6.1 Industri
Pembangunan industri di Kabupaten Blora bertujuan untuk menciptakan struktur ekonomi yang seimbang dan kuat guna menciptakan landasan perekonomian yang kokoh. Sektor industri terbagi atas industri besar, sedang, kecil, dan rumahtangga. Diperindagkop dan UMKM Kabupaten Blora mencatat kegiatan industri yang dominan di Kabupaten Blora adalah industri kecil dan rumah tangga. Kegiatan industri rumah tangga yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Blora antara lain industri anyaman bambu, industri kerupuk dan sejenisnya serta industri tempe. Industri anyaman bambu di Kabupaten Blora pada tahun 2015 tercatat sebanyak 2.583 buah yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 4.918 orang, sedangkan industri kerupuk dan sejenisnya tercatat sebanyak 1.404 buah dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.287 orang serta industry tempe tercatat sebanyak 1.082 buah dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2.162 orang.
Jika dilihat perkembangannya, jumlah industri rumah tangga pada tahun 2015 (sebanyak 10.509 buah) lebih tinggi dibanding tahun 2014 (sebanyak 10.471 buah) dan tahun 2013 (sebanyak 10.414 buah). Sedangkan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap oleh industri rumah tangga selama tiga tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2013 tenaga kerja industry rumah tangga tercatat sebanyak 23.606 orang meningkat pada tahun 2014 menjadi 23.719 orang dan meningkat lagi menjadi 23.742 orang pada tahun 2015.
Gambar 6.1 Perkembangan Industri Rumah Tangga Tahun 2013-2015
Jenis industri kecil yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Blora adalah industri perabot rumah tangga, industri batu bata serta industri genteng press. Jumlah industri kecil di Kabupaten Blora selama tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan, demikian pula dengan penyerapan tenaga kerja yang terjadi pada jenis industri ini juga memperlihatkan peningkatan.
Gambar 6.2 Perkembangan Industri Kecil Tahun 2013-2015 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 2015 2014 2013 10.509 10.471 10.414 23.742 23.719 23.606
Perusahaan Tenaga Kerja
1.201 1.193 1.187 9.010 8.971 8.926 0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 2015 2014 2013
Jika dilihat dari jumlah perusahaan industri besar/sedang yang paling banyak terdapat di Kabupaten Blora adalah industri pengolahan kayu dan mebel sebanyak 18 buah dan industri pupuk organik sebanyak 4 buah. Namun jika dilihat dari penyerapan tenaga kerjanya, industri rokok kretek merupakan jenis industri besar/sedang yang paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan jenis industri yang lain. Industri rokok kretek pada tahun 2015 mampu menyerap tenaga kerja hingga lebih dari seribu orang. Jumlah perusahaan industri besar/sedang selama tiga tahun relatif stabil, berbeda dengan jumlah tenaga yang diserap menunjukkan kecenderungan fluktuatif. Jumlah tenaga kerja industri besar/sedang pada tahun 2013 tercatat sebanyak 2.566 orang menurun menjadi 2.312 orang pada tahun 2014 kemudian kembali naik pada tahun 2015 menjadi 2.460 orang.
Gambar 6.3 Perkembangan Industri Besar/Sedang Tahun 2013-2015
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 2015 2014 2013 31 31 31 2.460 2.312 2.566 Perusahaan Tenaga Kerja
6.2 Energi
Ketersediaan energi yang memadai berperan penting dalam pembangunan daerah, karena berpengaruh terhadap aktivitas perekonomian dan aktivitas penduduk. Kebutuhan ketenagalistrikan di Kabupaten Blora dipasok oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yaitu PLN UPJ Blora dan PLN UPJ Cepu. Seluruh desa/kelurahan di Kabupaten Blora telah mendapat aliran listrik PLN, dengan jumlah pelanggan selama tiga tahun terakhir terus meningkat. Jumlah pelanggan listrik paling banyak terdapat di Kecamatan Blora sebanyak 26.600 pelanggan, disusul Kecamatan Cepu sebanyak 25.872 pelanggan dan Kecamatan Randublatung sebanyak 17.287 pelanggan.
Gambar 6.4 Jumlah Pelanggan Listrik PLN menurut Kecamatan Tahun 2015
0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 13.260 17.287 9.191 14.468 25.872 5.888 9.632 6.809 16.225 26.600 13.651 15.265 6.235 13.531 16.809 14.808
Ketersediaan air bersih di Kabupaten Blora dipasok oleh PDAM Tirta Amerta, satu-satunya BUMD Kabupaten Blora yang bergerak dibidang air bersih. PDAM Tirta Amerta mencatat baik jumlah pelanggan maupun jumlah air bersih yang disalurkan selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Dibanding tahun sebelumnya jumlah pelanggan PDAM pada tahun 2015 meningkat 0,30 persen, jumlah air yang disalurkan meningkat 1,67 persen dan nilai produksi meningkat 4,35 persen.
Tabel 6.1 Jumlah Pelanggan, Jumlah Air yang Disalurkan dan Nilai Produksi PDAM Tahun 2013 – 2015
Tahun Jumlah Pelanggan Jumlah Air Disalurkan (m3) Nilai Produksi (000Rp) 2013 12.926 2.184.040 7.763.242 2014 13.671 2.446.307 9.297.402 2015 13.712 2.487.105 9.702.215
Bab VII Perdagangan
7.1 Koperasi
Peran koperasi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan perekonomian, dimana koperasi mempunyai fungsi antara lain sebagai urat nadi kegiatan perekonomian. Selain itu koperasi mempunyai fungsi lain untuk meningkatkan keejahteraan warga negara Indonesia dan memperkokoh perekonomian rakyat Indonesia dengan jalan pembinaan koperasi.
Tabel 7.1 Perkembangan Jumlah Koperasi menurut Jenisnya Tahun 2013 - 2015
Jenis 2013 2014 2015 Koperasi : 548 550 576 1. Aktif 443 445 459 2. Tidak Aktif 105 105 117 Koperasi : 548 550 576 1. Induk Koperasi 2 2 3 2. Koperasi Primer 529 531 556 3. Koperasi KUD 17 17 17
Sumber : Blora Dalam Angka 2016
Ditinjau dari aspek pendirian dan keanggotaan koperasi, koperasi-koperasi yang ada di Kabupaten Blora tergolong pada jenis koperasi primer, yaitu koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang se-orang, sebanyak 573 buah dan koperasi sekunder, yaitu koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi-koperasi, sebanyak 3 buah. Secara garis besar koperasi yang tumbuh di Kabupaten Blora terkelompokkan menjadi Koperasi Unit Desa (KUD) sebanyak
17 buah dan koperasi non KUD sebanyak 559 buah, dimana ada 3 koperasi yang merupakan koperasi induk. Dari 576 buah koperasi yang ada di Kabupaten Blora, tercatat 459 buah merupakan koperasi aktif dan 117 buah merupakan koperasi tidak aktif.
7.2 Perdagangan
Sektor perdagangan memiliki posisi penting dalam perekonomian Kabupaten Blora. Kegiatan perdagangan di Kabupaten Blora tidak hanya melayani kebutuhan penduduk lokal, tetapi juga bagi penduduk di wilayah sekitarnya. Ketersediaan infrastruktur yang menunjang sektor perdagangan dapat menjadikan Kabupaten Blora sebagai pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa.Perkembangan perusahaan perdagangan di Kabupaten Blora terus mengalami peningkatan. Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan (BPMPP) Kabupaten Blora mencatat bahwa pada tahun 2015 jumlah Perusahaan Dagang (PD) sebanyak 393 buah, dengan kategori kecil sebanyak 99 buah; kategori sedang sebanyak 157 buah dan kategori besar sebanyak 137 buah.
Gambar 7.1 Jumlah Perusahaan Dagang menurut Kategori Tahun 2015
0
200 99 137 157
7.3 Pasar
Pembangunan ekonomi selalu ditujukan untuk mempertinggi kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya seperti juga halnya dengan pembangunan ekonomi pasar. Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi yang mendorong dan memperlancar kegiatan yang bersifat ekonomi bagi masyarakat, disamping itu juga mampu memberikan peran yang maksimal terhadap penciptaan kesempatan kerja. Pasar tradisional menjadi salah satu jantung perekonomian masyarakat. Kedudukan pasar tradisional masih tetap penting dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Banyak masyarakat yang masih membutuhakan pasar tradisional dalam mencari pendapatan dan juga kebutuhan dalam transaksi jual beli.
Diperindagkop dan UMKM Kabupaten Blora mencatat jumlah pasar di Kabupaten Blora pada tahun 2015 sebanyak 68 buah, yang terdiri dari 13 buah pasar umum, 43 buah pasar desa, 11 buah pasar hewan serta 1 buah pasar buah.
Gambar 7.2 Jumlah Pasar menurut Jenisnya Tahun 2015
0 10 20 30 40 50
Pasar Umum Pasar Desa Pasar Hewan Pasar Buah 13
43
11
Jika dirinci menurut kecamatan, jumlah pasar terbanyak yaitu sebanyak 6 buah dimiliki oleh Kecamatan Randublatung, Kecamatan Cepu, Kecamatan Blora, Kecamatan Ngawen dan Kecamatan Todanan.Sedangkan jumlah pasar paling sedikit adalah 2 buah yang dimiliki oleh Kecamatan Bogorejo, Kecamatan Tunjungan dan Kecamatan Japah.
Gambar 7.3 Jumlah Pasar menurut Kecamatan Tahun 2015
3 6 4 5 6 4 3 2 5 6 5 2 2 6 3 6 0 1 2 3 4 5 6 7