SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh : Ika Fadila NIM: 11140450000064
PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2018 M/1439 H
iv ABSTRAK
Ika Fadila, NIM 11140450000064, PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA OLEH DENSUS 88 DALAM KASUS TERDUGA TERORISME SIYONO, Program Studi Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarih Hidayatullah Jakarta.
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Oleh Densus 88 dalam Kasus Terduga Terorisme Siyono. dari masalah tersebut maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan meneliti lebih dalam pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Densus 88 terhadap meninggalnya tersangka terorisme Siyono yang masih dalam penanganan Densus 88.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif normatif. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Dalam pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data secara Library Research (studi kepustakaan), dengan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, buku-buku dan yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pelanggaran yang dilakukan Densus 88 dalam penangkapan tersangka terorisme, seperti tidak adanya surat perintah penangkapan dan surat perintah penggeledahan, serta adanya upaya penyiksaan terhadap tersangka yang menyebabkan kematian. Dalam hal ini Densus 88 melanggar Hak Asasi Manusia, seperti hak hidup dan hak untuk tidak disiksa.
Kata kunci: Terorisme, Densus 88, Siyono, Pelanggaran HAM Pembimbing: Dr. H. M. Nurul Irfan, MA
v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkann kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Serta shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Tiada cipta karya melainkan atas petunjuk dari-Nya, dengan rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan judul
“PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA OLEH DENSUS 88 DALAM KASUS TERDUGA TERORISME SIYONO”.
Dalam penyusunan skripsi ini berbagai hambatan dan keterbatasan penulis hadapi mulai dari tahap persiapan sampai dengan penyelesaian tulisan namun berkat bantuan, bimbingan dan kerja sama berbagai pihak, hambatan dan kesulitan tersebut dapat teratasi. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Asep Saepudin Jahar, MA selaku Dekan Fakultas Syriah dan hukum.
2. Bapak Dr. H. M. Nurul Irfan, MA selaku ketua Program Studi Hukum Pidana Islam.
3. Bapak Nur Rohim Yunus, LLM selaku Sekretaris Program Studi Hukum Pidana Islam.
4. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, MA, pembimbing akademik.
5. Bapak Dr. H. M. Nurul Irfan, MA selaku Dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan. kritik dan saran untuk penelitian ini, membimbing penulis hingga skripsi ini selesai.
6. Bapak direktur Idensus, AKBP. H. Djoni Djuhana, bapak Arif Nur Fikri selaku anggota Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Bapak Agus Guntoro, Selaku Peneliti Komnas HAM, dan Bapak Jamil Burhan, SH, selaku Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, yang telah, memberikan informasi-informasi mengenai penelitian ini, dan juga
vi
memberikan kesempatan untuk bersedia menjadi narasumber pada saat wawancara pribadi terkait penelitian ini.
7. Kedua orang tua penulis Bapak As’ad dan Ibuk Hamida, yang dengan ikhlas dan sabar untuk terus medoakan anaknya. Kepada kakek Ghozali dan Alm.
Nenek Sutimah tercinta, serta Abah H. Dani, yang senantiasa memberikan doa, nasihat dan dukungan untuk penulis.
8. Kepada adik-adik penulis Anisa Firdaus dan Lutfiah Syahrani, yang telah memberikan dukungan semangat menghibur kepada penulis. Tante tercinta Rofiatul Dewiyah, yang telah memberikan perhatian, nasehat dan dukungan semangat untuk penulis cepat menyelesaikan skripsi ini. Saudara-saudara penulis, Fara Dila, Barirotus Silvia, Lubna, Imamatul Silfia, yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis.
9. Kepada paman Imam dan tante Mufarroha, yang telah menjaga dan mendidik penulis selama kuliah sampai selesai.
10. Segenap rekan Hukum Pidana Islam 2014, Alliyya, Elah, Irna, Zahrati, Dewi, Khumaeroh, dan semua pihak yang belum tersebut. Segenap grup KEJORA Khudaefah, Rita Sartika, Qurratul Aini, Siti Kholilah Perinduri, dan Anyzah Oktaviyani. Segenap rekan-rekan di KKN Bercahaya Elva, Cika, dan Natasha.
Rekan SMK Nurul Amanah, Nur Qomaria dan Faizah. Rekan Mts Luthfiyah, yang telah memberi dukungan, motivasi dan konstribusi lainnya dalam penyusunan skripsi ini.
11. Segenap keluarga organisasi DMB (Dermaga Mahasiswa Bangkalan), Lilis, Nadia, Wardah, Taqwim, Ilham, Masyur, yang memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Demikian ucapan terima kasih penulis, semoga Allah SWT memberikan pahala dan balasan setimpal atas semua jasa-jasa mereka. Penulis berharap semoga skripsi bermanfaat untuk orang banyak.
Jakarta, 25 Juli 2018 Ika Fadila
viii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 7
E. Kerangka Teori dan Konseptual ... 9
F. Metode Penulisan ... 10
G. Sistematika Penulisan... 11
BAB II HAK ASASI MANUSIA A. Asas Persamaan di Hadapan Hukum ... 12
B. Asas Praduga Tidak Bersalah ... 19
C. Pengertian Hak Asasi Manusia ... 26
BAB III PENANGANAN KASUS TERDUGA TERORISME SIYONO A. Tindak Pidana Terorisme ... 38
B. Detasemen Khusus 88 ... 63
C. Kronologi Penanganan Kasus Terduga Terorisme Siyono ... 68
D. Faktor Adanya Pelanggaran HAM oleh Densus 88 dalam kasus Terduga Terorisme Siyono ... 72
ix
BAB IV ANALISIS TINDAK PIDANA PELANGGARAN HAM DALAM PENANGANAN KASUS TERORISME SIYONO
A. Analisis Pelanggaran HAM dalam Penanganan Kasus Terduga Terorisme Siyono ... 74 B. Pertanggungjawaban Hukum Atas Dugaan Pelanggaran HAM dalam Kasus Terduga Terorisme Siyono ... 79 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 84 B. Saran ... 85 DAFTAR PUSTAKA ... 86
1
Aksi-aksi teror yang marak akhir-akhir ini membuat keprihatinan banyak pihak, baik masyarakat nasional maupun internasional. Aksi-aksi teror yang menyebabkan hilangnya rasa aman ditengah-tengah masyarakat, selain juga menurunkan wibawa pemerintah -sebagai badan yang seharusnya memberikan perlindungan dan rasa aman- di tengah-tengah masyarakat.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki ancaman besar, terutama dengan maraknya aksi teror bom di sejumlah tempat.1
Terorisme akan terus muncul sebagai aksi atas fenomena yang muncul didalam percaturan global. Sebagaimana yang dikatakan Roberk K Merton, yang menyatakan bahwa terorisme merupakan kelompok tertindas yang akan terus melakukan perlawanan yang berkepanjangan sepanjang kelompok itu tidak mencapai tujuan. Hal ini terjadi karena terorisme sebagai bagian dari gerakan sosial (social movement) dimana ciri-ciri dari kegiatan sosial ini adalah gerakan oleh kelompok tertentu yang terorganisasi secara rapi, memiliki kesamaan ideologi dan tujuan, menggunakan cara-cara kepemimpinan dan komando yang bisa melegitimasi otoritas kekuasaan yang dilakukannya.
