BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
4. Rumusan Tema Utama Tiga Informan
Berdasarkan hasil analisis data yang sudah dilakukan pada masing-masing informan, diperoleh rumusan tema mengenai pengalaman, dan strategi koping anak sulung terhadap harapan orang tua. Penelitian ini menemukan bahwa pengalaman anak sulung mencakup pengalaman merespon harapan orang tua serta pengalaman terkait dampak positif maupun negatif yang dirasakan anak sulung akibat dari harapan orang tua.
Berikut adalah penjabaran hasil penelitian secara keseluruhan: a. Pengalaman Anak Sulung terhadap Harapan Orang Tua
1) Gambaran Pengalaman Anak Sulung Merespon Harapan Orang Tua
a) Menolak harapan orang tua
Ketiga informan menolak harapan orang tua yang ditujukan kepada mereka. TT dan AJ menolak harapan orang tua karena memiliki harapan yang berbeda dengan cita-cita, yaitu TT ingin langsung bekerja dan AJ ingin bekerja di perusahaan. Sedangkan AA menolak harapan orang tua karena menjadi guru bukan profesi yang tepat untuk merealisasikan harapannya.
“aku kan pengennya kan kerja dulu, karena misalnya aku pingin sekolah la…, kan disuruh sekolah, emang kepengenannya orang tua kan juga sekolah lagi,”
(TT/W2/279-283)
“Tapi dalam pemikiranku, itu bukan, itu bukan keinginan
gue. Jadi, ee aku pernah bilang, Pa itu bukan gue, Pa. gue nggak mau jadi dosen, gue maunya jadi HRD. Gue mau mau masuk perusahaan, ngubah orang, ngatur
orang, kayak gitu.” (AJ/W1/179-185)
“Ee kan karena kemarin itu sempet eee bentrok aku
nggak mau jadi guru tapi orang tuaku maunya jadi guru.”
(AA/W1/873-876)
“Ya, sebelnya tuh, ya eh guru tuh apa sih,kayak gitu tuh
lho, guru tuh ya gimana, kan aku punya rencana untuk ngangkat adikku. Gimana aku bisa mengangkat mereka
b) Sikap asertif memperoleh punishment
Ketiga informan menunjukkan sikap asertif terhadap harapan orang tua, namun tidak ditanggapi dengan baik. TT dan AA bernegosiasi pada orang tua terkait harapan dirinya dan orang tua. Namun, orang tua tidak mendengarkan, justru semakin memaksa dan mengarahkan pada harapan mereka. Sedangkan AJ bersikap asertif merupakan bentuk berargumen menolak harapan orang tua, namun justru menimbulkan suasana tegang. Pengalaman ini juga dirasakan TT ketika asertif menjadi „bom waktu‟ baginya
karena terbiasa menurut pada orang tua.
“Nah, saya sudah berusaha menuangkan ide itu, tapi tu,
ee menuangkan argumen itu memberikan argumen itu kepada bapak ibu saya, tapi tuh mereka tetep kayaknya bersikuku bahwa oh kalau saya menunda, saya menunda,
itu tuh ee akan malah nantinya nggak jalan”
(TT/W1/235-243)
“Ya aku cerita. Terus aku upload tuh banyak lho yang ngerespon, gitu kan. Terus habis itu, ee.., nggak tahu gimana, gimana ceritanya jadinya ngarahnya ke itu tadi, PBI dan guru itu tadi tuh. He-eh terus kesitu. Aku…,
padahal aku emang punya rancangan yang lain gitu. Itu
cuma ngobrol doang.” (AA/W2/605-613)
“Ya aku, dulu itu aku serang balik, ya nggak pa, gue
maunya gini-gini, gue tetep mau masuk perusahaan, organisasi, biar gue kayak gini, gue tuh maunya kayak gini gini gini. Nah jadi tetep di tangkal balik, tapi sekarang dia tetep masih bilang, ya udah jadi dosen aja,
kan udah papa bilang.” (AJ/W1/270-278)
“Hmm, ketika tegang-tegangan kayak gitu ya tidak ada yang mau mengalah antara orang tua dan anak.”
“Pernah sekali. Sampai.., istilahnya saya pada saat itu
tuh kayak bom waktu gitu lho. Saya terbiasa kena
semprot gini diem, diem, diem, diem, diem.”
