BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Koordinasi
5. Indikator Koordinasi
Menurut Handayaningrat (2002:80), koordinasi dalam proses manajemen dapat diukur melalui indikator:
a. Komunikasi
1) Ada tidaknya informasi
2) Ada tidaknya teknologi informasi b. Kesadaran pentingnya koordinasi
1) Tingkat pengetahuan pelaksana terhadap koordinasi 2) Tingkat ketaatan terhadap hasil koordinasi
c. Kompetensi partisipan
1) Ada tidaknya pejabat yang berwenang terlibat
2) Ada tidaknya ahli dibidang pembangunan yang terlibat d. Kesepakatan dan komitmen
1) Ada tidaknya bentuk kesepakatan 2) Ada tidaknya pelaksana kegiatan
3) Ada tidaknya sanksi bagi pelanggar kesepakatan 6. Hambatan Dalam Pelaksanaan Koordinasi
Menurut Handayaningrat (2002:129), berbagai faktor yang dapat menghambat tercapainya koordinasi itu adalah sebagai berikut:
a. Hambatan-hambatan dalam koordinasi vertikal (struktural)
Dalam koordinasi vertikal (struktural) sering terjadi hambatan-hambatan disebabkan perumusan tugas, wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap satuan kerja (unit kerja) kurang jelas. Disamping itu adanya hubungan dan tata kerja serta prosedur kurang dipahami oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan kadang-kadang timbul keragu-raguan diantara mereka. Sebenarnya hambatan-hambatan yang demikian itu tidak perlu karena antara yang mengkoordinasikan dan yang dikoordinasikan ada hubungan komando dalam susunan organisasi yang bersifat hierarkis.
b. Hambatan-hambatan dalam koordinasi Fungsional
Hambatan-hambatan yang timbul pada koordinasi fungsional baik yang horizontal maupun diagonal disebabkan karena antara yang mengkoordinasikan dengan yang dikoordinasikan tidak terdapat hubungan hierarkis (garis komando). Sedangkan hubungan keduanya terjadi karena adanya kaitan bahkan interdepedensi atas fungsi masing-masing.
7. Fungsi dan Tujuan Koordinasi
Menurut Handoko (2003:196), fungsi koordinasi yaitu karena adanya kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksananya. Hal ini juga ditegaskan oleh Handayaningrat (2005:88), bahwa koordinasi dan komunikasi adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan.
Selain itu, Handayaningrat juga mengatakan bahwa koordinasi dan kepemimpinan (leadership) adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena satu sama lain saling mempengaruhi.
Terdapat 3 (tiga) tujuan koordinasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Thompson dalam Handoko (2003:196), yaitu:
a. Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence), bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang lain dalam melaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir;
b. Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependece), di mana suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dulu sebelum satuan yang lain dapat bekerja; dan
c. Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence), merupakan hubungan memberi dan menerima antar satuan organisasi.Ketiga hubungan saling ketergantungan ini dapat digambarkan seperti terlihat pada diagram berikut ini.
Lebih lanjut Handoko (2003:196), juga menyebutkan bahwa derajat koordinasi yang tinggi sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling ketergantungan adalah tinggi. Koordinasi juga sangat dibutuhkan bagi organisasi-organisasi yang menetapkan tujuan yang tinggi.
B. Konsep Formulasi Kebijakan 1. Pengertian Formulasi Kebijakan
Jones (1996:149), menerangkan bahwa formulasi merupakan turunan dari formula yang berarti untuk pengembangan metode, rencana untuk tindakan dalam suatu masalah. Ini merupakan permulaan dari kebijakan pengembangan fase atau tahap dalam kebijakan publik. Hal yang paling khas dalam tahap ini adalah bagaimana menyatukan persepsi seseorang tentang kebutuhan dan kepentingan masyarakat tentang kebutuhan yang muncul di masyarakat, bagaimana dilaksanakan, siapa yang terlibat, dan siapa yang dapat manfaat atau keuntungan dari issue tersebut. Formulasi merupakan proses yang lebih menyeluruh, termasuk perencanaan dan usaha yang kurang sistemik untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap masalah-masalah publik.
