• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Inovasi Proses 1 Pola integratif 128 85.3 Sangat kuat

2. kemitraan 105 70 Kuat

3. Sistem manajemen

usaha 118 78.6 Kuat

4. Sistem Organisasi 121 80.6 Kuat

5. Risiko 76 50.6 Cukup

6. Penggunaan input

luar 123 82 Sangat kuat

7. Pasca panen 108 72 Kuat

8. Orientasi sumber

daya lokal 129 86 Sangat kuat

D.Inovasi Pasar 1. Pelaku pemasaran 92 61.3 Kuat

2. Kontrol harga 92 61.3 Kuat

3. Harga diatas rata-

rata 89 59.3 Cukup

4. Pasar potensial 65 43.3 Cukup

*Keterangan: Jumlah skor ideal untuk skor tertinggi = 30 responden x 5= 150

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem pertanian terintegrasi yang diterapkan oleh Gapoktan Silih Asih mempunyai inovasi produk, inovasi proses, dan inovasi teknologi yang memiliki interpretasi sangat kuat dan telah mengarah pada sistem pertanian tekno ekologis. Hal ini ditunjukkan dengan indikator ciri pembentuk model pertanian tekno ekologis yaitu; keragaman, pola integratif, orientasi pemanfaatan sumber daya lokal, dan ramah lingkungan dengan indikator nilai inovasi lebih dari 81%. Berdasarkan tabel penilaian skor inovasi skala likert di atas dapat dipahami bahwa empat fakor pembentuk model pertanian tekno ekologis, yakni difersifikasi, ramah lingkungan, orientasi sumber daya lokal, dan pola integratif memiliki nilai persentase sebaran lebih dari 81% dengan interpretasi skor sangat kuat. Sedangkan faktor teknologi pengolahan hasil memiliki persentase pada kriteria interpretasi cukup dengan nilai

persentase sebesar 55.3%. Hal ini disebabkan teknologi pengolahan hasil yang ada dalam lingkungan gapoktan hanya terbatas pada pengolahan padi. Namun, sesuai dengan teori yang ada, teknologi pengolahan hasil bukan merupakan faktor utama dalam pembentukan model pertanian tekno ekologis, namun sebagai faktor pendukung. Sehingga dapat dikatakan sistem pertanian yang dilakukan oleh para petani desa Ciburuy pada intinya telah mulai mengembangan prinsip-prinsip pertanian tekno ekologis. Hal ini juga diperkuat dengan adanya ciri faktor lain yang dikembangkan dari turunan lima faktor utama pembentuk model terintegrasi berbasis pertanian tekno ekologis yang ditemukan selama penelitian (Lampiran 1). Dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem pertanian terintegrasi yang dilakukan oleh gapoktan Silih Asih memiliki inovasi produk, inovasi teknologi dan inovasi proses yang sangat kuat.

Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Inovasi Model Hubungan Faktor Inovasi dengan Tingkat Inovasi

Desa Ciburuy adalah salah desa di Kecamatan Cigombong yang melakukan usahatani berbasiskan pada sistem pertanian terintegrasi. Disebutkan sistem pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis dan bukan sistem pertanian terpadu, karena sistem pertanian yang dilakukan telah menerapkan prinsip ekologis dan pemanfaatan teknologi, serta prinsip-prinsip integrasi fungsional antar keragaman komoditas agribisnis yang diusahakannya. Gapoktan Silih Asih merupakan kelembagaan bagi petani yang memiliki peranan penting sebagai wadah untuk melatih, mengembangkan, dan menerapkan prinsip-prinsip inovasi. Inovasi yang dilakukan oleh petani yang terhimpun dalam Gapoktan Silih Asih diterapkan pada berbagai bidang sub sektor pertanian dan sub sistem agribisnis. Bidang inovasi yang dilakukan meliputi inovasi pada ragam komoditi agribisnis yang dibudidayakan, input produksi (baik berupa benih, pupuk, maupun pestisida), inovasi pada proses budidaya, inovasi pasca panen, serta inovasi pasar. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi inovasi pada sistem pertanian terintegrasi dan pelaksanaan tingkat inovasinya.

