• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inhalasi akut Gas Toksik

Dalam dokumen Standar Pelayanan Medik Paru (Halaman 34-39)

Gas toksik atau gas beracun merupakan suatu noksa bagi paru, karena merupakan bahan yang dapat menyebabkan perubahan struktural, fungsional, maupun gabungan keduanya secara bersama-sama.

Selain mengenai paru dapat pula mengenai organ lain sekaligus. Tetapi dapat juga hanya mengenai organ di luar paru, sedangkan paru tetap normal.

PATOFISIOLOGI

Reaksi paru terhadap paparan gas toksik dipengaruhi oleh : - faktor toksikan

sifat fisik dan kimia gas : bau gas, kelarutan dalam air intensitas ( konsentrasi / durasi ) paparan

- faktor host

parameter ventilasi

status kesehatan sebelumnya

Klasifikasi kelainan paru pada paparan gas toksik

Golongan gas Kelainan struktural Kelainan fungsional Organ lain I Tidak ada Tidak ada Ada

II Ada Ada Tidak ada III Ada Ada Ada

Kelainan pada saluran napas berupa kelainan struktural dari yang tidak berarti sampai dengan kelainan yang memberikan perubahan fungsional, seperti faringitis, laringitis ringan, sedang, maupun berat, trakeitis, trakeobronkitis, bronkiolitis, bronkiolitis obliterans.

Kelainan fungsional dimulai dari yang tidak ada sama sekali hingga berupa kelainan obstruksi ringan sampai berat. Kelainan ini dapat disertai hipersekresi kelenjar mukosa dan hipereaktiviti yang dapat menimbulkan bronkospasme. Kelainan yang ditimbulkan dapat mengenai saluran napas atau parenkim paru, dapat pula pada seluruh organ paru. Klasifikasi lain I. Toksikan respirasi A. Bahan tunggal : 1. asfiksian : - sederhana - kimia :

yang menurunkan kapasitas angkut O2 (CO, H2S, oksida nitrogen) yang menghambat penggunaan O2 jaringan ( HCN, H2S,

acrylonitrile) 2. iritan

-gas dengan solubiliti tinggi (amonia, SO2, formaldehid, klorin (intermediet)) -gas dengan solubiliti rendah (oksida nitrogen, fosgen, ozon)

SPM PARU 2006 44

B. Bahan campuran : inhalasi asap (smoke), dll II.Toksikan sistemik

A. Sistem saraf B. Sistem lain

GEJALA KLINIS / KELUHAN

Secara umum keluhan atau gejala yang timbul tergantung pada jenis gas :

Gas toksik golongan I (CO, HCN, H2S, CH3Cl, N2, CO2, O2)

Paru hanya sebagai pintu masuk karena itu tidak didapatkan kelainan struktural

maupun fungsional. Sedangkan efek toksiknya sendiri tampak pada organ lain, misalnya hipoksia pada otak yang disertai konvulsi dan kehilangan kesadaran.

Kecelakaan dengan gas karbon monoksida dalam industri menduduki tempat teratas. Kejadian lain adalah percobaan bunuh diri. Gas ini sama sekali tidak berbau. Kesadaran penderita menghilang, terjadi hipoksia karena meningkatnya ikatan Hb-CO.

Hal yang sama dapat terjadi pada keracunan dengan gas HCN maupun gas H2S. Kecelakaan ini sering dijumpai di daerah gunung berapi, dan lebih berbahaya lagi bila ada keletihan olfatorik, karena korban tidak menyadari adanya bahaya. Kelompok gas ini juga disebut gas asfiksian kimiawi, karena dalam jumlah relatif sangat sedikit dapat menimbulkan bahaya maupun kematian. Sedangkan pada paparan akut dalam jumlah

besar, korban dapat langsung kehilangan kesadaran dan meninggal.

Gas toksik golongan II

- gas yang larut dalam air (NH3, HCHO, SO2)

Gas ini mudah dikenali, bau tajam dan menyengat, sangat iritatif. Jarang terjadi kelainan pada paru karena orang cepat menghindar. Kelainan dapat terjadi pada kulit muka, tangan dan bagian badan yang tidak terlindung, berupa luka bakar, iritasi pada konjungtiva maupun saluran napas bagian atas. Kelainan pada mata dapat berakibat dengan kebutaan.

Kelainan pada saluran napas dapat berupa faringitis, laringitis ringan, sedang maupun berat, trakeitis, trakeobronkitis maupun bronkiolitis/bronkiolitis obliterans.

Kelainan fungsional berupa obstruksi ringan sampai berat, dengan hipersekresi mukosa bronkus. Pada hipereaktiviti bronkus, dapat terjadi bronkospasme menimbulkan serangan seperti asma. Keluhan batuk-batuk, dapat disertai sesak napas, napas berbunyi maupun dada terasa sakit atau panas, adakalanya terasa seperti tercekik (edema glotis). Paparan dalam jumlah besar akan menimbulkan reaksi akut edema paru. Kelainan ini dengan mudah dan cepat dikenali sehingga tindakan pertolongan pertama dapat diberikan dengan segera.

SPM PARU 2006 45

Gas toksik golongan III (CH3Br, CH3Cl, S(CH2-CH2Cl)2

Kelainan yang ditimbulkan selain banyak yang mirip atau sama dengan gas toksik golongan II, disertai pula dengan perubahan di tempat lain atau organ lain. Kelainan ini kebanyakan bersifat fatal oleh karena terjadi kegagalan ganda beberapa organ sekaligus. Selain dalam industri, beberapa dari gas golongan ini juga dipergunakan dalam

peperangan oleh karena mempunyai kemampuan membunuh lawan dalam jumlah besar. Pada faal paru sering dijumpai dyspneu d’effort dan cacat seumur hidup. Banyak

dijumpai dalam industri kimia sebagai bahan baku, produk antara, produk sampingan maupun sebagai bahan pelarut.

Gas asfiksian sederhana (simple asphyxiant gases) merupakan gas yang dalam keadaan normal (suhu 250C dan 1 atmosfir) tidak berbahaya bagi mahluk hidup dan manusia, namun dalam konsentrasi tinggi dan tekanan hiperbarik menimbulkan bahaya, karena gas ini akan mendesak atau menurunkan konsentrasi O2 dalam udara pernapasan. Contoh gas ini adalah gas He, N2, CO2 (kecelakaan pada penyelaman). Juga terjadi apabila 100% O2

1 ATA dihirup selama 24 jam dan dalam 6 jam sudah dapat terjadi kerusakan tersebut apabila tekanan 2 ATA. Kelainan ini dikenal sebagai efek Lorraine-Smith, reaksi awal edema paru, mikroatelektasis, dan mikrohemoragi pada tahap sedang dan penyulit berupa fibrosis paru. Juga dapat terjadi fibrosis retrolental pada mata.

DIAGNOSIS

Diagnosis didasarkan adanya kelainan yang sesuai dengan kelainan yang disebabkan gas ditambah dengan riwayat adanya kemungkinan inhalasi dengan gas tertentu.

DIAGNOSIS BANDING

Perlu dibedakan antara kelainan struktural dan fungsional yang disebabkan oleh inhalasi gas dengan kelainan yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri dll.

PENATALAKSANAAN

1. Pencegahan 2. Pengobatan

1. Pencegahan

1.1. Pencegahan primer

Untuk calon karyawan, menghindari reaksi fatal yang mungkin terjadi karena paparan gas toksik terutama pada orang yang mempunyai kelainan paru atau faal paru yang sudah marginal, dan organ lain yang juga peka terhadap gas toksik tersebut.

1.2. Pencegahan sekunder

Dilakukan terhadap karyawan yang sudah bekerja serta pengendalian kadar gas toksik di lingkungan kerja, dengan cara :

SPM PARU 2006 46

- pemeriksaan berkala secara teratur, organ paru dan organ lain yang juga menjadi sasaran kelainan gas toksik

- kepatuhan pemakaian alat pelindung

- selalu ada pendamping atau orang lain yang berada di luar

- membiasakan untuk mandi setelah melakukan pekerjaan, mencuci tangan sebelum makan, minum maupun merokok.

- tersedia brosur mengenai tindakan pengamanan/pencegahan/pertolongan pertama yang harus segera dilakukan dan antidotum yang dapat segera diberikan

- terdapat prosedur tetap bagi tiap jenis pekerjaan yang menggunakan bahan B3, mulai dari semua tindak pencegahan sampai dengan prosedur

penggunaan bahan itu sendiri, cara penyediaan sampai dengan penyimpanan

- pengendalian konsentrasi gas noksa, mengacu pada harga NAB (Nilai Ambang Batas) dan harga NAS (Nilai Ambang Sesaat yang

diperkenankan), pengendalian sirkulasi udara lingkungan kerja dan adanya alat pembersih udara.

2. Pengobatan

2.1. di luar Rumah Sakit

a. tindakan terhadap keracunan akut

hampir semua gas toksik yang ada tidak ada antidotumnya. Minimal di semua tempat kerja yang menggunakan B3 (bahan berbahaya dan beracun) selalu tersedia tabung oksigen, ambu bag (alat respirator manual), obatobatan terutama antidotum serta stimulan pernapasan dan kardiovaskuler,

cairan, dan infus set. b. paparan akut

terhadap gas toksik yang tidak memberikan reaksi segera, dilakukan obserbasi untuk menghadang terjadinya reaksi paru atau SSP dan organ lain yang timbul kemudian serta membahayakan jiwa. Korban segera dipindahkan dari lingkungannya, mandi, dan ganti pakaian. Tidak

diperbolehkan pulang dahulu, berlaku bagi gas golongan II yang sulit larut dalam air maupun gas golognan III. Kelainan baru muncul 6-8 jam setelah paparan, bahkan ada yang baru muncul setelah 2-3 x 24 jam (gas fosfin & fosgen).

c. keracunan dengan keadaan klinis akut

data dasar, catat semua parameter vital

-pindahkan korban dari lingkungan kerjanya, basuh dan bersihkan dengan air bersih dan gantilah pakaiannya

-berikan oksigen dengan nasal prong atau masker apabila terdapat kesulitan bernapas (sianosis, hiperventilasi, hipoventilasi)

-pasang infus dan berikan antidotum bila ada, serta segera larikan ke RS

SPM PARU 2006 47

2.2. di Rumah Sakit a. Umum

- upayakan bahwa oksigen tetap diberikan dan oksigenasi berjalan dengan baik, harus adekuat dan dipantau gas darahnya. Apabila kadar O2 tidak juga membaik dipertimbangkan pemakaian respirator, penggunaan PEEP pada edema paru yang luas dan disertai renjatan (mencegah kebocoran plasma yang berlanjut)

- bila paparan dengan gas toksik tergolong gas dengan sifat iritasi yangkuat, berikan kortikosteroid intravena, yang terbaik adalah hidrokortison dalam larutan aqua : dosis berkisar antara 200-400 mg/ 6-8 jam

- kalau klinis dijumpai tanda-tanda bronkospasme, dapat diberikan bronkodilator golongan beta2 agonis : terbutaline sulfat 0,25 mg sc/iv atau yang lain. Kalau tidak ada sementara dapat diberikan larutan adrenalin 1/1000 0,3-0,5 ml sc. - antibiotika terutama dari golongan penisilin, makrolid maupun sefalosporin apabila dalam pengamatan dicurigai ada infeksi sekunder. Pada kehilangan kesadaran, waspadai adanya pneumonia aspirasi (vide terapi pneumonia)

- cairan ringer laktat, perlu diberikan pada penderita yang jatuh ke dalam renjatan akibat adanya kebocoran di pembuluh darah kapiler paru (permeabilitas

meningkat). Pemberian plasma ekspander dapat pula dipertimbangkan dengan pemantauan yang baik terhadap kemungkinan terjadinya hipervolemia.

- pemantauan yang ketat dari waktu ke waktu semua fungsi organ vital baik kesadaran, tensi dan nadi, perfusi jaringan, frekuensi napas, refleks fisiologis, balans cairan dan elektrolit, disesuaikan dengan jenis gas noksa serta sifat kelainan yang ditimbulkan.

b. Khusus

Ditujukan pada gas toksik yang ada antidotumnya

- atropinisasi. Khusus untuk gas toksik dengan efek kolinergik seperti golongan organofosfat dan karbamat. (vide keracunan dengan organofosfat)

- amil nitrit atau Na-nitrit, Na-tiofulfat. Khusus bagi keracunan gas sianida atau senyawa sianida yang terdapat dalam makanan. (vide keracunan dengan sianida)

PENYULIT 1. Bronkitis kronis 2. Bronkiektasis 3. Fibrosis paru PROGNOSIS Jelek DAFTAR PUSTAKA

1. Delclos GL, Carson AI. Acute Gaseous Exposure. In: Occupational and

Environmental Respiratory Disease. Editors: Harber P, Schenker MB, Balmes JR. Mosby. 1996, pp.514-34

2. Parmeggiani L. Encyclopedia of Occupational Healths and Safety. ILO-United Nations International Labour Organization. Geneve, 1983.

SPM PARU 2006 48

13 ASMA KERJA

Dalam dokumen Standar Pelayanan Medik Paru (Halaman 34-39)

Dokumen terkait