BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Profil Informan
4.3.2 Latar Belakang Terjadinya Perubahan Sosial
4.3.4.1 Perubahan yang Terjadi pada Masyarakat Desa
Perkembangan zaman memaksa pola dan struktur yang lama harus berubah karena tidak lagi dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kesejahteraan masyarakatnya dan tidak lagi seimbang dengan kemajuan zaman sehingga diperlukan suatu perubahan sosial. Karena perubahan sosial adalah inti dari perkembangan dan pembangunan masyarakat. Konsekuensi dari pengadopsian inovasi baru inilah yang menyebabkan perubahan sosial dapat terjadi di Desa Tembung.
Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan informan:
“Orang Tembung udah modern, apa lagi yang udah kerja di Medan, dari gaya dan tingkahnya mirip orang kota” (Bapak Zulfikar)
“Pekerjaan orang desa tidak lagi berladang dan berkebun, banyak yang bekerja jadi buruh, pekerja, pedagang ada juga yang kerja jadi pegawai negri” (Ibu Misnah)
“Orang desa jadi lebih modern, dulu banyak yang naik sepeda jonder untuk pergi kerja, sekarang pada naik kereta, sampai-sampai selalu macet jalan di sini kalau pagi dan sore”(Ibu Halimah Harahap)
Perubahan sosial yang terjadi di Desa Tembung ini jika menggunakan perspektif Wallarstein (dikutip dari penelitian Rahkmat Hidayat dalam Prosiding Seminar PPD, 2006) mengalami apa yang disebut pheriperalization, yaitu suatu transformasi lebih lanjut kehidupan sehari-hari penduduk setempat yang bersifat baru seperti pola pikir, cara berprilaku, perubahan institusi dan pemukiman penduduk.
Perubahan sosial yang terjadi di Desa Tembung ini diawali dari terjadinya perubahan mata pencaharian masyarakat dari dulunya bercorak agraris yang mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan sebagai penunjang ekonomi beralih menjadi berorientasi pada bidang jasa dan perdagangan dengan bekerja di Medan ataupun di Desa Tembung itu sendiri sebagai sumber ekomoni baru di luar pertanian (off farm). Dimana proses ini dilakukan melalui suatu proses urbanisasi ke Kota Medan.
Perlu diketahui, bahwa urbanisasi adalah inovasi baru utama yang diadopsi oleh masyarakat Desa Tembung. Akibat urbanisasi inilah yang menyebabkan perubahan prilaku sosial pada diri individu untuk lebih mengembangkan potensi dirinya agar status dan perannya di dalam masyarakat menjadi lebih dihargai dan dihormati serta membuat pola pikir mereka menjadi lebih rasional dan modern. Dan juga terjadi perubahan budaya di Desa Tembung seperti tumbuhnya pentingnya arti pendidikan, peningkatan pengetahuan masyarakat desa, penggunaan barang-barang berteknologi modern, perubahan gaya hidup, peningkatan konsumsi masyarakat pada barang mewah dan inovasi lain yang memungkinkan dapat dilaksanakannya usaha untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan budaya.
Pengadopsian ide dan inovasi baru ini memiliki konsekuensi dengan terjadinya perubahan sosial pada Desa Tembung.. Dan secara tidak langsung mempengaruhi kegiatan sosial dan ekonomi yang ada pada Desa Tembung itu sendiri pada saat mereka kembali ke Desa Tembung. Hal ini dikarenakan, orang- orang desa yang melakukan urbanisasi ke Kota Medan, setelah pekerjaannya di Kota Medan selesai, maka ia akan kembali lagi ke desanya. Intinya, walaupun bekerja di Medan, ia tetap tinggal di Desa Tembung.
