Pelayanan Kesehatan
A. Indikator Kinerja Dinas Kesehatan Kota Palembang
Tempat umum yang diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang sebanyak 1.744 dengan jumlah 789 (77,3 %) termasuk kategori sehat. TTU diperiksa terbanyak di Kecamatan Plaju dengan jumlah 320 tempat dengan 119 (78,8 %) termasuk kategori sehat. TTU diperiksa paling sedikit pada Kecamatan Sako sebesar 5 TTU dengan 3 TTU (75,0 %) kategori sehat. APBD Dinas Kesehatan tahun 2009 Alokasi anggaran kesehatan tahun 2009 adalah Rp. 87.097.915.841 (5,7 % dari total APBD Kota Palembang). Anggaran kesehatan Kota Palembang tersebut bersumber 75,2 % berasal dari APBD Kota dan 12,3 % dari APBD Provinsi. Sedangkan, anggaran kesehatan perkapita adalah Rp. 15.389.786,02. Persentase BOR, NDR, LOS, GDR Rumah Sakit. Rumah Sakit di kota Palembang berjumlah 26 Rumah Sakit, tetapi hanya 25 Rumah Sakit yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang, sedangkan RS Khusus Paru tidak memiliki sarana rawat inap. Indikator Pelayanan di Rumah Sakit berdasarkan pada persentase:
1. BOR (Bed Occupaney Rate)
Dari 25 RS yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang didapat angka rata-rata BOR sebesar 50,2 %, ini berarti masih di bawah angka ideal yaitu 60-85%. Rumah sakit yang memiliki BOR < 60% sebanyak 11 RS yaitu: RS Khusus Mata, RS Pertamina, RS Bunda, RS Karya Asih, RSAB Tiara Fatrin, RSAB Ananda, RSAB Widiyanti, RSAB Rika Amelia, RS Sriwijaya Eye Center, RSAB Bunda Fatimah, RSIA Marisa. Hal ini berarti ke-11 rumah sakit tersebut kurang efisien dalam pelayanan rawat inap, dimana jumlah pasien yang dirawat sedikit dibandingkan jumlah tempat tidur yang tersedia. Rumah sakit yang memiliki BOR ideal yaitu 60 - 85% sebanyak 11 buah, yaitu: RS Mohammad Hoesin, RS Ernaldi Bahar, RSUD BARI, RS Pusri, RS Bhayangkara, RS Dr. A.K Ghani, RSI Siti Khadijah, RS Muhammadiyah, RS Myria, RS Pelabuhan, RSAB Azzahra. Hal ini berarti ke-11 RS tersebut cukup efisien dalam pelayanan rawat inap, dimana jumlah pasien yang dirawat seimbang dengan jumlah tempat tidur yang tersedia. Rumah sakit yang memiliki BOR > 85% sebanyak 2 RS, yaitu : RSK Charitas dan RSAB YK Madira. Hal ini menandakan perlunya penambahan tempat tidur untuk mengatasi pasien rawat inap yang jumlahnya banyak.
2. LOS (Length Of Stay)
Dari 25 rumah sakit yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang diperoleh angka rata-rata LOS sebesar 4,5 hari, ini berarti masih di bawah angka ideal yaitu 6-9 hari. Rumah sakit yang memiliki LOS < 6 hari sebanyak 22 RS yaitu: RS Khusus Mata, RSUD BARI, RS Pusri, RS Pertamina, RS Bhayangkara, RS Dr. A.K Ghani, RSI Siti Khadijah, RS Muhammadiyah, RSK Charitas, RS Myria , RS Pelabuhan, RS BRS Bunda,, RS. Karya Asih, RSAB Tiara Fatrin, RSAB YK. Madira., RSAB Ananda, RSAB Widiyanti, RSAB Azzahra, RSAB Rika Amelia, RS Sriwijaya Eye Center, RSAB Bunda Fatimah, dan RSIA Marisa. Hal ini berarti ke-22 rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan pasien rawat inap tidak membutuhkan waktu lama. Sedangkan rumah sakit yang memiliki LOS ideal 6-9 hari, yaitu RS Mohammad Hoesin. Rumah sakit yang memiliki LOS > 9 hari adalah RS Ernaldi Bahar, hal ini dikarenakan RS tersebut merawat pasien
penyusunan renja SKPD
seri pembangunan dan penguatan pemerintahan
99
3. TOI (Turn Over Interval)
Dari 25 rumah sakit yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang diperoleh angka rata-rata TOI sebesar 5,6 hari, ini berarti diatas angka TOI ideal yaitu 1-3 hari. Rumah sakit yang memiliki TOI <1 hari adalah: RSK Charitas, RS Myria, dan RSAB YK Madira. Hal ini berarti di tiga rumah sakit tersebut dalam waktu kurang dari 24 jam tempat tidur sudah ditempati pasien baru. Rumah sakit yang memiliki TOI 1-3 hari diantaranya: RS Mohammad Hoesin, RS Pusri, RS Pertamina, RS Bhayangkara, RS Dr. A.K Ghani, RSI Siti Khadijah, RS Muhammadiyah, RS Pelabuhan, dan RSAB Azzahra. Hal ini berarti 9 rumah sakit tersebut memiliki rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati 1-3 hari. Rumah sakit yang memiliki TOI >3 hari adalah RS Ernaldi Bahar, RS Khusus Mata, RSUD BARI, RS BRS Bunda, RS. Karya Asih, RSAB Tiara Fatrin, RSAB Ananda, RSAB Widiyanti, RSAB Rika Amelia, RS Sriwijaya Eye Center, RSAB Bunda Fatimah, dan RSIA Marisa. Hal ini berarti 12 rumah sakit tersebut memiliki rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati >3 hari.
4. GDR (Gross Death Rate)
Dari 25 rumah sakit yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang didapat angka rata-rata GDR sebesar 12,8%, ini berarti 12-13 pasien meninggal dari 1000 pasien keluar rawat inap. Seharusnya angka GDR seminimal mungkin, sehingga dengan angka 12,8% menandakan masih tingginya angka kematian di Rumah sakit.
5. NDR (Neth Death Rate)
Dari 25 rumah sakit yang memberikan laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang didapat angka rata-rata NDR sebesar 6,5%, ini berarti 6-7 pasien yang meninggal setelah dirawat selama 48 jam dari 1000 pasien keluar rawat inap.Angka NDR tersebut jauh diatas angka NDR ideal yaitu 2,5%. Hal ini menandakan kurang baiknya kualitas pelayanan perawatan rumah sakit.
Analisis Gambaran Pelayanan SKPD
P
ola perencanaan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang terintegrasi seringkali mengalami hambatan, karena keterbatasan informasi menyangkut kondisi daerah secara komprehensif. Data yang tersedia seringkali telah usang dan kurang bermanfaat, jika digunakan untuk merumuskan rencana pembangunan. Optimalisasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan akan dapat dicapai dengan tersedianya informasi profil SKPD yang akurat dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan komprehensif (terpadu). Hal ini berkaitan dengan penyajian gambaran pelayanan dalam Renja SKPD yang memberikan informasi tentang bidang atau sektor pengembangan dan hubungannya dengan sektor lainnya. Kemudian, dikompilasi dan diintegrasikan sesuai kebutuhan, sehingga bermanfaat dalam memetakan kondisi masyarakat dan tingkat pelayanan yang dapat dilaksanakan oleh SKPD. Hasil kajian terhadap gambaran pelayanan SKPD bermanfaat untuk memberikan pemahaman kepada pemangku kepentingan khususnya perencana tentang kondisi pelayanan di daerah untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dasar berkaitan kondisi sosial, ekonomi, pemerintahan, kependudukan, sumber daya, dan geospasial yang menjadi data utama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.Meskipun dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2009 tentang Pelayan Publik secara ekplisit tidak mengatur bentuk inovasi yang harus dilakukan dan keberhasilan praktek penerapan di berbagai daerah dalam peningkatan pelayanan publik, namun secara substansi pelaksanaan dari peraturan tersebut mengatur penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya, tentang kerja sama penyelenggara dengan pihak lain dalam pemberian pelayanan publik, pengakomodasikan hak dan kewajiban dalam pelayanan, penekanan pada standar pelayanan dan dukungan sistim informasi dalam pelayanan dan peran serta masyarakat sudah mampu diadopsi dalam bentuk inovasi pelayan publik tersebut. Terobosan positif berkenaan dengan inovasi yang dilakukan daerah haruslah diakomodasi oleh peraturan daerah, sehingga tidak mempersulit daerah untuk melakukan kreativitas dalam meningkatkan pelayanan publik. Dengan demikian, peraturan yang ada harus dipandang sebagai kerangka acuan tidak dimaksud untuk mempersempit ruang gerak inovasi, kreativitas dan terobosan lain yang telah terbukti berhasil dicapai oleh daerah.