(TT/W1/352-356)
c) Bersikap pasif sebagai bentuk represi perasaan
Ketiga informan memiliki kecenderungan merespon dengan bersikap pasif terhadap perbedaan harapan, sehingga merepres apa yang dipikirkan. Ketiga informan mencari aman dari perdebatan dan menghindar dari amarah orang tua. Sikap pasif yang ditunjukkan TT dan AA juga salah satu bentuk memahami situasi dan beban orang tua agar tidak memicu suasana menjadi tegang kembali.
“jadi mungkin saya juga tipe orangnya yang males ee
untuk, males untuk, apa sih namanya, berantem, terus beradu pandangan, gitu-gitu sih, beradu argumen maksud saya. Saya orangnya males, jadi padahal saya untuk batas apa, cari amannya ya ya udah nurut-nurut aja, gitu-gitu.” (TT/W1/35-43)
“Biasanya aku diem aja, kayak gitu, mengurangi
intensitas bicara, gitu. Nanti daripada aku salah lagi
kan.” (AA/W2/143-145)
“Kalau dulu ya dipendam. Ee kalau dulu tuh kenapa di
repres karena nggak berani. Nggak berani ngomong sama orang tua, takut dimarahi segala macem. Yaa habis itu ee ya merasa..ee merasa nggak nyaman sih. Karena
dulu tuh tidak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan”
(AJ/W2/1199-1207)
“Jadinya tuh lebih, lebih ke yaa memahami situasi sih,
lebih berusaha memahami, ngalah lah pokoknya, cari
“Terus ya pokoknya aku merasanya ibuku banyak beban pikirannya tuh lho. Jadi kalau misalnya aku argument balik itu ya cuma nambah-nambahin doang gitu lho”
(AA/W1/1084-1088)
d) Menyadari peran anak sulung memenuhi harapan orang tua
Ketiga informan menyadari bahwa anak sulung memiliki tanggung jawab untuk memenuhi harapan orang tua. TT sadar bahwa orang tua kecewa ketika ia menunda harapan orang tua, sehingga mewujudkan harapan merupakan bentuk pertanggung jawaban. Sedangkan AA dan AJ menyadari bahwa harapan orang tua merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi anak sulung.
“Setelah itu, saya akan membangkitkan membayar
kekecewaan mereka dengan hal yang lebih. Maksudnya saya akan mempertanggungjawabkan dengan keputusan
yang saya ambil.” (TT/W1/826-831)
“Tanggung jawab itu ya sesuatu yang memang harus kulakukan, gitu. Harus itu bukan karena aku diperintah lalu harus melakukan, tapi aku juga melihat situasinya. Ya memang situasinya aku memang sedang dibutuhkan,
gitu. Jadi ya keharusan itu memang harus dilakukan.”
(AA/W2/172-181)
“Jadi karena ya itu ada pemikiran mengenai eee…,
sebagai anak pertama, sebagai seorang anak, sepertinya
saya ee harus memenuhi kebutuhan mereka”
e) Menunda mewujudkan harapan orang tua
Ketiga informan berusaha mewujudkan harapan orang tua meskipun dengan menunda. TT menunda dengan pertimbangan ingin bekerja sehingga mampu mewujudkan harapan orang tua secara mandiri. Keputusan menunda AA merupakan bentuk mengutamakan tugas kuliah sebagai prioritasnya, daripada harus memantau adik. Sedangkan AJ menunda harapan orang tua karena suasana hati yang kurang mendukung.
“Cuma kalau nggak berarti saya memang harus bekerja
dulu. Ee tapi saya terus beberapa hari ini juga mikir
bahwa mungkin saya akan me…, ee membuat keputusan
bahwa memang saya harus bekerja dulu untuk setahun,
dua tahunan gitu.” (TT/W1/784-791)
“Tapi kan, tapi kalau aku pingin sekolah lagi tuh, yang
bener-bener dengan kebutuhanku besok sama aku
pinginnya juga pakai uangku sendiri.” (TT/W2/283-287)
“Tapi pas misal repot ee apa ya misalnya pas lagi mau UTS atau final test kayak gitu tuh kan biasanya kerjanya udah mulai banyak. Terus kalau misalnya ditelepon cuma disuruh, kamu telepon ini, kayak gitu tuh, kadang ya emosi sendiri sih, tapi ya kadang langsung tak telepon gitu. Ya paling cuma tanya, ya udah, ya, aku mau belajar, kayak gitu. Paling cuma sebentar. Kadang ya mikirnya, aduh mbok lain kali dulu, nanti dulu aja, kayak
gitu. Aku mau ngerjain ini dulu,” (AA/W1/587-601)
“Nah pada akhirnya, ya udah diikutin aja, dan salah satu
cara, salah satu caranya katakan iya aja. Udah ketemu dosen? Udah, iya. Udah selesai? Udah (tertawa). Padahal mungkin pada saat itu belum. Kenyataannya belum. Tapi diomongin, iya, udah. Daripada ntar jadi konflik kan
“Iya gitu, nggak lihat. Tapi ketika, misalnya kalau moodku lagi oke ya udahlah dikerjain aja. Karena terkadang ngerjain skripsi tuh kadang-kadang males-males juga. Mereka bilang marah-marah, habis itu, ya udah kerjain! Habis itu ya udah dikerjain. Karena
kalau…, suasana hati lagi oke.” (AJ/W2/61-69)
2) Gambaran Pengalaman Anak Sulung Terkait Dampak Harapan Orang Tua
a) Melatih kepekaan, kedewasaan, dan tanggung jawab Harapan orang tua memberikan dampak positif bagi AA. Ia merasa menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang tua dan terlatih lebih dewasa. Selain itu, AA menyadari untuk lebih mementingkan kebutuhan adik-adiknya, sehingga bersikap tidak egois. AA juga menyadari bahwa tanggung jawab yang diharapkan orang tua merupakan kebutuhan yang sebaiknya dipenuhi.
