BAB 1 PENDAHULUAN
1.5. Manfaat penelitian
1.5.3. Penelitian keperawatan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan penelitian-penelitian baru yang terkait dengan ASI.
6 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perilaku
2.1.1. Definisi perilaku
Perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon seseorang terhadap rangsangan internal/eksternal. Rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Sunaryo, 2013). Gochman dalam Glanz, Rimer, Viswanath (2008) mendefinisikan perilaku kesehatan sebagai atribut pribadi individu, seperti karakteristik kepribadian, keadaan dan afektif dan emosional, dan pola perilaku, tindakan, dan kebiasaan yang berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan, pemulihan kesehatan, dan perbaikan kesehatan.
2.1.2. Faktor yang mempengaruhi perilaku
Menurut Green (2012) dalam Priyoto (2014) perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu : 1) Faktor Predisposisi, mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan dan tingkat soisal, dan ekonomi. 2) Faktor Pendukung, mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat misalnya, air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, dan ketersediaan makanan yang bergizi, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, pos obat desa dokter atau
bidan pratek swasta. 3) Faktor Penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan, memperoleh dukungan atau tidak. Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku dan berperan bagi menetap atau melenyapnya perilaku itu, yang termasuk dalam faktor ini adalah penghargaan atau dukungan dari keluarga, teman, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, dan pengambil keputusan (Priyoto, 2014).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan individu adalah personal control. Personal control merupakan sebuah kepercayaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu mempengaruhi kejadian yang tidak diinginkan. Personal control terdiri dari self-efficacy dan locus of control.
Self-efficacy merupakan derajat kepercayaan individu akan kemampuannya melakukan tindakan tertentu. Locus of control menggambarkan keyakinan seseorang mengenai sumber penentu perilakunya. Sumber penentu ini berasal dari : 1) Lokus kontrol internal merupakan cara dimana seseorang yakin kontrol terhadap peristiwa berasal dari kemampuannya, individu juga memahami bahwa hasil yang mereka peroleh bergantung pada seberapa banyak usaha yang mereka lakukan, misalnya individu percaya bahwa perilaku merokok, mengonsumsi alkohol yang berlebihan, dan tidak berolahraga dapat mengakibatkan kondisi kesehatan yang buruk maka ia tidak melakukan hal tersebut. 2) Lokus kontrol eksternal merupakan cara dimana seseorang yakin kontrol terhadap peristiwa berasal dari luar dirinya seperti faktor keberuntungan, nasib atau takdir, misalnya individu yang mengalami
penyakit diabetes percaya bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan atau takdir (Priyoto, 2014).
2.1.3. Teori perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan memiliki dua model dengan fokus yang berbeda, yaitu (Glanz, Rimer, Viswanath, 2008) : 1) model perilaku kesehatan interpersonal, dalam model ini dikenal Social Cognitif Theory (SCT) yang berusaha menjelaskan tingkah laku manusia merupakan segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, perilaku, dan lingkungan. 2) model perilaku kesehatan individual. Dalam model perilaku kesehatan individual, unit terpenting dalam perilaku kesehatan adalah individu.
Beberapa teori yang terkait dengan model perilaku kesehatan individu, sebagai berikut : 1) Theory of reasoned action (TRA)/ Theory planned behavior (TPB), berdasarkan teori ini perilaku kesehatan inidividu bergantung pada : 1) sikap penilaian hasil yang diterima individu dalam melakukan perliaku tertentu, 2) norma subjektif berupa pendapat orang lain terhadap perilaku kesehatan tersebut, 3) pengendalian perilaku yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan seseorang dalam mengendalikan tindakan yang berkaitan dengan perilaku kesehatan. Kelemahan teori ini tidak mempertimbangkan hambatanβhambatan yang terjadi diluar kendali seseorang yang dapat berakibat pada perilaku tersebut. 2) Trantheoretical Model (TTM), adalah suatu model yang diterapkan untuk menilai kesiapan individu untuk bertindak atas perilaku sehat yang baru. Model ini berfokus pada pengambilan keputusan individu yang melibatkan emosi, kognisi, dan
perilaku. 3) Health belief model (HBM), salah satu kerangka konseptual yang paling banyak digunakan dalam penelitian perilaku kesehatan dan sebagai panduan untuk intervensi perilaku kesehatan. Dalam HBM terdapat kombinasi dengan TTM, dimana faktor esensial pada HBM yaitu kesiapan individu untuk merubah perilaku. Komponen HBM terdiri dari 1) Perceived susceptibility(kerentanan) merupakan kondisi kerentanan atau resiko terkait masalah kesehatan yang akan dialami oleh individu apabila suatu perilaku tidak dilakukan. Hal ini dapat mendorong individu untuk melakukan perilaku kesehatan untuk menghindari atau mengurangi kondisi tersebut. Individu yang mengalami risiko dalam mendapatkan penyakit akan bertindak untuk mencegah hal tersebut. Pemberian ASI secara eksklusif dapat mencegah atau melindungi bayi dari kondisi yang rentan mengalami masalah kesehatan. 2) Perceived severity (bahaya) merupakan kondisi bahaya atau konsekuensi yang akan dialami oleh individu apabila tetap tidak melakukan perilaku kesehatan. Seseorang apabila membiarkan penyakit tidak ditangani maka konsekuensi masalah kesehatan yang akan menjadi semakin parah. 3) Perceived benefits (manfaat) merupakan manfaat atau keuntungan yang akan muncul, saat perilaku kesehatan dilakukan oleh individu. Manfaat yang diterima atau diperoleh jika melakukan perilaku kesehatan, cenderung akan membuat seseorang melakukan perilaku kesehatan tersebut. 4) Perceived barriers (hambatan) adalah suatu keadaan yang dialami individu yang dapat menghambat atau kendala dalam melakukan perilaku kesehatan. Komponen ini menjadi pembeda HBM dengan TRA/TPB karena adanya pertimbangan
hambatan yang terjadi diluar kendali seseorang dalam melakukan suatu perilaku kesehatan. 5) Cue to action (isyarat untuk bertindak) merupakan hal-hal yang dapat menggerakkan atau memotivasi individu untuk melakukan perilaku kesehatan berupa peristiwa-peristiwa, orang, atau hal-hal yang menggerakkan orang untuk berperilaku sehat, yang dapat berasal dari infomasi media masa, nasihat, pengalaman dan artikel. Penelitian ini menggunakan teori HBM untuk mengidentifikasi perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif.
2.2. ASI Eksklusif
2.2.1. Definisi ASI Eksklusif
Secara umum ASI Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Maryunani, 2015). Menurut Konsorsium IGAB (Interagancy Group for Action on Breastfeeding) dan WHO/UNICEF, terdapat beberapa versi tentang definisi dan kategori pemberian ASI, yaitu (Fikawati, dkk, 2015) :
1) Kategori pemberian ASI menurut IGAB
a. ASI Eksklusif atau exclusive breastfeeding : Tidak ada cairan atau makanan padat dari sumber lain, selain ASI, yang masuk ke mulut bayi.
b. Hampir ASI Eksklusif atau almost breastfeeding : Membolehkan bayi diberikan cairan lain, makanan tradisional seperti air tajin atau air teh, vitamin, obat-obatan, dan lain-lain.
c. Menyusui lengkap atau full breastfeeding : Mencakup ASI Eksklusif dan hampir eksklusif.
d. ASI lengkap atau full breast-milk feeding (atau fully breast-milk fed) : Selain menyusui secara langsung, bayi juga menerima ASI yang diperah.
e. ASI Parsial atau partial breastfeeding : Memberikan makan campuran dengan klasifikasi pemberian makanan tinggi, sedang, atau rendah.
Metode yang disarankan untuk klasifikasi meliputi persentase jumlah kalori dari ASI, persentasi pemberian ASI terhadap makanan, dan lain-lain. Memberikan ASI dengan cara diperah akan berada di bawah kategori ini.
f. Token : Minimal, sesekali menyusu (menyusui hanya untuk kenyamanan atau konstribusi gizi dari ASI kurang dari 10%).
