HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Pemasaran kopi Arabika Gayo
4.5.1. Input dan Output Produksi
Dalam penyusunan Tabel I-O, konsep baku yang digunakan selama ini mengacu pada System National Account (SNA) tahun 1993. Pada prinsipnya seluruh sektor ekonomi dibagi habis dalam klasifikasi sektor I-O. Output adalah nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi suatu daerah
dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan asal pelaku produksinya. Wujud produk yang dihasilkan oleh sektor produksi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu produk berupa barang dan jasa. Output suatu sektor yang wujud produksinya berupa barang dapat diperoleh melalui hasil perkalian antara jumlah/kuantitas yang dihasilkan dengan harga per unit produksinya, sedangkan output sektor yang wujud produksinya berupa jasa dihitung berdasarkan nilai penerimaan dari jasa yang diberikan kepada pihak lain.
Input Antara adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk barang dan jasa yang habis digunakan dalam proses produksi. Komponen input antara terdiri dari barang tidak tahan lama dan jasa yang dapat berupa hasil produksi dalam negeri atau impor. Barang tidak tahan lama adalah barang habis dalam sekali pakai dalam proses produksi atau barang yang umur pemakaiannya kurang dari setahun.
Contohnya: bahan baku, bahan penolong, jasa perbankan dan sebagainya.
Input Primer adalah input atau biaya yang timbul akibat pemakaian faktor-faktor produksi dalam suatu kegiatan ekonomi. Faktor produksi antara lain tenaga kerja, tanah, modal dan kewiraswastaan. Wujud input primer adalah upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan barang modal dan pajak tak langsung netto.
Dalam penelitian ini yang merupakan komponen output adalah biji kopi, sedangkan yang merupakan komponen input adalah sebagai berikut:
Tabel 4.16 Komponen Input tetap dan input antara
Input Tetap Input Antara
Lahan Bibit
Gudang Pupuk
Alat Pertanian Pestisida
Alat Pemanenan Alat Penggiling Kopi
Sumber : Monke dan Pearson (1989)
Tabel 4.17 Biaya Analisa Usaha Tani Pertanaman Baru per Ha
Sumber: Data Primer Lampiran 1 (2013), diolah
Tabel 4.17 Merupakan tabel analisa Usaha tani penanaman baru tanaman kopi di mana total input yang dibutuhkan untuk usaha tani tanaman kopi per hektar mencapai Rp. 29, 8 Juta, yang meliputi biaya penyediaan sarana produksi dan biaya upah tenaga kerja. jika di asumsikan hasil produksi pada panen pertama mencapai 2,5 ton. Pada panen pertama keuntungan bisa dikatakan tidak ada, sedangkan nilai upah tenaga kerja yang didapat sekitar Rp.1.74 Juta per hektar yang didapatkan oleh petani diasumsikan bagian yang didapat karena petani bekerja sehingga mendapat upah kerja untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan merupakan nilai tambah yang didapat oleh petani. nilai tambah yang didapatkan oleh petani setiap tahun bila diasumsikan pertambahan pertanaman baru 5 hektar pertahun, maka nilai tambah mencapai Rp. 8,7 Jt.
No Uraian Kegiatan Volume Satuan I Penyediaan Sarana Produksi
Bibit Kopi 1600 batang 10.000 16.000.000
Alat dan Mesin Pertanian 1 paket 1.545.000 1.545.000
Pupuk 1 paket 9.510.000 9.510.000
Nilai Tambah Per 1 Ha/Thn (Rp)
(asumsi 5 ha/Pertahun) 8.700.000
Tabel 4.18 Transaksi Atas Dasar Harga Input di Tingkat Petani per Ha/per Tahun
Sumber: Data Primer Lampiran 2 (2013), diolah
Tabel 4.18 menunjukkan bahwa total nilai input tetap (alat dan mesin pertanian) dalam pengelolaan budidaya kopi Arabika sebesar Rp 1.425.000 yang terdiri dari cangkul, gunting pangkas, pisau, sabit, hand sprayer, mesin babat, parang dan dapat di beli di pasar setempat dan tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar, Sedangkan input antara yang terdiri dari pupuk Rp 15,10 juta, pestisida 4,14 juta dan tenaga kerja sebanyak 4 bulan kerja dalam setahun Rp 13,92 juta, Secara keseluruhan total input Rp 28.4 juta dan total output Rp 34.3 juta, dimana dari hasil amatan peneliti produksi rata-rata perbatang mencapai 2,2 Kg/pertahun, dengan jumlah tanaman kopi perhektar rata-rata sebanyak 1300 batang. sehingga keuntungan usaha tani sebesar Rp 5.8 juta serta nilai tambah yang didapatkan petani dalam satu hektar mencapai Rp. 19.79 Juta dengan analisa 1 (satu) ton produksi mencapai Rp. 6.92 juta. nilai tambah yang didapatkan oleh petani meliputi dari penyediaan alsintan yang masih milik petani
No Uraian Kegiatan Volume Satuan I Penyediaan Sarana Produksi
Alat dan Mesin Pertanian 1 Paket 1.425.000 1.425.000
Pupuk 1 Paket 11.600.000 11.600.000
Nilai Tambah Per 1 ton produksi (Rp) 6.921.329
tidak perlu dibeli lagi serta nilai tambah dari upah tenaga kerja yang dapat dinikmati oleh petani karena rata-rata petani bekerja pada kebun sendiri. Petani tidak mengeluarkan biaya transportasi saat menjual biji kopi Arabika ke pedagang pengumpul karena pembeli berada di dekat sekitar rumah petani, tetapi pedagang membebankan ongkos transportasi kepada petani dengan menekan harga produksi petani, sehingga dalam analisis dimasukkan dalam komponen input produksi.
