BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
Dalam penelitian ini membahas tindak tutur yang menitikberatkan pada jenis-jenis tindak tutur sebagai rumusan masalah yang pertama dan maksud tuturan yang terkandung di dalam novel sebagai rumusan masalah kedua.
Pembahasan ini menghubungkan kedua aspek temuan tersebut. Adapun yang dibahas dalam subbab ini adalah temuan jenis tindak tutur dan maksud tuturan dalam novel.
4.3.1 Jenis Tindak Tutur dalam Novel Populer
Searle (dalam Kasher, 1998) bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya terdapat tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Berdasarkan pengidentifikasian yang telah dilakukan, peneliti menemukan tiga jenis tindak tutur yakni (1) tindak tutur lokusi, (2) tindak tutur ilokusi yang terbagi dalam (tindak tutur representatif, komisif, direktif, ekspresif, deklaratif), (3) tindak tutur perlokusi.
Tindak lokusi adalah tindak bertutur degan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, kalimat itu (Rahardi, 2003). Salah satu tindak tutur lokusi yang ditemukan oleh peneliti ialah tuturan yang diucapkan oleh Selma kepada temannya. Selma berkata bahwa Olio pemberian tetangga kami, pemilik bengkel mobil di sebelah. Mengapa tuturan tersebut dikategorikan ke dalam tindak tutur lokusi? Karena kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya (O1) kepada mitra tuturnya (O2) yang mana tuturan tersebut semata-mata hanya menginformasikan sesuatu dan tidak ada pengaruh untuk melakukan sesuatu, terlebih untuk mempengaruhi mitra tuturnya. Kalimat tersebut diucapkan untuk menginformasikan bahwa Olio adalah pemberian tetangga Selma, pemilik bengkel sebelah. Dari kalimat yang diucapkan oleh Selma, dapat diketahui bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat pernyataan (deklaratif). Yang artinya, Selma
menyatakan atau memberitahukan bahwa Olio adalah anjing pemberian tetangganya.
Sementara itu, tindak tutur ilokusi adalah maksud yang ingin diungkapkan oleh penutur. Maksud yang diungkapkan dapat berupa tindakan menyatakan, berjanji, meminta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta, dan lain sebagainya. Tindak tutur ilokusi yang ditemukan oleh peneliti yang terdapat dalam novel salah satunya adalah tuturan yang diucapkan oleh Jarkasi kepada Jaelani. Jarkasi berkata Selera elu gimana sihm Bang? Bilang, entar gue cariin, Awak kapal tersebut berteriak untuk memelankan laju kapal.
Dari tuturan tersebut tampak ada tujuan dan tindakan yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu kepada mitra tutur. Penutur langsung memerintahkan untuk memelankan laju kapal agar perahu tidak terkena hantaman ombak yang besar. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Nadar (2009: 14) yang mengatakan bahwa tindak tutur ilokusioner adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu. Dari kalimat yang diucapkan oleh salah seorang awak kapal tersebut tampak bahwa ketika ia memerintahkan nahkoda untuk memelankan laju kapal. Yang artinya ada sesuatu yang ingin dicapai, yaitu agar kapal tidak menghantam ombak yang besar.
Sedangkan tindak tutur perlokusi adalah efek yang dipahami oleh mitra tutur atas tuturan si penutur. Efek yang ditimbulkan oleh tuturan penutur dapat berupa tindakan seperti mempermalukan, mengintimidasi, membujuk, dan lain-lain. Tindak tutur ini disebut The Act of Affecting Someone (Rahardi, 2009:
Sumarsono, 2009). Salah satu tindak perlokusi yang terdapat di dalam novel
adalah ketika Salempang berkata “Ah, enggak apa-apa Beh, entar Lempang cariin kursi tamu yang biasa aja ya Beh”. Dari tuturan di samping tampak bahwa ucapan Haji Jaelani sebelumnya mempengaruhi Salempang untuk membelikan kursi baru yang anti banjir, bukan kursi yang terbuat dari bahan kain, mungkin Salempang bisa mengganti kursi tersebut dengan yang berbahan kayu saja.
Dengan demikian, temuan jenis tindak tutur dalam novel populer ini didasarkan pada dua hal, yakni konteks situasi yang menaungi tuturan dan isi tuturan itu sendiri sehingga dari kedua hal tersebut dapat ditentukan jenis tuturannya.
