BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2.3 Pendidikan
2.2.3.3 Tujuan Pendidikan
Pada dasarnya tujuan pendidikan adalah suatu deskripsi dari pengetahuan, sikap, tindakan, penampilan, dan sebagainya yang diharapkan akan dimiliki sasaran pendidikan pada periode tertentu (Notoatmodjo, 2003 :41).
Suatu lembaga pendidikan, terutama pendidikan formal, sebenarnya dibentangkan harapan tentang tingkat dan jenis perubahan tingkah laku sasaran pendidikan, antara lain perubahan pengetahuan, sikap, dan kemampuan mereka. Sudah tentu bukan sembarang perubahan tingkah laku, sebagai akibat dari berlangsungnya proses pendidikan. Demikian pula bukan berarti setiap perubahan tingkah laku dapat dipakai sebagai ukuran hasilnya proses pendidikan. Itulah sebabnya, maka harapan perubahan tingkah laku tersebut perlu dirumuskan dahulu dalam suatu pendidikan. Dengan kata lain tujuan pendidikan adalah rumusan pada tingkah laku dan jenis tingkah laku yang lazimnya dirumuskan dalam kategori pengetahuan, kecerdasan, sikap, keterampilan yang diharapkan untuk dimiliki oleh sasaran pendidikan setelah menyelesaikan program pendidikan.
Menurut Notoatmodjo (2003: 42) tingkatan tujuan pendidikan dikategorikan menjadi empat tingkatan, yaitu :
1. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan ini merupakan tingkatan yang tertinggi. Pada tujuan ini digambarkan harapan masyarakat atau negara tentang
ciri- ciri seorang manusia yang dihasilkan oleh proses pendidikan atau manusia terdidik.
Seperti Indonesia tujuan pendidikan nasionalnya adalah termaktub di dalam GBHN yakni, membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, menyuburkan sikap demokrasi, mengembangkan kecerdasan yang tinggi.
2. Tujuan Institusional.
Tiap tingkat dan jenis lembaga pendidikan, mengembangkan tujuan institusional. Isi tujuan institusional adalah tingkah laku yang bagaimanakah yang diharapkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Dengan kata lain lembaga pendidikan itu akan menghasilkan manusia- manusia yang diinginkan dengan pengertian bahwa tujuan institusional ini harus mendukung tujuan pendidikan nasional.
3. Tujuan Antara (Intermediate Objective).
Tujuan pendidikan ini bersifat mengantari tujuan institusional dan tujuan instruksional. Isinya masih agak luas, tapi sudah mengarah kepada tiap- tiap bidang ilmu pengetahuan. Karena tujuan ini sudah mengarah pada kurikulum.
Tujuan tiap- tiap mata ajaran sudah menggambarkan jenis dan tingkat pengetahuan, kecerdasan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
4. Tujuan Instruksional
Tujuan bidang ilmu pengetahuan diberikan dalam waktu yang panjang dan rumusan tujuan kurikulum masih sangat umum untuk digunakan bagi pemilihan bahan- bahan pelajaran. Karena itu sebagai jembatan atau alat untuk mempermudah pemilihan bahan- bahan pelajaran perlu dirumuskan dalam bentuk yang lebih khusus yang taraf instruksional. Adapun fungsi tujuan instruksional,antara lain:
• Membantu para pengajar/ pelatih untuk memilih isi/ topik pengajaran yang relevan.
• Membantu proses pengintegrasian kurikulum baik secara instruksional maupun kurikulum.
• Membantu para pengajar/ pelatih mengarah pada proses pengajarannya.
• Mangarahkan dan memberi gambaran pada sasaran tentang apa yang akan mereka peroleh dari pendidikan.
2.2.3.4. Pendidikan Auditor
Pendidikan profesi mempunyai identitas, pranata pengetahuan yang berbeda, kode etik, dan karakteristik yang jelas. Pada tingkat perguruan tinggi, pendidikan orang- orang yang ingin menjadi akuntan publik harus luas, bebas, dan ilmiah. Disamping menguasai ilmu- ilmu
yang disyaratkan untuk studi dengan titik berat akuntansi, seorang akuntan yang benar- benar berpendidikan harus betul- betul menguasai bahasa inggris sehingga berbicara dan menulis dengan baik, menarik, dan meyakinkan (Holmes & Burns, 1993:49).
Seorang akuntan publik paling tidak harus berijazah gelar sarjana. Hampir semua kantor akuntan publik yang besar hanya mau menerima orang- orang yang sudah sarjana. Pendidikan formal akan memberi kemampuan untuk bisa lulus ujian akuntan publik yang didasarkan pada pengetahuan akademis. Banyak bidang keahlian profesional mensyaratkan pendidikan yang lebih tinggi .
2.2.3.5. Jalur Pendidikan Akuntan di Indonesia.
Dalam artikel Benny dan Yuskar (2006:8) mengatakan sebelum adanya program PPAk (sebelum tahun 2001), di Indonesia ada dua jalur untuk mendapatkan gelar akuntan dengan nomor register, yaitu :
1. Fakultas Ekonomi Negeri.
Bagi mereka yang ingin menjadi Akuntan sekaligus berhak memakai gelar Akuntan (Ak) dapat memasuki jalur Fakultas Ekonomi Negeri yang telah mempunyai jurusan akuntansi. Untuk berhak memakai gelar akuntan, mereka yang telah lulus Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi dapat membuat permohonan tertulis kepada Panitia Persamaan Ijazah Akuntan disertai Ijazah Sarjana dan pasfoto kepada BPKP di Jakarta.
Proses permohonan ini adalah untuk mendapatkan nomor Register Negara dari Panitia Persamaan Ijazah Akuntan. Dengan keluarnya nomor register ini maka otomatis Sarjana Ekonomi yang bersangkutan berhak memakai gelar Akuntan dengan nomor register yang diberikan.
2. Fakultas Ekonomi Swasta.
Untuk mendapatkan gelar Akuntan, seorang yang kuliah di Fakultas Ekonomi Swasta memiliki beberapa perbedaan dengan lulusan Fakultas Ekonomi Negeri. Jika alumni FE Negeri dapat langsung meminta nomor register maka alumni FE Swasta harus melalui beberapa tahap sesuai dengan SK Dirjen Pendidikan Tinggi No 28/Dikti Kep/1986 tanggal 6 Juli 1986, sebagai berikut : A. Sarjana Ekonomi Negara
Untuk menjadi Sarjana Ekonomi Negara maka seorang alumni FE Swasta memiliki jalur berbeda yang didasarkan pada status Perguruan Tinggi yang bersangkutan, apakah terdaftar, diakui atau disamakan.
Perbedaan antara status diatas sebenarnya hanya terletak pada pengujiannya, kalau status Perguruan Tinggi yang bersangkutan terdaftar, pengujiannya 50% berasal dari Perguruan Tinggi yang bersangkutan, selebihnya dari Kopertis. Kalau statusnya diakui, pengujiannya 75% dari Perguruan Tinggi yang bersangkutan, selebihnya dari kopertis. Kalau statusnya disamakan,
pengujiannya 100% dari Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Kalau seorang lulus ujian negara untuk Sarjana Ekonomi maka yang bersangkutan berhak mengikuti Ujian Negara Akuntansi. B. Ujian Negara Akuntansi
Ujian Negara Akuntansi (UNA) diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Konsorsium Ilmu Ekonomi dengan bimbingan Panitia Ahli Pertimbangan Persamaan Ijazah Akuntansi. Dalam UNA ini dilakukan dengan dua tingkat yaitu:
1) UNA Dasar
UNA dasar dapat diikuti oleh mereka yang berpendidikan Fakultas Ekonomi Swasta jurusan Akuntansi minimal terdaftar pada Kopertis dengan kualifikasi minimal 110 sks dengan indeks prestasi (IP) minimal 2 dan nilai rata- rata C untuk mata kuliah yang diujikan.
2) UNA Profesi.
UNA Profesi dapat diikuti oleh mereka yang sudah lulus UNA Dasar dan sudah lulus ujian negara Sarjana Ekonomi jurusan akuntansi. Kurikulum Pendidikan Profesi Akuntansi paling sedikit 20 satuan kredit semester (sks) dan paling banyak 40 sks yang ditempuh 2 sampai dengan 6 semester.
Mereka yang berhak memakai gelar akuntan harus mendaftar ke Departemen Keuangan untuk mendapat nomor register. Untuk bisa memperoleh izin praktek sebagai akuntan publik, seorang akuntan harus memenuhi beberapa syarat yang ditentukan Departemen Keuangan, antara lain : berpengalaman di KAP minimal 3 tahun setara 4.000 jam, mempunyai beberap staf, mempunyai kantor yang cukup representatif dan lain- lain (Benny dan Yuskar, 2006:8). Mulai awal tahun 1998, untuk memperoleh izin praktek, terlebih dahulu harus lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP), yang diselenggarakan atas kerjasama IAI dan Departemen Keuangan