Kasus meninggalnya terduga teroris Siyono manjadi sorotan media karena Siyono yang merupakan terduga teroris meninggal dalam pengawasan Densus 88 yang melakukan tugas pengawalan dalam perjalanan ke tempat penyimpanan barang bukti yang diketahui oleh Siyono. Namun, dalam perjalanan terjadi insiden yang mengakibatkan Siyono meninggal dunia.
Peristiwa itu dalam media diinformasikan dalam dua sudut pandang yang berbeda anata pihak Kepolisian dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kronologi kasus meninggalnya terduga teroris Siyono oleh Densus 88 dari sudut pandang Kepolisian adalah:
Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan menjelaskan tewasnya seorang terduga teroris Siyono (33 tahun) setelah ditangkap oleh Densus 88 Antiteror. Menurutnya Siyono adalah anggota JI yang berperan sebeagai perakit senjata api.
Anton menjelaskan, pada saat kejadian, Siyono menuruti semua perintah dari anggota di lapangan.n namun, saat tiba di satu tempat di Prambanan, Klaten, Siyono meminta dilepaskan penutup wajah dan borgolnya.
131 Marshaal Semuel Bawole, “Kewenangan Tim Densus 88 dalam Penanggulangan Terorisme di Indonesia”,.. h.,118
Dia duduk di sebelah kanan dengan mata tertutup, sedangkan anggota berada di sebelah kiri. Tiba-tiba Siyono berontak, ia melakukan perlawanan dan memukul anggota Densus 88 dan terjadilah aksi saling memukul. Kemudian, akibat saling pukul di dalam mobil mengakibatkan kepala pelaku terbentur besi dan pingsan. Pelaku sempat dibawa ke rumah sakit, tapi akhirnya ,eninggal dunia dalam perjalanan.132
Kapolri Jenderal Badrotin Haiti menjelaskan secara rinci bagaimana kronologi tewasnya Siyono di tangan Densus 88. Kapolri mengakui adanya kesalahan Prosedur penangkapan.
Menurut Badrotin, awalnya pada hari selasa 8 Maret 2016 sekitar pukul 18.00 WIB di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, dilakukan penangkapan terhadap tersangka Siyono. Siyono dibawa ke daerah terminal Besa, Kecamatam Selogiri, Kabupaten Wonogiri, saat itu Siyono dalam keadaan tidak terborgol. Kemudian pada saat melintas di jalan antara Kota Klaten dan Prambanan, tersangka Siyono melakukan penyerangan terhadap petugas.
Perkelahian tidak dapat dihindari, tersangka terus melakukan penyerangan dengan menyikut, menendang bahkan mencoba merampas senjata apinya, bahkan tendangan sempat mengenai kepala bagian kiri belakangan pengemudi kendaraan sehingga membuat kendaraan oleng ke kanan dan sempat menabrak pembatas jalan. Tutur Badrotin. Namun, pengemudi berhasil mempertahankan kendaraan dalam keadaan stabil dan tetap melanjutkan perjalanannya. Mengingat situasi sekeliling tidak memungkinkan untuk menepi, akhirnya petugas pengawal berhasil melumpuhkan tersangka dan menguasai situasi kondisi tersangka sudah dalam keadaan terduduk lemas. Ungkap Badrotin.
Siyono dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan hasil pemeriksaan IGD dokter Dewi, tersangka
132 http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/03/14/o40vrx361-kronologi-kematian-siyono-di-tangan-densus-88-menurut-polri diakses pada 01 April 2018 19:17
dinyatakan meninggal. Dia mengungkapkan, pemeriksaan di luar jenazah yang dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik Densus 88 tertanggal 11 maret 2016, ditemukan adanya luka memar pada kepala sisi kanan belakang Siyono dan pendarahan dibawah selaput otak bagian belakang kanan.
Kemudian juga ditemukan keretakan tulang iga kelima kanan dan keseluruhan diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul.133
Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga menjelaskan kronologi penangkapan Siyono yang diduga tewas akibat kekerasan yang dilakukan Densus 88 terkait dengan dugaannya dalam terorisme. Komisioner Komnas HAM Siane Indriani mengatakan komisi itu telah mencatat sejumlah kejanggalan pada kasus kematian Siyono yang ditangkap pada 8 April. Dia menegaskan penyebab kematian Siyono adalah pukulan benda tumpul dibagian dada.
Berikut kronologi berdasarkan laporan yang diterima Komnas HAM:
1. Pada selasa, 8 Maret 2016 sekitar pukul 18.30 WIB, telah terjadi penangkapan terhadap saudara Siyono, setelah menjadi imam jamaah sholat Maghrib di Masjid Muniroh, Desa Brengkungan, Pogung, Klaten.
Pelaku berjumla tiga orang berpakaian sipil tanpa surat penangkapan.
Ketiga orang tersebut membawa Siyono dalam keadaan sehat dan segar.
2. Dari hari selasa, 8 Maret 2016 hingga hari Kamis 10 Maret 2016, keluarga tidak mengetahui keberadaan saudara Siyono. Sampai terjadi peristiwa penggeledahan di rumah Siyono oleh Densus 88 Polri Antiteror. Proses penggeledahan juga dilakukan di TK Amanah Ummah disertai aksi menodongkan senjata laras panjang oleh Densus 88 kepada anak-anak yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar dan akhirnya ditunda sampai pukul 10.00 WIB setelah murid TK pulang.
133 https://www.merdeka.com/peristiwa/kapolri-beberkan-kronologi-penangkapan-yang-menewaskan-siyono.html di akses pada 1 April 2018 21.55WIB
Dalam proses penggeladahan Istri korban tidak diberikan dan/atau menerima Surat Keterangan Penggeledahan. Dalam penggeledahan yang dilakukan tidak ditemukan bahan peledak yang dicari oleh Densus 88. Akibatnya hanya disita satu unit sepeda motor merk Supra X 125 plat B dan bebebrapa lembar kertas (buku sekolah). Demikian halnya, dalam proses penyitaan, keluarga menyatakan tidak menandatangani Berita Acara Penyitaan, saat ini sepeda motor yang sebelumnya disita dikembalikan kepada keluarga Siyono.
3. Pada jum’at 11 Maret 2016, sekitar pukul 15.00 WIB, istri korban dan kakak korban beserta satu perangkat Desa Pogung dan Anggota Polri berangkat ke jakarta dengan menggunakan kendaraan 2 (dua) buah mobil. Pada 12 Maret 2016 pukul 10.00 WIB diberitahukan resmi bahwa Siyono wafat dan diberikan uang dalam 2 (dua) amplop besar, pukul 11.00 WIB, keluarga dibawa untuk melihat jenazah korban di RS Bhayangkara TK.I. R.Said Sukanto, akan tetapi dalam praktiknya selalu dihalang-halangi untuk melihat kondisi korban. Sore harinya, jenazah Siyono dipulangkan ke Klaten dan dalam prosesnya diikuti oleh Nurlan (Tim Pembela Muslim) yang ditunjuk Polri. Sesampai di Klaten, diminta langsung dimakamkan dan keluarga dilarang untuk mengganti kain kafan. Meskipun pada akhirnya diperbolehkan penggantian kain kafan dan mengetahui berbagai luka-luka pada tubuh korban.
4. Atas berbagai permasalahan tersebut, keluarga korban pada 12 dan 14 Maret 2016 menunjuk kuasa hukum Sri Kalono, SH dan penasihat hukum dari Pusat Hak Asasi Manusia Indonesia (PUSHAMI).
Meskipun tellah mendapatkan pendampingan dari kuasa hukum, keluarga besar Siyono diduga mendapatkan intimidasi dari anggota Kepolisian RI- bahkan sempat masuk rumah korban. Melihat dinamika dan besarnya tekanan kepada keluarga korban, istri korban juga meminta pendampngan hukum DPP Muhammadiyah. Pada 23 Maret 2016 istri korban menandatangani Surat Pernyataan kepada Komnas
HAM meminta agar dilakukan otopsi atas mayat Siyono untuk mendapatkan bukti mengenai kekerasan yang dialami korban.134
D. Faktor Terjadinya Pelanggaran HAM oleh Densus 88 dalam Kasus