• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah instrumen tes. Instrumen tes ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar biologi siswa berupa tes objektif yang diperoleh dari pelaksanaan pretest dan posttest pada kedua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada penelitian ini digunakan juga lembar observasi kegiatan belajar untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar sesuai dengan Rancangan Perencanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat.

Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif berupa pilihan soal ganda dengan 5 alternatif jawaban. Tes yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan untk mengukur hasil belajar yang mencakup ranah kognitif pada aspek pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4). Tes hasil belajar tersebut dilakukan dua kali, yaitu sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest).

3

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Komponen MKDK, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 170.

Tabel 3.2

Kisi-Kisi Soal Instrumen Penelitian

No. Indikator Aspek Kognitif Jumlah

C1 C2 C3 C4

1. Sejarah Penemuan Virus 1,3 2 3

2. Ciri-Ciri Virus 4,5,6,7

,8,9,10

7

3. Reproduksi Virus (Siklus Litik dan Lisogenik)

16,17 11,12, 13,14

15 7

4. Klasifikasi Virus 18,19 2

5. Peranan Virus dalam Kehidupan

20,21, 22,23, 24

5

6. Cara Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Virus

25,26 2

7. Pembiakan Virus 27 1

8. Viroid dan Prion 28,29,

30

3

Jumlah 2 13 9 6 30

Instrumen tes hasil belajar yang digunakan harus memiliki empat kriteria, yaitu validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Oleh karena itu, sebelum tes hasil belajar ini digunakan sebagai indtrumen penelitian, tes ini di uji coba terlebih dahuu mengenai validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, daya pembedanya. Tes diujikan pada kelas XI yang telah mempelajari materi virus pada kelas X. Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh untuk mengetahui bahwa tes yang akan dipakai memenuhi keempat kriteria tersebut.

1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk menunjukan kesahihan atau ketepatan suatu instrumen, apakah instrumen tersebut tepat untuk mengukur hal yang hendak diukur. Untuk mengukur validitas tes, dapat ditentukan menggunakan korelasi Product Moment.4 √ Keterangan : rxy : Koefisien korelasi N : Banyak siswa X : Skor tiap butir soal

Y : Skor total yang diperoleh siswa

ΣX : Jumlah skor untuk tiap butir soal

ΣY : Jumlah skor total

ΣXY : jumlah perkalian antara X dan Y

ΣX2

: Jumlah kuadrat setiap butir soal

ΣY2

: Jumlah kuadrat skor hitung

Hasil perhitungan rxy tersebut dapat dikonsultasikan dengan kriteria sebagai berikut:5

Tabel 3.3 Kriteria nilai validitas

Nilai validitas Keterangan

0,80 - 1,00 Sangat tinggi 0,60 - 0,80 Tinggi 0,40 - 0,60 Cukup 0,20 - 0,40 Rendah 0,00 - 0,20 Sangat Rendah 4

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.72 5

Berdasarkan hasil perhitungan validitas instrumen tes hasil belajar biologi yang terdiri dari 40 item soal, didapat 30 item soal dengan validitas baik dan 11 item soal dengan validitas buruk, adapun item soal yang memiliki validitas buruk adalah item soal no 4, 8, 12, 13, 16, 23, 26, 34, 35, dan 40. Perhitungan validitas instrumen dengan menggunakan program ANATES pilihan ganda ver 4.0.96

2. Uji Reliabilitas

Perhitungan reliabilitas dilakukan untuk menunjukan bahwa instrumen tersebut dapat dipercaya, yaitu konsisten atau tetap apabila diujikan berkali-kali. Untuk mengetahui reliabilitas instrumen digunakan rumus yang dikemukakan Kuder-Richardson K-R 20, adalah sebagai berikut :7

Keterangan :

r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan

p = proporsi subjek yang menjawab item yang benar

q = proporsi subjek yang menjawab item yang salah (q=1-p)

∑pq = jumlah hasil pekalian antara p dan q n = banyaknya item

S = standar deviasi dari tes

Klasifikasi interpretasi reliabilitas yang digunakan adalah sebagai berikut:

6

Lampiran, hal. 82 7

Tabel 3.3

Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas

Nilai Korelasi Interpretasi

r11≤0,20 0,20< r11≤0,40 0,40<r11≤0,70 0,70<r11≤0,90 0,90<r11<1,00 r11 = 1,00

Tidak ada korelasi Korelasi rendah Korelasi sedang Korelasi tinggi Korelasi sangat tinggi

Korelasi sempurna

Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas tes didapat hasil sebesar r11= 0.81 dari 30 butir soal yang valid. Hal ini dapat dinyatakan memiliki reliabilitas tinggi dan selanjutnya dapat dipergunakan dalam penelitian. Perhitungan reliabilitas instrumen dengan menggunakan program ANATES pilihan ganda ver 4.0.9.8

3. Uji Taraf Kesukaran

Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran tiap butir soal yaitu sukar, sedang atau mudah. Untuk mengetahui tingkat kesukaran tiap butir soal tersebut, dapat ditentukan dengan rumus:9

Keterangan :

P = indeks kesukaran

B = jumlah keseluruhan siswa yang menjawab soal benar N = Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria taraf kesukaran yang digunakan adalah semakin kecil indeks yang diperoleh, maka soal tersebut tergolong sukar. Sebaliknya, semakin besar indeks

8

Lampiran, hal. 82 9

yang diperoleh, maka soal tergolong mudah. Adapun criteria indeks taraf kesukaran soal tersebut adalah:10

Tabel 3.4

Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran

Nilai Dp Interpretasi

0 – 0,25 Sukar

0,26 – 0,75 Sedang

0,76 – 1 Mudah

Berdasarkan pengujian tingkat kesukaran instrumen penelitian dari 40 soal, didapatkan kategori soal yang termasuk sangat mudah sebanyak 5 soal, yaitu pada nomer soal 10, 16, 17, 25, dan 35. Kategori soal yang termasuk mudah sebanyak 5 soal, yaitu pada nomer soal 9, 13, 18, 24, dan 34. Kategori soal yang termasuk sedang sebanyak 25 soal, yaitu pada nomer soal 1, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 12, 14, 15, 19, 20, 21, 22, 26, 27, 28, 29, 30, 33, 36, 37, 38, 39, dan 40. Kategori soal yang termasuk sukar sebanyak 4 soal, yaitu pada nomer soal 2, 8, 31, dan 32. Den kategori soal yang termasuk sangat sukar sebanyak 1 soal, yaitu pada nomer soal 23. Perhitungan taraf kesukaran instrumen dengan menggunakan program ANATES pilihan ganda ver 4.0.9.11

4. Daya Pembeda

Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan kemampuan siswa. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diksriminan. Indeks diskriminan ini dikenal dengan tanda negatif yang berarti bahwa suatu soal itu terbalik dalam mengukur kemampuan siswa. Rumus yang digunakan untuk menemukan indeks diskriminan adalah :12

10 Ibid, h. 210 11 Lampiran, hal.82 12

Keterangan :

D = daya pembeda

BA = jumlah peserta tes kelompok atas yang menjawab soal denganbenar JA = jumlah peserta tes kelompok atas

BB = jumlah peserta tes kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar JB = jumlah peserta tes kelompok bawah

PA

= proporsi peserta tes kelompok atas yang menjawab soal benar PB = proporsi peserta tes kelompok bawah yang menjawab soal benar.

Adapun klasifikasi dari daya pembeda soal :13 Tabel 3.6

Klasifikasi Interpretasi Daya Beda

D ≤ 0 Sangat jelek 0,01 < D ≤ 0,20 Jelek 0,20 < D ≤ 0,40 Cukup 0,40 < D ≤ 0,70 Baik 0,70 < D ≤ 1,00 Baik sekali

Berdasarkan pengujian daya pembeda instrumen penelitian dari 40 soal, didapatkan kategori soal yang termasuk sangat buruk sebanyak 5 soal, yaitu pada nomer soal 4, 16, 23, 26 dan 40. Kategori soal yang termasuk jelek sebanyak 7 soal, nomor soalnya adalah 8, 12, 13, 17, 25, 34, dan 35. Kategori soal yang termasuk cukup sebanyak 5 soal, nomor soalnya adalah 9, 10, 18, 28, dan 30. Kategori soal yang termasuk baik sebanyak 18 soal, nomor soalnya adalah 2, 5, 7, 11, 14, 15, 19, 20, 21, 22, 24, 27, 29, 33, 36, 37, 38, dan 39. Kategori soal yang termasuk baik sekali sebanyak 5 soal, nomor soalnya adalah 1, 3, 6, 31, dan 32. Perhitungan daya beda instrumen dengan menggunakan program ANATES pilihan ganda ver 4.0.914

13

Suharsimi Arikunto, Op. Cit. h. 218 14

Dokumen terkait