• Tidak ada hasil yang ditemukan

(%) Yolana dan Martani

2.1.4. Informasi akuntansi yang mempengaruhi underpricing

(Warren et all. 2006) menjelaskan bahwa secara umum akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak- pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan. Akuntansi adalah “bahasa perusahaan” karena melalui akuntansilah informasi dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Hal ini menunjukkan bahwa informasi menjadi suatu bagian dari proses akuntansi. Berdasarkan definisi akuntansi tersebut dapat diketahui bahwa informasi akuntansi yang dimaksud adalah informasi yang diperoleh dari aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan itu sendiri. Informasi tersebut disusun dalam bentuk laporan akuntansi yang disebut laporan keuangan.

2.1.4.1 Rate of return on total asset (ROA)

Rentabilitas ekonomi adalah rasio perbandingan antara keuntungan sebelum bunga dan pajak dengan seluruh aktiva atau kekayaan perusahaan (Rahardjo, 2009). Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dengan seluruh modal yang ada di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Perhitungan ROA dirumuskan sebagai berikut:

ROA = Laba Bersih Total Aktiva

Dimana: ROA : Rentabilitas ekonomi (Rate of Return on Total Asset) Laba bersih : Laba sebelum bunga dan pajak

Kaitannya dengan IPO, rentabilitas perusahaan yang tinggi akan mengurangi ketidakpastian IPO sehingga mengurangi tingkat underpricing

(Wijayanto, 2009). Return on Assets merupakan proxy dari rentabilitas perusahaan rmengenai efektifitas operasional perusahaan. Rentabilitas perusahaan yang tinggi akan meyakinkan investor akan prospek perusahaan di masa mendatang, hal ini akan mengurangi tingkat ketidakpastian, namun sebaliknya jika rentabilitas perusahaan sangat rendah maka investor akan cenderung meminta kompensasi dari harga saham yang ditawarkan perusahaan sebagai kompensasi atas ketidakpastian yang ditanggung investor, sehingga pengaruh rentabilitas terhadap tingkat underpricing adalah negatif. Prestasi keuangan, khususnya tingkat keuntungan, memegang peranan penting dalam penilaian prestasi usaha perusahaan dan sering digunakan sebagai dasar dalam keputusan investasi, khususnya dalam pembelian saham, sehingga semakin besar ROA semakin berkurang tingkat underpricing.

2.1.4.2. Penghasilan per lembar saham/Earning per share (EPS)

Penghasilan per lembar saham menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memberikan imbalan pada setiap lembar saham biasa (Rahardjo, 2009). Informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dapat membantu investor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang baik di masa mendatang. Pada umumnya pemegang saham dan calon investor akan tertarik pada EPS, karena EPS menggambarkan jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar saham dan EPS yang besar menjadi indikator keberhasilan dari emiten.

EPS mencerminkan jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar saham perusahaan. Hasil empiris menunjukkan bahwa semakin tinggi EPS, semakin tinggi pula harga saham. Perhitungan EPS dirumuskan sebagai berikut (Rahardjo, 2009):

EPS = Laba Bersih

Jumlah Lembar Saham

Earnings per Share atau laba per saham adalah rasio yang mengukur pendapatan bersih perusahaan pada suatu periode dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Rasio ini digunakan untuk menganalisis risiko dan membandingkan pendapatan per lembar saham perusahaan dengan perusahaan lain. Ketika investor mengevaluasi kinerja dari perusahaan, investor tidak cukup hanya mengetahui apakah pendapatan suatu perusahaan mengalami kenaikan atau penurunan, investor juga perlu mencermati bagaimana perubahan pendapatan berakibat terhadap investasinya.

Rasio EPS yang semakin meningkat memberikan indikasi bahwa semakin besar keuntungan yang diperoleh perlembar saham, dengan asumsi outstanding shares tetap atau semakin besar kemungkinan perusahaan dalam memperoleh laba sehingga kemungkinan mambayarkan deviden juga semakin besar ataupun diinvestasikan lagi (retained earning), maka diharapkan akan memperoleh hasil yang semakin besar dimasa mendatang. Harapan tersebut mengakibatkan meningkatnya EPS akan meningkatkan pendapatan saham. Profitabilitas yang tinggi suatu perusahaan mengurangi ketidakpastian bagi investor sehingga menurunkan tingkat underpricing (Kim et all., dalam Wijayanto 2009).Variabel EPS merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan mengenai keuntungan

yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu, dengan demikian diduga bahwa semakin besar EPS semakin berkurang tingkat underpricing.

2.1.4.3. Debt Equity Ratio (DER)

Debt Equity Ratio menggambarkan tingkat risiko dari perusahaan yang diukur dengan membandingkan total kewajiban perusahaan dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi tingkat leverage suatu perusahaan, semakin tinggi pula tingkat risiko yang dihadapi perusahaan yang berarti semakin tinggi tingkat leverage perusahaan semakin tinggi pula faktor ketidakpastian akan perusahaan sehingga berpengaruh negatif terhadap initial return. Tingkat leverage menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya dengan modal yang dimilikinya (Rahardjo, 2009).

DER sangat berkaitan erat dengan penciptaan suatu struktur kebijakan di mana selanjutnya dapat mempengaruhi struktur kebijakan dan mempengaruhi kemampuan suatu perusahaan untuk membuat berbagai pilihan strategi (Jensen, 1986 dalam, Wijayanto 2009). Struktur modal yang tepat adalah sebagai suatu keputusan kritis untukberbagai organisasi bisnis. Selain keputusan tersebutadalah penting karena adanya kebutuhan untuk memaksimumkan keuntungan pada suatu kemampuan perusahaan untuk dapat berjalan dengan lingkungan bersaingnya. Keputusan pendanaan berkaitan dengan sumber dana, baik yang berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) perusahaan. Sumber dana internal berasal dari dana yang terkumpul dari laba yang ditahan yang berasal dari hasil kegiatan perusahaan. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik atau peserta yang merupakan komponen modal sendiri yang dapat diperoleh melalui

IPO dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal pinjaman atau hutang.

Perusahaan yang memiliki tingkat leverage tinggi akan lebih cenderung menggunakan dana hasil IPO-nya untuk membayar hutangnya daripada untuk kegiatan investasi guna melakukan ekspansi baru. (Daljono dalam, Wijayanto 2009) menyatakan bahwa apabila rasio leverage tinggi, menunjukkan risiko suatu perusahaan tinggi pula. Para investor dalam melakukan keputusan investasi tentu akan mempertimbangkan informasi tingkat leverage. Tingkat ketidakpastiannya akan semakin tinggi dan menyebabkan semakin tingginya tingkat underpricing, sehingga pengaruh tingkat leverage terhadap tingkat underpricing adalah positif. Variabel tingkat leverage apat diukur dengan rumus:

DER = TD

TSE

Dimana : DER : Rasio Hutang atas Aktiva / Debt to Equity Ratio

TD : Jumlah Hutang / Total Debt

TSE : Jumlah aktiva / Total Shareholder’s Equity

Tingkat Leverage yang tinggi menunjukkan risiko keuangan atau risiko kegagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena semakin tinggi financial leverage suatu perusahaan, maka initial return semakin besar (Kim et all., dalam Wijayanto (2009), dimana variabel

leverage diukur dengan Debt Equity Ratio.

2.1.4.4. Ukuran Perusahaan (SIZE)

Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidakpastian saham. Perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal masyarakat sehingga informasi mengenai prospek perusahaan berskala besar lebih mudah

diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Tingkat ketidakpastian yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan perusahaan emiten dapat diperkecil apabila informasi yang diperolehnya banyak. Tingkat ketidakpastian perusahaan berskala besar pada umumnya rendah karena dengan skala yang tinggi perusahaan cenderung tidak dipengaruhi pasar, sebaliknya dapat mewarnai dan mempengaruhi keadaan pasar secara keseluruhan.

Keadaan ini dapat dinyatakan sebagai kecilnya tingkat resiko investai perusahaan berskala besar dalam jangka panjang. Sedangkan pada perusahaan berskala kecil tingkat ketidakpastian di masa yang akan datang besar, sehingga tingkat resiko investasinya lebih besar dalam jangka panjang (Nurhidayati & Indriantoro 1998). Dengan rendahnya tingkat ketidakpastian perusahaan berskala besar maka akan menurunkan tingkat underpricing dan kemungkinan initial return yang akan diterima investor akan semakin rendah oleh karena itu, diduga semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin kecil underpricing. Menurut (Yolana & Martani 2005) menyatakan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing yang dihasilkan dimana ukuran perusahaan diukur dengan total aktiva perusahaan sebelum melakukan IPO.

Dokumen terkait