Tingkat Inovasi

Tingkat inovasi merupakan salah satu bentuk pengukuran terhadap praktik inovasi yang telah dilakukan. Penelitian ini menganalisi seberapa jauh tingkat inovasi yang dilakukan petani gapoktan Silih Asih. Tingkat inovasi yang dianalisis diukur melalui beberapa indikator yang mampu mencerminkan tingkat inovasi yang telah dilakukan petani, beberapa indikator tersebut diantaranya adalah sebaran ragam komoditi, penggunaan teknologi, perubahan produk hasil dari inovasi proses, perlakuan pasca panen, pemasaran, serta pengenalan hal baru atau tingkat kebaharuan inovasi.

Pada intinya indikator yang digunakan merupakan salah satu bentuk pengukuran terhadap incremental innovation yang telah dilakukan oleh petani, serta untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai radical innovation yang selama ini mungkin belum ditemukan oleh para petani pada umumnya. Sistem pertanian terintegrasi merupakan salah satu kegiatan agribisnis kreatif yang memiliki tingkat inovasi dan kreativitas terutama dalam bidang pertanian, oleh karena itu untuk mengetahui secara lebih mendalam tingkat inovasi yang telah

diaplikasikan oleh petani dibutuhkan beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inovasi pada agribisnis kreatif ini. Tingkat inovasi yang dilakukan pada model pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis pada umumnya dilakukan dengan berbasiskan pada peningkatan nilai tambah baik tujuannya untuk meningkatkan manfaat finansial maupun non finansial.

Sebaran keberagaman komoditi pertanian merupakan salah satu indikator tingkat inovasi. Indikator ini juga menjadi syarat utama bagi terpenuhinya sistem pertanian tekno ekologis yang memiliki basis keberagaman produk pertanian yakni dengan jumlah minimal lebih dari dua komoditi. Guna mengetahui kebaharuan inovasi produk pada jenis komoditi maka batasan inovasi yang dilakukan adalah selama dua sampai tiga tahun terakhir. Petani yang telah melakukan tingkat keberagaman atau difersifikasi produk menunjukkan tingkat inovasi yang lebih tinggi daripada petani lain. Pelaksanaan difersifikasi produk yang dilakukan oleh petani akan memberikan kontribusi bagi penambahan sumber pendapatan petani secara ekonomi, pemanfaatan pola integrasi, bio cycle yang menguntungkan, serta dapat menekan risiko usahatani yang dilakukan.

Gambar 7 Ragam integrasi usahatani komoditas sistem pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis

Pada Gambar 7 dapat dilihat sebaran pola integrasi pada keragaman komoditi pertanian terintegrasi yang dilakukan oleh petani pada Gapoktan Silih Asih. Sebaran tersebut menggambarkan terdapat lima pola integrasi pertanian yang dilakukan. Usahatani padi merupakan komoditi utama yang diusahakan oleh para petani. Pola usahatani yang diterapkan merupakan sistem pertanian terintegrasi yang bersinergi dengan sistem pertanian tekno ekologis. Pola monokultur padi yang diterapkan oleh petani Silih Asih menerapkan bio cycle yang memanfaatkan integrasi dengan komoditi yang dimiliki dan atau dilakukan oleh petani lain. Misalnya, bagi petani yang memiliki komoditi padi dapat melakukan kerjasama dengan petani jamur untuk melakukan pola integrasi bersama dalam pembuatan media jamur, petani domba juga dapat melakukan integrasi dengan para petani padi untuk melakukan kegiatan pembuatan pupuk

Pola Integrasi:

1.Sayur: diintegrasikan dengan padi, ikan, dan sapi

2.Domba: diintegrasikan dengan padi, ikan, dan palawija

3.Ikan, diintegrasikan dengan padi, sayur, dan domba

4.Jamur: diintegrasikan dengan padi dan palawija

5.Palawija: diintegrasikan dengan padi domba, dan sayur

kompos jerami yang dapat dijual atau digunakan oleh petani padi dengan sistem bagi hasil, sistem kerjasama juga dapat dilakukan oleh petani ikan dengan petani sayur yang melakukan prinsip integrasi dalam pemanfaatan limbah sayur yang digunakan untuk pakan ikan. Secara umum, keseluruhan pola ini merepresentasikan praktik inovasi produk pada pertanian tekno ekologis yang memiliki tujuh komoditi utama, dengan urutan paling banyak dibudidayakan petani adalah padi, sayur, domba, ikan, jamur, palawija, dan sapi.

Gambar 8 Jumlah sebaran ragam komoditas pertanian tekno ekologis Dapat dilihat pada Gambar 8 bahwa mayoritas para petani telah melakukan inovasi produk pada budidaya ragam komoditi (2-3) dua hingga tiga dan (4-5) empat hingga lima, yakni pada ragam komoditi yang dilakukan pada dua hingga tiga tahun terakhir. Jenis ragam komoditi yang paling banyak dilakukan oleh petani pada sistem pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis adalah padi, domba, ikan, dan sayur (kacang panjang, pakcoy, cabai, terung, kemanggi, lobak, bayam, kangkung, pare, seledri, daun bawang, sawi, mentimun, dan tomat). Sedangkan sebaran ragam pola komoditi yang masih jarang dilakukan oleh petani adalah pada keragaman 6-7 dengan jenis komoditi yang masih jarang diusahakan adalah sapi, palawija, dan jamur. Selain komoditas yang telah disebutkan, terdapat komoditas lain yang tidak dimasukkan dalam pola integrasi yakni pada jenis tanaman obat (alang-alang, jahe, lengkuas, kunyit, kunir) yang sering ditanam pada sela-sela lahan pertanian. Komoditas tanaman obat ini tidak dimasukkan dalam pola integrasi karena tanaman ini dianggap kurang berpotensi sebagai penambah nilai pendapatan bagi petani, atau digunakan kebutuhan keluarga saja. Terdapat beberapa jenis sayur baru yang diusahakan seperti budidaya jamur tiram putih berbasiskan sistem pertanian organik yang semakin banyak diusahakan petani. Hal ini menunjukkan bahwa petani Gapoktan Silih Asih cukup terbuka terhadap produk agribisnis berbasis organik yang semakin diminati oleh pasar. Budidaya jamur yang dilakukan oleh petani adalah dengan mengintegrasikan pemanfaatan limbah padi. Budidaya jamur yang dilakukan oleh petani sampai saat ini telah berjalan selama kurang lebih dua tahun delapan bulan.

Fokus utama dari produk yang diusahakan para petani pada umumnya adalah beras organik SAE (Sehat Aman Enak), namun semakin berkembangnya pola integrasi dan teknologi para petani mulai terbuka dan berkeinginan untuk menambah jenis komoditi pada pola integratif yang dibudidayakan dengan padi. Hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya sumber pembiayaan dari berbagai lembaga terkait, yakni koperasi Lisung Kiwari, pemberian modal dari LPS (Lembaga Pertanian Sehat) melalui P3S serta program GEMAR (Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis) untuk sektor peternakan domba. Permintaan akan

produk agribisnis berbasis sistem organik memberikan peluang bagi petani untuk mengambil peluang pasar yang lebih beragam dan mengusahakan beberapa pola integratif dengan sumber pembiayaan yang tersedia. Namun, tidak semua petani mau mencoba untuk lebih berinovasi dan hanya beberapa para petani inovatif yang berani dan mau mencoba untuk mengambil kesempatan membudidayakan pola integrasi padi dengan komoditi lain.

Indikator selanjutnya mengenai tingkat inovasi adalah perubahan hasil. Perubahan inovasi yang dilakukan sebagai hasil dari inovasi proses selama dua hingga tiga tahun terakhir berusaha melihat hasil dari inovasi proses yang dilakukan petani. Dibawah ini disajikan grafik mengenai pendapat petani terhadap perubahan inovasi yang telah dilakukan selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Gambar 9 Sebaran pendapat petani terhadap perubahan hasil keputusan inovasi Pada Gambar 9 di atas dapat dilihat bahwa sebaran perubahan hasil keputusan inovasi terdapat pada kisaran cukup banyak berubah dan banyak berubah. Secara umum mayoritas petani memiliki kecenderungan berpendapat bahwa inovasi proses yang dilakukan selama dua hingga tiga tahun terakhir telah memberikan kontribusi nyata terhadap penambahan hasil, berupa perubahan hasil yang lebih baik (baik pada sisi pendapatan yang diperoleh serta produk yang dihasilkannya). Hal ini terlihat pada responden yang menyatakan penilaian pada sebaran banyak berubah dengan jumlah responden sebanyak 11. Hasil dari pendapat positif dari mayoritas petani inilah yang menjadi penduga bahwa semakin banyak petani yang berani mencoba berbagai inovasi baru sebagai implikasi dari hasil positif yang didapatkan dari inovasi proses yang dilakukan sebelumnya.

