkan masih bias infrastruktur, dan menempatkan pemberdayaan sebagai pelengkap dalam proses pembangunan.

Pembangunan jalan lintas, bangunan kantor dan sarana pelengkap lainnya masih menjadi idola dalam kegiatan pembangunan perdesaan di Sukabumi. Pembangunan seperti ini sejatinya adalah model pembangunan yang urban bias

dimana hanya segelintir orang yang dekat dengan perkotaan saja yang dapat menikmatinya, sementara itu orang perdesaan masih berkutat dengan kesulitan dalam mengakses hasil pembangunan. Selain fokus pembangunan infrastruktur

yang sangat terbatas untuk diakses orang perdesaan, pembangunan infrastruktur juga sering menggerus lahan pertanian yang menjadi tumpuan masyarakat perdesaan dalam mendapatkan penghidupan.

Sumberdaya manusia masyarakat perdesaan di Kabupaten Sukabumi sangat mendesak untuk di intervensi, hal ini terlihat dari masih rendahnya angka lama bersekolah yang hanya 6,9 tahun. Selain lama bersekolah yang rendah, permasalahan sumberdaya manusia lainnya yang terjadi Kabupaten Sukabumi juga adalah pemasalahan keterampilan serta profesionalitas tenaga kerja. Angka keluar masuk tenaga kerja di industri Kabupaten Sukabumi berdasar data dari Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) seperti yang disampaikan oleh Sekjen GSBI, Hasan dalam orasinya di acara hari buruh 2 Mei 2016 terbilang cukup tinggi yaitu 2000 orang buruh setiap bulan. Besaran jumlah buruh yang keluar masuk industri yang mencapai 2000 orang setiap bulannya menandakan ada permasalahan yang terjadi pada kualitas tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi, sehingga diperlukan langkah antisipasi yang dapat menekan angka keluar masuk buruh pada industri.

Jumlah tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi mencapai 298.000 orang yang tersebar di berbagai industri, dengan proporsi antara perempuan dan laki-laki adalah sebanyak 85:15 persen. Mayoritas tenaga kerja yang didominansi oleh perempuan dan mayoritas merupakan lulusan SMP/SMU, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi membutuhkan supply tenaga kerja kelas bawah dan hanya memerlukan persyaratan administratif ijazah SMP. Rendahnya persyaratan administratif untuk mengakses pekerjaan pada industri di Kabupaten Sukabumi secara tidak langsung telah mendorong pada rendahnya partisipasi lama bersekolah masyarakat di Kabupaten Sukabumi.

Kajian penyadaran masyarakat akan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan yang tidak hanya menekankan pada kebutuhan pasar tenaga kerja, secara massive perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sukabumi yang masih tergolong rendah. Peningkatan keterampilan masyarakat agar lebih memiliki keterampilan yang berkategori tinggi dan ahli, perlu juga dilakukan untuk semakin meningkatkan kualitas tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi sehingga dapat meningkatkan pula posisi tawar tenaga kerja terhadap industri.

Kondisi ekologi merupakan salah satu hal yang sangat diperhitungkan dalam mengukur perkembangan desa diantaranya adalah tingkat kejadian bencana yang selama ini bayak terjadi di wilayah sekitar Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun Salak dan juga di daerah selatan Sukabumi yang berjarak dekat dengan lautan dan Perhutani, tetapi disamping bencana ada hal lain yang mendukung daya hidup masyarakat perdesaan Sukabumi yaitu ketersediaan air minum yang masih berkualitas baik dan terakses. Maka berdasarkan delapan indikator utama yang digunakan maka desa-desa yang berada di Kabupaten Sukabumi lebih banyak yang tidak berkembang yaitu sebanyak 61,5 persen desa.

Indikator utama yang digunakan untuk melihat perkembangan desa di Sukabumi seperti infrastruktur jalan secara keseluruhan masih buruk kondisi jalan rusak sedang dan berat di Kabupaten Sukabumi mencapai 63 persen., dari segi pendidikan ketersediaan infrastruktur sekolah secara quantitatif cukup tinggi di Sukabumi yaitu terdapat 201 desa yang mempunyai sekolah lengkap dari tingkat dasar hingga menengah atas, namun tingkat partisipasi penduduk

Sukabumi dalam bersekolah tampaknya masih rendah jika dilihat dari rata-rata lama bersekolah yang tidak sampai tujuh tahun artinya mayoritas penduduk di Sukabumi hanya hanya tamat sekolah dasar. Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi kualitas masyarakat desa di Kabupaten Sukabumi yang masih jauh dari tingkat pendidikan formal tinggi. Pemerintah daerah harus mengatasi keadaan ini dengan memberikan berbagai macam stimulus agar masyarakat perdesaan di Sukabumi tertarik untuk melakukan perbaikan kualitas pendidikan.Selain pendidikan sarana kesehatan bagi masyarakat perdesaan di Sukabumi masih rendah sehingga perlu ditingkatkan terutama di wilayah selatan karena fasilitas kesehatan yang tersedia saaat ini lebih banyak di wilayah utara kabupaten Sukabumi.

Penggunaan indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini penting untuk melengkapai berbagai macam indikator yang telah digunakan selama ini sebagai alat pembanding dan juga perluasan alat ukur secara kuantitatif untuk memotret kondisi perdesaan secara umum yang tidak hanya bergantung pada satu aspek saja namun memperhitungkan berbagai macam indikator.

5.11 Ikhtisar

Tingkat perkembangan desa di Kabupaten Sukabumi didasarkan pada beberapa Indikator utama untuk memperolah gambaran yang tepat dan sesuai kondisi wilayah Kabupaten Sukabumi saat ini. Analisis tingkat perkembangan desa yang dilakukan dalam penelitian ini telah menghasilkan sebuah tesis baru yang mematahkan anggapan pemerintah daerah dan masyarakat selama ini. Jika sebelumnya wilayah selatan selalu diidentikkan sebagai wilayah miskin, tertinggal, dan sangat bergantung pada uluran bantuan luar, maka dalam penelitian ini justru sebaliknya. Wilayah selatan Sukabumi memiliki jumlah desa berkembang yang lebih banyak (62 desa berbanding 48) dibandingkan wilayah utara Sukabumi yang selama ini digemborkan sebagai wilayah maju dan sejahtera.

Wilayah utara Sukabumi yang selama ini disangka sebagai wilayah yang maju, ternyata menunjukkan hasil yang berbeda karena hanya memiliki 48 desa berkembang saja. Maraknya industri yang semakin menjamur di wilayah utara tidak secara positif meningkatkan perkembangan desa di wilayah utara Sukabumi, terbukti dengan masih tingginya angka pengangguran di wilayah utara (54 desa memiliki tingkat pengangguran >15 persen dibandingkan wilayah selatan yang hanya memiliki 51 desa dengan tingkat pengangguran yang sama).

Pada wilayah selatan, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan desa secara berurutan adalah Sarana Kesehatan, akses Pasar dan jumlah keluarga pra KS, penganguran dan frekuensi bencana. Sedangkan di wilayah utara, secara berurutan yang menjadi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan desa adalah akses pasar, sarana kesehatan, jumlah keluarga pra KS, pengangguran dan sarana pendidikan.

Secara umum pengangguran tersebar di berbagai desa-desa yang ada di Kabupaten Sukabumi, jumlah keluarga kurang sejahtera di Sukabumi masih banyak kedepan kondisi ini tentu perlu ditingkatkan melalui perbaikan berbagai kondisi sosial-ekonomi termaksuk regulasi yang tepat agar dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Indikator aksesibilitas terhadap pasar di Kabupaten Sukabumi dapat dinilai dari jumlah pasar yang sebanyak 87 pasar Desa dan hanya ada 19 pasar kecamatan.

6 DESA DALAM PERSPEKTIF KEMANDIRIAN

Dokumen terkait