• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Penggerak Emisi Karbon di Wilayah Pesisir

5 LAJU HISTORIS KARBON SEKUESTRASI DAN LAJU EMISI CO 2 D

5.2 Indikator Penggerak Emisi Karbon di Wilayah Pesisir

Indikator penggerak (driver) emisi karbon di wilayah Kabupaten Banyuasin diprediksi bersumber dari yang direncanakan (planned deforestation) dan yang tidak direncanakan (unplanned deforestation). Indikator penggerak yang direncanakan bersumber pada kebijakan tata ruang dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam (contoh kebijakan rencana tata ruang wilayah/RTRW). Sementara itu indikator penggerak yang tidak direncanakan bersumber dari tekanan penduduk terhadap lahan serta perilaku dan karakter masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam tersebut (contoh pemanfaatan hutan/konversi lahan secara ilegal, perambahan hutan, kebakaran hutan dan sebagainya). Atas dasar itu maka perlu dianalisis indikator-indikator penggerak apa saja yang diprediksi dapat meningkatkan emisi karbon. Secara ringkas disajikan pada Tabel 25.

Indikator penggerak emisi CO2 diluar kawasan TNS (FA) dapat ditelusuri

berdasarkan hasil analisis spasial tata guna lahan periode 2003-2006 (RTRW Kabupaten Banyuasin) dimana telah terjadi deforestasi dan degradasi seluas 129.739 ha. Dari luasan tersebut, sebesar 58.110 ha (44,79%) merupakan perubahan lahan yang semula berhutan menjadi lahan tanpa tegakan pohon (deforestasi). Sementara itu sekitar 71.629 ha (55,21%) merupakan areal hutan rawa dan hutan mangrove tetapi telah mengalami penurunan kualitas (degradasi). Alih fungsi hutan ini merupakan salah satu penggerak peningkatan emisi karbon historis di FAsebesar 11,25 MtCO2 th-1.

Fakta ilmiah menunjukkan terdapat sekitar 107.943 tCO2 th-1 (0,96%)

merupakan hasil konversi hutan untuk HTI dan perkebunan sawit menyumbang sebesar 324.076 tCO2 th-1 (2,88%). Dengan demikian selama periode 2003-2006 total potensi

emisi CO2 akibat indikator penggerak yang direncanakan (planned deforestation) relatif

kecil yaitu 432.019 tCO2 th-1 (3,84%) dibanding potensi emisi CO2 akibat indikator

penggerak yang tidak direncanakan (unplanned deforestation) sebesar 10,81 MtCO2th-1

Tabel 25 Indikator penggerak emisi CO2 di wilayah pesisir TN Sembilang

No Sumber Indikator

Penggerak Faktor Penyebab

A Direncanakan (planned deforestation)

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK)

Kebutuhan perencanaan tata ruang untuk pengembangan wilayah Kabupaten Banyuasin B Tidak

Direncanakan

(unplanned

deforestation)

a. Populasi penduduk Peningkatan populasi penduduk akibat kebijakan transmigrasi yang berdekatan dengan wilayah TNS terdapat kecenderungan adanya tekanan penduduk terhadap lahan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk di wilayah ini adalah 2,58%/tahun

b. Kebutuhan luas lahan minimal untuk hidup layak (z)

Semakin tinggi populasi penduduk, serta semakin rendahnya tingkat produktivitas lahan dapat menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan semakin meningkat. Kebutuhan luas lahan minimal untuk hidup layak (z) di wilayah ini sebesar 1,02 ha/orang

c. Konversi lahan a) Pembuatan tambak-tambak dan lahan pertanian. Saat ini masih ada sekitar 2.013 ha tambak illegal di dalam TN Sembilang

b) Rata-rata tingkat perambahan hutan (encroachment) saat ini sekitar 54 ha/tahun

d. Pemanfaatan hasil

hutan yang tidak lestari

a) Pemanfaatan daun Nipah (Nypa fruticans) sangat intensif

b) Penggunaan pohon Nibung (Oncosperma

tigillarium) untuk tiang bangunan

e. Illegal logging Penebangan liar jenis Dipterocarpaceae yang kerap

luput dari pengamatan petugas mengingat lokasinya paling jauh di bagian utara berbatasan dengan TN Berbak