Terorisme sebagai kejahatan yang tergolong ke dalam kejahatan Extra Ordinari Crime (kejahatan luar biasa), yaitu kejahatan yang dapat mengakibatkan korban jiwa yang sangat signifikan. Oleh karena sifat terorisme yang tergolong sebagai kejahatan Extra Ordinary, hampir setiap negara menggunakan undang-undang khusus dalam menanggulangi tindak pidana terorisme.2
1 Sukawarsini Djelantik, Terorisme Tinjauan Psiko-Politisi, Peran Media Kemiskinan, dan Keamana Nasional, (Jakarta: Yayasan Obar Indonesia, 2010), h.1
2 Martimus Amin, MK, Konstitusi dan Demokrasi dalam buku Terorisme, Perang Global dan Masa Depan Demokrasi, (Depok: Matapena, 2004), h.12
Terorisme bukan persoalan pelaku. Terorisme lebih terkait pada keyakinan teologis. Artinya, pelakunya bisa ditangkap, bahkan dibunuh, tetapi keyakinannya tidak mudah untuk dilakukan. Sejarah membuktikan, usia keyakinan tersebut seumur usia agama itu sendiri.3
Salah satu bentuk tegas pemerintah dalam memerangi terorisme adalah dengan mengeluarkan Peraturan Perundang-Undangan Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, kemudian melalui Inpres Nomor 14 tahun 2002, Presiden menginstruksikan agar dibentuknya tim pemberantasan tindak pidana terorisme. Hal ini adalah cikal bakal terbentuknya Detasemen Khusus 88 (Densus 88), yang bergerak dalam bidang pemberantasan jaringan terorisme di wilayah Indonesia. Densus 88 AT Polri didirikan sebagai bagian dari respon makin berkembangnya ancaman teror dari organisasi yang merupakan bagian dari jaringan Al-Qaeda, yaitu Jama’ah Islamiyah (JI).4
Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiterorisme yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Densus 88 di pusat (Mabes Polri) berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Selain itu masing- masing kepolisian daerah juga memiliki unit antiteror yang disebut Densus 88, beranggotakan 45-75 orang, namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas. Fungsi Densus 88 Polda adalah memeriksa laporan aktivitas teror di daerah. Melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara Republik Indonesia.5
3 A.M . Hendropiyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jakarta:
Kompas, 2009), h.vii
4 Muradi, Penentian Panjang Reformasi Polri, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009) h.192
5 Detasemen Khusus 88, wikipedia.org/wiki/Detasemen_Khusus_88_(Anti_Teror)
Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Densus 88 dalam menangani aksi kekerasan terorisme, seperti penangkapan gembong pelaksanaan peledakan bom Bali I dan bom Bali II, menumpas teroris yang ada di Solo, Temanggung, Poso dan lain-lain. Akan tetapi, oleh kesuksesan yang dilakukan oleh Densus 88 dalam penanganan terorisme, banyak dari kalangan masyarakat, politikus, para ulama, bahkan meneteri hukum dan HAM pun ikut mengeluhkan sistem kerja Densus 88. Banyak warga sipil yang menjadi korban dari aksi brutal yang dilakukan oleh Densus 88 dengan menembak mati orang yang belum tentu terbukti sebagai tersangka kelomok terorisme. Di dalam HAM itu sudah melanggar kode etik tentang peraturan HAM, yang mana sesama orang ataupun sesema pemeluk agama yang berbeda tidak boleh menyakiti satu sama lain, apalagi sampai ada hilangnya korban jiwa, itu sangat melanggar peraturan kementrian Hukum dan HAM. Pada Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tertulis pasal 9 yang berbunyi; “Setiap orang berhak untuk Hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya.”
Dan juga terdapat pada pasal 18 Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 yang berbunyi; “setiap orang yang ditangkap, ditangkap, ditahan dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak tidak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikannya kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”
Perlindungan HAM tidak saja bermakna sebagai jaminan negara pro- aktif memproteksi hak asasi manusia dalam berbagai kebijakan (Regulasi), tetapi juga reaktif bereaksi cepat melakukan tindakan hukum apabila terjadi pelanggaran hak asasi manusia karena hal tersebut merupakan indikator negara hukum. Jika dalam suatu negara hak asasi manusia terabaikan atau dilanggar dengan sengaja dan penderitaan yang ditimbulkannya tidak dapat diatasi secara adil, negara tersebut tidak dapat disebut sebagai negara hukum dan demokrasi dalam arti sesungguhnya.6
6 Suparman Marzuki, Politik Hukum Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Erlangga, 2014) h.4
Indonesia sebagai negara yang berlandaskan atas hukum dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh masyarakat maupun oleh aparat penegak hukum, harus sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya pelanggaran hukum hak asasi manusia terhadap setiap orang. Aparat penegak hukum dalam hal ini Densus 88 AT sebagai bagian dari aparatur penegak hukum yang berfungsi untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.7
Berdasarkan kerangka perlindungan hak asasi manusia, pada hakikatnya, perlindungan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme merupakan salah satu perwujudan hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan keadilan, dan hak untuk tidak di siksa. Hak asasi itu bersifat langgeng dan universal, artinya berlaku untuk setiap orang tanpa membeda- bedakan asal-usul, jenis kelamin, agama, serta usia, sehingga setiap negara berkewajiban untuk menegakkannya tanpa terkecuali.
Merujuk pada kasus kematian yang dialami oleh Siyono masih banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) menyatakan pemberantasan terorisme oleh Detasemen Khusus 88 tidak diiringi akuntabilitas. Hal ini terlihat dari kasus tewasnya Siyono, 33 tahun, terduga teroris asal Klaten. Kontras beranggapan banyak pelanggaran yang dilakukan polisi. Pernyataan Markas Besar Polri Siyono tewas karena melawan seorang petugas yang mengawalnya. Menurut Staf Divisi Pembelaan Hak Sipil dan Politik Kontras, hal tersebut janggal karena standarnya minimal ada dua orang mengawal tersangka. “Apalagi ini kasus terorisme Kontras mempertanyakan keterangan polisi yang menjelaskan bahwa Siyono adalah panglima salah satu teroris. Menurutnya, fakta tersebut kabur dan berasal dari sumber yang tidak jelas.
Menurut Satrio pernyataan polisi hanya memperkuat kesan bahwa kematian Siyono karena ia berbahaya dan karena beliau sudah tewas, jadi tidak
7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
bisa mengkonfirmasi ini. Satrio menambahkan bahwa polisi harus menunjukkan berita acara pemeriksaan (BAP) bila mereka menganggap Siyono seorang penglima berasal dari pengakuannya. Dan kalau itu pengakuannya polisi seharusnya menunjukan berita acara pemeriksaan.
Kejanggalan lainnya terdapat pada jenazah Siyono. Menurut Satrio, tidak masuk akal bila Siyono tewas karena berkelahi dengan satu orang. Selain itu, kondisi jenazah tidak sesuai dengan keterangan tewas akibat kepala Siyono dibenturkan ke badan mobil. Luka yang ditemukan yaitu ada memar dipipi, mata lebam, hidung patah, kaki dari paha hingga betis bengkak dan memar, kuku kaki hampir patah, dan keluar darah dari belakang kepala. Kontras menduga ada penyiksaan yang terjadi terhadap Siyono dan meminta polisi menyelidiki kembali dan menindak pelakunya. Polisi seharusnya tidak kekurangan bukti untuk menindak anggotanya karena jenazah Siyono sudah divisum. Selain kejanggalan tersebut, Kontras juga mencatat beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88, antara lain pelanggaran administrasi. Petugas tidak menunjukkan surat perintah mulai dari penangkapan hingga pengeledahan rumah Siyono.8
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penyusun tertarik untuk membuat karya ilmiah (Skripsi), dengan tema “Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Oleh Densus 88 Dalam Kasus Tersangka Terorisme Siyono” Tema ini menjadi bahan yang menarik untuk diteliti, karena dalam kasus yang terjadi ada beberpa keganjalan yang perlu dibuka dihadapan publik dan untuk mencari kebenaran subtantif.
B. Pembatasan dan Rumusun Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam penelitian ini, yaitu
a. Detasemen Khusus 88
8 kejanggalan dalam kematian Siyono, nasional.tempo.co/ read/757075/apa-saja- kejanggalan-dalam-kematian-siyono-terduga-teroris diakses pada 3 Desember 2017
b. Prosedur penangkapan terorisme c. Hak Asasi Manusia
d. Pelanggaran hak asasi manusia 2. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis memberikan batasan masalah hanya pada Pelanggaran HAM yang dilakukan Aparat Penegak Hukum terhadap Tersangka Terorisme. Pembatasan ini dilakukan untuk lebih fokus atau mempermudah penulis dan juga untuk menghindari perluasan pembahasan yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang akan diteliti.
3. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang dirumuskan dengan pertanyaan penelitian (research question) yaitu;
a. Bagaimana bentuk pelanggaran HAM oleh Densus 88 dapat terjadi dalam kasus Siyono?
b. Bagaimana bentuk pertanggung jawaban hukum bagi Densus 88 dalam kasus Siyono?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, dapat diketahui bahwa tujuan umum dari penulisan ini adalah:
a. Untuk mengetahui pandangan HAM tentang kekerasan atau anarkisme yang dilakukan oleh Densus 88.
b. Untuk mengetahui bentuk pertanggungjawaban hukum Densus 88.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis
Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi, kontribusi pemikiran dalam menambah wawasan pengetahuan dalam lingkup pertanggung jawaban hukum pelanggaran HAM. Sehingga skripsi ini
menjadi bahan literatur dalam kajian ilmiah bagi para mahasiswa hukum maupun praktisi hukum di Indonesia.
b. Manfaat Praktis
Dapat menjadi bahan pengetahuan yang dapat berguna untuk pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi wadah pengetahuan baru yang berguna untuk mahasiswa, praktisi hukum, mauapun masyarakat secara luas.
c. Manfaat Akademis
Penelitian ini merupakan syarat untuk meraih gelar sarjana hukum dalam Program Studi Hukum Pidana Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
D. Tinjauan Kajian Terdahulu
Tinjauan pustaka (atau sering juga disebut literatur riview) merupakan sebuah proses mencari berbagai literatur, hasil kajian atau studi yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.9 Adapun yang dapat dijadikan sumber rujukan telaah pustaka tersebut adalah berupa buku teks, disertasi, tesis, jurnal, skripsi dan lain sebagainya yang dapat dijadikan telaah pustaka atau tinjauan pustaka. Dalam hal ini penulis mengambil beberapa telaah pustaka yang dapat dijadikan bahan perundingan;
No. Identitas
Penulis Judul Substansi Pembeda
1. Basri Musutofa Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Penanganan Terorisme oleh Densus 88 Perspektif Hukum Pidana Islam dan HAM
Penulis menjabarkan mengenai penanganan terorisme yang dilakukan
Penulis hanya menjabarkan penanganan tersangka terorisme
9 Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif, Analisis Isi dan Analisis Sekunder, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), h.42
Densus 88 secara Hukum Islam dan HAM
secara hukum positif
2. Khoirul Imam Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Prosedur penangkapan tersangka oleh Densus 88 (analisis kasus Siyono di Klaten)
Penulis menjabarkan tentang kesesuaian prosedur penindakan tersangka terorisme oleh Densus 88
Penulis menjabarkan mengenai pelanggaran dalam prosedur penangkapan tersangka terorisme oleh Densus 88.
3. Tirta Mulya Wira Pradana dan Khoiril Huda jurnal Universitas Negeri Semarang
Penanganan Pelaku Tindak Pidana
Terorisme dalam
Perlindungan Hak Asasi Manusia
Penulis menjabarkan perlindungan hak asasi manusia dalam penanganan tindak pidana terorisme
Penulis menjabarkan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Densus 88 dalam penanganan tindak pidana terorisme.
E. Kerangka Teori dan Konseptual 1. Kerangka Teori
a. Teori Tindak Pidana
Pidana berasal dari bahasa belanda yaitu Straf, yang kadang-kadang disebut dengan istilah hukuman. Walaupun istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman, karena hukuman sudah lazim merupakan terjemahan dari recht.10 Pidana dapat dikatakan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau diberikan oleh negara kepada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginya atas perbuatan yang telah melanggar larangan hukum pidana
b. Teori Perlindungan Hukum
Menurut Fitzgerald dalam buku Sajipto Rahardjo, menjelaskan teori perlindungan hukum bertujuan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat karena dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi berbagai kepentingan di lain pihak.11
2. Kerangka Konseptual
Konseptual dalam penelitian ini adalah hak asasi manusia. Konsep ini lebih menitik beratkan pada hak setiap orang untuk diperlakukan sama terutama di mata hukum.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam penanganan terorisme dengan konsep hak asasi manusia ini diharapkan agar Densus 88 lebih mangutamakan Hak-hak setiap orang, menerapkan asas persamaan di hadapan hukum serta asas praduga tidak bersalah, tidak sewenang-wenang dalam bertindak, dan memberikan perlindungan terhadap martabat manusia.
10 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, (Jakarta: Grafindo Persadam 2008) h.24
11 Sajipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2000) h.53
F. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah satu teknik pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian tertentu untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan dari sumber-sumber primer maupun sekunder.12 Metode penelitian ini adalah metode kepustakaan (Library Reseacrh), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun atau mengumpulkan data dari berbagai literatur baik data yang ada di perpustakaan atau media informasi lainnya. Agar tecapai maksud dan tujuan pembahasan pokok-pokok masalah diatas maka penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan sebagai berikut:
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian ini menggambarkan pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88 dalam penanganan tindak pidana terorisme dan Hak Asasi Manusia.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan kasus dan pendekatan Undang-Undnag. Pendekatan kasus adalah menelaah kasus yang ditangani dengan mencari informasi dari media online dan melakukan wawancara terhadap beberapa pihak terkait. Pendekatan Undang-Undang adalah pendekatan menggunakan Undang-Undang yang sedang ditangani.
3. Bahan Hukum Penelitian a. Bahan Hukum Primer
Dalam penulisan Skripsi ini penulis mengambil data primer dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak pIdana Terorisme, Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Peraturan Kepolisian Negara Republik Indoneisa nomor 23 tahun 2011 tentang penindakan tersangka tindak pidana terorisme, Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 14 tahun 2011
12 Hadari Nawawi, metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press, 20017) h.27
tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Republik Indonesia, dan peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan penelitian ini.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu semua yang merupakan informasi atau hasil kajian yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia, seperti karya ilmiah, artikel, surat kabar, internet dan seterusnya.
4. Teknik pengolahan Bahan Hukum
Teknik pengolahan bahan hukum dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yakni dengan cara mengumpulkan bahan hukum untuk mendeskripsikan permasalahan yang akan dibahas dengan mengambil materi-materi dari sumber bahan hukum primer dan sumber bahan hukum sekunder. Kemudian sumber bahan hukum tersebut diklasifikasikan untuk memudahkan dalam menganalisis.
5. Analisis Bahan Hukum
Adapun metode analisis bahan hukum dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif analistik, yaitu menjelaskan aspek-aspek masalah yang telah diteliti kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya.
G. Sistematika Penulisan
Untuk menjelaskan pemasalahan tersebut dalam bagian yang lebih lengkap, agar lebih memperjelas rangkaian penelitian ini, maka penulis memberikan sistematika penulisan dalam suatu kaidah garis-garis besar penulisan melalui beberapa bab, serta disertai sub-sub dalam menjelaskan pelbagai hal yang lebih terperinci dan membutuhkan kajian pengatahuan yang lebih mendalam. Adapun deskripsi dari sistematika penulisan ini dijabarkan dalam 5 bab sebagai berikut:
Pada Bab I Penulis menguraikan dari latar belakang masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.
Pada Bab II Penulis menguraikan tentang Hak Asasi Manusia meliputi Persamaan Hak Dihadapan Hukum, Asas Praduga Tak bersalah, dan pengertian Hak Asasi Manusia.
Pada Bab III Penulis menguraikan tentang penanganan kasus Terorisme oleh Densus 88 dan Kronologi Kasus Penangkapan Terduga Terorisme Siyono, meliputi pengertian tindak pidana terorisme, pembentukan Detasement 88, Kronologi Kasus serta faktor adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Pada Bab IV penulis menguraikan tentang Bentuk Pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh Densus 88 dan Pertanggung Jawaban Hukum.
Pada Bab V penulis menguraikan tentang penutup yang merupakan hasil.
Penutup ini melipti, kesimpulan dari pembahasan serta beberapa saran-saran berdasarkan hasil analisis dari penelitian ini yang diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dari pihak-pihak yang terkait.
13
Asas atau prinsip hukum bukanlah berarti bukan peraturan hukum konkrit, termasuk merupakan pikiran dasar yang umum sifatnya atau merupakan latar belakang dari peraturan yang konkrit yang terdapat dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan perundang- undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan konkrit tersebut. Prinsip persamaan perlakuan di depan hukum menghendaki adanya keadilan dalam arti setiap orang adalah sama di depan hukum (Equality Before The Law), setiap orang harus diberlakukan sama.13
Istilah Equality Before The Law ini merupakan istilah yang lazim digunakan dalam hukum tata negara. Sebab hampir setiap negara mencantumkan masalah ini dalam konstitusinya. Alasan mencantumkan equality before the law dalam suatu konstitusi adalah karena hal ini merupakan norma hukum yang melindungi hak-hak asasi warga negara. Bahwa semua warga negara sama di hadapan hukum dan pemerintahan. Equality before the law, berarti persamaan di hadapan hukum. Jika dalam konstitusi hal ini dicantumkan, maka konsekuensi logisnya penguasa dan penegak hukum haruslah melaksanakan dan merealisasikan asas ini dalam kehidupan bernegara, sebab jika asas ini tidak dilaksanakan berarti terjadi penyelewengan dari konstitusi meskipun tampaknya bukan merupakan pelanggaran yang terang-terangan, namun sangat dirasakan oleh rakyat betapa ketimpangan hukum merupakan siksa batin yang berkepanjangan.14
13 Sudikno Mertokusumo, Mengenal hukum, suatu pengantar, Edisi Ketiga, (Yogyakarta:
Liberty, 2002) Cet. Ketiga, h.34 & 37
14 Ramly Hutabarat, Persamaan Di Hadapan Hukum (Equality Before The Law) Di Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985) Cet. Pertama, h.39
Bekerjanya hukum di hadapan hukum diharapkan dengan tidak membeda-bedakan orang tanpa kecuali, tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, dan status. Kesamaan kedudukan dimuka hukum tanpa diskriminasi merupakan asas perlindungan hukum terhadap tindakan melawan hukum yang diperbuat terhadap korban. Hal ini diarahkan untuk melindungi korban dari perbuatan diskriminasi aparat penegak hukum.15
Asas ini didasari atas firman Allah dan Sabda Nabi. Dalam hukum pidana Islam tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat, antara orang kaya dan orang miskin, serta antara kelompok satu dan kelompok yang lain. Adapun yang membedakan adalah ketakwaan seseorang di hadapan Tuhan.16 Dalam Firman Allah swt;
أأ َّنِإ اوُفأراأعأ تِل ألِئ آأبأ قأو ابًوأعُش ْمُكأنلأعأجأو ىأثْ نُأأو ٍرأكأذ ْنِ م ْمٌكأنْقألأخ َّنَِّإ ُساَّنلا اأهُّ ي أأيَ
أَْنِِ مُكأمأرْك َِّللَّا
ٌْيِبأخ ُمْيِلأِ أَّللَّا َّنِإ ْمُكأقْ تأأ تارجلحا( .
\ 94 : 31 )
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(Qs. Al-Hujurat/49: 13)
Sudah banyak terjadi kasus-kasus hukum yang mengesampingkan asas ini, seperti yang terjadi pada nenek Asyani yang dihukum penjara atas tuduhan melakukan illegal loging, meskipun kayu jati yang dibawanya tidak seberapa apabila dibandingkan dengan kasus-kasus besar yang terjadi pada kalangan atas. Fenomena ini jauh berbeda dengan asas kesamaan di hadapan hukum.
Dalam sebuah hadits dikemukakan tentang seorang wanita pencuri dari suku Makhzumaiyah.17
15 C. Maya Indah S, perlindungan korban suatu perspektif viktimologi dan kriminologi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2016) h.147
16 M. Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Amzah, 2016) h.22
17 M. Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, h.23
أةأوْرُغ ْنأِ
ُلاأقأ ف ْتأقأرأس ِتِألأا ِةَّيِمْوُزْخأمْلأا ِةأأَّرأمْلا أنأأش أ ْمُهَّأهَأا اأشْيأرُ ق َّنأأ أةأشِئاأِ ْنأِ
اأهْ يِف ُمِ لأكُي ْنأم اْو:
ص ِالله ألْوُسأر َّلأسأو ِهْيألأِ َُّللَّا ىَّل
أم ُةأماأسُا َّلاِإ ِهْيألأِ ُئِأتَْأيَ ْنأم اْوُلاأقأ ف ؟ ِالله ِلْوُسأر ُُّّ ُُ
َُّللَّا ىَّل ص
َّلأسأو ِهْيألأِ
أم, ٌةأماأسُا ُهأمَّلأكأف ِالله ُلْوُسأر ألاأقأ ف ,
أسأو ِهْيألأِ َُّللَّا ىَّل ص َّل أم,
أأ أت ؟ِالله ِدْوَُُُ ْنم ٍ َأُ ِْفِ ْعأفْش
ِف أقأرأس اأذِا اْوُ ناأك ْمَُّنَّأا ْمُكألْ بأ ق أنْيِذَّلأأ أكألأه اأَّنَِّا ُساَّنلا اأهُّ يأا ألاأقأ ف أُّ أطأتْخاأف أماأق َُّثُ
ُُ ْوُكأرأ ت ُُْيِرأشْلا ُمِهْي
ِهْيألأِ اْوُماأقأا ُُْيِعأضْلا ُمِهْيِف أقأرأس اأذِاأو ْنِب ِةأمِطاأف َّنأأْوأل ِالله ُِيِأاأو ََّأْلحا
اأهأَأي ُتْعأطأقأل ْتأقأرأس ََِّمأُُ ِت
Artinya: “Dari Urwah, dari Aisyah, bahwa sesungguhnya dikalangan masyarakat suku Quraisy pernah terjadu sutu kasus yang membuat mereka kebingungan akibat ada seorang wanita suku Makhzumiyah yang terbukti mencuri. Mereka betanya-tanya, “kira-kira siapa yang bisa melakukan negosiasi kepada Rasulullah saw?” mereka berpendapat, “siapa lagi yang layak jika bukan Usamah bin Zaid, cucu tercinta Rasulullah saw?” Usamah pun menyampaikan hal tersebut kepada beliau. Rasulullah saw bersabda, “apakah kamu akan memberi keringanan salam perkara hudud?” pada saat itu Rasulullah berdiri seraya berkata “sungguh umat terdahulu itu binasa (akibat sikap diskriminatif mereka). Pada saat ada orang yang mulia dan tinngi status sosialnya mencuri, mereka membiarkan tanpa dihukum;akan tetapi ketika yang mecuri itu dari kaum lemah, mereka menghukumnya tanpa ragu. Demi Allah, seandainya Fatimah –anak perempuan Muhammad- mencuri, pasti saya akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Demikianlah hukum pidana Islam yang memiliki asas kesamaan di hadapan hukum serta tidak mengenal kasta dan sikap diskriminatif. Sebaliknya, hukum pidana Islam menerapkan prinsip mulia Equality before the law, yaitu semua orang sama, sepadan, dan sejajar di depan hukum.18
1. Konsep Asas Persamaan di Hadapan Hukum
Asas persamaan di hadapan hukum membawa sebuah konsekuensi di tegaknya hukum dalam setiap bidang hukum termasuk hukum pidana formil yaitu acara pidana. Berkaitan dengan asas ini di dalam bidang hukum acara pidana yang merupakan sub sistem peradilan Asas Persamaan Kedudukan di Hadapan Hukum menjadi pilar penegakan prosedur beracara.19
18 M. Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, h.24
19 Jimly Ashiddiqie, Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010) Edisi kedua, Cet. Pertama, h.128
Asas yang fundamental ini bersumber dan berakar dari HAM yang bersifat Universal serta mendapat pengaturan yang dikodifikasi di dalam perundang-undangan nasional maupun dokumen internasional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengaturan suatu asas, sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, mutlak diperlukan. Hal ini sejalan dengan ketentuan pasal 281 ayat (5) peruabhan (amandemen) kedua UUD 1945 yang menyatakan. “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi dijamin, diatur dan diluangkan dalam peraturan perundang-undangan”20
