• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keuangan dan Harga

Dalam dokumen Analisa Data Blora Dalam Angka 2016 (Halaman 143-163)

9.1 Keuangan

Pemerintah Kabupaten Blora menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah guna menjalankan roda pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di daerah. Penyusunan anggaran tersebut ditata dalam suatu sistem anggaran yang mampu meningkatkan efektifitas penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah, baik tugas umum pemerintahan maupun tugas pelayanan publik. Meskipun menjadi wewenang pemerintah daerah, tetapi penyusunan APBD harus tetap mengacu pada APBN sehingga diharapkan terjadi kesesuaian prinsip anggaran.

Dana untuk pembiayaan pembangunan daerah diutamakan digali dari sumber kemampuan sendiri dengan prinsip peningkatan kemandirian dalam pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu untuk meningkatkan laju pembangunan dan berjalannya roda pemerintahan, daerah berupaya menggali sumber-sumber pendapatan yang baru dan potensial serta memberdayakan sumber-sumber yang telah ada sebelumnya.Pemerintah Daerah dipacu untuk meningkatkan kemampuan seoptimal mungkin di dalam membiayai urusan rumah tangga sendiri, dengan cara menggali segala sumber dana yang potensial yang ada di daerah tersebut. Dalam hubungan ini pengelolaan APBD di daerah terus disempurnakan agar dapat menghimpun dana yang cukup untuk membiayai pembangunan.

Untuk menggambarkan tingkat ketergantungan suatu kabupaten terhadap bantuan pihak eksternal diukur dengan besarnya rasio ketergantungan. Semakin tinggi rasio ketergantungan menunjukkan semakin tinggi tingkat ketergantungan

terhadap total pendapatan serta rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Rasio PAD terhadap total pendapatan memiliki makna yang berkebalikan dengan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD maka ketergantungan daerah semakin kecil. Sebaliknya, makin besar angka rasio dana transfer, maka akan semakin besar tingkat ketergantungan daerah dalam mendanai belanja daerah.

Tabel 9.1 Rasio Ketergantungan APBD Kabupaten Blora Tahun 2014 – 2015

Uraian Nilai (Milyar Rp) Rasio (%)

2014 2015 2014 2015

PAD 144,798 169,256 9,55 10,19

Dana Perimbangan 1.291,176 1.416,584 85,14 85,15

Sumber Lain-lain 80,583 75,805 5,31 4,56

Pendapatan Daerah 1.516,577 1.661,645 100,00 100,00 Sumber : Blora Dalam Angka 2016

Rasio ketergantungan Kabupaten Blora pada tahun 2014-2015 terhadap dana transfer pemerintah pusat masih sangat tinggi. Kemandirian pembiayaan pembangunan yang tercermin dari nilai PAD ternyata masih rendah. PAD Kabupaten Blora pada tahun 2015 walaupun mengalami peningkatan sebesar 24,26 milyar rupiah dari tahun 2014, namun proporsinya hanya sebesar 10,19 persen dari total pendapatan. Dana perimbangan dari pemerintah pusat masih menjadi modal utama menggerakkan roda pemerintahan. Proporsi dana perimbangan mencapai 85,15 persen dari total pendapatan, dan proporsi dana

perimbangan mengalami penurunan dibanding tahun 2014 sebesar 5,93 persen. Meningkatnya tingkat kemandirian Kabupaten Blora perlu terus ditingkatkan dengan meningkatkan penerimaan dari sumber pendapatan asli daerah.

Selain dari sisi penerimaan, sisi perencanaan pengeluaran juga memiliki peran yang sangat strategis dalam rangka peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi stimulus bagi perekonomian daerah. Alokasi belanja daerah dapat menjadi komponen yang sangat berperan dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Dan pada akhirnya akan berdampak kepada perekonomian daerah secara luas.

