• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikasi Pelanggaran HAM dalam Kasus Terduga Teroris Siyono

Pelanggaran HAM adalah segala tindakan yang dilakukan, baik sengaja ataupun tidak, yang menghalangi, membatasi, atau mencabut HAM orang lain sehingga mengganggu ketentraman dan kenyamanan hidup orang tersebut.

Secara konsep, ada 2 jenis pelanggaran HAM yaitu pelanggaran HAM ringan dan pelanggaran HAM berat, pelanggaran HAM ringan adalah pelanggaran yang tidak mengancam jiwa seseorang namun merugikan orang tersebut sedangkan pelanggaran HAM berat ialah pelanggaran yang mengancam jiwa seseorang.

Dalam penanganan terorisme, sering terjadi adanya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh anggota Densus 88. Dalam hal ini, penulis menganalisis adanya pelanggaran HAM yang dilakukan anggota Densus 88 dalam penanganan terduga teroris Siyono.

1. Wawancara terhadap pihak Detasemen Khusus 88 (Densus 88)

Menurut Densus 88 Siyono merupakan bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang menyimpan berbagai senjata api. Siyono meninggal setelah terjadi perkelahian dengan petugas, karena pada saat itu kondisi Siyono tidak dalam keadaan diborgol. Ditemukannya kesalahan dalam menangani terduga Siyono yaitu ketika Densus 88 tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur dalam hal mengawal, dan membawa tahanan tidak dalam keadaan diborgol. Terjadinya pelanggaran prosedur yang dilakukan aparat penegak hukum (Densus 88) dikarenakan kurangnya pemahaman Peraturan Prosedur Tetap (Protap).

Terkait Hak Asasi Manusia, ketika seseorang itu ditangkap dengan begitu hak asasinya berkurang seperti hak kebebasan. Pelanggaran HAM terjadi apabila tidak adanya dasar hukum. Dalam kasus Siyono sudah jelas

bahwa Siyono merupakan tersangka terorisme setelah dilakukan interogasi terlebih dahulu. Adanya upaya paksa yang dilakukan Densus 88 hanya untuk mendapatkan informasi dan keterangan lebih lanjut dari tersangka.

Meninggalnya Siyono bukanlah suatu kebanggaan bagi pihak kepolisian akan tetapi menjadi suatu kerugian, karena dengan meninggalnya tersangka teroris proses penegakan hukum tidak mampu mengungkap jaringan terorisme. Atas meninggalnya Siyono, pihak kepolisian memberikan santunan kepada keluarga Siyono (uang duka) untuk membantu proses pemakaman dan untuk membantu hal-hal lain yang dibutuhkan pihak keluarga.

Pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88, menyebabkan beberapa pihak menuntut untuk menyelidiki kembali cara kerja Densus 88 dalam menangani terduga teroris Siyono.137

2. Wawancara terhadap pihak Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)

Dalam peristiwa penanganan teroris Siyono, telah terjadi pelanggaran administrasi dan adanya upaya paksa yang dilakukan oleh Densus 88.

Diantaranya ada tiga jenis upaya paksa, yakni penangkapan, penggeledahan, dan penyitaan. Terkait upaya paksa tersebut, KUHAP telah mengatur syarat-syarat administrasinya, yakni;

“Pasal 18 KUHAP, ayat (1) Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkutkan serta tempat ia diperiksa. Ayat (2) Tembusan surat perintah penangkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan.”

Terkait operasi penangkapan Siyono, Densus 88 tidak menunjukkan surat penangkapan terhadap keluarga Siyono. Ini membuktikan bahwa Densus 88 tidak mematuhi aturan di atas. Selain itu, upaya paksa selanjutnya yaitu penggeledahan rumah Siyono. Dalam proses

137 AKBP. H. Djoni Djuhana, Direktur Idensus 88, interview pribadi, Jakarta, 27 April 2018

penggeledahan Densus 88 tidak memberikan surat Berita Acara Penggeledahan kepada keluarga Siyono. dengan begitu, benda-benda yang disita oleh Densus 88 dalam penggeledahan tersebut tidak ada catatat berita acaranya yang dimiliki keluarga korban. Dalam hal ini Densus 88 telah melanggar aturan terkait penggeledahan yaitu:

Pasal 33 ayat (5) KUHAP “dalam waktu dua hari setelah memasuki dan atau menggeledah rumah, harus dibuat suatu berita acara dan turunannya disampaikan kepada pemilik rumah yang bersangkutan”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Densus 88 tidak memenuhi persyaratan administrasi yang diperlukan dalam melakukan upaya paksa. Maka Densus 88 telah melakukan maladministrasi dalam upaya paksa yang dilakukan terhadap penanganan terduga teroris Siyono dan terjadi pelanggaran HAM lantaran penangkapan yang dilakukan Densus 88 tidak sesuai dengan prosedur yang ada.

Atas meninggalnya terduga teroris Siyono dalam penanganan Densus 88, di duga adanya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Densus 88, pelanggaran hak untuk tiidak disiksa oleh siapapun dan dalam keadaan apapun, dan hak hidup yang merupakan hak yang tidak bisa dikurangi atau dicabut dalam kondisi apapun sebagaimana dijamin dalam pasal 28A Undang-undang Dasar 1945, pasal 4 dan pasal 9 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Mengenai intimidasi terhadap keluarga Siyono, polisi meminta keluarga Siyono menandatangani surat pernyataan untuk tidak memperkarakan kasus tersebut secara hukum. Upaya tersebut juga dapat dianggap sebagai pelanggaran HAM bagi hak korban untuk mengajukan upaya hukum sebagaimana diatur dalam pasal 17 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia:

“setiap orang tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang

menjamin pemeriksaan yang obyektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar”

Terkait pelanggaran di atas, disimpulkan bahwa upaya Densus 88 meminta kelurga menandatangani surat pernyataan tidak akan mengajukan tuntutan hukum merupakan suatu pelanggaran HAM.138

3. Wawancara terhadap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Dalam kasus ini Komnas HAM mendapat laporan dari istri Siyono terkait dugaan pelanggaran HAM terhadap meninggalnya tersangka Siyono, atas laporan tersebut kemudian Komnas HAM melakukan Klarifikasi dengan meminta penjelasan terkait peristiwa yang terjadi terhadap Siyono, dimulai dengan menanyakan kepada Istri Siyono, Kepala Desa Setempat, dan juga pihak kepolisian. Pada saat itu polisi tidak banyak memberikan penjelasan terkait peristiwa tersebut, sampai terjadinya perang opini antara Komnas HAM dengan pihak Kepolisian. Hingga kemudian Komnas HAM melakukan autopsi ulang terhadap jenazah Siyono dengan mengundang sembilan dokter forensik di antaranya yaitu dokter dari Rs. Bhayangkara Jawa Tengah, dan juga dokter-dokter di daerah setempat. Setelah dilakukan autopsi terhadap jenazah Siyono, ditemukanlah penyebab meninggalnya Siyono, bahwa terjadi luka dalam seperti rusuk yang patah, dan juga tidak ada perlawanan yang dilakukan Siyono.

Dari rangkaian peristiwa tersebut, akhirnya Komnas HAM mengirim surat secara resmi kepada Kapolri untuk memproses atas tindakan yang menimpa Siyono. Dalam hal ini Komnas HAM mengungkap bahwa Densus 88 telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia, yaitu Hak untuk hidup, dan Hak untuk tidak disiksa. Komnas HAM juga meminta Polisi untuk segera di proses secara kode etik.139

138 Arif Nur Fikri, anggota Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, interview pribadi, Jakarta, 19 April 2018

139 Agus Guntoro, Peneliti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, interview pribadi, Jakarta, 06 Juli 2018

4. Wawancara terhadap pihak Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berkaitan dengan kasus Siyono, PP Muhammadiyah yang mendampingi istri Siyono untuk menyelidiki kesalahan yang Densus 88 lakukan dalam penanganan tersangka Siyono. dalam hal ini PP Muhammadiyah membagi menjadi tiga isu perkara, yang pertama terkait pelanggaran SOP dan pelanggaran HAM yang terjadi terhadap Siyono, yakni pada saat penangkapan Siyono, Densus 88 tidak menunjukkan surat penangkapan dan juga surat penggeledahan, kemudian terkait pelanggaran HAM, Siyono meninggal dalam proses penanganan oleh Densus 88 dan adanya hasil autopsi yang dilakukan bersama dengan tim dari Komnas HAM menunjukkan bahwa Siyono tidak melakukan perlawanan. Yang kedua, terkait dengan pemberian uang terhadap kaluarga Siyono yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Karena hal itu, kemudian uang tersebut diserahkan ke KPK untuk di proses, akan tetapi KPK menolak uang tersebut.

Dan yang ketiga terkait dengan Kode Etik Profesi, PP Muhammadiyah telah melaporkan kasus tersebut kepada Propam untuk diproses.140

Dalam hal pelanggaran SOP, Densus 88 telah melanggar pasal 19 Perkap No. 23 Tahun 2011 tentang Prosedur Penindakan Tersangka Tindak Pidana Terorisme. Kemudian dalam hal pelanggaran HAM, Densus 88 melanggar pasal 4 dan pasal 9 Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yakni hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa.

Dan juga mengenai Kode Etik Profesi, yang mana sudah tertera dalam pasal 7 ayat (2) huruf c Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

140 Jamal Burhan, SH, Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Jakarta, interview pribadi, jakarta, 13 Juli 2018

Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam kasus terduga terorisme Siyono, ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88 dalam proses penanganan tersangka terorisme Siyono. seperti halnya tidak adanya surat penangkapan serta surat penggeledahan, dan juga pelanggaran HAM yang menyebabkan meninggalnya seseorang.

Densus 88 pada saat penangkapan Siyono tidak menunjukkan adanya surat perintah penangkapan terhadap yang bersangkutan terkait kasus terorisme. Tidak hanya itu, Densus 88 juga melakukan hal yang sama pada saat penggeledahan rumah terhadap keluarga Siyono. Dalam hal ini Undang-Undang telah mengatur untuk menunjukkan surat perintah penangkapan serta surat perintah penggeledahan seperti tertera dalam pasal 18 dan pasal 33 KUHP serta pasal 19 Peraturan Kepolisian nomor 23 tahun 2011 tentang prosedur penindakan tersangka tindak pidana terorisme.

Siyono meninggal dalam pengawasan Densus 88 pada tahap penyidikan. Dari beberapa pihak terkait yang melakukan autopsi ulang tehadap jenazah Siyono ditemukannya adanya upaya penyiksaan yang dilakukan Densus 88 terhadap Siyono. Densus 88 dalam hal ini telah melanggar hak asasi manusia yakni, hak hidup dan hak untuk tidak disiksa sebagaimana dalam pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 serta pasal 4 dan pasal 9 Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia.

B. Pertanggungjawaban Hukum atas Dugaan Pelanggaran HAM dalam