“Ya aku lebih bisa.., pertama tuh peka sama kebutuhan
orang tua. Maksudnya, memang ada hal yang mendesak
yang emang aku harus lakukan, gitu” (AA/W2/273-277)
“Tapi tuh juga buat aku menguntungkan karena
setidaknya ee aku terlatih lebih dulu untuk dewasa kayak gitu, dibanding ya mungkin temen-temen yang lain yang istilahnya masih diurus, orang tuanya masih kuat untuk
eee ya…, ngopeni banget, gitu lho. Aku merasa untung
sih” (AA/W2/261-269)
“Terus habis itu juga, apa ya, ya itu sih, lebih.., lebih bisa
ngatur diri, maksudnya tuh ee yaa…, kalau kayak gitu
tuh lingkupku kan akhirnya cuma membantu ngurusin adik, kayak gitu. Nah kayak gitu, lingkupku jadi kayak gitu., kayak gitu. Jadi tuh, ya ee lebih mengurangi egois ee yang dulu-dulu” (AA/W2/290-298)
b) Tertantang memenuhi standar keberhasilan orang tua Menyadari bahwa harapan orang tua merupakan tantangan bagi diri untuk mampu mewujudkannya merupakan salah satu dampak positif yang dirasakan informan. AJ berusaha memahami bahwa tujuan harapan orang tua itu baik. Ia sadar bahwa harapan orang tua menjadi cambukan bagi AJ agar mampu lebih baik dari orang tua.
“Tapi mereka sebenernya mencari suatu hal, bagaimana seha…, mencari pelecut biar anak-anaknya tuh lebih baik dari mereka. Gitu. Nah, misalkan, ini sekarang udah S1 udah ujian, cepat kerjakan revisinya. Kayak gitu tuh. Jadi, mereka selalu mencari cara untuk melecut anaknya,
cuma terkadang itu tidak sesuai.” (AJ/W1/543-552) c) Merasa tertekan
TT dan AJ merasa tertekan sebagai akibat dari orang tua yang selalu menuntut harapannya. Penyebab rasa tertekan adalah orang tua yang selalu menuntut dan memerintah. Selain itu, perasaan tertekan yang dirasakan AJ juga akibat dari diri yang menolak harapan orang tua.
“Terus kadang juga ada tertekannya itu karena karena kok yang dituntut tuh apa-apa kok aku, gitu pertama, yang disuruh apa-apa aku,” (TT/W1/408-411)
“Ee mungkin kalau depresi itu tuh terlau beratlah ya
bahasanya. Mungkin stress gitu. Itu dulu ketika SMA sih. Jadi ee ya itu karena banyak tuntutan,”
“Depresi tuh, depresi tuh mungkin terlalu berat ya
katanya. Stres. Jadi, ee seperti menolak. Jadi secara mental tuh gue nggak mau. Saya tidak mau. Jadi seperti
denial gitu ya kalau kita belajar defense. Itu ya nolak
gitu.” (AJ/W1/709-715) d) Self-efficacy rendah
Ketiga informan merasakan dampak harapan orang tua yaitu kurangnya keyakinan untuk mewujudkan harapan orang tua maupun diri sendiri. Hal ini menunjukkan self-efficacy yang rendah. TT dan AJ merasa inferior serta khawatir dalam mewujudkan harapan orang tua. Sedangkan AA merasakan bahwa dirinya menjadi kurang yakin dalam mewujudkan harapannya menjadi designer.
“Nah, tapi kalau pun kalau saya terus jadi mikir kalau
pun saya nanti misalnya tidak bisa lebih dari yang mereka harapakan itu bagaimana. Kadang saya juga
mikirnya kayak gitu sih.” (TT/W1/738-743)
“Terus habis itu apa ya, terus pengaruh ke hobi itu juga
dan aku nggambar tuh semakin nggak mood gitu. Ah, buat apa nggak dilihat juga, gitu kan. Ee semacam mengurangi keyakinanku juga kesitu. Mengurangi niatku
untuk ke desain itu juga” (AA/W2/1127-1134)
“Kalau ketika mereka nuntut seperti itu, itu yang muncul
tuh inferior sih. Emang gue bisa? Muncul pernyataan-pernyataan kayak gitu. Apakah saya bisa? Apakah saya
bisa ee memenuhi apa yang mereka harapkan?”
b. Strategi Koping terhadap Dampak Harapan Orang Tua 1) Win-win solution
AA dan AJ menyelesaikan perbedaan harapan dengan
win-win solution. Cara ini dapat menjadi jalan tengah untuk menerima pendapat maupun pemikiran orang tua dan orang tua menerima pendapat mereka, sehingga keduanya sama-sama diuntungkan.
“Terus, ya udah cuma lihat ke efek itu dulu kayak gitu
kan. Ya kan juga nggak ada untungnya gitu lho buat aku, dan sedangkan kalau mencoba dapet pengalaman baru dan ya kali aja semuanya jadi win-win solution gitu lho. Mereka senang, aku senang, kayak gitu kan. Ya kali aja kayak gitu. Karena konflik kan pasti ada, kayak gitu kan? Pasti bakal ada saat pendapatku nggak diterima, pendapat mereka juga nggak diterima aku kan pasti ada.”
(AA/W2/1204-1216)
“Nah, kalau aku caranya sih, gimana, aku berpikir win win solution-nya sih. Ni orang tua maunya A, gue maunya B. Nanti gimana caranya bisa, dia bisa, keinginan dia bisa,
keinginanku juga bisa.” (AJ/W1/375-380) 2) Mekanisme pertahanan diri: Represi
Represi menjadi salah satu strategi koping yang digunakan oleh AA dan AJ. AA menekan rasa lelahnya ketika memikirkan harapan orang tua dengan tidur. AA sadar bahwa tidur tidak menyelesaikan masalah. Sedangkan AJ melakukan represi dengan membiarkan masalah tersebut tanpa mencari jalan keluarnya.
“Iya. Biasanya aku tidur. Biasanya kalau bangun tidur gitu
njuk lupa, kayak gitu tuh tadi tuh ngapa. Maksudnya lebih
tenang sih dari sebelumnya” (AA/W1/623-627)
“Kalau itu, yang tidur itu, kalau itu belum tentu. Soalnya
ee ya itu namanya lari ya mbak, kalau kayak gitu tuh.
Nggak diselesaikan kan, cuma reda gitu.” (AA/W2/513 -517)
“Itu dulu pas SMA itu terkadang di repres. Jadi ya udahlah
dibiarin aja. Di repres, jadi yaa nggak cari jalan keluar sih,
kayak gitu. Ya bisanya cuma di repres ya.” (AJ/W2/1151 -1155)
3) Bercerita pada orang lain
Ketiga informan bercerita pada orang lain untuk mengurangi rasa tertekan. Mereka cenderung memilih teman bercerita yang memiliki kesamaan pengalaman. Melalui
sharing, ketiga informan merasa memiliki teman senasib. Selain itu, TT juga memperoleh ketenangan dan juga solusi permasalahan.
“Ke Kuntil. Iya, itu temen. Soalnya tuh gini, eee ke…, kee…, cerita ke temen yang ee apa tuh namanya, punya pengalaman yang hampir sama. Karena tipenya ibuku ternyata juga hampir sama kayak ibunya Kuntil dan karakterku sama karakternya Kuntil tuh juga hampir sama. Gitu. Jadi, kebetulan ada kesamaan itu jadinya cocok kalau buat pas cerita kayak gitu.” (TT/W2/469-479)
“tapi ki terus kayak ada, ada temennya (tertawa), haaa…iki luwih… Gitu tuh terus udah, udah kayak, udah
malah jadi terhibur gitu lho. Kadang menemukan
kesamaan gitu tuh.” (TT/W2/485-490)
“ya itu kadang-kadang juga suka sharing ke temen, aku juga dipaksa kok sama orang tua tapi ya udahlah dijalanin
dulu, kayak gitu. Berarti aku punya temen,”
“Kalau misalnya, kalau aku ngamati teman-teman yang anak sulung juga, ketika kita ngobrol, kita tuh gini gini. Oh, ternyata sama ya (tertawa). Masalahnya sama ya. Tuntutan (tertawa). Apalagi kalau dengan sama-sama yang orang Batak, oh sama kali kita (tertawa). Apalagi kalau dia sama anak pertama, oh sama kali kita ya. Jadi kayak gitu. Dapat teman. Oh ternyata tidak sendiri (tertawa).”
(AJ/W1/732-743)
“Kadang solusi juga. Tapi kadang lebih ke…, ya
ketenangan itu juga, karena merasa selain ada temennya
itu,” (TT/W2/528-531)
Tabel 6
Tema Utama: Pengalaman Anak Sulung Terhadap Harapan Orang Tua Gambaran Pengalaman Anak Sulung Merespon Harapan Orang Tua
No Tema Utama Fakta Yang Tampak Nomor Verbatim
1 Menolak harapan orang tua yang berbeda
- Harapan orang tua tidak sesuai dengan cita-cita
- Harapan orang tua tidak bisa merealisasikan harapan informan
TT/W2/279-283 AJ/W1/179-185 AA/W1/873-876 AA/W1/999-1004 2 Sikap asertif memperoleh punishment
-Usaha negosiasi, namun semakin dipaksa orang tua
-Berargumen menimbulkan suasana tegang TT/W1/235-243 AA/W2/602-613 AJ/W1/270-278 AJ/W2/640-642 TT/W1/352-356 3 Bersikap pasif sebagai bentuk represi perasaan
- Merepres untuk mencari aman
- Pasif dianggap memahami situasi dan beban orang tua
TT/W1/35-43 AA/W2/143-145 AJ/W2/1199-1207 TT/W1/466-469 AA/W1/1084-1088
4 Menyadari peran anak sulung memenuhi harapan orang tua
-Memenuhi harapan agar tidak mengecewakan orang tua
-Sadar tanggung jawab anak sulung memenuhi harapan orang tua
TT/W1/826-831 AA/W2/172-181 AJ/W1/911-915 5 Menunda mewujudkan harapan orang tua
- Ingin mewujudkan harapan orang tua secara mandiri
- Lebih mengutamakan prioritas diri - Mewujudkan harapan orang tua
tergantung suasana hati
TT/W1/784-791 TT/W2/283-287 AA/W1/587-601 AJ/W1/46-54 AJ/W2/61-69 Gambaran Pengalaman Anak Sulung Terkait Dampak Harapan Orang Tua DAMPAK POSITIF
No Tema Utama Fakta Yang Tampak Nomor Verbatim
1 Melatih kepekaan, kedewasaan dan tanggung jawab
-Mengutamakan kebutuhan orang tua -Terlatih mandiri
-Bertanggung jawab terhadap keluarga AA/ W2/ 273-277 AA/ W2/ 261-269 AA/ W2/ 290-298 2 Tertantang memenuhi harapan orang tua
-Harapan orang tua adalah tantangan AJ/ W1/ 543-552
DAMPAK NEGATIF 3 Merasa
tertekan
- Tertekan akibat selalu dituntut orang tua
- Tertekan akibat dari menolak harapan orang tua
TT/W1/408-411 AJ/W2/1073-1077 AJ/W1/709-715
4 Self-efficacy
rendah
-Inferior dalam mewujudkan harapan orang tua
TT/W1/738-743 AJ/W1/904-910
-Berkurangnya keyakinan mewujudkan harapan diri
AA/W2/1127-1134
Tabel 7
Tema Utama: Strategi Koping terhadap Dampak Harapan Orang Tua
No Tema Utama Fakta Yang Tampak Nomor Verbatim
1 Win-win
solution
- Kedua pihak memperoleh keuntungan
AA/W2/1204-1216 AJ/W1/375-380 2 Represi -Tidur menenangkan, namun tidak
menyelesaikan masalah -Membiarkan masalah AA/W1/623-627 AA/W2/513-517 AJ/W2/1151-1155 3 Bercerita pada orang lain
- Merasa memiliki teman senasib karena kesamaan pengalaman
- Memperoleh ketenangan dan solusi
TT/W2/469-479 TT/W2/485-490 AA/W2/1238-1242 AJ/W1/732-743 TT/W2/528-531