• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2. ASI Eksklusif

2.2.5. Indikator keberhasilan ASI Eksklusif

Keberhasilan ASI Eksklusif bukan hanya dilihat dari aspek durasi semata, tetapi status gizi bayi dan status gizi ibu pasca menyusui eksklusif juga harus diperhatikan, tidak tepat jika seorang ibu bisa memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan kepada bayi, tetapi mengorbankan status gizi bayinya atau dirinya sendiri ataupun keduanya. Adapun indikator keberhasilan ASI Eksklusif mencakup (Fikawati, dkk, 2015) : 1) Durasi ASI Eksklusif, durasi pemberian ASI Eksklusif yang dianjurkan WHO adalah 6 bulan. Namun hal ini masih sulit dicapai, terbukti dengan cakupan ASI di Indonesia masih rendah berkisar 10-30% (jauh dari target capaian 80%). Keberhasilan ASI Eksklusif ditentukan oleh banyak faktor, seperti pengetahuan ibu, IMD, dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. 2) Status Gizi Ibu, indikator status gizi ibu menyusui dilihat dari IMT ibu postpartum karena menunjukkan simpanan lemak ibu yang akan digunakan untuk menyusui. Selama menyusui BB ibu akan terus menurun, diharapkan penurunan BB terjadi secara bertahap, sekitar 0,5-0,8 kg/bulan agar persediaan cadangan lemak untuk memproduksi ASI pada bulan selanjutnya tetap tersedia. 3) Status Gizi Bayi, pertumbuhan bayi adalah indikator proksi dari produksi ASI dan kecukupan pemberian ASI. Maka pemantauan pertumbuhan bayi penting dilakukan untuk mengetahui cukup atau tidaknya ASI yang diberikan.

18 Perilaku ibu dalam pemberian

ASI Eksklusif :

1) Perceived susceptibility 2) Perceived severity 3) Perceived benefits 4) Perceived barriers 5) Cue to action

Baik Buruk Faktor yang mempengaruhi perilaku :

1. Faktor Predisposisi 2. Faktor Pendukung 3. Faktor Penguat

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN 3.1. Kerangka penelitian

Keterangan :

: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variabel yang diteliti.

Adapun variabel pada penelitian ini adalah perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif dengan menggunakan teori Health Belief Model.

3.2. Definisi operasional

Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Perilaku

20 BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif.

4.2. Populasi, sampel dan tehnik sampling 4.2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang memberikan ASI Eksklusif yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. Jumlah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang memberikan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat adalah 21 ibu.

4.2.2. Sampel

Jumlah sampel pada penelitian adalah 21 ibu. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : 1) Ibu yang menetap di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. 2) Ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan. 3) Ibu yang memberikan ASI secara eksklusif. 4) Ibu yang memiliki suami. 5) Ibu sehat fisik dan mental. 6) Ibu bersedia menjadi responden.

Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah : 1) Ibu yang diindikasikan tidak boleh menyusui. 2) Ibu yang memiliki bayi yang mengalami gangguan perkembangan.

4.2.3. Teknik sampling

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling, yaitu pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel penelitian.

4.3. Lokasi dan waktu penelitian 4.3.1. Lokasi penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat di Kelurahan Cendana. Penelitian perlu dilakukan pada lokasi tersebut dikarenakan ditemukan cakupan ASI Eksklusif yang masih rendah dan banyak ibu yang dalam masa pemberian ASI Eksklusif.

4.3.2. Waktu penelitian

Waktu yang digunakan pada penelitian ini adalah mulai bulan Januari 2018 sampai dengan Mei 2018.

4.4 Pertimbangan etik

Peneliti melakukan penelitian ini dengan menerapkan prinsip etis sebagai berikut (Nursalam, 2015) :

1) Prinsip manfaat, meliputi : a. Bebas dari penderitaan yang dapat membahayakan ibu. b. Bebas dari eksploitasi dengan menyakinkan ibu bahwa informasi yang telah diberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan ibu. c. Risiko yaitu peneliti mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang akan berakibat kepada ibu.

2) Prinsip menghargai hak asasi manusia, meliputi : a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden. b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan. c. Informed consent yang mencantumkan informasi lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilakukan dan ibu berhak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden.