f. Kebakaran hutan dan lahan

a) Beberapa kebakaran yang telah terjadi berhubungan langsung dengan kegiatan pembukaan lahan yang luas (contoh : transmigrasi dan kebun kelapa sawit), yang lainnya disebabkan oleh penduduk

b) Penyebab utama dari kebakaran ini adalah kegiatan penebang liar untuk budidaya pertanian, nelayan yang melakukan pembukaan vegetasi untuk mencari ikan serta pengembangan kawasan transmigrasi. Sumber : Hasil identifikasi lapangan (2010)

Indikator penggerak emisi karbon yang tidak direncanakan (unplanned

deforestation) baik di FA maupun di TN Sembilang berkaitan dengan faktor alam

seperti kemarau panjang yang menyebabkan kebakaran hutan serta faktor lain seperti peningkatan populasi penduduk serta kebutuhan luas lahan minimal untuk hidup layak dapat meningkatkan tekanan penduduk terhadap lahan. Sumber tekanan penduduk terhadap lahan erat kaitannya dengan masalah kebutuhan mata pencaharian masyarakat, sehingga terdapat kecenderungan konversi lahan untuk memenuhi kebutuhannya itu.

ilegal. Faktor penggerak lainnya adalah adanya kecenderungan dimana dengan semakin naiknya harga komoditas udang serta gagal panen di wilayah lain, dapat mempengaruhi motivasi terjadinya tekanan penduduk terhadap hutan mangrove.

Untuk mengetahui tingkat tekanan penduduk terhadap lahan (TP) dapat didekati dengan persamaan (3.15) dan hasil pengolahan data Kabupaten Banyuasin Dalam Angka tahun 2008 (BPS Kabupaten Banyuasin 2008/2009) disajikan pada Tabel 26, sedangkan rincian hasil pengolahan Tekanan Penduduk terhadap lahan (TP) disajikan pada Lampiran 4.

Berdasarkan kriteria tekanan penduduk terhadap lahan, diperoleh nilai TP 2,14 (nilai TP > 2) sehingga termasuk kelas kriteria buruk. Hal ini mencerminkan bahwa penduduk memiliki kecenderungan untuk melakukan okupasi lahan minimal untuk dapat hidup layak. Dengan meningkatnya jumlah penduduk di wilayah ini sebesar 2,58% serta rendahnya lapangan pekerjaan diprediksi dapat menimbulkan degradasi lingkungan. Semakin besar jumlah penduduk, semakin besar pula tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya alam, sehingga tekanan terhadap sumberdaya yang ada juga meningkat. Dengan demikian, wilayah pesisir semakin rentan terhadap berbagai perubahan iklim yang akan terjadi.

Tabel 26 Luas lahan minimal hidup layak (z) dan tekanan penduduk terhadap lahan (TP) di frontier area No Pertanian Luas (ha) Produksi (ton) Rata-rata produksi (ton ha-1) Rata-rata nilai panen (Rp ha-1) Harga (Rp kg-1) 1 Padi sawah 180.584 740.425 4,10 12.300.500 2.600

2 Ketela dan umbi-umbian 8.825 52.169 5,91 5.911.524 1.000 3 Produksi pekarangan

(palawija)

9.735 18.699 1,92 5.762.373 3.000

Total lahan pertanian 199.144 Nilai z padi sawah (ha/orng) 0,82 Nilai z ketela&umbi

(ha/org)

1,71 Nilai z palawija (ha/orang) 1,75 Nilai z rata-rata (ha/orang) 1,02

Sementara itu indikator penggerak emisi karbon di FA pada masa mendatang diprediksi sebagian besar bersumber dari laju deforestasi dan degradasi (DD) yang direncanakan (planned deforestation). Kebijakan alokasi lahan untuk RUTR 2006-2026 seluas 115.207 ha merupakan sumber emisi karbon terestrial yang potensial, karena seluruhnya masih berpenutupan vegetasi.

