MODEL PENGELOLAAN
SUMBERDAYA PESISIR BERKELANJUTAN
BERBASIS REDD+
(Studi Kasus di Wilayah Pesisir Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan)
AGUS SADELIE
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berkelanjutan Berbasis REDD+ adalah hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, Desember 2011
ABSTRACT
AGUS SADELIE. Sustainable Coastal Resource Management Model Based on REDD+ (A Case Study in coastal region of Sembilang National Park, Banyuasin District). Under direction of TRIDOYO KUSUMASTANTO, CECEP KUSMANA and RIZALDI BOER.
Indonesia as an archipelagic developing country is a highly vulnerable to direct of climate change. Sea level rise could cause flooding, even predicted to sink some small islands. Meanwhile, the majority (68%) of Indonesia's population live in coastal areas with low adaptive capacity to face global climate change and high pressure to deforestation and degradation, that’s why the coastal become more vulnerable. Therefore, it is needed a new coastal resource management strategy based on the adoption of climate change such as REDD+. This study aimed to design a model of coastal resource management based on REDD+, as well as measuring the level of avoided emission, as the basis for carbon crediting assessment of mangrove forest resources based on the principle of payment for ecosystem services. The method used is the analysis of dynamic systems which is carried out single case multi-level analysis with the procedure "SAVE DYNAMIC": Spatial, Allometric equation, Valuation of Economic followed by analysis of the best economic allocation, and simulation modeling with two scenarios : business as usual (BAU model) and carbon crediting (model CC). Reference emission level (REL) is determined based on historical emissions from deforestation and forest degradation of Indonesia 2003-2006, and a combination of remote sensing (spatial data) and ground survey. Meanwhile, the predictions of future changes in forest cover is determined by a combination of historical data and modeling approach with a predictor of the rate of population. The estimation of forest biomass into carbon done by converting forest inventory data on the scale of the plot with the allometric equation at a high level of detail (Tier 2-3). The results showed that the management of the CC model scenario in the Sembilang National Park (SNP) has the potential for avoided emission of 1.15 MtCO2 yr-1 with the value of carbon credits on average 11.50 million USD yr-1 (assuming a carbon price 10 USD tCO2-1). Meanwhile, cost of good sold of carbon is 8.05 USD tCO2-1. Utilization of carbon crediting options and sylvofishery option with NPV of 8,487.77 million USD (3.6 times > NPV BAU). This could encourage employment opportunities for 100,410 workers (11 times > model BAU). With the CC model scenarios reflect SNP as a region which capable of conduct carbon sink sequestration of CO2 emissions. In addition, SNP has a potential for terrestrial carbon 109.36 MtCO2 over 25 years of management commitment period or an average of 4.37 MtCO2 yr-1. Cumulatively in 2020 SNP area will contribute to the achievement of GHG emission reduction of 72.03 MtCO2. If the assumption of the calculation of national emissions of Indonesia in 2020 by 2.6 GtCO2, emission reduction will reach 26% amounting to 0.676 GtCO2. Thus it can be predicted that the SNP coastal able to contribute GHG emission reduction to total Indonesian Government commitment about 10.65% in 2020 or 2.77% to total Indonesian emissions potential. However, if the SNP management is done by the current (business as usual), predicted a carbon source region, because of the released CO2 emissions (3.16 MtCO2 yr-1) is greater than the terrestrial carbon that can be absorbed (0.21 MtCO2 yr-1).
RINGKASAN
AGUS SADELIE. Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berkelanjutan Berbasis REDD+ (Studi Kasus di Wilayah Pesisir Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin). Dibimbing oleh TRIDOYO KUSUMASTANTO, CECEP KUSMANA dan RIZALDI BOER.
Pengelolaan sumberdaya pesisir memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia, khususnya bagi masyarakat pesisir yang menempati hampir 68% wilayah Indonesia berada di wilayah ini. Mayoritas dari populasi ini berada pada kantong-kantong kemiskinan yang berkaitan langsung dengan degradasi ekosistem mangrove, yang berakibat wilayah pesisir rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim global. Dengan demikian diperlukan suatu upaya pengelolaan sumberdaya pesisir dan pemberdayaan masyarakatnya dalam hal peningkatan kapasitas adaptasi yaitu penyesuaian terhadap perubahan iklim itu.
Sumberdaya pesisir khususnya ekosistem mangrove, memiliki fungsi dan peranan penting dalam kehidupan umat manusia, baik sebagai fungsi fisik, ekologis dan ekonomi. Dalam hal ini pengelolaan hutan mangrove merupakan hal penting, khususnya merehabilitasi dan mengkonservasi hutan mangrove untuk meningkatkan ketahanan (resilience) sistem pantai terhadap dampak perubahan iklim serta dapat menurunkan laju emisi CO2 di wilayah ini. Oleh karena itu, salah satu strategi pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) merupakan alternatif pengelolaan sumberdaya pesisir paling mutakhir untuk menurunkan laju emisi serta sekaligus juga merupakan alternatif pembangunan ekonomi baru dalam memanfaatkan potensi kredit karbon yang ada.
Terdapat varian skema kredit karbon yang dapat dimanfaatkan pada saat ini. Salah satunya adalah melalui skema REDD+. REDD-plus merupakan kerangka kerja yang diperluas dengan memasukkan konservasi hutan, pengelolaan hutan lestari atau peningkatan cadangan karbon hutan serta meningkatkan serapan emisi melalui kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi. Tujuannya agar partisipasi untuk menerapkan REDD+ semakin luas, serta untuk memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang sudah berupaya melindungi kelestarian hutannya.
Prinsip pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+ ini didasarkan pada landasan hukum Peraturan Presiden (Prepres) No. 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor: 30/Menhut-II/2009 tentang tata cara pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), Permenhut Nomor: P.36/Menhut-II/2009 tentang tata cara perijinan usaha pemanfaatan karbon pada hutan produksi dan hutan lindung dalam bentuk Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL).
Kawasan hutan mangrove Taman Nasional Sembilang (TNS) di Provinsi Sumatera Selatan, memiliki potensi yang dapat dikelola dengan pendekatan kredit karbon dan dipilih sebagai lokasi penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pengelolaan sumberdaya pesisir serta mengukur tingkat emisi CO2 yang dapat dihindarkan (avoided emission) sebagai basis penilaian carbon crediting sumberdaya hutan mangrove berdasarkan prinsip payment for ecosystem services. Pihak yang memperoleh manfaat dari layanan ekosistem akan membayar pihak pengelola ekosistem tersebut agar layanannya tetap terjaga secara berkelanjutan.
pengelolaan sumberdaya pesisir yang berasosiasi antar basis disiplin ilmu, adanya sinergitas secara komprehensif antara aspek sosial, ekonomi, serta dimensi-dimensi lingkungan dari pembangunan berkelanjutan. Rumusan kebijakan penting dilakukan agar pemanfaatan sumberdaya mencapai tingkat efisiensi yang diharapkan.
Dua skenario pemanfaatan sumberdaya diajukan sebagai alternatif model pengelolaan sumberdaya pesisir: cara saat ini (business as usual; BAU) dan kredit karbon (carbon crediting; CC). Pengelolaan dengan cara saat ini seringkali menimbulkan spektrum dampak, deplesi sumberdaya, penurunan stok karbon terestrial serta meningkatnya laju emisi CO2. Pengelolaan berbasis kredit karbon diharapkan dapat membuka peluang terciptanya pembangunan secara berkelanjutan: perbaikan kualitas lingkungan, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan antar generasi.
Metode analisis pada studi ini adalah analisis sistem dinamik dengan bantuan pemograman I-Think® Ver. 6.1. Metode pengumpulan data dan analisis dilakukan secara singlecase multi level analysis dengan prosedur “SAVE DYNAMIC”: Spatial,
Allometric equation, Valuation of Economic yang dilanjutkan dengan analisis alokasi ekonomi terbaik (the best economic allocation), serta simulasi pendekatan sistem dinamik dengan dua skenario business as usual (model BAU) dan skenario carbon crediting (model CC).
Reference emission levels (REL) ditentukan berdasarkan data emisi historis dari deforestasi dan degradasi hutan Indonesia 2003-2006, serta kombinasi remote sensing
(data spasial) dan ground survey. Prediksi perubahan tutupan hutan masa depan ditentukan berdasarkan gabungan data historis dan pendekatan modeling dengan prediktor laju populasi, kebutuhan luas lahan minimal untuk hidup layak yang dapat mempengaruhi motivasi terjadinya tekanan penduduk terhadap TNS. Pendugaan biomassa hutan menjadi karbon dilakukan dengan mengkonversi data inventarisasi hutan pada skala plot dengan persamaan alometrik pada tingkat kerincian tinggi (Tier 2-3).
