BAB II KAJIAN TEORI
A. Kompetensi Profesional Guru
3. Indikator Kompetensi Profesional Guru
Keberhasilan pembelajaran sebagian besar berada di tangan guru. Guru sangat berperan membantu peserta didik dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, guru dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pengajar perlu
28
Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan…, h. 37
29
H. Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan kontemporer…, h. 217
30
memahami dan menguasai kompetensi secara profesional guna terciptanya mutu pengajaran.
Salah satu dari tahapan mengajar yang harus dilalui oleh guru profesional adalah “menyusun perencanaan pengajaran” atau dengan kata lain disebut juga dengan “mendisain program pengajaran”. Dalam implementasi kurikulum atau pelaksanaan pengajaran, mendisain program pengajaran, melaksanakan proses belajar mengajar dan menilai hasil belajar siswa, merupakan rangkaian kegiatan yang saling berurutan dan tak terpisah satu sama lainnya (terpadu).31
Dalam kaitannya dengan pendapat ahli di atas, penulis akan menguraikan satu persatu tahapan-tahapan mengajar tersebut.
1) Mendisain Program Pengajaran
Proses belajar mengajar merupakan interaksi edukatif yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam situasi tertentu. Mengajar atau lebih spesifik lagi melaksanakan proses belajar mengajar bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan dapat terjadi begitu saja tanpa direncanakan sebelumnya, akan tetapi mengajar itu merupakan suatu kegiatan yang semestinya direncanakan dan didisain sedemikian rupa mengikuti langkah-langkah dan prosedur tertentu. Sehingga dengan demikian pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Waini Rasyidin yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin mengemukakan bahwa perencanaan adalah pemetaan langkah-langkah ke arah tujuan. Perencanaan sangat diperlukan guru karena alokasi sumber, terutama jatah waktu yang terbatas.
Adapun perencanaan itu oleh guru, meskipun tidak ditulis lengkap, seyogianya meliputi; (1) penentuan tujuan mengajar, (2) pemilihan materi sesuai dengan waktu, (3) strategi optimum, (4) alat dan sumber, serta (5) kegiatan belajar siswa dan (6) evaluasi.32
Menurut Newman & Legan yang dikutip oleh Muhibbin Syah mengemukakan bahwa empat langkah besar sebagai prosedur penyusunan rencana pengelolaan PBM. Langkah-langkah ini pada asasnya hanya merupakan “pendahuluan” PBM yang akan diselenggarakan.
31
H. Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum…, h. 82
32
19
Pertama, merumuskan dan menetapkan spesifikasi output (kekhususan dan tingkat keahlian para lulusan) yang menjadi target yang hendak dicapai dengan memperhatikan aspirasi dan selera serta kebutuhan masyarakat yang memerlukan output tersebut.
Kedua, mempertimbangkan dan memilih cara atau pendekatan dasar (basic way) proses belajar mengajar yang dipandang paling efektif untuk mencapai target tadi.
Ketiga, mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah tepat yang akan ditempuh sejak titik awal hingga titik akhir yakni tercapainya hasil PBM.
Keempat, mempertimbangkan dan menetapkan kriteria (ukuran yang menjadi dasar) dan standar (tolok ukur/patokan) yang akan dipergunakan untuk mengevaluasi taraf keberhasilan PBM.
Selanjutnya, untuk menjamin terlaksananya prosedur perencanaan tadi, guru perlu menyusun langkah-langkah konkret dan operasional untuk segera diimplementasikan (dilaksanakan) dalam PBM. Langkah-langkah konkret ini, meliputi kegiatan-kegiatan pokok seperti tersebut di bawah ini.
Pertama, guru hendaknya merumuskan dan menetapkan tujuan pembelajaran umum (TPU) dan tujuan pembelajaran khusus (TPK) yang sesuai dengan pokok bahasan/materi bidang studi yang akan diajarkan. Caranya, dengan menentukan spesifikasi dan kualifikasi kemampuan tertentu yang harus dikuasai para siswa setelah mengikuti PBM.
Kedua, guru hendaknya memilih dan menetapkan sistem pendekatan belajar mengajar yang dipandang paling cocok (efisien dan efektif) dengan pokok bahasan yang akan disajikan sebagai pegangan dalam merencanakan dan mengorganisasikan PBM dan pengalaman belajar (learning experience) para siswa yang dibutuhkan seperti bertanya jawab, berdiskusi dan sebagainya. Dalam hal ini guru dapat memilih satu instructional system (sistem pengajaran).
Ketiga, menetapkan kriteria berupa norma atau batas tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan minimum yang dicapai para siswa, misalnya penentuan skor passing grade. Penetapan kriteria dan passing grade ini selanjutnya diberlakukan
untuk pedoman evaluasi prestasi dan umpan balik bagi penyempurnaan penggunaan sistem instruksional pada sesi-sesi PBM selanjutnya.33
Pada sumber yang sama Muhibbin Syah mengemukakan bahwa untuk merealisasikan fungsi guru sebagai designer of instruction (perancang pengajaran), maka setiap guru memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar. Rancangan tersebut sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut.
1. Memilih dan menentukan bahan pelajaran 2. Merumuskan tujuan penyajian bahan pelajaran
3. Memilih metode penyajian bahan pelajaran yang tepat 4. Menyelenggarakan kegiatan evaluasi prestasi belajar.34
Selain itu, dalam perencanaan belajar mengajar yang tepat dan mengarah pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai, maka kemampuan potensial guru yang dikembangkan oleh Tim Dosen Pembina Keguruan IKIP Jakarta yang dikutip oleh Abdullah Idi, mencakup;
- Merumuskan tujuan instruksional;
- Memanfaatkan sumber-sumber materi dan belajar; - Mengorganisasikan materi pelajaran;
- Membuat, memiliki dan menggunakan media pendidikan yang tepat;
- Menguasai, memilih dan melaksanakan metode penyampaian yang tepat untuk mata pelajaran tertentu;
- Mengetahui dan menggunakan assesment siswa;
- Mengatur interaksi belajar mengajar, sehingga efektif dan tidak membosankan;
- Mengembangkan semua kemampuan yang dimilikinya ke tingkat yang lebih efektif dan efisien.35
33
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), Cet. Ke-8,h. 242-243
34
21
2) Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Muhibbin Syah mengemukakan bahwa di antara kegiatan-kegiatan pengelolaan proses belajar mengajar, yang terpenting ialah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya, sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdayaguna dan berhasilguna.
Selain itu, kondisi dan situasi tersebut perlu diciptakan sedemikian rupa agar proses komunikasi baik dua arah maupun multiarah antara guru dan siswa dalam PBM dapat berjalan secara demokratis. Alhasil, baik guru sebagai pengajar maupun siswa sebagai pelajar dapat memainkan peranan masing-masing secara integral dalam konteks komunikasi instruksional yang kondusif (yang membuahkan hasil).36
Menurut Subandijah yang dikutip oleh Abdullah Idi mengemukakan bahwa dalam kaitannya dengan kemampuan guru dalam menciptakan suasana pengajaran yang kondusif agar efektivitas tercipta dalam proses pengajaran, maka guru perlu memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode mengajarnya, memusatkan pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan.37
Pada sumber yang sama Abdullah Idi mengemukakan bahwa peranan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalah:
- Merencanakan unit pengajaran;
- Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik; - Menguraikan kegiatan belajar yang sesuai;
- Menghubungkan pengalaman belajar dengan minat peserta didik secara individual;
- Mengorganisasikan kurikulum;
- Mengevaluasi kemajuan peserta didik;38
35
Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), Cet. Ke-1, h. 160-161
36
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru…, h. 251
37
Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik…, h. 16
38
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan bahwa ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut.
1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. 2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan
pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.39
3) Menilai Hasil Belajar Siswa
Penilaian atau evaluasi menurut Roestiyah. N.K. yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.40
Menurut Hamid Hasan yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti dari sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan tersebut dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau sesuatu kesatuan tertentu. Pemberian pertimbangan nilai dan arti tersebut haruslah berdasarkan kriteria tertentu; jadi tidak dapat dilakukan asal saja. Tanpa kriteria yang jelas pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukan suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi.41
Sedangkan evaluasi pengajaran secara umum menurut Harjanto adalah “penilaian/penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah
39
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), Cet. Ke-1, h. 5-6
40
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar…, h. 58
41
23
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum. Hasil penilaian ini dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun kualitatif.42
Pada asasnya, kegiatan evaluasi prestasi belajar itu seperti kegiatan belajar itu sendiri, yakni kegiatan akademik yang memerlukan kesinambungan. Evaluasi idealnya berlangsung sepanjang waktu dan fase kegiatan belajar selanjutnya. Artinya, apabila hasil evaluasi tertentu menunjukkan kekurangan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan merasa terdorong untuk melakukan kegiatan pembelajaran perbaikan (relearning). Sebaliknya, bila evaluasi tertentu menunjukkan hasil yang memuaskan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan termotivasi untuk meningkatkan volume kegiatan belajarnya agar materi pelajaran lain yang lebih kompleks dapat pula dikuasai.43
Beberapa aktivitas yang perlu dilakukan oleh pengajar dalam menilai pencapaian siswa selama proses belajar mengajar berlangsung menurut Ambo E. Abdullah yang dikutip oleh H. Syafruddin Nurdin adalah penilaian pada permulaan (pretest) proses belajar mengajar dimaksudkan agar guru mampu mengetahui kesiapan siswa terhadap bahan pelajaran yang akan diajarkan, yang hasilnya akan dipakai untuk memantapkan strategi mengajar. Penilaian proses belajar mengajar mendapat balikan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Penilaian pada akhir proses belajar mengajar untuk mengetahui capaian siswa terhadap tujuan yang telah ditetapkan.44
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:
1. Tes Formatif
Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.
2. Tes Subsumatif
Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran
42
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), Cet. ke-1, h. 277
43
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru…, h. 251-252
44
daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.
3. Tes Sumatif
Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (ranking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.45
Adapun fungsi pokok evaluasi dalam proses belajar mengajar secara garis besar menurut Harjanto sebagai berikut:
a. Untuk mengukur kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar mengajar selama jangka waktu tertentu.
b. Untuk mengukur sampai di mana keberhasilan sistem pengajaran yang digunakan.
c. Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka melakukan perbaikan proses belajar mengajar.
Selain itu hasil evaluasi pengajaran juga dapat digunakan untuk: a. Bahan pertimbangan bagi bimbingan individual peserta didik.
b. Membuat diagnosis mengenal kelemahan-kelemahan dan kemampuan peserta didik.
c. Bahan pertimbangan bagi perubahan atau perbaikan kurikulum.46