Data historis pada kawasan yang dilindungi (TNS) menunjukkan dimana laju DD hutan mangrove primer (Hmp) menjadi tambak rata-rata 0,138% th-1 dan laju DD hutan mangrove sekunder (Hms) menjadi tambak rata-rata 2,68% th-1. Luasan prediksi tambak selama 25 tahun umur simulasi menunjukkan luasan sebesar 11.600 ha atau rata-rata 464 ha th-1. Laju DD tersebut diprediksi dapat menyumbang emisi karbon rata- rata sebesar 387.124 tCO2 th-1. Okupasi penduduk terhadap lahan TN Sembilang pada

umumnya digunakan untuk usaha tambak, sehingga dapat menimbulkan potensi GRK yang lebih besar lagi.

Kegiatan tambak ilegal di TN Sembilang sesungguhnya sudah dimulai sejak 1995 oleh sekitar 400 keluarga yang datang dari Provinsi Lampung. Pada tahun 2000- 2001, sekitar 493 sampai 1.045 keluarga terlibat dalam konversi sekitar 2.159 ha hutan mangrove di Semenanjung Banyuasin antara Sungai Bungin dan Sungai Tengkorak. Dampak negatif dari budidaya tambak ini diprediksi dapat menyebabkan rusaknya kawasan mangrove yang menyokong banyak fungsi biologi penting. Di samping itu, lokasi spesifik tambak tersebut berada dekat dengan lokasi utama bagi burung-burung migran termasuk beberapa spesies burung langka bangau bluwok (Mycteria cinerea)

dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) untuk mencari pakan.

Di samping kawasan yang dikonversi sebagai tambak, beberapa lokasi ada yang dibuka untuk pertanian, seperti di sekitar Tanah Pilih (Terusan Luar), yang dulunya dikonversi menjadi perkebunan kelapa dan persawahan di tahun 1970-an. Penyebab lainnya yaitu prediksi konversi lahan dan mangrove oleh para spekulan tanah yang secara langsung mengacu pada rencana pembangunan pelabuhan samudra Tanjung Api- Api.

Indikator penggerak emisi karbon lainnya adalah pemanfaatan hutan secara ilegal (penebangan liar) yang umumnya dilaksanakan di kawasan bekas HPH di luar TN Sembilang (FA). Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas TN Sembilang bahwa penebangan liar banyak dilakukan di sepanjang Sungai Kepahiang, Sungai Merang dan Sungai Bakorendo. Jenis kayu yang diambil berasal dari spesies Shorea

spp., Koompassia sp., Dyera costulata dan lain-lain. Kegiatan penebangan liar ini dilakukan baik oleh masyarakat setempat maupun oleh masyarakat yang berasal dari luar Kabupaten Banyuasin. Kasus yang terakhir dipantau petugas TN Sembilang terjadi di sekitar Sungai Sembilang dan dilakukan oleh masyarakat setempat (Dusun Sembilang). Penebangan liar ini dilakukan biasanya untuk keperluan sendiri seperti

bahan bangunan (kayu nibung), sedangkan yang dilakukan masyarakat luar kabupaten umumnya dijual ke Palembang.

Penebangan liar ini diprediksi berdampak negatif pada struktur hutan secara umum di kawasan TN Sembilang. Hal lain juga dapat mengancam habitat tersisa dari buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) di sepanjang Sungai Merang. Berdasarkan informasi dari TN Sembilang serta pengamatan langsung di lapangan menunjukkan bahwa saat ini terdapat peningkatan aktivitas masyarakat yang cukup signifikan di Sungai Merang. Disamping dampak langsung pada habitat buaya sinyulong, peningkatan gangguan terhadap habitat dan sarang buaya jenis ini juga disebabkan oleh meningkatnya populasi manusia di daerah tersebut, seperti kapal-kapal motor dan penggunaan chainsaw di hulu-hulu sungai. Kecenderungan lain penggerak emisi CO2

yang tidak direncanakan adalah masalah kebakaran hutan dan lahan yang telah berulang kali terjadi di kawasan TN Sembilang.

6 MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR