• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

4. Instrumen Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Pengertian dasar dari teori tingkat suku bunga yaitu harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Pengertian tingkat suku bunga sebagai harga dapat juga dinyatakan sebagai harga yang harus dibayar apabila terjadi pertukaran antara satu Rupiah sekarang dengan satu Rupiah nanti, misalnya setahun lagi. Hutang piutang timbul karena terjadi pertukaran semacam ini. Pembeli dari satu Rupiah sekarang sekaligus

commit to user

penjual dari satu Rupiah nanti adalah peminjam (Debitur). Sedangkan penjual dari satu Rupiah sekarang yang sekaligus juga pembeli dari satu Rupiah nanti adalah orang yang meminjamkan (Kreditur). Debitur harus membayar kepada kreditur harga dari pertukaran tersebut dan harga ini adalah bunga yang dibayar debitur dan diterima oleh kreditur (Boediono, 1994 : 75-76).

Hubungan inflasi dengan tingkat suku bunga diawali dengan pengertian bahwa tingkat bunga nominal (nominal interest rate) adalah tingkat bunga yang dibayar oleh bank, sedangkan tingkat bunga riil (real interes rate) adalah perbedaan antara tingkat bunga nominal dan tingkat inflasi. Jika i menyatakan tingkat bunga nominal, r adalah tingkat bunga riil, π adalah tingkat inflasi, maka hubungan diantara ketiga variabelini adalah (Mankiw, 2003) :

r = i - π

Tingkat suku bunga riil dengan inflasi terdapat hubungan negatif. Artinya jika terdapat kenaikan pada tingkat suku bunga riil, maka akan terjadi penurunan inflasi. Transmisinya adalah sebagai berikut :

r ↓ → π ↑

Terdapat berbagai macam tingkat suku bunga seperti tingkat suku bunga deposito berjangka, tingkat suku bunga internasional, tingkat suku bunga kredit, tingkat suku bunga instrumen pasar uang, tetapi pada dasarnya tingkat suku bunga dibedakan menjadi dua yaitu tingkat suku bunga nominal dan tingkat suku bunga riil. Di samping itu tingkat suku bunga juga

commit to user

dibedakan menurut jangka waktu yang terdiri dari tingkat suku bunga jangka pendek dan tingkat suku bunga jangka panjang.

(1) Fungsi-fungsi Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga mempunyai tiga fungsi pokok. Pertama, dapat memobilisasikan tabungan. Tingkat suku bunga merupakan harga yang mempengaruhi pemilihan antara konsumsi sekarang dan masa mendatang. Kondisi-kondisi di Indonesia memperlihatkan bahwa tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pemilihan bentuk kekayaan-kekayaan yang diwujudkan dengan tabungan. Kenaikan tingkat suku bunga menimbulkan substitusi dari aset-aset nyata yang tidak produktif yang digunakan sebagai usaha untuk menghindari inflasi kepada financial claims. Substitusi ini melepaskan sumber-sumber ekonomi untuk dapat digunakan pada usaha-usaha yang produktif.

Kedua, tingkat suku bunga merupakan suatu kebijaksanaan pendistribusian yang efisien terhadap alokasi sumber-sumber ekonomi yang langka antara berbagai alternatif investasi. Sebagai suatu pendistribusian, tingkat suku bunga memaksimumkan tingkat pengembalian rata-rata (the average return) dari suatu jumlah investasi tertentu.

Ketiga, tingkat suku bunga dapat memberikan suatu social discount rate kepada keputusan-keputusan untuk menabung dan untuk investasi. Dalam hal ini, tingkat suku bunga mempersamakan rencana untuk menabung dan untuk investasi. Dia akan bertindak sebagai a

commit to user

market clearing device, yang mempengaruhi pemilihan apa yang diproduksikan dan bagaimana cara memproduksi. Dia dapat juga menghindarkan teknik produksi yang padat modal terhadap sesuatu produk tertentu di negara-negara yang menghadapi kelangkaan modal. Di mana tenaga kerja adalah cukup banyak dan modal adalah langka, tingkat suku bunga dapat mendorong aktivitas-aktivitas wiraswasta kepada hal- hal dan teknologi yang sederhana, akan tetapi dengan pengembalian yang tinggi terhadap modal.

(2) Jenis Tingkat Suku Bunga

(a) Tingkat Suku Bunga Nominal dan Tingkat Bunga Riil

Tingkat suku bunga dibedakan menjadi tingkat suku bunga nominal (nominal rate of interest) dan tingkat suku bunga riil (real rate of interest). Tingkat suku bunga nominal adalah tingkat suku bunga yang berlaku di pasar uang. Tingkat suku bunga nominal sebenarnya merupakan penjumlahan unsur-unsur tingkat suku bunga yaitu :

dimana :

: tingkat suku bunga nominal : tingkat suku bunga riil : premi resiko

: biaya transaksi

commit to user

Tanda * dimaksudkan bahwa komponen tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor ekspektasi atau pengharapan. Sedangkan tingkat suku bunga riil adalah tingkat suku bunga nominal yang telah disesuaikan dengan laju inflasi yang terjadi pada periode yang sama. Jadi tingkat suku bunga riil merupakan selisih antara tingkat suku bunga nominal dengan laju inflasi sehingga diperoleh :

dimana :

: tingkat suku bunga riil : tingkat suku bunga nominal : laju inflasi

adalah simbol untuk laju inflasi yang benar-benar terjadi selama periode tersebut, sedangkan adalah untuk laju inflasi yang diharapkan terjadi selama periode yang sama (dan laju inflasi yang diharapkan ini menambah tingkat bunga sebagai unsur premi inflasi). Dapat juga didefinisikan sebagai berikut.

dimana :

: tingkat suku bunga riil yang diharapkan : tingkat suku bunga nominal

commit to user

atau actual real rate of interest menunjukan beberapa imbalan yang benar-benar diterima oleh kreditur (atau yang dibayar oleh debitur) untuk penggunaan dananya selama jangka waktu tertentu, apabila diukur sebagai daya beli atas barang dan jasa. Sedangkan atau expeted real rate of interest adalah imbalan (juga dinyatakan dalam jual belinya atas barang dan jasa) yang diharapkan diterima oleh kreditur atas penggunaan dana untuk jangka waktu tertentu. adalah yang diperkirakan diterima kreditur, sedang adalah kenyataanya yang diterima.

Dengan demikian adalah relevan dalam memutuskan apakah mereka akan mengadakan transaksi pinjam-meminjam atau tidak. Bagi kreditur, tingkat bunga riil merupakan imbalan riil bagi pengorbanannya untuk menyerahkan penggunaan uangnya untuk jangka waktu tertentu. Bagi debitur, tingkat bunga riil merupakan beban riil atas penggunaan uang orang lain.

(b)Tingkat Suku Bunga Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Perbedaan tingkat suku bunga untuk jangka waktu peminjaman merupakan hal yang sering dijumpai dalam praktek. Perbedaan tersebut dapat didaftar dari jangka waktu paling pendek sampai yang paling panjang. Daftar tersebut disebut sebagai struktur tingkat suku bunga menurut jangka waktu (Terms structure of interest rates). Apabila digambarkan sebagai berikut :

commit to user

Tingkat Suku Bunga

Per tahun (%) “Kurva Hasil”

(yield curve) Jangka Waktu Pinjaman Gambar 2.14. Kurva Hasil Sumber : Boediono, 1994:94

Ada tiga teori pokok mengenai struktur tingkat suku bunga menurut jangka waktu :

(a) Teori Liquidity Preference

Teori ini mengatakan bahwa kurva hasil selalu mempunyai slope positif artinya tingkat suku bunga per tahun untuk pinjaman berjangka waktu lebih lama selalu lebih besar daripada tingkat suku bunga per tahun untuk jangka waktu lebih pendek. Hal ini dapat terjadi karena dengan imbalan yang sama kreditur selalu mempunyai preference untuk memilih piutang yang lebih likuid. (b) Teori Kelompok Pasar (The Prefered Market Habitat Theory)

Teori ini mengatakan bahwa tingkat suku bunga yang berlaku bagi suatu kelompok pinjaman dengan jangka waktu tertentu ditentukan oleh permintaan dan penawaran untuk kelompok tersebut. Tingkat bunga untuk kelompok pinjaman dengan jangka waktu 1 bulan mungkin dapat lebih tinggi daripada kelompok 3 atau 6 bulan, tergantung dari kekuatan permintaan dan

commit to user

penawaran kelompok tersebut. Kurva hasil dapat mempunyai slope positif atau negatif. Masing-masing kelompok seakan-akan mempunyai pasar sendiri dan situasi pasar kelompok tersebut yang terutama menentukan tingkat suku bunga pada kelompoknya. Namun teori ini mengukur adanya hubungan antar pasar. Seberapa besar hubungan antar pasar tersebut tergantung pada hubungan substitusinya.

(c) Teori Klasik

Teori ini menekankan :

· Peranan harapan masyarakat atau expectation mengenai pola perkembangan tingkat suku bunga di masa mendatang dalam menentukan struktur tingkat suku bunga.

· Bahwa ada kelompok pasar seperti yang digambarkan oleh Teori Kelompok Pasar, tetapi antar kelompok yang satu dengan yang lain sangat ditentukan situasi pasar lain dengan kata lain hubungan substitusinya sangat dekat (Boediono, 1994 : 97) (c) Teori-teori Tingkat Suku Bunga

1) Teori Bunga Moneter

Teori Bunga Moneter terdiri dari Teori Bunga Klasik yang disebut juga Teori Loanable Funds, Teory Keynes yang disebut Teori Liquidity Preference, dan Teori Bunga Post Keynesian.

commit to user

Menurut Teori Klasik, tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga semakin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Pada tingkat bunga yang lebih tinggi masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan pengeluaran untuk konsumsi. Investasi juga merupakan fungsi dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga keinginan untuk melakukan investasi juga semakin kecil. Seorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya jika keuntungan yang diharapkan dari investasi lebih besar dari tingkat bunga yang harus dibayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos untuk penggunaan dana. Semakin rendah tingkat bunga, maka seorang pengusaha akan lebih terdorong untuk investasi karena biaya penggunaan dana juga semakin kecil.

Grafik keseimbangan tingkat bunga dapat digambarkan seperti dalam gambar 2.15. Keseimbangan tingkat bunga ada pada titik io, di mana jumlah tabungan sama dengan investasi. Apabila tingkat bunga di atas io, jumlah tabungan melebihi keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Para penabung akan saling bersaing untuk meminjamkan dananya dan persaingan ini akan menekan tingkat bunga turun kembali ke posisi io. Sebaliknya, apabila tingkat bunga di bawah io, para pengusaha akan saling bersaing untuk memperoleh dana yang

commit to user

relatif lebih kecil jumlahnya, persaingan ini akan mendorong tingkat bunga naik lagi ke io.

Tingkat bunga Tabungan i1 i0 investasi i investasi 0

S0 Jumlah Rupiah yang Ditabung

& Diinvestasikan

Gambar 2.15 Teori Klasik Tentang Tingkat Bunga Sumber : Nopirin, 1996

Kenaikan efisiensi produksi misalnya, akan mengakibatkan keuntungan yang diharapkan naik. Sehingga pada tingkat bunga yang sama pengusaha bersedia meminjam dana yang lebih besar untuk membiayai investasinya atau untuk dana investasi yang sama jumlahnya, pengusaha bersedia membayar tingkat bunga yang lebih tinggi. Keadaan ini dalam gambar di atas ditunjukkan dengan bergesernya kurva permintaan investasi ke kanan atas, dan keseimbangan tingkat bunga yang baru berada di titik i1 (Nopirin, 1996:70)

b) Teori Bunga Keynes

Teori Keynes, tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang. Uang menurut Keynes merupakan

commit to user

salah satu dari bentuk kekayaan yang dipunyai seseorang (portofolio) seperti halnya kekayaan dalam bentuk tabungan di bank, saham, atau surat berharga lainnya. Keputusan masyarakat mengenai bentuk komponen dari kekayaan mereka akan sangat menentukan tingginya tingkat bunga (Nopirin, 1996:90).

Keynes hanya membagi komponen kekayaan dalam dua bentuk, yakni uang kas dan surat berharga (obligasi). Kekayaan yang diwujudkan dalam bentuk uang kas mempunyai keuntungan berupa kemudahan dalam melakukan transaksi sebab uang kas merupakan alat pembayaran paling likuid. Likuidnya uang kas diukur dengan kecepatan menukar kekayaan dalam bentuk alat pembayaran tanpa adanya kerugian nilai. Bentuk kekayaan dalam uang kas tidak dapat memberikan penghasilan (misalnya berupa bunga). Sebaliknya kekayaan dalam bentuk surat berharga dapat naik turun tergantung dari tingkat bunga. Jadi bisa diartikan surat berharga mendatangkan pendapatan berupa bunga.

Keynes berpendapat bahwa ada tiga motif mengapa orang menghendaki memegang uang tunai, yaitu motif transaksi, motif berjagajaga dan motif spekulasi. Tiga motif inilah yang merupakan sumber timbulnya permintaan akan uang yang diberi nama liquidity preference. Preferensi atau keinginan untuk tetap

commit to user

likuid inilah yang membuat orang bersedia membayar dengan harga tertentu untuk penggunaan uang.

Liquidity preference tergantung dari tingkat bunga. Dalam gambar 2.16, sumbu horizontal menunjukkan jumlah dan permintaan uang sedangkan sumbu vertikal menunjukkan tingkat bunga. Permintaan uang mempunyai hubungan negatif dengan tingkat bunga, sesuai dengan gambar 2.16 dibawah ini apabila tingkat bunga tinggi maka masyarakat lebih suka menabung daripada memegang uang sehingga menyebabkan permintaan akan uang turun begitu juga sebaliknya.

Jumlah Uang (%)

Liquidity preference

Jumlah Uang dan Permintaan Uang

Gambar 2.16. Teori Keynes Tentang Tingkat Bunga Sumber : Nopirin, 1996:92

Permintaan uang mempunyai hubungan negatif dengan tingkat bunga yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

T in g k at B u ng a

commit to user

· Keynes menyatakan bahwa masyarakat yakin akan adanya tingkat bunga yang normal. Seandainya tingkat bunga turun di bawah tingkat bunga normal, semakin banyak orang yakin bahwa tingkat bunga akan kembali normal. Dan mereka akan memegang surat berharga pada waktu tingkat bunga naik. Hubungan ini disebut motif spekulasi permintaan uang kas sebab mereka melakukan spekulasi tentang harga surat berharga di masa yang akan datang.

· Berkaitan dengan ongkos memegang uang kas. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin tinggi pula ongkos memegang uang kas sehingga keinginan memegang uang kas juga semakin turun. Sebaliknya, jika tingkat bunga turun, berarti ongkos memegang uang kas juga semakin rendah sehingga permintaan akan uang kas naik.

· Bersama dengan uang beredar yang tetap (dengan anggapan

bahwa Jumlah Uang Beredar/JUB ini ditetapkan oleh pemerintah) permintaan uang ini akan menentukan tingkat bunga. Tingkat bunga dalam keseimbangan (req pada gambar di atas) apabila jumlah uang kas yang diminta sama dengan penawaran dalam hal ini JUB. Apabila pada suatu ketika tingkat bunga berada di bawah tingkat keseimbangan, masyarakat akan menginginkan uang kas lebih banyak dengan cara menjual uang kas yang dipegangnya. Usaha

commit to user

menjual surat berharga ini akan mendorong harganya turun yang berarti tingkat bunga naik sampai ke tingkat di mana masyarakat sudah puas dengan komposisi kekayaannya (permintaan sama dengan penawaran uang). Sebaliknya apabila tingkat bunga di atas tingkat keseimbangan, masyarakat akan menginginkan uang kas lebih sedikit dengan cara membeli surat berharga. Pembelian ini akan mengakibatkan naiknya harga surat berharga yang berarti tingkat bunga akan turun sampai keseimbangan tercapai kembali.

c) Teori Bunga Post Keynesian

Teori Mazhab Klasik menekankan bahwa bunga timbul karena uang adalah “produktif”, dalam arti bahwa dengan dana di tangan seorang pengusaha bisa menambah alat produksinya (modal) yang bisa menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Dengan perkataan lain, uang bisa meningkatkan produktifitas, dan karena adanya kenaikan produktifitas inilah orang mau membayar bunga.

