• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data

Instrumen pada penelitian ini adalah penelitian secara sendiri yang menjadi keseluruhan proses penelitian tersebut.5 Instrumen itu sendiri ialah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participation observation), peneliti berperan serta terhadap

kegiatan bimbingan do’a dan dzikir yang dilakukan oleh pembimbing

rohani islam dengan cara membantu pembimbing dalam memberikan arahan kepada warga binaan, hal ini dilakukan karena peneliti melihat warga binaan banyak yang memilih untuk diam tidak mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh pembimbing, selain itu kurangnya pembimbing rohani islam sehingga membuat pembimbing itu menjadi kewalahan dengan jumlah warga binaan yang banyak. Berikutnya ialah Wawancara mendalam (indepth interview) dan dokumentasi.6 Berikut ini

4

B.Sandjaja dan Albertus Heriyanto, Panduan Penelitian, (Jakarta: Prestasi Pusaka, 2006), cet ke-1, h. 111

5

Lexy J. Melong,Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005), cet ke-21, h. 168

6Djam’an Satori dan Aan Komariah,

Metode Penetitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta,

51

adalah teknik pengumpulan data yang akan peneliti lakukan dalam penelitian ini di antaranya:

1. Metode observasi (pengamatan)

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.7 Metode ini digunakan

untuk mengamati secara langsung Bimbingan Rohani do’a dan dzikir yang

diberikan kepada Warga Binaan Sosial stres di panti. Adapun jenis observasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan, yaitu peneliti turut ambil bagian dalam setiap kegiatan yang diteliti. Metode ini digunakan sebagai kelengkapan dan penguat data yang diperoleh melalui metode interview dan dokumentasi.

2. Metode interview (wawancara)

Metode interview adalah cara pengumpulan data dengan tanya jawab, percakapan ini dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.8 Data dikumpulkan melalui wawancara yang mendalam pada subjek penelitian. Interview disini digunakan untuk

mengumpulkan data yang berkenaan dengan metode do’a dan dzikir, yang

khususnya dalam Bimbingan Rohani Islam untuk menangani pasien penderita stress.

7

Dedy Mulyana,Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2002), h. 181.

8

Moleong, 2002. Metodologi penelitian kualitatif. (Bandung : Remaja rosda karya), h 135.

52

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.9 Selain itu dokumentasi merupakan salah satu instrumen pengumpulan data. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data. Dokumen bisa berbentuk dokumen publik atau dokumen pribadi. Alasan penggunaan metode dokumentasi ini yaitu karena dokumen merupakan catatan atau arsip yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tidak membutuhkan banyak waktu dan energi serta dapat untuk mengecek kembali informasi yang didapat interview secara langsung.

4. Waktu dan Tempat Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger-Cipayung Jakarta Timur. Penelitian ini memakan waktu sekitar 9 bulan, yakni dari 27 Maret 2014 sampai dengan 5 Desember 2014.

Alasan peneliti melakukan penelitian di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Cipayung, karena peneliti tertarik dengan banyaknya macam-macam klasifikasi Warga Binaan Sosial yang berada di Panti. Selain itu warga binaan yang ada di panti ini sangat rentan sekali mengalami stres, dengan berbagai faktor sosial yang berbeda pula.

9

Arikunto, Suharsimi. 2006, Prosedur penelitian, suatu pendekatan praktek, (Jakarta : Rineka cipta, 2006), h. 231.

53

5. Subjek dan Objek Penelitian a. Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini yaitu 1 orang selaku petugas

Pembimbing Rohani Islam do’a dan dzikir yang bernama

Kurniawan, juga sasarannya 5 Warga Binaan Sosial di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 yang menderita stres ringan atau sedang.

Adapun stres ringan ini masih dapat untuk diatasi, orang yang mengalami stres ini masih bisa untuk diajak ngobrol atau menjawab setiap pertanyaan yang peneliti sampaikan juga stres ringan tidak merusak aspek fisiologis. Contohnya seperti: lupa ketiduran, kemacetan, dikritik, cuaca, dan lain-lain. Situasi seperti ini biasanya berakhir dalam beberapa menit atau beberapa jam, situasi seperti ini nampaknya tidak akan menimbulkan penyakit kecuali jika dihadapi terus menerus.10

Stres sedang berupa terjadi lebih lama beberapa jam sampai beberapa hari. Contohnya, beban kerja yang berlebih, mengharapkan pekerjaan baru, anggota keluarga pergi dalam waktu yang lama, situasi ini dapat bermakna bagi individu yang mempunyai faktor predisposisi suatu penyakit koroner.11

10

Rasmun, Stres, Koping dan Adaptasi teori dan pohon masalah keperawatan, (Jakarta: Sagung Seto, 2004), h. 25

11

54

b. Objek Penelitian

Objek pada penelitian ini yaitu Bimbingan Rohani Islam melalui

Metode Do’a dan Dzikir terhadap penderita stres di Panti Sosial

Bina Insan Bangun Daya 2. 6. Teknik Analisis Data

Dalam analisis data yang telah terkumpul dianalisis, peneliti melakukan dengan analisis deskriptif kualitatif, yang artinya penulis menggambarkan keadaan sasaran penelitian secara apa adanya, sejauh mana yang penulis peroleh dari interview, dokumentasi dan observasi. Analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan kedalam pola, kategori, dan suatu uraian dasar kemudian dianalisa agar mendapatkan hasil berdasarkan yang ada. Hal ini disesuaikan dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.12 Penelitian deskriptif bertujuan untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data.

Seluruh informan pada penelitian ini berjumlah 6 orang yang

terdiri dari, 1 orang selaku pembimbing rohani do’a dan dzikir yang merupakan key informan, dan 5 orang selaku Warga Binaan Sosial yang mengalami stres yang merupakan informan itu sendiri. Warga Binaan Sosial yang mengalami stres tidak dapat dijumlahkan secara keseluruhan dari tahun ke tahun, dikarenakan Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Cipayung, merupakan tempat penampungan sementara selama 3 atau 6 bulan lamanya, selain itu ada pula warga binaan yang langsung dijemput

12

Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), Cet. Ke-9, h. 11.

55

keluarganya untuk pulang kerumah ketika warga binaan itu tertangkap oleh Satpol PP dengan kelengkapan persyaratan yang telah ditentukan oleh pihak panti.

7. Sumber Data

Adapun sumber data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Data primer, yaitu data yang diperoleh peneliti melalui observasi

langsung, primer disini berupa wawancara kepada pembimbing

rohani islam di panti (selaku pembimbing do’a dan dzikir) dan

kepada Warga Binaan Sosial (selaku penderita stres ringan atau sedang) yang menerima bimbingan dari pembimbing di Panti sosial Bina Insan Bangun Daya 2

b. Data Sekunder, yaitu data tidak langsung yang berupa catatan-catatan atau dokumentasi. Data yang diperoleh oleh peneliti melalui catatan pribadi.

BAB IV

ANALISIS DAN PROFIL LEMBAGA

A. Gambaran Profil Lembaga

Nama : Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya II

Alamat : Jl. Bina Marga No. 48 Cipayung, Jakarta Timur Telp : 021-8445761 , Fax. 021-84300416

Email :[email protected]

1. Kedudukan

Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Pemerintah Provensi DKI Jakarta, yang berwenang dalam pelaksanaan kegiatan penampungan dan pelayanan sementara bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) hasil penertiban dan penjangkauan sosial. (Berdasarkan Peraturan Gubernur No. 76 tahun 2010 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya).1

2. Sejarah Singkat Panti

Pada tahun 1978 pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Sosial

membangun sebuah panti dengan nama “Panti Pengemis Cipayung”,

dalam perkembangan selanjutnya melalui keputusan gubernur DKI Jakarta Nomor: 736 Tahun 1996, panti dimaksud menjadi “Panti Sosial Bina

1

Profil Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Juli 2014.

56

Karya Bangun Daya 2 Ceger”. Pada perkembangan selanjutnya berdasarkan peraturan gubernur DKI Jakarta No. 163 Tahun 2002, ia menjadi“Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger”.

Berdasarkan peraturan gubernur provinsi DKI Jakarta No. 76 tahun 2000, berubah menjadi “Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2” yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan pelayanan sementara bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) hasil penertiban dan penjangkauan sosial terhadap sejumlah jenis PMKS seperti Gelandangan, Pengemis, Pengamen, Pemulung, Wanita Tuna Susila, Jompo Terlantar, Anak Jalanan, Psikotik Terlantar, Penyandang Cacat Terlantar, Waria, Jockey Three in One, parkir liar, Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), Korban Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), Pengedar Kotak Amal, Pedagang Asongan dll.

Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger terletak di Jalan Raya Bina Marga No. 48 Kelurahan Ceger Kecamatan Cipayung Kota Madya Jakarta Timur. Daya tampung atau kapasitas panti adalah 250 orang, dengan penempatan Warga Binaan Sosial (WBS) secara terpisah antara perempuan dan laki-laki, anak dan lansia, termasuk WBS Balita juga dipisahkan dengan disediakan ruangan khusus.2

Adapun biaya operasional Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger Jakarta Timur diperoleh dari :

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta yang diterima secara rutin.

2

57

b. Sumbangan masyarakat secara insidental dan bantuan lain yang tidak mengikat.

3. Visi dan Misi Visi:

“Mewujudkan Kemandirian dan Kualitas Hidup Binaan Sosial”

Misi:

a. Meningkatkan kualitas pelayanan sosial terhadap warga binaan

sosial.

b. Meningkatkan harkat dan martabat binaan sosial.

c. Mengembangkan sistem sarana dan prasarana binaan sosial. d. Mengembangkan prakarsa dan peran serta masyarakat dalam pelayanan

sosial3.

4. Susunan Organisasi

GAMBAR 1

Susunan Organisasi Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2

3

Purwono, Buku Pedoman,Pelayanan Warga Binaan Sosial di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta.

KEPALA PANTI

KA. SUB BAG TU

SEKSI PERAWATAN SEKSI BIMLUR

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

58

a. Kepala Panti

Kepala panti bertugas :

1) Memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai mana yang dimaksud dalam pasal 88, keputusan No 163 Tahun 2008.

2) Memimpin dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan Sub. Bagian, Seksi dan Sub. Kelompok Jabatan Fungsional.

3) Melaksanakan tugas koordinasi lain yang diberikan Kepala Dinas. b. Sub. Bagian Tata Usaha

Sub. Bagian tata usaha bertugas :

1) Melaksanakan urusan administrasi umum. 2) Melaksanakan urusan administrasi keuangan. 3) Melaksanakan urusan administrasi kepegawaian. 4) Melaksanakan urusan administrasi perlengkapan.

5) Melaksanakan pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti.

6) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan kepala panti. c. Seksi Keperawatan

Adapun Seksi Keperawatan bertugas :

1) Melaksanakan pendekatan awal meliputi: penjangkauan, observasi, identifikasi, motivasi dan seleksi.

2) Melaksanakan penerimaan meliputi: registrasi, persyaratan administrasi, dan penempatan dalam panti.

3) Melaksanakan perawatan dan pemeliharaan fisik dan kesehatan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

59

4) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan kepala panti. d. Seksi Bimbingan dan Penyaluran

Seksi Bimbingan dan Penyaluran bertugas:

1) Melaksanakan terapi sosial perorangan, kelompok dan masyarakat. 2) Melaksanakan assesment, meliputi : penelaahan, pengungkapan, dan

pemahaman masalah dan potensi yang bisa digali dari warga binaan sosial (WBS).

3) Melaksanakan pembinaan fisik serta bimbingan mental dan sosial. Kegiatan ini meliputi olahraga, konseling, dan dinamika kelompok. 4) Melaksanakan persiapan dan pelaksanaan penyaluran kembali

kepada keluarga, pemulangan kedaerah asal, dan pelaksanaan rujukan ke lembaga lain.

5) Melaksanakan pembinaan lanjut, yang meliputi : monitoring, konsultasi, asistensi, pemantapan dan terminasi.

6) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan kepala panti.

5. Tugas Pokok dan Fungsi

Adapun tugas pokok panti ini ialah melaksanakan kegiatan pelayanan kesejahteraan sosial PMKS hasil penertiban dan penjangkauan sosial. Adapun fungsinya ialah:

a. Penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja, anggaran rencana kerja dan dokumen pelaksanaan anggaran (RKA dan DPA) panti.

60

c. Penyusunan rencana penyediaan, pemeliharaan, dan perawatan prasarana dan sarana teknis panti.

d. Pelaksanaan pendekatan awal meliputi penjangkauan, observasi, identifikasi, motivasi, seleksi

e. Pelaksanaan penerimaan meliputi registrasi, persyaratan, administrasi, dan penempatan dalam panti

f. Pelaksanaan perawatan dan pemeliharaan fisik dan kesehatan.

g. Pelaksanaan asessmen meliputi penelaahan, pengungkapan, dan pemahaman masalah serta potensi.

h. Pelaksanaan bimbingan fisik serta bimbingan mental dan sosial i. Pelaksanaan penyaluran kembali kepada keluarga, persiapan

pemulangan ke daerah asal dan rujukan kepanti terkait.

j. Pelaksanaan dan pengembangan koordinasi, kerja sama dan kemitraan dengan lembaga pelayanan sosial sejenis dalam bentuk panti maupun bukan panti yang dikelola masyarakat.

k. Pelaksanaan pembinaan lanjut meliputi monitoring, konsultasi, asistensi, pemantapan dan terminasi.

l. Pelaksanaan monitoring dn evaluasi kelayakan penggunaan prasarana dan sarana panti.

6. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 ialah Mencegah dan mengurangi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) agar tidak kembali kejalanan. Sasarannya ialah para (PMKS) hasil penertiban di wilayah DKI Jakarta.

61

7. Asal WBS

Adapun identitas dari Warga Binaan Tersebut yang akan mendapat bimbingan di Panti ialah warga binaan:

a. Hasil penertiban dan penjangkauan sosial b. Rujukan dari rumah sakit

c. Rujukan dari kepolisian RI d. Masyarakat

8. Pembinaan

Berikut macam-macam bimbingan yang akan di berikan kepada Warga Binaan Sosial yang tinggal di Panti selama 3 atau 6 bulan:

a. Bimbingan Fisik

Bimbingan Fisik ialah suatu kegiatan yang dilaksanakan berupa senam kesegaran jasmani (SKJ) setiap satu minggu dua kali, ada juga futsall, bola voli, tenis meja, bulu tangkis, dan kerja bakti kebersihan lingkungan panti.

b. Bimbingan Sosial dan Case Conference

Bimbingan sosial dilaksanakan secara individu maupun kelompok sehingga WBS dapat memahami permasalahannya serta untuk memperoleh masukan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan rujukan/ penyaluran sesuai dengan permasalahan yang dilanjutkan melalui kegiatan case conference (pembahasanan kasus).

62

c. Bimbingan Psikologis

Kegiatan yang dilaksanakan berupa konseling individu dan kelompok sebagai sarana untuk mengungkapkan pikirna, perasaan, pengalaman, dan harapan WBS.

d. Bimbingan Mental dan Spiritual

Memberikan bimbingan keagamaan yang berkaitan dengan ibadah, akhlak, dan hakekat kehidupan.

e. Bimbingan Hukum

Pada bimbingan hukum yang diberikan oleh Panti kepada Warga Binaan Sosial, yaitu mengenai pemahaman tentang perda No. 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan lainnya. Hal ini dilakukan agar para Warga Binaan Sosial dapat mengerti dan memahami betul bahwa pekerjaan yang mereka lakukan di jalanan termasuk pelanggaran dan harus mentaati peraturan yang berlaku.

f. Bimbingan Keterampilan

Bimbingan keterampilan dilaksanankan sebagai upaya pemberian bekal keterampilan agar Warga Binaan Sosial dapat mengembangkan diri setelah kembali ke masyarakat antara lain dengan: membuat keset, membuat pot, dan berkebun sayur. Selain itu agar Warga Binaan Sosial tidak lagi turun ke jalan dan mengerjakan kembali pekerjaan yang sebelumnya yaitu pekerjaan mengemis, mengamen, memulung, ataupun pekerjaan yang lain-lain. Pekerjaan-pekerjaan di atas di samping merupakan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki tingkat resiko yang sangat

63

besar dan dapat merugikan dirinya, bahkan juga pekerjaan tersebut dapat mengganggu ketertiban umum.

g. Bimbingan Kesenian

Selain dari bimbingan keterampilan, di Panti ini mengadakan bimbingan kesenian, yang mana bimbingan ini sangat digemari oleh para Warga Binaan Sosial dengan cara menyalurkan hobi mereka melalui seni musik dan menyanyi untuk WBS.

h. Penyaluran atau Pembinaan Lanjut

Setelah dilakuikan penertiban dan penjangkauan sosial oleh Dinas Sosial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Satpol PP, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang terjaring selanjutnya akan dibina oleh Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 dan selanjutnya dilakukan pembinaan, pembekalan, motivasi dan klasfiikasi, serta identifikasi terlebih dahulu agar diperoleh informasi awal tentang PMKS, yang selanjutnya mereka akan dirujuk ke panti-panti sosial lanjutan Dinas Sosial sesuai dengan jenis persoalan dan permasalahan PMKS, agar mereka mendapatkan pembinaan lanjutan di panti dimaksud dan penyaluran WBS. Ada beberapa jenis penyaluran yang dilakukan antara lain adalah:

1) Penyaluran ke panti terkait, dengan penyaluran ini warga binaan telah diklasifikasi dan diidentifikasi terlebih dahulu agar panti yang dituju memperoleh informasi awal atau profil sederhana calon WBS.

64

2) Penyaluran kembali kekeluarga, jika warga binaan yang dimaksud mempunyai keluarga yang lengkap dan syarat identitasnya jelas, maka WBS tersebut akan dikembalikan kepada keluarganya agar mereka memperoleh perlindungan dan kasih sayang melalui keluarga masing-maisng.

3) Pemulangan ke daerah asal, hal ini dilakukan setelah Warga Binaan Sosial mendapat bimbingan setidaknya mereka memperoleh bimbingan dip anti tersebut kurang lebih 3 bulan atau 6 bulan lamanya, bahkan ada yang kemungkinan lebih seperti WBS Lanjut Usia.

i. Fasilitas Pelayanan

Adapun fasilitas pelayanan yang telah disediakan oleh Panti diantaranya:

1. Kantor

2. Asrama kapasitas 250 orang 3. Ruang identifikasi dan assessment 4. Ruang bimbingan

5. Mobil operasional/rujukan 6. Ruang dapur

7. Musholla

8. Ruang pelayanan sosial 9. Ruang perawatan 10. Ruang konseling

65

11. Ruang makan 12. Lapangan olah raga 13. Ruang besuk 14. Ruang poliklinik

66

9. Tahap Pembinaan PMKS PSBIBD 24 GAMBAR 2

Tahap Pembinaan PMKS Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2

4

Brosur,Profil Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, juli 2014

Pemeriksaan dokumen persyaratan Penanda tanganan berita acara serah terima Registrasi Seleksi Penjelasan program pelayanan Penempatan dlm panti Perawatan Penentuan petugas pendamping TAHAPV I TAHAP V Penyaluran Resosialisasi Persiapan penyaluran Mengikutsertakan WBS dalam kegiatan sosial bersama masy. umum

Pelaksanaan penyaluran ke: 1. Panti sosial terkait 2. Kembali pada keluarga 3. Pemulangan ke daerah asal 4. Lembaga pelayanan sosial

lainnya Memberikan gambaran ttg lokasi tujuan penyaluran TAHAP I Identifikasi WBS Asesmen Pembinaan TAHAP IV TAHAP III TAHAP II Bim. Sosial Bim. Mental dan Spiritual Bim. Fisik Penelaahan Data WBS Pengungkapan dan pemahaman masalah dari aspek

fisik, sosial, psikologis sesuai dgn karakteristik WBS Bim. Rekreasi Bim. Hukum Identifikasi potensi dan sumber dari WBS dan keluarga

Penyusunan

rencana pelayanan Bimbingan

Keterampilan Konsultasi psikologis Konsultasi keluarga Bim. Kesenian Pendekatan awal Penjangkauan Observasi Motivasi Identifikasi

67

10. Persyaratan Pengambilan WBS Oleh Keluarga

Persyaratan yang harus dipersiapkan oleh keluarga yang akan membawa pulang warga binaan tersebut ialah:

1. Foto copy KTP yang mengurus 2. Foto copy Kartu Keluarga

3. Surat keterangan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan 4. Surat keterangan dari sekolah apabila masih sekolah 5. Surat rekomendasi dari instansi yang menertibkan 6. Surat rekomdasi dari dinas sosial

7. Menandatangani surat pernyataan dengan materai Rp. 6.000,-sebanyak 2 lembar

11. Kondisi Panti Sosial dan Sarana Prasarana.

Adapun kondisi lokasi dari Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, yang didukung oleh sarana dan prasarananya yaitu:

Luas tanah: 15.000 M² Luas bangunan: 10.000 M² Kapasitas panti: 250 orang

Lokasi panti: Jl. Bina Marga No. 48 Ceger, Cipayung, Jakarta Timur 13820, Telp. 021 844 5761

68

TABEL 1

Sarana dan Prasarana Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2

No Nama Bangunan Volume

1 Ruang kantor 1 unit

2 Auditorium 1 unit

3 Ruang rapat 1 unit

4 Pendopo 1 unit

5 Rumah Dinas 9 unit

6 Pos Jaga 2 unit

7 Ruang Gudang 1 unit

8 Kantin 1 unit

Sarana dan prasarana di Panti Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Cipayung sampai saat ini masih digunakan, fasilitas ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan panti agar dapat berjalan lancar sesuai yang diinginkan. Seperti contohnya auditorium, pendopo, yang sampai saat ini digunakan sebagai gedung serbaguna untuk pembimbing dalam memberikan bimbingannya bagi Warga Binaan Sosial.

69

12. Kondisi SDM

TABEL 2

Kondisi SDM Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2

13. Program Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2

Berikut beberapa program Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, diantarannya:

a. Asessment, meliputi penelaahan, pengungkapan, dan pemahaman masalah. Dan potensi yang dimiliki warga binaan sosial.

b. Terapi sosial perorangan, kelompok dan masyarakat.

c. Pembinaan fisik, bimbingan mental spiritual, bimbingan sosial, bimbingan hukum, bimbingan keterampilan, bimbingan musik, bimbingan psikologi, dan case conference.

d. Penyaluran kembali kepada keluarga, pemulangan kedaerah asal, dan rujukan ke lembaga layanan lain.

No Jabatan Organik Pendidikan Terakhir

S2 S1 D3 SMA SMP SD

1 Kepala Panti 1

2 Ka. Subag/ Ka. Sie Perawatan

2 1

3 Staf PNS 1 1 9 2 2

5 Pramu Sosial 5 9

70

e. Pembinaan lanjut meliputi, monitoring, konsultasi, asistensi, pemantapan, dan terminasi.5

Dokumen terkait