• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI KONSTRUKSI DAN INFRASTRUKTUR

Konsepsi Teori

3.1. INDUSTRI KONSTRUKSI DAN INFRASTRUKTUR

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh World Bank terhadap negara-negara berkembang, sektor konstruksi mempunyai kontribusi dan pengaruh yang cukup penting terhadap pembangunan (World Bank 1984). Sektor ini mempengaruhi hampir seluruh sektor di bidang perekonomian, antara lain jalan, bendungan, pekerjaan irigasi, perumahan, sekolah, dan pekerjaan konstruksi lain yang merupakan landasan fisik untuk pengembangan dan peningkatan standar hidup. Pada sebagian besar negara berkembang, peningkatkan kapasitas dan kapabilitas konstruksi termasuk peningkatan efisiensi biaya, waktu, dan kualitas pekerjaan konstruksi merupakan faktor yang sangat penting dalam peningkatan perekonomian nasional.

Industri konstruksi, yang dalam pembentuk PDB disebut sektor konstruksi, adalah industri yang mencakup semua pihak yang terkait dengan proses konstruksi termasuk tenaga profesi, pelaksana konstruksi dan juga para pemasok yang bersama-sama memenuhi kebutuhan pelaku dalam industri (Hillebrandt, 1985). Menurut Ofori (1990), industri konstruksi menghasilkan produk berupa: bangunan, airport dan pelabuhan, elektrikal, komunikasi dan pekerjaan gas, reklamasi, saluran dan bendungan, jaringan pipa dan kanal serta jalan raya, jembatan, rel KA, waduk dan terowongan. Produk yang dihasilkan oleh industri konstruksi bukan saja bangunan itu sendiri, melainkan temasuk juga pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan bangunan. Produk dari industri konstruksi merupakan barang/ produk investasi, dikarenakan produknya bukan diinginkan oleh industri konstruksi sendiri melainkan dibutuhkan oleh industri lainnya dalam rangka proses produksinya (Hillebrandt, 1985). Seperti pada contoh bangunan pabrik, dimana bangunan pabrik tersebut merupakan produk dari industri konstruksi, namun bangunan pabrik ini dibutuhkan dan kemudian digunakan oleh industri manufaktur dalam proses produksinya. Secara umum Sektor Konstruksi dapat dinyatakan sebagai salah satu penggerak utama PDB Nasional dan daerah sehingga sering dikenal sebagai Penggerak Perekonomian atau Construction Driven Economic Development.

Sebagai usaha yang menghasilkan produk berupa prasarana dan sarana fisik, industri konstruksi mempunyai peran yang sangat penting bagi pembangunan nasional khususnya dalam rangka pertumbuhan perekonomian nasional. Selain menyediakan prasarana dan sarana fisik tersebut atau dikenal Infrastructure Driven Economic development, industri konstruksi sebagai landasan pertumbuhan ekonomi juga mempunyai beberapa peranan (Trisnowardono 2002) antara lain: penunjang kesempatan berusaha dan kesempatan kerja; pendorong pertumbuhan sektor lain; penyumbang produk domestik bruto; penunjang peningkatan penghematan pengguna devisa dan peningkatan penerimaan devisa; media pengalihan pengetahuan teknologi; media pembentukan etos kerja, disiplin, sadar akan tanggung jawab, efisiensi, efektifitas; penunjang peningkatan ketahanan nasional; serta media pembentukan rasa kebanggaan nasional.

Peran industri konstruksi dalam ekonomi juga dapat dilihat dari segi potensi lapangan kerja, kebutuhan material dan dampaknya, peraturan publik yang mendukung ekonomi, dan termasuk dampak perluasan

industri konstruksi terhadap ekonomi, distribusi pendapatan bagi masyarakat lapisan bawah (Lopes 1997; Ofori,1990).

Industri konstruksi nasional memiliki peran yang penting bagi perekonomian nasional Indonesia, dan memiliki potensi besar yang membuat ruang gerak sektor jasa konstruksi di Indonesia semakin berkembang. Hal ini belum termasuk posisi geografis Indonesia yang strategis serta ketersediaan bahan baku dan energi yang melimpah (Suara Karya, 2010). Raftery (1991) menggambarkan konteks dari industri konstruksi seperti terlihat pada gambar 3.1. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada pasar (market) industri konstruksi merupakan pertemuan antara industrial demand dan industrial supply, yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi pada umumnya. ndustrial demand terdiri atas permintaan untuk bangunan produksi, bangunan investasi dan perumahan. Permintaan untuk kebanyakan bangunan merupakan derived demand, yaitu bahwa permintaan bangunan tergantung atas permintaan untuk barang ataupun jasa yang dihasilkan dari penggunaan bangunan tersebut (Raftery, 1991). Sedangkan industrial supply tergantung atas stock bangunan yang telah ada dan kondisi dari industri konstruksi itu sendiri.

Sumber: John Raftery (1991)

Gambar 3.1. Konteks Industri Konstruksi

Berdasarkan laporan terakhir yang dirilis BCI Asia, nilai proyek konstruksi Indonesia pada kuartal I/2009 mencapai 8,51 miliar dolar AS atau naik 63 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Peningkatan nilai proyek itu ditopang oleh tingginya kontribusi dari sektor energi sebesar 4,45 miliar dolar AS atau setara 51,84 persen.

