• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

C. Saran

Hal-hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi Guru

Strategi estafet writing dapat digunakan sebagai alternatif strategi pembelajaran menulis cerpen, sehingga siswa tidak mudah bosan dan lebih termotivasi mengikuti pembelajaran. Selain itu, pembelajaran dapat berlangsung menyenagkan dan siswa jauh lebih aktif ketika menggunakan strategi estafet writing. Hasil belajar siswa akan meningkat terutama dalam menulis cerpen.

2. Bagi Sekolah

Perlu adanya hubungan yang baik antara peneliti dan pihak sekolah selama proses penelitian. Selain itu, perlu adanya pengasawasan dan pengecekan secara berkala terhadap fasilitas elektronik di dalam kelas seperti kabel LCD, ataupun LCD, untuk menghindari kerusakan teknis agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih baik dan maksimal.

3. Bagi Peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih banyak, serta uji coba atau perlakuan yang lebih banyak agar dapat mengetahui seberapa besar manfaat strategi estafet writing. Perhatikan juga menejemen waktu dan kelas ketika menggunakan strategi ini agar lebih maksimal hasilnya.

84

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pengantar Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: P.T Rajagrafindo Persada. Cahyono, A. 2011. Pembelajaran Menulis Sastra dengan Metode Estafet Writing

di SMA. http://risecahyono.blogspot.com. Diakses pada tanggal 20 Februari 2016.

Fishman, Roland. 2010. Menulis Itu Genius, Nasihat-Nasihat Kreatif Buat Para Calon Penulis Top.Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Jauhari, Heri. 2013. Terampil Mengarang dari Persiapan Hingga Presentasi, dari Karangan Ilmiah Hingga Sastra. Bandung: Nuansa Cendekia.

Keraf, Gorys. 2004. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. NTT: Nusa Indah.

Khotimah, Khusnul. 2016. Efektivitas Metode Picture and Picture dengan Metode Estafet Writing dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas 3 MIN Malang. Tesis. Program Megister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.

Mahanani, Anjani Yekti. 2015. Peningkatan Keterampilan Memproduksi Teks Pantun Secara Tulis dengan Metode Tulis Berantai Melalui Media Kartu Pintar pada Peserta Didik Kelas XI Teknik Sepeda Motor SMK Negeri 10 Semarang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. FBS. UNNES.

Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

_________________. 2014. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE.

Nurgiyantoro, Gunawan, dan Marzuki. 2012. Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Roestiyah, N.K. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Rosaliana, Praeska Andre. 2014. Keefektifan Metode Estafet Writing dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Bahasa Jerman Peserta Didik

Kelas XI di SMA Negeri 1 Sedayu Bantul. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. FBS. UNY

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

__________________. 2009. Modul Penulisan Fiksi. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, cv.

Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suryaman, Maman. 2012. Metodologi Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: UNY Press.

Syathariah. Sitti. 2009. Menulis Berantai Sebagai Metode Inovatif dalam Pembelajaran Menulis Cerpen di SMA Cendana Pekanbaru. Dalam jurnal.http//isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/search.html.Diakses pada tanggal 20 Februari 2016.

_______________. 2011. Estafet Writing Solusi dalam Menulis Cerpen Bagi Siswa SMA/MA. Yogyakarta: Leutika Prio.

Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Wulandari, Tri. 2012. Peningkatan Motivasi dan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Penerapan Metode Menulis Berantai (estafet Writing) pada Siswa Sekolah Menengah Atas. dalam BASASTRA Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya volume 1 nomer 1, April 2012.

LAMPIRAN 1

Instrumen Penelitian 1a. RPP 1b. Validasi Instrumen 1c. Soal 1d. Uji Reliabilitas

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) KELOMPOK KONTROL

Sekolah : SMP Negeri 4 Wates Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/ Semester : IX/ 1

Keterampilan : Menulis Alokasi Waktu : 6 x 40 menit Pertemuan Ketiga : 2 x 40 menit

Karakter : Kreatif, berpikir logis, dan bertanggung jawab A. Standar Kompetensi

8. Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam cerita pendek

B. Kompetensi Dasar

8.2 Menulis cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami C. Indikator

1. Peserta didik mampu mendata peristiwa-peristiwa yang dialami

2. Peserta didik mampu menentukan konflik yang ada dalam peristiwa yang dipilih

3. Peserta didik mampu menentukan alur cerita

4. Peserta didik mampu menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang dialami

5. Peserta didik mampu menyunting cerita pendek D. Tujuan

Setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung, peserta didik menulis cerpen bertolak dari peristiwa yang pernah dialami

E. Materi ajar

1. Struktur Cerpen

Syathariah (2011 :23-24) menjelaskan bahwa struktur cerpen terdapat enam tahap yaitu permulaan, pertikaian, perumitan, klimaks, peleraian, akhir.

1) Tahap permulaan, berisi perkenalan tokoh, tempat, memperkenalkan peristiwa yang akan terjadi.

2) Tahap pertikaian, berisi muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, pandangan yang saling bertentangan antar tokoh. Dalam tahap ini suasana emosional semakin memanas karena tokoh dalam cerita mulai terlibat konflik.

3) Tahap perumitan, berisi suasana yang semakin panas karenan konflik sudah mendekati puncaknya. Dalam bagian ini disajikan peristiwa yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan atau kesukaran yang dialami tokoh.

4) Tahap klimaks, pada tahap ini peristiwa yang terjadi dalam cerita berfungsi sebagai pengubah nasib para tokoh. Bagian ini adalah bagian yang paling mendebarkan.

5) Tahap peleraian, pada tahap ini ketegangan emosional mulai menurun, suasana panas dikembalikan pada keadaan semula sebelum timbul konflik.

6) Tahap akhir, pada tahap ini berisi tentang ketentuan final dari konflik, dan merupakan kesimpulan dari segala permasalahan yang muncul dari dalam cerita.

2. Menulis cerpen

Tahap-tahap menulis cerpen dilakukan dengan cara sebagai berikut. Sumardjo (1997: 69-73) menjelaskan bahwa proses menulis terdiri dari lima tahapan, mulai dari persiapan, inkubasi, inspirasi, penulisan, dan revisi. Pertama, adalah tahap persiapan. Dalam tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang akan dia tulis dan bagaimana ia menuliskannya. Kedua, tahap inkubasi. Pada tahap ini gagasan yang telah muncul disimpannya dan dipikirkannya matang-matang dan ditunggunya waktu yang tepat untuk menuliskannya. Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat “Eureka” yakni saat yang tiba-tiba seluruh gagasan menemukan bentuknya yang amat ideal.

Keempat, tahap penulisan. Tahap ini adalah tahap pengeluaran hasil inkubasi yang telah dilakukan, dalam tahap ini semua ide dan gagasan yang diperoleh dari pertama hingga empat dituangkan dalam tulisan. Kelima, revisi. Pada tahap terakhir ini adalah tahap dimana tulisan yang sudah berhasil dibuat kemudian dinilai dan diperiksa berdasarkan pengetahuan serta apresiasi yang dimiliki penulis. Dalam tahap ini terjadi penambahan dan pengurangan tulisan yang dianggap perlu dan tidak perlu, selain itu dalam tahap ini juga terjadi pemindahan tulisan yang dianggap kurang tepat sehingga bentuk akhirnya mendekati bentuk tulisan yang ideal. Di sinilah tahap disiplin diri penulis diuji karena harus mengulangi menuliskannya kembali. Terakhir jika tulisan dirasa sudah ideal selanjutnya adalah tahap kritik dan saran sebagai bahan penilaian dari orang lain yang telah membaca tulisan penulis.

1) Tahap Menemukan dan Menuangkan Ide Tulisan

Dalam menuangkan ide penulis harus memiliki referensi dari berbagai hal, baik membaca, melihat, atau merasakan. Penulis harus memiliki pengetahuam tentang informasi yang luas agar memiliki banyak ide dalam menulis cerpen, pengetahuan itu dapat diperoleh dari membaca koran, majalah atau buku. Selain itu harus ditopang oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulis agar penulis lebih peka dan tulisan yang dihasilkan sesuai dengan kehidupan manusia sekarang. Menggali ide dari realita kehidupan bagi seorang penulis merupakan sarana untuk melatih kepekaan (Sayuti, 2009 : 21).

Pertama, tahap pramenulis. Di sini harus menggali ide, memilih ide, dan menyiapkan bahan tulisan. Kedua, tahap menulis draf. Tahap menulis draf adalah tahap menulis ide-ide kedalam bentuk tulisan yang kasar sebelum ditulis ulang dalam bentuk tulisan jadi. Ketiga, tahap merevisi. Tahap merevisi adalah tahap memperbaiki atau menambahkan ide-ide baru dalam karya penulis. Keempat, tahap menyunting. Tahap menyunting adalah tahap memperbaiki kesalahan pada aspek kebahasaan dan mekanik yang lain seperti kesalahan menulis huruf, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, dan kosakata.

2) Mengembangkan Alur Cerita

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan sebab akibat. Peristiwa itu saling berhubungan maka jika tidak ada peristiwa satu peristiwa lain tidak akan terjadi (Sayuti, 2009 : 47). Pengembangan alur tidak semudah yang dibayangkan, untuk mempermudah mengembangkan alur ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

a) Konflik harus tergarap dengan baik

Konflik yang tidak tegarap dengan baik tampak pada pengembangan alur cerita yang tidak selesai atau terlalu singkat. Tidak selesai maksudnya adalah penulis memaparkan cerita-cerita tetapi tidak sampai pada klimaks, cerita sudah diakhiri.

b) Struktur cerita harus proporsional

Beberapa kemungkinan ketidakproporsionalan struktur cerita tampak pada masalah panjang cerita dan pembuka cerita. Oleh karena itu, penulis tidak berbelit-belit dalam menulis agar tidak semakin mempersempit ruang cerita.

c) Akhir cerita tidak klise atau tidak mudah tertebak

Akhir cerita hendaknya tidak mudah ditebak oleh pembaca, untuk memeroleh hal itu penulis harus lebih banyak berlatih sebab hal itu tidak mudah dilakukan. Akhir cerita yang mudah ditebak berawal dari ide cerita yang monoton sehingga jalan cerita mudah ditebak oleh pembaca.

3) Mengembangkan Tokoh Cerita

Dilihat dari sifatnya tokoh dibagi mejadi tokoh protagonis (baik) antagonis (buruk). Dilihat dari keterlibatan dalam cerita ada tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang paling sering mencul dan paling banyak berhubungan dengan tokoh lain. Sayuti ( 2009 : 58) memaparkan rambu-rambu pengembangan tokoh cerita.

a) Penggambaran tokoh secara hidup (tidak datar)

Penggambaran tokoh tidak hanya digambarkan berdasarkan nama, bentuk fisik, pekerjaan dalam cerita. Tokoh dalam cerita harus memiliki karakter yang jelas.

b) Penggambaran tokoh bervariasi

Penokohan secara langsung menjadikan cerita tampak datar, membosankan, dan menyebabkan karakter tokoh tidak kuat. Keberhasilah penulis dalam memunculkan karakter yang kuat pada tokohnya akan membuat tokoh cerita menjadi hidup sehingga keterikatan tokoh dengan pembaca dapat terjalin baik.

c) Tokoh yang dimunculkan harus memiliki sumbangan bagi pengembangan cerita

Penulis memunculkan banyak tokoh tetapi tokoh tersebut tidak memiliki sumbangan dalam pengembangan cerita, hal ini menyebabkan cerita menjadi kedodoran, jalan cerita dan panjang tulisannya pendek tetapi tokoh yang disajikan terlalu banyak.

4) Menggambarkan Latar Cerita

Latar cerita merupakan unsur fiksi yang mengacu pada tempat, waktu, dan kondisi sosial cerita itu terjadi. Sayuti (2009 : 71) rambu-rambu pengembangan latar cerita adalah sebagai berikut.

a) Latar tergarap dengan baik

Latar seringkali disebutkan sebagai nama, misal di kampung, di malam hari, atau pada keluarga miskin, tidak dimanfaaatkan untuk membangun cerita. Selain itu, latar tidak digambarkan secara detail yang mengakibatkan penggambaran dalam cerita kurang mendalam.

b) Diksi dan Bahasa dalam Fiksi.

Bahasa dalam fiksi lebih banyak mengandung makna konotatif. Namun, terdapat perbedaan antara puisi dan cerpen. Dalam puisi bahasa konotatif lebih banyak sedangkan dalam cerpen selain bahasa konotatif ada juga bahasa denotatif. Bahasa seperti itu dalam fiksi mengakibatkan munculnya emosi bagi pembacanya. Diksi juga diperlukan dalam menulis cerita agar menjadi menarik. Pemilihan diksi yang tepat akan membantu pembaca masuk dalam cerita sehingga dapat menikmati cerita secara langsung dan penghayatan cerita lebih mudah dicapai.

F. Metode pembelajaran

1. Tanya jawab digunakan untuk mengajukan pertanyaan apersepsi dan penyampaian materi.

2. Pemodelan digunakan untuk memberikan contoh pada peserta didik dalam mengerjakan tugas

4. Diskusi digunakan untuk membahas unsur intrinsik dalam cerpen, untuk membahas peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerpen, membahas struktur cerpen, dan tahap-tahap dalam menulis cerpen.

G. Kegiatan pembelajaran  Pendahuluan (5 menit)

1. Pendidik mengucapkan salam

2. Peserta didik berdoa bersama untuk memulai pelajaran 3. Pendidik menanyakan kabar kepada peserta didik 4. Pendidik mempresensi peserta didik

5. Pendidik mengajukan pertanyaan apersepsi tentang menulis cerpen a. Apakah kalian pernah melakukan kegiatan menulis karya sastra? b. Apa sajakah langkah-langkah yang harus kalian lakukan sebelum

menulis cerpen?

6. Pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari

7. Pendidik menyampaikan motivasi  Kegiatan inti (65 menit)

a. Eksplorasi

1. Peserta didik secara individu mendata peristiwa yang pernah dialami 2. Peserta didik memilih salah satu peristiwa yang paling mengesankan 3. Peserta didik merancang konflik berkaitan dengan cerita tersebut 4. Peserta didik dan pendidik bertanya jawab tentang rancangan konflik

dikaitkan dengan pengalaman hidupnya

5. Peserta didik membuat kerangka cerpen berdasarkan peristiwa yang mereka alami

b. Elaborasi

1. Peserta didik mempresentasikan kerangka cerpen yang mereka buat secara individu

2. Peserta didik menanggapi kerangka cerpen hasil peserta didik lain c. Konfirmasi

1. Pendidik memberi kesempatan peserta didik apabila ada yang belum jelas atau mengalami kesulitan dalam menulis cepen

2. Pendidik meminta peserta didik untuk mengembangkan kerangka yang mereka buat menjadi sebuah cerpen

 Penutup (10 menit)

1. Pendidik menanyakan tentang kesulitan-kesulitan yang di alami siswa selama menulis cerpen.

2. Pendidik memberikan gambaran singkat untuk tugas pertemuan berikutnya tentang menulis cerpen.

3. Pendidik mengakhiri pembelajaran dengan memimpin doa dan mengucapkan salam.

H. Media dan sumber belajar 1. Power point

2. Sumber belajar

Nurgiyantoro, Burhan.2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Sumardjo, Jakob. 1997. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

I. Penilaian

a. Teknik : Tes tertulis b. Bentuk Instrumen : Tes uraian

Penugasa Terstruktur Pertanyaan:

c. Soal menulis cerpen

1. Tulislah tiga peristiwa-peristiwa yang menarik yang pernah kalian alami !

2. Pilih salah satu untuk dijadikan tema cerpen kalian!

3. Buatlah kerangka cerpen pendahuluan, isi, dan penutup dari salah satu peristiwa yang kalian pilih menjadi tema cerpen!

d. Pedoman Penilaian

NO. Kriteria Nilai

1. Mampu menyebutkan semua peristiwa

3 2. Mampu menyebutkan dua

peristiwa

2 3. Mampu menyebutkan satu

peristiwa

1 4. Memilih salah satu peristiwa

menjadi tema cerpen

3

5. Tidak memilih Peristiwa -

6. Membuat bagian kerangka cerpen pendahuluan, isi, penutup

4

7. Membuat 2 bagian kerangka 2

8. Membuat satu bagian kerangka 1 Nilai maksimal 10 X 10 =100

Tabel 5: Pedoman Penilaian Teks Cerita Pendek

Aspek Kriteria Indikator Skor

IS

I

Isi tulisan apabila memenuhi kriteria:

1. kebaruan ide 2. kreatif dalam

mengembangkan ide sesuai tema cerita

3. kesesuaian tema

Teks cerpen yang baik memenuhi 3 kriteria

23-30 Teks cerpen yang cukup baik

memenuhi 2 kriteria

14-22 Teks cerpen yang kurang baik hanya

memenuhi 1 kriteria

8-13

ORGANIS

ASI

Organisasi tulisan yang baik harus memenuhi kriteria:

1. menampilkan fakta cerita (alur, tokoh, latar, dan amanat)

2. menampilkan sarana cerita (judul, sudut pandang, tema, gaya&nanda)

3. unsur cerita ditulis padu

Teks cerpen yang baik memenuhi 3 kriteria

16-20 Teks crpen yang cukup baik

memenuhi 2 kriteria

11-15 Teks cerpen yang kurang baik

memenuhi 1 kriteria

6-10

KO

S

AKATA

Kosakata yang baik apabila memenuhi kriteria:

1. paragraf padu

2. pilihan kata tepat dan komunikatif

3. penempatan kata penghubung tepat

Teks cerpen yang baik memenuhi 3 kriteria

16-20 Teks cerpen yang cukup baik

memenuhi 2 kriteria

11-15 Teks cerpen yang kurang baik

memenuhi 1 kriteria 6-10 PENGG UN AA N B AHASA

Penggunaan bahasa yang baik apabila memenuhi kriteria:

1. penggunaan kalimat efektif 2. penggunaan bahasa yang

benar (urutan kata, artikel, preposisi, pronomina) 3. makna kalimat jelas, tidak

ambigu

Teks cerpen yang baik memenuhi 3 kriteria

13-15 Teks cerpen yang baik cukup

memenuhi 2 kriteria

10-12 Teks cerpen yang kurang baik

memenuhi 1 kriteria

7-9

M

E

KANIK

Secara mekanis tulisan peserta didik baik apabila memenuhi kriteria:

1. penulisan ejaan tepat 2. penggunaan tanda baca

sesuai

3. tulisan tangan rapi dan dapat dibaca

Teks cerpen yang baik memenuhi 3 kriteria

13-15 Teks cerpen yang cukup baik

memenuhi 2 kriteria

10-12 Teks cepen yang kurang baik

memenuhi 1 kriteria

7-9

Bacalah cerpen di bawah ini!

Gigi Ompong 30 Juli 2016

Seperti biasa, setiap pagi aku harus bersiap-siap ke sekolah. Aku dan temanku Lian namanya. Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki sekitar 10 menit lamanya dengan kecepatan rata-rata. Setiap di jalan, aku terkesima dengan seorang anak yang selalu berjalan terburu-buru yang jalan itu berbalik arah dengan aku dan Lian. Anak itu tak pernah tersenyum, sama sekali. Boro-boro tersenyum, bahkan melirik pun tidak. Sampai aku heran mengapa pagi-pagi begini dia sudah cemberut, persis seperti wajah Squidward yang marah karena selalu diganggu spongebob.

Sampai akhirnya suatu pagi aku memutuskan untuk berani menyapa anak

itu, “Hay..” kataku. Tapi dia memasang muka menyeramkan seperti Raja

Neptunus yang sedang marah karena mahkotanya hilang. Aku tak peduli, aku tetap memasang senyum lebar padanya. Dan akhirnya, sepertinya kami mulai akrab -atau tidak, itu hanya khayalku yang terlalu terpikirkan oleh wajah apatis anak itu.

Hari demi hari, aku semakin kesal. Setiap pagi kupancing anak itu untuk berbalik menyapaku atau setidaknya tersenyum hasilnya selalu saja NIHIL. Akhirnya aku dan Lian memutuskan untuk tidak mempedulikan anak itu lagi. Semuanya barjalan biasa-biasa saja. Anak itu pun masih seperti biasa, tak mau tersenyum.

Suatu pagi, aku harus terburu-buru meminta surat izin kepada guru piket, karena teman sekelasku ada yang tidak masuk sekolah. Aku berangkat sendiri karena Lian masih bersiap-siap. Aku berjalan menunduk melihat ke arah pasir-pasir yang kuinjak. Sampai di tengah jalan agaknya aku medengar seseorang menyapaku.

“Hey…”sapanya.

“Hah?” cengakku. dia tersenyum tipis padaku.

Aku menatapnya sejenak, namun langsung kutundukkan lagi. Aku mengingat-ingat siapa dia. Dan aku teringat nampaknya wajah itu bukan wajah

asing bagiku.

Dan seketika aku teringat yang tadi menyapa adalah anak apatis itu. Aku berjalan dengan membawa hati yang kesal, mengapa aku mengabaikan sapaannya setelah selama ini aku menunggu-nunggu untuk moment ini.

Masih seperti pagi yang biasa, seragam yang biasa, jalan yang biasa dan sekolah yang biasa. Aku dan Lian pun berjalan seperti biasa, berjalan biasa-biasa saja dengan kecepatan yang biasa karena hari ini hari biasa. Hari ini seperti pada umumnya, setelah 7 hari berlalu, kembali dengan hari yang pertama, jam yang

biasa. Mungkin yang sedikit berbeda adalah pembicaraan tentang anak “apatis”

itu. Aku, Lian dan anak apatis itu seprtinya sekarang mulai akrab. Semenjak kejadian pagi itu yang kuceritakan terang-terangan kepada Lian.

Aku dan Lian tak segan-segan memaparkan senyum selebar-lebarnya kepada anak itu setiap pagi. Lian senang karena akhirnya kami berdua berhasil

membuat anak apatis itu “tersenyum”. Senyumnya amat cantik, lesungnya

manis. Kesantunanya dengan menundukkan wajahnya yang tajam itu membuat aku gembira melihatnya. Benar benar cantik.

Hari demi hari, kami bertiga semakin akrab. Tapi, rasa-rasanya masih ada yang kurang di antara kami. Aku dan Lian belum pernah mengobrol dengan anak apatis itu, Demikianlah masalahnya. Aku berfikir kalimat apa yang akan aku gunakan untuk membuka pembicaraanku dengan anak apatis itu. Apa aku harus bertanya alamat rumahya? Apa aku harus bertanya umurnya berapa? Atau aku harus bertanya diamana dia sekolah? Ah masih bingung.

Pagi itu, aku berjalan santai setelah aku memakai sepatu prolexus-ku. Aku dan Lian berjalan beriringan. Aku bercerita kepada Lian mengenai ideku

tentang “mengobrol dengan anak apatis itu”, Lian pun setuju. Siap-siap kutarik

nafas kencang-kencang dan memasang wajah paling cakap agar tak terlihat gugup. Setelah kulihat dia berjalan mendekati kami, aku membuka pembicaraan,

“Emm.. kamu kelas berapa?” tanyaku. “Iya kak?” dia balik bertanya.

“Aku kelas 6 SD kak”, sambungnya.

“Aku kelas 6 SD mba.. hahaha” tawanya menggelegar, suaranya sekeras

kembang api pada tahun baru. Aku tak mengerti mengapa dia tertawa tanpa sebab. Di wajah yang polos nan cantik itu, aku meihat pemandangan yang tidak enak menurutku. Aku dan Lian pun saling memandang dengan wajah heran, saling heran dan sangat heran. Jadi sekarang aku tahu, mungkin itulah satu-satunya alasan dia

Lampiran

Lembar Kerja Siswa

Nama :

No. Presensi :

Kelas :

1. Tulislah tiga peristiwa yang menarik yang pernah kalian alami! 2. Pilih salah satu untuk dijadikan tema cerpen kalian!

3. Buatlah kerangka cerpen mulai dari pendahuluan, isi, hingga penutup!

4. Tulislah sebuah cerpen berdasarkan peristiwa yang pernah kalian alami bertema bebas sesuai kerangka yang sudah kalian buatdengan ketentuan sebagai berikut:

a. Panjang cerpen : 1-2 halaman (300-800 kata) b. Aspek isi cepen :

1) Kesesuaian ide cerita dengan tema.

2) Mengandung makna dan/pesan yang disampaikan.

3) Mengandung nilai-nilai kehidupan/budaya yang ditawarkan. c. Organisasi dan kosakata

1) Terdapat unsur intrinsik (tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya basaha, diksi).

2) Diksi yang digunakan harus sesuai dan menarik.

3) Cerita yang dikembangkan harus urut dan sesuai terdapat pendahuluan, isi/pemuculan konflik, dan penutup/ penyelesaian konfilik.

d. Penggunaan bahasa dan mekanik

1) Perhatikan penggunaan bentuk kebahasaan, cerita menarik dan mudah dipahami.

2) Perhatikan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf kapital dan

Dokumen terkait