4.3.2 Maksud Tindak Tutur dalam Novel Populer
Dari hasil analisis, peneliti menemukan maksud yang terkandung di dalam novel populer tahun 2000-an melalui tuturan para tokohnya. Tentu saja maksud yang dimaksudkan adalah maksud yang terikat dengan konteks (context dependent). Dengan kata lain, maksud yang dianalisis adalah maksud penutur (speaker meaning) yang terikat dengan konteks tuturannya. Konteks dibedakan menjadi dua, yakni konteks dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas konteks sebagai pengetahuan tentang faktor-faktor di luar tuturan yang dipertimbangkan dalam berkomunikasi. Dalam arti sempit, konteks adalah bagian lain dari teks sebelum atau sesudahnya (co-text) (Pranowo, 2020: 315).
Selanjutnya, Dey (dalam Pranowo, 2020) menyatakan bahwa konteks adalah segala informasi yang dapat digunakan untuk menentukan situasi suatu entitas.
Entitas dapat berupa orang, tempat, atau objek yang dianggap relevan dengan
interaksi antarpengguna. Leech (1993) mengemukakan bahwa konteks sebagai aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan dan pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur (P) dan mitra tutur (MT). Mey (dalam Putrayasa, 2014) mendefinisikan konteks sebagai konsep dinamis dan bukan konsep statis yang harus dipahami sebagai lingkungan yang senantiasa berubah. Peneliti menemukan maksud yang terikat konteks seperti pada data berikut “Ia petarung sejati, ia ingin memenangkan pertarungan yang tak pernah dimenangkan ibunya.”
Tuturan di atas merupakan tindak tutur lokusi. Yang mana memiliki maksud untuk menyindir. Data di atas diungkapkan dalam bentuk kalimat deklaratif. Tampak dari kata ‘petarung’ yang dalam KBBI memiliki arti orang yang bertarung. Namun secara eksternal apabila ditinjau dari penggunaannya, kata
‘petarung’ tidak selalu bermakna orang yang bertarung. Kata ‘petarung’ di atas tidak bermakna sebagaimana mestinya. Sehubungan dengan konteks kalimatnya, kata tersebut memiliki makna bayi yang hebat atau kuat karena Dewi Ayu sudah melakukan berbagai macam cara untuk membunuhnya, namun apalah daya bayi itu terus tumbuh dan berkembang di dalam perutnya.
Selanjutnya, tuturan yang berbunyi “Bukan lintah yang kita makan, tetapi darah sapi.”. Data di atas merupakan tindak tutur ilokusi. Yang mana merupakan kalimat deklaratif. Tampak dari kata ‘lintah’ yang dalam KBBI memiliki arti hewan air seperti cacing, berbadan pipih bergelang-gelang, berwarna hitam atau cokelat tua, pada kepala dan ujung badannya terdapat alat untuk mengisap darah.
Namun secara eksternal apabila ditinjau dari konteks tuturannya, kata ‘lintah’
memiliki maksud lain. Kata tersebut memiliki arti darah sapi. Karena lintah tersebut sebelumnya telah ditempelkan pada tubuh sapi, dan lintah akan mengisap darah sapi. Lalu direbus dan lintah itu pun dipotong untuk mengeluarkan darah sapi.
Sementara itu, tuturan yang berbunyi “Berikan kekuasaanmu padaku”
merupakan tindak tutur perlokusi. Pada percakapan tersebut mengarah langsung pada kata ‘kekuasaan’ yang dinyatakan secara langsung. Hal ini sejalan dengan pendapat (Kridalaksana, 1993) yang menyatakan bahwa tindak tutur adalah pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui oleh pendengar. Edi Idiot telah mengetahui maksud dari perkataan Maman Gendeng tersebut. Tentu saja Edi Idiot tidak akan menyerahkan kekuasaannya begitu saja kepada Maman Gendeng. Namun, diselesaikan dengan pertarungan. Apabila Edi Idiot kalah maka ia akan memberikan kekuasaannya kepada Maman Gendeng.
Penelitian mengenai jenis tindak tutur dan maksud yang terkandung dalam novel populer tahun 2000-an ini relevan dengan pendapat yang disampaikan oleh Putrayasa (2014) bahwa tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomunikasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek-aspek situasional komunikasi. Dalam menuturkan kalimat, seseorang tidak semata-mata
mengatakan sesuatu dengan mengucapkan kalimat itu. Ketika seseorang menuturkan kalimat tersebut, berarti ia menindakkan sesuatu.
Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novi Safriani, Saiffudin Mahmud dan Muhammad Iqbal dengan judul “Tindak Tutur dalam Novel Perempuan Terpasung Karya Hani Naqshabandi” persamaan penelitian ini adalah tindak tutur dianalisis berdasarkan jenisnya. Jenis tindak tutur yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Novi dkk yaitu tindak tutur asertif dalam bentuk menyatakan, menyarankan, mengeluh, membual, dan mengklaim. Sedangkan dalam penelitian ini ditemukan tindak tutur lokusi, ilokusi (representatif, komisif, direktif, ekspresif, deklaratif), dan perlokusi. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini sekaligus mengidentifikasi maksud tuturan yang diucapkan oleh para tokoh dalam novel populer tahun 2000-an.
103 BAB V PENUTUP
Pada bab kelima ini akan diuraikan mengenai dua hal, yaitu (1) kesimpulan dan (2) saran. Berikut ini peneliti akan memaparkan secara ringkas kesimpulan dari hasil temuan dan juga saran yang berisi hal-hal relevan yang perlu diperhatikan untuk penelitian selanjutnya.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab IV mengenai “Jenis Tindak Tutur dan Maksud Tuturan Pengarang Novel Populer Periode 2001-2010 Melalui Para Tokoh-tokohnya: Suatu Kajian Pragmatik”, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pertama, peneliti menemukan beberapa jenis tindak tutur yang digunakan dalam novel populer tahun 2001-2010 yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Peneliti menemukan data yang merupakan tindak tutur lokusi dan kesemuanya merupakan kalimat deklaratif. Sedangkan pada tindak tutur ilokusi terdiri dari lima jenis yaitu, (1) tindak tutur representatif dalam bentuk (a) menyatakan, (b) mempertahankan, (c) menolak, (d) menjelaskan, dan (e) memberitahukan; (2) tindak tutur komisif dalam bentuk (a) berjanji, (b) menjanjikan, (c) menawarkan, dan (d) ancaman; (3) tindak tutur direktif dalam bentuk (a) memerintah, (b) menyuruh, (c) meminta, (d) memohon, (e) perintah, (f) mengajak, (g) merendah, dan (h) khawatir; (4) tindak tutur ekspresif dalam bentuk (a) memuji, (b) terima kasih, dan (c) minta maaf; (5) tindak tutur deklaratif dalam
bentuk tidak setuju. Berikutnya, tindak tutur perlokusi peneliti menemukan dua data berupa kalimat imperatif dan deklaratif. Keseluruhan data penelitian yang diperoleh dalam bentuk kata, frasa maupun kalimat. Jenis tindak tutur ilokusi dalam bentuk perintah menjadi temuan yang dominan.
Kedua, makna tuturan yang terdapat di dalam novel populer tahun 2000-an merupak2000-an makna pragmatic (maksud y2000-ang ingin disampaik2000-an oleh penuturnya). Oleh karena itu, makna pragmatik dalam tesis ini akan mengikuti apa yang dimaksud oleh penuturnya. Adapun setiap tuturan para tokoh memiliki maksud yang hanya bisa diketahui jika memperhatikan siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, di mana, dan apa tujuannya sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh mitra tuturnya. Ditinjau dari segi pragmatik, makna yang sering muncul dalam novel populer tahun 2000-an meliputi makna perintah, menolak, menjelaskan, meminta maaf. Dengan kata lain, tanpa memahami konteks mitra tutur akan kesulitan memahami maksud penutur.
5.2 Saran
Bagi para pengajar atau dosen khususnya pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan kajian pragmatik pada pembelajaran sastra sebagai bahan pembelajaran bahasa.
Bagi para peneliti, penelitian ini masih dapat dikatakan memiliki banyak cakupan yang bisa dijadikan sebagai bahan dan pengembangan penelitian selanjutnya. Penelitian tindak tutur ini bisa diimplementasikan tidak hanya pada
novel saja, namun bisa diimplementasikan pada sumber data lain atau menggunakan novel dengan genre yang berbeda. Mengingat pragmatik tidak hanya mengkaji mengenai tindak tutur, namun juga deiksis, implikatur, presuposisi (praanggapan), dan prinsip kerja sama.
106 Daftar Pustaka
Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Alwasilah, C. (1993). Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung:Angkasa.
Annisa, Ayu Novia. (2008). Tindak Tutur Ilokusi dalam Kumpulan Cerita Rakyat Melayu Mempawah Zaman Kerajaan. Artikel Jurnal.
Austin, J.L. (1962). How do to Things with Words. Oxford: the Clarendon Press.
Brown, Gillian dan Goerge Yule. (1996). Discourse Analysis. Cambridge:
Cambridge University Press.
Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Putra Grafika.
Chaer, Abdul. (2007). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Cummings, L. (2005). Pragmatic, A Multidisciplinary Prespective. New York:
Edinburgh University Press.
Damono, Sapardi Djoko. (2003). Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang.
Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Dejowati, Cahyaningrum. (2015). Sastra Populer Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Fananie, Zainuddin. (2002). Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press
Grundy, Peter. (1995). Doing Pragmatics. New York: St Martin’s Press.
Halliday, Michael. (1973) Explorations in the Functions of Language. London:
Edward Arnold.
Housley, Suzie. (2003). Chick-Lit: Is it A Fad that is Slowing Fading?
www.MyShelf.com.
Ibrahim, Abd. Syukur. (1993). Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Internasional.
Kasher, A. (1998). Pragmatics. Vol II: Speech Act Theory and Particular Speech Act. New York: TJ Internatinal Ltd.
Kridalaksana, H. (1993). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Laila, Musrifa. (2016). Tindak Tutur Dalam Novel 728 Hati Karya Djono W.
Oesman. Jurnal Bastra.
Leech, Geoffrey N. (1983). Principles of Pragmatics. London: Longman.
Levinson, Stephen C. (1983). Pragmatics. London: Cambridge University Press.
Lubis, A. Hamid Hasan. (1993). Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Mihardja, Ratih. (2012). Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Laskar Aksara.
Moleong, Lexy. J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Dharma.
Morris, Charles W. (1938). “Foundations of The Theory of Signs” in International Encyclopedia of Unified Science, Volume I – Number 2.
Chicago: The University of Chicago Press.
Mujiyanto, Yant dan Fuady, Amir. (2014). Kitab Sejarah Sastra Indonesia.
Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Nadar, F.X. (2009). Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nurgiyantoro, Burhan. (2005). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Poedjosoedarmo, Soepomo. (1985). Komponen Tutur di dalam Soenjono Dardjowidjojo. Perkembangan Linguistik di Indonesia. Jakarta: Penerbit Arcan.
Pranowo. (2015). Tergantung Pada Konteks. Universitas Sanata Dharma: Jurnal Prosiding PIBSI.
Pranowo. (2020). Tingkat Kesantunan Nonverbal Dalam Tuturan Verbal Antara Penjual Dan Pembeli Di Pasar Beringharjo Yogyakarta: Kajian Etnopragmatik. Jurnal Kajian Bahasa.
Putrayasa, I.B. (2010). Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: Refika Aditama.
____________________. (2014). Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rahardi, Kunjana. (2003). Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang:
Penerbit Dioma.
____________________ . (2009). Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga.
Rampan, Korrie Layun. (2000). Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rohmadi, M. (2010). Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.
Sampson.
Rustono, (1999). Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Safriani, Novi. (2018). Tindak Tutur Asertif dalam Novel Perempuan Terpasung Karya Hani Naqshabandi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Jurusan PBSI. Vol. 3 No.
1: Januari 2018.
Sarumpaet, Riris K. Toha. (2002). Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.
Searle, John. R. (1969) Speech Act: An Essay on the Philosophy of Language.
New York. Cambridge University Press.
____________________. (1979). Taxonomy of Illocutionary Act. Dalam Martinich A.P. The Philosophy of Language. 2001. Fourth Edition. New York: Oxford University Press.
Semi, Atar. M. (1993). Metode Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
Spradley.P. James. (1980) Participant Observation. Florida: Holt, Rinehart and Winston.
Sumardjo, Jakob & Saini K.M. (1986). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:
Gramedia.
Sumarsono. (2009). Pragmatik. Singaraja: Undiksha.
Verschueren, Jef. (1999). Understanding Pragmatics. London: Arnold.
Wellek, Rene and Austin Warren. (1968). Teori Kesusastraan. Diindonesiakan oleh Melani Budianta. Jakarta: PT. Gramedia.
Wijana, D.P. (1996). Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.
Wiranty, Wiendi. (2015) Tindak Tutur Dalam Wacana Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata (Sebuah Tinjauan Pragmatik). Jurnal Pendidikan Bahasa, Vol. 4, No.2.
Yule, George. (1996). Pragmatics. Oxford : Oxford University Press.
________________. (2006). Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
LAMPIRAN
1
TABULASI DATA Keterangan:
Di bawah ini merupakan data penelitian yang berjudul “Jenis Tindak Tutur dan Maksud Tuturan Pengarang Novel Populer Indonesia Periode 2001-2010 Melalui Para Tokohnya: Suatu Kajian Pragmatik”. Berilah tanda (√) pada kolom penilaian (S) apabila Anda setuju bahwa maksud tuturan dan jenis tuturan sesuai berdasarkan data tuturan atau berilah tanda (√) pada kolom penilaian (TS) apabila Anda tidak setuju bahwa maksud tuturan dan jenis tuturan tidak sesuai dengan data tuturannya. Selanjutnya, berikan alasan dan perbaikan sesuai dengan keahlian Anda pada kolom keterangan. Tuturan yang dimasukkan ke dalam tabulasi data adalah hasil temuan dalam novel populer Indonesia dengan keseluruhan hasil temuan berjumlah 57 data. Novel yang diteliti sebanyak lima novel yaitu Cantik Itu Luka sebanyak 16 data, Kronik Betawi sebanyak 13 data, Moga Bunda Disayang Allah sebanyak 13 data, Rahasia Selma sebanyak 8 data, Sang Pemimpi sebanyak 7 data.
Sumber data: Eka Kurniawan (EK) dengan novelnya Cantik Itu Luka (CIL).
No Kode Data
Data Tuturan Maksud Tuturan Jenis
Tuturan
Persetujuan Keterangan S TS
1. EK/CIL /6/1
“Ia petarung sejati, ia ingin
memenangkan pertarungan yang tak
Maksud tuturan tersebut ialah Dewi Ayu sudah mencoba berbagai cara untuk membunuh anak tersebut, mulai
TT lokusi √
pernah dimenangkan ibunya.”
Konteks: Dewi Ayu menyatakan bahwa anak bungsunya sebagai petarung sejati. Sebab bayi itu tetaplah hidup meski sudah delapan kali ia mencoba untuk membunuhnya.
dari menelan lima butir parasetamol, memanggil dukun untuk
mengeluarkan anak itu dengan paksa namun selalu gagal. Bayi itu semakin tumbuh, Dewi Ayu pun berputus asa.
Bayi tersebut menang dari Dewi Ayu.
2. EK/CIL /7/2
“Belikan aku kain kafan,” kata Dewi Ayu.
Konteks: Tuturan tersebut dituturkan oleh Dewi Ayu kepada Rosinah. Dewi Ayu ingin mati saja, maka dati itu ia menyuruh Rosinah untuk
membelikannya kain kafan.
Maksud tuturan tersebut ialah Dewi Ayu merasa lelah dengan hidupnya. Ia sekarang memiliki empat anak
perempuan dan hidup lebih setengah abad. Ia tidak bisa menerima
kenyataan betapa buruk rupanya
“Sebab setan tak kurang iseng daripada dewa dan Tuhan,” katanya.
“Seperti Maria melahirkan anak Tuhan dan kedua istri Pandu melahirkan
anak-Maksud dari tuturan tersebut ialah Dewi Ayu menyebut lelaki yang telah menidurinya sebagai setan.
Pekerjaannya sebagai pelacur itulah
TT lokusi √ Marah
anak dewa, rahimku jadi tempat setan membuang anak-anak mereka dan aku melahirkan anak-anak setan. Aku bosan, Rosinah.”
Konteks: Tuturan tersebut dituturkan oleh Dewi Ayu Kepada Rosinah. Ia bosan punya anak. Pekerjaan Dewi Ayu sebagai pelacur membuatnya tak tahu siapa ayah dari bayi itu.
yang membuatnya tidak tahu siapa ayah dari anaknya itu.
4. EK/CIL /15/4
“Aku sendiri punya tiga anak
perempuan, jadi untuk apa bocah ini buatku?”tanyanya.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan leh Dewi Ayu kepada orang tua yang tidak lain adalah Ayah Rosinah ketika mereka sedang berada di rumah pelacuran Mama Kalong.
Maksud dari tuturan tersebut adalah Dewi Ayu berkata kepada Ayah Rosinah bahwa ia sudah mempunyai tiga anak perempuan ketika Ayah Rosinah akan menyerahkan Rosinah kepadanya sebagai ganti bayaran karena Ayah Rosinah tak sanggup membayar jasa pelacurannya.
5. EK/CIL /17/5
“Benar,” kata Dewi ayu.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh Dewi Ayu kepada Rosinah, ia membenarkan pertanyaan Rosinah bahwa ia telah memiliki tiga anak perempuan.
Maksud dari tuturan tersebut ialah Dewi Ayu membenarkan bahwa ia memiliki tiga anak perempuan, yang mana mereka telah pergi setelah tahu bagaimana membuka kancing celana
“Kawin atau ke tempat pelacuran itu sama-sama pengkhianatan,” kata Ma Gedik keras kepala.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh Ma Gedik ketika teman-temannya mencoba menghiburnya yang ditinggal pergi Nyai Iyang.
Maksud dari tuturan tersebut ialah Ma Gedik berpendapat bahwa kawin atau pergi ke tempat pelacuran adalah sebuah pengkianatan. Ketika itu Ma Gedik dihibur oleh teman-temannya
“Kau begitu tampan,” kata mereka,”
membuat khawatir istriku dibuat jatuh cinta kepadamu.”
Maksud dari tuturan tersebut ialah teman-teman Ma Gedik memuji
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh teman-teman Ma Gedik
kepadanya. Mereka begitu kagum melihat penampilan Ma Gedik kala itu.
dari sebelumnya setelah dimandikan, memakai pakaian yang bagus, dan diberi wewangian.
memuji.
8. EK/CIL /53/8
“Kalian harus mengungsi, Nyonya,”
katanya pada Marietje Stammler, yang tak berkata apa-apa ditemani Hanneke dan Dewi Ayu.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh seorang kontrolir kepada keluarga Marietje Stammler setelah mengetahui bahwa Surabaya telah dibom Jepang.
Maksud dari uturan tersebut ialah seorang kontrolir menyuruh keluarga Stammler untuk mengungsi, Surabaya telah dibom oleh Jepang. Keadaan tak lagi aman apabila mereka masih berada di Surabaya. Lebih baik mereka mengungsi.
Keluarga Stammler yang hanya tersisa tiga orang segera berkemas setelah memperoleh kepastian kapan mereka bisa berangkat, namun dikejutkan oleh keputusan Dewi Ayu yang tiba-tiba,
Maksud dari tuturan tersebut ialah Dewi Ayu menolak untuk
meninggalkan Surabaya, ia lebih memilih untuk menetap di tengah-tengah situasi yang membahayakan.
TT ilokusi representatif bentuk menolak.
√
“Aku tak akan pergi.”
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh Dewi Ayu kepada keluarga Stammler saat mereka sedang bersiap untuk meninggalkan Surabaya. oleh Mr. Willie kepada Dewi Ayu sesaat setelah ia berdandan rapi mengenakan jas, dasi, dan sepatu kulit mengilap.
Maksud dari tuturan tersebut ialah Mr. Willie meminta Dewi Ayu untuk menikah dengannya.
“Bukan lintah yang kita makan, tapi darah sapi,” kata Dewi Ayu lagi menjelaskan.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan
Maksud dari tuturan tersebut adalah Dewi Ayu menjelaskan kepada perempuan dengan anak-anak mereka yang tinggal di sekitarnya bahwa yang akan mereka makan bukanlah lintah
TT ilokusi representatif bentuk menjelaskan.
√
oleh Dewi Ayu kepada beberapa perempuan dengan anak-anak mereka yang tinggal dim sekitarnya,
bertetangga.
tapi darah sapi (anggap saja seperti itu).
12. EK/CIL /71/12
“Terima kasih,” jawab mereka segera.
Konteks: tuturan tersebut dituturkan oleh para tetangga Dewi Ayu
kepadanya. Karena berkat Dewi Ayu mereka tak lagi kelaparan.
Maksud dari tuturan tersebut ialah pere tetangga Dewi Ayu berterima kasih kepadanya karena berkat Dewi Ayu mereka tidak lagi kelaparan meski yang harus mereka makan
Maksud dari tuturan tersebut ialah pere tetangga Dewi Ayu berterima kasih kepadanya karena berkat Dewi Ayu mereka tidak lagi kelaparan meski yang harus mereka makan