• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 4. METODOLOGI PENELITIAN

6. Instrumen Penelitian

Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang diambil berdasarkan yang ada di tinjauan pustaka. Ada tiga bagian dalam kuesioner ini yaitu :

6.1 Kuesioner Karakteristik Responden

Kuesioner data demografi pada mahasiswi memuat pertanyaan untuk memeperoleh identitas responden yang meliputi : inisial, usia, usia menarche dan lama menstruasi.

6.2 Kuesioner Pengukuran Intensitas Nyeri

Instrumen yang digunakan dalam pegukuran intensitas nyeri adalah Numeric Rating Scale yang diadopsi dari Prasetyo (2010). Skala ini digunakan

pada orang dewasa dengan kognitif yang memadai, dianggap sederhana dan mudah dimengerti. Skala ini dalam bentuk garis horizontal yang terdiri dari angka 0-10. Angka 0 menyatakan tidak ada nyeri, angka 1-3 menyatakan nyeri ringan, angka 4-6 menyatakan nyeri sedang, angka 7-10 menyatakan nyeri berat.

Responden akan diminta untuk menunjukkan salah satu titik yang mewakili intensitas nyeri yang dirasakan.

6.3 Standar Prosedur Operasional (SPO) Relaksasi Benson

SPO relaksasi Benson dalam penelitian ini diadopsi dari Solehati (2015).

SPO relaksasi Benson digunakan sebagai panduan untuk melakukan intervensi

30

yang terdiri dari penjelasan, manfaat, waktu tempat dan prosedur tindakan relaksasi Benson serta evaluasi dari tindakan tersebut.

7. Validitas dan Reabilitas

Peneliti pada penelitian ini, peneliti tidak perlu melakukan uji validitas dan reabilitas karena skala pengukuran intensitas nyeri yang dipakai merupakan alat ukur yang sudah baku atau valid sehingga peneliti tidak perlu melakukan uji validitas.

NRS sudah teruji validitas dan reliabilitasnya berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu,Liu dan Herr (2007) didapatkan nilai validitas 0,90 dan nilai konsistensi interval dengan menggunakan Alpha-Cronbach didapatkan nilai reabilitas lebih dari 0,95.

8. Intervensi

Pada bagian intervensi peneliti mengidentifikasi mahasiswi muslim yang mengalami dismenore dengan menyebar lembar observasi melalui google form yang dibuat oleh peneliti. Lembar observasi ini disebar disetiap grup kelas pada angkatan 2019-2016. kemudian dipilih 50 mahasiswi yang mengalami nyeri dan memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah sampel sama disetiap angkatan serta meminta ketersediaan responden menjadi sampel penelitian. Setelah responden bersedia selanjutnya sampel dibagi menjadi 25 orang sebagai kelompok intervensi dan 25 orang sebagai kelompok kontrol. Kemudiaan peneliti melakukan pendekatan untuk melakukan kontrak waktu dan memberikan penjelasan

melalui virtual kepada responden. Setelah itu peneliti mengirimkan SPO, brosur dan video tehnik relaksasi Benson sebagai panduan responden mempraktekkan relaksasi Benson ketika mengalami dismenore.

Semua responden melaporkan dismenore yang dialaminya kepada peneliti pada hari pertama menstruasi untuk mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap pre test. Kelompok intervensi melakukan relaksasi Benson sesuai dengan yang telah diajarkan selama 10 menit, dan setelah selesai peneliti menanyakan kembali tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap post test.

Kelompok kontrol melaporkan tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap pre test dan melakukan aktivitas biasa yang dilakukan ketika mengalami menstruasi yang diantaranya yaitu berbaring, minum air hangat, memberikan minyak kayu putih pada bagian perut. Setelah 10 menit responden melaporkan kembali tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap post test.

Setelah didapatkan hasil dari pre test dan post test pada kedua kelompok, selanjutnya peneliti mengajarkan tehnik relaksasi Benson secara virtual kepada kelompok kontrol agar bisa dipraktekkan nantinya untuk mengatasi nyeri haid serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan.

