• Tidak ada hasil yang ditemukan

Independensi Hakim Terkait Dengan

Dalam dokumen Indeks Negara Hukum Indonesia 2014 (Halaman 67-73)

A. Deskripsi Hasil Survei dan Dokumen

3. Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka

3.2. Independensi Hakim Terkait Dengan

Skor yang diperoleh indikator independensi hakim terkait dengan manajemen sumber daya hakim sedikit lebih rendah dari indikator sebelumnya (independensi hakim dalam mengadili dan memutus perkara, yakni 5,77. Hasil ini diperoleh dari rerata skor subindikator manajemen sumber daya manusia hakim sebesar 5,33 dan subindikator manajemen pengawasan hakim sebesar 6,21.

a. Manajemen Sumber Daya Manusia Hakim

Subindikator ini sangat erat kaitannya dengan proses seleksi, rekrutmen, promosi-mutasi, dan pengembangan kapasitas hakim melalui proses pendidikan dan pelatihan.

Sepanjang tahun 2014, tidak terdapat rekrutmen calon hakim yang dilakukan. Sedangkan seleksi hakim ad-hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk tahun 2014 dilaksanakan pada tingkat pertama dan banding. Hingga Desember 2014, Mahkamah Agung telah menyatakan 51 peserta seleksi calon hakim ad hoc Tipikor tahap VI Tahun 2014 lolos seleksi tertulis, terdiri 38 calon untuk tingkat pertama dan 13 calon untuk tingkat banding. Tahapan seleksi calon hakim ad-hoc Tipikor terdiri dari seleksi administrasi, seleksi tertulis, profile assessment dan wawancara.

Sedangkan sepanjang 2014, Komisi Yudisial telah melaksanakan 1 (satu) kali seleksi calon hakim agung. KY menerima 72 pendaftar calon hakim agung, dan berhasil mengusulkan 5

(lima) orang calon hakim agung ke DPR.Rekapitulasi seleksi hakim agung dapat terlihat pada tabel berikut.

Tabel 3.5: Rekapitulasi Seleksi Hakim Agung Tahapan Seleksi Uraian Peserta

Pendaftaran Karir 50

Non-karir 22

Jumlah 72

Lulus Tahap I Karir 44

Non-karir 20

Jumlah 64

Lulus Tahap II Karir 22

Non-karir 8

Jumlah 30

Lulus Tahap III (kesehatan) Karir 19 Non-karir 7 Jumlah 26 Lulus Tahap IV (kepribadian) Karir 8 Non-karir 3 Jumlah 11 Lulus Tahap V (wawancara) Karir 5 Non-karir 0 Jumlah 5

Belum sinergisnya MA dan KY sepanjang tahun 2014 makin memperpanjang sejarah berlikunya hubungan kedua lembaga ini. Jika pada fase awal berdirinya KY permasalahan yang muncul terkait dengan pengawasan hakim (sisi hilir), maka di tahun 2014 (dan berlanjut hingga 2015) persoalannya terletak pada pengadaan hakim baru (sisi hulu).

Pada tahun 2014, Mahkamah Agung telah menyediakan anggaran untuk merekrut 350 calon hakim dari 5.263 hakim yang dibutuhkan. Namun upaya untuk memenuhi kebutuhan hakim ini mengalami kendala yang cukup mendasar: belum disepakatinya Peraturan Bersama (Perba) antara MA dan KY terkait rekrutmen calon hakim (cakim) sebagai payung hukum.

Terkatung-katungnya pembahasan Perba Rekrutmen Cakim disebab kan belum disepakatinya nomenklatur dan status calon hakim dalam sistem kepegawaian yang berlaku.

Belakangan persoalan rekrutmen calon hakim semakin memanas, ketika sejumlah hakim agung yang tergabung dalam Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi untuk menghapus peran KY dalam seleksi hakim. Jika ini dibiarkan berlarut, maka akan menimbulkan efek domino yang mengancam kemerdekaan kekuasaan kehakiman. Dengan tidak adanya rekrutmen hakim baru, maka proses promosi dan mutasi akan terhambat. Regenerasi pimpinan pengadilan akan berjalan sangat lamban. Sistem manajemen SDM hakim akan macet dan menimbulkan ketidakpastian dalam peningkatan karir hakim, yang pada ujungnya akan memengaruhi kinerja hakim dalam mengadili dan memutus perkara.

Kekhawatiran adanya pengaruh pejabat senior pengadilan terhadap independensi hakim semakin terkonfirmasi dalam hasil survei terhadap objektifitas dan transparansi pada pelaksanaan promosi dan mutasi hakim adalah yang dinilai paling rendah. Pembenahan pengelolaan SDM hakim yang selama ini telah diupayakan oleh MA, ke depannya masih harus terus ditingkatkan. Jika sistem manajemen SDM sudah tersedia, maka konsistensi pejabat pengelola SDM hakim (yang juga dijabat oleh hakim) harus diawasi pula.

Terkait dengan pengembangan kapasitas hakim, Laporan Tahunan MA Tahun 2014 mencatat bahwa jumlah peserta pelatihan dan pendidikan yang diperuntukkan bagi hakim adalah 2.478 atau 12,89 persen dari jumlah keseluruhan hakim (19.226 orang). Angka tersebut mencerminkan kesempatan hakim untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan masih sangat terbatas.

Hasil survei ahli menunjukan bahwa penentuan peserta diklat bagi hakim belum sepenuhnya transparan dan akuntabel. Sebagaimana yang tercermin dari 38,89 persen ahli yang menjawab kurang setuju dan 25 persen ahli yang menyatakan tidak setuju. Skor untuk pertanyaan ini pun cukup rendah, yakni 4,58. Skor tersebut hanya sedikit lebih baik apabila dibandingkan dengan proses promosi dan mutasi hakim yang oleh sebagian besar ahli dinilai masih jauh dari obyektif dan transparan. Hanya 8,33 persen

ahli yang setuju dengan pernyataan bahwa pelaksanaan promosi dan mutasi hakim telah obyektif dan transparan.

Diagram 3.15: Objektifitas dan Transparansi Pelaksanaan Promosi dan Mutasi Hakim Sepanjang Tahun 2014 (dalam %)

Hasil skor survei untuk subindikator manajemen SDM hakim secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel `berikut.

Tabel 3.6: Skor Survei Ahli Subindikator Manajemen SDM Hakim

No. Pertanyaan Skor Survei

1. Apakah Anda setuju bahwa seleksi hakim agung

sepanjang tahun 2014 sudah bebas dari KKN?

4.38

2. Apakah Anda setuju bahwa seleksi hakim ad hoc

(hakim yang bukan dari karier dan ditunjuk untuk menangani kasus tertentu dalam waktu tertentu karena keahliannya) sudah bebas dari KKN?

4.79

3. Apakah Anda setuju bahwa seleksi hakim ad hoc

sepanjang tahun 2014 telah menggunakan kriteria yang terukur?

5.42

4. Apakah Anda setuju bahwa mekanisme rekrutmen

calon Hakim Konstitusi oleh DPR, Presiden, dan MA untuk tahun 2014, telah dilakukan secara transparan, partisipatif dan obyektif?

5.00

5. Apakah Anda setuju bahwa pelaksanaan promosi

dan mutasi hakim sepanjang tahun 2014 telah obyektif dan transparan?

3.82

6. Apakah Anda setuju bahwa penentuan peserta

pendidikan dan pelatihan bagi hakim oleh pejabat pengadilan sepanjang tahun 2014 telah dilakukan secara obyektif dan transparan?

4.58

b. Manajemen Pengawasan Hakim

Sepanjang tahun 2014, Badan Pengawasan Mahkamah Agung me ne rima 1.824 surat pengaduan. Jumlah pengaduan yang ditindaklanjuti sejumlah 1.621 surat atau 88,87 persen dari pengaduan yang diterima, yang terdiri dari:

1. 1.140 surat ditangani langsung oleh Badan Pengawasan Mahkamah Agung;

2. 116 surat diperiksa Tim Bawas;

3. 1.005 surat dijawab dengan surat; dan 4. 19 surat masih dalam proses penyelesaian.

Adapun hukuman disiplin yang dijatuhkan sepanjang tahun 2014 sejumlah 209 orang. Terdapat kenaikan sebesar 21 persen dari hukuman disiplin yang dijatuhkan pada tahun 2013 (173 orang). Meskipun demikian, jumlah tersebut masih lebih rendah 7 persen dibanding hukuman disiplin tahun 2010 (223 orang).

Sedangkan sepanjang tahun 2014, Komisi Yudisial menerima 1.781 laporan, turun 18,79 persen dari tahun sebelumnya. Berikut rekapitulasi hasil verifikasi pengaduan yang diterima Komisi Yudisial.

Tabel 3.7: Hasil Verifikasi Pengaduan yang Diterima Komisi Yudisial

No Hasil Verifikasi Jumlah %

1. Laporan terkait dugaan pelanggaran KEPPH 1.028 57.72

2. Laporan bukan kewenangan Komisi Yudisial dan

diteruskan ke instansi lain

295 16.56

3. Laporan permohonan pemantauan 372 20.89

4. Laporan tidak dapat diterima, karena putusan yang

dilaporkan sebelum berdirinya KY

29 1.63

5. Laporan di arsip karena alamat pelapor tidak jelas 49 2.75

6. Laporan dicabut oleh pelapor 6 0.35

Jumlah 1.781 100.00

Dari 1.028 laporan terkait dugaan pelanggaran KEPPH, KY menangani 672 laporan atau 65,37 persen dari total laporan. Dari 672 laporan yang ditangani oleh KY, 294 di antaranya (28,6 persen) dapat ditindaklanjuti. Jumlah hakim dan pelapor/saksi yang dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan oleh Komisi Yudisial pada periode Januari sampai dengan 31 Desember 2014 sebanyak 674 orang, di mana 143 di antaranya adalah hakim.

Dari 143 hakim yang dilakukan pemeriksaan, 131 hakim diusulkan penjatuhan sanksi ke Mahkamah Agung, dengan rincian: 96 orang direkomendasikan untuk dijatuhi sanksi ringan; 22 orang direkomendasikan dijatuhi sanksi sedang; dan 13 orang direkomendasikan dijatuhi sanksi berat.

Sepanjang 2014, sebanyak 13 hakim telah diproses dalam sidang Majelis Kehormatan Hakim: 6 orang diajukan atas usul KY, 6 orang atas usul MA, dan 1 orang diajukan bersama antara KY dan MA.

***

Pada sisi lain, jumlah permohonan pemantauan persidangan yang diterima KY sepanjang 2014 adalah 379 permohonan. Dari jumlah permohonan tersebut, KY hanya dapat melakukan 72 pemantauan (19 persen). 272 permohonan yang tidak dapat ditindaklanjuti dengan pemantauan, disebabkan oleh: tidak adanya dugaan pelanggaran kode etik hakim dalam perkara; bukan wewenang Komisi Yudisial; perkara telah diputus; atau ditindaklanjuti dengan pendalaman lainnya di Komisi Yudisial. Sedangkan kegiatan investigasi terhadap hakim oleh KY telah menghasilkan 166 laporan, di mana 112 laporan merupakan hasil investigasi hakim di pengadilan tingkat pertama.

Meskipun penelusuran dokumen terhadap pengawasan hakim oleh MA secara kuantitas relatif cukup baik, namun hasil survei ahli justru menunjukkan hasil sebaliknya: 52,78 persen ahli menilai pengawasan hakim oleh MA kurang efektif dan 36.11 persen lainnya menilai tidak efektif.

Diagram 3.16: Efektifitas Pengawasan MA terhadap Dugaan Pelanggaran Etika dan Perilaku Hakim Sepanjang Tahun 2014

Secara keseluruhan, sepanjang 2014 terdapat peningkatan yang cukup signifikan dalam upaya pengawasan yang dilakukan oleh internal MA. Namun fungsi pengawasan yang dimiliki oleh MA harus dipastikan dilakukan dengan tujuan agar peradilan yang dilakukan pengadilan-pengadilan diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman pada asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan, tanpa mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman).

Berikut adalah skor survei untuk subindikator manajemen pengawasan hakim.

Tabel 3.8: Skor Survei Subindikator Manajemen Pengawasan Hakim

No. Pertanyaan Skor Survei

1. Apakah pengawasan oleh MA terhadap dugaan

pelanggaran etika dan perilaku hakim sepanjang tahun 2014, sudah berjalan efektif?

4.38

2. Apakah pengawasan oleh Pengadilan Tinggi (di ling-

kungan peradilan umum, agama, dan Tata Usaha Negara) terhadap dugaan pelanggaran etika dan perilaku hakim sepanjang tahun 2014 sudah berjalan efektif?

4.86

3. Apakah pengawasan oleh KY terhadap dugaan

pelanggaran etika dan perilaku hakim sepanjang tahun 2014 sudah berjalan efektif?

5.28

4. Apakah Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial

sepanjang tahun 2014 telah bersinergi dalam menangani pengaduan masyarakat?

5.14

5. Apakah pengawasan terhadap Hakim Konstitusi oleh

Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi sepanjang tahun 2014 telah berjalan efektif?

4.93

Skor Rata-rata Survei 4.92

3.3. Independensi Hakim dalam Kaitannya dengan Kebijakan

Dalam dokumen Indeks Negara Hukum Indonesia 2014 (Halaman 67-73)

Dokumen terkait