• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Informan 3

a. Deskripsi informan

Informan berinisial AJ saat ini berusia 22 tahun berjenis kelamin laki-laki. AJ memiliki tiga orang saudara kandung yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Saat ini, AJ sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan sedang dalam masa pencarian pekerjaan.

Dulu, informan memiliki hubungan yang kurang akrab dengan ayah karena kurangnya komunikasi yang intensif. Namun saat ini, informan menyadari membutuhkan sosok ayah, sehingga informan mencoba memulai hubungan yang lebih baik dengan cara berdiskusi. Biasanya topik yang didiskusikan terkait dengan hal-hal

praktis, seperti pekerjaan. Sedangkan hubungan dengan ibu lebih merupakan ikatan emosional anak dan ibu. Informan sering curhat dengan ibu atau bertukar pikiran terkait emosi.

Hubungan informan dengan adiknya cukup dekat. Informan sering berkelahi dengan adiknya yang laki-laki. AJ menyadari bahwa sikap ini sebagai bentuk diri yang ingin menunjukkan otoritasnya sebagai anak sulung. AJ sadar bahwa sikap otoriter ini sama seperti ayahnya yang juga selalu bersikap sama dengan informan. Sebagai bentuk kesadarannya untuk berubah, informan mencoba menjadi penghubung antara adik dan orang tua. Ia membujuk orang tua ketika adiknya membutuhkan sesuatu. AJ sadar bahwa kepercayaan orang tua terhadap AJ lebih besar dibandingkan kepada adiknya. Sedangkan hubungan AJ dengan adik perempuannya tidak terlalu dekat. AJ merasa bahwa adik perempuannya kurang bersikap terbuka.

Ayah AJ selalu mengajar tentang “simpan sebanyak -banyaknya dan keluarkan sebanyak-banyaknya”. Maksud ajaran ini

adalah agar informan mempelajari sesuatu secara totalitas, sehingga dapat diterapkan jika sudah waktunya ilmu tersebut digunakan. AJ menerapkan ajaran ayahnya tersebut dalam hal beroganisasi.

b. Deskripsi harapan orang tua

Orang tua berharap agar informan lulus kuliah dalam kurun waktu 4 tahun. Selama masa pengerjaan skripsi, orang tua selalu memantau prosesnya setiap hari. Dalam sehari, ayah AJ dapat menelponnya lebih dari satu kali. Hal ini dilakukan ayah AJ untuk memantau perkembangan skripsi informan. Ketika menelpon, ayah AJ cenderung memerintah agar AJ mengerjakan saat itu juga. AJ selalu mengiyakan apa yang diperintah ayahnya, meskipun belum dikerjakan. Hal ini merupakan hasil analisis AJ terhadap apa yang diinginkan ayahnya.

Ayah AJ berharap agar AJ menjadi dosen. Ia selalu mengungkapkan kelebihan-kelebihan menjadi dosen. AJ merasa bahwa ayahnya terlau memaksakan kehendaknya. Selain itu, orang tua juga berharap agar informan mampu sukses melebihi pencapaian orang tua. Ayah selalu menantang AJ untuk dapat mengalahkannya. AJ melihat bahwa standar dirinya dianggap berhasil ditentukan oleh ayahnya, yaitu mampu melebihi pencapaian yang telah diraih oleh ayahnya.

C. HASIL PENELITIAN 1. Informan 1

Sebagai anak sulung, TT menyadari bahwa anak sulung menjadi sorotan di dalam keluarga. Ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap

segala sesuatu yang terjadi pada adik-adik dan orang tua. TT menyadari bahwa hal tersebut merupakan naluri sebagai anak sulung.