Dalam negara hukum, pemerintah tidak boleh mengistimewakan orang atau kelompok orang tertentu, atau mendiskriminasikan orang atau kelompok orang tertentu. Dengan adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan pemerintahan, segala sikap dan tindakan diskriminatif dalam segala bentuk dan manifestasinya diakui sebagai sikap dan tindakan yang dilarang tidak terkecuali tindakan-tindakan yang bersifat khusus dan sementara yang dinamakan ‘affirematif actions’ guna mendorong dan mempercepat kelompok masyarakat tertentu atau kelompok warga masyarakat tertentu untuk mengejar kemajuan sehingga mencapai tingkat perkembangan yang sama dan setara dengan kelompok masyarakat kebanyakan yang sudah jauh lebih maju.21
Subtansi yang mengemuka dalam International Encyclopedia of the Social Science ini bahwa manusia itu adalah sama, hanya berdasarkan karakteristiknya manusia memiliki perbedaan. Teori Equality, jika dibedah, paling tidak dapat dibagi dalam empat bagian,22 yaitu:
a. Natural Equality (Persamaan Alamiah)
20 Jimly Ashiddiqie, Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia, h.128
21 Jimly Ashiddiqie, Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia, h.128
22 Eka N.A.M. Sihombing, “Mendorong Pembentukan Peraturan Daerah tentang Bantuan Hukum di Provinsi Sumatera Utara”, RechtsVinding Media Pembinaan Hukum Nasional, II, 1, (April 2013), h.,85
Natural Equality adalah persamaan yang dibawa dari yang dimiliki oleh manusia. Manusia adalah sama karena semua manusia sebagai ciptaan Tuhan sama-sama memiliki rasio yang membedakannya dari binatang.
b. Civil Equality (Persamaan Hak Sipil)
Civil Equality adlah hak sipil yang sama bagi setiap warga negara.
Umpamanya setiap orang memiliki hak yang sama dihadapan hukum tanpa diskriminasi.
c. Political Equality (Persamaan Politik)
Political Equality adalah hak yang sama dalam politik. Artinya setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan suara dalam pemilihan umum, memilki hak yang sama memasuki partai politik dan sebagainya.
d. Economic Equality (Persamaan Ekonomi)
Economic Equality adalah persamaan kesempatan dalam meningkatkan taraf ekonomi. Hak-hak ekonomi warga negara adalah sam dan dilindungi oleh konstitusi yang berlaku.
Teori Equality Before the Law berdasarkan empat klasifikasi itu dimasukkan ke dalam teori Civil Equality yaitu hak-hak sipil. Hak seperti ini dijamin dan dilindungi oleh konstitusi sehingga di hadapan hukum semua orang wajib diperlakukan sama. Tidak dikenal adanya tebang pilih atau berat sebelah atau menempatkan orang-orang tertentu sebagai warga negara kelas satu. David L. Sill sebagai “Imartially” artinya tidak berat sebelah. Itulah sebabnya teori Equality Before the Law merupakan antitesis terhadap diskriminasi hukum.23
2. Prinsip asas persamaan di hadapan hukum
Prinsip persamaan dimuka hukum (Equality before the law) atau setiap warga masyarakat diperlakukan sama dimuka hukum, memiliki
23 Eka N.A.M. Sihombing, “Mendorong Pembentukan Peraturan Daerah tentang Bantuan Hukum di Provinsi Sumatera Utara”, h.85
makna setiap warga masyarakat, baik warga biasa maupun pejabat akan mendapat perlakuan yang sama secara substansi hukum pidana maupun secara prosedural (hukum acaranya). Perlakuan yang sama secara substansi hukum pidana adalah setiap orang mentaati dan menghormati, aturan-aturan hukum pidana, yang dilarang maupun yang diwajibkan, yang telah diatur dalam Undang-Undang sebagai perbuatan yang di larang. Aturan hukum pidana merupakan ketentuan yang berisi perintah dan larangan, yang apabila dilanggar akan dikenai sanksi. Sedangkan perbuatan pidana adalah kelakuan yang diancam pidana, yang bersifat melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.24
Prinsip kesamaan substansi hukum pidana diuraikan dengan pasal 1 ayat (1) KUHP berlaku sama untuk semua orang, baik warga masyarakat biasa maupun pejabat negara, termasuk DPR. Artinya perbuatan pidana yang dilakukan oleh anggota DPR, hanya dapat diadili menurut aturan hukum yang berlaku pada waktu perbuatan dilakukan (Lex temporis delictie).25 Penerapan prinsip kesamaan hukum acara pidana bagi setiap warga masyarakat mengacu pada ketentuan KUHAP. Artinya untuk laporan, informasi, pengaduan atau tertangkap tangan yang memenuhi unsur tindak pidana harus melandasi pada sumber hukum pada pasal 1 ayat (1) KUHP, yang memiliki makna antara lain;
a. Nullu delictum, nulla poena sine praevia lege poenali, artinya tiada delik, tiada pidana, tanpa peraturan yang mengancam pidana terlebih dahulu;
b. Undang-undang hukum pidana tidak mempunyai kekuatan berlaku surut;
c. Lex temporis delicti, artinya undang-undang berlaku terhadap delik yang terjadi pada saat itu.
24 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta, PT Yarsif Watampone, 2005) h.97
25 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta, PT Rineka Cipta, 1993) h.31
Prinsip kesamaan hukum acara pidana yang diberlakukan pada setiap warga masyarakat yang menjalani proses penyelidikan, penyidikan, pemeriksaan baik sebagai saksi, status tersangka atau ahli diperlakukan sama sesuai ketentuan yang ada dalam KUHAP.26
B. Asas Praduga Tak Bersalah
Asas praduga tak bersalah pada dasarnya merupakan manifestasi dari fungsi peradilan pidana (modern) yang melakukan pengambilalihan kekerasan atau sikap balas dendam oleh suatu institusi yang ditunjuk oleh negara. Dengan demikian, semua pelanggaran hak yang dilakukan oleh seseorang harus diselesaikan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Asas ini menyatakan bahwa,
“setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan di depan pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilam, yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap.”27
Ahmad Ali menguraikan ada dua hal penting dari pengertian asas praduga tak bersalah. Pertama, asas praduga tidak bersalah hanya berlaku dalam tindak pidana. Kedua, asas praduga tidak bersalah hakikatnya adalah pada persoalan beban pembuktian (the burden of proof) dimana bukan terdakwa yang harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah, melainkan bahwa di muka persidangan pengadilan, negara diwakili oleh jaksa penuntut umum yang harus membuktikan bahwa terdakwa benar bersalah, dengan membuktikan semua elemen tindak pidana yang didakwakan.28
Menurut Oemar Senoadji, praduga tidak bersalah umumnya menampakkan diri pada masalah burden of proof, beban pembuktian. Menjadi kewajiban penuntut umum untuk membuktikan kesalahan terdakwa, kecuali
26 I Komang Suka’arsana & Maria Silvya E. Wangga, “Pengesampingan Prinsip Persamaan di Muka Hukum” Masalah-masalah Hukum. XLV. 1. (Januari 2016). h.,13
27 Amelda Yunita, “Penerapan asas praduga tidak bersalah dalam proses peradilan perkara tindak pidana terorisme” (Jakarta: tesis Universitas Indonesia, 2011) h., 63 t.d
28 Ahmad Ali, Meluruskan Jalan Reformasi Hukum, (Jakarta: Agatama Press, 2004) h.54
pembuktian insanity yang dibebankan kepada terdakwa ataupun undang- undang membenarkan ketentuan yang tegas pembuktian terbalik. Asas pembuktian terbalik mempunyai konsekuensi dimana beban pembuktian terletak pada pihak terdakwa. Artinya, terdakwalah yang berkewajiban membuktikan dirinya tidak bersalah.
