BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
C. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini berbentuk kuesioner yang mengungkap kecerdasan emosional. Kuesioner ini dibuat sendiri oleh penulis, dengan berdasarkan aspek-aspek kecerdasan emosional menurut Goleman (2002), yaitu : 1) Mengenali emosi diri; 2) Mengelola emosi; 3) Memotivasi diri sendiri; 4) Mengenali emosi orang lain; 5) Membina hubungan. Kuesioner kecerdasan emosional ini bersifat tertutup dan anonim. Dipilih bersifat anonim dengan harapan agar para siswa lebih terbuka dalam memberikan informasi. Bentuk kuesioner tertutup, maksudnya kuesioner tersebut berisi pernyataan-pernyataan yang jawabannya sudah disediakan oleh peneliti (Furchan, 1982: 249). Berikut ini dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kuesioner :
1. Skala pengukuran kecerdasan emosional
Metode yang digunakan dalam skala kecerdasan emosional ini adalah metode skoring yang dijumlahkan (Summated Rating), dengan skala Likert yang terdiri atas empat kategori jawaban, yaitu : “Sangat Sering”, “Sering”, “Kadang-kadang”, “Jarang”. Menurut Hadi (Hartyana 2002: 35) modifikasi skala Likert menjadi empat kategori jawaban dimaksudkan untuk menghilangkan kelemahan yang dikandung oleh skala lima tingkat, yaitu : karena kategori netral mempunyai arti ganda, bisa diartikan belum dapat memutuskan, bisa juga diartikan netral, atau ragu-ragu. Tersedianya jawaban di tengah juga menimbulkan kecenderungan memilih jawaban yang netral
(central tendency effect), terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas kecenderungan jawabannya.
2. Indikator kecerdasan emosional
Indikator yang digunakan untuk menyusun kuesioner kecerdasan emosional ini berdasarkan aspek-aspek kecerdasan emosional menurut Goleman (2002) yaitu: 1) Mengenali emosi diri; 2) Mengelola emosi; 3) Memotivasi diri sendiri; 4) Mengenali emosi orang lain; 5) Membina hubungan.
3. Susunan kuesioner kecerdasan emosional
Secara keseluruhan item kecerdasan emosional terdiri dari 130 item yang terbagi menjadi item fovorable (favorabel) dan item unfavorable
menunjukkan adanya atribut yang diukur. Sedangkan item unfavorable bila isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur (Azwar, 2003).
4. Penskoran
Skor untuk masing-masing alternatif jawaban tergantung dari bentuk pernyataan. Untuk pernyataan yang favorable skor untuk jawaban Sangat Sering (SS): 4, Sering (S) : 3, Kadang-kadang (KK): 2, Jarang (J): 1, sedangkan untuk pernyataan yang unvaforable skor untuk jawaban Sangat Sering: 1, Sering: 2, Kadang-kadang: 3, Jarang : 4. Kisi-kisi kuesioner yang mengungkap aspek kecerdasan emosional disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1
Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional untuk Penelitian Aspek Kecerdasan Emosional Favorable Unfavorable Jml
1, 2, 5 3, 4 5
13, 8, 11 6, 7, 9, 10, 12 8 1. Mengenali emosi diri.
a. Kesadaran diri b. Kepercayaan diri.
c. Penilaian diri yang realistik 14, 15, 18, 19, 20, 21, 22
16, 17 9
23, 24, 27 25, 26 5 2. Mengelola emosi
a. Dapat dipercaya
b. Mengendalikan emosi sendiri 28, 29, 30 31, 32 5 33, 34, 37, 38, 39 35, 36, 40, 41 9 42, 43, 44 45, 46 5 47, 48, 51 49, 50 5 3. Memotivasi diri sendiri
a. Dorongan untuk berprestasi b. Memiliki komitmen c. Memiliki inisiatif d. Optimisme 52, 53, 55 54, 56, 57 6 58, 59, 62, 63 60, 61 6 64, 65, 68, 69 66, 67 6 4. Mengenali emosi orang lain
a. Mampu menerima sudut pandang orang lain.
b. Mampu berempati dan peka terhadap perasaan orang lain c. Mampu mendengarkan orang
lain. 70, 71, 73 72 4
74, 75, 76, 77 - 4
78, 80, 82 79, 81, 83, 84 7 5. Membina hubungan
a. Mampu menyelesaikan persoalan yang timbul dalam hubungan dengan orang lain.
b. Mampu bergaul dengan siapa saja dengan bertenggang rasa.
c. Mampu bekerjasama dengan
suka menolong. 85, 86, 90 87, 88, 89 6
5. Validitas dan reliabilitas kuesioner kecerdasan emosional a. Validitas
Validitas berhubungan dengan sejauh mana suatu alat mampu mengukur yang seharusnya diukur (Masidjo, 1995). Sejalan dengan pendapat tersebut Scarvia B. Anderson ( Arikunto, 1986: 65), menyatakan bahwa sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Jadi, sebuah alat ukur dapat dikatakan valid jika alat ukur itu dapat memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud pengukuran tersebut.
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstruk. Dengan validitas konstruk dapat dilihat apakah alat ukur yang dipergunakan sesuai dengan konsep teoritik yang ada. Peneliti membuat item berdasarkan konsep teoritik yang ada pada kajian teori. Item yang dibuat kemudian dianalisis untuk mengetahui dan menghasilkan instrumen yang sesuai dengan konsep teoritiknya.
Metode yang digunakan dalam mencari dan menganalisis validitas adalah teknik product moment yang dikemukakan oleh Pearson (Masidjo, 1995: 246) dengan rumus :
)( )
(
)
(
{
∑ ∑
−∑ ∑
}{
∑∑
−(
∑ )
}
− = 2 2 2 2 Y Y N X X N Y X Y X N rxy Keterangan:xy
r = Koefisien validitas item
X = Skor-skor item Y = Skor total peraspek N = Jumlah Subjek
Cara penghitungan taraf validitas dilakukan dengan memberi skor pada setiap item dan mentabulasi data uji coba. Selanjutnya proses penghitungan dilakukan dengan komputer program SPSS for Windows
agar lebih efektif dan efisien.
Prosedur seleksi item berdasarkan data empiris, yaitu data hasil uji coba item pada kelompok subjek yang karakteristiknya setara dengan subjek yang hendak dikenai skala dengan melakukan analisis kuantitatif terhadap parameter-parameter item. Batasan yang digunakan adalah taraf signifikansi 0,05 (5 %). Jadi semua item yang mencapai koefisien korelasi item total positif dan signifikan pada taraf signifikansi 5% dianggap mempunyai daya beda yang memuaskan. Hasil rekapitulasi analisis uji coba kuesioner dapat dilihat dalam tabel 2. Hasil perhitungan taraf validitas dapat dilihat dalam lampiran 3.
Tabel 2
Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Validitas Item No Aspek Kecerdasan emosional Indikator Jml item Jml item yang valid Jml item yang gugur Kesadaran diri 10 8 2 Kepercayaan diri 11 10 1 1. Mengenali emosi diri
Penilaian diri yang realistik 13 9 4
Dapat dipercaya 9 8 1
2. Mengelola
emosi Mengendalikan emosi sendiri 7 5 2 Dorongan untuk berprestasi 11 11 - Memiliki komitmen 10 7 3 Memiliki inisiatif 6 5 1 3. Memotivasi
diri sendiri
Optimisme 7 6 1
Mampu menerima sudut pandang orang lain.
8 7 1 Mampu berempati dan peka
terhadap perasaan orang lain.
8 7 1 4. Mengenali
emosi orang lain
Mampu mendengarkan orang lain.
6 4 2 Mampu menyelesaikan
persoalan yang timbul dalam hubungan dengan orang lain.
6 4 2
Mampu bergaul dengan siapa saja dengan bertenggang rasa
10 8 1
Mampu bekerjasama dengan suka menolong 8 6 1 5. Membina hubungan. Jumlah 130 107 23 b. Reliabilitas
Menurut Masidjo (1995: 209) reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai di mana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya. Tes yang reliabel akan menunjukkan ketepatan dan ketelitian hasil dalam suatu pengukuran. Furchan (1982: 295) mengatakan reliabilitas suatu alat
pengukur adalah derajad keajegan alat tersebut dalam mengukur apa saja yang diukurnya. Reliabilitas sebenarnya mengacu kepada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran ( Azwar, 2003: 83).
Untuk menentukan taraf reliabilitas digunakan metode belah dua
(split-half method) karena satu tes dipakai dalam satu pengukuran pada sekelompok siswa (Masidjo, 1995). Metode belah dua yang dipakai berdasarkan urutan nomor item yang bernomor gasal dan bernomor genap. Derajad reliabilitas tersebut ditentukan dengan pedoman daftar indeks korelasi reliabilitas dengan ancar-ancar sebagai berikut (Masidjo, 1995: 209):
Koefisien korelasi Kualifikasi 0,91-1,00 0,71-0,90 0,41-0,70 0,21-0,40 Negatif – 0,20 Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah
Langkah-langkah penghitungan taraf reliabilitas alat ukur yaitu membuat tabel analisis item-item, menjumlahkan skor-skor yang berasal dari item-item yang bernomor gasal atau item-item yang akan dimasukkan sebagai belahan pertama pada kolom belahan gasal atau pertama. Demikian pula skor-skor yang berasal dari item-item yang bernomor
genap atau item-item yang akan dimasukkan sebagai belahan kedua pada kolom belahan genap atau kedua. Selanjutnya skor-skor pada kolom belahan gasal atau pertama dan belahan genap atau kedua, siap untuk dihitung koefisien korelasinya. Proses penghitungan selanjutnya dengan menggunakan komputer program SPSS for windows. Berdasarkan penghitungan tersebut dapat diketahui koefisien korelasi yang diperoleh dari perhitungan skor item-item gasal genap sebesar 0,7800. Selanjutnya hasil koefisien korelasi tersebut dikoreksi dengan formula koreksi dari Spearman-Brown dengan rumus:
gg gg tt r xr r + = 1 2 Keterangan rumus :
rtt = indeks reliabilitas instrumen yang dicari rgg = koefisien korelasi gasal-genap
Hasil perhitungan uji reliabilitas kuesioner adalah:
gg gg tt r xr r + = 1 2
= tt r 6394 , 0 1 6394 , 0 2 + x 6394 . 1 2788 . 1 = = 0.7800
Untuk menentukan tingkat keterandalan instrumen Masidjo (1995) menegaskan bahwa koefisien reliabilitas dinyatakan dalam suatu bilangan koefisien antara -1, 00 sampai dengan 1, 00. Berdasarkan kriteria ini hasil perhitungan analisis reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi kualitas keterandalan. Setelah dikoreksi dengan rumus Spearman-Brown, diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,7800. Dengan demikian status tingkat reliabilitas kuesioner kecerdasan emosional yang diujicobakan dalam penelitian ini termasuk tinggi ( 0, 78 - 0, 90). Dapat disimpulkan bahwa alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini reliabel.
≥