3) Prinsip keadilan, meliputi : a. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaan dalam penelitian. b. Hak dijaga kerahasiaan data yang diberikan oleh ibu.

4.5. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan berisi pernyataan yang berhubugan dengan masalah penelitian yang setiap pernyataan mempunyai makna untuk mengukur perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif. Kuesioner terdiri dari 2 bagian yaitu : data demografi responden dan kuesioner perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif menggunakan teori Health Belief Model. Data demografi terdiri dari nama/inisial nama responden, umur ibu, pendidikan terakhir, pekerjaan, jumlah anak, dan pemberian ASI Eksklusif. Kuesioner perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif terdiri dari 20 pernyataan, yaitu : pernyataan nomor 1,2,3,4 terkait dengan perceived susceptibility, pernyataan nomor 5,6,7,8 terkait dengan perceived severity, pernyataan nomor 9,10,11,12 terkait dengan perceived benefits, pernyataan nomor 13,14,15,16 terkait dengan perceived barriers, dan pernyataan nomor 17,18,19,20 terkait dengan cue to action.

4.6. Validitas dan reliabilitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Uji validitas pada penelitian ini adalah validitas isi.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa skala item-item telah cukup memasukkan sejumlah item yang representatif dalam mencerminkan domain konsep (Noor, 2011). Uji validitas penelitian ini telah dilakukan oleh 3 dosen validator, yaitu Ibu Lufthiani, S.Kep., Ns., M.Kes, Ibu Rahmitha Sari, S.Kep., Ns., M.Kep, dan Ibu Ellyta Aizar., S.Kp., M.Biomed. Kemudian dihitung nilai CVR dan CVI menggunakan rumus Lawshe (Azwar, 2012) :

𝐢𝑉𝑅 = (2𝑛𝑒

𝑛 ) βˆ’ 1 ; 𝐢𝑉𝐼 = 𝐢𝑉𝑅

π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž 𝑠𝑒𝑏 π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘Žπ‘›

Instrumen dikatakan valid jika nilai CVR berkisar antara -1,0 sampai dengan +1,0. Item pernyataan CVR yang bernilai positif diartikan memiliki validitas isi, sedangkan item pernyataan CVR yang bernilai negatif harus dieliminasi (Azwar, 2012). Hasil CVR pada item pernyataan penelitian ini bernilai 0,67 dan 1. Selain itu, nilai CVI harus 1,00 bila ada lima atau lebih sedikit validator dan dilakukan hanya pada item pernyataan yang sudah dinyatakan memiliki CVR memuaskan (Azwar, 2012). Hasil nilai CVI yang diperoleh dari seluruh item pernyataan adalah 1, maka kuesioner dinyatakan valid.

Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran meskipun digunakan untuk mengukur sesuatu berulang kali dan menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama. Perlu diketahui bahwa perhitungan atau uji reliabilitas harus dilakukan hanya pada pertanyaan yang telah

memiliki atau memenuhi uji validitas (Noor, 2011). Uji reliabilitas dilakukan kepada 30 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan diluar sampel. Metode mencari reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus metode Kuder Richardson-21 (KR-21) (Ridwan, 2010) :

π‘Ÿ11= ( π‘˜

π‘˜ βˆ’ 1) (1 βˆ’π‘₯ (π‘˜ βˆ’ π‘₯) π‘˜. 𝑠2 ) Hasil nilai reliabilitas pada kuesioner adalah 0,777.

4.7. Pengumpulan data

Prosedur awal sebelum mengumpulkan data, yaitu peneliti terlebih dahulu mendapatkan surat izin penelitian yang diberikan oleh Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Kemudian peneliti mengajukan surat izin penelitian tersebut diserahkan kepada Kepala Puskemas Kota Rantauprapat. Setelah mendapat izin dari Puskesmas Kota Rantauprapat untuk melakukan penelitian, peneliti diarahkan ke bagian gizi dan bagian KIA untuk memperoleh data ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kota Rantauprapat.

Setelah itu, peneliti dan petugas puskesmas menemui kader kesehatan kelurahan sehingga dalam mengumpulkan data, peneliti didampingi oleh kader kesehatan. Peneliti mengumpulkan data dengan cara menemui ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan yang memberikan ASI secara eksklusif dari rumah ke rumah.

Setelah bertemu dengan ibu, peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian menjelaskan kepada ibu tentang tujuan dan prosedur penelitian serta menanyakan kesediaan ibu untuk berpartisipasi. Ibu yang bersedia untuk

berpartisipasi diminta untuk menandatangani surat persetujuan (informed consent). Lalu peneliti memberikan kuesioner kepada ibu dan memberikan kesempatan untuk mengisi kuesioner tersebut kurang lebih 10 menit. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dalam pengisian kuesioner, ibu diberikan kesempatan bertanya kepada peneliti. Setelah ibu selesai mengisi kuesioner, peneliti memeriksa kelengkapan data dan jawaban pada kuesioner. Kemudian peneliti mendapatkan surat pernyataan selesai penelitian dari Puskesmas Kota Rantauprapat, sesudah peneliti selesai mengumpulkan data. Selanjutnya peneliti menganalisa data yang telah diperoleh.

4.8. Analisa data

Setelah data telah terkumpul, diolah dan ditabulasi melalui 3 langkah, yaitu : 1) Persiapan

Peneliti terlebih dahulu mengecek nama dan kelengkapan identitas ibu yang ada pada kuesioner. Kemudian memeriksa kelengkapan isi jawaban ibu untuk memilih data yang dapat dipakai dan diolah. Langkah persiapan ini dimaksudkan untuk merapikan data agar bersih, rapi dan tinggal mengadakan pengolahan lanjutan atau menganalisis (Arikunto, 2010).

2) Tabulasi

Tabulasi merupakan kegiatan memberikan skor dan kode pada jawaban ibu. Adapun tabulasi pada penelitian ini yaitu, memberikan skor pada jawaban setiap pernyataan β€œya = 1” dan β€œtidak = 0”, sedangkan untuk data demografi ibu diberi kode sesuai dengan pilihan jawaban yang tersedia.

Kemudian data dianalisis dengan skala ukur nominal, untuk hasil ukur dibagi menjadi 2 kategori yaitu, baik dengan skor 11-20 dan buruk dengan skor 1-10. (Arikunto, 2010).

3) Penerapan Data Sesuai dengan Pendekatan Penelitian

Hasil pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu data demografi dan data hasil kuesioner perilaku disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan presentase yang dilakukan secara komputerisasi (Nursalam, 2015).

27 BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil penelitian

Hasil penelitian ini menjabarkan mengenai perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat yang melibatkan 21 orang ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan. Data hasil penelitian dipaparkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase meliputi karakteristik responden dan perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif.

5.1.1. Karakteristik responden

Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi umur ibu, pendidikan terakhir ibu, pekerjaan ibu, jumlah anak, dan pemberian ASI Eksklusif ibu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21 ibu yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat memiliki karakteristik yaitu, mayoritas umur ibu 20-35 tahun sebanyak 21 orang (100%), ibu memiliki pendidikan terakhir pada tingkat SMA sebanyak 13 orang (61,0%), pekerjaan ibu sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 15 orang (71,4%), ibu primipara sebanyak 12 orang (57,1%) serta pemberian ASI Eksklusif ibu memberikan hanya ASI 0-6 bulan sebanyak 21 orang (100%). Karakteristik responden lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase karateristik ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat

No. Karakteristik Responden Frekuensi Persentase ( % ) 5. Pemberian ASI Eksklusif

Hanya ASI 0-6 bulan 21 100

5.1.2. Perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif

Perilaku dalam penelitian menggunakan teori Health Belief Model, meliputi perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cue to action. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 pernyataan perceived susceptibility, mayoritas ibu menyatakan memberikan ASI Eksklusif dapat menghindarkan bayi dari obesitas atau kegemukan yaitu 21 orang (100%), dan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang bayi 21 orang (100%) yang artinya bahwa mayoritas ibu menyadari kondisi bayi yang rentan terhadap masalah kesesehatan yaitu obesitas dan tumbuh kembang tidak optimal sehingga untuk mencegah hal tersebut ibu memberikan ASI secara eksklusif. Hasil perceived susceptibility dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentasi perceived susceptibility