9. Alat dan Bahan

a. Lembar Kuesioner NRS b. Lembar SPO

c. Brosur d. Video

32

10. Pengumpulan Data

Setelah mendapatkan izin melakukan penelitian, peneliti mulai mengumpulkan data dengan melakukan wawancara untuk mengetahui mahasiswi muslim yang mengalami nyeri pada saat menstruasi atau dismenore. Ketika data belum semua terkumpul, terjadilah pandemi covid-19 yang mengakibatkan kampus lockdown dan mengharuskan semua orang untuk tetap berada dirumah.

Kemudian untuk melengkapi data tersebut peneliti mengirimkan lembar observasi melalui google fom yang berisi pertanyaan yang telah ditetapkan sebelumnya, supaya mahasiswi menjawab pertanyaan tersebut untuk mengetahui data yang diperlukan.

Setelah didapatkan jumlah mahasiwi muslim yang mengalami dismenore, selanjutnya peneliti memilih 50 orang responden sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya untuk di jadikan sampel penelitian. Dengan jumlah yang sama disetiap angkatan. Setelah itu peneliti meminta ketersedian mahasiswi tersebut untuk menjadi sampel penelitian. Jika bersedia menjadi responden diminta utuk mengisi lembar informed consent. Selanjutnya dari hasil lembar observasi responden dibagi menjadi dua kelompok dengan rincian 25 orang kelompok intervensi dan 25 orang kelompok kontrol. Kemudian peneliti melakukan kontrak waktu dengan responden dan melakukan pertemuan secara virtual untuk memeberikan penjelasan lebih rinci mengenai penelitian yang dilakukan dan mengajarkan tehnik relaksasi Benson serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan.

Selanjutnya semua responden memberikan laporan kepada peneliti saat responden tersebut mengalami nyeri haid pada hari pertama menstruasi.

Kelompok intervensi melaporkan tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap pre test. Kmudian melakukan relaksasi Benson sesuai dengan panduan selama 10

menit dan melaporkan kembali tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap post test. Kelompok kontrol juga melaporkan tingkat nyeri yang mereka rasakan

sebagai tahap pre test dan melakukan aktivitas biasa yang mereka lakukan pada saat mengalami dismenore yang diantaranya berbaring, minum air hangat, dan mengoleskan minyak kayu putih pada bagian perut, dan setelah itu melaporkan kembali tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap post test.

Setelah didapatkan hasil pre test dan post test pada kedua kelompok, selanjutnya peneliti juga mengajarkan kelompok kontrol melakukan tehnik relaksasi Benson sebagai salah satu cara mengatasi nyeri haid serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan. Setelah itu peneliti mengungkapkan terimakasih kepada responden atas kesediaan dan partisipasi mereka dalam penelitian yang dilakukan peneliti.

11. Analisa Data 11.1 Pengolahan data

Analisa data merupakan bagian penting dalam penelitian agar mencapai tujuan pokok penelitian dengan menjawab pertanyaan dan mengungkap fenomena (Nursalam, 2016). Pada penelitian ini, setelah pengumpulan data responden, selanjutnya data diolah menjadi :

34

a. Editing, adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para responden. Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah selesai dilakukan terhadap kelengkapan jawaban dan relevansi jawaban.

b. Coding, dilakukan untuk memudahkan pengolahan data. Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang diperoleh atau yang telah dikumpulkan pada masing- masing jawaban responden.

c. Sorting, adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data

menurut jenis yang dikehendaki atau klasifikasi data.

d. Entry, adalah pemasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan sistem komputerisasi yaitu dengan program SPSS.

e. Clearing, yaitu pembersihan data dilakukan dengan melihat variabel

apakah sudah benar atau belum.

f. Penyajian data, dilakukan dalam bentuk tabel frekuensi dan distribusi serta penjelasan dalam bentuk narasi.

11.2 Analisa data a. Analisis univariat

Analisa data univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Analisa univariat dalam penelitian ini mendiskripsikan karakteristik responden yang meliputi usia, usia menarche dan lama menstruasi.

b. Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan sesuai dengan uji penelitian. Analisa bivariat dilakukan dengan uji statistik Independent t-test untuk mengetahui perbandingan

antara dua kelompok berbeda. Uji ini dimaksudkan untuk menganalisis efektivitas relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri haid. Uji statistik tersebut dianalisis dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebelum dilakukan analisa bivariat maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro Wilk karena sampel tidak lebih dari 50 orang. Hasil yang didapatkan data tidak terdistribusi normal dibuktikan dengan nilai p < 0,05 maka dilakukan pengujian non parametric uji Mann-Whitney Test.

BAB 5

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas dan diuraikan hasil penelitian yang dilakukan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penelitian dilakukan dengan cara mengirimkan kuesioner kepada responden. Lembar kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data umum dan data khusus tentang efektivitas relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri haid di Fakultas Keperawatan USU. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk data umum dan data khusus. Data umum yang ditampilkan adalah usia, usia menarche dan lama menstruasi. Sedangkan data khusus yang disajikan adalah perbedaan intensitas nyeri haid pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, serta analisis efektifitas relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri pada mahasiswi dalam menghadapi nyeri haid di Fakultas Keperawatan USU. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 50 responden dengan perincian 25 responden untuk kelompok intervensi dan 25 responden untuk kelompok kontrol.

1. Hasil Penelitian

1.1 Analisa Univariat

Analisa univariat menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik responden yang diteliti meliputi usia, usia menarche, lama menstruasi.

Tabel 5.1

Data Karakteristik Responden (n=50)

Karakteristik

Intervensi Kontrol

Mean SD Mean SD

Usia 20.36 1.150 20.32 1.180

Usia Menarche 12.68 0.988 12.92 1.115

Lama Menstruasi 7.04 0.734 6.68 1.029

Pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa mayoritas rata-rata usia responden pada kedua kelompok yang mengalami nyeri haid berusia 20 tahun. Pada usia menarche didapatkan mayoritas rata-rata responden yaitu 12 tahun. Sedangkan rata-rata lama menstruasi responden didapatkan mayoritas selama 7 hari.

Tabel 5.2

Distribusi Intensitas Nyeri Haid Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

(n=50)

Kelompok Intervensi P Kelompok Kontrol P

Pre Post Pre Post

Mean SD Mean SD Mean SD Mean SD

5,16 1,344 2,20 1,118 0,000 5,20 1,443 4,96 1,368 0,034

Berdasarkan table 5.2 didapatkan bahwa rata-rata skala nyeri haid pada responden kelompok intervensi antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi mengalami penurunan. Jumlah rata-rata skala nyeri haid sebelum diberikan intervensi yaitu 5,16 dan jumlah rata-rata setelah diberikan intervensi yaitu 2,20.

38

Didapatkan nilai yang signifikan (p < 0,05) berarti ada perbedaan yang bermakna antara sebelum dan setelah diberikan relaksasi Benson.

Pada responden kelompok kontrol, didapatkan rata-rata skala nyeri antara sebelum dan setelah intervensi mengalami sedikit penurunan. Jumlah rata-rata nyeri haid sebelum intervensi yaitu 5,20 dan jumlah rata-rata setelah diberikan intervensi yaitu 4,96 berarti ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol dibuktikan dengan nilai signifikansinya (p < 0,05).

Secara statistik ada perbedaan yang signifikan dari rata-rata penurunan skala nyeri dismenore antara sebelum dan setelah intervensi, hal ini dapat di interpretasikan sebagai relaksasi Benson efektif terhadap penurunaan intensitas nyeri saat dismenore dibandingkan dengan responden kontrol yang mengalami sedikit penurunan.

1.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis efektivitas relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri pada saat dismenore. Analisa ini dilihat dari seberapa efektif relaksasi Benson terhadap penurunan intensitas nyeri pada saat dismenore, dengan menganalisa hasil dari relaksasi Benson yang dilakukan.

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui efektivitas variabel independen (relaksasi Benson) dan variabel dependen (intensitas nyeri haid) ditunjukkan dengan nilai p < 0,05. Selanjutnya untuk mengetahui apakah data penelitian terdistribusi normal atau tidak pada data sebelum dan sesudah diberi

normalitas dan didapatkan data terdistribusi tidak normal sehingga analisis yang digunakan yaitu uji analisis non-parametrik Mann-Whitney Test.

Tabel 5.3

Distribusi Perbedaan Intensitas Nyeri Haid pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

(n=50)

Kelompok Mean SD Z Score P Value

Pretest

Intervensi 5,16 1,344

-0,139 0,890

Kontrol 5,20 1,443

Postets

Intervensi 2,20 1,118

-5,327 0,000

Kontrol 4,96 1,368

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa hasil dari pretest kelompok intervensi dan kelompok kontrol diperoleh nilai signifikansi 0,890 dan Z score -0,139 dengan nilai mean sebesar 5,16 dan 5,20. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi pada saat pretest dilakukan. Sedangkan analisis data posttest kelompok intervensi dan kelompok kontrol diperoleh nilai signifikansi 0,000 dan Z score -5,327 dengan nilai mean sebesar 2,20 dan 4,96. Hasil ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada saat posttest dilakukan.

40

Tabel 5.4

Analisis Perbedaan Selisih Intensitas Nyeri Haid pada Kelompok Intervensi dan Kontrol

Kelompok Perbedaan Mean SD Z Score P Value

Intervensi 2,88 0,725

-6,103 0,00

Kontrol 0,32 0,476

Dari tabel 5.4 menunjukkan adanya perbedaan rata-rata selisih antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi memiliki nilai selisih lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dari hasil statistik dengan menggunakan analisis Uji Mann Whitney Test didapatkan signifikansi 0,000 dan Z score -6,103 dengan nilai mean 2,88 dan 0,32. Hal ini menunjukkan nilai p<0,05 yang artinya relaksasi Benson efektif untuk menurunkan intensitas nyeri haid.

2. Pembahasan

Dalam penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan pendekatan pretest & posttest control group design merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri pada saat dismenore. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik responden, mengetahui perbedaan intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi Benson dengan sebelum dan sesudah aktivitas biasa serta mengetahui efektivitas relaksasi Benson terhadap perubahan intensitas nyeri haid pada mahasiswi.

2.1 Karakteristik Responden

Usia responden pada penelitian ini antara usia 18-23 tahun. Dengan persentase terbesar pada usia 20 tahun baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Puncak kejadian nyeri saat dismenore ini terjadi pada akhir masa remaja dan diawal usia 20-an. Sesuai penelitian yang dilakukan oleh Judha (2012) mengatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya dismenore, sehingga dapat dikatan bahwa semakin muda usia seseorang maka semakin rentan mengalami nyeri menstruasi, karena rahim pada saat itu berkontraksi dan bereaksi yang mengakibatkan otot prostaglandin juga semakin meningkat. Kejadian nyeri saat dismenore akan menurun seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kelahiran.

Usia menarche responden pada penelitian ini antara usia 10-15 tahun.

Dengan persentase terbesar pada usia 12 tahun baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Sejalan dengan data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), umur rata-rata menarche remaja

Indonesia yaitu kisaran 9-14 tahun.

Lama menstruasi responden pada penelitian ini antara 4-9 hari. Dengan persentase terbesar 7 hari baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Lama menstruasi dari penelitian ini termasuk dalam kategori normal.

Sesuai dengan penelitian Adriana (2013) didapatkan hasil lama menstruasi normal yaitu 3-7 hari.

42

2.2 Efektivitas Relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri haid pada mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap intensitas nyeri haid setelah dilakukan relaksasi Benson pada kelompok intervensi. Pengolahan data menguji hasil penelitian secara kuantitatif sebelum dan setelah relaksasi Benson diperoleh nilai signifikan yaitu (p < 0,05) sehingga dapat dikatan bahwa ada efek relaksasi Benson terhadap penurunan intensitas nyeri haid pada mahasiswi. Hal ini berarti hipotesis diterima yakni relaksasi Benson efektif terhadap penurunan intensitas nyeri haid mahasiswi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2018) didapatkan hasil berdasarkan analisis perbedaan dismenore sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi Benson terhadap mahasiswi DIII Keperawatan dengan uji Wilcoxon diketahui nilai significant difference p = 0,000, <α (0,05) maka dapat

dinyatakan terdapat perbedaan yang bermakna antara dismenore sebelum dan sesudah dilakukannya relaksasi Benson.

Relaksasi Benson memiliki efek yang dirasakan oleh responden, dimana responden merasa nyaman dan bebas melakukan aktivitas biasanya, karena sebelumnya responden mengalami dismenore tetapi setelah dilakukan relaksasi Benson nyeri menstruasi yang dirasakan berkuranag bahkan hilang. Relaksasi Benson dapat dilakukan kapanpun ketika merasakan dismenore, karena timbulnya rasa nyeri setiap individu tidak dapat diprediksi.

Pada kelompok kontrol data hasil penelitian menunjukkan hasil uji statistik didapatkan nilai yang signifikan (p=0,032 atau p < 0,05) yang artinya ada perbedaan skala nyeri menstruasi sebelum dan setelah dilakukan aktivitas biasa..

Dari hasil rerata pre test nyeri menstruasi 5,20 dan hasil rerata post test nyeri menstruasi 4,96 dimana terjadi penurunan skala nyeri menstruasi pada kelompok kontrol akan tetapi penurunan tersebut sangatlah kecil dan masih berada pada tingkatan yang sama.

Beberapa penanganan yang dilakukan oleh kelompok kontrol adalah berbaring ditempat tidur, menggunakan kayu putih dengan mengoleskan pada bagian perut, minum air hangat dan lain sebagainya. Kelompok kontrol dalam penelitian ini sebagian besar mengalami nyeri menstruasi sedang, nyeri yang dirasakan responden dipengaruhi oleh usia, menarche dini dan masa menstruasi yang panjang, kondisi ini membutuhkan penanganan untuk meredakan nyeri tersebut. Pada kelompok kontrol responden tidak melakukan relaksasi Benson tetapi mereka melakukan aktivitas yang biasa mereka lakukan pada saat nyeri menstruasi. Hal ini dinilai kurang dapat mengurangi nyeri menstruasi yang dirasakan responden.

Berdasarkan distribusi perbedaan nyeri haid sebelum dilakukan relaksasii Benson pada kelompok intervensi dan kontrol didapatakan Z score = -0,139 dengan nilai p = 0,890 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dilakukan relaksasi Benson.

44

Sedangkan setelah dilakukan relaksasi Benson ada perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan perbedaan ratarata terbesar pada kelompok intervensi. Dibuktikan dengan nilai Z score = -5,327 dan p = 0,000 (p < 0,05).

Hasil uji statistik Mann-Whitney didapatkan nilai Z score = -6.103, p value = 0,000 untuk data selisih intensitas nyeri haid kelompok intervensi dan

kelompok kontrol setelah dilakukan relaksasi Benson. Hal ini menunjukkan ada perbedaan rata-rata selisih intensitas nyeri haid setelah dilakukan relaksasi Benson dibuktikan dengan nilai signifikansinya yaitu p<0,05 artinya Ha diterima, berarti relaksasi Benson efektif untuk menurunkan intensitas nyeri haid.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mawarni (2018) didapatkan hasil Independent Sample Test didapatkan p=0,000 yang artinya ada pengaruh relaksasi Benson terhadap nyeri menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Tongas-Probolinggo. Berdasarkan penelitian dari Yusliana (2015) terkait relaksasi benson merupakan salah satu tekhnik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri, hal ini disebabkan karena saat menghirup nafas mendapatkan oksigen yang sangat diperlukan tubuh untuk membersihkan darah dan mencegah kerusakan jaringan otak akibat kekurangan oksigen (hipoksia). Saat tarik nafas panjang otot-otot dinding perut (rektus abdominalis, transversus abdominalis, internal dan ekternal obligue) menekan iga bagian bawah kearah belakang serta mendorong sekat

diafragma ke atas dapat berakibat meninggikan tekanan intra abdominal, sehingga dapat merangsang aliran darah baik vena cava inferior maupun aorta abdominalis, mengakibatkan aliran darah (vaskularisasi) menjadi meningkat

keseluruh tubuh terutama organ-organ vital seperti otak, sehingga O2 tercukupi didalam otak dan tubuh menjadi rileks.

Kombinasi antara teknik relaksasi dan kuatnya keyakinan yang baik merupakan faktor keberhasilan relaksasi. Unsur keyakinan yang akan digunakan dalam intervensi adalah unsur keyakinan agama. Unsur keyakinan yang dimasukkan adalah penyebutan kata atau kalimat yang sesuai dengan keyakinan agama masing-masing secara berulang-ulang yang disertai dengan sikap pasrah.

Terapi relaksasi benson sebagai sebuah terapi yang dapat menjadi referensi untuk dapat menurunkan depresi,terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan agama.

Keutamaan dari relaksasi benson yaitu prosedur mudah dilakukan, dapat dilakukan dengan sendiri setiap waktu, tidak memerlukan biaya yang banyak, dan tidak memerlukan waktu yang lama (Benson, 2011).

Relaksasi napas dalam disertai pengucapan kalimat keagamaan seperti menyebut nama-nama Tuhan atau zikir dapat menurunkan kadar hormon yang menyebabkan nyeri sehingga meningkatkan perasaan nyaman dan senang yang akhirnya menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan. Selain itu zikir dan doa dari sudut pandang ilmu kesehatan mental merupakan terapi psikiatrik, setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa. Hal ini dikarenakan zikir dan doa mengandung unsur spiritual keruhanian, keagamaan yang dapat membangkitkan harapan dan percaya diri yang pada akhirnya kekebalan tubuh dan kekuatan psikis meningkat sehingga rasa sakit akan sembuh (Hawari, 2009).

Penurunan skala nyeri pada kelompok intervensi memang efek dari relaksasi Benson yang dilakukan oleh responden, sedangkan pada kelompok

46

kontrol mereka tidak melakukan relaksasi Benson akan tetapi responden melakukan aktivitas biasanya yang dilakukan mulai dari berbaring ditempat tidur, menggunakan minyak kayu putih dan minum air hangat akan tetapi penurunan skala nyeri pada kelompok kontrol sangat sedikit bahkan ada yang mengalami peningkatan skala nyeri. Oleh sebab itu pada kelompok intervensi terdapat perbedaan skala nyeri yang signifikan, meskipun tingkat kemaknaan nyeri setiap individu berbeda. Hal ini menunjukkan terapi relaksasi Benson memiliki efek yang cukup besar terhadap penurunan nyeri menstruasi.

Dari hasil penelitian diatas peneliti berasumsi bahwa relaksasi Benson efektif dalam menurunkan nyeri dismenore, hal ini terlihat pada saat sebelum dilakukan relaksasi Benson banyak mahasiswi mengeluh terhadap nyerinya yang cenderung kehilangan minat, sulit beraktivitas, konsentrasi berkurang, susah tidur, dan tidak bersemangat. Sedangkan setelah dilakukan relaksasi Benson nyeri yang awalnya berat menjadi sedang dan yang sedang menjadi ringan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa intervensi relaksasi Benson efektif terhadap menurunkan intensitas nyeri.

3. Keterbatasan penelitian

Penelitian yang dilakukan peneliti masih memiliki beberapa keterbatasan.

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah :

1. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah jumlah sampel minimal dimana pengambilan sampel pada penelitian ini adalah 20% dari populasi

2. Tindakan mandiri yang dilakukan responden dipilih tidak secara acak oleh peneliti antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol

3. Penjelasan mengenai teknik relaksasi Benson diajarkan secara virtual sehingga tidak dapat diobservasi secara langsung oleh peneliti

4. Pengumpulan data pada penelitian ini hanya satu kali dilakukan pada hari pertama menstruasi dan langsung didapatkan hasilnya setelah dilakukan relaksasi Benson pada kelompok intervensi dan aktivitas biasa pada

4. Pengumpulan data pada penelitian ini hanya satu kali dilakukan pada hari pertama menstruasi dan langsung didapatkan hasilnya setelah dilakukan relaksasi Benson pada kelompok intervensi dan aktivitas biasa pada