BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2.5 Independensi
2.2.5.1. Pengertian Independensi auditor
Menurut Iz Irene (2004) dalam Deddy (2009), dua kata kunci dalam pengertian Independensi adalah:
1) Obyektivitas, yaitu suatu kondisi yang tidak bias, adil, dan tidak memihak.
2) Integritas, yaitu prinsip moral yang tidak memihak, jujur, memandang dan mengemukakan fakta apa adanya.
Menurut Christiawan (2002) dalam Deddy (2009:31), independen berarti akuntan publik tidak mudah dipengaruhi. Akuntan publik tidak dibenarkan memihak kepentingan siapapun. Akuntan publik berkewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan atas pekerjaan akuntan publik.
Kode Etik Akuntan tahun 1994 dalam Deddy (2009:31) menyebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas.
Bekaitan dengan hal itu terdapat 4 hal yang mengganggu independensi akuntan publik, yaitu :
1) Akuntan publik memiliki mutual atau conflicting interest dengan klien.
2) Mengaudit pekerjaan akuntan publik itu sendiri.
3) Berfungsi sebagai manajemen atau karyawan dari klien.
4) Bertindak sebagai penasihat (advocate) dari klien. Ini akan mengganggu independensi akuntan publik jika memiliki hubungan bisnis, keuangan dan manajemen atau karyawan dengan kliennya. Definisi independensi dalam CPA Handbook menurut E.B. Wilcok dalam Deddy (2009:31) adalah merupakan standard auditing yang penting karena opini akuntan independen bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Mulyadi dan Puradireja (1998:25) memberikan definisi independensi lebih jelas dengan mengemukakan: “ Independensi berarti bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain.” Dalam Standard Profesional Akuntan Publik (1994: 220.1-220.2) disebutkan bahwa sikap independen, diartikan sebagai sikap yang tidak mudah dipengaruhi karena akuntan publik melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Akan tetapi independen dalam hal ini tidak berarti mengharuskan ia bersikap sebagai penuntut, melainkan ia justru harus bersikap mengadili secara tidak memihak dengan tetap menyadari kewajibannya untuk selalu bertindak jujur, tidak hanya kepada
manajemen dan pemilik perusahaan tetapi juga kepada pihak lain yang berkepentingan dengan laporan keuangan.
Sikap mental independen sama pentingnya dengan keahlian dalam bidang praktik akuntansi dan prosedur audit yang harus dimiliki oleh setiap auditor. Auditor tidak hanya berkewajiban mempertahankan sikap mental independen, tetapi ia harus menghindari keadaan- keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya. Dengan demikian, disamping auditor harus benar- benar independen, ia masih juga harus menimbulkan persepsi dikalangan masyarakat bahwa ia benar- benar independen.
2.2.5.2. Pentingnya Independensi auditor
Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam kode etik akuntan Indonesia, agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat. Sepanjang persepsi independensi ini dimasukkan ke dalam aturan etika, hal ini akan mengikat auditor independen menurut kepada ketentuan profesi.
Alasan mengapa begitu banyak pihak yang menggantungkan kepercayaan mereka terhadap kelayakan laporan keuangan berdasarkan laporan auditor adalah karena harapan mereka untuk mendapatkan suatu pandangan yang tidak memihak. Bukan hanya penting bagi akuntan publik untuk memelihara sikap mental independen dalam memenuhi tanggung jawab mereka, tetapi juga bahwa pemakai laporan keuangan
menaruh kepercayaan terhadap independensi tersebut (Arens dan Loebbecke ; 1996 :84).
Independensi akuntan merupakan persoalan sentral dalam pemenuhan kriteria objektivitas dan keterbukaan. Dalam peraturan 101 Kode Perilaku Professional American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) yang dimuat dalam artikel Suryaningtias (2007:38) tentang independensi mengatakan bahwa anggota dalam praktik publik harus bersikap independen dalam melaksanakan jasa profesionalnya seperti diisyaratkan menurut standard yang disusun oleh lembaga- lembaga yang dibentuk oleh dewan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa independensi sangat penting bagi profesi akuntan publik :
1. Merupakan dasar bagi akuntan publik untuk merumuskan dan menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa. Apabila akuntan publik tetap memelihara independensi selama melaksanakan pemeriksaan, maka laporan keuangan yang telah diperiksa tersebut akan menambah kredibilitasnya dan dapat diandalkan bagi pihak yang berkepentingan.
2. Karena profesi akuntan publik merupakan profesi yang memegang kepercayaan masyarakat. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang dalam menilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan manajemen.
2.2.5.3. Aspek Independensi auditor
Menurut Halim (2001:21) dalam Deddy (2009:36) membagi kedalam tiga aspek independensi auditor, antara lain :
1. Independence in Fact (independensi dalam fakta)
Yakni auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas
2. Independence in Appearance (Independensi dalam penampilan). Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Auditor harus menjaga kedudukannya sedemikian rupa sehingga pihak lain akan mempercayai sikap independensi dan objektivitas. Meskipun auditor telah menjalankan audit dengan baik secara independen dan objektif, pendapat yang dinyatakan melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa auditor independen bila ia tidak mampu mempertahankan independensi dalam penampilan. Oleh karena itu, independensi dalam penampilan sangat penting bagi perkembangan profesi auditor.
3. Indepedence in Competence (Independensi dari sudut keahliannya). Artinya auditor yang awam dalam electronic data prcessing system
tidak memenuhi independensi keahlian bila ia mengaudit perusahaan yang pengolahan datanya menggunakan sistem informasi terkomputerisasi. Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor.
2.2.5.4. Faktor- faktor yang mempengaruhi Independensi Akuntan
Publik.
Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang, bahkan kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang oleh mereka yang berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap independen tersebut.
Menurut Shockley (1981) dalam Deddy (2009:37) mengkategorikan tiga faktor yang merusak independensi seorang auditor, yaitu :
1. Pemberian jasa konsultasi kepada klien.
Jasa yang diberikan oleh KAP bukan hanya jasa atestasi melainkan juga jasa non atestasi yang berupa jasa konsultasi manajemen dan perpajakan serta jasa akuntansi seperti jasa penyusunan laporan keuangan. Adanya dua jenis jasa yang diberikan oleh suatu KAP menjadikan independensi auditor terhadap kliennya dipertanyakan yang nantinya akan mempengaruhi kualitas audit.
2. Persaingan antar KAP
Persaingan antar kantor akuntan publik (KAP) semakin besar. KAP semakin bertambah banyak, sedangkan pertumbuhan
perusahaan tidak sebanding dengan pertumbuhan KAP. Terlebih lagi banyak perusahaan yang melakukan merjer atau akuisisi dan akibat krisis ekonomi di Indonesia banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu KAP akan lebih sulit untuk mendapatkan klien baru sehingga KAP akan mempertahankan klien yang sudah ada.
3. Ukuran KAP
AICPA menggolongkan kantor akuntan kedalam 2 golongan yaitu 1) Kantor Akuntan Pulik besar, 2) Kantor Akuntan Publik kecil. Menurut AICPA, kantor akuntan publik besar adalah kantor akuntan yang telah melaksanakan audit pada perusahaan go public, sedangkan kantor akuntan kecil adalah kantor akuntan yang tidak melaksanakan audit pada perusahaan go public ( Supriyono,1990 :58).
Mautz dan Sharaf berpendapat bahwa kantor akuntan publik besar lebih independen dibandingkan dengan kantor akuntan publik yang kecil, hal ini disebabkan oleh beberapa alasan: (1) untuk kantor akuntan publik besar, hilangnya satu klien tidak begitu mempengaruhi pendapatnya, (2) kantor akuntan publik besar biasanya mempunyai departemen audit yang terpisah dengan departemen yang memberikan jasa bukan audit sehingga dapat mengurangi akibat negatif terhadap independensi akuntan publik.