Menurut Rusli (2013:30), kebijakan atau yang sering dipersamakan maknanya dengan kata policy adalah sebuah kata yang dalam implikasinya bisa digunakan secara luas (makro) atau sempit (mikro). Kebijakan juga terkait dengan sebuah kewenangan, namun ia memiliki ruang lingkup atau keterbatasan sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya. Konsekuensinya tidak semua orang atau pihak memilikinya, dalam arti bisa membuat kebijakan apa saja, meskipun ia adalah pejabat atau penyelenggara negara. Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian, bahwa kepada orang atau pihak tertentu kita meminta kebijakan terhadap urusan tertentu dan kepada pihak lain kita meminta kebijakan dalam urusan yang lain.
Tjokroamidjojo dalam Islamy (1991:24), mengatakan bahwa policy formulation sama dengan pembentukan kebijakan merupakan serangkaian tindakan pemilihan berbagai alternatif yang dilakukan secara terus menerus dan tidak pernah selesai, dalam hal ini didalamnya termasuk pembuatan keputusan.
Menurut Winarno (2004:91-92), Formulasi kebijakan publik adalah langkah yang paling awal dalam proses kebijakan publik secara keseluruhan. Oleh karenanya, apa yang terjadi pada fase ini akan sangat menentukan berhasil tidaknya kebijakan publik yang dibuat itu pada masa yang akan datang. Proses pembentukan kebijakan melibatkan aktivitas pembuatan keputusan yang cenderung mempunyai percabangan yang luas, mempunyai perspektif jangka panjang dan penggunaan sumber daya yang kritis untuk meraih kesempatan yang diterima dalam kondisi lingkungan yang berubah. Pembentukan kebijakan merupakan proses sosial yang dinamis dengan proses intelektual yang lekat di dalamnya. Ini berarti bahwa proses pembentukan kebijakan merupakan suatu proses yang melibatkan proses-proses sosial dan proses intelektual.
Formulasi kebijakan publik adalah sebuah tahap dalam proses kebijakan dalam mana sebuah isu yang menjadi agenda memerintah diteruskan dalam bentuk hukum publik. Karena pengagendaan suatu isu pada dasrnya proses artikulasi dan agregasi yang merupakan fungsi input, sedangkan yang disebut hukum publik tidak lain adalah output sistem politik.
Pada tahap formulasi kebijakan, analisis kebijakan perlu mengumpulkan dan menganalisis informasi yang berhubungan dengan masalah yang bersangkutan, kemudian berusaha mengembangkan alternatif-alternatif kebijakan,
membangun dukungan dan melakukan negosiasi, sehingga pada sebuah kebijakan yang dipilih (Mustari, 2013:66). Sedangkan menurut Udoji dalam Madani (2011:69), merumuskan secara terperinci pembuatan/penyusunan kebijakan negara (public policy making/policy formulation) sebagai keseluruhan proses yang menyangkut pengartikulasian dan pendefinisian masalah, perumusan kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dalam bentuk tuntutan-tuntutan politik, penyaluran tuntutan-tuntutan tersebut ke dalam sistem politik, pengupayaan pemberian sanksi-sanksi atau legitimasi dari arah tindakan yang dipilih, pengesahan dan pelaksanaan atau implementasi, monitoring dan peninjauan kembali/umpan balik.
Lebih lanjut menurut Samuels dalam Madani (2011:154), menyebutkan ada dua kemungkinan perubahan yang dapat dilakukan oleh legislatif terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh eksekutif, yaitu; pertama, mengubah jumlah anggaran dan ke dua, mengubah distribusi belanja/pengeluaran dalam angaran.
Demikian halnya Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Gowa untuk tahun 2015, dimana mengalami peningkatan sebesar 187 miliar lebih atau mengalami kenaikan sebesar 16,72 persen jika dibandingkan dengan tahun anggaran 2014. Adapun sumber penerimaan tersebut diperoleh dari 3 (tiga) sumber pokok yakni Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Adanya rencana anggaran yang diusulkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Gowa kepada DPRD Gowa untuk tahun 2015 tersebut dilihat berdasarkan prioritas utama program pembangunan yang diarahkan kepada bidang infrastruktur, pendidikan dan bidang-bidang
pembangunan yang dapat memacu peningkatan indeks daya beli para masyarakat di Kabupaten Gowa tanpa mengabaikan sektor-sektor pembangunan lainnya dalam mencapai target-target RPJMD 2011-2015.
2. Interaksi Aktor-aktor dalam Formulasi Kebijakan Publik
Pada pembahasan mengenai kebijakan publik, maka aktor mempunyai posisi yang sangat strategis bersama-sama dengan faktor kelembagaan (institusi) kebijakan itu sendiri. Interaksi aktor dan kelembagaan merupakan penentu proses perjalanan dan strategi yang dilakukan oleh komunitas kebijakan dalam makna yang lebih luas.
Menurut howlett dan Ramesh dalam Madani (2011:36), menjelaskan bahwa pada prinsipnya aktor kebijakan adalah mereka yang selalu dan harus terlibat dalam setiap proses analisa kebijakan publik, baik berfungsi sebagai perumus maupun kelompok penekan yang senantiasa aktif dan proaktif di dalam melakukan interaksi dan interelasi di dalam konteks analisis kebijakan publik.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Anderson dalam Madani (2011:37) bahwa aktor kebijakan meliputi aktor internal birokrasi dan aktor eksternal yang selalu mempunyai konsern terhadap kebijakan. Aktor individu maupun kelompok yang turut serta dalam setiap perbincangan dan perdebatan tentang kebijakan publik.
Berdasarkan uraian dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aktor kebijakan yaitu seorang maupun sekelompok orang yang terlibat dalam penentu kebijakan, baik pada proses perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan publik. Aktor kebijakan ini dapat berasal dari pejabat pemerintah, masyarakat, kaum buruh, maupun kelompok kepentingan.
Memperhatikan berbagai ragam dan pendekatan dalam memahami berbagai aktor yang terlibat dalam proses kebijakan publik, maka konsep dan konteks aktor adalah sangat terkait dengan macam dan tipologi kebijakan yang akan dianalisis. Dalam perspektif formulasi masalah kebijakan publik, maka aktor yang terlibat secara garis besarnya dapat dipilah menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok dalam organisasi birokrasi (the official policy makers) dan yang lain adalah kelompok di luar birokrasi (un-official policy maker).
Kelompok yang terlibat dalam proses kebijakan publik adalah kelompok formal dan kelompok non formal. Kelompok formal seperti badan-badan administrasi pemerintah yang meliputi: eksekutif, legislatif maupun yudikatif.
Sementara itu, kelompok non formal terdiri dari:
a. Kelompok kepentingan (interest groups), seperti kelompok buruh, dan kelompok perusahaan;
b. Kelompok partai politik; dan c. Warga negara individual.
Kelompok besar tersebut kemudian jika dianalisis secara lebih detail maka aktor kebijakan yang sering kali terlibat dalam proses perundingan dan pengambilan kebijakan internal birokrasi dapat berupa:
a. Mereka yang mempunyai kekuasaan tertentu (authoritative).
Yang pertama adalah relevan dengan konsep yang selalu melibatkan tiga oknum penting di dalamnya yaitu lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
b. Mereka yang tergolong sebagai partisipan atau aktor tidak resmi
Kelompok yang kedua adalah mereka yang secara serius seringkali terlibat di luar kelompok tersebut baik secara langsung mendukung ataupun menolak hasil kebijakan yang ada. Pada kelompok yang kedua inilah seringkali wujudnya dapat berupa kelompok kepentingan, aktor partai politik, aktor para ahli dan sarjana atau enterpreneur serta para intelektual yang ada. (Madani, 2011:41).
C. Konsep Pemerintah Daerah 1. Pengertian Pemerintah Daerah
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat 2 UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Melihat definisi pemerintahan daerah seperti yang telah dikemukakan di atas, maka yang dimaksud pemerintahan daerah disini adalah penyelenggaraan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi dan unsur penyelenggara pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota dan perangkat daerah. Sedangkan menurut Bastian (2001:203), menjelaskan bahwa Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah.
Menurut Suhady dalam Tjandra (2009:197), Pemerintah (government) ditinjau dari pengertiannya adalah the authoritative direction and administration of the affairs of men/women in a nation state, city, ect. Dalam bahasa Indonesia
sebagai pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan masyarakat dalam sebuah Negara, kota dan sebagainya. Sedangkan menurut Misdyanti dan Kartasapoetra (1993:17), Pemerintah daerah adalah penyelenggara pemerintah di daerah, dengan kata lain pemerintah daerah adalah pemengang kemudi dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah di daerah.
Pemerintah daerah mempunyai kewenangan besar untuk merencanakan, merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan dan program pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Agustino, 2008:1). Sekarang Pemerintah daerah tidak lagi sekedar sebagai pelaksana operasional kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan dan ditentukan oleh pusat, tetapi lebih dari itu diharapkan dapat menjadi agen penggerak pembangunan di tingkat daerah atau lokal.
2. Kewenangan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah mempunyai kewenangan-kewenangan tertentu. Adapun kewenangan pemerintah daerah yaitu meliputi:
a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. Ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
d. Penyediaan sarana dan prasarana;
e. Penanganan bidang kesehatan;
f. Penyelenggaraan pendidikan;
g. Penanggulangan masalah sosial;
h. Pelayanan bidang ketenagakerjaan;
i. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
j. Pengendalian lingkungan hidup;
k. Pelayanan pertahanan;
l. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
m. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. Pelayanan administrasi penanaman modal;
o. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya;
p. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan (Sunarno, 2008: 35-36).
Melihat konteks di atas kewenangan dari pemerintah daerah sangatlah kompleks, karena mempunyai wewenang yang strategis dalam berbagai sektor.
Kewenangan-kewenangan tersebut diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintah daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan daerah yang dilakukan secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, adil, dan taat pada peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, perkembangan suatu daerah dipengaruhi oleh kinerja dari dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang memiliki kinerja baik dan profesional akan mampu meningkatkan potensi daerah yang dikelolanya.
D. Koordinasi Pemerintah Daerah Dengan DPRD Dalam Proses Penyusunan APBD Di Kabupaten Gowa
1. Penyusunan KUA dan PPAS
Adapun proses penyusunan KUA dan PPAS di Kabupaten Gowa, adalah sebagai berikut:
a) TAPD menyusun rancangan awal KUA. Rancangan Awal KUA tersebut memuat: pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan Pusat-Daerah, prinsip dan kebijakan penyusunan APBD, teknis penyusunan APBD, dan hal-hal khusus lainnya;
b) TAPD menyampaikan rancangan awal KUA kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gowa;
c) Sekretaris Daerah (Sekda) menyetujui rancangan awal KUA dan menyerahkan rancangan KUA kepada Kepala Daerah (Bupati);
d) Kepala Daerah (Bupati) mengotorisasi rancangan KUA dan menyerahkan kepada DPRD Gowa;
e) DPRD membahas rancangan KUA bersama Pemda Gowa untuk menghasilkan KUA dan Nota Kesepakatan KUA;
f) Berdasarkan KUA dan Nota Kesepakatan KUA, TAPD menyusun rancangan awal PPAS dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: Menentukan skala prioritas urusan, Menentukan urutan program tiap urusan, Menyusun plafon anggaran sementara tiap program;
g) TAPD Kabupaten Gowa menyampaikan rancangan awal PPAS kepada Sekretaris Daerah (Sekda);
h) Sekretaris Daerah (Sekda) menyetujui rancangan awal PPAS menjadi rancangan PPAS dan menyerahkan rancangan PPAS kepada Kepala Daerah (Bupati);
i) Kepala Daerah (Bupati) mengotorisasi rancangan PPAS dan menyerahkan kepada DPRD Gowa;
j) DPRD Gowa membahas rancangan PPAS bersama Pemda untuk menghasilkan PPA dan nota kesepakatan PPA.
2. Penyiapan Pedoman Penyusunan RKA-SKPD
Adapun langkah awal penyusunan Raperda APBD Kabupaten Gowa, adalah sebagai berikut:
a) TAPD menyiapkan Rancangan awal Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada KUA dan PPA yang telah disepakati serta dokumen-dokumen pendukung lain seperti Analisis Standar Belanja, SPM, dan Standar Satuan Harga;
b) TAPD menyerahkan Rancangan awal Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada Sekda;
c) Sekda menyetujui rancangan awal Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD dan meneruskannya kepada KDH;
d) KDH mengotorisasi rancangan Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA SKPD menjadi Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA SKPD;
e) Sekda mengkoordinasi penyebaran Surat Edaran (SE) KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA SKPD kepada SKPD-SKPD di Kabupaten Gowa.
3. Penyusunan RKA-SKPD
Penyusunan RKA-SKPD di Kabupaten Gowa, diuraikan sebagai berikut:
a) SKPD menerima Surat Edaran KDH tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD. Berdasarkan SE tersebut, SKPD mulai menyusun RKA masing-masing;
b) SKPD menyusun Rincian Anggaran Pendapatan untuk menghasilkan RKA-SKPD. Form RKA-SKPD disiapkan hanya oleh SKPD pemungut pendapatan;
c) SKPD menyusun Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung untuk menghasilkan RKA-SKPD;
d) SKPD menyusun Rincian Anggaran Belanja Langsung masing-masing kegiatan untuk menghasilkan RKA-SKPD untuk kemudian digabung dalam rekapitulasi Rincian Anggaran Belanja Langsung untuk menghasilkan RKA- SKPD;
e) SKPD yang bertindak sebagai SKPKD menyusun Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah untuk menghasilkan RKA- SPKD;
f) SKPD yang bertindak sebagai SKPKD menyusun Rincian Pengeluaran Pembiayaan Daerah untuk menghasilkan RKA- SKPD;
g) SKPD mengkompilasi dokumen RKA-SKPD di atas menjadi RKA-SKPD.
RKA-SKPD tersebut selanjutnya diserahkan kepada PPKD untuk proses peyusunan Raperda APBD.
4. Penyiapan Raperda APBD Kabupaten Gowa
Adapun proses Penyiapan Raperda APBD Kabupaten Gowa yaitu:
a) RKA-SKPD yang telah disiapkan oleh masing-masing SKPD diserahkan kepada PPKD untuk memulai penyusunan Raperda APBD;
b) PPKD menyerahkan RKA-SKPD kepada TAPD untuk dilakukan pembahasan (Pembahasan dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, SAB, standar harga, SPM, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD.
Apabila hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian, SKPD harus melakukan penyempurnaan);
c) TAPD menyerahkan RKA-SKPD yang telah sesuai kepada PPKD untuk dikompilasi menjadi Raperda APBD;
d) Dengan data tambahan berupa Laporan Keuangan dan Daftar Pegawai, PPKD melakukan kompilasi atas RKA-SKPD menjadi Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan;
e) PPKD menyerahkan Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan kepada Sekda;
f) Sekda menyerahkan Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan kepada KDH dengan sebelumnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
5. Koordinasi antara Pemda Gowa dengan DPRD dalam Pembahasan Raperda APBD
Adapun koordinasi yang terjadi antara Pemda Gowa dengan DPRD dalam pembahasan Raperda APBD adalah sebagai berikut:
a) KDH menyusun Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan;
b) KDH menyerahkan Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan kepada DPRD Gowa;
c) DPRD bersama Pemda Gowa membahas kesesuaian Raperda APBD beserta lampiran dan Nota Keuangan dengan KUA dan PPAS;
d) Setelah dinyatakan sesuai DPRD dan KDH membuat persetujuan bersama Raperda APBD;
e) DPRD Gowa menyerahkan persetujuan bersama Raperda APBD kepada PPKD;
f) PPKD, berdasarkan persetujuan bersama Raperda APBD dan RKA-SKPD, menyiapkan Raper KDH Penjabaran APBD;
g) PPKD menyerahkan Raper KDH penjabaran APBD kepada KDH.