No. Pernyataan Ya Persentase

(%) Tidak Persentase

Dari 4 pernyataan Perceived severity, mayoritas ibu menyatakan jika tidak memberikan ASI Eksklusif maka beresiko kanker payudara sebanyak 20 orang (95,2%) yang maknanya mayoritas ibu memberikan ASI Eksklusif untuk menghindari kondisi yang berbahaya yaitu kanker payudara. Hasil perceived severity dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi frekuensi dan persentase perceived severity

No. Pernyataan Ya Persentase

(%) Tidak Persentase

Dari 4 pernyataan perceived benefits, manfaat pemberian ASI Eksklusif yang paling banyak dinyatakan oleh ibu yaitu dapat meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dengan bayi sebanyak 21 orang (100%) dan untuk mengoptimalkan kecerdasan bayi sebanyak 21 orang (100%) yang artinya mayoritas ibu memberikan ASI Eksklusif karena memperoleh keuntungan atau manfaatberupa dapat menigkatkan ikatan kasih sayang ibu dan bayi serta untuk mengoptimalkan kecerdasan bayi. Hasil perceived benefits dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi dan persentase perceived benefits

No. Pernyataan Ya Persentase

(%) Tidak Persentase gizi yang sempurna bagi bayi

20 95,2 1 4,8

Dari 4 pernyataan perceived barriers, ibu paling banyak menyatakan kendala atau hambatan pemberian ASI Eksklusif yaitu payudara sering lecet sebanyak 9 orang (42,9%) artinya mayoritas ibu mengalami kendala dalam memberikan ASI Eksklusif disebabkan oleh payudara ibu sering lecet. Hasil Perceived barriers dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5. Distribusi frekuensi dan persentase perceived barriers

No. Pernyataan Ya Persentase

(%) Tidak Persentase

Dari 4 pernyataan cue to action, mayoritas ibu memberikan ASI Eksklusif dikarenakan lebih ekonomis dan praktis yaitu sebanyak 21 orang (100%) artinya pemberian ASI secara eksklusif yang ekonomis dan praktis memotivasi ibu dalam memberikan ASI Eksklusif. Hasil cue to action dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6. Distribusi frekuensi dan persentase cue to action

No. Pernyataan Ya Persentase

(%) Tidak Persentase

Secara keseluruhan hasil, perilaku ibu yang memiliki bayi 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat dikategorikan baik yaitu sebanyak 21 orang (100%). Hasil perilaku ibu dapat dilihat pada tabel 5.7.

Tabel 5.7. Distribusi frekuensi dan persentase Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat No. Perilaku Ibu dalam Pemberian

ASI Eksklusif Frekuensi Persentase (%)

1. Baik 21 100

2. Buruk 0 0

5.2 Pembahasan

Perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut (Sunaryo, 2013). Kemudian perilaku kesehatan (healthy behavior) merupakan suatu respon individu terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan keadaan sehat-sakit (kesehatan) (Taufik, 2008). Dalam arti luas, perilaku kesehatan mengacu pada tindakan individu, kelompok, organisasi terhadap keterampilan koping yang ditingkatkan dan peningkatan kualitas hidup.

Selain itu, definisi perilaku kesehatan yang menekankan pada individu, bahwa dalam perilaku kesehatan tidak hanya tindakan yang dapat diamati, tetapi mental dan keadaan perasaan dapat dilaporkan dan diukur. Perilaku kesehatan sebagai atribut pribadi individu, seperti karakteristik kepribadian, keadaan dan afektif dan emosional, dan pola perilaku, tindakan, dan kebiasaan yang berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan, pemulihan kesehatan, dan perbaikan kesehatan (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian perilaku ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan dalam pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat,

diketahui bahwa seluruh ibu dikategorikan pada perilaku baik yaitu 21 orang (100%). Perilaku ibu pada penelitian ini diukur menggunakan teori HBM, yaitu individu mengambil tindakan kesehatan berdasarkan lima aspek yaitu perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits,perceived barriers, cue to action.

Perceived susceptibility merupakan kondisi kerentanan atau resiko terkait masalah kesehatan yang akan dialami oleh individu apabila suatu perilaku tidak dilakukan.

Hal ini dapat mendorong individu untuk melakukan perilaku kesehatan untuk menghindari atau mengurangi kondisi tersebut (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghindari kerentanan bayi mengalami obesitas ibu memberikan ASI Eksklusif yaitu 21 ibu (100%) serta kondisi bayi rentan terhadap tumbuh kembang yang tidak optimal mendorong ibu untuk memberikan ASI Eksklusif yaitu 21 ibu (100%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2012) menyatakan kondisi bayi yang rentan terkena atau menderita masalah kesehatan jika tidak diberikan ASI Eksklusif adalah salah satu yang digunakan untuk mendorong ibu untuk memberikan ASI Eksklusif. Karena ibu akan berusaha mencegah atau menurunkan resiko agar bayi tidak mengalami suatu masalah kesehatan.

Perceived severity adalah kondisi bahaya atau konsekuensi yang akan dialami oleh individu apabila tetap tidak melakukan perilaku kesehatan (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu memberikan ASI Eksklusif pada bayi dikarenakan ibu menyadari bahaya yang mungkin terjadi pada ibu yaitu kanker payudara. Penelitian Yuliani (2012) menyatakan bahaya yang

akan diperoleh jika ibu tidak memberikan ASI kepada bayinya, akan membuat ibu memilih memberikan ASI kepada bayinya, daripada ibu harus menerima kondisi yang tidak menyenangkan bila tidak memberikan ASI.

Perceived benefits merupakan manfaat atau keuntungan yang akan muncul, saat perilaku kesehatan dilakukan oleh individu (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008).

Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 21 orang ibu (100%) mendapatkan manfaat dari memberikan ASI Eksklusif yaitu meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dengan bayi dan dapat mengoptimalkan kecerdasan bayi yaitu 21 orang ibu (100%). Penelitian Emmanuel (2015) menyatakan jika ibu menyadari manfaat adekuat dari ASI Eksklusif bagi ibu dan bayi, maka ibu akan melakukan ASI Eksklusif. Banyak ibu tidak memberikan ASI Eksklusif karena tidak menyadari manfaat dari tindakan tersebut. Penelitian Yuliani (2012) menyatakan ibu yang mengatakan bahwa ASI itu sangat bermanfaat maka akan meningkatkan niat ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif.

Perceived barriers adalah suatu keadaan yang dialami individu yang dapat menghambat atau kendala dalam melakukan perilaku kesehatan (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa kendala atau hambatan yang dialami ibu dalam pemberian ASI Eksklusif disebabkan oleh keluarga menganjurkan memberikan makanan tambahan yaitu sebanyak 6 orang (28,6%).Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2014) menyatakan bahwa sebagian besar ibu yang mendapat dukungan dari orang terdekat untuk memberikan MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan, cenderung akan memberikan MP-ASI. Kemudian sebanyak 9

ibu(42,9%) mengalami hambatan atau kesulitan dalam memberikan ASI Eksklusif karena payudara sering lecet. Hal ini sesuai dengan penelitian Risneni (2015) yaitu ibu dengan teknik menyusui yang tidak benar dan mengalami lecet puting susu sebanyak 36,0%, sedangkan ibu dengan teknik menyusui yang benar dan tidak mengalami lecet puting susu sebanyak 64,0%, beberapa penyebab puting susu lecet yaitu teknik menyusui yang tidak benar, puting susu terpapar zat iritan lain saat ibu membersihkan puting susu, cara menghentikan menyusui yang kurang tepat. Kendala yang juga dialami ibu pada hasil penelitian ini karena bayi sering menagis yaitu 2 orang ibu (9,5). Selain itu, sebanyak 5 orang ibu (23,8%), saat merasa kelelahan dan letih pengeluaran ASI dapat berkurang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Astuti (2013) menyatakan kondisi fisik dan mental yang lelah karena bekerja akan berakibat pada kelancaran produksi ASI. Penelitian Emmanuel (2015) menyatakan secara umum kendala yang dialami ibu dalam pemberian ASI Eksklusif adalah keluhan rasa sakit pada puting dan payudara, stress, serta minim dukungan suami. Penelitian Yuliani (2012) menyatakan hambatan dapat menyebabkan individu menjauh dari tindakan kesehatan. Hasil penelitian juga menunjukkan meskipun ada hambatan ibu tetap memberikan ASI kepada bayi, hal ini disebabkan oleh ibu memiliki motivasi dalam melakukan pemberian ASI Eksklusif.