I Transportasi 8.295.600
Biaya Transportasi 5 Unit 105.260 526.300 6.315.600
BBM 30 Ltr 5.500 165.000 1.980.000
Peralatan Pengemasan 1 Unit 4.688.500 4.688.500 4.688.500
II UPAH KERJA
Nilai Tambah Per 1 ton produksi (Rp) 5.882.576
Sumber: Data Primer Lampiran 3 (2013), diolah
Tabel 4.19 menunjukkan bahwa total nilai input sebesar Rp, 44.5 juta yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 6,3 juta, biaya BBM 1,98 juta dan biaya alat pengemasan 4,68 juta, Sedangkan input antara (tenaga kerja) Rp 30,96 juta.
Secara keseluruhan total input Rp 44,56 juta dan total output Rp 78,72 juta sehingga keuntungan usaha tani sebesar Rp 30.96 juta dan jika dianalisa keuntungan 1 (satu) ton produksi sekitar Rp. 6,40 juta. Kolektor desa (pedagang desa) mengeluarkan biaya transportasi saat menjual biji kopi Arabika ke pedagang
kecamatan. Biaya transportasi terdiri dari ongkos Rp 100 per kg sehingga total ongkos yang dikeluarkan sebesar Rp 526,000 per bulan. Komponen terbesar dalam analisis usaha ini adalah biaya tenaga kerja untuk penggilingan kopi gelondong, penjemuran gabah, penggilingan gabah ke pabrik dan penjemuran labu sebesar 30,96 juta per tahun. Menurut Tarigan (2012), pada umumnya nilai tambah dalam suatu kegiatan produksi/jasa adalah berupa upah/gaji, laba, sewa tanah dan bunga uang yang dibayarkan. Nilai tambah merupakan bagian yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat di suatu wilayah. Mengacu pada konsep nilai tambah diatas, nilai tambah yang diterima oleh pedagang yang sebagian bisa di nikmati oleh pedagang sendiri dalam bentuk upah tenaga kerja adalah sebesar Rp. 30.9 Juta, dan jika dianalisa nilai tambah dalam 1 (satu) ton Produksi sekitar Rp. 5.88 Juta.
Tabel 4.20 Transaksi Atas Dasar Harga Input di Tingkat Koperasi/Eksportir
Sumber: Data Primer (2013), diolah
Tabel 4.20 menunjukkan bahwa total nilai input sebesar Rp 2.540 juta yang terdiri dari modal alat transportasi sebesar Rp 450,00 juta, biaya BBM 9,90 juta, biaya alat pengemasan 16,31 juta dan pajak dan iuran 1,60 juta. Sedangkan input antara (tenaga kerja) Rp 52,56 juta. Secara keseluruhan total input Rp 2.540 juta dan total output Rp 2,759 juta sehingga keuntungan usaha perdagangan sebesar Rp 219,64 juta selama satu tahun dan jika dikalkulasikan dalam 1 ton produksi keuntungan mencapai Rp 3.150 ribu, dari keuntungan tersebut pedagang memperoleh nilai tambah mencapai Rp. 272,20 juta dengan analisa nilai tambah
per 1 (satu) ton produksi mencapai Rp. 3.150 Juta yang setidaknya bisa juga dinikmati oleh pedagang sebagi upah kerja. Kolektor kecamatan mengeluarkan biaya pembelian alat transportasi dan bahan bakar minyak, Komponen terbesar dalam analisis usaha ini adalah biaya tenaga kerja untuk penggilingan kopi gelondong, penjemuran gabah, penggilingan gabah ke pabrik dan penjemuran labu sebesar 52,56 juta per tahun.
Harga bahan baku (HS) berupa kopi tujuan ekspor sebesar Rp 936 juta, biji kopi grade 1 sebesar Rp 389 juta, grade II sebesar 286 juta, kopi gabah sebesar Rp 169 juta dan kopi gelondong Rp 227 juta.
Output usaha perdagangan berupa kopi tujuan ekspor sebesar Rp 1,176 juta, biji kopi grade I sebesar Rp 528,71 juta, grade II sebesar Rp 498,81 juta, kopi gabah sebesar Rp 242,43 juta dan kopi gelondongan Rp 313,20 juta, Sebagian besar petani menjual hasil panen kopi arabika dalam bentuk kopi basah (ceri).
Tujuan ekspor kopi arabika gayo pada umumnya ke Amerika, Kanada, dan Uni Eropa. Negara-negara tujuan ekspor ini menetapkan harga kopi berdasarkan kontrol kualitas yang ketat melalui sertifikasi. Melalui sertifikasi ini maka harga kopi dunia tertransmisi dengan baik ke petani produsen.
4.6 Penciptaan Nilai Tambah Kopi Terhadap PDRB di Kabupaten Aceh