E. Kerangka Pikir
Koordinasi Pemerintah Daerah dengan DPRD sangat diperlukan dalam memformulasikan kebijakan. Hal ini dilakukan agar tercipta efektivitas dalam kebijakan tersebut. Sehingga dalam melaksanakan kebijakan tersebut pemerintah dapat berjalan sesuai dengan koridor yang berlaku. Termasuk dalam hal ini adalah koordinasi yang dilakukan Pemerintah Daerah dengan DPRD dalam memformulasikan kebijakan anggaran. Formulasi kebijakan anggaran merupakan bagian dari peraturan sebagai tata laksana kinerja pemerintah yang membutuhkan
koordinasi antara Pemerintah Daerah dengan DPRD. Hal ini dilakukan untuk menjaga kinerja pemerintah agar sesuai dengan peraturan yang telah disepakati bersama. Koordinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan DPRD dalam memformulasikan kebijakan anggaran dinilai berdasarkan unsur unsur seperti: komunikasi, kesadaran pentingnya koordinasi, kompetensi partisipan, kesepakatan dan komitmen.
Andini dkk (2010:1), mengemukakan bahwa Koordinasi didefinisikan sebagai proses pengintegrasian (penyatuan) tujuan dan kegiatan perusahaan pada satuan yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien. Koordinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawan, sebab tanpa koordinasi setiap karyawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus diikuti, yang akhirnya akan merugikan organisasi itu sendiri. Sedangkan menurut Menurut Terry dalam Hasibuan (2006:85), berpendapat bahwa koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam pada sasaran yang telah ditentukan.
Menurut Winarno (2004:91-92), Formulasi kebijakan publik adalah langkah yang paling awal dalam proses kebijakan publik secara keseluruhan. Oleh karenanya, apa yang terjadi pada fase ini akan sangat menentukan berhasil tidaknya kebijakan publik yang dibuat itu pada masa yang akan datang. Proses pembentukan kebijakan melibatkan aktivitas pembuatan keputusan yang cenderung mempunyai percabangan yang luas, mempunyai perspektif jangka
Faktor yang mempengaruhi:
panjang dan penggunaan sumber daya yang kritis untuk meraih kesempatan yang diterima dalam kondisi lingkungan yang berubah.
Pada tahap formulasi kebijakan, analisis kebijakan perlu mengumpulkan dan menganalisis informasi yang berhubungan dengan masalah yang bersangkutan, kemudian berusaha mengembangkan alternatif-alternatif kebijakan, membangun dukungan dan melakukan negosiasi, sehingga pada sebuah kebijakan yang dipilih (Mustari, 2013:66). Sedangkan menurut Samuels dalam Madani (2011:154), menyebutkan ada dua kemungkinan perubahan yang dapat dilakukan oleh legislatif terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh eksekutif, yaitu;
pertama, mengubah jumlah anggaran dan ke dua, mengubah distribusi belanja/pengeluaran dalam angaran.
Untuk melihat penelitian ini lebih jelas, maka berikut penulis mencoba menggambarkan alur penelitian seperti yang tampak di bawah ini:
Bagan Kerangka Pikir
F. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dari kerangka pikir di atas, maka fokus penelitian ini adalah terkait pelaksanaan koordinasi antara pemerintah daerah dengan DPRD dalam memformulasikan kebijakan anggaran di kabupaten Gowa dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam koordinasi antara antara pemerintah daerah dengan DPRD dalam pembuatan formulasi kebijakan anggaran di Kabupaten Gowa.
G. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka deskripsi fokus penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Koordinasi yang dimaksud di sini adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur antara pemerintah daerah dengan DPRD untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis dalam memformulasikan kebijakan anggaran di Kabupaten Gowa.
2. Efektifitas kebijakan anggaran adalah melakukan koordinasi dengan tepat dalam formulasi kebijakan anggaran antara Pemerintah Daerah dengan DPRD
2. Efektifitas kebijakan anggaran adalah melakukan koordinasi dengan tepat dalam formulasi kebijakan anggaran antara Pemerintah Daerah dengan DPRD