2) Kategori pemberian ASI menurut WHO/UNICEF (2003)
a. Menyusui atau breastfeeding : Bayi menerima ASI langsung dari payudara maupun ASI perah.
b. ASI Eksklusif atau exclusive breastfeeding : Bayi hanya menerima ASI dari ibu kandung atau ibu susu, atau ASI perah, dan tidak ada cairan maupun makanan lainnya kecuali beberapa tetes sirup yang
terdiri dari vitamin, suplemen mineral, larutan garam rehidrasi oral (ORS) tau obat-obatan atas indikasi medis.
c. ASI predominan atau predominant breastfeeding : Sumber utama makanan bayi adalah ASI namun selain ASI bayi juga menerima air dan minuman berbasis air (manis dan rasa air, teh, infus, dan lain-lain), jus buah, sirup vitamin, mineral dan obat-obatan, dan cairan ritual dalam jumlah terbatas. Jadi kecuali jus buah dan air gula, tidak ada makanan berbasis cairan lain yang diperbolehkan menurut definisi ini.
d. ASI lengkap atau full breastfeeding : ASI Eksklusi dan ASI predominan bersama-sama membentuk ASI lengkap.
e. Pemberian makanan pelengkap atau complementary feeding : Bayi telah mendapatkan ASI dan makanan padat atau makanan semi padat.
f. Pemberian makanan menggunakan botol atau bottle-feeding : Bayi telah menerima cairan atau makanan semi padat dari botol dengan dot.
2.2.2. Komposisi dan kandungan ASI 2.2.2.1. Komposisi ASI
Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu. Komposisi ASI dipengaruhi oleh stadium laktasi. Menurut stadium laktasi, ASI terbagi menjadi (Fikawati, dkk, 2015) : 1) Kolostrum merupakan ASI kental berwarna kunning yang dihasilkan sejak hari pertama sampai dengan hari ke-7 hingga hari ke-10 setelah ibu melahirkan. Volume kolostrum berkisar 2-20 ml dalam 3 hari pertama setelah melahirkan.
Keistimewaan kolostrum adalah memiliki kandungan imunoglobulin A yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi hingga usia 6 bulan.
Kolostrum memiliki kolesterol yang tinggi baik untuk perkembangan otak. Kolostrum yang dikonsumsi bayi dapat memfasilitasi perkembangan flora bifidus serta memfasilitasi pengeluaran mekonium dan mencegah bayi kuning, sehingga usus akan berkembang lebih matang, mencegah alergi dan keadaan tidak tahan (intoleransi). 2) ASI transisi merupakan peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI matur.
ASI transisi diproduksi pada hari ke-7 atau ke-10 sampai 2 minggu pasca melairkan. Kandungan vitaminnya lebih rendah dari kolostrum.
Kadar protein makin merendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin tinggi dan volume akan semakin meningkat. 3) ASI matur merupakan kandungan terbesar ASI yang disekresi pada minggu ke-2 setelah melahirkan dan seterusnya. ASI matur memiliki sifat biokimia yang khas, yaitu kapasitas buffer yang rendah, adanya faktor bifidus, dan adanya hormon. Laktobasilus bifidus merupakan koloni kuman yang memetabolisir laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan rendahnya pH sehingga pertumbuhan bakteri patogen akan terhambat.
2.2.2.2 Kandungan ASI
Kandungan yang terdapat pada ASI, yaitu (Lowdermilk, 2013) : 1) Cairan, pada dua hari pertama setelah lahir, kebutuhan cairan bayi sehat adalah 60-80 ml air/kg bb/hari. Dari hari ke-3 sampai ke-7, kebutuhannya adalah 100-150 ml/kg/hari dan dari hari 8 sampai
ke-30, 120-180 ml/kg/hari. Secara umum, bayi yang diberi ASI tidak perlu diberi air, karena hampir 87% dari ASI mengandung air, sehingga kebutuhan bayi bisa dicukupi dengan mudah. 2) Energi, bayi membutuhkan asupan kalori yang cukup untuk memberikan energi untuk tumbuh, mencerna, aktivitas fisik, dan menjaga fungsi organ.
Kebutuhan energi bervariasi sesuai usia, tingkat maturitas, suhu lingkungan, tingkat pertumbuhan, status kesehatan, dan tingkat aktivitas. Air susu manusia mengandung 67 kkal/100 ml atau 20 kkal/oz. 3) Karbohidrat, asupan sehari-hari yang adekuat pada 6 bulan pertama kehidupan adalah 60 g/hari dan 95 g/hari untuk bulan kedua.
Laktosa merupakan karbohidrat terbesar dalam asupan seorang bayi sampai usia 6 bulan, karena merupakan karbohidrat utama dalam ASI.
Oligosakarida, bentuk lain dari karbohidrat yang ditemukan dalam air susu ibu, penting dalam perkembangan mikroflora dalam saluran pencernaan bayi. 4) Lemak, asupan sehari rata-rata yang direkomendasikan untuk lemak pada bayi kurang dari 6 bulan adalah 31 g/hari. Agar bayi mendapat kalori yang cukup dari ASI, minimal 15%
dari kalori susu harus terdiri atas lemak (trigliserida). Kandungan lemak susu ibu terbuat dari lemak, trigliserida dan kolesterol. Kolesterol merupakan komponen penting untuk pertumbuhan otak. 5) Protein, pada bayi kurang dari 6 bulan kebutuhan protein adalah 9,1 g/hari. ASI mengandung dua protein, laktabumin dan kasein, dengan perbandingan 60:40. Rasio protein pada ASI ini membuatnya lebih mudah dicerna
dan membuat feses pada bayi yang mendapatkan ASI terlihat lebih lunak. 6) Vitamin, ASI mengandung semua vitamin yang dibutuhkan untuk nutrisi bayi. Vitamin D memfasilitasi penyerapan kalsium dan fosfor, mineralisasi tulang dan reabsorpsi kalsium dari tulang. Vitamin K, dibutuhkan untuk koagulasi darah dan mencegah masalah perdarahan pada bayi baru lahir. 7) Mineral, kandungan mineral pada ASI biasanya paling tinggi pada hari-hari pertama kehidupan dan turun sedikit selama masa menyusui. Zat besi dapat diserap lebih baik.
2.2.3. Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif
Pentingnya ASI Eksklusif diberikan selama 6 bulan dikarenakan beberapa hal berikut (Fikawati, dkk, 2015) : 1) Sistem imun bayi berusia kurang dari 6 bulan belum sempurna. MPASI dini sama saja membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman terutama bila makanan disajikan tidak higienis. 2) Pada 6 bulan pertama kehidupan organ pencernaan bayi masih belum matang sehingga membutuhkan asupan gizi yang mudah untuk dicerna. 3) Mengurangi resiko terkena alergi karena sel- sel di sekitar usus pada bayi kurang dari 6 bulan belum siap untuk kandungan dari makanan. 4) Menghindari bayi dari obesitas akibat proses pemecahan sari-sari makanan yang belum sempurna. 5) Pemberian ASI Eksklusif sampai 6 bulan (gold standard) akan mengoptimalkan kecerdasan bayi di usia selanjutnya. 6) Apabila bayi diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan bayi akan sering berada dalam dekapan ibu. Hal ini dapat menjadi dasar perkembangan emosional bayi dalam membentuk kepribadian yang baik.
2.2.4. Masalah dalam pemberian ASI Eksklusif
Ibu sering mengalami beberapa masalah dan kendala dalam memberikan ASI. Masalah tersebut dapat menyebabkan kegagalan dan ketidakberhasilan dalam pemberian ASI Eksklusif. Ibu yang tidak dapat mengatasi masalah tersebut, sehingga memutuskan untuk tidak memberikan ASI dan memilih untuk memberikan susu formula. Masalah menyusui yang dapat terjadi adalah (Kristiyanasari, 2009) : 1) Puting susu datar dan terbenam merupakan masalah pada ibu yang dapat diatasi dengan tetap memberikan ASI pada bayi, karena hisapan pada puting susu oleh bayi akan menarik keluar puting, sehingga bentuk puting akan menonjol dengan sendirinya. Cara lain yang dapat dilakukan dengan menggunakan pompa puting susu atau jarum suntik 10 ml yang telah dimodifikasi. 2) Puting susu nyeri umumnya dialami ibu pada waktu awal menyusui. Rasa nyeri ini akan berkurang setelah ASI keluar.
3) Payudara bengkak disebabkan karena adanya peningkatan produksi ASI dalam payudara, terlambat menyusui, dan pengeluaran ASI jarang. Kondisi ini dapat diatasi dengan melakukan kompres dingin pada payudara, tetap menyusui bayi 2-3 jam, setiap kali menyusui harus sampai kosong, memakai BH yang dapat menopang dengan nyaman. 4) Bayi sering menangis.
Menangis merupakan cara berkomunikasi bayi dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu bila bayi sering menangis perlu dicari sebabnya, dan sebabnya tidak selalu karena kurang ASI. Bayi menangis dapat disebabkan karena bayi merasa tidak aman ingin dipeluk dan ditemani ibu, bayi sakit jadi merasa tidak nyaman dan bayi lapar atau haus, bayi ngompol. Ketika lapar
atau haus sebaiknya ibu segera menyusui sampai bayi kenyang. Hal yang harus diperhatikan jika ibu cemas atau kesal maka dapat menganggu produksi ASI dan sering bayi hanya ingin merasa aman dan perhatian ibu.
2.2.5. Indikator keberhasilan ASI Eksklusif
Keberhasilan ASI Eksklusif bukan hanya dilihat dari aspek durasi semata, tetapi status gizi bayi dan status gizi ibu pasca menyusui eksklusif juga harus diperhatikan, tidak tepat jika seorang ibu bisa memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan kepada bayi, tetapi mengorbankan status gizi bayinya atau dirinya sendiri ataupun keduanya. Adapun indikator keberhasilan ASI Eksklusif mencakup (Fikawati, dkk, 2015) : 1) Durasi ASI Eksklusif, durasi pemberian ASI Eksklusif yang dianjurkan WHO adalah 6 bulan. Namun hal ini masih sulit dicapai, terbukti dengan cakupan ASI di Indonesia masih rendah berkisar 10-30% (jauh dari target capaian 80%). Keberhasilan ASI Eksklusif ditentukan oleh banyak faktor, seperti pengetahuan ibu, IMD, dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. 2) Status Gizi Ibu, indikator status gizi ibu menyusui dilihat dari IMT ibu postpartum karena menunjukkan simpanan lemak ibu yang akan digunakan untuk menyusui. Selama menyusui BB ibu akan terus menurun, diharapkan penurunan BB terjadi secara bertahap, sekitar 0,5-0,8 kg/bulan agar persediaan cadangan lemak untuk memproduksi ASI pada bulan selanjutnya tetap tersedia. 3) Status Gizi Bayi, pertumbuhan bayi adalah indikator proksi dari produksi ASI dan kecukupan pemberian ASI. Maka pemantauan pertumbuhan bayi penting dilakukan untuk mengetahui cukup atau tidaknya ASI yang diberikan.
18 Perilaku ibu dalam pemberian
ASI Eksklusif :
1) Perceived susceptibility 2) Perceived severity 3) Perceived benefits 4) Perceived barriers 5) Cue to action
Baik Buruk Faktor yang mempengaruhi perilaku :
1. Faktor Predisposisi 2. Faktor Pendukung 3. Faktor Penguat
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN 3.1. Kerangka penelitian
Keterangan :
: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti
Kerangka penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variabel yang diteliti.
Adapun variabel pada penelitian ini adalah perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif dengan menggunakan teori Health Belief Model.
3.2. Definisi operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Perilaku
20 BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif.
4.2. Populasi, sampel dan tehnik sampling 4.2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang memberikan ASI Eksklusif yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. Jumlah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang memberikan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat adalah 21 ibu.
4.2.2. Sampel
Jumlah sampel pada penelitian adalah 21 ibu. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : 1) Ibu yang menetap di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. 2) Ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan. 3) Ibu yang memberikan ASI secara eksklusif. 4) Ibu yang memiliki suami. 5) Ibu sehat fisik dan mental. 6) Ibu bersedia menjadi responden.
Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah : 1) Ibu yang diindikasikan tidak boleh menyusui. 2) Ibu yang memiliki bayi yang mengalami gangguan perkembangan.
4.2.3. Teknik sampling
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling, yaitu pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel penelitian.
4.3. Lokasi dan waktu penelitian 4.3.1. Lokasi penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Rantauprapat di Kelurahan Cendana. Penelitian perlu dilakukan pada lokasi tersebut dikarenakan ditemukan cakupan ASI Eksklusif yang masih rendah dan banyak ibu yang dalam masa pemberian ASI Eksklusif.
4.3.2. Waktu penelitian
Waktu yang digunakan pada penelitian ini adalah mulai bulan Januari 2018 sampai dengan Mei 2018.
4.4 Pertimbangan etik
Peneliti melakukan penelitian ini dengan menerapkan prinsip etis sebagai berikut (Nursalam, 2015) :
1) Prinsip manfaat, meliputi : a. Bebas dari penderitaan yang dapat membahayakan ibu. b. Bebas dari eksploitasi dengan menyakinkan ibu bahwa informasi yang telah diberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan ibu. c. Risiko yaitu peneliti mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang akan berakibat kepada ibu.
2) Prinsip menghargai hak asasi manusia, meliputi : a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden. b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan. c. Informed consent yang mencantumkan informasi lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilakukan dan ibu berhak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden.
3) Prinsip keadilan, meliputi : a. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaan dalam penelitian. b. Hak dijaga kerahasiaan data yang diberikan oleh ibu.
4.5. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan berisi pernyataan yang berhubugan dengan masalah penelitian yang setiap pernyataan mempunyai makna untuk mengukur perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif. Kuesioner terdiri dari 2 bagian yaitu : data demografi responden dan kuesioner perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif menggunakan teori Health Belief Model. Data demografi terdiri dari nama/inisial nama responden, umur ibu, pendidikan terakhir, pekerjaan, jumlah anak, dan pemberian ASI Eksklusif. Kuesioner perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif terdiri dari 20 pernyataan, yaitu : pernyataan nomor 1,2,3,4 terkait dengan perceived susceptibility, pernyataan nomor 5,6,7,8 terkait dengan perceived severity, pernyataan nomor 9,10,11,12 terkait dengan perceived benefits, pernyataan nomor 13,14,15,16 terkait dengan perceived barriers, dan pernyataan nomor 17,18,19,20 terkait dengan cue to action.
4.6. Validitas dan reliabilitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Uji validitas pada penelitian ini adalah validitas isi.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa skala item-item telah cukup memasukkan sejumlah item yang representatif dalam mencerminkan domain konsep (Noor, 2011). Uji validitas penelitian ini telah dilakukan oleh 3 dosen validator, yaitu Ibu Lufthiani, S.Kep., Ns., M.Kes, Ibu Rahmitha Sari, S.Kep., Ns., M.Kep, dan Ibu Ellyta Aizar., S.Kp., M.Biomed. Kemudian dihitung nilai CVR dan CVI menggunakan rumus Lawshe (Azwar, 2012) :
πΆππ = (2ππ
π ) β 1 ; πΆππΌ = πΆππ
π½π’πππβ π π’π ππππ‘πππ¦πππ
Instrumen dikatakan valid jika nilai CVR berkisar antara -1,0 sampai dengan +1,0. Item pernyataan CVR yang bernilai positif diartikan memiliki validitas isi, sedangkan item pernyataan CVR yang bernilai negatif harus dieliminasi (Azwar, 2012). Hasil CVR pada item pernyataan penelitian ini bernilai 0,67 dan 1. Selain itu, nilai CVI harus 1,00 bila ada lima atau lebih sedikit validator dan dilakukan hanya pada item pernyataan yang sudah dinyatakan memiliki CVR memuaskan (Azwar, 2012). Hasil nilai CVI yang diperoleh dari seluruh item pernyataan adalah 1, maka kuesioner dinyatakan valid.
Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran meskipun digunakan untuk mengukur sesuatu berulang kali dan menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama. Perlu diketahui bahwa
Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran meskipun digunakan untuk mengukur sesuatu berulang kali dan menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama. Perlu diketahui bahwa