BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kerangka Pikir
Teori ini bertitik tolak dari psikologi assosiasi yang dipelopori oleh J. Hebbart. Pada dasarnya jiwa manusia terdiri dari kesan- kesan pengamatan atau tanggapan melalui penginderaan terhadap perangsang di luar dari suatu obyek tertentu. Kesan- kesan itu berassosiasi satu sama lain yang membentuk mental atau kesadaran manusia. Bertambah kuat assosiasi tersebut semakin kuat pula kesan- kesan itu berada dalam jiwa. Kesan- kesan itu dapat diungkapkan kembali dengan mudah bila tertanam dengan kuat dalam ruang kesadaran. Sebaliknya, bila kesan- kesan itu lemah maka akan lebih mudah dilupakan.
Belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indera yang disampaikan dalam bentuk perangsang dari luar. Cara belajar yang baik yaitu dengan cara memperbanyak hapalan dan menggunakan hukum assosiasi- reproduksi. Faktor ingatan sangat diutamakan dalam proses belajar, karena dalam ingatan itu tersimpan semua pengetahuan yang telah dipelajari. Dengan pengetahuan yang dimiliki ini seseorang akan mampu untuk melaksanakan tugasnya dan pengetahuan ini dapat diperoleh dengan cara mengikuti pendidikan tertentu yang dibuktikan dengan tanda atau ijazah keahlian (Regar, 1993:8). Karena tanpa pendidikan tertentu seseorang tidak akan dapat menguasai, memahami dan menerapkan pengetahuan yang didapatnya yang akan menentukannya menjadi seseorang yang profesional.
Bagi seorang auditor selain harus mengikuti pendidikan tertentu juga bekal pendidikan yang dimiliki dapat membantu dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan sehingga pendidikan memiliki hubungan dengan pengetahuan yang lebih luas dan sistematis. Lulusan pendidikan profesi akuntansi akan mempunyai daya saing yang lebih tinggi sebagai akuntan dibandingkan dengan para sarjana yang tidak mempunyai predikat akuntan. Lulusan pendidikan profesi akuntansi akan menjadi akuntan yang berhak mendapatkan register negara dan boleh mengikuti ujian sertifikasi Akuntan Publik (USAP). Apabila seorang auditor mampu untuk menyelesaikan berarti auditor tersebut memiliki keahlian dan keterampilan. Dengan demikian pendidikan akan mempengaruhi keahlian atau profesionalisme seorang auditor, sehingga seseorang yang profesional harus mengikuti pendidikan tertentu yang sesuai dengan profesinya.
2.3.2. Pengaruh Pengalaman Terhadap Profesionalisme Auditor
Audit menuntut keahlian dan profesionalisme yang tinggi. Keahlian tersebut tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal tetapi banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah pengalaman.
Pengalaman akan menciptakan struktur pengetahuan yang terdiri atas suatu sistem dari pengetahuan yang sistematis dan abstrak. Pengetahuan ini tersimpan dalam memori jangka panjang dan dibentuk dari lingkungan pengalaman langsung masa lalu. Pengalaman auditor dapat memperoleh pengetahuan dan mengembangkan struktur
pengetahuannya. Auditor yang berpengalaman akan memiliki lebih banyak pengetahuan dan struktur memori lebih baik dibandingkan auditor yang belum berpengalaman.
Menurut Christ (1993) dalam Deddy (2009) pengalaman yang lebih akan menghasilkan pengetahuan yang lebih. Seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dalam tugasnya. Boner dan Walker (1994) dalam Deddy (2009), mengatakan bahwa peningkatan pengetahuan yang muncul dari pelatihan formal sama bagusnya dengan yang didapat dari pengalaman khusus. Oleh karena itu pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja akuntan publik, sehingga pengalaman dimasukkan sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh ijin menjadi akuntan publik (SK
Menkeu No. 43/KMK.017/1997).
Selain itu dalam artikel Herliansyah dan Ilyas (2006:5), beberapa badan menghubungkan antara pengalaman dan profesionalitas sebagai hal yang sangat penting didalam menjalankan profesi akuntan publik. AICPA AU section 100-110 mengkaitkan professional dan pengalaman dalam kinerja auditor :
“The professional qualifications required of the independend auditor are those of person with the education and experience to
practice as such. They do not include those of person trained for qualified to engage in another profession or accupation”.
Atau dengan kata lain: bahwa kualifikasi seorang yang profesional mengharuskan seorang auditor yang independen dengan pendidikan dan pengalaman. Mereka tidak termasuk seorang yang dilatih untuk dikualifikasikan mengikutsertakan profesi atau pekerjaan yang lainnya.
Pengalaman yang nyata performance seseorang dalam meniti karirnya. Menurut Jeffrey (dalam yudhi herliyansah 2006), memperlihatkan bahwa seseorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa. Hal ini dipertegas oleh Haynes et al (1998) yang menemukan bahwa pengalaman audit yang dipunyai auditor ikut berperan dalam menentukan pertimbangan yang diambil.
Pengalaman yang diperoleh oleh seorang auditor akan bisa meningkatkan keahlian dan keterampilan dalam melakukan pemeriksaan yang erat kaitannya dengan profesionalisme seorang auditor. Disamping itu, lamanya seseorang bekerja sebagai auditor manjadi bagian penting yang mempengaruhi sikap profesionalisme, karena dengan bertambahnya waktu bekerja bagi seorang auditor, tentu saja akan diperoleh berbagai hal baru yang menyangkut dengan praktek- praktek audit, dan bagaimana menghadapi masalah- masalah selama proses audit.
2.3.3. Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Profesionalisme Auditor
Independensi auditor merupakan salah satu syarat mutlak untuk memberikan suatu opini terhadap laporan keuangan klien. Bila ini (independensi auditor) tidak terpenuhi, maka secara profesional akan sulit sekali mempertahankan kesimpulan terakhir dari suatu audit independen ( Holmes dan Burns, 1993:2).
Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati dalam buku Auditing: Konsep Dasar & Pedoman Pemeriksaan Akuntan Publik. Bagaimana pun sempurnanya keahlian teknis auditor jika auditor memihak pada salah satu kepentingan maka dia tidak bisa mempertahankan kebebasan pendapatnya, ia kehilangan sikap tidak memihak, berarti auditor tidak memiliki sikap mental independen. Independensi secara intrinsik merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan untuk dapat diuji secara obyektif. Sepanjang persepsi independensi dimasukkan ke dalam Aturan Etika, hal ini akan mengikat auditor independen menurut ketentuan profesi. (2009: 41).
Sikap independensi auditor merupakan salah satu tulang punggung bagi akuntan publik (auditor). Karena independensi auditor merupakan salah satu ciri yang sangat penting dan nantinya akan berpengaruh terhadap pendapat yang akan diberikan mengenai laporan keuangan suatu perusahaan. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik.
Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa sikap independensi auditor ternyata berkurang. Jadi independensi sangat erat sekali kaitannya dengan profesionalisme auditor.
2.3.4. Pengaruh Audit Fee Terhadap Profesionalisme Auditor
Teori yang melandasi hubungan audit fee dengan independensi auditor adalah teori pengembangan moral kognitif yang dikemukakan oleh Kohlber dalam penelitian Risma (2009: 41).
Berdasarkan riset tahun 1963 dan 1969 Kohlberg mengemukakan teori pengembangan moral kognitif (cognitive moral development). Menurut prospektif pengembangan moral kognitif, kapasitas moral individu menjadi lebih sophisticated dancomplexjika individu tersebut mendapatkan tambahan struktur moral kognitif pada setiap peningkatan level pertumbuhan perkembangan moral. Pertumbuhan eksternal berasal dari rewards dan punishment yang diberikan, sedangkan pertumbuhan internal mengarah pada principle dan universal fairness.
Audit fee erat sekali hubungannya dengan fenomena perebutan klien yang terjadi di antara akuntan publik, karena seperti diketahui pemberian jasa audit oleh suatu kantor akuntan publik tidak memiliki dasar penetapan tarif audit fee tetapi hanya didasarkan atas negosiasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa besar atau kecilnya pemberian rewards atau audit fee yang diterima dari klien dapat mempengaruhi moral dan perilaku etis auditor dalam hal independensi yang nantinya berdampak pada profesionalisme auditor.
Berdasarkan penjelasan dari kerangka pikir diatas, maka dapat dibuat bagan kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar I Bagan kerangka pikir
Mempengaruhi
s
Uji Regresi Linier berganda
Gambar I : Bagan kerangka pikir