Bab 2. TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dismenore
1.5 Intensitas Nyeri Haid
Intensitas nyeri adalah gambaran atau tingkat keparahan nyeri yang dirasakan oleh seseorang. Pengukuran intensitas nyeri bersifat subjektif dan individual. Sedangkan pengukuran nyeri dengan pendektan objektif dilakukan dengan menggunkan respon fisiologi tubuh terhadap nyeri yang dirasakannya.
Intensitas nyeri seseorang dapat diukur dengan menggunakan skala nyeri.
Sakala nyeri tersebut adalah :
1.5.1 Numeric Rating Scale (NRS)
NRS adalah skala nyeri yang digunakan seseorang dengan memberikan nilai pada rentang nilai 0-10 sesuai dengan tingkat nyeri yang dirasakan. Skala ini dianggap sederhana, mudah dimengerti dan lebih sensitif jika dibandingkan dengan VAS. Akan tetapi sakala nyeri ini memiliki kekurangan yaitu pilihan kata yang menjelaskan rasa nyeri pada setiap rentang nilainya (Yudiyanta, 2015).
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 2.1 Numeric Rating Scale
Sumber : Prasetyo (2010) Tabel 2.1 Keterangan skala nyeri
Skala Nyeri Keterangan (Kriteria Nyeri) 0
(Tidak Nyeri)
Tidak ada keluhan nyeri haid atau kram di area perut bagian bawah, wajah tersenyum, vocal positif, bergerak dengan mudah, tidak menyentuh atau menunjukkan area yang nyeri.
1-3 (Nyeri Ringan)
Terasa kram pada perut bagian bawah, tetapi masih dapat ditahan, masih dapat melakukan aktivitas, masih dapat
4-6 (Nyeri Sedang)
Terasa kram di area perut bagian bawah, kram atau nyeri tersebut menyebar ke pinggang, kurang nafsu makan, sebagian aktivitas dapat terganggu, sulit atau susah berkonsentrasi belajar, terkadang merengek kesakitan, wajah netral, tubuh bergeser secara netral, menepuk/meraih area yang nyeri.
7-10 (Nyeri Berat)
Terasa kram berat pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, paha atau punggung, kurang nafsu makan, mual, badan lemas, tidak kuat beraktivitas, tidak dapat berkonsentrasi belajar, menangis, wajah merengut/meringis, kaki dan tangan tegang atau tidak dapat digerakkan.
1.5.2 Visual Analog Scale (VAS)
VAS merupakan skala yang menggunakan linear sepanjang 10 cm dengan atau tanpa tanda pada setiap centimeter yang menggambarkan secara visual gradasi tingkat nyeri yang dialami oleh seseorang. Tanda pada kedua ujung garis dapat berupa angka pernyataan deskriptif. VAS dapat dimodifikasi menjadi skala penghilang rasa nyeri, skala ini digunakan pada orang dewasa dan anak > 8 tahun. Kelebihan utama dari VAS adalah penggunaan yang sederhana dan kekurangannya adalah adanya keterbatasan keterangan pada garis sehingga tidak dapat menggambarkan setiap tipe nyeri (Yudiayanta, 2015).
Tidak Nyeri
nyeri sangat
hebat Gambar 2.2 Visual Analog Scale
Sumber : Prasetyo (2010)
16
1.5.3 Faces Pain Scale (FPS)
FPS atau yang dikenal dengan Wong Baker Pain Rating Scale digunakan pada orang dewasa dan anak-anak > 3 tahun. Skala ini menggambarkan tingkat nyeri dengan memberikan tanda pada simbol ekspresi wajah yang sesuai dengan apa yang dirasakan. Kelebihannya adalah dapat digunakan pada seseorang yang tidak dapat atau sulit menggambarkan nyerinya dengan angka (Yudiyanta, 2015).
Gambar 2.3 Face Pain Score Sumber : Prasetyo (2010)
2. RELAKSASI BENSON 2.1 Pengertian Relaksasi Benson
Relaksasi merupakan terbebasnya seseorang dari ketegangan dan stress yang dihadapinya baik fisik maupun mental yang akan memberikan individu kontrol jika timbul rasa tidak nyaman, stress fisik, emosi dan nyeri. Relaksasi Benson adalah gabungan dari respon teknik relaksasi dan faktor keyakinan individu yang berfokus pada kata-kata ritual atau kata-kata yang memiliki makna
menenangkan yang dirasakan seseorang dengan pengulangan kata-kata tersebut dan irama yang teratur (Solehati, 2015).
Relaksasi Benson adalah relaksasi yang melibatkan keyakinan yang dianut atau yang dipercaya untuk mempercepat keadaan rileks (kombinasi respon relaksasi dengan keyakinan) akan lebih meningkatkan manfaat yang didapat dari respon relaksasi. Salah satu manfaat teknik relaksasi Benson adalah mengurangi rasa nyeri (Benson, 2000). Relaksasi Benson merupakan pengembangan dari metode relaksasi napas dalam yang melibatkan keyakinan yang menimbulkan suatu keadaan internal sehingga membuat pasien menuju kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih tinggi (Purwanto, 2006).
Menurut Benson (2002) dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa, formula kata-kata tertentu yang diucapkan secara berulang-ulang dengan terlibatnya unsur keyakinan dan keimanan maka akan menciptakan respon relaksasi yang lebih kuat dari sekedar relaksasi biasa (Solehati, 2015).
Jadi dapat disimpulkan relaksasi Benson adalah suatu teknik relaksasi pernafasan yang melibatkan keyakinan dengan mengulang kata spiritual yang disukai yang akan menimbulkan rasa nyaman dan tenang sehingga tubuh menjadi rileks dan dapat meningkatkan kesejahteraan.
2.2 Manfaat Relaksasi Benson
Relaksasi dengan memanfaatkan faktor keyakinan secara efektif menurut Benson (2000) yaitu dapat :
a. Menghilangkan rasa sakit
18
b. Mengurangi tekanan darah dan membantu dalam mengendalikan masalah hipertensi
c. Mempertajam kreativitas terutama saat mengalami suatu hambatan mental d. Mengatasi insomnia (sulit tidur)
e. Mencegah serangan hiperventilasi f. Membantu mengurangi sakit punggung g. Meningkatkan terapi kanker
h. Mengendalikan serangan panik i. Menurunkan kadar kolesterol
j. Mengurangi gejala-gejala kecemasan, termasuk mual, muntah, diare, sembelit, cepat marah dan ketidakmampuan untuk bergaul denggan orang lain k. Mengurangi stres secara keseluruhan dan meraih kedamaian diri dan
keseimbangan emosional yang lebih tinggi.
Relaksasi dapat terjadi penurunan konsumsi oksigen, output CO2, ventilasi selular, frekuensi napas, dan kadar laktat sebagai indikasi penurunan tingkat stress. Selain itu ditemukan bahwa PO2 atau konsentrasi oksigen dalam darah tetap konstan bahkan meningkat sedikit. Jika individu cemas maka akan merangsang saraf simpatis sehingga akan memperburuk gejala-gejala kecemasan dan nyeri sebelumnya sehingga kecemasan dan nyeri mulai lagi dengan dampak negatif yang lebih besar terhadap pikiran dan tubuh (Solehati & Kosasih, 2015).
2.3 Elemen Dasar dalam Relaksasi Benson
Ada empat elemen dasar agar relaksasi Benson berhasil dilakukan yaitu :
a. Lingkungan yang tenang
b. Secara sadar klien dapat mengendorkan otot-otot tubuh
c. Dapat memusatkan pikiran pada kata yang diinginkan selama 10-15 menit d. Menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu
Menurut Benson (2011) pendukung dalam terapi Benson meliputi:
1. Perangkat mental
Untuk memindahkan pikiran yang berada di luar diri harus ada rangsangan yang konstan. Rangsangan ini dapat berupa kata atau frase yang singkat merupakan fokus dalam melakukan relaksasi Benson. Fokus pada kata atau frase tertentu akan meningkatkan kekuatan dasar respon relaksasi dengan memberikan kesempatan faktor keyakinan untuk mempengaruhi penurunan aktifitas saraf simpatik.
2. Suasana tenang
Suasana yang tenang dapat membantu efektifitas pengulangan kata atau frase sehingga mudah menghilangkan pikiran yang mengganggu.
