• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks Tendensi Konsumen

3. Pendapatan Regional dan Indeks Tendensi Konsumen

3.5 Indeks Tendensi Konsumen

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) diperoleh dari hasil Survei Tendensi Konsumen (STK). Indeks ini berguna untuk memperoleh gambaran mengenai situasi bisnis dan perekonomian secara umum menurut persepsi konsumen sekaligus sebagai pelaku ekonomi. Informasi seperti ini sangat diperlukan oleh pemerintah maupun dunia usaha. Pemerintah memerlukan informasi tersebut diantaranya untuk perencanaan, sedangkan dunia usaha diantaranya untuk keperluan investasi atau ekspansi pasar. Dengan adanya informasi ini, berbagai pihak dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi perubahan keadaan supaya tak menimbulkan kerugian.

Secara umum situasi perekonomian Sulawesi Barat selama tahun 2012 menunjukkan adanya peningkatan dari triwulan yang satu ke triwulan selanjutnya, meski pada triwulan IV terlihat bahwa situasi perekonomian Sulawesi Barat tidak lebih baik dibanding triwulan III. Kondisi di triwulan IV ini dipengaruhi oleh adanya penurunan pendapatan rumah tangga. Pendapatan rumah tangga yang menurun ini disinyalir dipengaruhi oleh adanya momen hari raya idul fitri yang jatuh pada triwulan III. Meski pada triwulan II pendapatan rumah tangga di triwulan III diramalkan lebih rendah dari triwulan II, namun ternyata dalam realisasinya pendapatan rumah tangga di triwulan III justru lebih tinggi dan paling yang tinggi di banding triwulan lainnya.

PENDAPATAN REGIONAL DAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN 63 meningkat dibanding hari-hari biasa. Sehingga pada saat hari raya berlangsung, masyarakat berusaha untuk meningkatkan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan di hari raya tersebut. Setelah hari raya selesai, masyarakat tidak terlalu berusaha keras menambah pendapatannya karena kebutuhan hidup sudah kembali normal. Hal ini seperti yang telah diperkirakan responden bahwa pendapatan yang akan diterima di triwulan IV akan lebih kecil dibanding triwulan sebelumnya (Lihat Tabel 3.11). Demikian juga dalam realisasinya terlihat bahwa pendapatan rumah tangga di triwulan IV menurun dibanding triwulan III.

Tabel 3.10

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-IV

Menurut Variabel Pembentuknya di Sulawesi Barat Tahun 2012 Variabel Pembentuk Trw I Trw II Trw III Trw IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Pendapatan rumah tangga 105,82 108,16 114,87 99,19 Kaitan inflasi dengan konsumsi

makanan sehari-hari 111,73 116,65 106,81 138,56 Tingkat konsumsi beberapa

komoditi makanan dan non

makanan 99,30 102,90 110,49 102,19

ITK 106,00 109,29 111,80 110,44 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat

Hal lain yang menarik disini adalah bahwa ternyata pada saat hari raya idul fitri berlangsung di triwulan III, kenaikan inflasi ternyata tidak mempengaruhi rumah tangga untuk mengurangi konsumsi makanan sehari-harinya. Bahkan tingkat konsumsi rumah tangga terhadap kebutuhan makanan dan non makanan di triwulan III adalah yang paling tinggi dibanding triwulan lainnya.

64 PENDAPATAN REGIONAL DAN INDEKS TENDESI KONSUMEN

Tabel 3.11

Perkiraan dan Realisasi Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-IV Menurut Variabel Pembentuknya

di Sulawesi Barat Tahun 2012

Variabel Pembentuk Trw I Trw II Trw III Trw IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Perkiraan pendapatan rumah

tangga mendatang 110,90 113,11 112,27 110,07

Rencana pembelian barang-barang tahan lama (TV, VCD/DVD player, Radio, Tape/Compo, dan sebagainya)

101,13 103,29 106,01 107,74

Perkiraan ITK 107,72 109,70 110,10 109,26 Realisasi ITK 106,00 109,29 111,80 110,44 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat

Grafik 3.3

Perkembangan Inflasi Mamuju (Persen) dan Pengaruhnya Terhadap Konsumsi Makanan Sulawesi Barat Triwulanan Tahun 2012

111,73 116,65 106,81 138,56 0,54 0,3 1,91 0,49 0 0,5 1 1,5 2 2,5 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Trw I Trw II Trw III Trw IV

Kaitan inflasi dengan konsumsi makanan sehari-hari inflasi Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat

PERTANIAN

PERTANIAN 67 Secara astronomis, Sulawesi Barat berada pada 0º12'-3º38'LS dan 118º43'15”-119º54'3”BT, dengan iklim tropis. Kondisi ini menjadikan Sulawesi Barat sangat potensial terhadap pengembangan sektor pertanian. Pada tahun 2012 sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Sulawesi Barat, hal ini tercermin dari share sektor pertanian dalam pembentukan PDRB Sulawesi Barat yang mencapai 47,43 persen. Selain itu, sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja di Sulawesi Barat. Pada tahun yang sama, penduduk yang terjun dan menggantungkan hidupnya di sektor pertanian mencapai 314.290 orang dari 548.783 tenaga kerja atau sekitar 57,27 persen.

Struktur perekonomian yang didominasi oleh pertanian dengan penyerapan yang tenaga kerja yang tinggi pada sektor yang menunjukkan jika perekonomian Sulawesi Barat masih bersifat agraris. Olehnya itu, sudah sewajarnya jika kesejahteraan penduduk yang menggeluti sektor pertanian mendapat perhatian khusus dari pemangku kebijakan. Kendati kesejahteraan petani secara umum pada tahun 2012 mengalami peningkatan dari kondisi tahun dasar (2007) yang tercermin dari nilai tukar petani (NTP) yang sebesar 104,41. Akan tetapi tidak semua sub sektor petanian ini memiliki kemampuan nilai tukar diatas 100, seperti sub sektor tanaman pangan dan sub sektor hortikultura masing-masing sebesar 88,86 dan 85,32.

Sektor pertanian sendiri ditopang oleh lima sub sektor, yaitu sub sektor tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan sub sektor perikanan. Semua sub sektor pertanian ini

68 PERTANIAN

memiliki peranan yang cukup bervariasi dalam menyusun PDRB Sulawesi Barat.

4.1 Tanaman Pangan

Padi adalah jenis tanaman pangan dengan produksi yang paling dominan di Sulawesi Barat. Jenis padi ini dibedakan menurut padi ladang dan padi sawah. Hingga saat ini produksi padai sawah masih lebih banyak dibandingkan padi ladang sehingga para petani lebih memilih mengusahakan padai sawah baik dengan perairan irigasi maupun non irigasi.

Produksi padi sejak tahun 2006 hingga 2012 selalu menunjukkan kecenderungan meningkat namun pada tahun 2009, produksi padi mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 di awal terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat dimana pemerintah tengah berupaya menata seluruh infrastruktur perekonomiannya, produksi padi di Sulawesi Barat mencapai 301.616 ton. Angka ini meningkat menjadi 312.676 ton pada tahun 2007 (setara dengan 3,67 persen). Hingga tahun 2012, produksi padi Sulawesi Barat mencapai 412.338 ton. Produksi padi tahun 2012 mengalami peningkatan 46.655 ton (12,76 persen) dari produksi tahun 2011. Peningkatan produksi ini diantara penyebabnya adalah karena peningkatan luas panen. Penambahan luas panen ini didukung oleh makin baiknya sistem pengairan dibeberapa kabupaten yang menjadi sentra tanaman padi. Nampak dari grafik yang ada menunjukkan adanya penurunan produksi pada tahun 2009 penurunan tersebut sebagai dampak pengurangan luas panen yang terjadi di

PERTANIAN 69 Kabupaten Polewali Mandar. Di samping produktivitas, produksi padi juga sangat tergantung pada luas panen.

Grafik 4.1

Produksi Padi di Sulawesi Barat (Ton) Tahun 2006-2012

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat

Seiring dengan peningkatan produksi, luas panen padi di Sulawesi Barat menunjukkan kecenderungan yang meningkat setiap tahun, kecuali tahun 2009 yang mengalami demosi. Kondisi tersebut disebabkan oleh adanya kerusahan jaringan irigasi yang terjadi di Kabupaten Polewali Mandar sehingga hampir sebagian lahan sawah yang biasanya bisa ditanami hingga lima kali dalam dua tahun mengalami kekeringan dan tidak mampu berproduksi seperti biasanya.

Pada kurun waktu 2006-2012, luas panen padi di Sulawesi Barat mengalami pergerakan yang berfluktuasi. Pada tahun 2006, luas panen padi Sulawesi Barat mencapai 64.462 ha meningkat menjadi 72.471 pada tahun 2008. Seiring dengan kerusakan Bendungan Sekka-Sekka di Polewali Mandar, menggerus luas panen padi Sulawesi Barat menjadi

70 PERTANIAN

64.973. Untuk kembali meningkatkan produksi padi, dilakukan perbaikan Bendungan Sekka-Sekka yang menggiring peningkatan luas panen padi menjadin 75.923 ha pada tahun 2010 atau meningkat 16,85 persen. Kondisi ini terus mengalmi peningkatan hingga mencapai 83.196 ha pada tahun 2012. Perkembangan luas panen padi di Sulawesi Barat tercermin pada grafik 4.2.

Grafik 4.2

Luas Panen Padi di Sulawesi Barat (Hektare) Tahun 2006-2012

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat

Sebagai sentra produksi padi, Sulawesi Barat sudah memiliki

share dalam mendukung program nasional, yakni surplus beras 10 juta

ton pada tahun 2014. Untuk itu, pemerintah daerah telah menetapkan target produksi padi Sulawesi Barat hingga 2014 sebesar satu juta ton gabah kering giling. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan upaya yang serius agar tujuan yang diharapkan apat tercapai dengan melakukan ekstensifikasi dan menggiatkan intenifikasi pertanian.

PERTANIAN 71 Selain memiliki kemampuan dalam mendukung produksi beras nasional, Sulawesi Barat juga berpotensi menjadi menyuplai produksi palawija. Beberapa komoditi palawija yang mengalami peningkatan produksi pada tahun 2012 dibanding tahun 2011 adalah jagung yang meningkat sebesar 39.559 ton (47,66 persen) dari produksi tahun 2011 yang sebesar 82.995 ton. Peningkatan produksi jagung yang cukup tinggi ini, menempatkan Sulawesi Barat sebagai 17 besar provinsi penghasil jagung se Indonesia. Adapun komoditi palawija yang mengalami penurunan produksi adalah kacang tanah dan ubi jalar yang masing-masing sebesar 15,46 persen dan 18,71 persen. Perkembanan produksi palawija Sulawesi Barat dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1

Perkembangan Produksi Palawija di Sulawesi Barat (Ton) Tahun 2011 – 2012 Komoditi 2011 2012 Perkembangan Produksi Persen (1) (2) (3) (4) (5) Jagung 82 995 122 554 39 559 47,66 Kedelai 2 433 3 222 789 32,43 Kacang Tanah 1 230 1 040 -190 -15,46 Kacang Hijau 714 930 216 30,25 Ubi Kayu 47 670 48 265 595 1,25 Ubi Jalar 20 407 16 589 -3 818 -18,71

72 PERTANIAN

4.2 Perkebunan

Sulawesi Barat memiliki daya dukung wilayah yang tinggi untuk pengembangan sub sektor perkebunan. Dengan adanya otonomi daerah, setiap pemerintah daerah diberikan wewenang untuk menarik investor berinvestasi di daerahnya. Dengan kondisi iklim dan tekstur tanah yang dimiliki Sulawesi Barat sangat potensial untuk pengembangan komoditi perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan tanaman perkebunan lainnya. Komoditi perkebunan di Sulawesi Barat yang sudah dilirik oleh investor adalah kelapa sawit. Hal ini cukup dimaklumi mengingat kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang menjadi primadona dunia. Seiring perkembangan penelitian, hasil diversifikasi dari olahan biji sawit (tandan buah segar) tidak hanya berupa minyak sawit (CPO) menjadi salah satu nilai lebih mengapa kelapa sawit menjadi incaran bagi sejumlah investor.

Selain komoditi sawit, Sulawesi Barat juga memiliki potensi yang cukup menjanjikan pada beberapa komoditi lainnya. Seperti kelapa hibrida, kelapa dalam, kemiri dan lain sebagainya. Komoditi perkebunan lainnya ini tersebar di semua kabupaten di Sulawesi Barat.

Sejak program Gernas Kakao didengungkan oleh Pemerintah Sulawesi Barat, sudah memperlihatkan hasil. Tahun 2012 produksi kakao Sulawesi Barat mencapai 76.094 ton. Persebaran produksi kakao ini terbesar berada di Kabupaten Polewali Mandar sebesar 32.313 ton atau sekitar 42,46 persen total produksi Sulawesi Barat.

PERTANIAN 73

Tabel 4.2

Produksi Tanaman Perkebunan (Ton) di Sulawesi Barat Tahun 2012 Komoditi Majene Polman Mamasa Mamuju Matra

(1) (2) (3) (4) (5) (6) Coklat 8 166 32 313 8 351 431 26 833 Kelapa Hibrida 858 4 332 0 1 025 0 Kelapa Dalam 10 300 18 450 59 5 362 9 474 Cengkeh 262 65 19 122 92 Kemiri 1 946 903 4 200 3 Kopi Arabika 54 89 2 870 57 36 Lada 7 23 21 1 5 29 Aren 43 431 109 75 0

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat

Diluar sawit dan kakao, Sulawesi Barat masih memiliki produksi kelapa dalam yang cukup besar hingga 43.645 ton; kopi arabika dan kemiri masing-masing sebesar 3.106 ton dan 3.056 ton. Besarnya potensi perkebunan Sulawesi Barat perlu diapresiasi oleh pemerintah agar produksi perkebunan tersebut dapat diolah lebih lanjut di Sulawesi Barat (kecuali kelapa sawit yang sudah berjalan menjadi crude palm oil). Pengolahan produksi perkebunan di Sulawesi Barat akan membawa berkah tersendiri bagi peningkatan kesejahteraan daerah karena akan menyerap tenaga kerja, akan ada transformasi sektor ekonomi ke kelompok sekunder dan tentunya akan meningkatkan pendapatan daerah. Olehnya itu sudah menjadi tugas pemerintah untuk melakukan promosi keluar agar investor dapat tertarik menanamkan modal di Sulawesi Barat.

Dokumen terkait