Untuk menuju pelaksanaan belanja daerah yang berdampak positif kepada masyarakat perlu diupayakan agar pemerintah daerah mempercepat realisasi belanjanya dan menjalankan kebijakan belanja yang baik, antara lain dengan mendorong agar proses penetapan Perda APBD dapat dilakukan secara tepat waktu, menetapkan anggaran Belanja Modal yang lebih besar dan tepat sasaran, mempertajam penggunaan anggaran Belanja Pegawai, dan sebagainya.

Berdasarkan rasio jenis belanja daerah dalam tabel 9.2, nampak bahwa selama dua tahun terakhir belanja pegawai masih memegang porsi terbesar walaupun jikadilihat proporsinya mengalami sedikit penurunan. Pada tahun 2014 belanja pegawai mencapai 60,94 persen dan menurun menjadi 52,87 persen di tahun 2015. Besarnya porsi belanja pegawai yang rutin dikeluarkan tersebut tentunya akan mengurangi keleluasaan menentukan besarnya belanja modal, belanja barang dan jasa, serta belanja bantuan sosial. Padahal belanja pada ketiga item terakhir merupakan belanja yang dapat memberikan dampak langsung

pada akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Tabel 9.2 Rasio Belanja APBD Kabupaten Blora Tahun 2014 – 2015

Uraian Nilai (Milyar Rp) Persentase (%)

2014 2015 2014 2015

BELANJA 1.404,688 1.682,432 100,00 100,00

- Pegawai 856,041 889,529 60,94 52,87

- Barang dan Jasa 107,978 231,384 7,69 13,75

- Modal 328,500 326,176 23,39 19,39 - Bunga 0,015 0,006 0,00 0,00 - Subsidi 0,000 0,000 0,00 0,00 - Hibah 47,602 30,462 3,39 1,81 - Bagi Hasil 0,000 3,200 0,00 0,19 - Bantuan Keuangan 60,591 195,037 4,31 11,59 - Bantuan Sosial 3,963 6,638 0,28 0,39 - Tidak Terduga 0,000 0,000 0,00 0,00

Sumber : Blora Dalam Angka 2016

Pada tahun 2015 belanja modal sebesar 326,176 milyar rupiah atau menurun sebesar 2,32 milyar rupiah atau turun sekitar 0,71 persen dibandingkan tahun 2014. Untuk belanja barang dan jasa meningkat lebih dari dua kalilipatnya yaitu dari 107,978 milyar rupiah di tahun 2014 menjadi 231,384 milyar rupiah di tahun 2015 atau naik 114,29 persen. Rasio Belanja Modal mencerminkan porsi Belanja Daerah yang dibelanjakan untuk membiayai Belanja Modal. Belanja Modal ditambah belanja barang dan jasa merupakan belanja pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora, di samping pengaruh dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri.

Rasio Belanja Modal menunjukkan seberapa besar belanja yang dialokasikan pemerintah Kabupaten Blora untuk pembangunan infrastruktur. Realisasi Belanja Modal akan memiliki multiplier effect dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Sehingga kecilnya porsi belanja modal dan belanja barang jasa akan kurang daya dorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora.

Tabel 9.3 Persentase Realisasi APBD menurut Fungsi Tahun 2014-2015

Rincian Persentase (%)

2014 2015

Pelayanan Umum 17,89 11,64

Ketertiban dan Ketentraman 0,77 1,04

Ekonomi 6,73 8,83

Lingkungan Hidup 0,30 1,23

Perumahan dan Fasilitas Umum 17,28 17,37

Kesehatan 12,52 17,04

Pariwisata dan Budaya 0,00 0,23

Pendidikan 44,13 53,74

Perlindungan Sosial 0,38 0,53

Jumlah 100,00 100,00

Sumber : Blora Dalam Angka 2016

Jika dilihat menurut fungsinya, realisasi APBD tahun 2015 terbesar dipergunakan untuk pendidikan yang mencapai 53,74 persen. Persentase ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 44,13 persen dari total APBD digunakan untuk pos pendidikan. Porsi terbesar berikutnya adalah perumahan dan fasilitas umum sebesar 17,37 persen serta kesehatan sebesar 17,04 persen. Porsi APBD tahun 2015 yang mengalami

kenaikan tertinggi dibandingkan tahun sebelumnya adalah pos kesehatan yang meningkat dari 12,52 persen pada tahun 2014 menjadi 17,04 persen pada tahun 2015.

Pajak bumi dan bangunan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah tetapi bukan termasuk sumber pendapatan asli daerah. Pajak bumi dan bangunan (PBB) merupakan pajak pusat, sedangkan daerah hanya menerima bagian sebagai dana perimbangan. Hasil penerimaan pajak ini diarahkan kepada tujuan untuk kepentingan masyarakat di daerah yang bersangkutan dengan letak obyek pajak sehingga sebagian besar (90%) hasil penerimaan tersebut diserahkan kepada kepada daerah dengan rincian 16,2% diserahkan ke propinsi, 64,8%, merupakan bagian kabupaten atau kota dan 9% merupakan biaya pungutan. Pajak bumi dan bangunan merupakan pajak pusat yang hasil penerimaanya diserahkan kembali ke pemerintah daerah sehingga pemerintah daerah yang bersangkutan dapat memanfaatkan hasil penerimaan pajak tersebut untuk membiayai pembangunan didaerahnya masing – masing. Pada hakekatnya, pembayaran pajak bumi dan bangunan merupakan salah satu sarana perwujudan kegotongroyongan nasional dalam pembiayaan Negara dan pembangunan nasional.

Penerimaan pajak bumi dan bangunan di Kabupaten Blora pada tahun 2014 mengalami kenaikan 9,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 penerimaan pajak bumi dan bangunan tercatat sebesar 7,57 trilyun rupiah kemudian meningkat menjadi 8,29 trilyun rupiah pada tahun 2015. Selama empat tahun terakhir, kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yang tercatat mengalami peningkatan 9,49 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu pada tahun 2012 terjadi penurunan sebesar 3,34 persen.

Gambar 9.1 Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Tahun 2012-2015 (Milyar Rupiah)

Penerimaan pajak bumi dan bangunan tertinggi dicapai oleh Kecamatan Blora sebesar 985 milyar rupiah; disusul Kecamatan Todanan sebanyak 852 milyar rupiah, Kecamatan Kunduran sebesar 783 milyar rupiah dan Kecamatan Cepu sebesar 755 milyar rupiah. Jika dilihat kontribusinya, Kecamatan Blora memberikan kontribusi 11,89 persen terhadap total penerimaan pajak bumi dan bangunan di Kabupaten Blora tahun 2015. Kecamatan dengan penerimaan pajak bumi dan bangunan terendah adalah Kecamatan Sambong sebesar 186 milyar rupiah.

Gambar 9.2 Penerimaan PBB menurut Kecamatan Tahun 2015 0 5.000 10.000 2012 2013 2014 2015 6.782 7.251 7.571 8.289 476 368 299 736 755 186 236 325 555 985 477 437 264 554 783 852 0 200 400 600 800 1.000 1.200

9.2 Harga

Inflasi sebagai gambaran naik turunnya harga barang dan jasa kebutuhan masyarakat. Inflasi merupakan salah satu indikator utama kaitannya dengan kebijakan pemerintah untuk mengendalikan stabilitas harga. Inflasi sangat berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan inflasi yang terlalu tinggi tanpa diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi riil yang signifikan akan menyebabkan kondisi stagflasi, yaitu menurunnya kemampuan daya beli masyarakat. Sebaliknya inflasi negatif atau sering disebut deflasi menunjukkan kondisi roda perekonomian yang tidak berjalan atau resesi.

Gambar 9.3 Inflasi Kota Blora Tahun 2005-2015

Inflasi tertinggi selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir terjadi pada tahun 2005 akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), inflasi menembus level dua digit mencapai 17,77 persen. Namun pada tahun berikutnya inflasi dapat ditekan menjadi 5,92 persen. Perekonomian yang menunjukkan kondisi semakin

17,77 5,92 5,67 12,79 2,91 7,17 2,26 3,89 7,94 7,13 2,85 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

stabil berpengaruh terhadap inflasi sehingga pada tahun 2007 besarnya inflasi sebesar 5,67 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Melonjaknya harga minyak mentah dunia pada tahun 2008 memaksa pemerintah menerapkan kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu adanya gejolak harga, sehingga inflasi tahun 2008 menembus level dua digit mencapai 12,79 persen. Pada tahun 2009 kondisi perekonomian relatif stabil, sehingga tidak memicu gejolak harga sepanjang tahun 2009. Situasi harga mulai mengalami penurunan ke tingkat yang lebih realistis sehingga inflasi tahun 2009 berada pada level satu digit yaitu hanya sebesar 2,91 persen.

Meningkatnya harga kebutuhan bahan pokok memicu kenaikan inflasi di tahun 2010 menjadi sebesar 7,17 persen. Inflasi tahun 2011 sebesar 2,26 persen merupakan inflasi terendah selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi kondisi perekonomian yang makin stabil sehingga sepanjang tahun 2011 tidak ada gejolak harga yang berarti. Pada tahun 2012 inflasi meningkat menjadi 3,89 persen, akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) memicu kenaikan inflasi tahun 2013 sebesar 7,94 persen. Kondisi politik dengan adanya pergantian pemerintahan serta kebijakan kenaikan harga BBM pada akhir tahun 2014 menimbulkan kenaikan inflasi hingga 7,13 persen pada tahun 2014.Pada tahun 2015 Kota Blora mengalami inflasi sebesar 2,85 persen. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia dan kondisi perekonomian yang makin stabil.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Umum pada akhir tahun 2015 (berdasarkan tahun dasar 2012) ditutup pada point 118,95 atau terjadi kenaikan

sebesar 2,85 persen dibandingkan dengan indeks akhir tahun 2014 yang ditutup pada point 115,86 (berdasarkan tahun dasar 2012). Rata-rata indeks harga sebesar 116,49 per bulan menunjukkan bahwa tingkat harga pada tahun 2015 rata-rata 1,16 kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan keadaan tahun dasar 2012.

Tabel 9.4 IHK dan Inflasi Kota Blora Tahun 2015 Menurut Kelompok Pengeluaran

Kelompok IHK Inflasi

1. Bahan Makanan 126,06 5,46

2. Makanan Jadi, Minuman &Tembakau 119,82 5,83 3.Perumahan, Lisitrik, gas dan bahan bakar 114,79 2,92

4.Sandang 108,03 3,87

5.Kesehatan 107,90 2,91

6.Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 108,48 2,96 7.Transportasi Komunikasi & Jasa Keuangan 125,73 -3,69

Umum 118,95 2,85

Sumber : Blora Dalam Angka 2016

Kelompok pengeluaran dengan nilai IHK di atas nilai IHK Umum adalah kelompok Bahan Makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dan Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan, masing-masing tercatat sebesar 126,06; 119,82 dan 125,73. Sedangkan kelompok

perumahan, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga; kelompok sandang; kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga nilai IHK nya berada di bawah nilai IHK Umum. Hal ini menunjukkan kelompok Bahan Makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan dan kelompok Perumahan, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Rumah Tangga memberikan andil yang cukup tinggi terhadap IHK Umum sepanjang tahun 2015.

Tabel 9.5 Perubahan IHK/Laju Inflasi Kota Blora tahun 2013-2015

Kelompok Perubahan IHK

2013 2014 2015

1. Bahan Makanan 10,75 8,16 5,46

2. Makanan Jadi, Minuman &Tembakau 7,81 5,40 5,83 3.Perumahan, Lisitrik, gas dan bahan bakar 5,18 5,89 2,92

4.Sandang -0,10 2,79 3,87

5.Kesehatan 3,06 2,76 2,91

6.Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 2,62 2,99 2,96 7.Transportasi Komunikasi & Jasa Keuangan 14,26 13,25 -3,69

Umum 7,94 7,13 2,85

Sumber : Blora Dalam Angka 2016

Inflasi selama tiga tahun (2013-2015) terakhir menunjukkan penurunan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan pemicu utama naiknya

inflasi tahun 2013 menjadi sebesar 7,94 persen. Kondisi politik dengan adanya pergantian pemerintahan serta kebijakan kenaikan harga BBM pada akhir tahun 2014 menimbulkan inflasi hingga 7,13 persen pada tahun 2014. Penurunan harga minyak mentah dunia dan kondisi perekonomian yang makin stabil berdampak pada inflasi yang turun cukup signifikan sebesar 2,85 persen.

Jika dilihat menurut kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi pada tahun 2015 terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman dan tembakau sebesar 5,83 persen, disusul kelompok Bahan Makanan dan kelompok sandang masing-masing sebesar 5,46 persen dan 3,87 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi pada kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan yang mengalami inflasi sebesar minus 3,69 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan jauh lebih rendah, dimana pada tahun 2014 inflasi kelompok ini tercatat sebesar 13,25. Demikian juga dengan kelompok Bahan Makanan yang pada tahun 2014 tercatat sebesar 8,16 persen.

Gambar 9.4 Inflasi Bulanan Kota Blora Tahun 2013 - 2015

-1 0 1 2 3 4

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

Gejolak harga pada kelompok bahan makanan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap terjadinya inflasi dan deflasi. Hal ini disebabkan kebutuhan akan bahan makanan sangat penting dalam menjaga kelangsungan kehidupan.Menjaga kestabilan harga pada kelompok ini merupakan prioritas utama bagi pemerintah. Jika terjadi gejolak harga pada kelompok bahan makanan terutama bahan makanan yang termasuk dalam kebutuhan pokok masyarakat, biasanya pemerintah akan melakukan operasi pasar sebagai langkah untuk mengatasi gejolak harga yang terjadi. Disamping harga kelompok bahan makanan, harga bahan bakar minyak juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap terjadinya inflasi dan deflasi. Kenaikan bahan bakar minyak akan memicu kenaikan harga pada kelompok transportasi sehingga berimbas juga pada kelompok lainnya. Demikian pula sebaliknya.

Inflasi tertinggi selama tahun 2015 terjadi pada bulan Desember sebesar 0,90 persen. Inflasi pada bulan Desember terutama dipicu oleh kenaikan harga yang cukup tinggi pada kelompok bahan makanan. Kenaikan harga menyebabkan kelompok harga bahan makanan pada bulan ini mengalami inflasi sebesar 2,68 persen dengan andil inflasi sebesar 0,67 persen. Hal yang sama terjadi pada kelompok perumahan, listrik, gas dan bahan bakar dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami kenaikan indeks pada bulan Desember masing-masing sebesar 0,67 persen dan 0,34 persen, yang masing-masing memberikan andil inflasi pada bulan tersebut sebesar 0,14 persen dan 0,06 persen.

Inflasi terendah terjadi pada bulan Februari yang mengalami deflasi (inflasi negatif) sebesar 0,47 persen. Hal ini terutama dipengaruhi oleh penurunan indeks pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,52

persen. Penurunan indeks harga pada kelompok ini memberikan andil deflasi sebesar 0,64 persen. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya harga bahan bakar minyak (bensin dan solar) pada bulan Februari 2015.

Tabel 9.6 Inflasi Bulanan menurut Kelompok pengeluaran di Kota Blora Tahun 2015(persen)

Bulan

Kelompok

I II III IV V VI VII Umum

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Januari -0,39 0,59 0,46 0,77 0,66 0,18 -4,36 -0,39 Pebruari -0,12 0,48 0,21 0,55 0,24 0,45 -3,52 -0,47 Maret -1,56 0,55 0,19 0,10 0,48 0,10 1,47 0,05 April -0,97 0,39 0,16 0,14 0,37 0,10 0,02 1,58 Mei 1,38 0,28 0,09 0,12 0,04 0,03 0,15 0,44 Juni 1,36 0,42 0,23 0,39 0,26 0,02 0,31 0,55 Juli 1,77 0,64 0,60 0,52 0,07 0,66 0,54 0,86 Agustus 1,37 0,65 0,21 -0,08 0,30 0,89 -0,72 0,45 September -0,68 0,89 0,25 0,81 0,31 0,23 0,49 0,20 Oktober -0,61 0,12 -0,21 0,16 0,33 0,20 0,03 -0,13 November 0,18 0,44 0,03 0,61 0,07 0,14 0,12 0,20 Desember 2,68 0,23 0,67 -0,29 0,00 0,00 0,34 0,90 Inflasi Th.Kalender 5,46 5,83 2,92 3,87 2,91 2,96 -3,69 2,85

Inflasi kelompok bahan makanan tahun 2015 tercatat sebesar 5,46 persen, menduduki peringkat kedua tertinggi setelah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Inflasi bulanan tertinggi untuk kelompok bahan makanan sepanjang tahun 2015 terjadi pada bulan Desember sebesar 2,68 persen disusul bulan Juli 2015 sebesar 1,77 persen. Sedangkan inflasi bulanan terendah untuk kelompok ini terjadi pada bulan Maret yang mengalami deflasi sebesar 1,56 persen disusul bulan April dengan deflasi sebesar 0,97 persen.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada tahun 2015 mengalami inflasi sebesar 5,83 persen, yang merupakan kelompok dengan inflasi tertinggi. Inflasi bulanan tertinggi untuk kelompok ini terjadi pada bulan September sebesar 0,89 persen dan terendah terjadi pada bulan Oktober sebesar 0,12 persen.

Inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar tahun 2015 tercatat sebesar 2,92 persen. Inflasi bulanan tertinggi untuk kelompok ini terjadi pada bulan Desember sebesar 0,67 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi pada bulan November terjadi deflasi sebesar 0,21 persen.

Kelompok sandang pada tahun 2015 mengalami inflasi sebesar 3,87 persen, merupakan inflasi tertinggi ketiga setelah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dan kelompok bahan makanan. Sepanjang tahun 2015 untuk kelompok ini, inflasi bulanan tertinggi tercatat sebesar 0,81 persen yang terjadi pada bulan September, sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi pada bulan Desember yang mengalami deflasi sebesar 0,29 persen.

Inflasi kelompok kesehatan merupakan yang terendah kedua setelah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada tahun 2015, dengan

inflasi tercatat sebesar 2,91 persen. Inflasi bulanan tertinggi untuk kelompok ini tercatat sebesar 0,66 persen yang terjadi pada bulan Januari, sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi pada bulan Desember yang tidak mengalami inflasi

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga pada tahun 2015 tercatat sebesar 2,96 persen. Bulan Agustus tercatat mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,89 persen, sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi pada bulan Desember yang tercatat 0,00 persen atau tidak mengalami inflasi.

Inflasi kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat sebagai inflasi terendah pada tahun 2015 dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya, yang tercatat mengalami deflasi sebesar 3,69 persen. Bulan Maret tercatat mengalami inflasi bulanan tertinggi untuk kelompok ini sebesar 1,47 persen. Sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi pada bulan Januari yang mengalami deflasi sebesar 4,36 persen.

Gambar 9.5 Perbandingan Inflasi Tahun Kalender 2014 Kota Blora Terhadap Enam Kota SBH di Provinsi Jawa Tengah

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 2,85 2,63 2,52 3,28 2,56 2,56 3,95

Inflasi tahun kalender 2015 untuk Kota Blora yang tercatat sebesar 2,85 persen ternyata lebih tinggi dibandingkan Kota Cilacap, Kota Purwokerto, Kota Surakarta dan Kota Semarang yang masing-masing tercatat sebesar 2,63 persen; 2,52 persen; 2,56 persen dan 2,56 persen, namun masih lebih rendah jika dibandingkan Kota Kudus dan Kota Tegal yang tercatat masing-masing sebesar 3,28 persen dan 3,95 persen.

Dalam dokumen Analisa Data Blora Dalam Angka 2016 (Halaman 143-163)

Dokumen terkait