Terjadinya perubahan individu ini, menyebabkan struktur pada Desa Tembung juga harus ikut berubah. Diperlukan sebuah struktur dan lembaga baru yang lebih kompleks untuk menggantikan struktur dan pola masyarakat desa yang sederhana yang tidak lagi dapat digunakan untuk kehidupan anggota masyarakatnya yang telah berubah. Masuknya penduduk pendatang yang umumnya berasal dari Kota Medan yang juga ikut berperan pada perubahan sosial yang terjadi di Desa Tembung ini membuat jumlah penduduk desa menjadi bertambah sehingga memerlukan pengembangan pada lembaga-lembaga sosial dan pembangunan masyarakat serta infrastruktur yang ada di desa sebagai penunjang perubahan sosial anggota masyarakatnya yang telah terjadi.
Menurut hasil wawancara dengan informan, bahwa Desa Tembung sudah semakin kehilangan ciri khasnya sebagai desa. Hal ini dikarenakan inovasi- inovasi yang berasal dari kota yang mulai diadopsi anggota masyarakatnya. Selain itu, adanya kebijakan pemerintah Kota Medan untuk melakukan pemerataan pembangunan, pemerataan penduduk dan pengembangan wilayah mempercepat proses perubahan sosial di Desa Tembung.
Namanya saja Desa, tapi ciri-cirinya sudah tidak desa lagi, tapi sudah seperti kota, sudah lebih maju (Bapak Muhammad Rivai)
Pembangunan mulai dilakukan di Desa Tembung ini (Bapak Muhammad Zubir)
Lebih lanjut, karena perubahan sosial yang telah terjadi pada sebagian besar anggota masyarakatnya, perubahan pada lembaga-lembaga sosial ekonomi dan pembangunan masyarakat serta infrastruktur juga terjadi. Dimana perubahan ini menuju pada suatu lembaga sosial yang lebih kompleks. Hal ini tentu dapat membuat Desa Tembung semakin mudah dalam memenuhi kebutuhan anggota masyarakatnya sehingga desa ini dapat menjadi semakin berkembang.
4.3.4.2 Pusat Kegiatan Sosial dan Ekonomi
Keadaan Desa Tembung saat ini dengan beberapa tahun yang lalu tentu sangat jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi dan komunikasi yang dilakukan dengan masyarakat luar khususnya masyarakat Kota Medan sehingga terjadi pertukaran informasi-informasi baru yang berguna antara kedua masyarakat tersebut.
Seperti telah dijabarkan diatas, pertukaran informasi ini menyebabkan terjadinya arus urbanisasi oleh penduduk Desa Tembung ke Kota Medan dan migrasi penduduk Kota Medan ke Desa Tembung untuk menemukan tempat pemukiman baru dan membuka usaha di Desa Tembung ini. Sebagaimana dari hasil penuturan informan, sebagian penduduk Kota Medan pindah ke Desa Tembung untuk mencari tempat pemukiman yang baru dikarenakan Kota Medan yang tidak nyaman lagi untuk dijadikan tempat tinggal. Selain itu, harga tanah
yang masih cukup terjangkau dibandingkan dengan harga tanah di Kota Medan. Dijadikannya Desa Tembung sebagai tempat pemukiman baru tidak dapat terlepas dari lokasi desa yang tidak begitu jauh dengan Kota Medan sebagai pusat ekonomi. Sehingga desa ini dapat dijadikan alternatif pemukiman penduduk untuk menopang penduduk Kota Medan yang semakin meningkat.
Fenomena ini dapat dilihat pada Desa Tembung saat ini. Dimana mulai dibangunnya tempat pemukiman baru seperti perumahan yang berdesain modern, rumah-rumah petak untuk kontrakan dan bahkan rumah mewah yang mulai mengisi tanah-tanah yang dulunya kosong dan dijadikan lahan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat Desa Tembung.
Semakin banyak jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah maka akan semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga hal ini dijadikan peluang usaha untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal oleh sebagian orang untuk membuka usaha di Desa Tembung ini seperti menjual kebutuhan rumah tangga, sembako, makanan, hiburan, warnet bahkan sampai dibukanya beberapa showroom sepeda motor dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pada masyarakat desa telah terjadi perubahan prilaku sosialnya seperti meningkatnya konsumsi masyarakat desa terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain.