• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk penyediaan data.

Afrizal (2014) mengungkapkan bahwa dalam penelitian kualitatif alat atau instrumen penelitian adalah peneliti atau manusia yang melakukan penelitian yang bertugas untuk menemukan dan menganalisis temuannya berdasarkan teori-teori yang digunakan dalam penelitian. Moleong (2006) mengatakan ciri khas penelitian kualitatif terletak dalam instrumen penelitian karena peneliti yang bertugas sebagai perencana, pelaksana penyediaan data, analisis, penafsir data, dan pelapor hasil penelitian. Berdasarkan uraian di atas, instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri yang mampu mengolah data sesuai dengan fokus kajian yang diteliti. Peneliti menginventarisasi data ke dalam tabulasi data. Berikut format tabulasi data.

No. Kode Data

Data Tuturan

Maksud Tuturan

Jenis Tuturan

Persetujuan Keterangan S TS

1.

2.

Keterangan kode data: nama pengarang/judul novel/halaman/urutan data 3.5 Teknik Analisis Data

Klasifikasi data yang diperhitungkan dapat menuntun ke analisis data.

Masing-masing data yang telah diklasifikasikan kemudian dikaji untuk memperoleh pemahaman tentang segi dan aspek yang paling dominan, memperoleh masalah yang paling khas dan menonjol serta mengaitkan dengan

pragmatik untuk memahami fungsinya. Dalam teknik analisis data, peneliti akan melakukan beberapa langkah yaitu:

1. Identifikasi

Mengidentifikasi merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti. Dalam langkah ini peneliti mengidentifikasi data tuturan yang diduga mengandung tindak tutur dan kesesuaiannya dengan konsep kajian pragmatik.

2. Klasifikasi

Mengklasifikasi merupakan langkah kedua yang dilakukan oleh peneliti.

Dalam langkah ini peneliti mengklasifikasikan data ke dalam tipe-tipe tindak tutur.

3. Interpretasi

Menginterpretasi merupakan langkah ketiga yang dilakukan oleh peneliti.

Dalam langkah ini data yang telah diklasifikasikan kemudian dimaknai, apa yang ingin disampaikan penulis melalui tuturan tersebut.

4. Pelaporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh peneliti.

Hasil yang telah diperoleh melalui proses identifikasi, klasifikasi dan interpretasi kemudian dilaporkan sebagai hasil analisis data.

3.6 Triangulasi Data

Moleong (2006) berpendapat bahwa triangulasi data merupakan teknik pengecekan keabsahan data dengan sumber lain untuk menghilangkan perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks studi pada waktu mengumpulkan

data dan hubungan dari berbagai pandangan, hal ini perlu dilakukan agar data yang didapat memiliki tingkat keabsahan. Peneliti sebagai instrumen kunci melakukan konfirmasi kembali data-data yang diperoleh sampai mendapat data yang sama atau data bersifat jenuh. Selain itu data yang telah dikumpulkan nantinya akan melalui tahap pengecekan oleh pakar untuk memastikan bahwa data tersebut memang layak dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, data-data yang sudah dikumpulkan ditriangulasi oleh pakar lingustik, yakni Dr. Y. Y.

Taum, M. Hum. Hasil triangulasi data tersebut kemudian direfleksikan oleh peniliti di bawah bimbingan Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. dan Dr. Antonius Herujiyanto, M.A. sampai diperoleh hasil analisis data yang valid. Kemudian hasil analisis tersebut dijabarkan pada bagian hasil penelitian dan pembahasan.

58 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan tiga hal, meliputi (1) deskripsi data, (2) analisis data, (3) pembahasan. Pada bagian deskripsi data akan diuraikan mengenai data yang akan dianalisis oleh peneliti. Pada bagian analisis data akan diuraikan mengenai hasil temuan data berdasarkan dua rumusan masalah yaitu (1) jenis tindak tutur yang digunakan oleh pengarang novel populer tahun 2000-an, (2) maksud yang ingin diungkapkan pengarang melalui para tokoh dalam novelnya.

Pada bagian pembahasan akan diuraikan mengenai hasil temuan yang dikaitkan dengan teori yang digunakan.

4.1 Deskripsi Data

Data yang dianalisis yaitu tuturan para tokoh yang ada dalam novel populer tahun 2000-an. Adapun kelima novel yang dianalisis yaitu (1) Cantik Itu Luka karya Eka kurniawan yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, (2) Kronik Betawi karya Ratih Kumala yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, (3) Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika, (4) Rahasia Selma karya Linda Christanty yang diterbitkan oleh PT.

Gramedia Pustaka Utama, (5) Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh PT. Bentang.

Keseluruhan data yang diperoleh berjumlah 57 data yang diperoleh dari tuturan-tuturan para tokoh yang terdapat di dalam novel. Rincian jumlah data antara lain: (1) Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan sebanyak 16 data, (2)

Kronik Betawi karya Ratih Kumala sebanyak 13 data, (3) Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye sebanyak 13 data, (4) Rahasia Selma karya Linda Christanty sebanyak 8 data, (5) Sang Pemimpi karya Andrea Hirata sebanyak 7 data. Selanjutnya, data temuan tersebut dianalisis berdasarkan jenis tindak tutur dan maksud tuturan yang diungkapkan oleh pengarang melalui para tokoh dalam novel-novelnya. Tindak tutur terdiri atas tiga aspek, yaitu (a) lokusi, (b) ilokusi, (c) perlokusi (Searle, 1969). Lokusi adalah rentetan bunyi yang membentuk satuan makna secara linguistis maupun pragmatis. Sementara itu ilokusi adalah maksud yang ingin diungkapkan oleh penutur. Misalnya: “Diminum, Bang” (Ia berkata sambil melihat ke arah Jaelani, bukan ke arah Jarkasi yang telah susah-susah mengantarnya). Tuturan di samping mengandung makna perintah. Namun, apabila ditafsir dari segi pragmatik tuturan tersebut dapat bermakna sindiran melalui tatapan mata Bati’ah yang malah melihat ke arah Jaelani, bukannya Jarkasi. Perlokusi adalah efek yang dipahami oleh mitra tutur atas tuturan si penutur. Seorang kakek mengatakan “Kalau musim ulat bikin orang jadi jijik. Kau lihat itu … di mana-mana ulat,” gerutu kakek, mengarahkan telunjuknya ke jendela. Penutur ingin membujuk Selma agar pohon Kersen itu lebih baik ditebang saja dan diganti dengan pohon rambutan atau jambu yang lebih bermanfaat.

Data yang diperoleh merupakan tuturan yang terdapat di dalam lima novel populer Indonesia. Kelima novel tersebut memiliki ciri-ciri yang dikategorikan masuk dalam novel populer. Pertama, kedekatan tema dengan permasalahan sehari-hari. Kedua, gaya bahasa yang santai dan ringan yang bermaksud untuk

makin mendekatkan dunia cerita dengan dunia nyata. Dalam novel semacam ini, gaya bahasa formal tidak berlaku, sehingga pembaca seakan tengah bercerita sendiri atau mendengarkan curhat dari karibnya. Ketiga, narasi biasanya dikemas dengan gaya yang kocak, sehingga memberikan hiburan segar. Selain itu, Ida Rochani Adi seorang dosen sastra populer UGM menjelaskan bahwa suatu karya sastra disebut populer diantaranya karena tema, cara penyajian teknik bahasa, dan penulisannya mengikuti pola umum yang tengah digemari masyarakat pembacanya, termasuk di Indonesia. Sastra populer tidak hanya sekadar menghibur, tetapi juga dinikmati sebagai karya seni sehingga sastra populer terutama dalam bentuk novel tidak saja dipandang sebagai barometer perkembangan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya, tetapi juga bagi masyarakat dunia.

Sementara itu, menurut Housley (2003:45) tokoh utama dalam novel jenis ini biasanya tengah berupaya mencari pekerjaan, pacar baru, apartemen yang lebih besar atau kehidupan yang lebih baik. Tokohnya jarang sekali digambarkan sebagai wanita yang sempurna, atau pria kaya yang aristokratis. Tokoh-tokoh dalam cerita memiliki kebebasan sosok baik mencakup besarnya, bentuknya maupun rasnya. Pendapat ini senada dengan penulis novel Cintapuccino, Rachmawati dalam (Dewi, 2005: 65), yang mengatakan bahwa tokoh dan cerita yang ditampilkan merupakan sesuatu yang membumi, yang akrab dengan dunia mereka dan dunia pembaca. Secara jelas Rachmawati dalam (Dewi, 2005: 70) mengungkapkan, “Jadi menurut saya, daya tariknya justru dari adanya kedekatan

cerita dan gaya bertutur dengan keseharian pembacanya, sehingga sering berkesan gue banget!”

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.1 Jenis Tindak Tutur dalam Novel Populer

Ada tiga jenis tindak tutur yang diklasifikasikan menurut Searle (1969), yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act) yang kemudian dibagi lagi menjadi tindak tutur representatif, komisif, direktif, ekspresif, deklaratif. dan yang terakhir tindak perlokusi (perlocutionary act). Data yang dianalisis berupa kutipan-kutipan tuturan yang terdapat di dalam novel yang diduga merupakan tindak tutur dan mengandung maksud.

4.2.1.1 Tindak Tutur Lokusi (Locutionary Act)

Tindak tutur lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu (Rahardi, 2003). Berikut merupakan tindak tutur lokusi yang akan diuraikan berdasarkan hasil temuan.

(1) Jarkasi: “Rimah, istri pertama Jaelani yang sudah almarhumah adalah seorang penari Topeng Betawi yang pada masanya adalah seorang primadona.” (RK/KB/13/8)

Konteks: Jarkasi bercerita kepada Bati’ah bahwa Rimah (istri pertama Jaelani) dulunya adalah seorang penari Topeng Betawi dan menjadi primadona. Mereka mengobrol saat berada di rumah Jaelani

(2) Jaelani: “Di rumah itulah Juned memulai hidup baru. Mereka membangun keluarga baru dengan tiga orang anak yang lahir dari Ipah.” (RK/KB/43/13)

Konteks: Jaelani menceritakan kepada Jarkasi bagaimana kehidupan Juned di masa lalu. Mereka mengobrol santai pada sore hari di rumah Jaelani.

(3) Karang: “Keluarga itu tidak besar. Terdiri dari ayah, ibu, dan seorang gadis kecil,” gadis itu seumuran kau, Melati.

(TL/MBDA/248/13)

Konteks: Ketika Melati akan tidur Karang bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki seorang anak perempuan yang seumuran dengan Melati.

(4) Selma: “Olio pemberian tetangga kami, pemilik bengkel mobil di sebelah.” (LC/RS/15/4)

Konteks: Selma memberitahu temannya yang ketika itu bermain di rumahnya kalau Olio adalah pemberian tetangganya yang bernama Pak Nana.

(5) Tukang obat: “Sebentar lagi kita sampai. Mereka sudah menyiapkan makan malam.” (LC/RS/80/8)

Konteks: Di sebuah kereta, tukang obat berkata kepada teman seperjalanannya kalau sebentar lagi mereka akan sampai.

(6) Arai: “Nyonya Pho bertubuh tinggi besar. Rambutnya tebal, disemir hitam pekat dan kaku seperti sikat. Alisnya seperti kucing tandang.

Bahunya tegap, dadanya tinggi, dan raut mukanya seperti orang terkejut.” (AH/SP/17/1)

Konteks: Arai menceritakan bagaimana perawakan Nyonya Pho kepada Ikal ketika mereka terjebak di sebuah gudang ikan ketika akan melarikan diri dari Pak Mustar.

(7) Ikal: “Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti ini selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda meributkan uang dua ratus perak.” (AH/SP/23/5)

Konteks: Arai bercerita kepada Nurmi ketika mereka akan ke rumah Ikal kalau Ikal sering ribut dengan tukang parker meributkan uang dua ratus perak.

(8) Ikal: “Peregasan adalah peti papan besar tempat menyimpan padi.”

(AH/SP/35/6)

Konteks: Ikal menjelaskan kepada Nurmi tentang apa itu peregasan ketika ia tak tahu apa nama peti besar yang ada di depannya.

Pada data (1) Jarkasi menyatakan bahwa Rimah, istri pertama Jaelani sudah meninggal dan dulunya ia adalah seorang penari topeng yang pada masa itu menjadi primadona. Data (2) Jaelani menceritakan Kepada jarkasi bahwa dulu di rumah itu Juned memulai hidup baru dengan istrinya dan memiliki tiga orang anak. Sedangkan data (3) Karang memberitahukan kepada Melati bahwa keluarga yang akan diceritakannya malam ini tidaklah besar, hanya terdiri dari Ayah, Ibu, dan satu anak perempuan. Sementara itu, data (4) Selma memberitahu temannya bahwa Olio adalah pemberian tetangganya, yang juga pemilik bengkel sebelah.

Selanjutnya, data (5) tukang obat menginformasikan kepada teman sebangkunya bahwa kereta yang mereka tumpangi sebentar lagi akan tiba di tempat tujuan. Data (6) Arai menceritakan kepada Ikal bagaimana perawakan Nyonya Pho. Pada data (7) Nurmi diberitahu Arai kalau Ikal sering ribut dengan tukang parkir hanya karena uang duaratus perak. Terakhir, data (8) saat perjalanan menuju rumah Ikal, Arai menjelaskan kepada Nurmi tentang apa itu peregasan.

Delapan data di atas merupakan TT lokusi bentuk pernyataan (deklaratif).

Bentuk pernyataan tersebut hanya berfungsi untuk memberitahukan atau menginformasikan sesuatu pada mitra tutur. Sehingga mitra tutur dapat mengerti apa yang sedang disampaikan oleh penutur. Dalam tuturan tersebut sama sekali tidak ada maksud lain yang berada di luar maksud yang disampaikan oleh penutur.

Penutur hanya mengatakan sebuah informasi, tanpa adanya tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi mitra tuturnya.

4.2.1.2 Tindak Tutur Ilokusi

Sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga digunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something (Rahardi, 2009; Sumarsono, 2009). Tindak ilokusi adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, minta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta, dan lain sebagainya.

Berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) dibagi dalam lima jenis, yaitu (1) Tindak tutur representatif, (2) Tindak tutur komisif, (3) Tindak tutur direktif, (4) Tindak tutur ekspresif, (5) Tindak tutur deklaratif. Berikut merupakan tindak tutur ilokusi yang akan diuraikan berdasarkan hasil temuan.

1). Tindak tutur representatif yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk menetapkan atau menjelaskan sesuatu apa adanya. Tindak tutur ini seperti menyatakan, melaporkan, memberitahukan, menjelaskan, mempertahankan, dan menolak.

(9) Rosinah: “Kau bilang punya tiga anak?” tanyanya

Dewi Ayu: “Benar,” kata Dewi ayu. “Mereka pergi begitu tahu bagaimana membuka kancing celana lelaki. (EK/CIL/17/5)

Konteks: Ketika di ruang makan Rosinah bertanya kepada Dewi Ayu apakah ia memiliki tiga orang anak.

(10) Dewi Ayu: “Aku tak akan pergi.”

Hanneke: “Jangan tolol, Nak, Jepang tak akan melewatkanmu.”

Dewi Ayu: “Bagaimanapun seorang Stammler harus tetap di sini,”

katanya keras kepala. “Dan kelak, kalian tahu siapa saja yang harus dicari. (EK/CIL/53/9)

Konteks: Ketika itu Surabaya telah dibom oleh Jepang. Keluarga Stammler berkemas untuk meninggalkan Surabaya. Namun, tidak dengan Dewi Ayu. Ia bersikeras untuk tetap tinggal.

(11) Dewi Ayu: “Bukan lintah yang kita makan, tapi darah sapi,” kata bahwa yang kaan mereka makan bukanlah lintah melainkan darah sapi.

Ia kemudian memakannya bersama-sama di aula.

(12) Jaelani: “Kagak!” dengan tegas Jaelani menolak.

Jarkasi: “Yah … pegimana sih elu? Gue pikir lu demen, elu melototin dia mulu.”

Jaelan: “Gue kagak melototin dia, gue melototin tahi lalatnya.”

(RK/KB/12/7)

Konteks: Sekembalinya Jarkasi mengantar Bati’ah pulang, Jaelani dengan tegas langsung menolak dijodohkan dengan Bati’ah setelah Jarkasi kembali mempromosikan Bati’ah kepada kakaknya.

(13) Kinasih : “Bagaimana kondisi Melati sekarang, Bun?” Kinasih bertanya hati-hati. Tersenyum tipis.

Bunda Melati : “Melati sekarang setiap hari kerjanya hanya marah, berteriak-teriak. Melempar apa saja yang dipegangnya. Memukul.

Menjambak. Apa saja, tidak peduli apa pun itu…” bunda menggigit bibir, memaksa matanya agar tidak menangis. (TL/MBDA/35/7)

Konteks: Nyonya HK bercerita kepada Kinasih tentang perkembangan keadaan Melati saat ia berkunjung ke rumahnya untuk memeriksa keadaan Melati.

Searle (1974) mengemukakan bahwa ilokusi adalah maksud yang ingin diungkapkan oleh penutur. Seperti yang tampak pada data (9) ketika Rosinah bertanya dan Dewi Ayu menjawab “Benar”. Kata tersebut menjelaskan sesuatu apa adanya, yang mana Dewi Ayu membenarkan pertanyaan Rosinah. Ia memang memiliki tiga orang anak dan kini mereka tak bersamanya lagi setelah ketiga orang anaknya bisa membuka kancing celana lelaki. Data tersebut merupakan TT

ilokusi representatif bentuk menyatakan. Sama halnya ketika penutur berkata

“Aku tak akan pergi” (10). Dalam tuturan tersebut, penutur ingin menyampikan bahwa ia akan tetap tinggal di Surabaya. Meski ia tahu bahwa kemungkinan ia akan ditangkap oleh tentara Jepang. Tuturan tersebut merupakan TT ilokusi representatif bentuk menolak. Begitu pula dengan tuturan “Bukan lintah yang kita makan, tapi darah sapi,” (11) memberikan penjelasan bahwa yang akan mereka makan bukanlah lintah, melainkan darah sapi. Maka, penutur langsung membelah lintah-lintah tersebut dengan pisau kecil, mengeluarkan gumpalan darah sapi di dalamnya, menusuknya dengan ujung pisau dan melahapnya. Ibu-ibu yang menyaksikan selera primitif penutur awalnya enggan untuk mengikuti. Namun, karena mereka sudah terlalu lapar jadilah lintah itu dimakan bersama-sama.

Tuturan Dewi Ayu tersebut merupakan TT ilokusi representatif bentuk menjelaskan.

Sama halnya dengan tuturan “Kagak” (12) yang diucapkan Jaelani. Dengan tegas penutur menolak dijodohkan dengan Bati'ah, wanita yang dikenalkan oleh Jarkasi. Ia tak merasakan apa pun kepada perempuan itu. Tak ada ketertarikan secuil pun. Saat dikenalkan, penutur melotot melihat Ba’tiah bukan karena ia cantik. Namun, karena Jaelani melototi tahi lalat yang ada di wajah Bati’ah.

Tuturan yang diucapkan Jaelani merupakan TT ilokusi representatif bentuk menolak.

Pada data (13) ketika penutur berkata “Melati sekarang setiap hari kerjanya hanya marah, berteriak-teriak. Melempar apa saja yang dipegangnya. Memukul.

Menjambak. Apa saja, tidak peduli apa pun itu…” menjelaskan keadaan Melati

kepada Kinasih. Keadaan Melati tidak lebih baik dari tiga tahun lalu. Tak ada kemajuan yang signifikan. Tuturan tersebut termasuk dalam tindak tutur representatif bentuk menjelaskan.

2). Tindak tutur komisif yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pembicaraan melakukan sesuatu, seperti berjanji, bernazar, bersumpah, menawarkan, dan ancaman.

(14) Maman Gendeng : “Aku akan kawin dengannya,” ia berjanji.

(EK/CIL/126/14)

Konteks: Ketika Maman Gendeng berlayar, tiba-tiba ia berkata kepada para nelayan bahwa ia alan menikahi Rengganis Sang Putri.

(15) Jarkasi : “Selera elu gimana sih, Bang? Bilang, entar gue cariin,” tanya Jarkasi, adik Jaelani ketika ia datang membawa foto perempuan yang keempat untuk dikenalkan kepada kakaknya.

Jaelani : “Selera …Selera … emang milih duren?!” Jaelani berkata ketus sambal mengisap kreteknya. (RK/KB/8/4)

Konteks: Jarkasi berusaha mencarikan jodoh untuk kakaknya dengan menyodorkan beberapa foto perempuan pilihannya kepada Jaelani.

(16) Jarkasi : “Ketemuan dulu, mau?” Jarkasi menawarkan.

Jaelani : “Kagak, ah! Kenal aja enggak, mau ketemu.”

Jarkasi : “Ya, mangkanya ketemuan dulu. Kenalan. Siapa tahu lu demen. Ye?” (RK/KB/9/5)

Konteks: Jaelani menawarkan kepada Jarkasi untuk bertemu dengan salah satu perempuan pilihannya yang bernama Bati’ah. Setelah Jaelani mengamati foto perempuan itu cukup lama.

(17) Pencoleng: “Mana duit lu?” salah satu orang itu mengeluarkan golok.

Juned: “Ampun Bang, ampun … jangan bunuh, aye belon kawin,” katanya ketakutan.

Pencoleng: “Serahin duit lu!” pencoleng itu mengulangi perintahnya.

(RK/KB/29/10)

Konteks: Saat melewati jembatan, Juned dicegat oleh pencoleng yang ingin merampoknya. Para pencoleng itu menginginkan uang yang dibawa Juned.

Pada data (14) Maman Gendeng berkata kepada para nelayan “Aku akan kawin dengannya,” yang ia maksud adalah Rengganis Sang Putri. Setelah mendengar cerita dari para nelayan tentang kecantikannya, Maman Gendeng berkeinginan untuk menikahinya. Tuturan Maman Gendeng tersebut termasuk TT ilokusi komisif bentuk berjanji. Sama halnya dengan data (15) penutur berkata

“Selera elu gimana sih, Bang? Bilang, entar gue cariin,” Jarkasi mencoba untuk mencarikan jodoh untuk Jaelani yang sesuai dengan seleranya. Namun, sepertinya Jaelani tidak tertarik dengan rencana perjodohan adiknya itu. Ketidaktertariknnya itu tampak dari jawaban Jaelani yang ketus. Data tersebut juga termasuk TT ilokusi komisif bentuk berjanji.

Sedangkan data (16) Jarkasi menawarkan kepada Jaelani untuk bertemu dengan perempuan pilihannya. Namun, Jaelani tidak mau bertemu dengan alasan tidak mengenalnya. Tapi Jarkasi tidak kehilangan akal, ia berusaha untuk membujuk kakaknya tersebut. Tuturan Jarkasi tersebut termasuk dalam TT ilokusi komisif bentuk menawarkan. Lain halnya dengan data (17) para pencoleng itu menodong Juned dan berkata “Mana duit lu?” sambil menodongkan sebuah golok ke arah Juned. Dari tuturan yang dibarengi dengan bahasa nonverbal yang dilakukan pencoleng tersebut maka, data 17 termasuk TT ilokusi komisif bentuk ancaman.

3). Tindak tutur direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu, misalnya menyuruh, perintah, meminta. Menurut Ibrahim (1993) direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan yang

akan dilakukan oleh mitra tutur misalnya meminta, memohon, mengajak, bertanya, memerintah, putus asa dan menyarankan.

(18) Kontrolir : “Surabaya telah dibom Jepang.”

Kontrolir : “Kalian harus mengungsi, Nyonya,” katanya pada Marietje Stammler, yang tak berkata apa-apa ditemani

Hanneke dan Dewi Ayu. (EK/CIL/53/8)

Konteks: Seorang kontrolir menyarankan kepada keluarga Stammler untuk segera mengungsi. Karena Surabaya telah dibom oleh Jepang (19) Mr. Willie : “Nyonya,” katanya. “Menikahlah denganku.”

(EK/CIL/60/10)

Konteks: Mr.Willie telah jatuh hati pada Dewi Ayu dan memintanya untuk menikah.

(20) Maman Gendeng : “Nasiah, maukah kau jadi istriku?” tanyanya dengan wajah penuh permohonan. “Jika perang

selesai aku akan mengawinimu.” Gadis kecil itu malahan menangis sambil menggeleng

Nasiah : “Tuan Gerilya, tidakkah kau lihat lelaki di sampingku? Ia begitu lemah, memang. Tapi, aku sangat mencintainya.” (EK/CIL/123/13)

Konteks: Maman Gendeng menawarkan kepada Nasiah agar ia menikah dengannya. Namun, ia menolak karena ia telah mencintai lelaki lain.

(21) Bati’ah : “Diminum, Bang.” Ia berkata sambil melihat kea rah Jaelani, bukan ke arah Jarkasi yang telah susah-susah mengantarnya.

Jarkasi : “Enak kupi bikinan lu.” (RK/KB/11/1)

Konteks: Ketika di rumah Jaelani, Bati’ah membuat kopi dan meyuruh Jaelani untuk meminumnya.

(22) Jarkasi: “Nonton tanjidor. Yuk!” Jarkasi menunjuk ke arah musik berasal.

Jaelani: “Gue di sini aja, lihat balap karung. Lagi seru!” (RK/KB/14/9) Konteks: Pagi itu Jaelani dan Jarkasi menggowes sepedanya ke Istana Merdeka, Jarkasi mengajak kakaknya untuk menonton Tanjidor.

Namun, Jaelani menolak karena sedang seru menonton balap karung.

(23) Awak kapal : “Pelankan! Pelankan laju perahu!” salah satu awak kapal yang berdiri di buritan berteriak kencang. (TL/MBDA/17/5)

Konteks: Di sebuah perahu berkapasitas empat puluh orang salah seorang awak kapal berteriak agar nahkoda memelankan laju perahu karena ada ombak besar yang akan menghantam perahu.

(24) Juned: “Pak, saya idup sendiri. Kagak punya ibu-bapak. Kagak punya sodare. Apalagi banda. Kagak punye. Apa Bapak masih mau saye kawin ama anak Bapak?”

Bapak Ipah : “Kagak ape-ape. Kalo lu udah kawin ama Ipah, lu punya

Bapak Ipah : “Kagak ape-ape. Kalo lu udah kawin ama Ipah, lu punya