Hasil penelitian pada komponen carbon accounting menunjukkan bahwa pengelolaan dengan skenario model CC di TNS memiliki potensi emisi CO2 terhindarkan (avoided emission) sebesar 1,15 MtCO2 th-1 dengan nilai kredit karbon rata-rata 11,50 juta USD th-1 (asumsi harga karbon 10 USD tCO2-1). Sementara itu biaya pokok penjualan dari karbon tersebut rata-rata sebesar 8,05 USD tCO2-1. Dengan skenario carbon crediting ini mencerminkan bahwa TNS merupakan kawasan carbon sink yang mampu mensekuestrasi emisi CO2.
Apabila pengelolaan TNS dilakukan dengan cara saat ini (model business as usual), diprediksi merupakan kawasan carbon source, karena emisi CO2 yang dilepas lebih besar dari pada karbon terestrial yang dapat diserapnya. Tingkat emisi CO2 yang dihasilkan rata-rata sebesar 3,16 MtCO2 th-1. Dari jumlah tersebut sebesar 1,39 MtCO2 th-1 berasal dari deforestasi dan degradasi hutan pada kawasan TNS dan 1,77 MtCO2 th-1 berasal dari deforestasi dan degradasi hutan di frontier area (FA), sementara stok karbon yang dapat diserap rata-rata hanya sebesar 0,21 MtCO2 th-1.
Indikator penggerak laju emisi CO2 tersebut bersumber dari yang direncanakan (planned deforestation) terutama di FA melalui kebijakan RUTR untuk pembangunan ekonomi. Sementara itu di kawasan TNS didominasi deforestasi dan degradasi hutan yang tidak direncanakan (unplanned deforestation) terutama faktor antropogenik seperti tekanan penduduk terhadap hutan serta faktor alam seperti kemarau panjang yang menyebabkan bencana kebakaran, maupun semakin menurunnya daya adaptasi tanaman terhadap kondisi lingkungannya.
terdapat konsentrasi emisi CO2 di FA yang cukup besar selama periode komitmen, maka terjadi peluruhan karbon terestrial secara berkala dan mengalami titik kritis pada periode komitmen tahun 2012 menjadi sebesar 14,91 MtCO2. Hal ini terjadi karena adanya faktor konversi hutan secara masif di FAuntuk ekspansi pengembangan hutan tanaman industri dan perkebunan sawit, pertambakan, pemukiman serta infrastruktur.
Hasil penelitian lainnya menunjukkan daya serap mangrove terhadap karbon jauh lebih tinggi (227,3 tC ha-1) dari pada tanaman hutan lainnya seperti Acacia mangium (62,08 tC ha-1) atau Eucalyptus sp. (75,89 tC ha-1) yang ditanam di FA. Dengan adanya keterkaitan mangrove dan emisi CO2 ini, maka akan terjadi loop
dengan ecosystem services sector pada komponen karbon (climate regulation).
Demikian seterusnya secara kontinum berkoneksi dengan sektor lainnya.
Hasil pada komponen carbon accounting menunjukkan bahwa pengelolaan dengan model CC di TNS memiliki potensi emisi CO2 terhindarkan (avoided emission) sebesar 1,15 MtCO2 th-1 dengan nilai kredit karbon rata-rata 11,50 juta USD th-1 (asumsi harga karbon 10 USD tCO2-1) dan menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar 8.487,78 juta USD (3,6 kali > NPV model BAU) yang dapat mendorong peluang kesempatan kerja sebesar 100.410 tenaga kerja (11 kali > model BAU). Biaya pokok penjualan (cost of goods sold) dari karbon tersebut teridentifikasi rata-rata sebesar 8,05 USD tCO2-1. Dengan skenario model CC ini mencerminkan bahwa TNS merupakan kawasan carbon sink yang mampu mensekuestrasi emisi CO2. Secara kumulatif pada tahun 2020 kawasan TNS dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian penurunan emisi GRK sebesar 72,03 MtCO2. Sementara itu, asumsi perhitungan nasional emisi Indonesia pada tahun 2020 sebesar 2,6 GtCO2 (DNPI 2009) dimana kebijakan penurunan emisi 26% adalah sebesar 0,676 GtCO2. Dengan demikian dapat diprediksi bahwa kawasan pesisir TNS mampu memberikan kontribusi penurunan emisi GRK sekitar 10,65% terhadap total komitmen penurunan emisi GRK Pemerintah Indonesia pada tahun 2020 atau sekitar 2,77% dari prediksi potensi emisi Indonesia.
Model pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+ akan mencapai efisiensi optimum apabila opsi pemanfaatannya dialokasikan pada kegiatan rendah emisi karbon, seperti hutan wisata mangrove. Tingkat carbon removal kawasan TNS sangat tergantung pada tingkat emisi CO2 di FA. Tingkat perbandingan alokasi konversi hutan mangrove primer (Hmp, C:227,3 tC ha-1) di FA untuk hutan tanaman industri (Eucalyptus sp. C:75,9 tC ha-1) menunjukkan tingkat emisi CO2 yang dihasilkannya relatif lebih rendah (555,13 tCO2 ha-1) dibanding emisi karbon hasil konversi untuk tambak (833,43 tCO2 ha-1). Demikian halnya konversi pada hutan rawa sekunder (Hrs, C:77 tC ha-1) untuk hutan tanaman, emisi CO2 yang dihasilkannya sebesar 4,03 tCO2 ha-1 jauh lebih rendah dibanding untuk konversi tambak dengan emisi karbon sebesar 282,33 tCO2 ha-1.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
MODEL PENGELOLAAN
SUMBERDAYA PESISIR BERKELANJUTAN
BERBASIS REDD+
(Studi Kasus di Wilayah Pesisir Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan)
AGUS SADELIE
Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Achmad Fahrudin, MSi Dr. Ir. Ario Damar, MSc.
Penguji pada Ujian Terbuka : Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. Dr. Ir. Kirsfianti Ginoga, MSc.
Judul Disertasi : Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berkelanjutan Berbasis REDD+
Nama : Agus Sadelie
NIM : C261030091
Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya, sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian ini adalah Model Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berkelanjutan Berbasis REDD+, telah dipilih berdasarkan pertimbangan permasalahan kondisi lingkungan saat ini, oportunitas serta prospek potensi sumberdaya alam untuk kesejahteraan generasi saat ini dan mendatang. Penelitian untuk disertasi ini dilakukan pada tahun 2009 dan 2010 di kawasan Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Disertasi ini telah berhasil diselesaikan atas dukungan dan kontribusi seluruh komisi pembimbing, kesediaan dan dedikasinya dalam memberikan arahan, bimbingan serta konsep-konsep yang telah digunakan pada substansi disertasi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS. (Ketua Komisi Pembimbing), Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. (Anggota Komisi) dan Bapak Prof. Dr. Ir. Rizaldi Boer, MSc. (Anggota Komisi). Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Achmad Fahrudin, MSi dan Bapak Dr. Ir. Ario Damar, MSi yang telah berkenan sebagai penguji luar komisi pada ujian tertutup, juga kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. serta Ibu Dr. Ir. Kirsfianti Ginoga, MSc. sebagai penguji luar komisi pada ujian terbuka atas saran-sarannya pada perbaikan disertasi ini. Kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku Ketua Program Studi SPL-IPB diucapkan terima kasih atas saran-sarannya pada disertasi ini serta ilmu yang telah diberikan kepada penulis sejak duduk di bangku SMA Negeri I Bogor dan kuliah S1, S2 serta S3 di IPB, telah menjadi dasar pemahaman penulis dalam bidang statistika dan matematika. Juga kepada Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, MSc. (Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) dan seluruh staf pengajar dan karyawan Program Studi SPL serta Sekolah Pasca Sarjana IPB diucapkan terima kasih.
Karya ilmiah ini dihasilkan atas dukungan dan bantuan serta kerjasama berbagai pihak, untuk itu diucapkan terima kasih kepada Kepala Balai TNS dan para stafnya, kepada saudara Iwan Tri Cahyo Wibisono (Wetland Indonesia) dan rekan-rekan di CER INDONESIA dan EDECON yang telah membantu dalam pengolahan data dan pemetaan serta diskusi-diskusi yang sangat konstruktif. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada istri tercinta Yatri Indah Kusumastuti serta anak-anak Fajri Ibnu Huda dan Fadhil Muhammad yang selalu memberikan doa dan inspirasi masa depan. Juga kepada seluruh keluarga diucapkan terima kasih atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dalam pengelolaan sumberdaya pesisir berkelanjutan serta kesejahteraan masyarakat pesisir.
Bogor, Desember 2011
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 22 Januari 1962 dari ayah Sana Asmian (alm) dan ibu Tati Marta (alm). Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian IPB lulus pada tahun 1988. Pada tahun 2000 penulis melanjutkan pendidikan pascasarjana pada program Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB dan lulus pada tahun 2002. Kesempatan untuk melanjutkan program doktor diperoleh pada tahun 2003/2004.
Sejak tahun 1990 sampai saat ini penulis berwirausaha pada bidang perencanaan ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan dengan mendirikan beberapa lembaga riset dan pengembangan. Penulis juga merupakan salah satu pendiri CER INDONESIA yang berkiprah di bidang penelitian dan pengembangan karbon di Indonesia.
Selama mengikuti program S3, penulis telah memperoleh penghargaan ”Prestasi
Akademik Gemilang” Tahun Akademik 2003/2004 dari Dekan Sekolah Pascasarjana
IPB, tertuang dalam Piagam Penghargaan Nomor : 1858/K13.8/KM/2004 tanggal 20 April 2004. Karya tersebut merupakan bagian dari perjalanan penulis selama mengikuti program S3 di Institut Pertanian Bogor.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ……….….……… xvii
DAFTAR GAMBAR ……….………… xxi
DAFTAR LAMPIRAN ……….……… xxv
1 PENDAHULUAN ……… 1
1.1 Latar Belakang ………. 1
1.2 Perumusan Masalah……….. 6
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ….……… 7
1.4 Kerangka Pemikiran …...…..….……… 8
1.5 Definisi Operasional ...……..….……… 12
1.6 Kebaruan (Novelty) ...………...……… 16
2 TINJAUAN PUSTAKA………. 17
2.1 Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir ....……….. 17
2.2. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dalam Perspektif Ekonomi 27 2.3. Peranan Kelembagaan dalam Pengelolaan Sumberdaya ... 33
2.4. Interaksi Eksosistem Mangrove dan Absorbsi Karbon ... 37
2.5. Perubahan Lingkungan Global dan REDD + ... 45
2.6. Pendekatan Penilaian Sumberdaya ... 51
2.7. Sistem dan Pemodelan ... 55
2.8. Pendekatan Analisis Spasial ... 64
3 METODOLOGI PENELITIAN ………. 67
3.1 Kerangka Pendekatan Penelitian ...……….. 67
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...……….. 70
3.3 Metode Penelitian ...……….. 72
3.4 Jenis dan Sumber Data ...……….. 72
3.5 Metode Pengumpulan Data ...……….. 73
3.6 Metode Analisis Data ...……….. 75
3.6.1 Analisis Data Spasial ...……….. 77
3.6.2 Analisis Potensi Vegetasi ...……….. 79
3.6.3 Analisis Fungsi Allometrik ...……….. 80
3.6.3.1 Analisis Potensi Cadangan Karbon ... 80
3.6.3.2 Analisis Potensi Emisi Karbon ... 81
3.6.3.3 Analisis Reduksi Emisis Karbon ... 81
3.6.3.4 Asumsi Data ... 82
3.6.4 Analisis Kependudukan dan Tenaga Kerja... ... 82
3.6.4.1 Analisis Tekanan Penduduk terhadap Lahan ... 82
3.6.4.2 Analisis Pertumbuhan Penduduk dan Kesempatan Kerja ... 83
3.6.5 Analisis Valuasi Ekonomi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dalam Pemodelan Sistem Dinamik ...……… 86
3.6.5.1 Analisis Valuasi Ekonomi Penyerapan Karbon (Carbon Sequestration) ... 86
Manfaat ... 88
3.6.5.3 Analisis Alokasi Ekonomi Terbaik (the best economic allocation analysis) ... 91
3.6.6 Pendekatan Sistem Dinamik... ..……… 93
3.6.6.1 Tahapan Pendekatan Sistem ……...…… 93
3.6.6.2 Tahapan Pemodelan Sistem Dinamik ...…… 99
4 DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN ………….……….…. 103
4.1 Kondisi Umum Daerah Penelitian ………..…………..……... 103
4.1.1 Batas Administrasi TNS ...……….. 103
4.1.2 Kondisi Biofisik ...……….. 103
4.1.3 Kondisi Sosial Ekonomi ...……….. 112
4.2 Perkembangan Pengelolaan TN Sembilang …...………... 123
4.3 Isu dan Permasalahan Lingkungan Pesisir ……...………... 125
5 LAJU HISTORIS KARBON SEKUESTRASI DAN LAJU EMISI CO2 DI WILAYAH PESISIR ………...………... 129
5.1 Potensi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Sumberdaya Pesisir .... 129
5.1.1 Tingkat Deforestasi dan Degradasi Sumberdaya Pesisir …… 129
5.1.1.1 Laju Historis Deforestasi dan Degradasi Hutan di Frontier Area ...…… 129
5.1.1.2 Laju Historis Deforestasi dan Degradasi Hutan Mangrove di Kawasan TN Sembilang...…… 138
5.1.2 Potensi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Sumberdaya Pesisir ...…… 141
5.1.2.1 Laju Historis Potensi Emisi CO2 di Frontier Area .... 143
5.1.2.2 Laju Historis Potensi Emisis CO2 di dalam Kawasan TN Sembilang ... 145
5.2 Indikator Penggerak Emisi Karbon di Wilayah Pesisir ... 148
6 MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR BERBASIS REDD+ 153 6.1 Desain Sistem Pengelolaan Sumberdaya Pesisir ... 154
6.1.1 Struktur Model Business As Usual (Model BAU) ….…..…… 155
6.1.1.1 Struktur Submodel Penduduk Skenario BAU ...… 155
6.1.1.2 Struktur Submodel Emisi CO2 Skenario BAU ...… 156
6.1.1.3 Struktur Submodel Ekonomi Skenario BAU ...… 157
6.1.2 Struktur Model Carbon Crediting (Model CC) …….…..…… 158
6.1.2.1 Struktur Submodel Penduduk Skenario CC ...… 158
6.1.2.2 Struktur Submodel Emisi CO2 Skenario CC ...… 160
6.1.2.3 Struktur Submodel Ekonomi Karbon Skenario CC ... 162
6.1.3 Formulasi Model …...…..…… 164
6.1.3.1 Formulasi Model Business As Usual (Model BAU) .. 164
6.1.3.2 Formulasi Model Carbon Crediting (Model CC) .... 167
6.1.4 Verifikasi dan Validasi Model ...…… 175
6.1.4.1 Verifikasi Struktur Model ……….... 176
6.1.4.2 Validasi Perilaku Model ... 178
6.1.5 Sensitivitas Model ...…… 179
6.2 Simulasi dan Optimasi Alternatif Pemodelan serta Akuntansi Karbon (Carbon Accounting) Pada Pengelolaan Sumberdaya Pesisir ... 182
6.2.1 Optimasi Pengelolaan Pesisir dan Akuntansi Karbon (Carbon
6.2.2 Optimasi Pengelolaan Pesisir dan Carbon Accounting pada
Model Carbon Crediting (Model CC) ...…… 194
6.3 Perbandingan Model Business As Usual dan Model Carbon Crediting Di WilayahPesisir …...………... 208
6.4 Implikasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir TN Sembilang WilayahPesisir …...………... 212
6.4.1 Kebijakan Sosial Politik ……….…..…… 214
6.4.2 Kebijakan Kelembagaan …...….…..…… 216
6.4.3 Kebijakan Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan ...… 219
7 KESIMPULAN DAN SARAN ……...………... 223
7.1 Kesimpulan ... 223
7.2 Saran ... 227
DAFTAR PUSTAKA ………...……… 229
DAFTAR TABEL
Halaman
Halaman
2 Perkiraan global karbon yang tersimpan dalam biomasa
mangrove...
41
3 Estimasi total karbon organik dari sungai utama ke pesisir
dunia... 44
4 Estimasi carbon source dan sink di ekosistem pesisir………...…... 44
5 Sumber pendanaan internasional multilateral, bilateral dan swasta 50 6 Tipologi valuasi ekonomi dan teknik valuasi sumberdaya mangrove... 54 7 Tujuan penelitian, jenis dan sumber data yang diperlukan ... 73
8 Metoda pengumpulan data... 74
9 Relevansi antara tujuan penelitian, teknik analisis serta hasil penelitian yang diharapkan (output)... 76
10 Klasifikasi nilai tekanan penduduk (TP)... 83
11 Data hipotetis manfaat ekosistem mangrove... 89
12 Kondisi iklim di wilayah Taman Nasional Sembilang ... 106
13 Zona vegetasi dan spesies indikator di kawasan TN Sembilang... 110
14 Sebaran pemukiman dan jumlah penduduk di dalam kawasan Taman Nasional Sembilang, Kecamatan Banyuasin II ... 113
15 Sebaran penduduk di dalam dan di sekitar kawasan Taman Nasional Sembilang, Kecamatan Banyuasin II ... 114
16 Isu dan permasalahan lingkungan pesisir di kawasan TN Sembilang 126 17 Pola tata guna lahan di frontier area (Kabupaten Banyuasin) pada periode 2003-2006 ... 131
18 Perubahan historis tata guna lahan pada periode 2003-2006 di FA.. 134
19 Laju historis perubahan deforestasi dan degradasi hutan pada periode 2003-2006 di frontier area... 135
20 Laju historis deforestasi dan degradasi hutan pada periode
2003-2006 di wilayah pesisir TN Sembilang... 138
21 Hasil pengukuran biomassa dan stok karbon pada berbagai tipe tutupan lahan di wilayah pesisir TN Sembilang dan sekitarnya ... 142
22 Perbandingan data stok karbon hasil penelitian dengan data hipotetik pada berbagai tipe ... 142
23 Laju historis potensi emisi CO2 dari deforestasi dan degradasi sumberdaya pesisir di frontier area (2003-2006) ... 143
24 Laju historis potensi emisi CO2 dari deforestasi dan degradasi sumberdaya pesisir di TN Sembilang... 146
25 Indikator penggerak emisi CO2 di wilayah pesisir TN Sembilang 149 26 Luas lahan minimal hidup layak (z) dan tekanan penduduk terhadap lahan (TP) di frontier area ... 150
Halaman
di TNS ... 165
28 Data dan asumsi perubahan deforestasi dan degradasi hutan mangrove serta persentase peluruhannya pada awal simulasi di
frontier area (FA) dan di TNS ... 166
29 Data dan asumsi hasil pengukuran kandungan biomassa dan karbon
di TNS dan di frontier area pada berbagai variabel tutupan lahan ... 167
30 Data dan asumsi submodel penduduk pada skenario model carbon
crediting ... 167
31 Data dan asumsi submodel Emisi CO2 (lingkungan) pada skenario
model carbon crediting (model CC) ... 169
32 Data dan asumsi biaya rencana pengelolaan submodel ekonomi
pada skenario model carbon crediting (model CC) ... 172
33 Identifikasi benefit dan cost pengelolaan hutan mangrove pada opsi
Mangrove Carbon Crediting (MCC) ... 174
34 Identifikasi manfaat dan biaya pengelolaan hutan mangrove pada
opsi tambak udang (Shrimp Sylvofishery; Sylfish) ... 175
35 Sensitivitas perubahan harga karbon terhadap biaya pengelolaan
pada skenario model carbon crediting ... 181
36 Perubahan tingkat laju populasi pendudukterhadap tingkat okupasi
tambak di TNS ... 181
37 Perubahan tutupan lahan akibat deforestasi dan degradasi hutan skenario model BAU di kawasan pesisir TN Sembilang dan di
Frontier Area selama periode komitmen 25 tahun pengelolaan (ha). 184
38 Tingkat perbandingan opsi pemanfaatan hutan mangrove skenario model business as usual (BAU) di kawasan pesisir TN Sembilang
pada periode komitmen 25 tahun ... 185
39 Akuntansi stok (Stock accounting) karbon terestrial pada kawasan dilindungi (TNS) dan kawasan tidak dilindungi (frontier area) pada
model BAU... 190
40 Akuntansi karbon (Carbon accounting) pada skenario model BAU
di kawasan pesisir yang dilindungi (TNS) ... 191
41 Akuntansi karbon(Carbon accounting) pada skenario model BAU
di Frontier Area (FA) ... 192
42 Perubahan tutupan lahan skenario model CC di kawasan pesisir TN Sembilang dan di Frontier Area selama periode komitmen 25 tahun
pengelolaan ... 196
43 Tingkat perbandingan opsi pemanfaatan hutan mangrove skenario model carbon crediting di kawasan pesisir TN Sembilang pada
periode komitmen 25 tahun... 198
44 Akuntansi stok (Stock accounting) pada kawasan dilindungi (TNS) dan kawasan tidak dilindungi (frontier area) pada skenario model
CC ... 200
Halaman
di kawasan pesisir yang dilindungi (TNS) ... 201
46 Akuntansi karbon(Carbonaccounting)pada skenario model CC di
kawasan pesisir yang tidak dilindungi (Frontier Area)... 202
47 Nilai jual jasa lingkungan (NJ2L) carbon crediting pengelolaan
sumberdaya mangrove di kawasan TNS... 206
48 Emission reduction accounting hasil simulasi model BAU dan
Model CC pada berbagai tipe tutupan lahan selama periode
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Kerangka pemikiran ………... 11
2 Tiga pilar pembangunan berkelanjutan didukung kerangka antar
disiplin………...
18
Halaman
4 Tahapan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu dan
berkelanjutan ………...
25
5 Alur kebijakan berdasarkan kajian ilmiah ………... 30
6 Biodiversity di ekosistem mangrove………... 39
7 Diagram konseptual tiga ekosistem utama yang mempengaruhi siklus karbon global ………... 43
8 Peningkatan permukaan air laut akibat pemanasan global ... 46
9 Proyeksi perubahan temperatur global... 46
10 Taksonomi total economic value (TEV) ... 53
11 Sistem loop terbuka... 56
12 Sistem loop tertutup... 56
13 Kontrol dan Umpan Balik Sistem... 58
14 Sistem umpan balik yang mencerminkan perilaku dinamik pertumbuhan penduduk... 58
15 Sistem kontrol umpan ke depan... 59
16 Kerangka pendekatan penelitian... 69
17 Peta batas wilayah penelitian di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan... 71 18 Ilustrasi bentuk jalur dan ukuran plot sampel di areal berhutan…….. 75
19 Taksonomi valuasi ekonomi penyerapan karbon ... 88
20 Tahapan pendekatan sistem dinamik………... 94
21 Simplifikasi diagram lingkar (causal loop) model dinamik pengelolaan sumberdaya pesisir berkelanjutan REDD+ ... 96
22 Diagram input-output sistem pengelolaan sumberdaya pesisir berkelanjutan berbasis REDD+ ... 98
23 Distribusi tipe pasang surut di sekitar Sumatera (WIIP 2001)... 105
24 Zona iklim Sumatera ... 105
25 Kegiatan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar Taman Nasional Sembilang ………... 117
26 Produk domestik regional bruto Kabupaten Banyuasin atas dasar harga berlaku dan pertumbuhannya... 121
27 Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuasin menurut sektor... 121
28 Struktur ekonomi Kabupaten Banyuasin ………... 122
29 Pendapatan perkapita Kabupaten Banyuasin atas dasar harga berlaku dan pertumbuhannya... 123
Halaman
pada tahun 2003... 132
31 Petapola penggunaan lahan di frontier area (Kabupaten Banyuasin)
pada tahun 2006 ... 133
32 Deforestasi dan degradasi sumberdaya pesisir di frontier area pada
periode 2003-2006 (ha) ... 137
33 Deforestasi dan degradasi hutan di wilayah pesisir TN Sembilang
periode 2003-2006 (ha)... 139
34 Perambahan fungsi hutan di wilayah pesisir TN Sembilang oleh
masyarakat untuk pengembangan tambak ... 140
35 Sebaran titik api (hot spot) yang terekam selama kebakaran hutan
tahun 1997 ... 141
36 Laju historis emisi CO2 dari deforestasi dan degradasi sumberdaya
pesisir di frontier area pada periode 2003-2006 (tC th-1). ... 145
37 Laju emisi deforestasi dan degradasi sumberdaya pesisir di TN
Sembilang tahun 2003-2006 (tC th-1) ... 146
38 Struktur submodel penduduk pengelolaan sumberdaya pesisir pada
skenario model Business As Usual (model BAU)... 156
39 Struktur submodel emisi CO2 (Lingkungan) pada skenario model
Business As Usual (model BAU)... 157
40 Struktur submodel ekonomi karbon pada skenario model Business
As Usual... 158
41 Struktur submodel penduduk pengelolaan sumberdaya pesisir pada
skenario model Carbon Crediting (model CC)... 160
42 Struktur submodel emisi CO2 (Lingkungan) pengelolaan
sumberdaya pesisir pada skenario Carbon Crediting (model CC) ... 161
43 Struktur submodel ekonomi karbon pengelolaan sumberdaya pesisir
pada skenario Carbon Crediting (skenario model CC) ... 163
44 Verifikasi hubungan antar variabel ... 177
45 Validasi variabel populasi penduduk... 178
46 Validasi variabel hutan mangrove primer ... 179
47 Sensitivitas model peningkatan laju karbon terestrial pada skenario
model business as usual dan skenario model carbon crediting ... 179
48 Sensitivitas model pada beberapa perubahan tingkat harga karbon:
(1) 10 USD tCO2-1, (2) 9 USD tCO2-1, (3) 8,05 USD tCO2-1... 180
49 Sensitivitas model pada beberapa perubahan tingkat pertumbuhan populasi (r) terhadap okupasi areal tambak (1) r = 2,58% th-1, ( 2)
r = 3,50% th-1, (3) r = 4,50% th-1... 181
50 Tren dampak tekanan penduduk terhadap hutan mangrove untuk kebutuhan areal pertambakan di dalam kawasan pesisir TN
Sembilang... 187
Halaman
di luar kawasan TNS (frontier area)... 188
52 Deliniasi carbon accounting model BAU di kawasan pesisir TNS
dan FA... 193
53 Tren dampak pengelolaan mangrove model carbon crediting (with
REDD+) terhadap berbagai tutupan lahan di pesisir TN Sembilang.. 196
54 Perubahan stok karbon terestrial hutan mangrove TNS pada
skenario model carbon crediting dan di frontier area pada skenario
model business as usual ... 199
55 Perubahan stok karbon terestrial hutan mangrove tidak dilindungi di
frontier area pada skenario model business as usual ... 201
56 Perubahan stok karbon netto/emisi CO2 tutupan hutan tidak di
frontier area (FA) pada skenario model business as usual ... 203
57 Perubahan stok karbon netto hutan mangrove yang dilindungi (TNS) pada pada skenario model carbon crediting dan stok karbon netto pada berbagai tutupan lahan di frontier area pada skenario
model business as usual ... 204
58 Deliniasi carbon accounting skenario model CC di kawasan pesisir
TNS dan FA ………... 205
59 Deliniasi emission reduction accounting pada skenario model CC
dan model BAU di kawasan pesisir TNS dan FA... 207
60 Perbandingan perubahan luas hutan mangrove primer (Hmp) di TNS
pada skenario model carbon crediting (with REDD+) (dan skenario
model business as usual (model BAU) ... 209
61 Perbandingan perubahan luas areal penggunaan lain (APL) di TNS pada skenario model carbon crediting (with REDD+) dan skenario
model business as usual (withouth REDD+) ... 210
62 Kecenderungan tingkat reduksi emisi CO2 di TNS pada skenario
model carbon crditing (with REDD+) dan di frontier area pada
skenario model business as usual (withouth REDD+) ... 211
63 Mekanisme distribusi pembayaran REDD+ berdasarkan sumber
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1 Jenis ikan dan non-ikan yang tertangkap dengan alat mini trawl di
Sungai Sembilang ………. 238
2 Jenis ikan yang tertangkap dengan trammel net di perarian sekitar
mangrove Taman Nasional Sembilang ………... 239 3 Jenis ikan yang tertangkap dengan kelong di perairan pesisir
Taman Nasional Sembilang ………. 241
4 Perhitungan Estimasi Nilai z (luas lahan minimal untuk hidup
layak) dan Tekanan Penduduk (TP) terhadap lahan ………. 242
business as usual ………...... 243 6 Formulasi submodel emisi CO2 (Lingkungan) pada skenario
model business as usual ... 244 7 Formulasi submodel ekonomi (without REDD+) pada skenario
model business as usual ... 248 8 Formulasi submodel penduduk (Sosial) pada skenario model
carbon crediting ………...... 250
9 Formulasi submodel emisi CO2 (Lingkungan) pada skenario
model carbon crediting ……… 251
10 Formulasi submodel ekonomi karbon (with REDD+) pada
skenario model carbon crediting……… 255
11 Perubahan tutupan lahan (land cover change) pada model BAU .... 257
12 Analisis biaya manfaat pengelolaan sumberdaya pesisir TNS pada
opsi pemanfaatan konservasi mangrove model BAU ... 258 13 Analisis biaya manfaat pengelolaan sumberdaya pesisir TNS pada
opsi pemanfaatan sylvofishery skenario model BAU... 260
14 Stock accounting karbon terestrial pada kawasan dilindungi (TNS)
dan kawasan tidak dilindungi (frontier area) pada skenario model
BAU ... 262
15 Carbon accounting pada skenario model BAU di kawasan pesisir
yang dilindungi (TNS)... 263
16 Carbon accounting pada skenario model BAU di Frontier Area
(FA)... 264
17 Perubahan tutupan lahan (land cover change) pada model CC ... 265
18 Analisis biaya manfaat pengelolaan sumberdaya pesisir TNS pada
opsi pemanfaatan carbon crediting skenario model CC ... 266
19 Analisis biaya manfaat pengelolaan sumberdaya pesisir TNS pada opsi pemanfaatan sylvofishery skenario model CC ...
267
20 Stock accounting pada kawasan dilindungi (TNS) dan kawasan
tidak dilindungi (frontier area) pada skenario model CC... 268
21 Carbon accounting pada skenario model CC di kawasan pesisir
yang dilindungi (TNS)... 269
22 Carbon accounting pada skenario model CC di kawasan pesisir
yang tidak dilindungi (Frontier Area) ... 270
23 Nilai jual jasa lingkungan (NJ2L) carbon crediting pengelolaan
sumberdaya mangrove di kawasan TNS ... 271
24 Emission reduction accounting hasil simulasi model BAU dan
Model CC pada berbagai tipe tutupan lahan selama periode
komitmen pengelolaan 25 tahun ... 272
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Paradigma pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada konsep resource based industry, merupakan kebijakan yang tepat untuk membangun negara sebagai langkah antisipatif dampak sistemik perubahan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu sumberdaya alam yang dapat memberikan harapan perbaikan ekonomi di masa mendatang adalah pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan. Jika pengelolaan sumberdaya ini tidak dimanfaatkan secara bijaksana dan tidak berwawasn lingkungan, maka bencana akan terjadi bagi generasi mendatang.
Paradigma ini perlu disertai instrumen kebijakan untuk dapat melakukan dorongan besar bagi pertumbuhan ekonomi berupa pilihan strategi pembangunan dan industrialisasi berbasis sumberdaya alam, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir diantaranya mangrove, lamun, terumbu karang. Hal ini penting untuk dilakukan, terutama sejalan dengan upaya pemberdayaan otonomi daerah serta pengembangan perekonomian perdesaan khususnya di wilayah pesisir.
Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki sumberdaya alam cukup besar
dengan luas daratan 187,9 juta ha diantaranya ± 137 juta ha (73%) merupakan hutan dan areal pengunaan lain (APL) ± 50,9 juta ha (27%), terdiri dari 13.487 pulau dengan panjang pantai ± 81.000 km. Selain itu juga memiliki 50 Taman Nasional (TN) dengan luas ± 12,5 juta ha diantaranya ± 3,7 juta ha merupakan hutan mangrove di kawasan pesisir. Namun demikian, kondisi sumberdaya alam tersebut saat ini sedang mengalami degradasi dan deforestasi. Fakta lain menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini ± 237 juta jiwa dimana 68% berada di kawasan pesisir dan mayoritas berada pada kantong-kantong kemiskinan dengan tingkat resiliensi rendah terhadap perubahan iklim serta sebagai faktor penggerak tekanan penduduk terhadap hutan mangrove. Selain adanya pengelolaan sumberdaya kurang terencana dan kurang memperhatikan aspek keberlanjutan, juga terdapat indikasi dimana masyarakat pesisir dari golongan tersebut melakukan perambahan hutan mangrove. Hal ini menyebabkan kawasan pesisir menjadi sangat rentan (vurlnerable) terhadap perubahan iklim global.
sementara ekosistem terestrial sekitar 56% dan lainnya 2% (Cook 2010). Berdasarkan hal tersebut, blue carbon dapat membuat kandungan CO2 di atmosfer menjadi berkurang
dan mampu mengurangi terjadinya pemanasan global (global warming).
Selain hutan mangrove, juga padang lamun, terumbu karang dan biota laut lainnya merupakan bagian dari blue carbon. Hasil penelitian terdahulu (DKP 2007) memprediksi bahwa hutan mangrove Indonesia mampu menyerap 67,7 MtCO2 th-1,
padang lamun sebanyak 50,3 MtCO2 th-1, terumbu karang mampu menyerap 65,7
MtCO2 th-1, dan fitoplankton sebanyak 36,1 MtCO2 th-1. Secara keseluruhan potensi
laut Indonesia mampu menyerap CO2 sebesar 219,8 MtCO2 th-1. Sumber lainnya
memprediksi dimana produktifitas primer penyerapan CO2 oleh perairan Indonesia sekitar 300 MtCO2 th-1 dan 3 MtCO2 th-1 diantaranya diendapkan (dideposit) ke dasar
laut (PKSPL-IPB 2009).
Terumbu karang Indonesia luas total ± 85.000 km2 saat ini mengalami degradasi: 41,78% rusak, 28,30 % kondisi sedang, 23,72% kondisi baik, dan hanya 6,20% kondisi sangat baik. Hal sama terjadi pada hutan mangrove, pada kurun waktu 1969-1980, sekitar satu juta ha hutan mangrove lenyap. Data lain menunjukkan pada periode 1982-1993 telah terjadi penurunan luas dari 5,21 juta ha menjadi 2,5 juta ha (Dahuri 2003). Dugaan lainnya bersumber dari World Mangrove Atlas tahun 1993 memprediksi luas hutan mangrove Indonesia mencapai ± 4,25 juta ha. Saat ini luas hutan mangrove Indonesia diprediksi ± 3,755 juta ha (Mardana 2003, Kusmana 2003, Dephut 2004).
Dalam rangka mengurangi ekploitasi sumberdaya pesisir yang eksesif diperlukan suatu konsep pengelolaan terpadu (Integrated Coastal Zone Management/ICZM) dengan cara melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) terhadap kawasan pesisir beserta sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan serta sasaran pemanfaatan. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan.
adalah Taman Nasional Sembilang (TNS) di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Kawasan ini terletak di sepanjang pesisir timur Kabupaten Banyuasin dan merupakan suatu ekosistem hutan mangrove. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 95/Kpts-II/2003, tanggal 19 Maret 2003 ditetapkan menjadi TNS. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Selatan luas TNS sekitar 205,75 ribu ha. Kawasan TNS sebelumnya adalah penggabungan dari kawasan Suaka Margasatwa Terusan Dalam (29,25 ribu ha), Hutan Produksi Terbatas (HPT) Terusan Dalam (45,50 ribu ha), Hutan Lindung Sungai Sembilang (113,17 ribu ha) dan perairan (sekitar 17,83 ribu ha). Luas TNS saat ini telah ditetapkan menjadi 202.896,31 ha (Balai TNS 2009). Salah satu sumberdaya pesisir yang sangat penting di kawasan TNS adalah hutan mangrove, sehingga diperlukan suatu model pengelolaan yang optimal dan lestari.
Keberadaan hutan mangrove TNS memiliki arti penting, karena selain berfungsi sebagai stabilisasi aspek fisik, biologi maupun ekonomi, juga berfungsi sebagai penyeimbang perubahan iklim wilayah pesisir timur Pulau Sumatera bagian selatan. Namun beberapa tahun terakhir ini TNS mengalami tekanan berat yang dapat berpengaruh terhadap sistem penyangga kehidupan. Adanya pemanfaatan hutan secara ilegal (illeggal logging) dan konversi hutan telah menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas keanekaragaman hayati (biodiversitas). Dengan adanya desakan kebutuhan dan penetrasi faktor luar akan mendorong masyarakat mengeksploitasi hutan dengan
motif ekonomi, sehingga terjadi degradasi sumberdaya dan banyak dijumpai kondisi kawasan konservasi yang tidak sesuai lagi dengan status dan fungsinya.
Dalam menjamin fungsi wilayah dan sumberdaya pesisir sesuai dengan peruntukannya, diperlukan suatu konsep penataan ruang (zonasi) yang terintegrasi serta pengelolaan yang tepat guna, baik pada zona perlindungan, zona pembinaan maupun pada zona pemanfaatan. Sehingga dalam upaya pengembangan, pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan pesisir diperlukan suatu model dinamik yang terintegrasi. Model rekayasa pengelolaan ini dimaksudkan sebagai landasan dan arahan dalam setiap kegiatan perencanaan zonasi kawasan serta pengelolaan hutan mangrove selama jangka waktu pengusahaan, berdasarkan aspek pelestarian sumberdaya alam serta pembangunan yang berwawasan lingkungan.
pendapatan dan belanja negara (APBN). Padahal banyak sumber-sumber pendanaan lain untuk pengelolaan lingkungan yang dapat dimanfaatkan, baik dari sumber multilateral,
bilateral maupun dari pihak NGO dan swasta. Dengan memanfaatkan sumber pendanaan tersebut, maka pengelolaan hutan mangrove di TNS dapat dilakukan secara lebih optimal dan lestari melalui kerjasama atau sistem pendanaan yang layak.
Sistem pendanaan melalui Protokol Kyoto menawarkan mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM). Selain itu, juga hasil COP-13 di Bali tahun 2007 yang melahirkan komitmen bersama berupa bantuan dan insentif negara maju bagi upaya penurunan emisi gas rumah kaca di negara-negara berkembang melalui pencegahan konversi dan degradasi hutan dan dikenal dengan konsep REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Estimasi potensi kredit karbon (voluntary market) melalui REDD di Indonesia saat ini sekitar 500 juta USD-2 milyar USD th-1 (World Bank 2009). Peluang lainnya adalah moratorium pembangunan hutan tanaman industri (2011-2012) antara pemerintah Indonesia dan Norwegia pada tahun 2010 terdapat peluang dana pengelolaan hutan sebesar 1 milyar USD.
Sumber lainnya adalah Voluntary Carbon Standar (VCS) tahun 2007 terdapat empat kategori kegiatan untuk kredit karbon berkaitan dengan AFOLU (Agriculture, Forestry and Other Land Uses). Keempat kategori tersebut yaitu: (1) Afforestation, Reforestation and Revegetation (ARR), (2) Agricultural Land Management (ALM), (3) Improved Forest Managament (IFM), dan (4) Pengelolaan sumberdaya alam berbasis REDD+.
Sumber pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan karbon kehutanan secara umum berasal dari tiga sumber: (1) Non-open market, yaitu sumber dana publik (CSR nasional/internasional atau dana publik lainnya), (2) Standar market (voluntary market dan compliance market), yaitu sumber pendanaan dari pasar karbon (mekanisme Kyoto dan non-Kyoto), dan (3) Dana kerjasama bilateral dan multilateral yang diperuntukkan bagi dukungan pelaksanaan kegiatan penanganan perubahan iklim atau dana hibah untuk membantu negara berkembang dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan kegiatan REDD atau yang disebut dana Readiness dan investasi (Boer et al. 2009).
atau peningkatan cadangan karbon hutan melalui kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi (CIFOR 2009). Tujuannya agar partisipasi untuk
menerapkan REDD semakin luas, serta untuk memberikan penghargaan kepada negara-negara yang sudah berupaya melindungi hutannya.
Berdasarkan permasalahan dan peluang tersebut, perlu digagas suatu model rekayasa sistem pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+. Sistem pengelolaan sumberdaya yang diharapkan tentunya melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk kesejahteraannya saat ini dan mendatang. Prinsip pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+ ini didasarkan pada landasan hukum Peraturan Presiden (Prepres) No. 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor: 30/Menhut-II/2009 tentang tata cara pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), Permenhut Nomor: P.36/Menhut-II/2009 tentang tata cara perijinan usaha pemanfaatan karbon pada hutan produksi dan hutan lindung dalam bentuk Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL).
Model pengelolaan sumberdaya pesisir berkelanjutan berbasis REDD+ merupakan suatu pengkajian rekayasa ekosistem dengan memasukkan konservasi hutan, pengelolaan hutan lestari atau peningkatan cadangan karbon hutan melalui kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi. Pendekatan ini didasari oleh prinsip umpan balik (causal loop) antar subsistem penduduk (sosial), subsistem ruang hutan mangrove (sistem lingkungan), serta subsistem ekonomi berdasarkan ijin usaha
pemanfaatan jasa lingkungan (IUPJL). Model pengelolaan ini merupakan salah satu strategi alternatif pembangunan ekonomi baru dalam memanfaatkan potensi kredit karbon yang ada.
Pengelolaan kawasan mangrove sampai saat ini belum ada yang berbasis REDD+, baik pada kawasan konservasi maupun pada kawasan hutan produksi. Pengelolaan hutan mangrove di Sembilang misalnya, masih didasarkan pada sistem pengelolaan kawasan konservasi berupa Taman Nasional. Cara ini secara ekologi cukup baik, akan tetapi secara ekonomi kurang menguntungkan karena masih tergantung pada anggaran negara. Oleh karena itu perlu diintegrasikan dengan peluang yanga ada, yaitu berbasis REDD+.
sumberdaya pesisir berkelanjutan ini adalah adanya suatu bentuk pengaturan pemanfaatan kawasan untuk mendapatkan hasil yang optimal dengan memperhatikan
kelestarian stok sumberdaya alam yang ada. Sebagaimana yang pernah dikaji Kusumastanto (1995) dalam penyusunan suatu model dinamis dinyatakan bahwa selain faktor-faktor input-output yang dimasukan dalam model, diintroduksikan juga unsur-unsur yang tidak bernilai pasar (non market value) dari lingkungan serta penilaian terhadap aspek-aspek sosial.
1.2 Perumusan Masalah
Model pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata telah menyebabkan turbulensi pada bidang ekonomi dan lingkungan. Berdasarkan data IPCC (2007) menunjukkan bahwa di Indonesia antara 1970-2004 telah terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2-1oC yang berdampak pada sistem alam dan biologis: penurunan produksi pangan yang dapat meningkatkan resiko bencana kelaparan, peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai, meningkatnya sumber penyakit serta semakin merosotnya tingkat kualitas hidup umat manusia.
Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir telah direspon Pemerintah Indonesia
dengan komitmen penurunan emisi GRK secara sukarela sebesar 26% dan bila ada bantuan internasional dalam hal pendanaan, peningkatan kapasitas dan transfer teknologi maka penurunan tersebut akan ditingkatkan menjadi 41%. Dari manakah
sumber mitigasi tersebut? Salah satu sumbernya adalah dari bagaimana model pengelolaan sumberdaya Taman Nasional yang ada di Indonesia dapat dikelola dan menguntungkan secara ekonomi, mandiri secara finansial serta bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
penetrasi terhadap kawasan TNS. Deforestasi dan degradasi hutan mangrove TNS akan semakin meningkat, sehingga dapat menimbulkan potensi emisi karbon di masa yang
akan datang. Selain itu juga diprediksi telah terjadi pencemaran limbah domestik serta limbah berbagai kegiatan pemanfaatan hutan produksi di hulu (upland area) melalui sungai-sungai yang mengalir ke kawasan TNS dan mengakibatkan pendangkalan akibat proses sedimentasi di Teluk Sekanak dan Teluk Benawang, Pulau Betet, Pulau Alanggantang, Semenanjung Banyuasin serta perairan di sekitarnya.
Upaya pendekatan telah dilakukan untuk mengurangi degradasi hutan mangrove diantaranya pembinaan terhadap masyarakat di sekitar zona penyanggah, serta pengaturan pengusahaan kawasan pada zona pemanfaatan. Namun demikian, mengingat belum adanya suatu konsep penataan, pengelolaan serta pengusahaan kawasan yang terintegrasi, khususnya pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan serta terbatasnya anggaran, maka beragam permasalahan yang dihadapi di kawasan ini akan terus berlanjut : eksploitasi dan konversi hutan mangrove melebihi daya regenerasinya serta limbah memasuki kawasan TNS melampaui batas kemampuannya (carrying capacity). Terlebih lagi di bagian timur dan berbatasan langsung dengan TNS akan dibangun pelabuhan internasional Tanjung Api-api. Limbah kapal yang keluar masuk kawasan diprediksi dapat mencemari perairan pesisir TNS.
Atas dasar permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Sampai sejauhmana dapat dilakukan pengelolaan kawasan konservasi mangrove di wilayah pesisir agar dapat mandiri secara finansial ?
2) Sampai sejauhmana dapat dilakukan pembinaan terhadap masyarakat di luar kawasan TNS (frontier area) serta arah pemanfaatan tata ruang pesisir agar tidak terjadi carbon leakage di sekitarnya.
3) Model dinamik pengelolaan sumberdaya pesisir yang bagaimana yang dapat disusun untuk menata, mengelola dan mengusahakan sumberdaya wilayah pesisir, yang secara ekonomi harus efisien dan optimal, secara sosial budaya berkeadilan dan dapat diterima, serta secara ekologis tidak melampaui daya dukung lingkungannya ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini pada hakekatnya adalah untuk :
2) Menganalisis indikator penggerak potensi emisi karbon di kawasan pesisir
3) Menghitung kecenderungan dua model skenario business as usual (model BAU) dan model skenario carbon crediting (model CC) terhadap fenomena laju emisi CO2
serta keberlanjutan pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+.
4) Menganalisis implikasi kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir dari kecenderungan dua model tersebut kaitannya dengan ekonomi wilayah, upaya mitigasi serta kontribusi pengelolaan sumberdaya pesisir terhadap penurunan GRK 26% pada tahun 2020.
Berdasarkan cakupan input, proses dan output, kedalaman metode deksripsi analisis ini diprioritaskan untuk mendapatkan sejumlah input pada tingkat proses pengolahan input dan output tertentu. Selain itu juga kajian lebih fokus pada mencari sejumlah input yang paling ideal untuk mendapatkan output yang lebih baik.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Dapat memberikan perspektif baru yang bermanfaat bagaimana seharusnya pengelolaan pesisir dapat diwujudkan sesuai dengan karakteristik alamnya, sehingga dapat tercapai pertumbuhan ekonomi, perbaikan kualitas lingkungan serta terhindar dari adanya konflik pemanfaatan di sekitar kawasan TNS.
2) Pada saatnya diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan wilayah pesisir khususnya pada kawasan Taman Nasional Sembilang, untuk dapat mengeliminasi berbagai konflik kepentingan serta menghindari deteriorisasi sumberdaya pesisir yang bersifat eksesif.
3) Pengelolaan hutan konservasi (mangrove) dapat dilakukan secara mandiri dalam pendanaan (self financing) melalui skenario kredit karbon (carbon crediting).
1.4 Kerangka Pemikiran
Kerangka konsep penelitian ini dibangun atas dasar visi dan kebijakan pembangunan secara berkelanjutan, isu dan permasalahan serta adanya peluang yang dapat dimanfaatkan untuk kesinambungan pengelolaan sumberdaya pesisir. Visi
sektor. Salah satunya adalah pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan berbasis REDD+.
Pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya wilayah pesisir sebagai salah satu basis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, pada kenyataannya masih sering kali dilakukan secara tidak terpadu dan tidak berkelanjutan. Eksploitasi terhadap sumberdaya alam masih sering dilakukan dengan melampaui batas kemampuan regenerasinya serta pencemaran terhadap lingkungan yang melebihi daya kapasitasnya. Sementara hasil yang dicapai belum memenuhi visi pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan.
Pengelolaaan kawasan TNS selama ini telah memberikan manfaat ekologis, tetapi belum memberikan kontribusi secara signifikan, terutama terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Banyuasin. Pada kenyataannya saat ini seringkali terjadi berbagai permasalahan baik ekologis, sosial maupun ekonomi. Sebagai contoh masih maraknya pembalakan liar (illegal logging) dan konversi lahan, konflik kepemilikan lahan yang menjurus kepada konflik sosial serta masih banyaknya kantong-kantong kemiskinan di sekitar kawasan tersebut.
Pengelolaan kawasan konservasi TNS saat ini didasarkan pada rencana strategi serta rencana zonasi yang sudah disusun. Namun demikian pengelolaan pada zona pemanfaatan sampai saat ini belum dilakukan secara optimal. Di beberapa kawasan tertentu (frontier area) masih ada indikasi dibangunnya obyek-obyek pengusahaan pesisir dengan mengkonversi sumberdaya yang ada (contoh: hutan primer dan hutan
mangrove serta lahan gambut di atas kedalaman 3 meter) untuk berbagai kepentingan. Hal ini tentunya dapat menimbulkan spektrum dampak yang luas terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Dampak tersebut meliputi isu dan permasalahan subsistem ekonomi, subsistem lingkungan maupun subsistem sosial.
Permasalahan ekonomi mencuat ke permukaan seperti belum optimalnya pola pemanfaatan investasi berdasarkan potensi sumberdaya alam dan potensi sumberdaya manusia setempat. Rendahnya tingkat pendapatan serta masih terbatasnya mata pencaharian alternatif. Isu dan permasalahan ini diprediksi menimbulkan dampak turunan juga terhadap permasalahan ekologis dan permasalahan sosial.
terjadi sebagai akibat rendahnya pelibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan serta kurang berorientasi pada masyarakat kelas bawah. Hal ini menimbulkan dampak
rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat, konflik sosial serta rendahnya kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sangat rentan terhadap berbagai perubahan (Smith and Scherr 2002, Tacconi 2003, Kusmana 2003, FAO 2005).
Dalam pengelolaan kawasan pesisir dan kawasan konservasi TNS, selain adanya berbagai masalah itu, juga terdapat sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan untuk keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam tersebut. Salah satunya adalah peluang pengelolaan kawasan konservasi berbasis REDD+. Pemanfaatan peluang ini tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Ada berbagai ketentuan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah jaminan pengamanan kawasan dari kerusakan dan perambahan hutan.
Pemanfaaatan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan memerlukan berbagai peluang peningkatan ekonomi, sosial dan sistem ekologi, serta berbagai peningkatan dalam kapasitas adaptif. Memperluas peluang untuk pengembangan sistem akan memberikan peningkatan pembangunan, sementara itu peningkatan kapasitas adaptif akan menambah daya resiliensi masyarakat secara berkelanjutan (Wollenberg et al. 2004, CIFOR 2008). Pendekatan ini sesungguhnya mencari kemajuan secara kontinum kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya secara efisien, sehingga kekayaan antar generasi (inter-generational equity) dapat terjamin.
Mengacu pada isu dan permasalahan serta peluang yang dapat dimanfaatkan,
diperlukan suatu penelitian komprehensif yang memadukan antara dinamika ekosistem, sistem ekonomi dan sistem sosial. Berbagai peluang tersebut memerlukan suatu tahapan penelitian untuk mendapatkan data dan informasi serta diperlukan teknik analisis yang tepat agar tujuan penelitian dapat tercapai.
Isu dan Permasalahan Keragaan Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir
Penelitian dengan
Pendekatan Sistem Dinamik Tujuan Penelitian
Gambar 1 Kerangka pemikiran
Isu Subsistem Lingkungan Konversi lahan
Illegal logging Kebakaran hutan Pencemaran lingkungan Isu global perubahan iklim
Isu Subsistem Sosial Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah Konflik sosial pemanfaatan SD Tingkat pengangguran tinggi
Isu Subsistem Ekonomi Pola investasi pada zona pemanfaatan belum optimal Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat
Rendahnya kontribusi TNS terhadap PDRB
Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir Model Matematik Deterministik
Model Optimalisasi
Visi Pembangunan Berkelanjutan
Pertumbuhan ekonomi
Perbaikan Kualitas lingkungan
Peningkatan kesejahteraan antar generasi
Keragaan Kawasan Pesisir TNS
(Eksisting) REDD+ Renstra &
Zonasi
Rencana Tata Ruang dan Keragaan Masyarakat di Frontier
Area
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Belum Komprehensif
Menghitung tingkat potensi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi sumberdaya pesisir Menganalisis indikator
penggerak potensi emisi karbon di kawasan pesisir Menghitung
kecenderung-an dua model skenario
business as usual (model BAU) dan model skenario
carbon crediting (model CC) terhadap fenomena laju emisi CO2 serta
keberlanjutan pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis REDD+ Implikasi kebijakan
1.5 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan suatu petunjuk tentang bagaimana suatu
variabel dapat diukur. Untuk itu beberapa definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini meliputi :
1) Model adalah suatu abstraksi dan penyederhanaan dari suatu sistem yang sesungguhnya, dalam hal ini adalah ekosistem Taman Nasional Sembilang (TNS). 2) Model Dinamik adalah suatu rancangan model sistem untuk menjelaskan suatu
keadaan yang heterogen dimana peubah-peubahnya mengandung faktor waktu sehingga bersifat dinamis.
3) Model matematik, penyederhanaan dari sistem dengan menggunakan format dalam bentuk angka, simbol, dan rumus dengan jenis yang umum dipakai adalah persamaan matematis (equation).
4) Model matematik deterministik adalah suatu model matematik dengan menggunakan beberapa peubah yang ditentukan sebelumnya berdasarkan hasil penelitian. Jadi dalam hal ini ada tingkat kepastian (deterministik) pada beberapa peubah yang digunakan.
5) Sistem adalah suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan.
6) Pemodelan sistem adalah suatu rancangan model sistem sebagai alat penunjang keputusan untuk meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan dalam perencanaan dan penataan ruang kawasan dan implementasi pengusahaan kawasan
pesisir atau strategi berinvestasi.
7) Simulasi model adalah suatu aktivitas dimana pengkaji atau pengguna (user interface) dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang perilaku dari suatu sistem berdasarkan skenario, melalui penelaahan perilaku model yang selaras, dimana hubungan sebab akibatnya seperti yang ada pada sistem yang sebenarnya.
8) Pengelolaan adalah suatu upaya perencanaan, mengorganisasi, menggerakkan serta melakukan pengawasan terhadap obyek yang dikelolanya.
9) Sumberdaya alam adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh alam dan bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup.
11) Pesisir (dalam konteks administrasi) adalah wilayah yang secara administrasi pemerintahan memiliki batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau
kabupaten/kota yang mempunyai laut dan ke arah laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiganya (4 mil) untuk kabupaten/kota.
12) Pesisir (konteks perencanaan) adalah wilayah perencanaan pengelolaan sumberdaya yang difokuskan pada penanganan isu yang akan dikelola secara bertanggung jawab.
13) Pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan (dimensi ekologis) adalah cara mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat di suatu wilayah pesisir, agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya.
14) Pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan (dimensi ekonomi) adalah cara mengelola segenap kegiatan pembangunan dimana manfaat yang diperoleh dari kegiatan penggunaan wilayah pesisir serta sumberdaya alamnya harus diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk disekitarnya. Basis pengukuran didasarkan pada tingkat kemampuan membayar (willingness to pay) terhadap sumberdaya atau jasa-jasa yang dikonsumsi.
15) Pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan (dimensi sosial) adalah cara mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat di suatu wilayah pesisir dengan mereduksi kerentanan serta memelihara daya tahan sistem sosial budaya yang ada dalam masyarakat.
16) Pengelolaan sumberdaya pesisir terpadu atau ICZM (Integrated Coastal Zone
Management) adalah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang terdapat di kawasan pesisir.
17) Pengelolaan sumberdaya pesisir berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya pesisir untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
18) Perdagangan karbon (carbon trading) adalah transaksi kredit karbon yang telah diverifikasi dalam bentuk sertifikat yang dihasilkan dari REDD (reducing emissions from deforestation and forest degradation).
20) REDD-plus adalah sebuah kerangka kerja REDD yang diperluas dengan memasukkan konservasi hutan, pengelolaan hutan lestari atau peningkatan
cadangan karbon hutan melalui kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi agar partisipasi untuk menerapkan REDD semakin luas, serta untuk memberikan penghargaan kepada negara-negara yang sudah berupaya melindungi hutannya.
21) CDM, Clean Development Mechanism (CDM) yaitu mekanisme penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat dilakukan antara negara maju dan negara berkembang untuk menghasilkan Certified Emission Reduction (CER).
22) Deforestasi adalah perubahan lahan yang semula berhutan menjadi lahan tanpa tegakan pohon.
23) Degradasi adalah suatu penurunan kualitas dari sumberdaya alam
24) Pool karbon/stok karbon (carbon pool) adalah suatu sistem yang mempunyai mekanisme untuk mengakumulasi atau melepas karbon. Contoh: biomassa hutan, produk-produk kayu, tanah dan atmosfer.
25) Penyerapan karbon (carbon sequestration) adalah proses pengikatan CO2 di
atmosfer oleh tanaman berkhlorofil melalui fotosintesis kemudian menyimpannya dalam bentuk biomassa di berbagai bagian tanaman.
26) Emisi CO2 (karbon dioksida) ad