Inovasi pasca panen yang dilakukan oleh petani merupakan indikator selanjutnya yang digunakan untuk mengukur tingkat inovasi. Perlakuan pasca panen menjadi indikator penting, karena pada dasarnya produk agribisnis merupakan produk yang memiliki sifat perishable atau mudah rusak, sehingga perlu perlakuan pasca panen khusus bagi setiap produk agribisnis yang berbeda.

Perlakuan pasca panen merupakan salah satu indikator tingkat inovasi yang telah dilakukan oleh petani. Hasil tabulasi Gambar 10 dapat dilihat bahwa perlakuan pasca panen yang dilakukan berada pada perlakuan packaging dan labeling sebanyak 16 responden, sedangkan sisanya berada pada sebaran tanpa perlakuan, grading, serta sortasi. Perlakuan pasca panen yang dilakukan oleh petani didasarkan pada alasan bahwa penawaran harga yang diberikan oleh pembeli lebih tinggi bila dilakukan melalui proses pasca panen lebih lanjut. Pendapat lain mengatakan bahwa alasan tidak dilakukan pasca panen adalah tidak adanya perubahan hasil yang signifikan dalam penerimaan usahatani. Hal ini juga dapat disebabkan alasan efisiensi waktu, tenaga, serta biaya yang dikeluarkan oleh petani bila melalui proses pasca panen terlebih dahulu. Pada umumnya perlakuan packaging dan labelling dilakukan oleh petani beras SAE yang tergabung dalam keanggotaan koperasi Lisung Kiwari. Sebaran tanpa perlakuan pasca panen rata- rata dilakukan peternak domba, sapi, jamur dan palawija, sedangkan penyortiran dan grading dilakukan oleh petani yang memiliki usahatani sayuran. Sayuran yang dibudidayakan oleh petani telah melakukan kerjasama dengan mitra LOJI (kawasan pemasaran produk organik) sehingga adanya proses sortir dan grading dilakukan untuk memberikan nilai jual petani menjadi nilai tambah yang menguntungkan.

Bentuk inovasi lain yang menjadi indikator penting adalah berupa inovasi pasar, dan inovasi nilai. Inovasi pasar merupakan salah satu bentuk inovasi yang dilakukan petani sebagai implikasi dari ketidakadilan pasar akan harga yang diberikan untuk petani, mengingat keseimbangan permintaan dan penawaran pada pasar agribisnis seringkali berfluktuasi dan tak jarang produk petani akan dibeli dengan harga murah. Petani yang memiliki karakter kewirausahaan yang inovatif akan mampu melakukan strategi inovasi pasar sesuai dengan komoditi dan permintaan pasar potensial. Ekspansi pasar merupakan salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan pemasaran, khususnya di bidang komoditas pertanian.

Gambar 11 Sebaran inovasi pasar yang dilakukan petani

Lebih dari 50 persen inovasi pasar yang dilakukan petani pada Gambar 11 menyiratkan bahwa kemitraan menduduki peringkat pertama dengan responden sebanyak 17 petani, diikuti oleh pasar lokal, pasar induk serta pengumpul desa. Sedangkan inovasi pasar paling tinggi pada tingkat ekspor belum dilakukan oleh para petani. Kemitraan menjadi inovasi bagi petani yang membudidayakan padi organik, serta bagi petani sayuran. Kemitraan memiliki peran yang cukup signifikan dalam memberikan kepastian harga. Melalui kemitraan, petani mendapatkan rata-rata nilai harga jual yang lebih menguntungkan daripada bila dijual di pasar maupun di tingkat pengumpul desa. Kemitraan juga sering menjadi

sumber media informasi bagi para petani, khususnya informasi mengenai pasar, permintaan, harga, serta teknologi pertanian. Padi SAE telah memiliki ceruk pasar dan harga yang relatif stabil bila dibandingkan dengan komoditas lain. Para pedagang pengumpul tidak dapat mempermainkan harga di tingkat petani karena keberadaan koperasi Lisung Kiwari yang telah memiliki ceruk pasar dan menampung hasil penjualan dari para petani dengan harga yang relatif konstan. Sedangkan sayuran organik yang dibudidayakan petani pada umumnya melakukan kemitraan dengan LOJI yang telah memiliki pasar tersendiri dengan harga rata-rata berkisar antara Rp5 000 sampai Rp7 000 untuk setiap kilogram jenis sayuran.

Sebagian petani yang membudidayakan komoditi seperti jamur, domba, sapi dan ikan melakukan inovasi pasarnya pada pengumpul tingkat desa, pasar lokal, maupun pasar induk. Peternakan domba merupakan budidaya yang sedang mengalami perkembangan baik pada tingkat budidaya atau on farm dan teknologi. Peternak domba tidak begitu mengalami kesulitan dalam melakukan inovasi pasar, karena pada umumnya para pembeli akan datang dengan sendiri ke desa Ciburuy untuk membeli domba tersebut. Sedangkan untuk budidaya jamur yang sedang dan telah berlangsung selama 2.8 tahun ini, melakukan inovasi pasar di tingkat pasar lokal dan pasar induk, dan pemasarannya telah mencapai daerah Jabodetabek khususnya di daerah Bekasi. Jamur merupakan inovasi keragaman produk baru di Gapoktan Silih Asih, sehingga masih sedikit petani yang mengusahakannya. Gapoktan telah memiliki empat kumbung jamur, namun untuk setiap hasil panen jamur akan terjual habis dan bahkan seringkali terjadi excess demand. Permintaan konsumen yang sangat tinggi serta prospek pasar untuk jamur masih sangat terbuka lebar, baik di tingkat pengumpul desa, pasar lokal, maupun pasar induk.

Pada umumnya, hasil pertanian organik yang dibudidayakan oleh petani Gapoktan Silih Asih masih memiliki pasar yang kompeten dengan ceruk pasar yang luas. Hal ini terbukti pada pasar padi sehat, jamur, domba dan sayur. Namun, masih terdapat beberapa komoditi yang belum mendapatkan pasar dengan baik, seperti pada pembenihan ikan mas dan ikan nila. Pembudidayaan pembenihan ikan ini masih mengalami beberapa kendala terkait dengan perubahan iklim yang tidak menentu yang menyebabkan kegagalan panen. Selain itu, kendala tersebut disebabkan masih sedikitnya pembeli yang menjadi pasar tetap serta tidak adanya kepastian harga bagi pembenihan ikan nila. Sedangkan bila dilihat dari risikonya, pembenihan ikan memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan usahatani agribisnis lainnya.

Tingkat inovasi selanjutnya diukur dengan indikator penggunaan teknologi. Penggunaan teknologi menjadi indikator penting dalam inovasi, karena penggunaan teknologi akan memberikan nilai tambah melalui implementasi teknologi yang dilakukan. Teknologi yang digunakan untuk mengukur tingkat pelaksanaan inovasi pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis ini meliputi berapa banyak jumlah inovasi teknologi yang telah dilakukan petani dalam usaha budidayanya. Indikator dalam ukuran pencapaian inovasi ini digunakan untuk melihat seberapa jauh para petani yang tergabung dalam sistem pertanian tekno ekologis memanfaatkan dan menggunakan inovasi teknologi yang ada.

Penilaian dalam penggunaan teknologi ini diukur dari jumlah inovasi yang telah diimplementasikan dalam sistem budidaya pertanian selama dua hingga tiga

tahun terakhir. Nilai skala satu diberikan bagi petani yang memanfaatkan satu teknologi, sedangkan nilai skala lima diberikan pada petani yang melakukan inovasi dengan jumlah inovasi teknologi sama dengan atau lebih besar dari lima teknologi. Teknologi yang dilakukan di tingkat petani meliputi teknologi pada sub sistem hulu, seperti penggunaan bibit unggul, pupuk, insektisida, serta sub sistem onfarm seperti pada pelaksanaan sistem dan metode budidaya, serta pemanfaatan teknologi pasca panen.

Gambar 12 Sebaran jumlah penggunaan teknologi yang dimanfaatkan Berdasarkan hasil dari sebaran jumlah penggunaan teknologi yang digunakan oleh petani yang tergabung dalam Gapoktan Silih Asih adalah berada pada skala penggunaan sampai lebih dari lima teknologi dengan responden sebanyak 11 petani. Teknologi tersebut pada umumnya banyak digunakan dalam sub sistem input, yakni berupa teknologi pengolahan pupuk kompos jerami, pembuatan dan pemasaran pupuk OFER (Organic Feritilizer), pembuatan LOF dan pestisida nabati, pembuatan NPS (Nematoda Patogen Serangga), serta teknologi pada sub sistem on farm khususnya pada teknologi polybag, pemanfaatan mulsa, bio cycle, less residu, zero waste, penanaman tidak serempak (beragam), serta teknologi sistem padi legowo. Banyaknya jenis dan keberagaman teknologi yang digunakan menunjukkan bahwa sistem pertanian yang dilakukan oleh petani memiliki tingkat inovasi teknologi yang tinggi. Namun, ada kalanya bagi beberapa petani yang tidak memiliki lahan yang luas dan biaya yang cukup mereka akan menggunakan pilihan teknologi dengan tingkat pembiayaan yang relatif murah dan bahkan tidak mengeluarkan biaya.

Gambar 13 Sebaran tingkat kebaharuan inovasi

Indikator tingkat inovasi terakhir yang diukur adalah tingkat kebaharuan inovasi yang dilakukan oleh pelaku inovasi tersebut. Indikator ini ingin mengetahui seberapa jauh aktor inovasi (petani) melakukan inovasi baru dan

menjadi orang pertama dilingkungan mereka selama dua sampai tiga tahun terakhir. Indikator ini melihat seberapa jauh tingkat kebaharuan dari seorang inovator. Pada umumnya para petani yang memiliki karakter inovator yang tinggi memiliki kemampuan untuk memberikan informasi berupa pengenalan inovasi kepada para petani lain. Hasil tabulasi dapat dilihat bahwa tingkat pengenalan inovasi baru (aktor inovasi) terbesar berada pada kisaran satu sampai dua kali menjadi aktor inovasi.

Gambar tabulasi 8 hingga Gambar 13 akan dilihat secara keseluruhan pada urutan tingkat pencapaian inovasi tertinggi sampai terendah. Penilaian pada skor inovasi ini digunakan untuk mengetahui secara lebih mendalam dan melihat secara keseluruhan tingkat inovasi mana yang paling inovatif yang telah diimplementasikan oleh petani dalam Sistem pertanian tekno ekologis.

Tabel 6 Tingkat pencapaian inovasi petani sistem pertanian tekno ekologis Capaian Inovasi Sebaran Ragam Pola Integratif Perubahan Hasil Perlakuan Pascapanen

Pemasaran Teknologi Kebahar uan Inovasi Nilai Skor Inovasi 2.47 3.27 3.73 3.2 3.27 2.37

Nilai skor inovasi pada keseluruhan tingkat inovasi yang dilakukan pada sistem pertanian terintegrasi berbasis tekno ekologis dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 menunjukkan urutan tingkat inovasi yang memiliki skor inovasi tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah perlakuan pasca panen, teknologi dan perubahan hasil, pemasaran, ragam pola integratif, serta kebaharuan inovasi. Melalui penilaian terhadap skor inovasi dapat dilihat inovasi mana yang telah diaplikasikan dengan baik, dan inovasi mana yang seharusnya lebih di tingkatkan penyeragaman dan pelaksanaanya. Nilai skor rata-rata memiliki nilai tinggi pada sistem pertanian ini mengindikasikan bahwa tingkat pencapaian inovasi yang dilakukan oleh Gapoktan Silih Asih telah dipahami dan diterapkan oleh petani Gapoktan Silih Asih.

Skor nilai inovasi tertinggi pada capaian inovasi sistem pertanian terintegrasi ini adalah perlakuan pasca panen. Mayoritas petani di Desa Ciburuy dan petani yang tergabung dalam Gapoktan Silih Asih merupakan petani yang mengusahakan padi berbasis organik. Padi menjadi pendapatan utama bagi para petani karena padi telah memiliki jalinan kemitraan serta melibatkan peranan dari koperasi Lisung Kiwari untuk menampung hasil penjualan padi basah yang kemudian akan diproses lebih lanjut pada proses pasca panen oleh koperasi melalui packaging dan labeling beras organik yang diberi nama beras SAE (Sehat Aman Enak) dan beras SIGEMAR.

Sedangkan perlakuan pasca panen lain yang dilakukan melalui kemitraan adalah komoditi sayuran, kemitraaan ini dilakukan dengan beberapa swalayan dikota melalui kemitraan perantara LOJI. Sortir dan grading pada beberapa petani juga dilakukan pada komoditi benih ikan nila, ikan mas, dan beberapa jenis sayuran. Petani memahami bahwa dengan melakukan proses pasca panen untuk

Dokumen terkait