Demikian juga seperti dilansir Harian Bisnis Indonesia, Mei 2010, yang melaporkan bahwa BCI Asia yang merupakan lembaga riset dan konsultan konstruksi, mencatat nilai proyek konstruksi dari sektor gedung

perkantoran, hotel, pusat belanja dan industri mengalami penurunan yang cukup bervariasi. Proyek konstruksi kantor pada kuartal I/2009 hanya US4 juta, turun 51 persen dibandingkan dengan tahun lalu periode sama.

Proyek pembangunan hotel juga tercatat hanya 70,82 juta dolar AS, turun sekitar 45 persen, sedangkan proyek pusat belanja mencapai 250 juta dolar AS atau turun sekitar 28 persen. Selain proyek konstruksi dari sektor energi, proyek yang masih menunjukkan kinerja positif adalah sektor properti residensial baik apartemen maupun rumah horizontal. Proyek residensial pada kuartal I/2009 tercatat mencapai 1,16 miliar dolar AS atau naik sekitar 60 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Proyek konstruksi industri untuk bangunan pabrik juga turun hampir 50 persen menjadi 350 juta dolar AS.

Akan tetapi peranan jasa konstruksi terhadap perekonomian nasional tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, sebagaimana terlihat pada kenyataan bahwa pangsa jasa konstruksi asing di Indonesia masih cukup besar, juga proses pembangunan yang belum efektif dan efisien.

Data BPS juga mengilustrasikan bahwa meskipun industri konstruksi mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional, hingga saat ini industri konstruksi nasional masih belum dapat berkembang dengan penuh pesat sehingga dapat dijadikan salah satu sektor yang diandalkan dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDB atas Harga Konstan 2000 di sektor konstruksi cenderung menurun seperti terlihat pada Tabel 3.1. Jika pada tahun 2006, laju pertumbuhan PDB untuk sektor konstruksi 8,3, namun pada tahun 2009 laju pertumbuhan PDB menurun 7,1. Sehingga harapan untuk dapat menjadikan industri konstruksi sebagai penggerak roda pembangunan ekonomi belum dapat tercapai. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sektor jasa kontruksi pada 5 tahun mendatang mencapai 8,4 hingga 9,2 persen. Dari total produksi nasional sebesar Rp 5.000 triliun, sekitar Rp 555 triliun berasal dari sektor jasa konstruksi.

Tabel 3.1. Laju Pertumbuhan PDB atas Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2006-2009

Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 3,4 3,5 4,8 4,1

2. Pertambangan & Penggalian 1,7 1,9 0,7 4,4

3. Industri Pengolahan 4,6 4,7 3,7 2,1

4. Listrik, Gas & Air Bersih 5,8 10,3 10,9 13,8

5. Konstruksi 8,3 8,5 7, 5 7,1

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 6,4 8,9 6,9 1,1

7. Pengangkutan dan Komunikasi 14,2 14,0 16,6 15,5

8. Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 5,5 8,0 8,2 5, 0

9. Jasa-jasa 6,2 6,4 6,2 6,4

Jika dilihat dari 4 (empat) provinsi yang menjadi lokasi survey, Provinsi Jawa Timur memiliki PDRB atas dasar harga konstan yang paling tinggi dibanding provinsi lainnya, yaitu mencapai 15% dari PDRB di 33 provinsi.

Tabel 3.2.Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 200 Menurut Provinsi (Milyar Rupiah), 2006-2009 Provinsi 2006 2007 2008 2009 Sumatra Utara 93.347,4 0.05 99.792,3 0.05 106.172,4 0.05 111.559,2 0.05 Jawa Timur 271,249,3 0.15 287.814,2 0.15 304.922,7 0.15 320.210,5 0.15 Kalimantan Selatan 24.452,3 0.01 25.922,3 0.01 27.538,5 0.01 28.918,9 0.01 Sulawesi Selatan 38.867,7 0.02 41.332,4 0.02 44.549,8 0.02 47.314 0.02 33 Provinsi 1,777.950 1.878.724,9 1.984.185 2.076.482,8

Sumber : Statistik Indonesia, 2010

Masih ada beberapa hal yang menghambat pertumbuhan sektor jasa kontruksi, seperti rantai birokrasi yang panjang serta sistem logistik nasional atau interkoneksi yang belum memadai, sehingga mengakibatkan ekonomi biaya tinggi (Suara Karya, 2010).

Selain itu keterpurukan dari industri konstruksi nasional ini juga mendapat ancaman tambahan, yaitu akan datangnya era perdagangan bebas, dimana keterpurukan ini apabila tidak lekas disikapi maka akan sangat membahayakan kelangsungan industri konstruksi nasional. Walaupun sebenarnya pada saat ini telah banyak perusahaan konstruksi asing melakukan kegiatan usahanya di Indonesia. Namun pada era perdagangan bebas nanti akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan asing dapat dengan bebas masuk sebagai kompetitor dalam industri konstruksi nasional. Sehingga diharapkan industri konstruksi nasional dapat memiliki daya saing (competitiveness) yang baik.

Ada beberapa instansi yang terlibat dalam industri konstruksi seperti Bappeda, BKPMD, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Sekjend Kementerian PU, Pusat Kajian Strategis Sekjend Kementerian PU, Biro Perencanaan dan SDM Sekjend Kementerian PU serta Bidang Koperasi UMKM dan BUMD Biro Perekonomian. Instansi-instansi ini akan memonitor pasar konstruksi seperti terlihat pada Gambar 3.2 .

Gambar 3.2 Instansi-instansi yang Memonitor Pasar Konstruksi

Pasar konstruksi nasional terdiri dari : 1. APBN 2. APBD

Dokumen terkait