BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Koordinasi Pemerintah Daerah Dengan DPRD Dalam
Sumber: Sub Bagian Umum dan Kepegawaian DPKAD Kab. Gowa 2015 (sesuai dengan PP Nomor 41 Tahun 2007 dan Perda Nomor 7 Tahun 2008)
B. Koordinasi Pemerintah Daerah Dengan DPRD Dalam Formulasi Kebijakan Anggaran di Kabupaten Gowa
Pelaksanaan koordinasi antara Pemerintah Daerah dengan DPRD kabupaten Gowa khususnya dalam formulasi kebijakan anggaran harus dapat
dilaksanakan secara efektif, efisien dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan koordinasi dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan dan terciptanya suatu pemahaman yang sama baik oleh Pemerintah Daerah selaku eksekutor dari kebijakan tersebut maupun DPRD selaku pembuat kebijakan (legislasi). Dalam melakukan koordinasi terkait formulasi kebijakan anggaran, maka pemerintah daerah dalam hal ini diwakilkan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) dan BAPPEDA Kabupaten Gowa harus memahami tugas dan fungsinya untuk kemudian melakukan komunikasi dengan anggota DPRD kabupaten Gowa terkait formulasi kebijakan anggaran yang akan di bahas.
1. Komunikasi
Komunikasi antara Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa dapat diartikan sebagai penyampaian ide dan pemikiran yang dituangkan ke dalam sebuah pesan baik dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa maupun sebaliknya terkait formulasi kebijakan anggaran yang akan di bahas. Hal ini merupakan salah satu proses penting/vital dalam formulasi kebijakan anggaran sebagai upaya meminimalisir berbagai kesalahan dalam penerimaan maksud dan tujuan pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak.
Komunikasi yang dilakukan antara Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa memang sangat sederhana dan mudah dipahami, tetapi dalam pelaksanaannya sangat sulit dipahami, terlebih lagi bila yang terlibat komunikasi memiliki referensi yang berbeda, atau di dalam komunikasi berjalan satu arah saja.
a. Pemberian Informasi
Pemberian informasi dapat diartikan sebagai pemberian sejumlah data-data yang telah di olah menjadi suatu informasi yang dapat berguna dan bermanfaat baik bagi Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Gowa terkait masalah pelaksanaan koordinasi dalam formulasi kebijakan anggaran di kabupaten Gowa.
Pemberian informasi secara timbal balik sangat penting, hal ini disebabkan karena informasi tersebut akan dijadikan sebagai sebuah ukuran dalam mengambil sebuah tindakan atau keputusan selanjutnya.
Adapun wawancara yang dilakukan dengan Bapak ABM, terkait pemberian informasi dalam koordinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa sebagai berikut:
“Jelas ada informasi yang masuk ke Pemerintah Daerah mengenai formulasi kebijakan anggaran yang akan dilakukan, informasi tersebut berasal dari Bupati berdasarkan aturan-aturan yang berlaku utamanya peraturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Dalam Negeri. Setelah itu baru dikeluarkan peraturan Bupati tentang rencana pembangunan jangka menengah untuk kemudian ditindak lanjuti dan dibahas secara bersama dengan DPRD kabupaten Gowa” (Hasil wawancara ABM, 3 Agustus 2015).
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa informasi yang masuk tersebut berasal dari Bupati Gowa berdasarkan aturan-aturan yang telah ada utamanya peraturan-aturan yang dikeluarkan oleh Kementrian Dalam Negeri untuk kemudian ditindak lanjuti melalui peraturan Bupati tentang rencana pembangunan jangka menengah. Ditambahkan oleh informan, bahwa informasi tersebut kemudian dibahas secara bersama-sama oleh anggota DPRD kabupaten Gowa dalam pembahasan formulasi kebijakan anggaran.
Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama di lapangan yang menemukan bahwa informasi yang berkaitan dengan pembahasan kebijakan anggaran terlebih dahulu berasal dari Bupati Gowa berdasarkan pada aturan-aturan yang berlaku termasuk peraturan-aturan dari Kementrian Dalam Negeri. Setelah memperhatikan hal tersebut, selanjutnya dituangkan ke dalam peraturan Bupati tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Konsep ini kemudian di bahas secara bersama dengan anggota DPRD untuk melahirkan sebuah kebijakan anggaran yang disepakati dan sesuai dengan porsi anggaran yang tersedia.
Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan MRS, terakait pemberian informasi dalam koordinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa sebagai berikut:
“Saya kira sudah menjadi keharusan antara pemerintah daerah dengan DPRD untuk saling bertukar informasi, hal ini sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 32 yang menyatakan bahwa DPRD dan Bupati secara bersama-sama menjalankan pemerintahan daerah. Kalau bersama-sama, maka setiap kebijakan-kebijakan daerah apalagi terkait peraturan daerah mesti dilaksanakan secara bersama pula. Contoh kasus, terkait data APBD yang akan di bahas, maka ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh pemerintah daerah dengan DPRD dalam hal ini Banggar DPRD dan Banggar eksekutif dalam membahas plafon anggaran sementara. Jadi memang harus ada informasi yang diterima oleh kedua belah pihak baik oleh pemerintah daerah maupun DPRD” (Hasil wawancara RMR, 20 Agustus 2015).
Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa pemberian informasi merupakan hal yang wajib dilakukan oleh pemerintah daerah dengan DPRD kabupaten Gowa sebelum melakukan suatu pembahasan terkait formulasi kebijakan anggaran di kabupaten Gowa. Hal tersebut sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang Nomor 32 yang menjelaskan
bahwa DPRD dan Bupati secara bersama-sama menjalankan pemerintahan daerah.
Maksud bersama-sama disini adalah segala bentuk kebijakan-kebijakan daerah apalagi terkait peraturan daerah mesti dilaksanakan secara bersama pula.
Ditambahkan oleh informan, sebagai contoh terkait data APBD yang akan di bahas, maka ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh pemerintah daerah dengan DPRD dalam hal ini Banggar DPRD dan Banggar eksekutif dalam membahas plafon anggaran sementara. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sudah jelas bahwa apapun kegiatan-kegiatan pemerintahan daerah terutama dalam kaitannya dengan formulasi kebijakan anggaran yang akan di bahas harus terlebih dahulu informasi yang diterima oleh kedua belah pihak (Pemerintah Daerah dan DPRD).
Berdasarkan penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian informasi terkait formulasi kebijakan anggaran antara Pemerintah Daeah dengan DPRD Kabupaten Gowa masih berjalan dengan baik, hal ini dapat terlihat dari tahapan-tahapan yang harus dilalui secara bersama-sama oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini diwakilkan oleh Banggar eksekutif dengan DPRD yang diwakilkan oleh Banggar DPRD dalam membahas plafon anggaran sementara berdasarkan data yang diterima oleh kedua belah pihak.
Selain itu, hal tersebut sesuai dengan penjelasan Undang-Undang Nomor 32 yang mengamanahkan bahwa DPRD dan Bupati secara bersama-sama menjalankan pemerintahan daerah. Maka, sudah menjadi keharusan dari kedua belah pihak untuk saling bertukar informasi terkait masalah-masalah kebijakan yang akan di bahas terutama terkait APBD kabupaten Gowa.
b. Teknologi Informasi
Penggunaan teknologi informasi sangat berperan dalam penyebaran informasi yang dapat didapatkan secara mudah dan cepat tanpa harus menunggu waktu yang lama. Penggunaan teknologi informasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengenai ada tidaknya teknologi informasi dalam komunikasi antara pemerintah daerah dengan DPRD dalam memformulasikan kebijakan anggaran di kabupaten Gowa. Selain hal tersebut, sejauh mana pemerintah daerah dan DPRD memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk saling berkoordinasi dalam formulasi kebijakan anggaran.
Adapun wawancara yang dilakukan dengan YCN, terkait penggunaan teknologi informasi antara pemerintah daerah dengan DPRD sebagai berikut:
“Kami senantiasa memanfaatkan sarana-sarana teknologi informasi yang tersedia, misalnya saja e_mail, handphone dan sebagainya yang digunakan sebagai alat komunikasi dan penyebaran informasi baik oleh pemerintah daerah maupun anggota DPRD. Tujuannya adalah agar koordinasi antara pemerintah daerah dengan DPRD tetap berjalan sebagaimana yang diharapkan, apalagi jika ada pembahasan anggaran yang akan dibahas secara bersama” (Hasil wawancara YCN, 4 Agustus 2015).
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa pemerintah daerah dalam hal ini diwakilkan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Gowa senantiasa memanfaatkan dan menggunakan sarana teknologi dan informasi yang tersedia dalam upayanya melakukan komunikasi dengan DPRD. Salah satu penggunaan teknologi yang sering dimanfaatkan adalah melalui via e-mail maupun handphone dalam memberikan/mengirim informasi kepada DPRD terkait anggaran pembagunan daerah yang akan dibahas secara bersama-sama begitupun sebaliknya DPKAD
kabupaten Gowa menggunakan alat teknologi tersebut dalam menerima pesan atau informasi yang terkait dengan pembahasan anggaran dari DPRD Kabupaten Gowa. Ditambahkan oleh informan bahwasanya tujuan dari pemanfaatan sarana teknologi informasi ini adalah untuk menjaga hubungan koordinasi antara Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa agar tetap berjalan secara efektif.
Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwa salah satu pendukung agar koordinasi tetap berjalan dengan lancar antara Pemerintah Daerah dengan DPRD Kabupaten Gowa adalah dengan menggunakan sarana teknologi informasi yang tersedia. Akan tetapi, dari hasil observasi tersebut, peneliti juga menemukan bahwa masih terdapat beberapa anggota DPKAD dan DPRD Kabupaten Gowa yang masih kurang mampu menggunakan teknologi informasi secara baik dalam melakukan komunikasi.
Contohnya seperti pengiriman pesan/informasi melalui via e_mail terkait pembahasan anggaran pembangunan di Kabupaten Gowa. Sehingga satu-satunya pemanfaatan teknologi informasi yang sering digunakan untuk saling berkoordinasi adalah dengan handphone dan tatap muka secara langsung. Padahal menurut peneliti pengiriman informasi melalui via e_mail jauh lebih efisien dan efektif jika dibandingkan dengan pengiriman pesan melalui handphone yang masih terbatas.
Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan KHT, terkait penggunaan teknologi informasi antara pemerintah daerah dengan DPRD sebagai berikut:
“Jadi begini dek, kalau berbicara masalah pemanfaatan teknologi informasi saya kira semua anggota DPRD tahu menggunakannya, hanya
saja sarana dan prasarana teknologi informasi ini masih belum memadai.
Perangkat atau alat-alat yang dimaksud disini bukan sebatas handphone saja tetapi juga komputer sebagai alat untuk mengolah data-data yang ada termasuk jaringan internet yang mampu mendukung proses tersebut”
(Hasil wawancara KHT, 10 Agustus 2015).
Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam melakukan hubungan komunikasi dengan pemerintah daerah kabupaten Gowa, anggota DPRD senantiasa memanfaatkan teknologi informasi yang ada hanya saja dalam cakupan yang masih terbatas. Hal tersebut dijelaskan oleh informan bahwa teknologi informasi yang berada di sekretariat DPRD masih belum memadai baik penyediaan perangkat keras (komputer) untuk mengolah data-data yang telah ada maupun fasilitas internet guna mendukung proses tersebut.
Berdasarkan penjelasan oleh kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi oleh pemerintah daerah dalam hal ini diwakilkan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah kabupaten Gowa dengan DPRD dalam melakukan koordinasi terkait formulasi kebijakan anggaran di kabupaten Gowa belum dilakukan secara optimal dan efektif. Hal tersebut disebabkan oleh dua hal yaitu 1) Fasilitas teknologi informasi yang digunakan masih terbatas baik ketersediaan perangkat keras maupun alat-alat lain yang menunjang pengolahan data, 2) Kemampuan aparat pemerintah daerah Kabupaten Gowa dalam memanfaatkan teknologi informasi. Oleh karena itu, komunikasi yang sering dilakukan dalam hubungannya dengan koordinasi antara pemerintah daerah dengan DPRD masih sering dilakukan melalui tatap muka maupun penyebaran informasi melalui handphone.
2. Kesadaran Berkoordinasi
Kesadaran akan pentingnya koordinasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan DPRD terkait formulasi kebijakan anggaran di Kabupaten Gowa memiliki tujuan untuk menciptakan dan memelihara efektivitas dari suatu rencana program yang akan dibahas. Selain hal tersebut, koordinasi yang dilakukan harus dapat menciptakan efisiensi setinggi-tingginya pada setiap kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda melalui kesepakatan-kesepakatan yang mengikat semua pihak baik oleh pemerintah daerah maupun DPRD kabupaten Gowa. Masing-masing anggota dari pemerintah daerah dan DPRD harus menyadari bahwa dalam koordinasi yang dilakukan membutuhkan komunikasi yang lancar, tingkat pemahaman dan pengetahuan masing-masing anggota dalam menganalisa kebijakan anggaran yang akan dibahas termasuk ketaatan dalam menjalankannya.
a. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejauh mana pemahaman dari pemerintah daerah dan DPRD akan pentingnya untuk saling berkoordinasi dalam melakukan formulasi kebijakan anggaran sehingga informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam penyusunan anggaran sesuai dengan kesepakatan bersama. Selain hal tersebut pemerintah dan DPRD dituntut untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan koordinasi yang efektif dan efisien dalam pembahasan formulasi kebijakan anggaran yang akan dibahas sehingga nantinya akan melahirkan keputusan yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun wawancara yang dilakukan dengan AMD, terkait tingkat pengetahuan dari pemerintah daerah dan DPRD sebagai wujud kesadaran berkoordinasi sebagai berikut:
“Itu merupakan sebuah tuntutan, jadi setiap pegawai yang berada di DPKAD ini harus memiliki kemampuan yang memadai sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sebab dalam melakukan koordinasi dengan DPRD terutama dalam pembahasaan formulasi kebijakan anggaran, pegawai harus memiliki pemahaman yang tinggi berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) yang ada” (Hasil wawancara AMD, 11 Agustus 2015).
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwasanya dalam melakukan koordinasi dengan DPRD terkait formulasi kebijakan anggaran yang akan dibahas, maka pegawai dituntut untuk memiliki kemampuan yang memadai serta tingkat pemahaman yang tinggi berdasarkan pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang telah tersedia, sehingga dalam pelaksanaannya nanti mereka dapat mengetahui kemana arah dan tujuan koordinasi yang dilakukan tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwasanya tingkat pengetahuan aparat terkait kesadaran berkoordinasi dengan DPRD mengenai formulasi kebijakan anggaran sangat diperlukan. Dalam hal ini, sejauh mana aparat di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Gowa memahami maksud dan tujuan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan menjadikannya acuan dalam pembahasan kebijakan anggaran bersama-sama dengan DPRD kabupaten Gowa. Dengan adanya pemahaman yang tinggi, maka
setiap aparat yang terlibat akan mampu menuangkan sebuah ide, gagasan dan konsep terkait koordinasi yang dilakukan dengan DPRD.
Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan MKM, terkait tingkat pengetahuan dari pemerintah daerah dan DPRD sebagai wujud kesadaran berkoordinasi sebagai berikut:
“Saya kira setiap anggota DPRD dan Pemerintah Daerah harus memiliki pengetahuan yang memadai utamanya dalam pembahasan anggaran yang dilakukan ini. Salah satunya dapat dilihat dari proses yang dilakukannya seperti sejauh mana aspirasi masyarakat ini dipahami oleh Pemerintah Daerah dan DPRD melalui forum-forum formal seperti musrenbang, untuk selanjutnya disampaikan oleh Pemerintah Daerah sampai kepada pembahasan anggaran di tingkat paripurna atau tingkat komisi” (Hasil wawancara MKM, 24 Agustus 2015).
Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan DPRD sangat penting dalam melakukan pembahasan anggaran. Sebab aspirasi masyarakat tersebut harus dapat dimengerti oleh pemerintah daerah dan DPRD untuk kemudian dibahas dalam tingkat paripurna atau tingkat komisi yang akan dilaksanakan. Sebaliknya jika tingkat pengetahuan tidak memadai, maka akan sulit untuk melakukan pembahasan anggaran sebagaimana yang diharapkan baik oleh pemerintah daerah maupun DPRD Kabupaten Gowa.
Berdasarkan penjelasan dari kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwasanya tingkat pengetahuan pemerintah daerah dalam hal ini aparat di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Gowa dan DPRD sangat berperan penting dalam upayanya mewujudkan sistem koordinasi yang efektif dan efisien antara kedua belah pihak khususnya dalam
memformulasikan sebuah kebijakan anggaran yang tepat sasaran dan sesuai dengan pagu anggaran yang ada.
b. Tingkat Ketaatan
Ketaatan dapat diartikan sebagai suka menurut, taat pada perintah, maupun aturan-aturan yang telah disepakati. Tingkat ketaatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejauh mana pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Gowa dalam melaksanakan/ menjalankan hasil koordinasi yang dilakukan dalam memformulasikan kebijakan anggaran. Hal tersebut dapat berupa adanya komitmen bersama dalam menjalankannya, baik yang terkait perilaku dan cara-cara berkoordinasi yang efektif.
Adapun wawancara yang dilakukan dengan MRS, terkait tingkat ketaatan pemerintah daerah dan DPRD pada hasil koordinasi dalam memformulasikan kebijakan anggaran adalah sebagai berikut:
“Tentu saja hasil dari kesepakatan itu wajib dijalankan dengan baik, karena selain sebagai mitra pemerintah daerah, DPRD juga mempunyai tugas sebagai pembuat perda dan pengawasan. Setelah ada kebijakan pemerintah daerah melalui perda, maka DPRD melakukan pengawasan mengenai sejauh mana pelaksanaan peraturan daerah tersebut, apakah telah sesuai dengan isi perda atau tidak. Sebagai contoh anggaran APBD tahun 2015 yang berjumlah 1,3 triliyun yang terbagi atas belanja langsung dan tidak langsung, gaji pegawai dan belanja kegiatan, nah disinilah tugas DPRD melakukan pengawasan mengenai anggaran tersebut bersama dengan komisi teknis yang ada” (Hasil wawancara MRS, 20 Agustus 2015).
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa tingkat ketaatan yang dimaksud adalah sejauh mana pelaksanaan peraturan daerah tersebut dijalankan oleh pemerintah daerah selaku pelaksana langsung dari sebuah kebijakan yang ada, apakah telah sesuai dengan isi dari perda itu sendiri atau
tidak. Ditambahkan oleh informan bahwasanya DPRD merupakan mitra dari pemerintah daerah dimana peraturan daerah yang dilaksanakan akan diawasi oleh DPRD bersama dengan komisi teknis yang ada. Sebagai contoh anggaran APBD untuk tahun 2015 yang terbagi atas belanja langsung dan tidak langsung, gaji pegawai dan belanja kegiatan harus sesuai dengan jumlah anggaran yang telah disepakati.
Hal tersbeut sesuai dengan hasil observasi peneliti selama dilapangan yang menemukan bahwasanya pelaksanaan peraturan daerah yang telah disepakati tetap mendapatkan pengawasan dari DPRD dan komisi teknis yang ada. Dalam hal ini DPRD bertindak sebagai pengawas (control) terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Gowa untuk melihat apakah kebijakan tersebut dilaksanakan sesuai dengan isi kebijakan tersebut.
Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan YDA, terkait ketaatan pemerintah daerah dan DPRD pada hasil koordinasi dalam memformulasikan kebijakan anggaran adalah sebagai berikut:
“Tinggi dan sangat baik, ini dibuktikan dengan adanya penghargaan WTP yang diberikan oleh BPK kepada pemerintah daerah kabupaten Gowa. Hal ini jelas didukung oleh ketaatan pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan atau peraturan daerah yang ada” (Hasil wawancara YDA, 10 Agustus 2015).
Sesuai dengan penjelasan oleh informan di atas, maka dapat diketahui bahwa tingkat ketaatan pemerintah daerah dalam menjalankan peraturan daerah yang ada sangat baik, hal ini dibuktikan dengan adanya penghargaan WTP yang diberikan oleh Badan Pemeriksa Keuangan sebanyak empat kali berturut-turut. Ini berarti bahwa setiap kebijakan yang lahir khususnya terkait pengelolaan anggaran
yang disepakati bersama oleh DPRD dijalankan sesuai aturan-aturan yang tertera di dalam isi peraturna daerah tersebut.
Berdasarkan penjelasan oleh kedua informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat ketaatan aparat pemerintah dengan DPRD pada hasil koordinasi dalam memformulasikan kebijakan anggaran di kabupaten Gowa sudah cukup baik. Dimana pemerintah selaku eksekutor kebijakan mampu menjalankan isi kebijkakan tersebut dengan baik, dengan ditunjang adanya pengawasan yang dilakukan oleh DPRD dan komisi teknis DPRD kaupaten Gowa. Sehingga setiap pelaksanaan kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dapat berjalan sesuai dengan isi dan maksud yang tertera dalam peraturna daerah yang ada dalam rangka mencapai tujuannya.
3. Kompetensi Partisipan
Kompetensi partisipan yang dimaksud di sini adalah adanya keterlibatan antara pemerintah daerah dengan DPRD dalam memformulasikan kebijakan anggaran yang dapat dilihat berdasarkan ada tidaknya pejabat berwenang yang terlibat dari pihak pemerintah daerah maupun DPRD saat koordinasi dalam memformulasikan kebijakan anggaran serta ada tidaknya ahli yang terlibat dari pemerintah daerah maupun DPRD saat koordinasi dalam memformulasikan kebijakan anggaran tersebut.
a. Keterlibatan pejabat yang berwenang
Sebagaimana diketahui bahwa dalam melakukan koordinasi terkait formulasi kebijakan anggaran, maka setidaknya perlu ada keterlibatan pejabat yang berwenang baik dari pemerintah daerah maupun DPRD kabupaten Gowa
yang dianggap memiliki tingkat kemampuan dan pemahaman untuk melakukan komunikasi secara baik dan terarah. Pejabat berwenang yang dimaksud adalah perwakilan dari pemerintah daerah seperti Bupati, Sekretaris Daerah maupun pejabat SKPD yang merupakan bagian dari tugasnya sedangkan untuk DPRD seperti Ketua, Wakil Ketua, maupun anggota masing-masing komisi.
Adapun wawancara yang dilakukan dengan HMR, terkait ada tidaknya pejabat yang berwenang yang terlibat saat koordinasi dalam formulasi kebijakan anggaran sebagai berikut:
“Yang namanya koordinasi dalam formulasi kebijakan anggaran, maka pasti semua pejabat yang terkait dengan hal ini dilibatkan. Adapun pejabat yang terlibat mulai dari Bupati sampai kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Gowa dalam hal ini adalah DPKAD dan BAPPEDA. Sedangkan untuk DPRD jelas melibatkan tim anggaran DPRD” (Hasil wawancara HMR, 19 Agustus 2015).
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa dalam melakukan koordinasi terkait formulasi kebijakan anggaran antara Pemerintah Daerah dengan DPRD kabupaten Gowa maka, sudah menjadi hal mutlak untuk melibatkan pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam melakukan koordinasi baik dari pemerintah daerah dalam hal ini adalah Bupati sampai kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang diambil dari DPKAD dan BAPPEDA sedangkan untuk DPRD sendiri melibatkan tim anggaran
Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa dalam melakukan koordinasi terkait formulasi kebijakan anggaran antara Pemerintah Daerah dengan DPRD kabupaten Gowa maka, sudah menjadi hal mutlak untuk melibatkan pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam melakukan koordinasi baik dari pemerintah daerah dalam hal ini adalah Bupati sampai kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang diambil dari DPKAD dan BAPPEDA sedangkan untuk DPRD sendiri melibatkan tim anggaran