• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Harga

Dalam dokumen TESIS. Oleh MUHAMMAD GHOFAR TRIYONO IM (Halaman 55-163)

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Uraian Teoretis

2.1.6 Definisi Harga

2.1.6.4 Indikator Harga

Kotler (2016) mendefinisikan harga sebagai sesuatu yang dapat diukur yang terdiri dari beberapa indikator, seperti harga terjangkau, harga wajar, harga diskon, harga pesaing, dan kesesuaian harga.

1. Keterjangkauan harga yaitu apabila harga suatu produk yang ditetapkan oleh perusahaan masih dapat dibeli atau dijangkau oleh konsumen. Sehingga aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan kemampuan beli konsumen.

2. Harga wajar Adalah harga produk yang ditawarkan dapat dikategorikan wajar (realistis).

3. Harga diskon adalah pengurangan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari pembeli yang menyenangkan bagi penjual. Biasanya harga diskon bersifat musiman.

4. Daya saing harga adalah ketika harga yang ditetapkan oleh perusahaan dapat bersaing, sehingga produk yang ditawarkan oleh produsen/penjual yang berbeda maka produk mampu bersaing dengan jenis produk yang sejenis.

5. Kesesuaian harga dengan spesifikasi adalah ketika harga yang ditawarkan kepada konsumen sesuai dengan spesifikasi yang diperoleh konsumen.

2.1.7 Defenisi Minat Beli

Minat beli (purchase intention) merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen membentuk pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu pembelian pada suatu altenatif yang paling disukainya atau proses yang dilalui konsumen ntuk membeli suatu barang atau jasa yang didasari oleh bermacam pertimbangan Sukmawati, (2012).

Julianti, (2014) mengemukakan bahwa minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu.

Seorang konsumen tidak dengan sendirinya memiliki keputusan dalam pembelian barang atau jasa. Terlebih dahulu konsumen mencara informasi dari orang terdekat atau orang yang benarbenar dipercaya untuk membantunya dalam pengambilan keputusan Putra, (2017).

2.1.7.1 Indikator Minat Beli

Menurut Kanuk (2013) minat beli dianggap sebagai pengukuran kemungkinan konsumen membeli produk tertentu, dimana tingginya minat beli

akan berdampak pada kemungkinan yang cukup besar dalam terjadinya keputusan pembelian. Indikator-indikator dari minat beli dijelaskan oleh komponen. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk. Konsumen yang terangsangkebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Kotler (2016) membaginya dalam dua level rangsangan. Pertama, pencarian informasi yang lebih ringan (penguatan perhatian). Kedua, level aktif mencari informasi: mencari bahan bacaan, bertanya pada teman, atau mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.

2. Mempertimbangkan untuk membeli. Melalui pengumpulan informasi, konsumen mempelajari merek-merek yang bersaing serta fitur merek tersebut. Melakukan evaluasi terhadap pilihan-pilihan dan mulai mempertimbangkan untuk membeli produk.

3. Tertarik untuk mencoba. Setelah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan, mempelajari merek-Merek yang bersaing serta fitur merek tersebut, konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan melakukan evaluasi terhadap produk-Produk tersebut. Evaluasi ini dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif. Maksudnya adalah konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.

4. Ingin mengetahui produk. Setelah memiliki ketertarikan untuk mencoba suatu produk, konsumen akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk.

Konsumen akan memandang produk sebagai sekumpulan atribut dengan

kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.

5. Ingin memiliki produk. Para konsumen akan memberikan perhatian besar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dan akhirnya konsumen akan mengambil sikap (keputusan, preferensi) terhadap produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk membeli atau memiliki produkyang disuka.

Menurut Thomas (2010) minat beli yaitu tahapan kecenderungan responden untuk bertindak sebelum kepuasan membeli benar-benar dilakukan.

Nugroho (2013) menjelaskan definisi minat beli adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Hasil proses pengintegrasian ini ialah suatu pilihan (choice), yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku.

Perilaku seseorang sangat tergantung pada minatnya, sedangkan minat berperilaku sangat tergantung pada sikap dan norma subyektif atas perilaku.

Keyakinan atas akibat perilaku sangat mmepengaruhi sikap dan norma subyektifnya. Sikap individu terbentuk dari kombinasi antara keyakinan dan evaluasi tentang keyakinan penting seseorang konsumen, sedangkan norma subyektif ditentukan oleh keyakinan dan motivasi. Konsumen dimanapun dan kapanpun akan dihadapkan dengan sebuah keputusan pembelian untuk melakukan transaksi pembelian. Dimana konsumen akan membandingkan atau

mempertimbangkan satu barang dengan barang yang lainnya untuk mereka konsumsi.

Akan tetapi menurut Sumarni (2011) sikap seseorang dalam jiwa konsumen membedakan minat beli menjadi dua, yaitu:

1. Minat subyektif adalah perasaan senang atau tidak senang pada suatu obyek yang berdasa pada pelanggan.

2. Minat obyektif adalah suatu reaksi menerima atau menolak suatu obyek disekitarnya.

Menurut Handayani (2011) membagi minat beli menjadi dua, yaitu : 1. Minat instrinsik, yaitu minat yang berhubungan dengan aktivitas itu sendiri

dan merupakan minat yang tampak nyata.

2. Minat ekstrinsik, yaitu minat yang disertai dengan perasaan senang yang berhubungan dengan tujuan aktivitas.

Antara kedua minat tersebut seringkali sulit dipisahkan, pada minat instrinsik kesenangan itu akan terus berlansung dan dianjurkan meskipun tujuan sudah tercapai, sedangkan minat ekstrinsik kemungkinan bila tujuan sudah tercapai, maka minat akan hilang.

Menurut Syamsudin dalam Wibisaputra (2011) minat terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Minat spontan, yaitu minat yang secara spontan timbul dengan sendirinya.

2. Minat dengan sengaja, yaitu minat yang timbul karena sengaja dibangkitkan melalui ransangan yang sengaja dipergunakan untuk membangkitkannya.

Menurut Ferdinand (2014) minat beli dapat diidentifikasi melalui beberapa indikator, yaitu:

1. Tertarik untuk mencoba.

2. Mempertimbangkan untuk Membeli.

3. Tertarik untuk mencoba.

4. Ingin memiliki produk.

5. Ingin mengetahui produk.

Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa minat beli merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam membeli atau memilih suatu produk.

Berdasarkan teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa minat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu minat subyektif, minat obyektif, minat instrinsik, minat ekstrinsik, minat spontan dan minat sengaja. Minat konsumen tumbuh karena suatu motif berdasarkan atribut-atribut sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya dalam menggunakan suatu pelayanan jasa, berdasarkan hal tersebut maka analisa mengenai bagaimana proses minat dari dalam diri konsumen sangat penting dilakukan.

2.1.7.2 Dimensi Minat Beli

Menurut Ferdinand (2014) minat beli dapat didentifikasi melalui dimensi-dimensi sebagai berikut:

1. Minat transaksional, yaitu kecendrungan seseorang untuk merefensikan produk kepada orang lain.

2. Minat refrensial, yaitu kecendrungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain.

3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan prilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.

4. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan prilaku seseorang yang mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Zaman (2014) dengan judul Impact of Brand Image and Service Quality on Consumer Purchase Intention: A Study of Retail Store in Pakistan menyatakan bahwa hubungan signifikan antara harga dan niat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Situmeang (2013) dengan judul Pengaruh Daya Tarik Iklan Televisi toko bagus Terhadap Minat Beli menyatakan bahwa adanya pengaruh daya tarik iklan terhadap minat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Kristiurman (2016) dengan judul Pengaruh Harga, Citra Merek dan Kualitas Produk terhadap Minat Beli Doma in .id menyatakan bahwa harga, citra merek dan kualitas produk secara bersamasama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli. Harga merupakan variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap minat beli domain .id

Tahir (2010) melakukan penelitian yang berjudul “Website Quality And Consumer Online Purchase Intention Of Air Ticket”. Penelitian ini

mengindentifikasi faktor-faktor kualitas yang terdiri dari usability, website design, information quality, trust, perceived risk, dan empathy. Sampel yang diambil sebanyak 208 orang yang diambil di daerah Klang Valley, Malaysia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kualitas memang berpengaruh terhadap minat beli tiket secara online. Penelitian ini memiliki kesamaan dalam menganalisis pengaruh kualitas terhadap minat beli.

Bachriansyah (2011) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Daya Tarik Iklan, dan Persepsi Harga Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Produk Ponsel Nokia (Studi Kasus Pada Masyarakat di Kota Semarang)“. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, daya tarik iklan, dan persepsi harga berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Penelitian ini memiliki kesamaan dalam menganalisis pengaruh kualitas Produk, daya tarik iklan dan harga terhadap minat beli.

Penelitian yang dilakukan oleh Natalia (2010) yang berjudul “Analisis Faktor Persepsi Yang Mempengaruhi Minat Konsumen Untuk Berbelanja Pada Giant Hypermarket Bekasi”. Secara parsial variabel lokasi, kelengkapan produk, kualitas produk, harga dan promosi berpengaruh terhadap minat konsumen untuk berbelanja, sedangkan variabel pelayanan dan kenyamanan tidak berpengaruh terhadap minat konsumen untuk berbelanja. Penelitian ini memiliki kesamaan dalam menganalisis pengaruh kualitas produk dan harga terhadap minat beli.

Penelitian yang dilakukan oleh Sundalagi (2014) dengan judul Kualitas Produk, Daya Tarik Iklan, dan Potongan Harga Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Pizza Hut Manado menyatakan bahwa Kualitas produk, daya tarik iklan dan potongan harga secara bersama-sama berpengaruh terhadap Minat beli konsumen untuk mengkonsumsi Pizza Hut.

Penelitian yang dilakukan oleh Sudarno (2014) dengan judul Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Iklan Terhadap Keputusan Pembelian pada Dealer mpm Motor Madiun, menyatakan bahwa kualitas produk , harga dan daya tarik iklan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

Penelitian yang dilakukan oleh Prawira (2014) dengan judul Pengaruh Kualitas Produk, Citra Merek dan Persepsi Harga Terhadap Mina Beli Produk Smartphone Samsung di Kota Bekasi, menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruhspositifsdannsignifikansterhadap variable minat beli yang berarti semakin baik kualitas produk yang diberikan maka dapat meningkatkan minat beli produk smartphone Samsung.

Penelitian yang dilakukan oleh Amanah (2010) dengan judul Pengaruh Harga dan Kualitas Produk terhadap Kepuasan Konsumen Pada Majestuk Bakery

& Cake Shop Medan, menyatakan bahwa Harga dan kualitas produk berpengaruh terhadap kepuasan konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Dewa (2009) dengan judul Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Daya Tarik Promosi dan Harga Terhadap Minat Beli, menyatakan bahwa bahwa variabel kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.

Penelitian yang dilakukan oleh Sepang (2014) dengan judul Pengaruh Motivasi, Persepsi Harga, dan Kualitas produk Terhadap Minat Beli menyatakan bahwa motivasi, persepsi harga, dan kualitas produk secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap minat beli konsumen di Kota Manado.

Penelitian yang dilakukan oleh Weenas (2013) dengan judul Kualitas produk, Harga, Promosi dan Kualitas Pelayanan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Spring Bed Comforta. Menyatakan bahwa Kualitas produk, harga, promosi dan kualitas pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembelian.

Penelitian yang dilakukan oleh Adinda (2012) dengan judul Pengaruh Kualitas Produk dan Daya Tarik Iklan terhadap Minat Beli Vaseline Healthy White Insta Fair, menyatakan bahwa Ada pengaruh positif kualitas produk terhadap minat beli. Semakin positif kualitas produk maka akan berdampak semakin positif terhadap minat beli Vaseline Healthy White Insta Fair. Ada pengaruh positif daya tarik iklan terhadap minat beli. Semakin baik daya tarik iklan maka akan berdampak semakin positif terhadap minat beli Vaseline Healthy White Insta Fair. Ada pengaruh kualitas produk dan daya tarik iklan secara bersama-sama terhadap minat beli Vaseline Healthy White Insta Fair.

Penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2015) dengan judul Pengaruh Kualitas Produk dan Harga Terhadap Kepuasan Konsumen Produk M2 Fashion Online di Singaraja, menyatakan bahwa Kualitas produk dan harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen produk M2 Fashion Online di Singaraja

Penelitian yang dilakukan oleh Dama (2016) dengan judul “Analisis Faktor–faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen Dalam Memilih Laptop Acer di Toko Lestari Komputer Manado”, menyatakan bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Yuniati (2013) dengan judul “Faktor–

faktor yang Mempengaruhi Minat Konsumen Terhadap Minat Konsumen Terhadap Produk Rabbani” menyatakan bahwa daya tarik iklan berpengaruh positif signifikan terhadap Minat Konsumen, dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelanggan Rabbani yang berminat terhadap produk Rabbani salah satu yang mempengaruhi adalah daya tarik iklan dari Rabbani.

Penelitian yang dilakukan oleh Rizki (2009) dengan judul “Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Harga dan, Promosi terhadap Loyalitas Pelanggan dengan Minat Beli Ulang Sebagai Variabel Intervening”, Terdapat pengaruh antara produk terhadap minat beli konsumen. Terdapat pengaruh antara promosi terhadap minat beli konsumen. Terdapat pengaruh antara harga terhadap minat beli konsumen.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tahir (2010) dengan judul “Website Quality and Consumer Online Purchase Intention Of Air Ticket“, bertujuan untuk menguji pengaruh dari kualitas terhadap minat konsumen untuk membeli tiket secara online. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa kualitas berpengaruh terhadap minat konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Hetty Sri Wardani (2015), “Pengaruh kualitas produk dan harga terhadap minat beli konsumen muslim pada jaizah

boutique Tlogosari Semarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas produk berpengaruh secara signfikan, sedangkan harga tidak berpengaruh positif secara signifikan terhadap minat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Parmin (2013). “Analisis Pengaruh Daya Tarik Iklan Kualitas Produk dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Konsumen Teh Celup Sariwangi di kecamatan Adimulyo” Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas produk berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap minat beli konsumen. Daya tarik iklan dan citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Ike Wulandari (2016). “Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kelengkapan Produk dan Kualitas Produk terhadap Minat Beli Konsumen Supermarket Top Bangunan Kediri” Kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen, kelengkapan produk berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen, kualitas produk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

Penelitian yang dilakukan oleh Ruhilavi (2017). Dengan judul “pengaruh citra merek, kualitas produk, dan harga terhadap minat beli produk Tupperware (studi pada konsumen Tupperware D.I. Yogyakarta) menyatakan bahwa citra merek, kualitas produk berpengaruh positif signifikan terhadap minat beli, sedangkan variabel harga berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Hal ini menunjukan bahwa konsumen tidak lagi melihat harga ketika membeli produk.

Tabel 2.1

Lanjutan Tabel 2.1

Lanjutan Tabel 2.1

Lanjutan Tabel 2.1

Lanjutan Tabel 2.1

Lanjutan Tabel 2.1

2.3.1 Hubungan Kualitas Produk Terhadap Minat beli

Pada hakikatnya seseorang membeli barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Seseorang membeli barang bukan hanya fisik semata, melainkan manfaat yang ditimbulkan oleh barang atau jasa yang dibeli.maka dari itu, pengusaha dituntut untuk selalu kreatif, dinamis, dan berpikiran luas. Pemasar yang tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun akan cendrung menurun. Jika suatu produk dibuat sesuai dengan dimensi kualitas, bahkan diperkuat dengan periklanan dan harga yang ditawarkan maka akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk membeli. Peran kualitas produk sangat menentukan keinginan konsumen tersebut sehingga dengan kualitas produk akan tercapai suatu kepuasan tersendiri bagi konsumen Rodhiah (2007).

Sebaliknya, kesan kualitas adalah penilaian konsumen tentang keunggulan yang dimiliki suatu produk secara keseluruhan dengan manfaat yang sesuai keinginan.

Dewasa ini, tuntutan terhadap kualitas produk sudah menjadi keharusan yang harus terpenuhi oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi, jika tidak maka konsumen akan beralih ke merek lainnya yang dianggap memiliki kualitas lebih tinggi dibandingkan dengan produk tersebut. Semakin tinggi kualitas produk yang dihasilkan, maka akan semakin tinggi menarik minat beli konsumen untuk melakukan pembelian bahkan melakukan pembelian secara terus menerus. Berdarkan penelitian Rizki (2009). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifkan terhadap kualitas produk dan minat beli konsumen. Peneliti lainnya dilakukan oleh Kusuma (2009) menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Bachriansyah (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kualitas produk, daya tarik iklan berpengaruh terhadap persepsi harga bepengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Peneliti ini memiliki kesamaan dalam menganalisis pengaruh kualitas produk, daya tarik iklan, harga terhadap minat beli.

2.3.2 Hubungan Daya Tarik iklan terhadap Minat Beli

Aktivitas promosi biasanya dilakukan perusahaan baik secara langsung, diberbagai media elektronik, reklame atau baleho, majalah, maupun media cetak lainnya sebagai upaya mempengaruhi konsumen atau menarik minat beli konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Strategi promosi merupakan strategi pemasaran yang efektif dapat membujuk dan mendorong calon konsumen

untuk membeli produk. Semakin tinggi promosi yang dilakukan oleh perusahaan maka akan semakin tinggi juga dalam menarik minat beli konsumen untuk melakukan pembelian produk tersebut. Tetapi jika promosi dalam media cetak tidak diimbangi dengan promosi pada media elektronik seperti televisi pasti juga kurang efektif. Berdasarkan penelitian Yuniati (2013). Hasil penelitian menunjukan bahwa daya tarik iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Peneliti lainya dilakukan oleh Situmeang (2013). Hasil penelitian ini, menunjukan bahwa adanya pengaruh daya tarik iklan terhadap minat beli konsumen.

2.3.3 Hubungan Harga terhadap Minat Beli

Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanan Irawan (2005). Harga merupakan strategi penting bagi keberhasilan kegiatan pemasaran dan memiliki peranan penting dalam mempengaruhi minat beli konsumen untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk. Harga memiliki pengaruh positif terhadap minat beli konsumen untuk melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk. Harga yang dipatok relatif lebih murah dipasaran maka akan semakin menarik minat beli para konsumen untuk membeli suatu produk tanpa dengan berpikir panjang. Biasanya konsumen lama dan para calon konsumen membanding-bandingkan harga produk satu dengan yang lainnya, dan apabila di tempat tersebut konsumen mendapat kesesuaian harga yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen dengan memiliki spesifikasi produk yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar maka konsumen

akan memutuskan untuk membeli produk tersebut. Berdasarkan penelitian dilakukan oleh Zaman (2014). Menyatakan bahwa harga dan minat beli konsumen terdapat hubugan positif dan signifikan.penelitian lainya dilakukan oleh Saputra, (2017) menyatakan bahwa harga dan kualitas produk berpengaruh terhadap minat beli konsumen.

Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu, maka dapat disusun suatu kerangka pemikiran dalam penelitian ini seperti yang disajikan dalam Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual 2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pernyataan yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan jawaban sementara oleh karena jawaban yang ada adalah jawaban yang berasal dari teori, sedangkan jawaban sesungguhnya adalah hanya akan ditemukan apabila peneliti telah melakukan pengumpulan data dan analisis data penelitian Juliandi (2013). Berdasarkan penertian hipotesis diatas, hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

Kualitas Produk (X1)

Daya Tarik Iklan (X2)

Minat Beli (Y)

Harga (X3)

H1 : Kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

H2 : Daya tarik iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

H3 : Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

H4 : Kualitas produk, daya tarik iklan, dan harga secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian asosiatif bertujuan untuk menganalisis permasalahan hubungan suatu variabel dengan variabel lainnya Juliandi, (2013).

Penelitian kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikan (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya penelitian kuantitatif dilaksanakan pada penelitian inferensia (dalam rangka pengujian hipotesis) dan menyadarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antarvariabel yang diteliti Wiratha, (2006).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di distro 061Store yang berada di Kota Medan kecamatan Medan Johor Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan kemudahan memperoleh data, lokasi penelitian mudah dijangkau dan sesuai dengan kemampuan, baik waktu dan juga lebih efektif dan efisien. Penelitian ini direncanakan dari bulan Desember sampai dengan Januari 2019

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2017), populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu. ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi pada penelitian ini adalah pelanggan distro 061store yang sudah membeli produk, sebanyak 2.734 pelanggan dalam periode Januari 2018 – Oktober 2018.

3.3.2 Sampel

Menurut Sugiyono (2017) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau

Menurut Sugiyono (2017) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau

Dalam dokumen TESIS. Oleh MUHAMMAD GHOFAR TRIYONO IM (Halaman 55-163)

Dokumen terkait