3. Sikap pasif
Sikap ini sangat penting karena berfungsi untuk mengabaikan pikiran-pikiran yang mengganggu sehingga dapat berfokus pada pengulangan kata atau frase yang dipilih.
2.4 Teknik Relaksasi Benson
Ada beberapa langkah teknik relaksasi Benson menurut Benson (2000) antara lain :
1. Pilih satu kata singkat yang diinginkan dan diyakini klien.
20
2. Atur dan tawarkan posisi yang nyaman untuk klien.
3. Anjurkan klien memejamkan mata secara wajar atau seperti biasa.
4. Anjurkan klien untuk melemaskan otot-otot secara bertahap untuk menghindari ketegangan.
5. Anjurkan klien untuk menarik napas melalui hidung dan menahannya selama tiga detik. Setelah itu keluarkan napas secara perlahan melalui mulut sambil mengucapkan Astagfirullah dan melakukan pengulangan kata tersebut selama mengeluarkan napas.
6. Bersikap pasif dan pasrah terhadap hal lain dan tetap fokus pada kata yang telah dipilih.
7. Lakukan teknik ini selama 10 menit ketika mengalami nyeri haid dalam masa menstruasi.
8. Setelah selesai klien dianjurkan untuk membuka mata secara perlahan, tenang sejenak, lalu bangkit dari tempat duduk untuk beraktifitas kembali.
2.5 Relaksasi Benson terhadap Intensitas nyeri
Teknik relaksasi Benson merupakan salah satu teknik relaksasi pernapasan yang melibatkan unsur keyakinan sehingga terjadi penurunan konsumsi O2 oleh tubuh dan otot-otot tubuh sehingga tercipta kenyamanan dan perasaan tenang.
Apabila kadar oksigen tercukupi pada otak maka tubuh akan menjadi seimbang dan menjadikan tubuh rileks. Hal ini akan dilanjutkan agar menghasilkan cortocotropin releasing factor (CRF) yang kemudian akan merangsang kelenjar di bawah otak untuk meningkatkan produksi proopiod melanocorthin (POMC)
sehingga produksi encephalin di medulla adrenal akan meningkat. Kelenjar di bawah otak juga menghasilkan β endorphine sebagai neurotransmitter (Yusliana, 2015).
Relaksasi Benson menurunkan persepsi nyeri dengan memberikan stimulus pada sistem kontrol desenden yang menjadikan rangsangan nyeri yang ditransmisikan ke otak sedikit. Keefektifan relaksasi ini tergantung pada kemampuan klien menerima dan membangkitkan input rangsangan selain nyeri.
Stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan akan lebih efektif dalam penurunan nyeri dibandingkan dengan satu indera saja karena adanya hubungan langsung dengan partisipasi aktif dari klien (Solehati & Kosasih, 2015). Formula tertentu yang dibaca secara berulang-ulang dengan melibatkan unsur keyakinan dan keiman kepada sang pencipta akan menimbulkan respon yang lebih kuat dibandingkan dengan relaksasi biasa. Selain itu akibat penyembuhan dari kata-kata tersebut tidak hanya pada penyembuhan tekanan darah dan penyakit jantung atau kecemasan tetapi pada tingkat tertentu mampu menghilangkan rasa nyeri (Solehati, 2015).
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
1. Kerangka Penelitian
Kerangka konsep merupakan suatu uraian atau visualisasi tentang hubungan antara konsep atau variabel yang akan diukur dan diamati melalui penelitian yang akan dilakukan (Nursalam, 2017).
Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan : diteliti
tidak diteliti
Intensitas nyeri haid Relaksasi Benson
Usia Usia Menarche Lama Menstruasi
2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi atau pengertian berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2017). dilakukan relaksasi Benson dengan aktivitas biasa
Ho : Tidak ada perbedaan rata-rata intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi Benson dengan aktivitas biasa
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan strategi pencapaian penelitian yang telah ditetapkan dan sebagai pedoman penelitian untuk keseluruhan proses penelitian (Sugiono, 2015).
Penelitian ini termasuk quasi exsperiment dengan rancangan pretest-posttest control group design. Rancangan pretest-pretest-posttest control group adalah
rancangan penelitian yang dipilih tidak secara acak, kemudian diberikan pre test untuk mengetahui keadaan awal, adakah perbedaan intensitas nyeri haid antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi melakukan intervensi relaksasi Benson, sedangkan kelompok kontrol melakukan aktivitas biasa pada saat mengalami dismenore. Setelah selesai perlakuan kedua kelompok diberikan post test untuk menilai perbedaan intensitas nyeri haid atas perlakuan relaksasi Benson dan aktivitas biasa yang dilakukan (Sugiono, 2012). Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Kelompok Pre test Perlakuan Post test
Intervensi N1 X N2
Kontrol N3 N4
Gambar 4.1 Rancangan pretest posttest control group design
Keterangan :
N1 dan N3 = pre test kelompok intervensi dan kelompok kontrol X = perlakuan berupa relaksasi Benson
N2 = post test pada kelompok intervensi setelah dilakukan relaksasi Benson N4 = post test pada kelompok kontrol setelah dilakukan aktivitas biasa
2. Populasi, Sampel dan Tehnik Sampling
2.1 Populasi
Populasi adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2017). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi muslim Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang mengalami dismenore yaitu sebanyak 250 orang.
2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2017). Jumlah sampel pada penelitian ini melalui pedoman Arikunto (2011) dimana jika populasi dalam penelitian kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sebagai sampel. Tetapi jika populasi besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 15-25% atau lebih.
Maka jumlah sampel dalam penelitian ini diambil 20% dari populasi yaitu
26
sebanyak 50 orang. Hasil tersebut didapatkan berdasarkan rumus 250 x 20 % yaitu 50 orang.
2.3 Tehnik Sampling
Sampling merupakan teknik dalam pengambilan sampel. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non probability dengan jenis purposive sampling yang mana pengambilan sampel berdasarkan pada suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang telah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).
Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswi yang mengalami dismenore dan memiliki kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian untuk populasi target dan populasi terjangkau (Nursalam, 2017). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
a. Bersedia menjadi responden penelitian
b. Tidak menggunakan analgetik atau obat penurun nyeri haid
c. Mahasiswi muslim yang mengalami dismenore pada hari pertama menstruasi Kriteria eksklusi adalah mengeluarkan sebagian subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena beberapa sebab (Nursalam, 2017). Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah :
a. Ditemui adanya masalah ginekologi (dismenore sekunder)
3. Identifikasi Variabel Penelitian
3.1 Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang sifatnya menentukan variabel lain (Nursalam, 2016). Variabel independen dalam penelitian ini adalah relaksasi Benson.
3.2 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2016). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah intensitas nyeri haid.
4. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui virtual terhadap masing-masing responden. Responden melaksanakan tindakan dalam penelitian ini dirumah masing-masing dengan pertimbangan pencegahan covid-19 yang melarang orang-orang berkumpul dalam satu ruangan dengan jumlah banyak. Alasan responden mahasiswi Fakultas Keperawatan USU adalah karena masih banyaknya mahasiswi yang mengeluh tentang nyeri haid yang dirasakan saat menstruasi dan belum ada penelitian mengenai relaksasi Benson untuk menangani dismenore.
4.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan April-Juni 2020.
28
5. Etika Penelitian
Etika pada penelitian ini dilakukan dengan mengusulkan etika riset terlebih dahulu dari komisi etik yaitu dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Sebelum riset dilakukan, penulis meminta surat izin dari fakultas Keperawatan Universitas Sumaera Utara. Setelah mendapatkan izin dalam melakukan pengumpulan data, langkah awalnya adalah membina hubungan dengan responden dan menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian ini. Ketika melakukan penelitian ada beberapa pertimbangan etik yang perlu kita ingat yaitu meliputi, 1) Self determination, memberikan kebebasan kepada responden dalam menentukan bersedia atau tidak dijadikan sampel penelitian. 2) Informed concent atau lembar persetujuan yaitu pada lembaran ini peneliti akan menjelaskan kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan topik yang akan diteliti dengan tujuan agar responden memahami maksud dan tujuan peneliti. Apabila didalam pelaksanaan penelitian, responden menolak ataupun tidak bersedia, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati keputusannya. 3) Anonimity, pada lembar kuesioner yang akan diisi oleh responden nama responden tidak dicantumkan melainkan hanya memebrikan kode atau inisial, hal ini dilakukan agar privasi responden tetap terjaga. 4) Confidntiallity, yaitu informasi dari responden dijamin kerahasiaannya, karena yang akan dilampirkan sebagai hasil dari penelitian ini adalah dat-data tertentu. 5) Beneficence yaitu penelitian yang dilakukan memiliki keuntungan baik untuk peneliti maupun responden. 6) Non maleficence merupakan penelitian yang dilakukan tidak menimbulkan bahaya terhadap responden.
6. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang diambil berdasarkan yang ada di tinjauan pustaka. Ada tiga bagian dalam kuesioner ini yaitu :
6.1 Kuesioner Karakteristik Responden
Kuesioner data demografi pada mahasiswi memuat pertanyaan untuk memeperoleh identitas responden yang meliputi : inisial, usia, usia menarche dan lama menstruasi.
6.2 Kuesioner Pengukuran Intensitas Nyeri
Instrumen yang digunakan dalam pegukuran intensitas nyeri adalah Numeric Rating Scale yang diadopsi dari Prasetyo (2010). Skala ini digunakan
pada orang dewasa dengan kognitif yang memadai, dianggap sederhana dan mudah dimengerti. Skala ini dalam bentuk garis horizontal yang terdiri dari angka 0-10. Angka 0 menyatakan tidak ada nyeri, angka 1-3 menyatakan nyeri ringan, angka 4-6 menyatakan nyeri sedang, angka 7-10 menyatakan nyeri berat.
Responden akan diminta untuk menunjukkan salah satu titik yang mewakili intensitas nyeri yang dirasakan.
6.3 Standar Prosedur Operasional (SPO) Relaksasi Benson
SPO relaksasi Benson dalam penelitian ini diadopsi dari Solehati (2015).
SPO relaksasi Benson digunakan sebagai panduan untuk melakukan intervensi
30
yang terdiri dari penjelasan, manfaat, waktu tempat dan prosedur tindakan relaksasi Benson serta evaluasi dari tindakan tersebut.
7. Validitas dan Reabilitas
Peneliti pada penelitian ini, peneliti tidak perlu melakukan uji validitas dan reabilitas karena skala pengukuran intensitas nyeri yang dipakai merupakan alat ukur yang sudah baku atau valid sehingga peneliti tidak perlu melakukan uji validitas.
NRS sudah teruji validitas dan reliabilitasnya berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu,Liu dan Herr (2007) didapatkan nilai validitas 0,90 dan nilai konsistensi interval dengan menggunakan Alpha-Cronbach didapatkan nilai reabilitas lebih dari 0,95.
8. Intervensi
Pada bagian intervensi peneliti mengidentifikasi mahasiswi muslim yang mengalami dismenore dengan menyebar lembar observasi melalui google form yang dibuat oleh peneliti. Lembar observasi ini disebar disetiap grup kelas pada angkatan 2019-2016. kemudian dipilih 50 mahasiswi yang mengalami nyeri dan memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah sampel sama disetiap angkatan serta meminta ketersediaan responden menjadi sampel penelitian. Setelah responden bersedia selanjutnya sampel dibagi menjadi 25 orang sebagai kelompok intervensi dan 25 orang sebagai kelompok kontrol. Kemudiaan peneliti melakukan pendekatan untuk melakukan kontrak waktu dan memberikan penjelasan
melalui virtual kepada responden. Setelah itu peneliti mengirimkan SPO, brosur dan video tehnik relaksasi Benson sebagai panduan responden mempraktekkan relaksasi Benson ketika mengalami dismenore.
Semua responden melaporkan dismenore yang dialaminya kepada peneliti pada hari pertama menstruasi untuk mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap pre test. Kelompok intervensi melakukan relaksasi Benson sesuai dengan yang telah diajarkan selama 10 menit, dan setelah selesai peneliti menanyakan kembali tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap post test.
Kelompok kontrol melaporkan tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap pre test dan melakukan aktivitas biasa yang dilakukan ketika mengalami menstruasi yang diantaranya yaitu berbaring, minum air hangat, memberikan minyak kayu putih pada bagian perut. Setelah 10 menit responden melaporkan kembali tingkat nyeri yang dirasakan sebagai tahap post test.
Setelah didapatkan hasil dari pre test dan post test pada kedua kelompok, selanjutnya peneliti mengajarkan tehnik relaksasi Benson secara virtual kepada kelompok kontrol agar bisa dipraktekkan nantinya untuk mengatasi nyeri haid serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan.
9. Alat dan Bahan
a. Lembar Kuesioner NRS b. Lembar SPO
c. Brosur d. Video
32
10. Pengumpulan Data
Setelah mendapatkan izin melakukan penelitian, peneliti mulai mengumpulkan data dengan melakukan wawancara untuk mengetahui mahasiswi muslim yang mengalami nyeri pada saat menstruasi atau dismenore. Ketika data belum semua terkumpul, terjadilah pandemi covid-19 yang mengakibatkan kampus lockdown dan mengharuskan semua orang untuk tetap berada dirumah.
Kemudian untuk melengkapi data tersebut peneliti mengirimkan lembar observasi melalui google fom yang berisi pertanyaan yang telah ditetapkan sebelumnya, supaya mahasiswi menjawab pertanyaan tersebut untuk mengetahui data yang diperlukan.
Setelah didapatkan jumlah mahasiwi muslim yang mengalami dismenore, selanjutnya peneliti memilih 50 orang responden sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya untuk di jadikan sampel penelitian. Dengan jumlah yang sama disetiap angkatan. Setelah itu peneliti meminta ketersedian mahasiswi tersebut untuk menjadi sampel penelitian. Jika bersedia menjadi responden diminta utuk mengisi lembar informed consent. Selanjutnya dari hasil lembar observasi responden dibagi menjadi dua kelompok dengan rincian 25 orang kelompok intervensi dan 25 orang kelompok kontrol. Kemudian peneliti melakukan kontrak waktu dengan responden dan melakukan pertemuan secara virtual untuk memeberikan penjelasan lebih rinci mengenai penelitian yang dilakukan dan mengajarkan tehnik relaksasi Benson serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan.
Selanjutnya semua responden memberikan laporan kepada peneliti saat responden tersebut mengalami nyeri haid pada hari pertama menstruasi.
Kelompok intervensi melaporkan tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap pre test. Kmudian melakukan relaksasi Benson sesuai dengan panduan selama 10
menit dan melaporkan kembali tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap post test. Kelompok kontrol juga melaporkan tingkat nyeri yang mereka rasakan
sebagai tahap pre test dan melakukan aktivitas biasa yang mereka lakukan pada saat mengalami dismenore yang diantaranya berbaring, minum air hangat, dan mengoleskan minyak kayu putih pada bagian perut, dan setelah itu melaporkan kembali tingkat nyeri yang mereka rasakan sebagai tahap post test.
Setelah didapatkan hasil pre test dan post test pada kedua kelompok, selanjutnya peneliti juga mengajarkan kelompok kontrol melakukan tehnik relaksasi Benson sebagai salah satu cara mengatasi nyeri haid serta memberikan SPO, brosur dan video sebagai panduan. Setelah itu peneliti mengungkapkan terimakasih kepada responden atas kesediaan dan partisipasi mereka dalam penelitian yang dilakukan peneliti.
11. Analisa Data 11.1 Pengolahan data
Analisa data merupakan bagian penting dalam penelitian agar mencapai tujuan pokok penelitian dengan menjawab pertanyaan dan mengungkap fenomena (Nursalam, 2016). Pada penelitian ini, setelah pengumpulan data responden, selanjutnya data diolah menjadi :
34
a. Editing, adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para responden. Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah selesai dilakukan terhadap kelengkapan jawaban dan relevansi jawaban.
b. Coding, dilakukan untuk memudahkan pengolahan data. Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang diperoleh atau yang telah dikumpulkan pada masing- masing jawaban responden.
c. Sorting, adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data
menurut jenis yang dikehendaki atau klasifikasi data.
d. Entry, adalah pemasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan sistem komputerisasi yaitu dengan program SPSS.
e. Clearing, yaitu pembersihan data dilakukan dengan melihat variabel
apakah sudah benar atau belum.
f. Penyajian data, dilakukan dalam bentuk tabel frekuensi dan distribusi serta penjelasan dalam bentuk narasi.
11.2 Analisa data a. Analisis univariat
Analisa data univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik
Analisa data univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik