• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN ENERGI PADA DOMBA DI UP3 JONGGOL YANG MENDAPAT RASIO RUMPUT Brachiaria Humidicola

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

i RINGKASAN

FANNY KESIA TONDOK. D24062940. 2010. Pemanfaatan Energi pada Domba di UP3 Jonggol yang Mendapat Rasio Rumput Brachiaria Humidicola dan Legum Pohon (Leucaena leucocephala dan Gliricidia sepium) yang Berbeda. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

Pembimbing Utama : Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS. Pembimbing Anggota : Ir. Abdul Djamil Hasjmy, MS.

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor memiliki Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan (UP3) Jonggol seluas 169 ha, dengan jumlah domba ekor tipis sebanyak 670 ekor. Domba Jonggol diharapkan dapat dikembangkan menjadi domba lokal spesifik yang adaptif dengan lingkungan tropik. Selain itu, UP3 Jonggol ditanami hijauan yaitu rumput dan legum dengan beranekaragam spesies yang berpotensi sebagai sumber pakan domba. Akan tetapi perlu dilakukan peningkatan optimalisasi nutrisi dan pemanfaatan energi pakan asal hijauan melalui kombinasi rumput dan legum pohon sehingga nutrisinya memenuhi standar kebutuhan domba sesuai status fisiologisnya. Pemanfaatan energi pada ternak sangat penting dalam penentuan performa ternak, karena berbanding lurus dengan pertumbuhan. Makin tinggi energi yang termanfaatkan (energi tercerna dan termetabolis) maka pertumbuhan akan semakin baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan energi domba di UP3 Jonggol yang diberi rasio berbeda antara

Brachiaria humidicola, Leucaena leucocephala dan Gliricidia sepium. Penelitian ini dapat menambah informasi mengenai pola pemanfaatan energi pada daerah tropis, yang sampai saat ini masih kurang informasinya.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang UP3 Jonggol, Laboratorium Biologi Hewan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan selama 4 bulan. Ternak yang digunakan yaitu domba jantan umur ±6 bulan dengan rataan berat badan 13,95 ± 0,63 kg sebanyak 20 ekor, yang dipelihara pada kandang individu. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan yang dikelompokkan (pengelompokan berdasarkan bobot badan). Perlakuan yang diberikan antara lain : R1 = 90%

Brachiaria humidicola + 10% konsentrat, R2 = 80% Brachiaria humidicola + 10% campuran legum + 10% konsentrat, R3 = 70% Brachiaria humidicola + 20% campuran legum + 10% konsentrat, R4 = 60% Brachiaria humidicola + 30% campuran legum + 10% konsentrat, R5 = 70% Brachiaria humidicola + 30% campuran legum. Rasio legum Gliricidia sepium dan Leucaena leucocephala yang diberikan adalah 75% dan 25%. Peubah yang diamati antara lain konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK), lemak kasar (LK) dan serat kasar (SK) serta pemanfaatan energi berupa konsumsi energi (KE), energi tercerna (EC) dan energi termetabolis (EM). Model matematik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak kelompok (Steel dan Torrie, 1991). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan untuk melihat perbedaan diantara perlakuan diuji dengan Duncan.

Hasil analisis statistik untuk konsumsi nutrien menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata (P<0,01) hanya pada konsumsi protein kasar. Pada perlakuan R4

ii yang mendapat 60% Brachiaria humidicola, 30% legum dan 10% konsentrat memiliki konsumsi protein kasar tertinggi (58,09 g/e/h) dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hasil analisis statistik untuk pemanfaatan energi baik konsumsi energi, energi tercerna dan energi termetabolis untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata. Disimpulkan bahwa perlakuan R4 dengan penambahan 30% legum dapat meningkatkan konsumsi protein kasar tetapi tidak menunjukkan pengaruh terhadap pemanfaatan energi.

Kata-kata kunci : pemanfaatan energi, Leucaena leucocephala, Gliricidia sepium,

iii ABSTRACT

Energy Ut ilizat ion by Sheep in UP3 Jonggol Fed w it h Brachiaria humidicola and Legum e (Gliricia sepium and Leucaena Leucocephala) in Different Rat io.

Fanny Kesia Tondok, Dew i Apri Ast ut i and Abdul Djamil Hasjmy

This experiment w as aimed t o evaluat e energy ut ilizat ion of legume (Gliricidia sepium and Leucaena Leucocephala) mixed w it h concent rat e and grass (Brachiaria humidicola) in male local sheep at UP3 Jonggol. This experiment w as conduct ed according t o complet ely randomized block design w it h five t reat ment s and four replicat ions w hich body w eight as a block. The t reat ment s w ere : R1 (90%

Brachiaria humidicola + 10% concent rat e), R2 (80% Brachiaria humidicola + 10% legume + 10% concent rat e ), R3 (70% Brachiaria humidicola + 20% legume + 10% concent rat e), R4 (60% Brachiaria humidicola + 30% legume + 10% concent rat e), and R5 (70% Brachiaria humdicola + 30% legume). Rasio Gliricidia sepium and Leucaena Leucocephala in legume w as 75% : 25%. Variables measured w ere dry mat t er and nut rient int ake (crude prot ein, fat and fiber) and also energy ut ilizat ion (int ake, digest ibilit y and met abolizable energy). Dat a w ere analyzed using analysis of variance and mean of t reat ment w ere furt her analyzed using Duncan t est . The experiment show ed t hat t reat ments affect ed (P<0.05) t o t he crude prot ein consumpt ion. How ever, t here w ere no effect of energy ut ilizat ion in all t reat ment s. It is concluded t hat t he addit ion of 30% legume could increase crude prot ein int ake but not for energy budget .

Keyw ord : Brachiaria humidicola, energy balance, Gliricidia sepium, Leucaena leucocephala,

iii ABSTRACT

Energy Utilization by Sheep in UP3 Jonggol Fed with Brachiaria humidicola and Legume (Gliricia sepium and Leucaena Leucocephala) in Different Ratio.

Fanny Kesia Tondok, Dewi Apri Astuti and Abdul Djamil Hasjmy

This experiment was aimed to evaluate energy utilization of legume (Gliricidia sepium and Leucaena Leucocephala) mixed with concentrate and grass (Brachiaria humidicola) in male local sheep at UP3 Jonggol. This experiment was conducted according to completely randomized block design with five treatments and four replications which body weight as a block. The treatments were : R1 (90%

Brachiaria humidicola + 10% concentrate), R2 (80% Brachiaria humidicola + 10% legume + 10% concentrate ), R3 (70% Brachiaria humidicola + 20% legume + 10% concentrate), R4 (60% Brachiaria humidicola + 30% legume + 10% concentrate), and R5 (70% Brachiaria humdicola + 30% legume). Rasio Gliricidia sepium and

Leucaena Leucocephala in legume was 75% : 25%. Variables measured were dry matter and nutrient intake (crude protein, fat and fiber) and also energy utilization (intake, digestibility and metabolizable energy). Data were analyzed using analysis of variance and mean of treatment were further analyzed using Duncan test. The experiment showed that treatments affected (P<0.05) to the crude protein consumption. However, there were no effect of energy utilization in all treatments. It is concluded that the addition of 30% legume could increase crude protein intake but not for energy budget.

Keyword : Brachiaria humidicola, energy balance, Gliricidia sepium, Leucaena leucocephala, sheep

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Domba merupakan ternak yang prospektif untuk dikembangkan di Indonesia, akan tetapi produksinya sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya produksi antara lain : pemberian pakan, sistem pemeliharaan, kondisi ternak dan lingkungan. Faktor terpenting adalah kualitas pakan yang berpengaruh terhadap konsumsi nutrien dan pemanfaatan energi. Pemanfaatan energi pada ternak sangat penting dalam penentuan performa ternak, karena berbanding lurus dengan pertumbuhan. Makin tinggi energi yang termanfaatkan (energi tercerna dan termetabolis) maka pertumbuhan akan semakin baik. Menurut Hariyanto dan Djajanegara (1993) kebutuhan zat pakan ransum pada domba jantan dengan bobot badan 14 kg adalah bahan kering (BK) 450-620 g/e/h, protein tercerna 33,2-52,0 g/e/h, energi tercerna (EC) 1330-1810 Kal/e/h dan energi termetabolis (EM) 1090-1490 Kal/e/h. Adapun sumber energi asal pakan sejenis hijauan dan konsentrat, diantaranya hijauan berupa rumput (Brachiaria humidicola) dan legum pohon (Gliricidia sepium dan Leucaena leucocephala).

Fakultas Peternakan IPB memiliki Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan (UP3) Jonggol seluas 169 ha, dengan jumlah domba ekor tipis sebanyak 670 ekor (Jarmuji, 2008). Domba Jonggol diharapkan dapat dikembangkan menjadi domba lokal spesifik yang adaptif dengan lingkungan tropik. Selain itu, UP3 Jonggol menyediakan tanaman yang didominasi oleh Brachiaria humidicola, Gliricidia sepium (gamal) dan Leucaena leucocephala (lamtoro) sehingga dapat memenuhi kebutuhan pakan domba dan menghasilkan domba dengan produktivitas tinggi. Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya maka penggunaan legum pohon dalam penelitian ini akan dibatasi sampai 30% dalam ransum dengan rasio gamal : lamtoro adalah 75:25. Tingginya kandungan protein kasar pada legum yaitu rata-rata di atas 20% (Winugroho dan Widiawati, 2009) diharapkan cukup untuk mendukung pertumbuhan yang optimal bagi ternak domba di UP3 Jonggol.

Energi termetabolis adalah jumlah energi yang dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh yang berasal dari energi tercerna (Blaxter, 1969). Energi termetabolis dibutuhkan ternak untuk hidup pokok dan pertumbuhan sehingga kebutuhan energi

2 metabolis perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum. Proses dimulai ketika makanan yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan (mulut), setelah dicerna kemudian diserap, ditransportasikan ke seluruh bagian tubuh kemudian dimetabolis di sel dan setelah dikurangi dengan kebutuhan heat increament, barulah diretensi untuk menjadi produk. Kandungan energi metabolis hijauan, legum dan konsentrat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi domba Jonggol sehingga menghasilkan produk pertumbuhan yang optimal. Kurangnya informasi tentang gambaran pemanfaatan energi pada domba tropis mendorong perlunya dilakukan penelitian tentang neraca energi pada domba di UP3 Jonggol dengan pemberian rasio hijauan, legum dan konsentrat yang berbeda.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan energi domba di UP3 Jonggol yang diberi hijauan Brachiaria humidicola, Leucaena leucocephala dan

3 TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Domba

Bangsa domba secara umum diklasifikasikan berdasarkan hal-hal tertentu diantaranya perbandingan banyaknya daging atau wol, ada tidaknya tanduk atau berdasarkan asal ternak (Kammlade dan Kammlade, 1995).

Menurut Blakely dan Bade (1992) domba diklasifikasikan adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Mamalia Ordo : Artiodactyla Family : Bovidae Genus : Ovis

Selanjutnya domba-domba termodifikasi yang ada sekarang memiliki komposisi genetik domba Argali (Ovis ammon) yang berkembang di Asia Tengah, domba Urial (Ovis vignei) di Asia, domba Moufflon (Ovis musimon) di Asia dan Eropa. Pada masa koloni Belanda, banyak dilakukan impor ternak domba ke Indonesia terutama pulau Jawa.

Domba Lokal

Ternak domba merupakan salah satu ternak ruminansia yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan dan umumnya berupa domba-domba lokal. Domba lokal adalah domba asli Indonesia yang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi iklim tropis dan memiliki sifat seasonal polyestrus sehingga dapat beranak sepanjang tahun. Domba lokal memiliki tubuh yang relatif kecil, warna bulu yang seragam, bentuk ekor yang kecil dan tidak terlalu panjang.

Jenis domba yang terdapat di Indonesia menurut Iniguez et al. (1991) terdapat tiga jenis yaitu domba Jawa Ekor Tipis, domba Jawa Ekor Gemuk dan domba Sumatra Ekor Tipis. Menurut Inounu dan Diwyanto (1996) terdapat dua tipe domba yang paling menonjol di Indonesia yaitu domba Ekor Tipis (DET) dan domba Ekor Gemuk (DEG) dengan perbedaan galur dari masing-masing tipe. Asal-usul

4 domba ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga domba Ekor Tipis berasal dari India dan domba Ekor Gemuk berasal dari Asia Barat (Williamson dan Payne, 1993).

Domba Ekor Tipis merupakan ternak domba yang paling banyak populasinya dan paling luas penyebarannya. Menurut Subandriyo dan Djajanegara (1996) domba Ekor Tipis mempunyai karakteristik reproduksi yang spesifik, yang dipengaruhi oleh gen prolifikasi. Namun, domba Ekor Tipis ini kurang produktif jika diusahakan secara komersial karena karkas yang dihasilkan sangat rendah yaitu sekitar 45%-55% dari bobot hidup. Domba mempunyai tedensi untuk berkelompok, hidup bersama di dalam kelompok sehingga memudahkan dalam penanganan. Domba pada sistem penggembalaan kontinu mempunyai sifat sangat selektif memilih hijauan, umumnya memilih hijauan yang pendek-pendek (Hafez,1969). Domba digembalakan selama 6-8 jam sehari. Penggembalaan dilakukan sesudah hijauan bebas dari embun dan berhenti saat matahari tenggelam (Sudarmono, 2003). Menurut Kearl (1982) kebutuhan zat pakan ransum pada domba jantan dengan bobot badan 14 kg adalah bahan kering (BK) 282 g/e/h, protein tercerna 72 g/e/h dan energi termetabolis (EM) 1080 Kal/e/h. Adapun sumber energi asal pakan sejenis hijauan berupa rumput (Brachiaria humidicola) dan leguminosa pohon (Gliricidia sepium dan Leucaena leucocephala). Jenis-jenis pakan domba lokal yang disukai berikut kualitasnya.

Hijauan Pakan Domba

Brachiaria humidicola

Rumput Brachiaria humidicola merupakan rumput asli Afrika Selatan, kemudian menyebar ke daerah Fiji dan Papua New Guinea, terkenal dengan nama

Koronia grass. Rumput ini memiliki tangkai daun lincolate, 3-4 raceme dengan panjang spikelet 3,5-4 mm (Skerman dan Riveros, 1990). Temperatur optimum untuk tumbuh kira-kira 32-35oC, dapat tumbuh pada ketinggian 1000–2000 m di atas permukaan tanah. Rumput ini tahan kekeringan dan cukup tahan dengan genangan air akan tetapi tidak setahan Brachiaria mutica. Rumput ini mempunyai toleransi pada daerah dengan drainase jelek dan tahan terhadap penggembalaan berat.

Rumput tersebut dibedakan berdasarkan spesies dan genus lainnya. Rumput tersebut tidak beracun, palatabilitasnya tinggi pada umur muda, tetapi ketika produktivitasnya maksimum maka palatabilitasnya rendah. Menurut Miles et al.

5 (1996) rumput Brachiaria humidicola berkembang melalui stolon yang begitu cepat tumbuh sehingga bila ditanam di lapang segera membentuk hamparan dan dapat pula diperbanyak dengan biji. Rumput Brachiaria humidicola toleransi pada daerah dengan drainase kurang baik dan lebih tahan terhadap tekanan penggembalaan berat. Hasil analisa proksimat pada penelitian ini, melaporkan Brachiaria humidicola

dengan bahan kering (BK) 95,02% mengandung protein kasar (PK) 7,04%, serat kasar (SK) 25,09%, lemak kasar (LK) 2,80%, dan energi 3487 Kal/kg.

Gambar 1. Brachiaria humidicola

Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Lamtoro, petai cina, atau petai selong adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae (Leguminosae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi. Tanaman ini berasal dari Amerika tropis tetapi dengan mudahnya beradaptasi dan dengan segera tanaman ini menjadi tumbuhan liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika, termasuk pula di Indonesia.

Lamtoro mempunyai tiga sub spesies yakni: a) Leucaena leucocephala sp., mempunyai batang pendek sekitar 5 m tingginya dan pucuk rantingnya berambut lebat; b) Glabrata (Rose) S. Zárate sp. dikenal sebagai lamtoro gung, tanaman ini berukuran besar mulai dari pohon, daun, bunga, dan buah bila dibandingkan dengan anak jenis yang pertama; c) Ixtahuacana C. E. Hughes sp. Kegunaan lamtoro sebagai pakan tambahan dapat membantu meningkatkan kualitas pakan rendah. Pemberian lamtoro mampu meningkatkan fermentasi dalam rumen serta mampu meningkatkan penyerapan asam amino ke usus halus. Norton (1994) melaporkan bahwa penambahan daun lamtoro sebesar 20 g/kg BB/h bahan kering (BK) pada kambing dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian ternak tersebut. Poentri dan Marsetyo (2006) menyatakan bahwa jerami jagung dengan penambahan daun

6 lamtoro segar sebanyak 2% bobot badan dapat meningkatkan konsumsi bahan kering pakan. Senyawa sekunder utama yang ditemukan pada pada lamtoro adalah mimosin, namun jumlahnya relatif kecil sekitar 3%-4% (Winugroho dan Widiawati, 2009). Oleh karena itu, penggunaan daun lamtoro dalam ransum direkomendasikan tidak lebih dari 50% total ransum (Rohmatin, 2010). Manurung (1995) melaporkan bahwa lamtoro denganbahan kering (BK) 89,53% mengandung protein kasar (PK) 14,19%, serat kasar (SK) 17,74%, lemak kasar (LK) 5,43%, dan energi 3859 Kal/kg. Sementara hasil analisa proksimat pada penelitian ini, dilaporkan lamtoro dengan bahan kering (BK) 94,49% mengandung protein kasar (PK) 18,88%, serat kasar (SK) 17,32%, lemak kasar (LK) 4,31%, dan energi 3432 Kal/kg.

Gambar 2. Leucaena leucocephala

Gamal (Glirisidia sepium)

Gamal dengan nama latin Gliricidia sepium merupakan salah satu jenis tanaman pakan ternak yang banyak disukai oleh ternak ruminansia kecil seperti kambing dan domba. Taksonomi dan tatanama gamal yaitu Famili: Fabaceae (Papilionoideae), Sinonim: Gliricidia lambii Fernald, G. maculata var. multijuga

Micheli, Lonchocarpus roseus (Miller) DC., L. sepium (Jacq.) DC., Millettia luzonensis A. Gray, Robinia rosea Miller, R. sepiumJacq., R. variegata Schltdl. Gamal (Gliricidia sepium) merupakan legum pohon dengan ketinggian mencapai 5-15 m, tipe daunnya majemuk sederhana dan memiliki bunga berbentuk kupu-kupu berwarna putih dan merah jambu. Tandan perbungaan panjangnya 2-12 cm, muncul di bawah ketiak daun, terutama pada daun-daun yang telah gugur. Kelopak daun berwarna hijau kemerahan, sedangkan daun mahkota berwarna merah jambu keputihan atau ungu (Roemantyo, 1993).

7 Gamal digunakan sebagai bahan ternak ruminansia karena mempunyai kandungan protein kasar (25,2%) dan energi yang lebih tinggi (5300 Kal/kg BK). Kadar ADF yang rendah (25,95%) pada gamal menyebabkan koefisien cerna bahan keringnya (KCBK) lebih tinggi daripada KCBK ransum dengan penggunaan lamtoro dan kaliandra (Rahmawati, 2001). Abduh dan Amril (2003) melaporkan rata-rata kecernaan in vitro bahan kering campuran rumput gajah dengan daun gamal memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan rumput gajah tanpa penambahan daun gamal. Haryanto dan Djajanegara (1993) melaporkan bahwa Gliricidia sepium

denganbahan kering (BK) 91% mengandung protein kasar (PK) 10,17%, serat kasar (SK) 49,68% dan lemak kasar (LK) 1,63%, serta energi tercerna (EC) 2230 Kal/kg dan energi termetabolis (EM) 1090-1830 Kal/kg.

Gambar 3. Gliricidia sepium

Zat yang kurang menguntungkan dalam tanaman ini adalah adanya faktor antinutrisi dengan kandungan flavanol 1%-3,5% dan 3%-5% fenol total menurut bahan kering. Kandungan tersebut dapat mengganggu selera ternak (Roemantyo, 1993). Selanjutnya Tangendjaja et al. (1991) melaporkan bahwa gamal mempunyai 10 komponen asam fenolat dan 3 komponen merupakan senyawa fitokimia, yang konsentrasi tinggi adalah kumarin. Hasil penelitian Lake et al. (1994) menunjukkan bahwa injeksi kumarin mengakibatkan nekrosis hati dan meningkatkan aktivitas plasma transaminase. Faktor anti nutrisi lainnya adalah asam sianida (HCN) dan diduga asam sianida mengakibatkan terjadinya pembengkakan kelenjar tiroid pada ternak (Mathius, 1991).

8 Neraca Pemanfaatan Energi pada Ruminansia

Kebutuhan Energi Ternak Domba

Pemanfaatan energi dapat diuraikan menjadi beberapa tahap (Gambar 4) yaitu

energi total, energi tercerna, energi termetabolismekan dan energi netto. Energi Total

(Gross Energy/GE)

Energi Feses Energi Tercerna (Feces Energy/FE ) (Digestible Energy/DE)

Energi Termetabolis Energi Urin dan CH4 (Metabolizable Energy/ME)

Energi Panas Energi Netto (Heat Increament) (Net Energy/NE)

Energi Netto Energi Netto Untuk hidup pokok Untuk produksi Gambar 4. Neraca Penggunaan Energi oleh Ternak Secara Umum

Sumber : Tillman et al. (1991)

Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja dalam berbagai bentuk kegiatan (kimia, elektrik, radiasi, gerak biologis dan termal) dan berubah-ubah mengikuti hukum kekekalan. Hewan yang sedang tumbuh membutuhkan energi untuk pemeliharaan tubuh (hidup pokok), memenuhi kebutuhan energi mekanik untuk gerak otot dan sintesa jaringan-jaringan baru (Tillman et al., 1991). Kebutuhan energi oleh ternak tergantung pada ukuran ternak dan status fisiologisnya seperti sedang tumbuh, bunting atau menyusui. Astuti et al. (2000) melaporkan kebutuhan energi kambing pada masa pertumbuhan, bunting dan laktasi berbeda-beda yaitu 2030 Kal/e/h, 4128 Kal/e/h dan 3804 Kal/e/h. Kondisi lingkungan seperti kelembaban, temperatur dan gerak angin turut mempengaruhi kebutuhan energi ternak (Mustafa, 2004). Menurut McDonald et al. (2002), hewan memperoleh energi dari pakannya, energi tersebut akan digunakan tubuh untuk

9 hidup, untuk aktivitas sel, untuk proses kimia, dan untuk sintesisis enzim dan hormon. Ternak yang lapar atau kebutuhan energinya tidak tercukupi akan melakukan proses katabolisme (perombakan cadangan makanan dalam tubuh), pertama diambil dari glikogen kemudian lemak dan terakhir protein. Energi yang terkandung di dalam pakan akan digunakan oleh tubuh yang utama yaitu untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan.

Ensminger (2002) menyatakan bahwa kekurangan energi merupakan masalah defisiensi nutrien yang umum terjadi pada domba dan dapat disebabkan oleh kekurangan pakan atau karena pengonsumsian pakan dengan kualitas rendah. Sumber energi menurut Parakkasi (1999) adalah karbohidrat, protein dan lemak. Pakan dapat berasal dari rumput dan legum, dengan sumber energi tinggi diantaranya

Pennisetum purpureum mengandung energi tercerna (EC) 2340 Kal/kg dan energi termetabolis (EM) 1920 Kal/kg, Panicum maximum mengandung EC 2560 Kal/kg dan EM 2100 Kal/kg, Brachiaria mutica mengandung EC 1900 Kal/kg dan EM 1560 Kal/kg, Digitaria decumbens mengandung EC 2290 Kal/kg dan EM 1880 Kal/kg (NRC, 1981), sedangkan sejenis legum diantaranya Leucaena retusa mengandung EC 3000 Kal/kg dan EM 2460 Kal/kg, Caliandra callothyrsus mengandung EC 2470 Kal/kg dan EM 2020 Kal/kg, Gliricidia sepium mengandung EC 2230 Kal/kg dan EM 1830 Kal/kg (Haryanto dan Djajanegara, 1993).

Konsumsi Energi pada Domba

Konsumsi adalah faktor esensial yang mendasar untuk hidup dan menentukan produksi. Energi yang terkonsumsi dinyatakan dengan nilai Energy Bruto pakan dikalikan konsumsi bahan kering. Energy Bruto adalah panas yang terdapat di dalam pakan, yang diukur dengan menggunakan bomb kalorimeter (McDonald et al., 2002). Beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi diantaranya adalah bobot badan, jenis kelamin, umur, faktor genetik, makanan yang diberikan dan lingkungan (Parakkasi, 1999). Pengaruh bobot badan terhadap konsumsi energi dilaporkan Firdus et al. (2004) bahwa domba bobot badan ±15 kg yang dikandangkan dan diberi pakan 70% rumput gajah segar dan 30% kaliandra segar mampu mengkonsumsi energi senilai 2497 Kal/e/h. Kambing dengan bobot badan ±21 kg yang dikandangkan dan mampu mengkonsumsi konsentrat dan Leucaena sebanyak 433 dan 224 g/e/h BK, ternyata mampu mengkonsumsi energi senilai 2775 Kal/e/h

10 (Haque et al., 2007). Semakin besar bobot badan pada seekor ternak, maka semakin tinggi kebutuhan energinya (Church, 1971). Pengaruh jenis kelamin terhadap konsumsi dilaporkan Arsadi (2006) bahwa kambing betina dan jantan dengan bobot badan yang sama, mengakibatkan konsumsi energi pada kambing jantan lebih banyak daripada kambing betina. Pengaruh umur terhadap konsumsi sangat besar, dilaporkan bahwa ternak muda dalam proses pertumbuhan lebih banyak membutuhkan energi (asal protein), sehingga konsumsi energi cenderung meningkat bila dibandingkan ternak tua. Kebutuhan energi sangat dipengaruhi oleh lingkungan luar seperti temperatur, kelembaban dan gerak angin (Haryanto dan Djajanegara, 1993). Di daerah dingin dibutuhkan makanan yang mengandung nilai energi lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan kebutuhan ternak di daerah panas (Mustafa, 2004). Matejovskoy dan Sanson (1995) melaporkan bahwa makanan yang kadar energinya tinggi akan menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat serta produksi daging lebih banyak. Konsumsi energi merupakan langkah awal dalam pencapaian retensi energi positif, karenanya perlu mendapat perhatian dalam penelitian.

Energi Tercerna pada Domba

Energi dapat dicerna suatu bahan makanan dinyatakan dengan bagian dari bahan makanan yang dimakan yang tidak diekskresi melalui feses. Bahan makanan diberikan pada hewan dan energi yang terdapat dalam feses ditentukan dengan bomb kalorimeter. Perbedaan antara energi bruto yang dikonsumsi dan energi bruto yang terdapat dalam feses disebut energi dapat dicerna (Parakkasi, 1999). Kegunaan nutrien pakan bagi ternak ditentukan oleh kemampuan ternak mencerna bahan pakan yang diberikan dan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya koefisien cerna zat-zat makanan yang terkandung di dalamnya. Hal ini disebabkan tidak semua zat makanan yang diberikan dapat dicerna dan diserap oleh alat pencernaan (Haryatti, 2005).

Menurut Anggorodi (1990) yang mempengaruhi daya cerna suatu zat makanan adalah suhu, laju pencernaan di saluran pencernaan, bentuk fisik dari bahan pakan, komposisi ransum dan pengaruh terhadap perbandingan dengan zat makanan lain. Menurut Llyod (1982) energi tercerna dapat dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia bahan makanan, tingkat konsumsi dan spesies ternak. Arsadi (2006) meneliti

Dokumen terkait