Sebagai konsekuensi dianutnya asas praduga tidak bersalah adalah seorang tersangka atau terdakwa yang dituduh melakukan suatu tindak pidana, tetap tidak boleh diperlakukan sebagai orang yang bersalah meskipun kepadanya dapat dikenakan penangkapan/penahanan menurut Undnag- Undang yang berlaku. Jadi, semua pihak termasuk penegak hukum harus tetap menjunjung tinggi hak asasi tersangka/terdakwa.29
Dalam ketentuan ketentuan perundang-undangan Indonesia, asas praduga tidak bersalah diatur dalam penjelasan umum angka 3 huruf c KUHAP, Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Dalam hukum pidana Internasional asas ini diatur dalam ketenutan Pasal 66 ayat (1) Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional (Rome state of the International Criminal Court), pasal 11 ayat (1) Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Right), pasal 40 ayat (2b) butir i Konvensi tentang Hak-hak Anak (Convertion on the Rights of the child).30
Dalam hukum pidana Islam asas praduga tidak bersalah memiliki arti bahwa seseorang yang dituduh melakukan suatu kejahatan harus dianggap tidak bersalah sebelum hakim dengan bukti-bukti yang meyakinkan dan tidak terdapat unsur keraguan sedikitpun menyatakan dengan tegas kesalahannya itu.
Asas praduga tak bersalah ini sejalan dengan kaidah ushul fiqh, yaitu al-ashl bara’ah al-dzimmah (pada dasarnya setiap orang terbebas dari pelbagai tuntutan hukum). Dengan kata lain, pada dasarnya seseorang bebas dari
29 Amelda Yunita, “Penerapan asas praduga tidak bersalah...”, h.,65
30 Bachtiar Baital, “asas praduga tidak bersalah dalam dimensi pembuktian”, salam: Jurnal sosial dan budaya syar’i, II, 2, (Februari 2015) h.8
berbagai tuntutan. Dikalangan ulama ahli ushul fiqh, kaidah ini cukup populer bahwa seseorang pada dasarnya terbebas dari segala tuntutan kewajiban syara’, kecuaki ia dinyatakan sebagai pihak yang memiliki ahliyyah al-wujub atau kecakapan untuk dibebani kewajiban karena telah masuk ke dalam kategori mukalaf (orang yang telah baligh dan berakal sehat yang layak dibebani kewajiban hukum).31
Meskipun demikian, dalam hukum pidana Islam asas praduga tak bersalah ini lebih tepatnya berupa asas yang menyatakan bahwa seseorang harus tetap dianggap tidak bersalah sebelum diputuskan oleh majelis hakim dalam sidang pengadilan bahwa yang bersangkutan telah nyata bersalah tanpa ada unsurkeraguan. Dalam hal ini, tampaknya asas praduga tak bersalah ini lebih dekat dengan satu aturan dalam Islam bahwa seseorang tidak dibenarkan meneliti kesalahan orang lain kecuali ia ditugaskan untuk melakukannya seperti polisi, jaksa, atau hakim yang bertugas menegakkan keadilan. Di luar dari ketiganya, apalagi jika hanya secara personal, seorang muslim tidak dibenarkan mencari-cari kesalahan pihak lain. Sebagaimana Al-qur’an surat al Hujurat, Allah SWT berfirman;
أ ي ألاأو اوُسَّسأأتَ ألاأو ۖ ٌْثُِإ ِ نَّظلا أضْعأ ب َّنِإ ِ نَّظلا أنِم اايِثأك اوُبِنأتْجا اوُنأمآ أنيِذَّلا اأهُّ يأأ أيَ
ْمُكُضْعأ ب ُّْ أتْغْ
أَّللَّا َّنِإ ۚ أَّللَّا اوُقَّ تاأو ۚ ُُ وُمُتْهِرأكأف ااتْ يأم ِهيِخأأ أمْألح ألُكْأيَ ْنأأ ْمُكَُأُأأ ُُّّ ُِيُأأ ۚ ااضْعأ ب أ ت
.ٌميُِأر ٌٌاَّو
تارجلحا(
\ 94 : 31 )
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepdanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hujurat/49: 12)
31 M. Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, h.17
Selain tidak diperbolehkan berburuk sangka kepada pihak lain – menurut sebuah hadits- siapa pun yang menutup aib orang lain, kelak pada hari kiamat ia akan ditutup aibnya oleh Allah.
أةأرْ يأرُه ِبِأأ ْنأِأو –
هنِ الله يضر َِّللَّأا ُلوُسأر ألاأق :ألاأق –
– يلِ الله ىلص ملسو ه
ْنأِ أسَّفأ ن ْنأم –
أرَّسأي ْنأمأو ِةأماأيِقْلأا ِمْوأ ي ٌِأرُك ْنِم اةأبْرُك ُهْنأِ َُّللَّأا أسَّفأ ن ,اأيْ نَُّلأا ٌِأرُك ْنِم اةأبْرُك ٍنِمْؤُم أرَّسأي ,ٍرِسْعُم ىألأِ
ْسُم أأتَأس ْنأمأو ,ِةأرِخ ْلْاأو اأيْ نَُّلأا ِفِ ِهْيألأِ َُّللَّأا لأا ِفِ َُّللَّأا ُُ أأتَأس ,اامِل
اأم َِْبأعْلأا ِنْوأِ ِفِ َُّللَّأاأو ,ِةأرِخ ْلْاأو اأيْ نَُّ
ِهيِخأأ ِنْوأِ ِفِ َُْبأعْلأا أناأك ٌمِلْسُم ُهأجأرْخأأ –
. )ملسم ُ اور(
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, ‘Barangsiapa membebaskan penderitaan seorang mukmin dari sekian banyak penderitaan dunia, Allah pasti akan membebaskan penderitaannya dari sekian banyak penderitaan pada hari kiamat. Barangsiapa yang membantu seseorang yang sedang kesulitan, Allah akan membantu kesulitannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia sanggup menolong saudaranya’”
(HR. Muslim)32
1. Konsep Asas Praduga Tidak Bersalah
Asas praduga tidak bersalah merupakan suatu cita-cita atau harapan agar setiap orang yang di sangka, di tangkap, di tahan, di tuntut, atau dihadapkan di depan pengadilan di anggap tidak bersalah, sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, namun dalam kenyataannya, asas hukum itu tidak selelu dapat di terapkan. Pada umumnya asas hukum itubersifat abstrak, oleh karena itu tidak selalu di tuangkan dalam peraturan hukum konkret, contoh asas in dubio pro reo yang berarti dalam hal keragu-raguan, hakim harus memutuskan sedemikian rupa sebuah pilihan yang paling menguntungkan terdakwa, atau asas unus testits nullus tertis yaitu asas yang menentukan bahwa satu saksi bukanlahsaksi.33
32 Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, h.,18
33 Muhammad Schinggyt Tryan, dkk, “Tinjauan Yuridis terhadap pelaksanaan asas praduga tak bersalah dalam proses peradilan pidana”, Diponerogo Law Journal, V, 4, (Appril 2016), h.,4
Sifat abstrak dari asas hukum tersebut, membuat asas hukum tidak dapat di terapkan terhadap peristiwa konkret. Asas hukum merupakan peraturan dasar yang terdapat di balik peraturan konkrit. Dengan demikiann asas praduga tidak bersalah secara kontekstual terdapat dalam Kitab Undang-Undang Acara Pidana maupun Perdata.34
Asas Praduga Tidak Bersalah sebagai asas hukum umum acara, berlaku di setiap proses berperkara di pengadilan, yaitu dengan adanya kata
“di hadapkan di depan pengadilan”, asas praduga tidak bersalah ini dapat diterapkan dalam semua bentuk peradilan yang ada. Namun karena asas praduga tidak bersalah dituangkan kembali dalam Penjelasan Umum Butir 3c Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sebagai hukum beracara pidana di pengadilan, maka asas praduga tidak bersalah lebih di kenal dalam perkara pidana.35
2. Penerapan Asas Praduga Tidak Bersalah dalam Hukum Pidana Dalam rangka mewujudkan proses hukum yang adil, maka penegakan hukum seyogyanya tidak dipandang secara sempit, namun secara holistik. Dengan demkian, penegak hukum tidak hanya selalu dipahami sebagai penegakan norma-norma hukum yang berkaitan dengan pelanggaran seorang tersangka/terdakwa, melainkan juga penegakan hukum terhadap norma-norma yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak tersangka/terdakwa oleh aparat penegak hukum selama proses pemeriksaan berlangsung.36
Menurut Mardjono Resdiputro asas praduga tidak bersalah ini adalah asas utama proses hukum yang adil (Due process of law), yang mencakup sekurang-kurangnya; a) perlindungan terhadap tindakan
34 Muhammad Schinggyt Tryan, dkk, “Tinjauan Yuridis terhadap pelaksanaan asas praduga tak bersalah dalam proses peradilan pidana”, h.5
35 Muhammad Schinggyt Tryan, dkk, “Tinjauan Yuridis terhadap pelaksanaan asas praduga tak bersalah dalam proses peradilan pidana”, h.5
36 Oemar Seno Adji, Hukum acara pidana dalam perspektif, (Jakarta: Airlangga, 1981), h.251
sewenang-wenang dari pejabat negara; b) bahwa pengadilanlah yang berhak menentukan salah tidaknya terdakwa; c) bahwa tersangka/terdakwa harus diberi jaminan-jaminan untuk dapat membela diri sepenuhnya.37
Problematik penerapan asas praduga tidak bersalah dalam perkara pidana berkaitan dengan kedudukan yang tidak seimbang anatara tersangka/terdawa dengan aparat penegak hukum yang berkepentingan sehingga dikhawatirkan terjadi tindak kesewenang-wenang dari aparat penegak hukum. Hukum pidana sebagai hukum publik, mengatur kepentingan umum sehingga berhubungan dengan negara dalam melindungi kepentingan umum. Kedudukan tidak seimbang dalam perkara pidana memungkinkan terjadinya perlakuan sewenang-wenang dari aparat hukum terhadap tersangka/terdakwa yang dianggap telah melanggar kepentingan umum dalam proses pemidanaan sebagai orang yang bertanggung jawab atas ketidak seimbangan dalam tatanan dalam masyarakat akibat adanya pelanggaran hukum.38
Asas praduga tak bersalah dalam sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya menetapkan keseluruhan dari proses pelaksanaan hukum acara pidana untuk dilaksanakan secara berimbang. Sejalan dengan pendapat Kaligis bahwa walaupun tujuan penegakan hukum adalah untuk mempertahankan dan melindungi kepentingan masyarakat, penegakan hukum tidak boleh mengorbankan hak dan martabat tersangka/terdakwa.
Sebaliknya, perlindungan harkat dan martabat tersangka/ terdakwa tidak boleh mengorbankan kepentingan masyarakat. Aparat penegak hukum harus mampu meletakkan asas keseimbangan yang telah digariskan KUHAP sehingga tidak mengorbankan kedua kepentingan yang dilindungi hukum.39
37 Mardjono Resdiputro, Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta;
Lembaga Kriminologi U.I 1994), h.36
38 E. Nurhaini Batarbutar, “asas praduga tidak bersalah”, Dinamika Hukum”, XI, 3, (September, 2011), h.472
39 Bachtiar Baital, Asas Praduga tidak bersalah dalam dimensi pembuktian., h.9
Pengaturan asas praduga tidak bersalah dalam KUHAP, merupakan salah satu upaya untuk melindungi hak-hak tersangka dari tindakan sewenang-wenang dari aparat hukum. Namun menurut Rohmini, pengaturan asa praduga tidak bersalah dalam penjelasan umum butir 3c KUHAP, dapat menjadi kendala dalam pelaksanaannya, karena ketentuan tersebut tidak di atur dalam batang tubuh tetapi hanya dalam penjelasan.
Kendala dalam penerapan asas praduga tidak bersalah dalam perkara pidana bukan karena pengaturannya tidak secara tegas dalam batang tubuh KUHAP, tetapi lebih kepada kesadaran hukum dari aparat hukumnya, yang kurang memperhatikan hak-hak tersangka yang juga mempunyai kepentingan untuk belaan hukum. Sebagaimana dikemukakan oleh Soekanto, bahwa penegakan hukum yang baik tidak hanya didasari faktor hukum (Undang-Undang) yang baik dan lengkap melainkan juga dipengaruhi oleh aprat penegak hukum, fasilitas, dan budaya hukum masyarakat.40
Penerapan asas presumption of innocence dalam perkara pidana merupakan akibat proses pemidanaan oleh para penegak hukum, seperti penyidik dan penuntut umum berhadapan dengan tersangka/terdakwa sering dihadapkan dengan hak asasi manusia, sehingga asas ini kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Meskipun sebenarnya hak asasi yang merupakan hak kodrati yang melekat pada manusia tidak membutuhkan legitimasi yuridis untuk memberlakukannya, namun sifat negara yang sekuler dan positivistik mengakibatkan memerlukan landasan yuridis dalam mengatur kehidupan bersama-sama dengan manusisa yang lain.41
40 Mien Rukmini, Pelindungan HAM melalui asas praduga tidak bersalah dan asas persamaan kedudukan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia,(Bandung: Alumni, 2003). h.,67
41 St. Harum Pudjiarto, “Hubungan antara Pengadilan Pidana Internasional (ICC) dengan Pengadilan HAM Nasional terhadap pelamggaran HAM yang berat di Indonesia”, Justitia et pax, XXIV, 1, (Juni 2004), h.,43
Salah satu tindak pidana yang sangat membutuhkan penerapan asas praduga tidak bersalah dalam proses peradilannya adalah tindak pidana terorisme. Tersangka/terdakwa tindak pidana terorisme merupakan pihak yang sangat rentan mengalami tindakan-tindakan yang melanggar asas praduga tidak bersalah dalam proses peradilannya. Apalagi tindak pidana terorisme merupakan extra ordinary crime yang membutuhkan penanganan khusus dibandingkan dengan tindak pidana lain, sehingga dikhawatirkan terjadinya tindakan-tindakan yang melampaui batas kewenangan penegak hukum.42
C. Pengertian Hak Asasi Manusia
Pengertian HAM sebenarnya mencakup spektrum yang cukup luas yang bergulat secara dinamis dari HAM individual ke HAM komunal, bahkan terakhir muncul HAM kolektif. Pertentangan dalam penerapan HAM biasanya disebabkan oleh perbedaan pandangan tentang HAM yang diinginkan.
Kalangan diluar terjemahan dari istilah pemerintahan menuntut pada penekanan HAM individual, sedangkan pihak pemerntah, atas nama pembangunan dan kesatuan, memilih penegakan HAM yang komunal yang cenderung otoritarian.
Mengenai ruang lingkup atau batasannya, beberapa teoritis HAM menyatakan bahwa HAM seharusnya dibatasi hanya pada hak-hak politik (political rights), dan sipil (civil rights) saja. Sementara yang lain berpendapat bahwa HAM juga harus mencakup hak ekonomi.43
Hak asasi manusia sebagai hak kodrati yang melekat bagi setiap orang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat harus dihormati dan dihargai sesuai dengan martabat manusia, dan menolak apabila diperlakukan
42 Amelda Yunita, “penerapan asas praduga tidak bersalah dalam proses peradilan perkara tindak pidana terorisme”, h.,69
43 Soeharto, Perlindungan hak tersangka, terdakwa dan korban tindak pidana terorisme., h.47
dengan sewenang-wenang.44 Definisi klasik dan menggejala dalam pemaknaan Hak Asasi Manusia yang sering dipakai dan dikutip adalah;
“A human right by definition is a universal moral right, something which all men, everywhere, at all times ought to have, something of which no one may deprived without a agrave affront to justice, something which is owing to every human being simply because he (she) is human. (Craston, 1973: 36).
Hak Asasi Manusia adalah hak manusia yang paling mendasar dan melekat padanya dimanapun ia berada. Tanpa adanya hak ini berarti berkuranglah harkatnya sebagai manusia yang wajar. Hak asasi manusia adalah suatu tuntutan yang secara yang secara moral dapat dipertanggung jawabkan, suatu hal sudah sewajarnya mendapat perlindungan hukum.45 Konsep awal secara umum hak asasi manusia diketengahkan oleh Jan Martenson dari komisis hak asasi manusia PBB yang mengatakan bahwa:
“Human rights cold be generally difined as those rights which are inherent I our nature and without which we cannot live as human being” (hak asasi manusia ialah hak-hak yang melekat pada sifat manusia, yang tenpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia).
Hak-hak yang dimiliki oleh setiap manusia itu menjamin setiap orang untuk menentukan isi jiwanya sendiri, untuk melahirkan isi jiwanya itu melalui suara atau aktivitas lain dan mengembangkan aktivitas itu secara perorangan maupun berorganisasi dengan orang lain menurut kehendaknya, tanpa gangguan atau paksaan dari orang lain. Hardjowirogo (1981: 7) menyatakan:
“hak-hak manusia ialah hak-hak yang memungkinkan kita tanpa diganggu gugat menjalani kehidupan bermasyarakat dan bernegara sebagai warga negara dari suatu kehidupan”.
John Locke menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati.
Oleh karenanya, tidak ada kekuasaan apapun disunia yang dapat mencabutnya.
44 Muntaha, Penerapan Asas Oportunitas Dalam Hukum Pidana di Indonesia, (Yogyakarta: Genta Publishing, 2014) h.123
45 Dalizar Putra, Hak Asasi Manusia menurut Al-Qur’an, (Jakarta: PT Al Husna Zikra, 1995) h.31
Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hak kodrati yang tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.46
Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 1 disebutkan bahwa:
“Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan kebenaran manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat martabat manusia”.
Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM tersebut, diperoleh suatu kesimpulan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyrakat atau negara.
Dengan demikian hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi kesimbangan yaitu keseimbnagan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan umum.47
1. Hak Asasi Manusia dalam Al-qur’an
Dalam Islam HAM tidak secara khusus memiliki piagam, akan tetapi al-qur’an dan Sunnah memusatkan perhatian pada hak-hak yang diabaikan pada bangsa lain. Nash-nash ini sangat banyak antara lain:
a. Dalam Alqur’an terdapat sekitar 40 ayat yang membicarakan mengenai paksaan dan kebencian. Lebih dari 10 ayat bicara larangan memaksa, untuk menjamin kebebasan berpikir, berkeyakinan dan mengutarakan aspirasi.
46 Masyhur Effendi, Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994) h.3
47 Masyhur effendi, Dimensi dan dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional,. h.201
b. Alqur’an telah mengetengahkan sikap menentang kezhaliman dan orang-orang yang berbuat zhalim dalam Al-Qur’an sekitar 320 ayat dan memerintahkan berbuat adil 54 ayat yang diungkapkan dengan kata- kata ‘adl dan qisht.
c. Alqur’an menganjurkan sekitar 80 ayat tentang hidup, pemeliharaan hidup dan penyediaan sarana hidup.
d. Alqur’an menjelaskan sekitar 150 ayat tentang ciptaan dan makhluk serta persamaan penciptaan.48
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa manusia dalam perspektif Islam, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, mempunyai hak asasi pokok, semata-mata di istimewakan memang karena dirinya sebagai hamba Allah SWT diantara hak-hak asasi tersebut adalah:
a. Hak hidup, kemerdekaan dan keamanan pribadi
Salah satu aspek kemanisaan yang sangat mendasar ialah hak hidup dan hak untuk melangsungkan kehidupannya itu. Setiap orang berhak untuk mempertahankan/membela diri terhadap setiap ancaman atau serangan yang tertuju pada keselamatan jiwanya. Karena hak hidup merupakan hak asasi manusia, maka perampasan nyawa oleh orang lain (berupa pembunuhan) atau oleh negara (berupa penjatuhan pidana mati) pada hakikatnya merupakan pelanggaran HAM apabila dilakukan sewenang-wenang atau tanpa dasar pembenaran yangsah menurut hukum yang berlaku.49
Hak hidup adalah salah satu dari hak-hak alami Institusional yang tidak memerlukan persetujuan sosial atau semacamnya. Dia adalah karunia yang dikarunikan oleh Allah Yang Maha Tinggi kepada setiap manusia. Seseorang tidak kuasa menghidupkan seseorang dan
48 Jahada, “Hak Asasi Manusia menurut al-Qur’an”, al-‘Adl, VI, 1, (Januari 2013), h.43
49 Barda Nawai Arief, Kebijakan Hukum Pidana perkembangan, penyusunan konsep baru KUHP, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2011) h.68
melenyapkan hidupnya tanpa kehendak Allah SWT. sebagaimana Allah berfirman dalam Alqur’an yang berbunyi:
( .أنْوُ ثِراأوْلا ُنْأنُأو ُتْيُِنَّأو ِيُْنُ ُنْحأنأل َّنَِّإأو رجلحا
\ 31 : 11 )
Artinya: “Dan sesungguhnya benar-benar kami yang menghidupkan dan mematikan, kami (pulalah) yang mewarisi” (QS. Al-Hijr/15 : 23)
Kekuasaan menghidupkan dan mematikan hanyalah ada pada Alah SWT (QS. Qaaf: 43). Oleh sebab itu setiap manusia mempunyai hak sama untuk hidup dan meneruskan kehidupannya serta mempertahankan kehisupannya itu dengan bebas dan wajar. Jiwa manusia adalah suci dan tidak boleh disakiti dan segala usaha harus dilakukan untuk melindunginya, terutama tidak seorangpun diperbolehkan menyakiti seseorang kecuali berdasarkan hukum, seperti hukum qishash pada tindak pidana pembunuhan.50
Menurut Syeikh Syaukat Husain, Islam memerintahkan umatnya untuk menghormati hak hidup ini, walaupun terhadap bayi yang masih di dalam rahim ibunya. Lebih dari itu, Islam tidak hanya memperhatikan kemuliaan dan martabat manusia ketika ia masih hidup, martabatnya tetap dimuliakan, sampai dengan wafatnya, dengan diurus jenazahnya, dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan dimakamkan dengan baik dan penuh ketulusan.51
Hidup tidak ada artinya tanpa kemerdekaan dan keamanan pribadi. Hidup tanpa kemerdekaan dan keamanan sama artinya dengan pembunuhan secara perlahan-lahan, disebabkan tidak dapatnya mengembangkan kehidupannya. Kemerdekaan adalah tiap-tiap manusia merdeka berbuat menurut apa yang dikehendakinya, asal tidak melanggar kemerdekaan orang lain. Setiap orang atau setiap individu
50 Dalizar Putra, Hak Asasi Manusia menurut Al-Qur’an,. h.44
51 Syeikh Syaukat Husain, Human Right in Islam, Terjemahan: Abdul Rochim C.N.
(Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 60.