MAKALAH MK. MANAJEMEN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT
“Mengidentifikasi Karakteristik, Potensi, Sumber Daya Pesisir, Isu atau Permasalahan Wilayah Pesisir Serta Upaya Pengolahan di Kota Sorong”
Oleh :
Olivia Sau’ Padang/2021 30 002 Feby Tri Maryani/2021 30 018
Sahril/2024 30 030 Melianus K. Sapari/2022 30 011
Daniel W. Idie/2020 30 033
JURUSAN PERIKANAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PAPUA
2024
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Manajemen Sumberdaya Pesisir dan Laut semester genap 2023/2024 mengenai Identifikasi Karakteristik, Potensi, Sumber Daya Pesisir, Isu atau Permasalahan Wilayah Pesisir Serta Upaya Pengolahan di Kota Sorong” dengan baik dan lancar mulai dari awal hingga akhir.
Kami juga menyampaikan terima kasih kepada dosen pengajar mata kuliah Manajemen Sumberdaya Pesisir dan Laut yaitu Dr. Dedi Parenden, S.Pi.,M.Si, yang telah memberikan arahan, bimbingan selama pembuatan makalah ini. Akhir kata semoga pembaca dapat memahami isi dari makalah ini.
Manokwari, 24 September 2024
Penulis
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Manfaat ... 2
II PEMBAHASAN ... 3
2.1 Karakteristik Kota Sorong ... 3
2.2 Potensi Kota Sorong ... 4
2.3 Sumber Daya Pesisir Kota Sorong ... 7
2.4 Isu Permasalahan dan Upaya Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Sorong ... 9
III PENUTUP ... 15
3.1 Kesimpulan... 15
3.2 Saran ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 16
1
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Provinsi Papua Barat Daya adalah provinsi hasil pemekaran dari provinsi Papua Barat sesuai UU No. 29 Tahun 2022, hasil pemekaran ini terdiri dari 5 kabupaten dan 1 kota dengan ibu kota berada di Kota Sorong (Pristianto et al., 2024). Provinsi Papua Barat Daya memiliki luasan wilayah sekitar 39.122,95 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 621.904 jiwa, dengan Kota Sorong sebagai ibukota hanya memiliki luasa 0,525% wilayah provinsi dan dihuni 47,59% penduduk Provinsi Papua Barat Daya (BPS Papua Barat, 2023).
Wilayah pesisir merupakan salah satu sumberdaya potensial di Indonesia, dimana kawasan ini mencakup wilayah pertemuan antara daratan dan lautan (Tabalessy, 2023). Menurut (Setyawan et al., 2015) kawasan pesisir adalah daerah peralihan atau tempat pertemuan antara daratan dan laut, yang mencakup lingkungan tepi pantai dan perairan pantai. Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia. Ekosistem pesisir umumnya merupakan ekosistem yang mempunyai peran penting terhadap faktor penyangga kehidupan bagi berbagai jenis organisme maupun tumbuhan yang hidup di sekitar ekosistem tersebut (Maruapey et al., 2023). Sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan sosial-ekonomi
“nilai” wilayah pesisir terus bertambah. Konsekuensi dari tekanan terhadap pesisir ini adalah masalah pengelolaan yang timbul karena konflik pemanfaatan yang timbul akibat berbagai kepentingan yang ada di wilayah pesisir. Wilayah pesisir memiliki nilai ekonomi tinggi, namun terancam keberlanjutannya.
Dampak yang paling nyata di kawasan pesisir dengan eksploitasi sumberdaya adalah degradasi kondisi biofisik sumberdaya pesisir. Berbagai aktifitas sosial ekonomi masyarakat tentunya memberikan dampak yang tidak diharapkan dari kondisi biofisik wilayah pesisir yang dikenal sangat rentan terhadap perubahan (Maruapey et al., 2023).
2 1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu : 1. Mengetahui karakteristik dari Kota Sorong 2. Mengetahui potensi di Kota Sorong
3. Mengetahui sumber daya pesisir yang ada di Kota Sorong
4. Mengetahui isu atau permasalahan serta upaya pengelolaan wilayah pesisir di Kota Sorong.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini yaitu dapat memberikan informasi bagi mahasiswa/i mengenai karakteristik, potensi, sumberdaya pesisir, isu atau permasalahan serta apa saja upaya pengelolaan wilayah pesisir yang ada di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Kiranya makalah ini juga dapat menjadi rujukan untuk penulisan dengan judul yang relevan dengan judul makalah ini
3
II PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Kota Sorong
Kota Sorong, yang terletak di provinsi Papua Barat Daya yang memiliki wilayah pesisir yang kaya akan karakteristik geografis, ekologi, dan sosial ekonomi.
Secara geografis Kota Sorong terletak di ujung barat Pulau Papua yang menjadikannya pintu gerbang menuju wilayah Papua dan Raja Ampat, serta jalur strategis bagi transportasi laut di Indonesia bagian timur. Kota sorong memiliki luas 1.105 km2 dengan topografi yang bervariatif, terdiri dari bukit-bukit, pegunungan, lereng dan area pesisir atau dataran rendah (Suaidy, 2017).
Berdasarkan letak geografis Kota Sorong, sebelah utara berbatasan dengan Selat Dampir dan Kabupaten Sorong (Distrik Makbon), sebelah selatan berbatasan dengan distrik Aimas dan Kabupaten Raja Ampat (Distrik Salawati), sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sorong (Distrik Sorong) dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Dampir (BPS Kota Sorong, 2024).
Kota Sorong merupakan satu-satunya kota yang terdapat di Provinsi Papua Barat Daya dan terletak pada kawasan pesisir pantai. Menurut BPS Kota Sorong Tahun 2023, jumlah penduduk yang mendiami Kota Sorong ± 294.978 jiwa, dimana jumlah penduduk ini tersebar di 10 distrik yang ada di Kota Sorong.
Sebagian masyarakat Kota Sorong beraktivitas dengan memanfaatkan sumberdaya alam pesisir (Tabalessy, 2023). Menurut Pristianto et al., (2024) Kota
4 sorong merupakan wilayah yang membentang sepanjang pesisir bagian barat provinsi Papua Barat Daya. Wilayah pesisir Kota Sorong memiliki karakteristik yang signifikan, mencakup hampir 40% dari total luas kota. Garis pantai Kota Sorong juga memiliki pemukiman yang mencapai 40% dari total luas wilayah pesisir, yang menunjukkan tingginya kepadatan penduduk di area tersebut.
Sumber daya laut yang melimpah menjadikan perikanan sebagai sektor ekonomi penting di wilayah pesisir Sorong. Pradana, (2024) menyebutkan bahwa sebagai masyarakat yang menghuni daerah pesisir Kota Sorong, mereka memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan, penebang kayu mangrove, pencari bia (kerang), kepiting, udang dan pencari batu karang. Hal ini juga didukung oleh penyataan (Florensia et al., 2022) yang menyatakan bahwa sebagai orang pesisir, masyarakat Kota Sorong menggantungkan kehidupannya pada hasil laut dan sumber daya alam disekitarnya.
Penduduk di wilayah pesisir Sorong umumnya mengandalkan kehidupan mereka dari laut, baik sebagai nelayan maupun sebagai pelaku usaha kecil di bidang pariwisata dan perikanan. Budaya maritim sangat kental dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Pembangunan industri dan infrastruktur di wilayah pesisir Sorong, termasuk sektor migas, telah memberikan dampak ekonomi, namun juga menimbulkan tantangan dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir. Dengan potensi yang besar wilayah pesisir Kota Sorong memiliki peranan penting dalam perkembangan ekonomi, khususnya dalam sektor perikanan, pariwisata, dan perdagangan. Namun, tantangan lingkungan, seperti abrasi pantai dan kerusakan ekosistem laut, juga perlu mendapat perhatian untuk menjaga keberlanjutannya.
2.2 Potensi Kota Sorong
Provinsi Papua Barat Daya khususnya Kota Sorong merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi pesisir dan kelautan yang sangat besar.
Garis pantainya yang memiliki banyak potensi pesisir dan kelautan yang bisa dimanfaatkan. Hal ini didukung oleh Mugu et al., (2023) yang menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri potensi keanekaragaman hayati pesisir dan laut di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya melimpah dari segi ekosistem, jenis maupun genetik. Keanekaragaman hayati itu terbesar di wilayah pesisir pantai, diantaranya
5 ekosistem pantai berpasir, mangrove, lamun dan terumbu karang, menjadi aset untuk menunjang pembangunan dan ekonomi mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. Beberapa potensi unggulan yang dapat dikembangkan, ke arah laut mulai dari usaha perikanan budidaya, perikanan tangkap, budidaya rumput laut,sampai kerang mutiara serta pariwisata mulai dari wisata selam dan wisata pancing. Sedangkan ke arah darat mulai dari wisata pantai, pembangunan perhotelan, perumahan, pusat perdagangan dan jasa. Pernyataan ini didukung oleh Muharuddin, (2019) dimana, keberadaan terumbu karang, hutan mangrove, serta keanekaragaman flora dan fauna laut merupakan potensi yang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, baik di bidang produksi maupun di bidang pariwisata.
Potensi pengembangan pariwisata di wilayah pesisir diprioritaskan pada jenis wisata pantai dan wisata selam,yang memiliki kelas potensi tinggi.
Pariwisata
Kota Sorong memiliki beberapa obyek wisata yang mulai dikenal oleh masyarakat daerah kota sorong maupun luar kota sorong seperti wisata hutan mangrove, pulau matan, pulau buaya,tampa garam beach, kasuary valerya beach, tanjung kasuary pantai alinda dan masih ada lagi tempat wisata yang lain. Daya tarik wisata kota Sorong terletak pada panorama alam berupah pantai, hutan, dan perbukitan (Sesa, 2021). Pantai Saoka yang terletak di wilayah Kecamatan Maladomes Kelurahan Saoka, pantai ini termasuk pantai yang banyak dikunjungi karena merupakan pantai yang aktif menjadi tempat untuk para wisatawan menikmati panorama alam sekitar bersama keluarga. Potensi pariwisata dari pantai-pantai yang berada di Kota Sorong didukung oleh fasilitas rekreasi yang di tawarkan seperti pemandian laut alam, berperahu tradisional dan keindahan panorama laut. Keindahan yang ditawarkan juga dari segi pantai yang berpasir putih dengan pemandangan berupa pulau-pulau di kejauhan serta perpaduan pohon dan bukit tepi pantai (Sitompul, 2012).
6 Perikanan
Apabila dilihat dari potensinya sebagai wilayah pesisir, Kota Sorong memiliki pengembangan perikanan laut yang ditandai dengan keberadaan Pelabuhan Perikanan Puri (P3) yang merupakan basis utama nelayan di kota sorong dalam melakukan produksi dan distribusi perikanan.
Kearifan Lokal (Sasi)
Sasi merupakan prinsip manajemen pengelolaan perikanan yang didukung oleh hukum adat yang telah ada selama beberapa generasi (Kennedy et al., 2019).
Dalam kaitannya dengan pengelolaan sumberdaya laut secara tradisional, SASI diterapkan secara spesifik oleh masyarakat adat misalnya wilayah laut (petuanan laut), perairan pesisir (meti), wilayah tempat orang melabuhkan perahu (labuhan) atau berdasarkan objeknya (Sareo et al., 2014).
Masyarakat Kampung Malaumkarta menyebut aturan sasi sebagai Egek, yang di dalam bahasa moi artinya larangan. Secara umum aturan larangan Egek ada dua yaitu Egek darat dan Egek laut. Egek pada laut merupakan suatu kegiatan pelarangan pengambilan teripang, udang lobster dan lola selama waktu yang telah ditentukan. Egek laut umumnya harus dilakukan bersama (dihadiri masyarakat) dari proses penutupan hingga pembukaan oleh ketua adat.
Peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di Malaumkarta adalah ialah terwujud praktik tradisional yang dikenal sebagai sasi. Masyarakat lokal termasuk para tetua adat dan tokoh masyarakat, terlibat aktif dalam pengambilan keputusan terkait kapan sasi
7 diberlakukan dan dicabut. Hal ini didukung oleh pernyataan Arafat et al., (2022) yang menyatakan bahwa periode buka-tutup egek didasarkan kepada kesepakatan bersama antar masyarakat. Umumnya, egek dibuka selama 1 bulan atau sesuai kebutuhan masyarakat dan atau memperhatikan kondisi biota egek apakah masih memungkinkan untuk diambil atau jumlahnya tinggal sedikit. Egek dibuka biasanya dilakukan pada musim teduh/tidak berombak (april – agustus).
Sedangkan untuk periode tutup egek, biasanya dilakukan selama 1-2 tahun atau sesuai kebutuhan masyarakat. Sebelum egek dibuka, maka terlebih dahulu dilakukan musyawarah oleh masyarakat yang membahas tujuan, kebutuhan dana, waktu buka egek dan hal-hal lainnya. Setelah disepakati, dilakukan doa bersama di gereja untuk meminta berkat kepada Tuhan agar potensi biota yang akan diambil dimunculkan (tidak susah mencari), proses penyelaman berjalan lancar, hasil yang diperoleh banyak dan hasilnya dapat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat kampung.(Kennedy et al., 2019)
2.3 Sumber Daya Pesisir Kota Sorong
Kota sorong yang lebih dikenal sebagai kota minyak ternyata menyimpan banyak kekayaan lautnya antara lain, hutan mangrove, terumbu karang, dan jenis- jenis ikan yang begitu melimpah dan masih banyak lagi. Sumber daya laut yang begitu melimpah ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi para nelayan-nelayan tradisional di Kota Sorong.
Hutan Mangrove
Hutan mangrove dapat ditemukan disepanjang pesisir pantai Kota Sorong, ketebalan hutan mangrove yang bervariasi dengan total luasan sebesar 1.651 h (Kementrian Perikanan dan Kelautan Kota Sorong, 2012 dalam Ngelo, 2020).
Salah satu contoh kawasan hutan mangrove di Kota Sorong yang di jadikan sebagai ekowisata adalah kawasan Hutan Mangrove Klawalu. Kawasan ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu daerah wisata (Manoso et al., 2023).
Mangrove sejak dahulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Sorong untuk berbagai kepentingan. Selain untuk bahan bangunan, juga digunakan sebagai kayu bakar untuk kegitan konsumsi rumah tangga. Kegiatan pemanfaatan
8 mangrove mulai mengalami peningkatan dengan adanya permintaan kayu mangrove untuk dipakai sebagai penyangga dalam pembangunan perumahan, ruko dan bahkan sampai pada pembangunan hotel. Selain itu juga kayu mangrove digunakan sebagai bahan bakar dalam pembuatan batu bata (Tabalessy, 2023).
Komposisi dan struktur jenis mangrove di Kota Sorong bervariasi bergantung pada tingkat ketinggian lumpur dan jangkauan pengaruh pasang surut air laut. Jumlah jenis mangrove yang dijumpai berkisar antara 7-12 jenis dengan zonasi relatif jelas untuk tipe mangrove muara, yaitu Avicenia sp dan Sonneratia sp merupakan zonasi terluar selanjutnya ke arah dalam diikuti oleh Rhizophora sp dan Bruquiera sp serta Nypha ji-uticans sp dan Xylocarpus sp (Hehanussa, 2013).
Sumberdaya Perikanan
Ikan yang di tangkap oleh nelayan didaratkan di PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) Kota Sorong, adalah ikan pelagis besar, sedang, dan kecil. Salah satu jenis ikan yang digemari masyarakat Kota Sorong adalah ikan selar kuning (Selaroides leptolepis) yang dikenal dengan nama lokal ikan Oci (Yanti et al., 2023).
Berdasarkan Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sorong pada tahun 2013 mengeluarkan data komoditi-komoditi unggulan terdiri dari 7 jenis yaitu terdiri dari Tuna, Tenggiri, kakap merah, kerapu, cumi-cumi, kuwe/bubara dan gutila (Tuhumena et al., 2023)
9 2.4 Isu Permasalahan dan Upaya Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Sorong
Kasus 1
Ketergantungan antara manusia dan sumber daya alam mempengaruhi bagaimana dapat dikelola dan digunakan hal ini terjadi karena penggunaan yang lebih eksploitatif dari sumber daya alam yang ada (Rahmatullah et al., 2024). Era kemajuan perkembangan pembangunan pada suatu daerah maka pertambangan merupakan salah satu industri yang menjadi andalan pemerintah daerah untuk mendatangkan investor (Pristianto et al., 2018). Oleh karena itu, di era kemajuan ini perlu dilakukan pengoptimalan sebagaik mungkin dalam pelaksanaannya agar tidak menimbulkan masalah dilingkungan sekitar. Kegiatan penambangan merupakan salah satu isu yang mengkhawatirkan dan memimbulkan bagi lingkungan. Di Indonesia, terdapat beragam sumberdaya alam, terutama bahan galian golongan C, yang kadang-kadang dieksploitasi secara masif untuk memenuhi kebutuhan pembangunan, contohnya di Kota Sorong.
Di Kota Sorong khususnya di Pantai Saoka, Distrik Papua Barat, terdapat aktivitas Penambangan bahan Galian Golongan C (Pasir, Batu pecah, Kerikil, dan tanah urug), dimana kegiatan penambangan ini menimbulkan berbagai dampak dari beberapa aspek contohnya seperti dampak lingkungan, social ekonomi dan perubahan pada ekosistem. Dampak ini disebabkan oleh adanya area sebaran limbah buangan galian golongan C yang mana masyarakat sekitar belum mengetahui area sebaran yang meluas hingga pesisir pantai dan menurunnya kualitas air laut serta berdampak pada mata pencahariannya justru memanfaatkan daerah pesisir, dimulai dari menurunnya sektor wisata serta area tangkapan nelayan yang harus lebih jauh dalam menangkap ikan. selain itu dampak yang disebabkan oleh kegiatan penambangan tersebut juga membuat daerah pesisir pasir pantai Saoka berubah warna dan bukan lagi pasir bersih yang ditemukan tetapi dominan limpasan kerikil dan sertu. Hal ini disebabkan karena penambangan pasir yang dilakukan oleh para perusahaan tambang sudah berlangsung lebih dari 10 tahun yang terpusat di wilayah kelurahan Saoka tersebut dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat dan pembangunan infrastruktur di wilayah Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Akibat penambangan tersebut terjadi kerusakan ekosistem pantai yang sangat parah berupa tumpukan batu kerikil serta abu batu dari penambangan tersebut,
10 meningkatkan abrasi pesisir pantai dan erosi pantai serta berkurangnya ekosistem mangrove (Rahmatullah et al., 2024). Berikut beberapa upaya atau solusi pengelolaan khusus penambangan bahan galian C di Kota Sorong:
Identifikasi Daerah Terdampak: Melakukan identifikasi daerah yang terdampak oleh limbah buangan galian C dengan cara memantau kualitas air laut yang tercemar. untuk memahami sejauh mana dampak penambangan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Tinjauan Dampak Sosial dan Ekonomi: Melakukan tinjauan langsung untuk mengevaluasi dampak sosial ekonomi serta lingkungan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar area penambangan. Ini dapat membantu dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat dan responsif terhadap kebutuhan Masyarakat.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak penambangan dan pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai bahan edukasi kepada masyarakat untuk lebih memahami risiko yang dihadapi dan berpartisipasi dalam upaya perlindungan lingkungan.
Pengelolaan Limbah yang Baik: Mengembangkan sistem pengelolaan limbah yang lebih baik untuk mengurangi pencemaran yang dihasilkan dari kegiatan penambangan. Ini termasuk pengendalian limbah buangan agar tidak mencemari area pesisir dan kualitas air laut.
Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan: Melibatkan masyarakat dalam proses pengelolaan sumber daya alam dan pengambilan keputusan terkait kegiatan penambangan. Ini dapat meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan mereka.
Regulasi yang Ketat: Mendorong penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap kegiatan penambangan untuk memastikan bahwa praktik yang dilakukan tidak merusak lingkungan dan berdampak negatif pada Masyarakat.
Kasus 2
Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (2007), reklamasi adalah
11 kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan drainase. Reklamasi pantai sudah sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki tujuan untuk menambah luas area daratan, salah satunya di Kota Sorong. Pemerintah melakukan reklamasi sebagai salah satu usahan memanfaatkan kawasan kosong dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian daerah. Menurut Walikota Sorong Lambert Jitmau,kawasan pantai yang direklamasi ini akan dijadikan kawasan sentral bisnis modern yang bernuansa wisata bagi masyarakat setempat atau pengunjung dari luar (Reklamasi Pantura, 2019). Pada kawasan ini akan dibangun perhotelan, restoran, taman wisata, dan taman hijau dengan konsep modern seperti di beberapa negara di Asia. Pembangunan ini tentunya akan mendorong peningkatan pendapatan daerah di sektor jasa. Namun hal ini tentu saja memiliki dampak negatif yang mengarah pada bencana yang akan terjadi nantinya akibat dari dilakukannya reklamasi.
Tingginya curah hujan dan letak Kota Sorong yang berada di pesisir pantai ini menyebabkan Kota Sorong rawan terkena banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kenaikan permukaan air laut, dan juga ditambah lagi dengan area pesisir yang telah direklamasi sejak pertengahan tahun 2017. Hal ini semakin membuat Kota Sorong berpotensi tinggi terkena banjir dan tsunami. Selain itu reklamasi Pantai lokasi tembok Berlin juga berdampak pada kerusakan lingkungan, seperti perubahan yang merusak ekosistem biota laut, gangguan kebisingan serta getaran pada lingkungan sekitar dan terjadinya perubahan garis pantai atau pola arus. Untuk itu perlu adanya adanya upaya meminimalkan
12 bencana dengan membangun atau memperkuat sarana prasarana fisik seperti bangunan dan infrastruktur yag berpotensi terkena bencana menggunakan teknologi (Ngamelubun & Octavia, 2023). Berikut upaya-upaya pengelolaan yang dapat dilakukan :
- Mitigasi struktural yang dilakukan yaitu membuat seawall yang merupakan tembok besar di sepanjang area reklamasi. Apabila ditinjau dengan landasan teori dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (2008) dan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (2014), mitigasi struktural yang seharusnya dimiliki seperti:
1. Membuat laju aliran dan muatan air yang mengarah langsung ke laut, karena beberapa tahun belakangan setelah terjadi reklamasi pantai, Kota Sorong menjadi lebih sering tergenang banjir. Seperti contohnya 1 tahun setelah reklamasi, kawasan sekitar area reklamasi yang sebelumnya tidak pernah terkena banjir kemudian terjadi banjir akibat hujan deras dan saluran air yang menuju ke pantai tertutup, sehingga air tergenang hingga setinggi lutut kaki orang dewasa.
2. Membersihkan ekosistem sungai, hal ini belum terlihat karena masih banyak sekali sampah-sampah yang dibiarkan begitu saja di sungai atau selokan-selokan kecil.
3. Penanaman hutan mangrove, pemerintah Kota Sorong sering melakukan penanaman pohon mangrove bersama, namun hal ini dilakukan di hutan mangrove yang terletak 14 km dari area reklamasi dan juga pada pesisir Bandara Domine Eduard Osok yang terletak 8 km dari area reklamasi.
4. Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur, hal ini lebih ke bangunan yang akan dibangun di atas reklamasi pantai Kota Sorong, yang sampai saat ini masih belum belum terlihat bangunan yang akan dibangun.
13 - Mitigasi nonstruktural yaitu suatu upaya dalam mengurangi dampak bencana melalui kebijakan dan peraturan. Namun mitigasi nonstruktural juga belum semuanya terlaksana, yang terlaksana adalah
1. Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi, yang sudah dilakukan kepada 41 kelurahan dan 10 distrik tentang memahami dan simulasi penanganan diri dalam menghadapi situasi bencana. Menurut Kepala BPBD Kota Sorong, Kelurahan Matalamagi akan dijadikan proyek percontohan sebagai kelurahan tangguh bencana banjir, dan kelurahan Tanjung Kasuari sebagai kelurahan tangguh bencana gempa (ANTARA Papua Barat, 2023).
2. Membuat peta rawan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah membuat peta rawan bencana di Kota Sorong, baik itu peta rawan bencana banjir, tsunami, gempa, dan gerakan tanah.
Namun hal ini tidak cukup dalam mempersiapkan mitigasi bencana banjir dan tsunami. Jika ditinjau dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (2008) dan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (2014), terdapat beberapa kekurangan dalam upaya mempersiapkan mitigasi nonstruktural sebagai berikut:
1. Belum ada evaluasi pemetaan kawasan rawan bencana. Lembaga terkait perlu melakukan evaluasi agar mendapatkan data terbaru terkait kawasan rawan bencana yang ada di Kota Sorong.
14 2. Lebih sering diadakan program sosialisasi dan pelatihan simulasi evakuasi bencana agar masyarakat menjadi sadar bahwa bencana dapat datang kapan saja dan dapat selalu bersiap.
3. Membuat sistem peringatan dini akan bahaya, hal ini perlu dilakukan agar masyarakat dapat waspada dengan bahaya yang akan terjadi.
- Membuat peta rawan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah membuat peta rawan bencana di Kota Sorong, baik itu peta rawan bencana banjir, tsunami, gempa, dan gerakan tanah. Namun hal ini tidak cukup dalam mempersiapkan mitigasi bencana banjir dan tsunami, jika ditinjau dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (2008)dan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (2014), terdapat beberapa kekurangan.
- Adapun mitigasi yang dapat diaplikasikan seperti membuat breakwater atau menanam mangrove kiranya dapat membantu memperkuat mitigasi struktural pada area reklamasi.
Dari beberapa kasus di atas, ini menunjukkan bahwa kawasan wilayah pesisir Kota Sorong harus perlu banyak perhatian atau pemantauan yang ketat dalam pengelolaannya. Pengelolaan wilayah pesisir di Kota Sorong memerlukan pendekatan secara terpadu yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Peran masyarakat akan pengelolaan ini sangat diperlukan karena untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan mengelola sumberdaya secara berkelanjutan.
15
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Kota sorong merupakan wilayah yang membentang sepanjang pesisir bagian barat provinsi Papua Barat Daya, dimana wilayah pesisir Kota Sorong memiliki karakteristik yang signifikan, mencakup hampir 40% dari total luas kota.
2. Wilayah pesisir Kota Sorong memiliki potensi besar dibidang perikanan, pariwisata dan ekonomi.
3. Kota Sorong memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut diantaranya ekosistem pantai berpasir, mangrove, lamun dan terumbu karang.
4. Contoh pemasalahasan di Kota Sorong yaitu Penambangan bahan Galian Golongan C (Pasir, Batu pecah, Kerikil, dan tanah urug), dimana kegiatan penambangan ini menimbulkan berbagai dampak dari beberapa aspek contohnya seperti dampak lingkungan, social ekonomi dan perubahan pada ekosistem. Untuk itu wilayah pesisir Kota Sorong memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti, pemerintah, masyarakat dan swasta agar pengelolaan wilayah pesisir tetap terjaga kelestarian dan dikelola secara berkelanjutan.
3.2 Saran
Pemerintah Kota Sorong perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di wilayah pesisir, terutama yang berkaitan dengan pembangunan, aktivitas perikanan, dan pencemaran. Regulasi yang lebih ketat dan penegakan hukum yang konsisten sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
16
DAFTAR PUSTAKA
ANTARA Papua Barat. (2023, April 12). BPBD Sorong tingkatkan kapasitas
kelurahan soal mitigasi bencana.
https://papuabarat.antaranews.com/berita/28734/bpbd-sorong-tingkatkan- kapasitas-kelurahan-soal-mitigasi-bencana
Arafat, G., Gunawan, B., & Iskandar, I. (2022). Pengelolaan Sumberdaya Teripang Berbasis Masyarakat Di Kampung Malaumkarta, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 14(1), 47.
https://doi.org/10.15578/jkpi.14.1.2022.47-58
BPS Papua Barat. (2023). “Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2023,” Papua Barat, 2023.
Cerya, E. and Khaidir, A. (2021). Implementasi hukum pengelolaan tambang galian C di Indonesia: sebuah kajian literatur,” JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), vol. 6, no. 1, p. 56, doi: 10.29210/3003755000.
Florensia, W., Kamaruddin, M., Inchi, I., Ananta, R. A., & Sevillian, S. (2022).
Peningkatan Kapasitas Pekarangan sebagai Sumber Pangan Suku Kokoda untuk Pencegahan Kek di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (Pkm), 5(11), 3973–3989.
https://doi.org/10.33024/jkpm.v5i11.8016
Hehanussa, G. M. (2013). Kajian Presepsi dan Partisipasi Masyarakat Lokal Terhadap Penetapan Kawasan Konservasi Perairan dan Strategi Perwujudan Di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Universitas Terbuka.
Kennedy, P. S. J., Nomleni, A. P. W., & Lina, S. (2019). Peranan Budaya Adat Sasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Maluku Barat Daya: Suatu Kajian Kualitatif. 103–114.
https://doi.org/10.33510/slki.2019.103-114
Manoso, M. F., Yanti, D. I. W., & Tabalessy, R. R. (2023). Strategi pengembangan ekowisata mangrove di kawasan Klawalu Kota Sorong. Innovative: Journal
Of …, 3, 8822–8833. http://j-
innovative.org/index.php/Innovative/article/view/5794%0Ahttp://j- innovative.org/index.php/Innovative/article/download/5794/4159
Maruapey, A., Saeni, F., & Nanlohy, L. H. (2023). Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat dan Bentuk Kerusakan Pesisir Distrik Sorong Barat Kota Sorong. JRPK Jurnal Riset Perikanan Dan Kelautan, 5(2), 73–87.
Mugu, H. A., Iksan Badarudin, M., Jeni Maipauw, N., Rumfot, I., Alis, S., Urbinas, M. S., Bhotmir, R., Inggamer, D. K., Mahad, F., Ayomi, N. B., Wawiyai, M.
M., Tanasali, F., Ghela, M. M., Adi, E., & Marasabessy, I. (2023).
Identifikasi Ekologi Pesisir dan Laut untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Pulau Yerusel Kabupaten Sorong Papua Barat Daya. Jurnal
17 Riset Perikanan Dan Kelautan, 5(1), 33–48.
https://doi.org/10.33506/jrpk.v5ii.2268
Muharuddin. (2019). Peran Dan Fungsi Pemerintah Dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan. 97–112.
Ngamelubun, D. S., & Octavia, L. (2023). Identifikasi Mitigasi Struktural dan Nonstruktural pada Area Reklamasi Pantai di Kota Sorong. SMART: Seminar on Architecture Research and Technology, 7(1), 203–215.
https://doi.org/10.21460/smart.v7i1.256
Ngelo, M. (2020). Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Melalui Potensi Sumber Daya Kelautan Di Sorong. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 1(April), 951–952.
Pradana, R. A. (2024). Seni Hidup Menghadapi Marginalisasi di Pesisir Kota Sorong. 03(02), 35–54. http://repository.ub.ac.id/id/eprint/214565/
Pristianto, H., La Goa, Y., & Saputra, A. (2018). Penilaian Kualitas Air Sungai Klasaman. Teknika, 13(1), 22. https://doi.org/10.26623/teknika.v13i1.1048 Pristianto, H., Rusdi, A., Abriani, M., Sipil, T., Sorong, U. M., Pendidikan, J., &
Sorong, K. (2024). EVALUASI PENGELOLAAN DAS DAN WILAYAH PESISIR. 15(April), 130–146.
Rahmatullah, A., Budianto, A., & Abubakar, E. (2024). Kajian Dampak Lingkungan Sosial dan Ekonomi Akibat Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C di Daerah Kawasan Pesisir Saoka Sorong Barat. Jurnal Kesehatan Dan Pengelolaan Lingkungan, 5(1), 13–23.
Reklamasi Pantura. (2019, March 12). Reklamasi Pantai Sorong jadi Lokasi Favorit Warga dan Wisatawan. https://reklamasi-pantura.com/reklamasi- pantai- sorong-jadi-lokasi-favorit-warga-dan-wisatawan/
Sareo, F. P. ., Marasabessy, I., Badarudin, M. I., & Basri, L. (2014). Persepsi Masyarakat Nelayan Kecil Terhadap Sistem Sosial Ekologi Perikanan Karang di Perairan Pulau Um (Studi Masyarakat Kampung Malaumkarta Provinsi Papua Barat). Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 3(1), 276–289.
Sesa, A. F. (2021). ANALISIS KESESUAAIN DAN PERSEPSI WISATAWAN DI KAWASAN WISATA PANTAI TANJUNG BATU KELURAHAN SAOKA KABUPATEN MALADUMMES KOTA SORONG. Universitas Muhammadiyah Sorong.
Sitompul, A. (2012). ANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGANHOTEL RESOR DI KAWASAN OBYEK WISATA PANTAI TANJUNG KASUARI KOTA SORONG [Unviversitas Atma Jaya].
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23790/4/Chapter I.pdf
18 Suaidy, H. (2017). Analisis Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Sorong Tahun
2013-2016. Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosia, 2(2), 81–89.
Tabalessy, R. R. (2023). EKOSISTEM MANGROVE KOTA SORONG Kajian Kondisi Ekosistem, Nilai Manfaat, dan Prioritas Pengelolaan. CV Ruang Tentor.
Tuhumena, J. R., Lindon, R. P., Merly, S. L., Pangaribuan, R. D., & Saleky, D.
(2023). Komposisi Hasil Tangkapan Ikan di Pelabuhan Pendaratan Ikan(PPI) Jembatan Puri Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 7(2), 191–199. https://doi.org/10.46252/jsai-fpik- unipa.2023.Vol.7.No.2.293
Yanti, D. I. W., Masengi, M., & Penina Palemba, Y. (2023). Analisis Hubungan Panjang Berat Pada Ikan Selar Kuning Selaroides leptolepis di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Kota Sorong. Nekton, 3(2), 122–132.
https://doi.org/10.47767/nekton.v3i2.402