• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

2. Informan 2

a. Relasi Berpacaran yang Dijalin

IF sudah menjalin relasi berpacaran dengan pacarnya selama kurang lebih dua tahun. Pacar IF, GL, berusia 2 tahun lebih tua dari IF dan saat ini bersekolah di sebuah SMK di Kota Yogyakarta. Setiap hari GL berangkat dan pulang sekolah bersama dengan IF. Hal ini didukung letak sekolah GL dan IF yang berdekatan.

Masih pacaran sama GL? Iya, masih Mbak. Udah 2 tahun

lho. Awet kan?” (9-10)

“Pagi itu kan jemput aku terus sekolah sampe siang.siang jemput aku.” (20-21)

Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, GL menghabiskan waktu bersama dengan IF hingga sore hari di kost GL atau di rumah IF. IF dan GL lebih sering menghabiskan waktu untuk berduaan di kost GL daripada di rumah IF. IF merasa lebih bebas berduaan dengan GL, meskipun lebih nyaman berpacaran di rumah IF. Pada saat GL melaksanakan PKL, GL juga tetap menemui IF pada sore hari.

“Pagi itu kan jemput aku terus sekolah sampe siang.siang

jemput aku, terus main sama aku sampai agak sore. Terus nanti agak malem dia main sama temen-temen dia.” (20-23)

“Kemaren kapan itu sempet sibuk PKL tapi Cuma pagi sampe sore aja. Habis itu sibuk ngapeli aku. Terus main sama

temen-temennya.” (12-15)

Kadang kalian pacaran di kost pacarmu, kadang di rumahmu, gitu? Iya Mbak. Kalau bosen di kost ya gentian di

“di rumahku lebih nyaman aja tempatnya. Kalau di kost kan

kasurnya nggak nyaman. (tertawa) Lebih sering pacaran di kost apa di rumahmu? Di kost lah Mbak. Di kost nggak perlu

khawatir ada Mbak Sri (tertawa).” (55-56)

IF melakukan hubungan seksual dengan pacarnya pertama kali ketika hubungan berpacaran mereka menginjak usia 2 bulan. Sebelumnya IF belum pernah melakukan hubungan seksual dan mulai aktif melakukan hubungan seksual ketika berpacaran dengan GL. Pada awalnya IF sempat menolak untuk berhubungan seksual dengan pacarnya. IF takut dirinya hamil jika melakukan hubungan seksual.

Sejak kapan kamu berhubungan seksual sama pacarmu?

Pas udah 2 bulanan pacaran.” (140-142)

Kamu tau nggak akibatnya kalau kamu melakukan hubungan seksual sebelum nikah, pas masih pacaran?

Taulah. Aku kan pintar. Apa? Ya bikin nggak perawan

(tertawa). Bisa hamil juga. Bisa bikin enak (tertawa).” (63-69) Selain takut hamil, IF juga takut akan merasakan sakit ketika berhubungan seksual. Akan tetapi pacarnya berhasil meyakinkan IF bahwa melakukan hubungan seksual tidak akan menimbulkan rasa sakit dan mereka dapat mencegah kehamilan dengan menggunakan kondom. Akhirnya, IF mau berhubungan seksual dengan pacarnya karena IF tidak ingin pacarnya berpaling pada perempuan lain. Setelah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, IF mengakui bahwa dirinya tidak pernah merasa bersalah karena hal ini IF lakukan atas kemauannya sendiri.

“Pas awal dia ngajakin kayak gituan, aku nggak mau. Aku takut, tapi terus dia bilang kalau ini nggak papa. Nggak sakit,

nggak bakal hamil juga. Bikin enak.Karna dia bilang gitu Mbak makanya aku mau. Terus setelah beberapa kali, kan aku ya merasa agak nggak enang. Jadi aku nggak mau diajakin kayak gituan. Dia terus bilang kalau aku nggak mau, dia bakal cari

cewek lain. Ya aku nggak mau Mbak dia sama cewek lain.”

(115-124)

“Kadang aku tu mikir kalau ini tu nggak baik. Kadang aku ya

takut kalau nanti suatu ketika hamil pas aku masih sekolah.

Taaappppiii…. Aku ya nggak mau kehilangan pacarku Mbak.

Dulu aku pernah kan bilang nggak mau pas diajakin kayak gituan, terus dia bilang aku nggak mau ya nggak papa, tapi jangan salahin abang kalau abang gituan sama cewek lain. dia tu pernah bilang gitu Mbak. Aku nggak mau dia sama cewek lain,

Mbak.” (87-96)

Jadi kamu sering melakukan itu tu jadi ada unsur terpaksa? Enggak terpaksa kok Mbak. Soalnya aku kan juga

seneng ngelakuin kayak gitu.” (102-105)

IF tidak pernah menceritakan tentang GL kepada kedua orang tuanya, tetapi IF meyakini bahwa biasanya kedua orangnya sudah tahu tentang hubungannya dengan GL. Keyakinan IF ini didasari oleh cerita pembantu rumah tangga IF yang mengakui pada IF bahwa kedua orang tuanya sering menanyakan tentang IF.

Orang tuamu tau nggak sih kamu pacaran sama GL? Aku nggak pernah cerita-cerita sih. Tapi biasanya sih tau sendiri. Tapi aku juga nggak tau mereka tau nggak aku punya pacar.

Kok gitu? Orang tuaku kan suka keppo, nggak usah diceritain ntar juga nyari tau sendiri. Emang biasanya nyari taunya gimana? Biasanya ibu suka nanya-nanya ke Mbak Sri (asisten

rumah tangga IF).” (143-153)

b. Komunikasi yang Dijalin dengan Orang Tua

Komunikasi antara IF dan orang tuanya jarang dijalin. Biasanya IF dan kedua orang tuanya berbincang ketika kebetulan bersama di

ruang makan. Ketika komunikasi terjalin, orang tua IF menanyakan tentang sekolah IF dan masalah keuangan. IF sendiri memilih menanggapinya seperlunya. IF cenderung menghindari banyak berbicara dengan kedua orang tuanya. IF juga memilih untuk menghindari mendiskusikan tentang relasinya dengan pacarnya. IF beranggapan bahwa kedua orang tuanya hanya akan terlalu banyak menasehati jika mereka mengetahui kehidupan IF lebih mendalam.

Emangnya kamu sama orang tuamu nggak pernah ngobrol-ngobrol? Ya pernahlah Mbak. Sering? Enggak. Paling kalo pas liburan itu. Kan Mbak Nn (kakak IF) pulang, jadi kadang terus ngobrol bareng. Kalau pas nggak ada Mbak Nn ya paling pas makan malem. Kalau kebetulan lapernya bareng, ketemu di ruang makan. Nah itu biasanya terus ngomong-ngomong. Jadi biasanya ketemu dan ngobrol itu kalau pas makan malam? Seringnya gitu Mbak.” (221-233)

“Paling ditanya tentang sekolah. Ditanya bayaran sekolah, kapan

ujiannya, terima raportnya kapan. Standartlah Mbak. Kalau udah biasanya bapak sama ibu cerita tentang kerjaan. Nggak banyak yang diomongin. Kalau ngomongin kerjaan biasanya ibuku bilang mau pergi pelatihan apa gitu di luar kota. Biasanya terus

bahas agenda kantor.” (240-246)

Terus yang kamu lakukan kalau mereka bahas tentang pekerjaan itu apa? Ya diem aja, dengerin sambil makan. Nanti kalau udah selesai makan, terus aku pamit ke kamar. Kamu nggak ikut nimbrung ngobrol gitu sama orang tuamu?

Enggak. Aku nggak suka ngobrol sama mereka. Mereka kalau ngomong ki panjang banget. Nggak bisa dipotong. Gek nanti adanya nasehatin terus. Aku kan sebel dengernya Mbak.

Rasanya kayak nggak pernah bener aja aku ini.” (247-257)

Orang tuamu tau nggak sih kamu pacaran sama GL? Aku nggak pernah cerita-cerita sih. Tapi biasanya sih tau sendiri. Tapi aku juga nggak tau mereka tau nggak aku punya pacar.

Kok gitu? Orang tuaku kan suka kepo, nggak usah diceritain ntar juga nyari tau sendiri. Emang biasanya nyari taunya gimana? Biasanya ibu suka nanya-nanya ke Mbak Sri (asisten

Tidak hanya berkomunikasi seperlunya, IF juga tidak pernah memulai untuk berbagi tentang dirinya. IF meyakini bahwa tanpa dirinya mengutarakan banyak hal, orang tuanya akan sudah mengetahuinya dari pembantu IF. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengakuan pembantu IF bahwa dirinya sering ditanya oleh orang tua IF terkait aktivitas IF. Sayangnya setelah menanyakan kepada pembantu IF, kedua orang tua IF tidak mengecek kembali informasi yang diterima kepada IF. IF pernah mengancam pembantunya tersebut dan memberinya uang agar pembantunya tersebut selalu melaporkan kepada IF apa saja yang ditanyakan kedua orang tuanya.

“Aku nggak suka ngobrol sama mereka. Mereka kalau ngomong

ki panjang banget. Nggak bisa dipotong. Gek nanti adanya nasehatin terus. Aku kan sebel dengernya Mbak. Rasanya kayak

nggak pernah bener aja aku ini.” (253-257)

“Orang tuaku kan suka kepo, nggak usah diceritain ntar juga nyari tau sendiri. Emang biasanya nyari taunya gimana?

Biasanya ibu suka nanya-nanya ke Mbak Sri (asisten rumah

tangga IF).” (149-153)

Kok kamu tau kalau ibumu sering nanya ke Mbak Sri?

Taulah Mbak. Mbak Sri pernah bilang kalau ibu tanya ke Mbak

Sri aku pulang jam berapa, sama siapa gitu.” (157-161)

Habis nanya ke Mbak Sri, ibumu terus gimana? Ngecek ke kamu atau ke siapa? Enggak Mbak. Biasanya udah puas kepo ya udah diem aja. Terus yang dilakukan ibumu setelah tanya-tanya ke Mbak Sri apa? Paling bilang sama bapak. Kalau malem itu kan bapak sama ibu berduaan di ruang TV. Biasanya terus ibu ngomong apa yang dia denger dari MBak Sri. Reaksi bapakmu? Ya udah biasa aja.” (194-205)

IF menilai bahwa berkomunikasi secara efektif dengan kedua orang tuanya tidaklah penting, walaupun orang tua IF terkadang

memulai untuk berkomunikasi. IF merasa orang tuanya cukup mengetahui saja bahwa dirinya adalah dapat menjadi seperti kakak perempuan IF dan selalu mengikuti kemauan kedua orang tuanya. IF melakukan hal ini karena IF tidak ingin sakit hati oleh perkataan kedua orang tuanya.

Jadi sebenernya orang tuamu kadang ngajakin kamu ngobrol? Iya, tapi aku males. Jadi tiap kali mereka nanya, aku jawab seperlunya terus masuk kamar. Aku males nanti yang dibahas kan buntutnya Mbak Nn. Ceramahnya gitu terus. Aku salah terus kok.” (320-325)

Menurutmu, penting nggak sih berkomunikasi sama orang tuamu? Gimana ya? Kalau menurutku nggak penting. Orang tuaku kan taunya aku tu ngikut aja mau mereka. Jadi anak pinter di sekolah. Nggak pernah bolos, jadi anak baik, anak alim kayak MBak Nn. Kalau ngobrol sama mereka itu buang waktu, buang tenaga, bonusnya makan ati (tertawa). Jadi mendingan nggak

usah aja. Iya kan Mbak?” (465-473)

Dengan kakak perempuannya, IF juga memilih untuk tidak banyak bicara. IF tidak ingin kakaknya mengetahui terlalu banyak tentang IF dan kemudian menceritakannya kepada kedua orang tua IF. IF merasa bahwa dirinya lebih nyaman berbagi cerita dengan pacarnya atau temannya, M, karena pacar dan teman IF tidak pernah membanding-bandingkan IF dengan kakak perempuannya, Nn. IF merasa bahwa dirinya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga tidak perlu bagi IF meminta saran kepada orang tuanya.

Kalau sama Mbak Nn kamu juga nggak pernah cerita-cerita? Enggak. Kurang kerjaan. Aku lebih suka cerita ke pacarku atau ke temen-temenku daripada ke orang rumah. Dibilang ceramah panjang kalau cerita sama orang rumah. Plus dibanding-bandingin.” (482-489)

Emang kamu yakin kalau temenmu sama pacarmu itu lebih tepat untuk tempat cerita gitu daripada orang tuamu?

Yakin Mbak. Nyatanya sampai sekarang aku curhat sama mereka ya aku baik-baik aja. Aku bisa menyelesaikan

Skema Utama Informan 2

Orang tua sering membandingkan dengan kakak Selalu mengajak berkomunikasi Takut ditinggalkan pacar Remaja enggan memulai berkomunikasi Komunikasi tidak efektif Remaja melakukan hubungan seksual Orang tua tidak tahu Remaja enggan berkomunikasi dengan orang tua

Dokumen terkait