I.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
2. Independensi Auditor
Untuk mengukur independensi auditor di Jawa Tengah, dalam penelitian ini digunakan 4 proksi yaitu lama hubungan dengan klien, tekanan dari klien, telaah dari rekan auditor dan jasa non audit yang diberikan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data mengenai independensi auditor, yaitu terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4 Persentase jawaban responden pada setiap pernyataan tentang independensi auditor
Kategori Jawaban Dimensi Indikator Pertanyaan Jenis
Item Ket STS TS R S SS Jml Fr 1 10 29 33 4 77 1.Auditor sebaiknya memiliki hubungan dengan klien yang sama paling lama 3 tahun.
( + )
% 1,3 13,0 37,7 42,9 5,2 100
Fr 1 9 12 39 16 77
2.Saya berupaya tetap bersifat independen dalam melakukan audit walaupun telah lama menjalin hubungan dengan klien. ( + ) % 1,3 11,7 15,6 50,6 20,8 100 Fr 16 29 20 10 2 77 Lama Hubungan Dengan Klien Lama mengaudit klien 3.Tidak semua kesalahan klien yang saya temukan saya laporkan karena lamanya hubungan dengan klien tersebut.
( - ) % 20,8 37,7 26,0 13,0 2,6 100 Fr 29 29 13 6 0 77 Tekanan Dari Klien Pemberian sanksi dan ancaman pergantian auditor dari klien 4. Agar tidak kehilangan klien, kadang-kadang saya harus bertindak tidak jujur
( - )
Tabel 4.4 (Lanjutan)
Kategori Jawaban Dimensi Indikator Pertanyaan Jenis
Item Ket
STS TS R S SS
Jml
Fr 2 21 25 25 4 77 5. Jika audit yang
saya lakukan buruk, maka saya dapat menerima sanksi dari klien.
( - )
% 2,6 27,3 32,5 32,5 5,2 100
Fr 21 28 17 9 2 77 6.Tdk semua
kesalahan klien saya laporkan krn saya mendapat peringatan klien ( - ) % 27,3 36,4 22,1 11,7 2,6 100 Fr 31 22 13 10 1 77 7. Saya tidak berani
melaporkan
kesalahan klien karena klien dapat mengganti posisi saya dengan auditor lain. ( - ) % 40,3 28,6 16,9 13,0 1,3 100 Fr 10 21 23 22 1 77 Besar fee audit yang diberikan klien
8. Jika audit fee dari satu klien merupakan sebagian besar dari total pendapatan suatu kantor akuntan maka hal ini dapat merusak independensi akuntan publik. ( - ) % 13,0 27,3 29,9 28,6 1,3 100 Fr 21 31 14 10 1 77 Fasilitas dari klien
9. Fasilitas yang saya terima dari klien menjadikan saya sungkan terhadap klien sehingga kurang bebas dalam melakukan audit. ( - ) % 27,3 40,3 18,2 13,0 1,3 100 Fr 5 36 24 11 1 77 Telaah dari rekan auditor Manfaat telaah dari rekan auditor 10. Saya tidak membutuhkan telaah dari rekan auditor untuk menilai prosedur audit saya karena kurang dirasa manfaatnya.
( - )
Tabel 4.4 (Lanjutan)
Kategori Jawaban Dimensi Indikator Pertanyaan Jenis
Item Ket STS TS R S SS Jml Fr 2 2 5 66 2 77 Konsekue nsi terhadap audit yang buruk 11. Saya bersikap jujur untuk menghindari
penilaian kurang dari rekan seprofesi (sesama auditor) dalam tim. ( - ) % 2,6 2,6 6,5 85,7 2,6 100 Fr 2 13 8 49 5 77 12.Selain memberikan jasa audit, suatu kantor akuntan dapat pula memberikan jasa-jasa lainnya kepada klien yang sama. ( + ) % 2,6 16,9 10,4 63,6 6,5 100 Fr 3 29 25 18 2 77 Pemberian Jasa Audit dan Non Audit pada klien yang sama
13. Jasa non audit yang diberikan pada klien dpt merusak independensi penampilan akuntan publik tersebut. ( - ) % 3,9 37,7 32,5 23,4 2,6 100 Fr 0 7 18 45 7 77 Jasa Non Audit Pemberian jasa non audit dapat meningkat kan informasi pada lap. keuangan 14. Pemberian jasa lain selain jasa audit dapat meningkatkan informasi yang disajikan dalam laporan pemeriksaan akuntan publik. ( + ) % 0,0 9,1 23,4 58,4 9,1 100
Sumber : Data yang diolah
Dari Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa independensi auditor di Jawa Tengah ditinjau dari lama hubungan dengan klien, tekanan dari klien, telaah dari rekan auditor dan jasa non audit termasuk dalam kategori kurang sampai dengan tinggi, hal ini terlihat bahwa dukungan setuju dan sangat setuju dari responden pada items pertanyaan positif berkisar antara 25 sampai 58 responden atau antara 32% sampai 75%. Sedangkan untuk items pertanyaan negatif jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju dan ragu-ragu, rata-rata sebanyak 14 sampai 36
responden atau berkisar antara 18% sampai 46%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independensi auditor adalah pada keadaan cukup untuk melakukan audit yang berkualitas, hal ini ditunjukkan juga dengan rata-rata jumlah skor mencapai 40,36 dan standar deviasinya sebesar 7,51 sedangkan untuk nilai tertinggi adalah 62 dan terendahnya 26 (Jumlah ideal 14 s.d. 50) (Lihat Tabel 4.6)
3. Kualitas Audit
Kualitas audit diungkap dengan enam butir pernyataan, dan jawaban responden seperti pada tabel berikut.
Tabel 4.5. Persentase jawaban responden pada setiap pernyataan tentang kualitas audit
Kategori Jawaban
Dimensi Indikator Pertanyaan Item Ket
STS TS R S SS
Jml
Fr 20 34 18 3 2 77 Melaporkan semua
kesalahan klien
1.Besarnya kompensasi yang saya terima akan mempengaruhi saya dalam melaporkan kesalahan klien.
( + ) % 26,0 44,2 23,4 3,9 2,6 100 Fr 1 1 1 62 12 77 Pemahaman terhadap sistem informasi akuntansi klien
2.Pemahaman terhadap sistem informasi akuntansi klien dapat menjadikan pelaporan audit saya menjadi lebih baik.
( + )
% 1,3 1,3 1,3 80,5 15,6 100 Fr 0 0 3 57 17 77 Komitmen yang kuat
dalam
menyelesaikan audit
3.Saya mempunyai komitmen yang kuat untuk menyelesaikan audit dalam waktu yang tepat.
( + )
% 0,0 0,0 3,9 74,0 22,1 100 Fr 0 0 6 52 19 77 Berpedoman pada
prinsip auditing dan prinsip akuntansi dalam melakukan pekerjaan lapangan
4. Saya menjadikan SPAP sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan laporan. ( + ) % 0,0 0,0 7,8 67,5 24,7 100 Fr 0 7 18 44 8 77 Tidak percaya
begitu saja pada pernyataan klien
5.Saya tidak mudah percaya terhadap pernyataan klien selama melakukan audit.
( + ) % 0,0 9,1 23,4 57,1 10,4 100 Fr 0 1 1 45 30 7 Kualitas Audit Sikap hati-hati dalam pengambilan keputusan
6.Saya selalu berusaha berhati-hati dalam pengambilan keputusan selama melakukan audit.
( + )
% 0,0 1,3 1,3 58,4 39,0 100
Dari Tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa pernyataan mengenai besarnya kompensasi yang diterima akan mempengaruhi dalam melaporkan kesalahan klien , pada pertanyaan negatif ini umumnya responden menjawab sangat tidak disetuju dan tidak setuju adalah 20 dan 34 responden atau 25 % dan 44 % sedangkan pada pernyataan-pernyataan yang berjenis items positif : Pemahaman terhadap sistem informasi akuntansi klien dapat menjadikan pelaporan audit responden menjadi lebih baik, responden mempunyai komitmen yang kuat untuk menyelesaikan audit dalam waktu yang tepat, responden menjadikan SPAP sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan laporan, responden tidak mudah percaya terhadap pernyataan klien selama melakukan audit, dan selalu berusaha berhati-hati dalam pengambilan keputusan selama melakukan audit, mendapatkan dukungan responden dengan persentase yang setuju dan sangat setuju 44 sampai 62 responden atau 57 % sampai 81 %. Sehingga berdasarkan analisis deskriptif tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas audit pada auditor di Jawa Tengah berada pada kategori lebih dari cukup atau cukup tinggi. Hal tersebut didukung pula dengan hasil rata-rata jumlah skor kualitas audit sebesar 22,60 dan standar deviasinya 2,07, sedangkan jumlah skor tertinggi 30 dan terendah 15 (Skor Ideal terendah=6 dan tertinggi=30) (Lihat Tabel 4.6)
Adapun secara keseluruhan rata-rata jumlah skor setiap variabel/sub variabel dapat dilihat seperti ditunjukkan pada Tabel 4.6 berikut ini
Tabel 4.6. Deskripsi data setiap variabel dan sub variabel
Variabel/Sub Variabel N Butir Min Max Mean s Max Ideal
Pengetahuan 77 6 18 30 24,66 2,918 30
Pengalaman 77 4 7 20 14,79 1,976 20
Kompetensi (X1) 77 10 25 50 39,45 4,394 50
Lama Hubungan dengan Klien 77 3 5 15 9,55 2,143 15 Tekanan dari Klien 77 6 7 29 14,36 4,701 30 Telaah dari Rekan Auditor 77 2 3 9 6,40 1,115 10 Jasa Non Audit 77 3 5 13 10,05 1,385 15
Independensi (X2) 77 14 26 62 40,36 7,511 70 Kualitas Audit (Y) 77 6 15 30 22,60 2,066 30 Sumber : Data yang diolah
Dari Tabel 4.6 di atas nampak bahwa rata-rata jumlah skor kompetensi (X1) sebesar 39,45 sudah mendekati skor maksimum idealnya 50, sementara rata-rata jumlah skor independensi sebesar 40,36 relatif masih jauh dari jumlah maksimum idealnya yaitu 70, sementara itu rata-rata jumlah skor kualitas audit cukup tinggi sebesar 22,60 sudah mendekati jumlah maksimum idealnya yaitu 30. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi auditor sudah cukup baik, begitu juga dengan kualitas audit yang dilaksanakannya, namun untuk independensi masih belum begitu baik, masih perlu ditingkatkan.
4.4 Analisis Regresi
Hasil analisis regresi berganda didapatkan koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0,531 dengan koefisien determinasinya (R2) sebesar 0,282 atau 28,2%. Tabel 4.7. Model Summary Regresi
Model Summaryb ,531a ,282 ,263 1,774 1,977 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constant), Independensi, Kompetensi
a.
Dependent Variable: Kualitas Audit b.
Nilai F regresi sebesar 14,533 dengan signifikansi sebesar 0,000, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8. ANOVA Regresi
ANOVAb 91,520 2 45,760 14,533 ,000a 232,999 74 3,149 324,519 76 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), Independensi, Kompetensi a.
Dependent Variable: Kualitas Audit b.
Adapun untuk koefisien-kofisien regresinya secara parsial seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9. Koefisien-koefisien hasil perhitungan analisis regresi berganda
Coefficientsa 12,698 1,882 6,747 ,000 ,186 ,050 ,396 3,685 ,000 ,487 ,394 ,363 ,063 ,030 ,231 2,148 ,035 ,388 ,242 ,212 (Constant) Kompetensi Independensi Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Zero-order Partial Part Correlations
Dependent Variable: Kualitas Audit a.
Dari Tabel 4.9 di atas terlihat bahwa koefisien korelasi product moment (Zero-order correlation) pada variabel kompetensi sebesar 0,487 dan independensi sebesar 0,388, sementara itu koefisien korelasi parsialnya (partial correlation) adalah masing-masing 0,394 dan 0,242. Nampak bahwa koefisien korelasi parsial kompetensi lebih tinggi dibandingkan dengan independensi.
Dari penjelasan di atas maka berikut tabel ringkasan analisis regresi : Tabel 4.10 Tabel ringkasan hasil analisis regresi
Variabel Independen
Koefisien Regresi
t hitung Signifikansi r ² Parsial
Kompetensi 0,186 3,685 0,000 0,155
Independensi 0,063 2,148 0,035 0,059
Constant = 12,698 F Hitung = 14,533 R ² (Simultan) = 0,282
Maka dari penjelasan dan Tabel 4.10 di atas, didapat persamaan regresi berganda sebagai berikut :
Y’ = 12,698 + 0,186 X1 + 0,063 X2
,dan berikut adalah penjelasan berdasarkan persamaan regresi berganda yang terbentuk :
1. Baik konstanta maupun koefisien variabel-variabel independen memiliki nilai positif. Hal ini menandakan bahwa persamaan regresi berganda tersebut memiliki hubungan yang searah. Yang berarti kualitas audit akan meningkat seiring dengan meningkatnya kompetensi dan independensi auditor.
2. Konstanta sebesar 12,698 berarti bahwa seorang auditor tetap dapat memiliki kualitas audit sebesar konstanta meskipun variabel independennya (bebas) nol.
4.5 Hasil Uji Asumsi Klasik
Sebelum data dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis regresi berganda, terlebih dahulu diuji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas dan uji linearitas.