Teori Mazhab Keynesian, uang bisa “produktif” dengan cara lain. Dengan uang tunai di tangan orang bisa berspekulasi di pasar surat berharga dengan kemungkinan memperoleh keuntungan. Dan karena adanya kemungkinan ini orang mau membayar bunga (Boediono, 1994 :83).

commit to user

Kedua pandangan tersebut saling melengkapi. Kaum Klasik memandang uang sebagai “dana investasi” (loanable funds) yang langsung dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan produksi barang dan jasa. Kaum Keynesian lebih menekankan sifat uang sebagai suatu “aktiva yang likuid” yang bisa digunakan untuk memanfaatkan kesempatan memperoleh keuntungan dari pasar surat berharga. Uang adalah sebenarnya dua-duanya, yaitu sebagai aktiva likuid dan sekaligus juga sebagai dana investasi. Tingkat bunga adalah “harga uang” yang timbul dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang sebagai suatu aktiva yang likuid.

Orang pertama yang menekankan bahwa suatu tingkat bunga bisa dikatakan benar-benar merupakan tingkat bunga keseimbangan (equilibrium interest rate) bagi suatu perekonomian apabila tingkat bunga tersebut memenuhi keseimbangan di pasar dana investasi (loanable funds) dan sekaligus keseimbangan di pasar uang (sebagai aktiva likuid) adalah ekonom terkemuka asal Inggris Sir John Hicks. Alat analisanya adalah kurva IS-LM yang terkenal itu. Pertama kita lihat kurva IS. Sesuai dengan teori Keynes, Hicks menyatakan bahwa tabungan tidak hanya ditentukan oleh tingkat bunga, tetapi juga oleh tingkat pendapatan (marginal propensity to

commit to user

save) yang artinya tabungan akan naik apabila tingkat pendapatan nasional naik.

(Tingkat Bunga)

R LM

Rm

IS

0 Ye Y (Pendapatan Nasional)

Gambar 2.17 Tingkat Bunga Keseimbangan Hicks Sumber : Boediono, 1994:85

Pendapatan nasional naik apabila investasi naik, dan investasi cenderung naik apabila tingkat bunga turun. Dari interaksi antara semua ini bisa diturunkan kurva IS (gambar 2.17) yang menunjukkan tingkat bunga keseimbangan di pasar dana investasi (loanable funds) pada setiap tingkat pendapatan nasional (Y). Sedangkan kurva LM menunjukkan tingkat bunga keseimbangan yang terjadi di pasar uang (sebagai aktiva likuid) pada setiap tingkat pendapatan nasional.

commit to user

Jadi tingkat bunga keseismbangan yang sesungguhnya, menurut sintesis Hicks, adalah tingkat bunga yang merupakan tingkat bunga keseimbangan di pasar dana investasi dan sekaligus merupakan tingkat bunga keseimbangan di pasar uang. 2) Teori Paritas Tingkat Bunga

Kenyataannya tidak ada satupun negara yang benar-benar menggunakan sistem perekonomian tertutup. Tentu ada perbedaan- perbedaan dalam derajat keterbukaan suatu negara. Namun kiranya jelas bahwa adanya hubungan dengan luar negeri mempunyai pengaruh terhadap perkembangan tingkat bunga di dalam negeri (Boediono, 1994 : 101).

Teori Paritas Tingkat Bunga adalah suatu teori yang penting mengenai penentuan tingkat bunga dalam sistem devisa bebas (yaitu apabila penduduk masing-masing negara bebas memperjualbelikan devisa). Teori ini pada pokoknya menyatakan bahwa :

“Dalam sistem devisa bebas tingkat bunga di negara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain, setelah diperhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang negara yang satu terhadap mata uang negara yang lain”

Atau secara Aljabar,

commit to user

= tingkat bunga (nominal) di dalam negeri = tingkat bunga (nominal) di luar negeri

= laju depresiasi mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yang diperkirakan akan terjadi

b. Jumlah Uang Beredar (1) Definisi Uang

Uang adalah sesuatu yang umum diterima di dalam pembayaran untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta utnuk pembayaran utang-utang. Dan juga sering dipandang sebagai kekayaan yang dimilikinya yang dapat digunakan untuk membayar sejumlah tertentu uang dengan kepastian dan tanpa penundaan.

(2) Konsep Jumlah Uang Beredar

Jumlah uang beredar adalah seluruh uang kartal ditambah uang giral. Uang kartal adalah uang tunai yang dikeluarkan oleh Bank Sentral yang dalam penggunaanya langsung dibawah masyarakat. Sementara uang giral adalah seluruh nilai saldo rekening koran (giro) yang dimiliki oleh masyarakat pada bank-bank umum (Boediono, 1993:86).

Jumlah uang beredar pada suatu saat adalah penjumlahan dari uang kartal ditambah uang giral. Dalam kepustakaan ekonomi moneter

commit to user

rumus ini menyatakan uang beredar dalam arti sempit (narrow money). Dan dirumuskan sebagai berikut:

M1 = K + D

dimana :

M1 = Uang beredar dalam arti sempit (narrow money) K = Uang kartal (currency)

D = Uang giral (demand deposit)

Pengertian uang beredar dalam arti luas yang lain adalah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) ditambah uang kuasi (quasy money). Uang kuasi adalah sesuatu yang mendekati ciri uang termasuk deposito dan tabungan. Hal diatas disebut dengan uang beredar dalam arti luas (broad money) dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

M2 = M1 + T

dimana :

M2 = Uang beredar dalam arti luas (broad money) M1 = Uang beredar dalam arti sempit (narrow money)

T = Saldo deposito berjangka dan tabungan milik masyarakat pada bank

Narrow money dan broad money berkembang sejalan satu sama lain dalam keadaan normal sehingga salah satu dapat digunakan untuk melakukan analisis moneter. Namun dalam keadaan tertentu narrow money mungkin tidak berkembang sejalan dengan perkembangan broad money seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1970-an. Pada

commit to user

waktu itu broad money meningkat lebih cepat dari pada narrow money karenakenaikan yang mencolok dari deposito berjangka di bank-bank. Hal ini disebabkan beberapa faktor, sperti adanya aliran uang masuk dari luar negeri karena tingkat bunga deposito di Indonesia sangat tinggi. Perubahan kepercayaan masyarakat terhadap nilai uang dapat juga mempengaruhi masing-masing konsep uang beredar secara berbeda.

Salah satu faktor penting yang menentukan jumlah uang kartal dan uang giral adalah uang inti atau reserve money. Uang inti atau base money atau high powered money adalah saldo rekening koran (giro) milik bank-bank umum atau masyarakat pada Bank Indonesia ditambah dengan uang tunai yang dipegang baik bank-bank umum. Uang inti dirumuskan sebagai berikut (Boediono, 1993) :

B = K + R B = Uang inti

K = Uang kartal

R = Cadangan (reserve) bank-bank umum berupa uang tunai dan saldo rekening koran pada Bank Indonesia

Saldo rekening koran milik masyarakat umum (maupun milik bank lain) pada suatu bank umum bukan merupakan uang inti. Gambar dibawah ini akan memperjelas hubungan antara uang inti, uang kartal, uang giral dan cadangan bank.

c. Produk Domestik Bruto

commit to user

Produk Domestik Bruto (PDB) diartikan sebagai nilai barang- barang dan jasa-jasa yang diproduksi di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu (Sadono Sukirno, 1998:33)

Produk domestik bruto (GDP) adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu (Mankiw, 2007:19)

(2) PDB Nominal dan PDB Riil

Perhitungan pendapatan nasional yang didasarkan pada nilai pasar barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam tahun tertentu. Gross domesti product mengukur nilai output atas dasar dolar tahun yang bersangkutan, yaitu nilai dolar pada saat output diproduksi. Bila GDP didasarkan pada dolar tahun yang bersangkutan, maka perhitungan pendapatan nasional mengukru nilai nominal dari output nasional. Sehingga GDP atas dasar dolar tahun yang bersangkutan, atau GDP nominal, didasarkan harga yang terjadi pada saat output diproduksi.

GDP Riil, yaitu GDP yang telah disesuaikan terhadap perubahan

Dokumen terkait