“Ya kalau ee gimana ya, kalau pada umumnya sih, mungkin nanti

itu akan secara otomatis anak sulung kan, apalagi kalau adiknya banyak kayak gitu kan, ee nanti kalau udah mentas berarti nantinya kan bobotnya untuk sampai dia ke depannya untuk jangka panjangnya kan dia juga akan bertanggung jawab dengan, dengan adik-adiknya. Terutama yang paling, nanti yang paling bontot. Kalau misalnya bapak ibunya udah semakin tua kan akhirnya yang,

yang sulung yang….he-eh, bertanggung jawab. misalnya ada apa-apa juga kan tetep nanti yang, yang disorot yang dituju kan tetep

anak pertama.” (TT/W2/182-200)

“Kayaknya tapi mungkin udah bisa dibilang udah naluri nggak sih, kalau kayak gitu tuh,” (TT/W2/208-210)

Orang tua memiliki harapan kepada TT untuk melanjutkan pendidikan magister segera setelah lulus sarjana. TT menanggapi harapan orang tua tersebut dengan bersikap terbuka. Sikap terbuka ini ditunjukkan TT dengan mencari informasi mengenai proses perkuliahan S2 dan hal-hal terkait harapan orang tua tersebut dari teman-teman. Informasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan.

“Contohnya kayak misalnya, saya itu untuk sekarang harus

langsung S2, misalnya. Ee untuk pendidikan misalnya. Itu saya misalnya harus langsung S2. Nah padahal saya kan juga mempertimbangkan beberapa hal, gitu lho. Maksudnya ee saya mencari info juga dari teman-teman S2, bahwa bagaimana sih perkuliahan S2, bagaimana sih eee tantangan, tanggung jawab, waktu, dan lain-lain, gitu tuh. Terus saya juga ber…, mencari, mencari apa tuh namanya, mencari informasi kepada kepada beberapa teman yang memang sudah bekerja. Nah mereka itu tuh ee kebanyakan info yang saya dapatkan bahwa banyak perusahaan yang, banyak perusahaan yang menerima karyawan ya mereka tu lebih mengutamakan orang yang punya punya mempunyai

TT memiliki keinginan untuk bekerja terlebih dahulu, sedangkan orang tua berharap TT langsung melanjutkan S2. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan harapan antara informan dan orang tua. Selain itu, ia memiliki harapan untuk menikah tepat waktu. Namun orang tua belum memikirkan sampai pada hal-hal pernikahan. Perbedaan harapan ini mengingatkan TT pada saat orang tua tidak menyetujui universitas yang dipilih. Oleh karena itu, ia merasa khawatir bahwa terhadap perbedaan

harapan tersebut.

“aku kan pengennya kan kerja dulu, karena misalnya aku pingin sekolah la…, kan disuruh sekolah, emang kepengenannya orang tua kan juga sekolah lagi,” (TT/W2/279-283)

“Emm, saya pinginnya ya bisa S2, ya bisa kerja, ya bisa nikah, tapi ya nggak telat banget (tertawa). Saya karena, karena, saya saya juga ee mungkin orang tua saya masih belum memikirkan untuk hal

yang, ee untuk hal untuk menikah anaknya menikah itu.”

(TT/W1/870-877)

“Eem, dan saya nggak mau itu terjadi lagi sekarang, dan saya sudah me..mulai memprediksikan bahwa itu akan seperti akan terjadi seperti dulu lagi. Jadi pas itu tuh saya SMA, itu saya pernah ee dapet jalur prestasi, udah diterima disebuah universitas, dengan jalur prestasi. Nah, tapi tu dan itu universitas yang bukan

unis…univ…bukan univers…bukan universitas yang yang ecek

-ecek, bukan itu. Tapi tu eem yang cukup prestisius gitu lah. Nah, terus ee dengan kayak gitu aja orang tua, karena mereka tidak punya pandangan dan mempunyai tujuan untuk menyekolahkan anaknya disitu, ya sudah dengan pengumuman saya yang kayak

gitu ya tidak berusaha dibaca atau di gimanain atau ber…, di diskusikan gitu pun tidak, gitu.” (TT/W1/999-1021)

Ketika terjadi perbedaan harapan antara dirinya dan orang tua, TT memilih untuk bersikap tidak menyampaikan pandangannya dan

menuruti orang tua. Bersikap pasif memberikan rasa aman bagi TT karena tidak akan terjadi adu pandangan. TT menganggap bahwa bersikap pasif merupakan bentuk memahami situasi yang sedang terjadi serta memahami beban orang tua.

“jadi mungkin saya juga tipe orangnya yang males ee untuk, males

untuk, apa sih namanya, berantem, terus beradu pandangan, gitu-gitu sih, beradu argumen maksud saya. Saya orangnya males, jadi padahal saya untuk batas apa, cari amannya ya ya udah nurut-nurut aja, gitu-gitu.” (TT/W1/35-43)

“Jadinya tuh lebih, lebih ke yaa memahami situasi sih, lebih berusaha memahami, ngalah lah pokoknya, cari aman,”

(TT/W1/466-469)

“Tapi ya disisi lain ya tetep aku tuh mikirnya juga sekarang orang tua tuh juga kalau misalnya pingin umur panjang anaknya juga ya

jangan bikin tambah beban.” (TT/W2/372-376)

Fakta yang menyebabkan TT tidak menyampaikan pandangan-pandangan yang berbeda dari orang tua adalah budaya komunikasi satu arah yang ada didalam keluarga. TT mencari mediator yang dapat menjadi penghubung komunikasi kepada orang tua. Ia memilih kerabat dekatnya, yaitu om dan tante sebagai mediator karena mereka bisa diajak berdiskusi dan bersikap terbuka. TT menyadari bahwa muncul perasaan negatif ketika akan memulai pembicaraan dengan orang tua.

“ee masih agak sulit untuk komun…, mengkomunikasikan dua arah gitu, jadi masih satu arah,” (TT/W1/493-495)

“Eeem, yang waktu saya, kan akhirnya, berusaha, kalau misalnya

belum bisa dikomunikasikan dua arah langsung dengan orang tua saya, ya akhirnya itu, saya ee mencari mencari orang yang sekiranya bisa ngomong ke orang tua saya. Jadi sebagai mediator

“kami juga cukup dekat dengan tante dan om kami, yang yang pada saat itu, yang sampai sekarang berprofesi sebagai dosen. Nah mereka itu masih bisa terbuka, terus melihat kenya.., apa dan bisa berdiskusi, bisa bisa istilahnya bedalah cara berkomunikasi dengan kami. Jadi untuk kadang kami untuk memulai saja sudah takut. Jadi itu hambatannya, rasa takut, rasa canggung yang tidak terbiasa, takut kalau ee kadang takut kalau misalnya ya kalau misalnya ibu berkenan dengan dengan dengan apa obrolan kami,” (TT/W1/165 -180)

TT pernah menyampaikan perbedaan harapan orang tua untuk melanjutkan kuliah dan bekerja. Ia berusaha menyampaikan informasi-informasi yang telah digali mengenai perkuliahan S2 kepada orang tua. Namun, usahanya untuk asertif tidak mendapat tanggapan yang baik. Orang tua justru semakin menginginkan agar TT mewujudkannya.

“Nah, saya sudah berusaha menuangkan ide itu, tapi tu, ee

menuangkan argumen itu memberikan argumen itu kepada bapak ibu saya, tapi tuh mereka tetep kayaknya bersikuku bahwa oh kalau saya menunda, saya menunda, itu tuh ee akan malah nantinya

nggak jalan” (TT/W1/235-243)

Dari informasi-informasi mengenai proses perkuliahan S2, TT mempertimbangkan apakah ia harus langsung melanjutkan S2 atau bekerja terlebih dahulu. Melalui proses pertimbangan, ia memutuskan menunda harapan orang tua untuk langsung melanjutkan S2 setelah lulus sarjana. TT memutuskan untuk mewujudkan harapannya, yaitu bekerja dahulu selama satu atau dua tahun.

“Nah itu saya sampai sekarang pun masih agak gojak-gajik, maksudnya masih agak sshhhh aduuuuh, emm masih dalam proses mempertimbangkan. Tapi ini sepertinya saya sudah 60% ee, tadinya saya berpikiran bahwa ee ya udah kalau misalnya saya rejekinya langsung, langsung, langsung kuliah ya nanti saya daftar, ya kalau misalnya langsung keterima ya udah saya jalani. Cuma

kalau nggak berarti saya memang harus bekerja dulu. Ee tapi saya

terus beberapa hari ini juga mikir bahwa mungkin saya akan me…,

ee membuat keputusan bahwa memang saya harus bekerja dulu untuk setahun, dua tahunan gitu. Jadi kalau pun nanti memang saya untuk sekolah lagi, ya bukan berarti karena saya mengambil S2 yang tanpa bayangan dan tanpa tujuan besoknya. Dengan saya bekerja, saya paling tidak mempunyai sedikit gambaran bahwa S2 nanti bukan hanya sekedar embel-embel, tapi emang berguna

untuk, untuk me…, mendukung ilmu saya, untuk pekerjaan saya, untuk karir saya.” (TT/W1/773-802)

Ada beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan TT menunda harapan orang tua. Pertama, keinginan mewujudkan harapan orang tua secara mandiri adalah bentuk peduli pada masa depan adik untuk memperoleh pendidikan yang sama dengannya.

“Tapi kan, tapi kalau aku pingin sekolah lagi tuh, yang bener-bener dengan kebutuhanku besok sama aku pinginnya juga pakai uangku

sendiri.” (TT/W2/283-287)

“tapi kan juga berpikir lebih jauh lagi, apakah nanti beberapa tahun

ke depan adik saya yang paling bungsu itu juga bisa mendapatkan

kesempatan yang sama dengan saya,” (TT/W1/246-251)

Selain itu, TT memandang bahwa setiap orang memiliki pencapaian yang berbeda-beda. Pencapaian ini tergantung dari standar kebahagiaan masing-masing. Secara tersirat, harapan orang tua belum tentu menjadi pencapaian yang hendak diraih olehnya.

“Ee, tapi kadang saya juga merasa, lho kan orang kan beda-beda,

masa ya di…, saya mau, mau, apa tuh namanya, harus harus seperti itu gitu lho,” (TT/W1/729-733)

“Karena ya mau nggak mau orang yang mempunyai tujuan itu kan

pasti juga punya standar, standar sendiri kan. Nah, terus tapi itu kan sekarang kalau misalnya, eee dan aku memang menyadari bahwa itu baik. Gitu. Terus, tapi disisi lain kadang itu aku juga merasa bahwa seseorang itu kan tidak bisa dipandang hanya dengan, eem,

status sosialnya atau dengan ketercapaiannya dia. Karena kebahagiaan orang itu kan standarnya juga beda-beda dan.., dan nggak bisa disama ratakan. Gitu sih. Jadi yang, jadi sebenernya aku sekarang tuh berusaha tidak memandang dari satu sisi, tapi ya dari

beberapa sisi juga.” (TT/W2/608-626)

Harapan-harapan orang tua yang ditujukan kepada TT sebagai anak sulung dipandang memiliki tujuan yang baik. Ia memandang bahwa harapan orang tua memiliki arah yang benar.

“Ee, saya berusaha, ee berusaha memenuhi tuntutan orang tua

tersebut. Karena, pertama orang tua menuntut saya dan pasti tuntutannya itu ke arah yang benar.” (TT/W1/503-507)

“Ya saya berusaha mengerti dan berusaha memahami bahwa

mereka tuh juga pengen mengarahkan saya ke jalan yang, yang

benar, gitu.” (TT/W1/291-295)

Oleh karena itu, TT bertekad untuk mewujudkan harapan orang tua, yaitu melanjutkan pendidikan S2 meskipun menunda. Tekad ini sebagai bentuk pertanggungjawaban keputusan menunda yang telah diambil. TT memandang bahwa orang tua akan kecewa jika harapannya tidak terpenuhi.

“Tapi mungkin cara, cara dan waktu untuk saya memenuhi keinginan mereka itu yang kadang ee tidak, ya mungkin untuk saat ini saya lebih untuk berpikir eee oke saya akan nurut menuruti

keinginan mereka, menuruti keinginan mereka.” (TT/W1/508-514)

“Eem, kalau mungkin kalau saya sih untuk bapak saya mungkin,

mung…, ya untuk mereka berdua mungkin agak lebih kecewalah.

Tapi kan setidaknya kekecewaan itu mungkin ee akan saya biarkan, ee cuma maksudnya saya harus bisa meyakinkan bahwa kekecewaan itu cuma akan dirasakan mereka sebentar. Setelah itu, saya akan membangkitkan membayar kekecewaan mereka dengan hal yang lebih. Maksudnya saya akan mempertanggungjawabkan dengan keputusan yang saya ambil.” (TT/W1/817-831)

Harapan-harapan orang tua yang ditujukan kepada TT memberikan beberapa dampak. TT merasa tertekan karena harapan yang selalu ditujukan kepada anak sulung. TT meluapkan rasa tertekan ini dengan menangis secara spontan. TT menyadari bahwa ia merasakan dampak akibat harapan orang tua secara psikis.

“Terus kadang juga ada tertekannya itu karena karena kok yang dituntut tuh apa-apa kok aku, gitu pertama, yang disuruh apa-apa

aku,” (TT/W1/408-411)

“Efeknya paling nangis (tertawa). Nangis. Ee kalau sampai

nggrentes kurus sih nggak (tertawa). Karena saya badan saya juga tetap segini-segini saja (tetawa). Apa ya? Efeknya tuh mungkin lebih ke psikis. Meluapkannya tuh dengan menangis gitu. Terus?

Udah. Efeknya nangis.” (TT/W1/528-536)

“Eee, maksudnya yang pas aku kok nangis? Kalau menurutku itu sih terjadi dengan sendirinya sih. Ya spontanitas, naluri.”

(TT/W2/458-461)

TT juga merasakan kekhawatiran dalam mewujudkan harapan orang tua, yang dirasakan sebagai dampak. TT berpikir bahwa dirinya tidak mampu mencapai lebih apa yang diharapkan orang tua. Selain itu, TT juga merasa belum mampu menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Ia merasa justru adik-adiknya yang lebih baik dari dirinya.

“Nah, tapi kalau pun kalau saya terus jadi mikir kalau pun saya

nanti misalnya tidak bisa lebih dari yang mereka harapakan itu bagaimana. Kadang saya juga mikirnya kayak gitu sih.”

(TT/W1/738-743)

“kok nggak ada puas-puasnya gitu sebagai anak sulung kok ya saya tu masih kadang masih belum bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya, gitu-gitu, dan eem kadang juga saya ee kadang ada rasa bahwa kok kadang malah adik-adik saya yang bisa lebih baik

Sebagai anak sulung yang masih diarahkan orang tua, TT merasakan kerugian pada diri, sehingga tidak mampu berkembang secara mandiri. Apalagi orang tua yang terlalu melindungi dirinya. Padahal orang tua menginginkan untuk mandiri. Hal ini merupakan dampak lain yang dirasakan TT.

“misalnya aku kayak gini, kayak gini terus, kayak gini kayak gini

terus tuh nanti juga yang rugi aku gitu lho. Kadang pada saat aku, usia aku berkembang dan udah harus bisa mikir secara mandiri kayak gitu, tapi terus aku akhirnya kepentok dengan masih dengan, apa tuh namanya, dengan segala rules dan kebijakan orang tua.Terus kadang aku ngerasa takutnya besok aku bisa nggak ya kira-kira besok tuh berkembang, terus bisa menghadapi, gitu-gitu.”

(TT/W2/358-371)

“Pinginnya anaknya bisa mandiri, tapi masih apa yang anak

pertama, apa tuh, kayak masih dianggapnya anak kecil tuh lho. Jadi, masih terlalu, terlalu dilindungi. Terlalu, terlalu dilindungi, terlalu dienakkan dengan gitu-gitu.” (TT/W2/218-225)

Untuk mengatasi perasaan tertekan akibat harapan-harapan orang tua yang ditujukan kepadanya, TT mengatasinya dengan beberapa cara. Salah satu caranya adalah dengan berdoa untuk memperoleh ketenangan. TT melibatkan figur Tuhan untuk mengurangi perasaan tertekan. Ia berpikir bahwa Tuhan menunjuk dirinya sebagai anak sulung karena ia adalah orang yang pantas dan mampu mengemban tanggung jawab tersebut, meskipun banyak kesulitan yang dihadapi.

“Berdoa.” (TT/W2/500)

“Ketenangan. Wess, gaya banget yo (tertawa). Tapi emang iya lho. Nggak tau, karena tergantung kepercayaannya orang-orang kan

“berarti ya Tuhan memang ee menunjuk kita yang, menunjuk kita sebagai orang yang mampu melak…, melakukan tanggung jawab

sebagai anak sulung. Berarti ya dengan segala kelebihan, kekurangan, ya sudah jalani saja, nikmati dan meskipun jalannya

itu tidak mudah.” (TT/W1/1153-1161)

“Tuhan memang mempercayakan aku buat bisa menjadi, ee berarti

memang aku yang pantas untuk menjadi anak pertama.”