Pengertian
Analisis gambaran pelayanan SKPD merupakan instrumen penting bagi SKPD dalam mengidentifikasi, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan informasi yang digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan serta kebijakan perencanaan. Profil pelayanan SKPD menyediakan potret kinerja pelayanan SKPD saat ini untuk memprediksi kebutuhan di masa yang akan datang. Gambaran kinerja pelayanan SKPD disusun berupa time series, maka profil tersebut diharapkan dapat memberikan informasi peta perkembangan atau kemajuan kinerja pelayanan SKPD dari waktu ke waktu dan dapat diprediksi kemungkinan kinerja pelayanan di masa yang akan datang.
Bahan Bacaan
penyusunan renja SKPD
seri pembangunan dan penguatan pemerintahan
101
Substansi gambaran pelayanan publik berupa perkembangan objek pelayanan yang terkait langsung dengan tugas dan fungsi SKPD dikaitkan dengan kegiatan tertentu untuk memberikan bantuan serta kemudahan kepada masyarakat dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Pelayanan publik berupa profil pemberian layanan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang memiliki kepentingan kepada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Seluruh kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik terutama pemerintah daerah dan SKPD dideskripsikan sesuai kriteria, struktur, dan mekanisme pelaksanaan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar pelayanan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Disamping itu, analisis gambaran pelayanan SKPD yang dilakukan pemerintah daerah memberikan informasi umum tentang potensi dan sumber daya, peta transportasi, data spatial, pertumbuhan ekonomi dan kondisi masyarakat sangat bermanfaat untuk menggambarkan hasil kajian suatu daerah pelayanan dalam bentuk peta tematik, seperti peta rawan konflik, kemiskinan, kerentanan sosial, bencana alam, komposisi penduduk, dan sebagainya. Hasil kajian profil SKPD dan rencana pembangunan daerah sangat penting dalam menyediakan data dan fakta (evidence based) bagi perencana untuk menemukenali masalah, kondisi pelayanan, manajemen dan alternatif kegiatan sebagai penunjang perencanaan. Secara spesifik gambaran pelayanan SKPD membantu perencana untuk memetakan dan menginventarisir dinamika perkembangan kebutuhan pelayanan dan tantangan yang dihadapi organisasi atau unit kerja untuk menentukan strategi intervensi dan perubahan yang diharapkan.
Tujuan
Analisis gambaran pelayanan SKPD dimaksudkan untuk menjelaskan secara rinci kondisi pelayanan yang bersifat eksisting sebagai informasi dalam memprediksi kebutuhan jangka pendek atau 1 (satu) tahun. Kajian pelayanan mencakup gambaran umum daerah perencanaan, identifikasi terhadap berbagai aspek yang menonjol dan strategis, kinerja perkembangan pelayanan SKPD, serta kecenderungan di masa depan dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan sosial, ekonomi, budaya, politik, keamanan dan kebijakan pada periode rencana. Secara khusus, analisis gambaran pelayanan SKPD bertujuan:
a. Memberikan gambaran praktis tentang kinerja pelayanan SKPD.
b. Mengidentifikasi aspek-aspek penting dan kritis untuk segera ditangani dalam jangka pendek.
c. Menilai status, posisi, dan kedudukan serta kinerja SKPD terhadap Standar Pelayanan Minimal.
d. Memberikan gambaran terkait isu-isu prioritas SKPD mencakup kapasitas dan potensi pembangunan yang dimiliki SKPD.
e. Memperkirakan prediksi jangka pendek (tahunan) atas berbagai aspek pelayanan SKPD.
Manfaat
Analisis gambaran pelayanan SKPD diharapkan bermanfaat dalam mengidentifikasi: a. Tingkat capaian kinerja SKPD berdasarkan sasaran/target Renstra SKPD dan Renja
SKPD pada tahun sebelumnya, menurut SPM untuk urusan wajib, dan indikator sesuai urusan yang menjadi tugas dan fungsi SKPD.
b. Mengenal potensi dan permasalahan pelayanan SKPD berdasarkan tinjauan kinerja tahun sebelumnya; dan
c. Mengenal potensi dan permasalahan aspek pengelolaan keuangan SKPD sebagai dasar penentukan pagu indikatif untuk program dan kegiatan tahunan.
Karakteristik
Analisis gambaran pelayanan SKPD merupakan kajian terhadap infomasi dan data yang dapat menyajikan karakteristik khusus terhadap bentuk bentuk layanan publik yang menjadi tugas dan fungsinya baik berupa jasa dan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah daerah di tingkat pusat, kabupaten/kota (daerah) dan di lingkungan badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berikut diuraikan beberapa karakteristik yang perlu dipenuhi dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat yang menjadi panduan dalam penyusunan Renja SKPD:
a. Adaptabilitas layanan. Hal ini berarti derajat perubahan layanan yang diberikan oleh SKPD sesuai dengan tuntutan perubahan atau kebutuhan masyarakat pengguna.
b. Posisi tawar masyarakat sebagai pemanfaat layanan SKPD. Semakin tinggi posisi tawar masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas, maka akan semakin tinggi pula peluang pengguna untuk meminta pelayanan yang lebih baik.
c. Tipe pasar berupa sifat dan karakteritik yang menggambarkan jumlah penyelenggara pelayanan yang ada dan hubungannya dengan pengguna jasa layanan.
d. Locus control yang menjelaskan siapa yang memegang kontrol atas transaksi, apakah pengguna ataukah penyelenggara pelayanan.
e. Sifat pelayanan yang menjelaskan secara konkret karakteristik pengelolaan sarana dan prasarana penunjang termasuk program yang menunjukkan kepentingan pengguna atau penyelenggara pelayanan.
penyusunan renja SKPD
seri pembangunan dan penguatan pemerintahan
103
Cakupan pelayanan SKPD menyangkut aspek pokok yang menjadi tugas dan peran institusi pemerintah daerah dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Dalam Undang-Undang No 25 tahun 2009 terdapat lima hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan kinerja pelayanan publik, yaitu:
a. Penyelenggaraan pelayanan publik menjadi kewajiban dan beban pemerintah, namun dalam perkembangannya pemerintah memiliki keterbatasan dalam memberikan layanan kepada masyarakat yang berkualitas. Oleh karena itu, tuntutan adanya kerjasama (kemitraan) dengan pihak lain menjadikan penting bagi perbaikan kualitas pelayanan publik. Hal ini diatur dalam pasal 13 tentang kerja sama penyelenggara dengan pihak lain dalam pemberian Pelayanan. b. Pengakomodasian hak dan kewajiban dalam pelayanan (pasal 14).
c. Penekanan perlunya Standar Pelayanan (Pasal 22) dan Juga maklumat Pelayanan (pasal 22).
d. Pentingnya Dukungan Sistim Informasi dalam Pelayanan (Pasal 23). e. Perlunya peran serta Masyarakat (Pasal 39).