Cue to action merupakan hal-hal yang dapat menggerakkan atau memotivasi individu untuk melakukan perilaku kesehatan (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008).Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21 orang ibu (100%) termotivasi memberikan ASI secara eksklusif dikarenakan pemberian ASI Eksklusif lebih

ekonomis dan praktis. Penelitian Yuliani (2012) menyatakan pemicu (cue to action) timbulnya perilaku adalah kejadian, orang yang dapat membuat seseorang melakukan perilaku kesehatan. Penelitian Emmanuel (2015) menyatakan ibu dapat memberikan ASI Eksklusif jika ibu diberikan dukungan dalam mengatasi kendala atau hambatan yang dialami dalam pemberian ASI Eksklusif.

Menurut Green (2002) dalam Priyoto (2014) salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu faktor prsedisposisi. Faktor Predisposisi penelitian ini, mencakup umur ibu, tingkat pendidikan terakhir, pekerjaan, dan jumlah anak. Berdasarkan hasil penelitaian menunjukkan dari 21 ibu mayoritas memiliki umur 20-35 tahun yaitu 21 orang (100%). PenelitianSetyorini, Widjanarko, Sugihantono (2017) menyatakan ibu berumur lebih muda dapat lebih banyak memproduksi ASI dibandingkan ibu yang lebih tua. Kemudian hasil penelitian didapati mayoritas ibu memiliki pendidikan terakhir pada tingkat SMA yaitu 13 ibu (61,0%). Dalam penelitian Rahmawati (2014) menyatakan

β€œPendidikan pada satu sisi mempunyai dampak positif yaitu ibu semakin mengerti akan pentingnya pemeliharaan kesehatan termasuk pemberian ASI Eksklusif, tetapi di sisi lain pendidikan yang semakin tinggi juga akan berdampak adanya perubahan nilai-nilai sosial seperti adanya anggapan bahwa menyusui merupakan hal yang tidak modern dan dapat merubah bentuk payudara ibu”. Penelitian ini ibu sebagai ibu rumah tangga sebanyak 15 orang (71,4%). Penelitian yang dilakukan Timporok, Mowor, Rompas (2018) menyatakan apabila status pekerjaan ibu tidak bekerja maka besar kemungkinan ibu dapat memberikan ASI Eksklusif dan ibu yang bekerja cenderung tidak memberikan ASI Eksklusif karena terbentur dengan

kewajiban pekerjaan. Kemudian penlitian Astuti (2013) menyatakan penyebab ibu bekerja sulit memberikan ASI Eksklusif yaitu ibu harus kembali bekerja sebelum bayi berusia 6 bulan dan proses memerah ASI merupakan masalah pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja. Selain itu, mayoritas ibu pada penelitian ini primipara yaitu 12 orang (57,1%). Penelitian Emmanuel (2015) menyatakan paritas tidak menunjukkan dampak terhadap pemberian ASI Eksklusif yang bermakna bahwa perilaku pemberian ASI Eksklusif pada wanita primipara dan multipara adalah sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu memberikan hanya ASI 0-6 bulan sebanyak 21 orang (100%).

38 BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarakan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat maka dapat disimpulkan bahwa secara umum ibu memiliki perilaku dalam kategori baik. Hal ini dapat dilihat bahwa ibu telah menyakini dengan memberikan ASI Eksklusifdapat mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, mengurangi resiko kanker

Berdasarakan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Perilaku Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat maka dapat disimpulkan bahwa secara umum ibu memiliki perilaku dalam kategori baik. Hal ini dapat dilihat bahwa ibu telah menyakini dengan memberikan ASI Eksklusifdapat mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, mengurangi resiko kanker

Dokumen terkait