• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Informan 3

a. Relasi Berpacaran yang Dijalin

Informan memiliki seorang pacar berinisial MR. Relasi berpacarannya baru dijalin selama lebih kurang 6 bulan. MR juga berusia 18 tahun dan masih bersekolah di sebuah SMK negri di Kota Yogyakarta. Setiap siang, MR menjemput PT dan bermain bersama PT hingga pukul 16.00 di rumah MR. Setelah mengantar PT pulang ke rumahnya, MR kemudian kembali ke rumah dan bermain game hingga malam.

“Nih namanya MR (menunjukkan foto PT dan pacarnya).

Walah walah. Sejak kapan? Sekitar 6 bulan yang lalu.” (5-8)

MR itu masih sekolah apa kuliah atau udah kerja? Masih sekolah Mbak. Dia sekolah di SMK *. Dia seangkatan sama aku,

tapi sekolahnya nggak sama sama aku.” (182-186)

“Dia sibuk sekolah. Biasanya habis pulang sekolah dia jemput aku, terus ke rumah dia. Nanti jam 4an (16.00) dia nganterin aku pulang, terus dia pulang ke rumah dia njuk dia main game.

(189-192)

PT menyukai lawan jenis yang setia dan selalu memperhatikannya. PT bahkan bersedia memberikan apa pun untuk pacarnya jika pacarnya setia dan selalu memperhatikannya. Hal ini juga yang melatarbelakangi PT berpacaran dengan MR di saat PT masih berpacaran dengan AN. Hubungan berpacaran PT dan AN berakhir karena AN mengetahui PT berpacaran dengan MR. PT melakukan hal tersebut karena AN terlalu asyik dengan aktivitasnya dan mengabaikan PT. PT merasa AN memberikan perhatian padanya hanya saat awal

hubungan saja dan ketika AN ingin berhubungan seksual dengan PT, sedangkan MR lebih memperhatikan dan selalu ada untuk PT.

Jadi, kamu milih pacar yang menurutmu selalu perhatian sama kamu gitu ya? Iya. Aku suka cowok-cowok yang kayak

gitu.” (40-42)

“Karna MR selalu ada buat aku. Dia perhatian banget sama aku.

Dia selalu kasih apa yang aku mau. Kalau AN beda banget. Dia egois. Dia selalu mentingin touring, selalu berantem kalau aku ngajakin dia jalan. Aku capek Mbak jalan sama orang kayak gitu. Nyebelin kan. Waktu awal-awal aja dia perhatian, habis itu dia cuek. Baiknya kalau pengen gituan. Kalau MR tu enggak Mbak. Dia ya perhatian terus. Jadi aku ya milih MR.” (31-39) PT dan AN mulai aktif berhubungan seksual sejak relasi berpacaran mereka menginjak usia 2 minggu. Mereka melakukannya di rumah MR yang selalu kosong di siang hingga sore hari. PT mau melakukan hubungan seksual dengan pacarnya karena PT tidak ingin kehilangan sosok yang selalu memberikan perhatian padanya.

Sejak kapan kamu berhubungan seksual sama pacarmu?

Kayaknya sekitar 2 mingguan Mbak.” (137-139)

“Di rumah pacarku. Pacarku anak tunggal, orang tuanya d ua-duanya kerja sampai sore. Jadi aku sering gituan di rumahnya

kalau pas pulang sekolah.” (104-107)

Kamu mau melakukan hubungan seksual sama pacarmu itu karna kamu nggak mau dia ninggalin kamu? Ho’oh

Mbak. Sama MR juga? (mengangguk) Iyap. Aku nggak mau dia ninggalin aku. Nggak mau aku jomblo, nggak ada yang

perhatiin.” (59-66)

Jadi kamu melakukan hubungan seksual sama pacarmu itu karna kamu nggak mau dia ninggalin kamu? Kamu takut nggak ada yang perhatiin kamu lagi? Iya. Mbak pinter deh.”

PT menyadari bahwa PT berisiko mengalami kehamilan karena dirinya aktif melakukan hubungan seksual. Namun PT tidak merasa takut akan mengalami kehamilan karena PT selalu menggunakan kondom ketika berhubungan seksual. Selain itu, pacar PT selalu mengeluarkan spermanya di luar, sehingga PT semakin yakin bahwa dirinya tidak akan hamil.

Kamu tau nggak melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan itu ada akibatnya? Taulah, Mbak. Semua

orang tau kalo gituan itu bisa hamil.” (89-96)

Nggak takut? Enggak tuh. Aku kalau gituan pakai kondom Mbak. Pacarku juga kalau ngeluarin itunya (sperma) nggak di

dalem, jadi ya nggak bakal hamil.” (93-96)

Sering berhubungan seksual di rumah MR tidak membuat PT dan MR takut ada orang lain yang mengetahui aktivitas mereka. Hal ini dikarenakan rumah MR selalu kosong pada siang hari dan kompleks yang selalu sepi. PT tidak pernah memikirkan apabila suatu saat tiba-tiba orang tua MR pulang saat PT dan MR sedang berhubungan seksual. Namun PT juga tidak khawatir jika suatu saat hal itu terjadi karena PT dapat dengan mudah menyelinap pergi.

“Pacarku anak tunggal, orang tuanya dua-duanya kerja sampai sore. Jadi aku sering gituan di rumahnya kalau pas pulang sekolah. Kamu nggak takut ketahuan tetangga atau siapa gitu? Kenapa mesti takut? Wong rumahnya kosong kok. Nggak ada orang. Kompleks rumahnya juga sepi. Jadi ya nggak

mungkin ada yang tau.” (104-112)

Kalau tiba-tiba mama atau papanya pacarmu pulang?

Mmmmm.. Kalau itu aku belum pernah mikir sampe situ Mbak.

Kamu nggak takut gitu pas kamu lagi berhubungan seksual sama pacarmu, terus orang tuanya pacarmu tiba-tiba

pulang? Aku nggak pernah mikir sampe situ Mbak. Jadi ya selama ini aku nggak takut. Aku mah santai orangnya. (tertawa) tapi karna Mbak bilang gitu, aku jadi mikir deh sekarang. Kalau tiba-tiba orang tua pacarku pulang ya udah aku tinggal diem aja di kamar pacarku. Sampai nanti ada kesempatan buat pergi dari situ. Gitu kali ya Mbak. Lhoh lhoh. Kamar pacarku di depan, Mbak. Jadi kalau mau nyelonong ke luar gitu gampang. Tapi ya itu bayanganku lho Mbak. Wong aku belum pernah ngalami.

(tertawa).” (113-131)

PT mengakui bahwa dirinya tidak pernah merasa bersalah karena sudah melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan. Baginya tidak ada alasan untuk merasa bersalah karena PT dan MR tidak berbohong dan juga tidak merugikan kedua orang tua mereka. PT juga tidak merasa bersalah pada dirinya sendiri karena PT melakukannya dengan senang dan bahkan membuat PT diperhatikan oleh pacarnya.

“Aku kok kayaknya nggak pernah merasa bersalah ya Mbak. Apa yang harus bikin aku merasa bersalah? Kan aku nggak merugikan siapa-siapa. Orang tuaku juga nggak aku rugikan. Kenapa aku mesti merasa bersalah? Aku kan juga nggak bohong sama orang tuaku. Aku kan Cuma nggak mau cerita sama orang tuaku aja kalau aku sering melakukan hubungan seksual sama pacarku. Pacarku juga nggak bohong sama orang tuanya. Jadi,

aku harus merasa bersalah sama siapa?” (142-152)

Sama diri kamu sendiri? Kan kamu belum nikah? (tertawa) enggak. Aku baik-baik aja. Aku seneng ngelakuin itu. Nggak Cuma seneng ngelakuin itu, tapi aku kan juga seneng

diperhati’in sama pacarku.” (153-157)

PT meyakini bahwa pacarnya tidak akan meninggalkannya karena MR sangat menyayangi PT. MR juga berjanji kepada PT untuk tidak akan meninggalkan PT. PT tidak merasa khawatir apabila suatu

saat MR meninggalkan dirinya karena jika hal itu terjadi, PT tinggal mencari laki-laki lain yang lebih baik.

Kamu kan udah melakukan hubungan seksual sama pacarmu. Nah, kalau suatu saat pacarmu ninggalin kamu gimana? Nggak mungkin Mbak. MR itu sayang banget sama

aku. Dia juga janji nggak akan ninggalin aku.” (158-162)

Kalau suatu saat cowokmu suka sama orang lain gimana?

Ah, nggak mungkin Mbak. Dia itu cinta mati sama aku. Lagipula kalau dia mau ninggalin aku, ya aku cari yang lain

yang jauh lebih baik dari dia. Gitu aja sih.” (163-168)

b. Komunikasi yang Dijalin dengan Orang Tua

Ayah dan ibu PT bekerja mulai pukul 08.00 dan tiba di rumah pukul 16.30. Sepulang bekerja, kedua orang tua PT selalu meluangkan waktu untuk berbincang dengan keluarga hingga pukul 18.00. Kedua orang tua PT menyebutnya sebagai tradisi minum teh bersama. Setiap sore PT dan keluarganya (orang tua dan adiknya) berkumpul untuk minum teh bersama dan berbagi cerita. Orang tua PT biasanya memulai menanyakan tentang aktivitas sehari-hari yang dilakukan PT dan adik laki-lakinya.

Kamu sering ngobrol-ngobrol sama orang tuamu? Ya

seringlah Mbak. Setiap sore ada ‘tradisi ngeteh’ Mbak. Itu

hukumnya wajib diikuti semuanya. Jadi, ya dari jam setengah 5an sampe jam 6an itu semua harus ada di rumah. Tradisi ngeteh itu ngapain? Tradisi ngeteh itu tu ngobrol bareng di teras belakang. Koyo sharing-sharing gitu sambil ngeteh sama nyamil-nyamil.” (214-223)

“Ya tentang seharian ngapain aja, tetang sekolah. Tentang bayar-bayar, tentang kejadian-kejadian apa gitu.” (226-228)

PT menanggapi tradisi ini secara positif dan mau berbagi terkait aktivitas keseharian PT. Akan tetapi PT ingin dan tidak mau memulai berkomunikasi. PT tidak ingin orang tuanya terlalu banyak menasehati PT. PT memilih untuk menjawab hal-hal yang ditanyakan orang tuanya dan menghindari membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan relasi berpacarannya. PT tidak ingin kedua orang tuanya menasehatinya terlalu banyak. PT juga takut orang tuanya meminta PT berpisah dengan pacarnya apabila kedua orang tuanya tidak menyukai pacarnya. PT biasanya hanya membicarakan tentang kegiatan sepanjang hari, sekolah, dan keuangan.

Pernah nggak sih kamu merasa pengen ngobrol lebih dalam sama orang tuamu? Enggak pernah Mbak. Aku nggak pengen mereka tau tentang aku terlalu dalam. Pertama, karena tanggapan mereka itu unpredictable. Kedua, karena aku nggak mau diceramahi. Karna menurutku, kadang mereka nggak ngerti

apa yang aku hadapi, apa yang aku takuti.” (319-324)

“…. Lagipula bapak sama ibu itu selalu aja beda sama aku, nggak pernah sependapat. Jadi ya daripada diceramahin panjang

lebar, mending nggak aja.” (247-250)

“Ya tentang seharian ngapain aja, tetang sekolah. Tentang

bayar-bayar, tentang kejadian-kejadian apa gitu.” (226-228)

Tentang pacar? Enggak Mbak. Nek tentang pacar itu rahasia. Aku nggak pernah nyinggung tentang pacar sedikit pun. Kalau adekku dia cerita semuanya, termasuk tentang temen-temen perempuannya. Aku emoh. Ndak dinasehati panjang lebar. Nanti aku malah disuruh putus sama pacarku kalau mereka nggak suka sama pacarku ya mati aku. Patah hati tit i ti. Nggak pernah nyinggung tentang pacar? Enggak. Aku nggak pernah cerita dan nggak pernah ditanya juga. Lagipula itu kan masalah pribadi. Aku lebih suka ngomongin tentang pacarannya sama

PT menilai bahwa berkomunikasi secara efektif dengan kedua orang tuanya merupakan hal yang tidak berguna. Baginya, menjalin komunikasi secara efektif hanya membuang waktu dan tenaga. PT juga merasa bahwa kedua orang tuanya tidak pernah sependapat, sehingga sering kali justru menyebabkan PT mengalami kebingungan. Ketika PT mengikuti pendapat ayah PT, ibu PT seolah-olah menyalahkan PT. Sedangkan apabila mengikuti pendapat ibunya, PT merasa bahwa pendapat ibunya tidak sesuai dengan PT.

“Aduh. Aku kok nggak pernah merhatiin ya ada gunanya apa

nggak. Sik coba tak pikir sik. (memegang kepala, diam) Enggak ada gunanya kayaknya. Selama ini aku cerita sama mereka, tapi ya Cuma cerita aja. Aku nggak pengen mereka terlalu banyak

tau tentang hidupku. Buang waktu, buang tenaga percuma.”

(331-337)

“… , kadang mereka nggak ngerti apa yang aku hadapi, apa

yang aku takuti. Apalagi ibuku. Dia selalu nanggepinya terlalu

santai, bikin aku merasa percuma.” (325-328)

PT merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan kedua orang tuanya karena ayah PT cenderung berbicara secara implisit, sehingga PT sulit memperkirakan arah pembicaraan ayahnya. Ibu PT cenderung menanggapi cerita-cerita PT dengan kurang serius. Hal ini menyebabkan PT merasa tidak nyaman dan lebih memilih untuk bercerita pada pacarnya. PT juga merasa bahwa perkataan kedua orang tuanya tidak berpengaruh terhadap hidupnya karena PT sengaja tidak bercerita secara detail tentang dirinya, sehingga kedua orang tuanya tidak memiliki alasan untuk memberikan nasehat pada PT.

“Apalagi ibuku. Dia selalu nanggepinya terlalu santai, bikin aku merasa percuma.” (326-328)

“Apalagi kadang ibuku suka ngrespon ceritaku nggak serius.

Akukan jadi merasa buang-buang waktu cerita sama dia. Mending cerita sama pacarku gitu. Lebih menyenangkan ada respon yang oke gitu. Aku sama pacarku kan juga sepemikiran gitu mbak. Jadi nggak usah jelasin maksudku ke dia. Nek sama bapak ibu kan susah, ruwet. Ibumu suka ngrespon nggak serius gimana? Sukanya tu ngresponnya tu bercanda gitu lho. Sebel to kita udah cerita beneran, terus diresponne nyelelek gitu. Nanti terus ngatain aku nggak dewasa, njuk nglarang-nglarang.

Aku sebel Mbak digituin.” (254-266)

“Bapak ki kadang sepemikiran sama aku. Cuma dia itu kadang nggak sama sama ibu pendapatnya, jadi misalnya bapak bilang A, ibu bilang B. Kalau aku ikut bapak, ibu nyalahin. Kalau ikut ibu, kok nggak pas sama aku. Makanya aku kan juga males cerita sama bapakku. Tentang pacaran juga? Iya. Bapak itu kalau tentang pacaran lebih kusut lagi daripada ibu. Soalnya dia jarang mau ngomongin secara gambling. Kalau ibuku kan plas

plos, jadi lebih gampang memperkirakan arah pembicaraannya.”

(276-288)

Terus, berpengaruh nggak omongan orang tuamu terhadap

hidupmu? Tidak juga. Mereka nggak pernah nasehatin aku, soalnya aku kan sengaja nggak cerita detail. Jadi mau nasehatin apa coba? (tertawa) Orang tuaku nggak paham sama aku, jadi ya

mau komentar apa pun nggak ada pengaruhnya buat aku.” (338

-344)

Ketika keluarga PT menghadapi permasalahan keluarga yang sifatnya sepele, seperti konflik antara PT dan adiknya, permasalahan tersebut akan diselesaikan bersama pada waktu minum teh bersama. Kedua orang tua PT bisanya menjadi penengah yang kemudian memediasi PT dan adiknya. Orang tua PT juga biasanya meminta PT untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada adiknya. Hal ini seringkali menyebabkan PT merasa selalu disalahkan.

Kalau ada masalah di keluargamu, biasanya menyelesaikannya gimana? Tergantung masalahnya apa Mbak. Kalau masalah keluarga ya dibahas pas ngeteh bareng. Biasanya kalau aku berantem sama adekku gitu ya diomongin waktu ngeteh bareng itu. Tapi kalau masalah itu penting banget

gitu ya dibahas di waktu tertentu.” (350-357)

Pada saat keluarga PT menghadapi permasalahan yang lebih besar, hanya kedua orang tua PT yang mendiskusikan solusinya. PT memperkirakan hal ini dikarenakan kedua orang tuanya menganggap PT masih belum cukup dewasa untuk ikut menyelesaikan permasalahan di keluarganya. PT juga merasa kedua orang tuanya menilai dirinya masih kurang cukup pintar untuk terlibat dalam pembicaraan tersebut.

“Ibuku suka bilang kalau aku tu suka sembarangan kalau

memutuskan, nggak dewasa.” (252-253)

Kalau ada masalah yang lebih besar, kamu dilibatkan nggak untuk menyelesaikan masalah itu? Kok kayaknya enggak ya. Kalau ada masalah penting, biasanya orang tuaku tok yang bahas. Mungkin karna menurut mereka aku tu nggak dewasa. Meskipun aku selalu rangking 10 besar, tapi aku dianggep kurang pinter buat ikut rembug kayak gituan.” (369 -377)

Skema Utama Informan 3

Setiap sore ada waktu untuk berkomunikasi Orang tua sibuk dengan memperhatikan adik Remaja enggan memulai berkomunikasi Komunikasi tidak efektif Remaja melakukan hubungan seksual Orang tua tidak tahu Remaja enggan berkomunikasi dengan orang tua Takut sosok pemberi perhatian Orang tua tidak perhatian

Dokumen terkait