(TT/W2/653-657)

Selain itu, bercerita kepada orang lain merupakan salah satu cara mengurangi rasa tertekan. TT bercerita kepada teman yang memiliki kesamaan pengalaman dengannya, karena merasa memiliki teman senasib dan merasa terhibur. Selain dengan teman, TT juga bercerita kepada tantenya yang sudah mengetahui cerita TT.

“Ke Kuntil. Iya, itu temen. Soalnya tuh gini, eee ke…, kee…, cerita

ke temen yang ee apa tuh namanya, punya pengalaman yang hampir sama. Karena tipenya ibuku ternyata juga hampir sama kayak ibunya Kuntil dan karakterku sama karakternya Kuntil tuh juga hampir sama. Gitu. Jadi, kebetulan ada kesamaan itu jadinya

cocok kalau buat pas cerita kayak gitu.” (TT/W2/469-479)

“Kadang solusi juga. Tapi kadang lebih ke…, ya ketenangan itu juga, karena merasa selain ada temennya itu,” (TT/W2/528-531)

“Karena terus merasa, meskipun kadang nggak menemukan solusi

(tertawa), tapi ki terus kayak ada, ada temennya (tertawa),

haaa…iki luwih… Gitu tuh terus udah, udah kayak, udah malah

jadi terhibur gitu lho. Kadang menemukan kesamaan gitu tuh.”

(TT/W2/483-490)

“Terus paling nggak ya ke tanteku. Gitu sih lebih sering. Karena ya tanteku kan media, seperti mediator.” (TT/W2/513-515)

Melalui bercerita dengan orang lain, TT memperoleh ketenangan, solusi, maupun kelegaan. TT juga merasa bahwa kebutuhan dirinya untuk didengarkan juga terpenuhi, karena orang tersebut mampu menjadi

pendengar yang baik. Selain itu, bercerita juga memberikan pengaruh pikiran menjadi lebih jernih.

“Nah itu tuh ya terus jadi apa ya istilahnya, ya selain tenang terus cuma didengrin aja udah, ya itu, udah lega.” (TT/W2/537-540)

“Ee kadang orang yang saya ceritain itu, itu tuh kadang juga bisa

memberikan solusi, kadang juga hanya menjadi pendengar yang baik.Tapi itu semua juga sudah nggak tahu kenapa saya juga udah lega aja gitu, ya meskipun terus ee nggak bukan berarti terus masalah itu hilang begitu saja nggak tapi tuh dengan bercerita saya juga udah sedikit menemukan kelegaan. Jadi, mungkin efeknya untuk tahap-tahap selanjutnya mungkin saya akan bisa lebih jernih berpikir dan berhati-hati untuk me…, me apa, me…., memutuskan sesuatu.” (TT/W1/548-563)

Berpikir positif juga merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi perasaan kurang adil dan tidak nyaman akibat perasaan tertekan.

“Kadang merasa ee kurang adil, nggak nyaman, atau apa ya, tapi

berusahalah untuk mengalihkan dengan hal-hal yang positif dan

berpikiran yang positif. Gitu sih.” (TT/W1/1161-1166) 2. Informan 2

Orang tua selalu memantau perkembangan pendidikan AA diperkuliahan. AA merespon dengan menikmati perhatian orang tua tersebut. Hal ini dikarenakan AA selalu menginformasikan perkembangan perkuliahannya apa adanya. Selain itu, harapan orang tua terkait pendidikan tersebut sesuai dengan harapan AA untuk segera lulus kuliah, berpenghasilan, sehingga dapat membantu adik. Oleh karena itu, AA lebih bersikap terbuka terhadap harapan yang sesuai dengan perencanaannya.

“Terus nanya, nanya nomer, nanya nilainya berapa, kapan saat

suratnya yang dikirimin ke rumah tuh sampe. Terus kapan. Nyampe pernah kemarin itu tanya, ee NIM-ku berapa, password

-nya apa, jadi mau lihat sendiri” (AA/W1/193-199)

“Ya enjoy aja sih. Soalnya aku menyampaikannya sejujur-jujurnya, gitu. Aku kan emang kalau misal masalah uang sekolah, atau uang

apa, terus sama urusan nilai emang nggak pernah nipu,”

(AA/W1/215-220)

“misalnya lebih di ini ke pendidikan, lebih dikejar sama orang tua,

Dokumen terkait