• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Bagan 3.1 Desain Penelitian Tindakan Kelas

3.5 Instrumen Penelitian

Setelah perangkat disusun, maka soal tersebut diujicobakan dan hasilnya dicatat. Sehingga akan diperoleh tingkat validitas dan reliabilitasnya serta memenuhi indeks kesukaran dan daya beda soal atau tidak.

a.Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrument. Suatu instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud (Arikunto, 2006:168). Sedangkan batasan validitas menurut Sugiyono (2007: 363) dikatakan bahwa validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek

penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Jadi dari kedua pendapat itu jelas batasan validitas adalah berkenaan dengan derajat ketepatan, antara data obyek sebenarnya dengan data penelitian.

Berdasarkan pendapat Arikunto di atas (1999:65-66) maka validitas ada 2 macam, yaitu validitas logis dan validitas empiris.

a) Validitas logis. Istilah validitas logis berasal dari kata logic yang berarti penalaran. Dengan demikian validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi menunjukan kondisi untuk sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan validitas berdasarkan hasil penelitian.

b)Validitas empiris. Kata empiris mengandung arti pengalaman. Instrumen penelitian dikatakan telah memenuhi validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Lebih lanjut validitas logis dan validitas empiris dijabarkan lagi masing-masing menjadi dua validitas, yakni: validitas isi, validitas konstruksi, dan validitas empiris, serta validitas prediksi (Arikunto, 1999:64).

(1)Validitas isi (curriculum validity). Sebuah tes telah memiliki validitas isi apabila telah mampu mengukur tujuan khusus yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran.

(2)Validitas konstruksi (contruct validity). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khususnya.

(3)Validitas empiris (concurrent validity)

Validitas ini lebih dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan valid jika hasilnya sesuai dengan pengalaman.

(4)Validitas prediksi (predictive validity)

Memprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu akan mengetahui hal yang akan datang, jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes memiliki validitas prediksi jika mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Dalam perangkat tes ini digunakan perhitungan validitas konstruksi (contruct validity), karena peneliti ingin mengetahui valid dan tidaknya instrument atas dasar kevalidan setiap butir soal sehingga instrument nantinya dapat digunakan secara efektif dalam bentuk pengujian tes belajar yang mengukur aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berhubungan dengan hasil belajar siswa. Untuk menghitung validitas dalam penelitian ini digunakan rumus berikut. Rumusnya: Ypbl = q p S M M t t p -Keterangan:

Ypbl = Koefisien korelasi biserial

Mp = Rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya

Mt = Rerata skor total

St = Standar deviasi dari skor total p = Proporsi siswa yang menjawab benar

p = siswa seluruh Jumlah benar menjawab yang siswa Banyaknya

c. Indeks Kesukaran

Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0 (Arikunto, 2006:207)

Untuk mencari indeks kesukaran dalam penelitian ini digunakan rumus sebagai berikut:

Rumus: Keterangan:

P : Taraf kesukaran

B : Banyaknya siswa yang menjawab benar JS: Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria:

(Arikunto, 2006 : 208&210) d.Daya Beda Soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah) (Arikunto, 2006:211). Indeks deskriminasi ini berkisar

JS B P= No Interval P Kriteria 1 0,00 P 0,30 Sukar 2 0,30 < P 0,70 Sedang 3 0,70 < P 1,00 Mudah £ £ £ £

antara 0,00 sampai 1,00. Untuk menghitung daya pembeda dari alat yang diukur, maka digunakanlah rumus sebagai berikut:

Keterangan :

DP = Daya pembeda

JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah

BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Kriteria: No Interval DP Kriteria 1 0,00 DP 0,40 Cukup 2 0,40 < DP 0,70 Baik 3 0,70 < DP 1,00 Baik sekali

DP negatif soal harus diperbaiki (Arikunto, 2006: 213&218). e. Metode Observasi

Metode observasi adalah kegiatan memperhatikan obyek dengan menggunakan seluruh indera atau disebut pengamatan langsung. Metode ini

£ £ PB PA JB BB JA BA DP= - =

-digunakan untuk mengukur indikator kerja, sikap siswa selama pembelajaran berlangsung, kerjasama dan faktor-faktor yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum dimulainya penelitian tindakan berikutnya.

f. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan cara pengambilan data yang bersumber pada dokumen atau data tertulis meliputi daftar nama siswa, daftar nilai siswa, rencana pembelajaran, serta catatan yang relevan dengan kebutuhan penelitian. g.Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif persentase. Data yang dianalisis meliputi rata-rata kelas, ketuntasan belajar individu, dan ketuntasan belajar klasikal. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa yang diperoleh dari setiap siklus.

a. Rata-Rata Kelas

Untuk menghitung rata-rata kelas pada setiap siklus digunakan rumus: x = N x S Keterangan: x = Nilai rerata

b. Ketuntasan Belajar Individu

Untuk menghitung ketuntasan belajar secara individu digunakan rumus: % 100 x seluruhnya jumlahsoal gbenar bansoalyan jumlahjawa Individu Ketuntasan = (Usman, 1993: 138) c. Kentutasan Belajar Klasikal

Nilai evaluasi diperoleh setelah dilakukan tindakan kelas, kemudian dianalisis untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar. Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dihitung menggunakan rumus:

% 100 x kuti ayangmengi jumlahsisw sbelajar ayangtunta jumlahsisw Klasikal Ketuntasan = (Mulyasa, 2003 : 102) Kriteria Pengujian:

Ho diterima apabila t < t(1-a)(n-1) , hal ini berarti ada peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan CD Pembelajaran TIK khususnya materi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) pengenalan komputer siswa kelas VII di SLTP Negeri 1 Pangkah kec. Pangkah Kab. Tegal.

Teknik perhitungan analisis data menggunakan komputer dengan program SPSS. Hasil penghitungan nilai siswa dari masing-masing tes ini kemudian dibandingkan antara hasil tes siklus I dan hasil tes siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai kemampuan siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I dan Siklus III lebih besar dari siklus II dan dapat mengetahui presentase peningkatan hasil belajar siswa pada pokok bahasan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) pengenalan komputer dengan memanfaatkan CD

Pembelajaran TIK dan dapat mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran tersebut pada siswa maupun guru.

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait