• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.2 Profil Informan

4.2.1 Informan Kunci

Dalam penelitian ini terdapat beberapa informan yang dapat memberikan data dan informasi yang berkenaan dengan Desa Tembung pada masa yang dulu dan sekarang. Kriteria dari informan yang digunakan dalam penelitian adalah seberapa lama informan tersebut tinggal dan menetap di desa ini serta memiliki pengetahuan secara rinci mengenai seluk beluk perubahan sosial yang terjadi di Desa Tembung ini.

4.2.1.1 Bapak Fahrizal Lubis

Informan pertama yang berhasil diwawancarai adalah Bapak Fahrizal Lubis. Bapak Fahrizal telah berumur 55 tahun dan telah lama tinggal di Desa Tembung dan menganut agama Islam. Bapak ini memiliki seorang istri dan pekerjaannya sehari-harinya petugas keamanan lalu lintas di Desa Tembung sekaligus pedagang rokok. Namun, beliau dapat memberikan informasi yang dibutuhkan mengenai keadaan Desa Tembung dari dahulu hingga sekarang.

Sejak lahir, Bapak Fahrizal sudah tinggal di Desa Tembung. Hal ini dikarenakan orang tuanya sejak dulu dan secara turun temurun telah menetap di desa ini dan bekerja sebagai petani dan penggalas buah yang dikarenakan pada masa itu, sebagian besar lahan yang ada di desa masih terdiri dari hutan dan lahan pertanian serta penduduknya masih sangat sedikit. Begitu juga halnya dengan orang tuanya, pekerjaan sehari-harinya adalah petani dan penggalas buah. Namun berbeda halnya dengan Bapak Fahrizal, sebenarnya ia ingin melanjutkan

pekerjaan orang tuanya, namun dikarenakan tanah yang mereka miliki dan digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan buah telah dijual kepada orang Medan, sehingga ia kehilangan mata pencaharian utamanya dan tidak dapat lagi meneruskan usaha orang tuanya.

Kemudian ia mencoba pekerjaan baru dengan bekerja sebagai pedagang dan buruh di Kota Medan. Namun, sekarang ini beliau bekerja sebagai pedagang rokok dan petugas pengatur lalu lintas di salah satu persimpangan yang ada di Desa Tembung yang selalu mengalami kemacetan setiap harinya, baik pagi, siang, sore dan bahkan malam hari. Hal ini dikarenakan Desa Tembung telah berkembang menjadi salah satu jalur perhubungan antara desa-desa yang ada di sekitarnya dengan Kota Medan. Sehingga memungkinkan informasi-informasi baru yang dibawa oleh orang-orang yang melintasinya memberikan perubahan pada Desa Tembung ini.

Menurutnya, keadaan Desa Tembung pada saat ini dengan masa yang lalu telah mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan bertambah banyaknya jumlah penduduk yang menetap di desa ini, masyarakat yang semakin modern dan mulai banyaknya pembangunan yang terjadi.

4.2.1.2. Bapak Muhammad Zubir

Informan kedua yang berhasil diwawancarai adalah seorang Bapak yang bernama Muhammad Zubir. Pekerjaannya adalah seorang wirausaha dan telah berusia 42 tahun. Bapak ini juga telah lama tinggal di Desa Tembung, juga sejak saat ia lahir. Sejak kecil ia bekerja sebagai penggalas buah membantu orang tuanya. Mereka hanya memiliki sedikit lahan perkebunan untuk diusahakan sebagai penopang ekonomi. Dikarenakan kebutuhan sosial dan ekonomi yang mulai meningkat, maka beliau memutuskan untuk mencari pekerjaan ke Kota Medan. Sepulangnya dari sana, setelah memiliki cukup modal, ia pun mendirikan sebuah warung yang kemudian dikelolanya.

Menurutnya, dahulu penduduk desa masih sangat sedikit dan budaya desa pada masa itu masih sangat tradisional serta nilai-nilai kekeluargaan yang masih dipegang teguh, berbeda dengan sekarang ini, penduduk mulai padat, budaya masyarakat Desa Tembung menurutnya sudah mulai modern dan nilai kekeluargaan di masyarakat mulai kurang dihargai oleh sebagian masyarakat. Dan sekarang ini hampir semua penduduk desa yang sudah meninggalkan pekerjaannya sebagai petani dan penggalas buah, mereka sudah beralih pekerjaan menjadi buruh, pekerja, dan pedagang dengan harapan memperoleh penghasilan yang lebih besar dari hanya sekedar menjadi petani dan penggalas buah.

4.2.1.3 Bapak Zulfikar

Informan ketiga yang diwawancarai adalah Bapak Zulfikar. Beliau telah berusia 35 tahun dan juga telah lama berdomisili di Desa Tembung, sekitar 18 tahun yang lalu. Beliau ini menganut agama Islam dan telah menikah. Saat ini, Bapak Zulfikar bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Kota Medan. Ia memutuskan bekerja di Kota Medan dikarenakan pada saat itu mata pencaharian yang ada di Desa Tembung hanyalah bertani dan menggalas buah, sementara, ia tidak memiliki lahan untuk diolah. Selain itu, ia telah memiliki modal pendidikan yang cukup untuk bekerja di kota.

Mengenai perubahan yang terjadi di Desa Tembung, menurutnya, saat ini telah terjadi banyak perubahan di Desa Tembung, dimulai dari banyaknya orang yang pindah ke desa ini dan hampir sebagian besar penduduknya bekerja di Medan dan budaya desa yang telah berubah menjadi lebih modern karena mendapatkan pengaruh dari budaya yang ada di Kota Medan.

4.2.1.4 Ibu Misnah

Informan keempat yang diwawancarai adalah Ibu Misnah. Ibu Misnah beragama Islam dan telah menetap di Desa Tembung sekitar 25 tahun yang lalu bersama suaminya yang pindah ke Desa Tembung. Mereka pindah ke Desa Tembung dari Aceh dikarenakan suaminya dipindahkan tugas ke Medan dan mereka menetap di Desa Tembung. Namun beberapa tahun lalu, suaminya meninggal dan sekarang bekerja sebagai pedagang yang meneruskan usaha kedai suaminya. Menurut Ibu Misnah, pada saat ia pindah pertama kali di Desa Tembung, desa ini masih sangat sepi dan penduduknya masih sangat sedikit.

Masyarakat desa sebagian besar bekerja sebagai petani dan penggalas buah. Namun pada sekarang ini, orang-orang desa sudah banyak yang bekerja di Medan dan masyarakat desa sudah mulai modern. Hal ini mungkin dikarenakan banyaknya penduduk Kota Medan yang pindah ke desa dan membawa informasi- informasi baru yang mempengaruhi masyarakat desa.

4.2.1.5 Ibu Halimah Harahap

Informan kelima yang diwawancarai adalah Ibu Halimah Harahap. Ibu ini telah berusia 36 tahun dan beragama Islam. Ia tinggal bersama suaminya dan ikut membantu suaminya berjualan. Ibu ini pindah ke Desa Tembung pertama kali ikut bersama orang tuanya sekitar 21 tahun yang lalu dan akhirnya menikah dengan warga Tembung juga. Menurutnya, pada saat pertama kali ia pindah ke desa ini, penduduknya masih sangat sedikit dan ia bekerja membantu orang tuanya menggalas buah. Namun lama kelamaan banyak juga penduduk dari Desa Tembung maupun desa sekitarnya yang mulai bekerja di Kota Medan sebagai buruh pabrik dan pekerja, begitu juga halnya dengan Ibu Halimah. Mereka masih menggunakan sepeda jonder (sepeda janda) sebagai alat transportasinya, sehingga Desa Tembung pun terkenal pada saat itu dengan banyaknya jumlah orang yang berbondong-bondong bekerja ke Kota Medan dengan menaiki sepeda jonder. Berbeda halnya dengan sekarang ini, menurut Ibu Halimah, ciri khas tersebut sudah mulai hilang. Penduduk desa sudah tidak mau lagi menggunakan sepeda jonder sebagai alat transportasi, mereka lebih memilih menggunakan sepeda motor (kereta) sebagai alat transportasi daripada sepeda jonder dikarenakan lebih hemat tenaga, waktu dan memperluas daya jelajah.

4.2.2. Informan Biasa (Masyarakat Desa Tembung yang terkena dampak

Dokumen terkait