BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Instrumen Penelitian …
Instrument dalam penelitian kualitatif adalah peneliti yang melakukan penelitian itu sendiri. Maka dalam penelitian yang akan diteliti oleh peneliti yaitu implementasi pos pembinaan terpadu usia lanjut di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang yang menggunakan metode kualitatif, menetapkan peneliti sebagai instrumen dalam penelitian ini.
Peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan orang yang membuka kunci, menelaah dan mengeksplorasi seluruh ruang secara cermat, tertib dan leluasa, dan bahkan adanya yang menyebutnya key instrument. Konsep human instrument dipahami sebagai alat yang dapat mengungkap fakta-fakta lapangan dan tidak ada alat yang paling elastis dan tepat untuk mengungkapkan data kualitatif kecuali peneliti itu sendiri. Peneliti mungkin menggunakan alat bantu untuk mengumpulkan data seperti tape recoder, video kaset, atau kamera. Tetapi alat-alat ini benar-benar tergantung pada peneliti untuk menggunakannya.
3.6 Informan Penelitian
Menurut Morze dalam Denzin (2009: 289) seorang informan yang baik adalah seorang yang mampu menangkap, memahami dan memenuhi permintaan peneliti, memiliki kemampuan reflektif, bersifat artikulatif, meluangkan waktu untuk wawancara dan bersemangat untuk berperan serta dalam penelitian. Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu, melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan informan dalam penelitian tentang implementasi Pos
Pembinaan Terpadu Usia Lanjut (Posbindu Usila) di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang menggunakan teknik purposive sampling.
Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.
Penelitian tentang implementasi pos pembinaan terpadu usia lanjut (Posbindu Usila) di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang ini menggunakan teknik Purposive sampling karena peneliti mempertimbangkan beberapa pihak yang akan menjadi informan. Pertimbang-pertimbangan tersebut adalah pihak yang melaksanakan posbindu usia lanjut, pihak yang memiliki program kesehatan usia lanjut yang terwujud dalam posbindu usila, serta pihak yang memiliki data terkait laporan hasil pelaksanaan posbindu serta data terkait jumlah sasaran lanjut usia.
Informan tersebut terbagi ke dalam dua kriteria informan yakni, key informan dan secondary informan. Key informan merupakan pihak yang mempunyai kewenangan secara langsung dalam pelaksanaan posbindu usia lanjut wilayah kerja Puskesmas Singandaru di Kota Serang. Sedangkan secondary informan adalah informan yang tidak terlibat secara langsung namun memiliki pengetahuan atau informasi terkait program tersebut.
Tabel 3.6.1 Daftar Informan Penelitian
No. Informan Kode
Informan
Peran/Fungsi Informan 1 Ketua Kader Posbindu I1 Pelaksana Kebijakan
Posbindu Usila a. Ketua Kader Posbindu Usila Teratai I1-1
b. Ketua Kader Posbindu Usila Sirsak I1-2 c. Ketua Kader Posbindu Usila Melati I1-3 d. Ketua Kader Posbindu Usila
Manggis I1-4
e. Ketua Kader Posbindu Usila Pepabri I1-5 2 Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Bagian
Lanjut Usia UPTD Puskesmas Singandaru
I2 Pelaksana Program Kesehatan Usia Lanjut Puskesmas Singandaru 3 Seksi Gizi Remaja dan Lanjut Usia Dinas
Kesehatan Kota Serang
I3 Pembina pelaksana kebijakan Posbindu Usila
4 Masyarakat Lanjut Usia I4 Sasaran kebijakan 5 Kepala Puskesmas Singandaru I5 Penanggung jawab
di Puskesmas Singandaru
Berdasarkan pengertian key informan dan secondary informan, peneliti menetapkan kader Posbindu Usila dan Bidang Bina Kesehatan Masyarakat bagian Lanjut Usia Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Singandaru sebagai key informan karena kedua pihak tersebut yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan Posbindu Usila. Sedangkan Dinas Kesehatan Kota Serang, masyarakat lanjut usia dan Kepala Puskesmas Singandaru menjadi secondary
informan. Dinas Kesehatan bidang bina kesehatan masyarakat bagian gizi lanjut usia merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani lansia di bidang kesehatan, masyarakat lansia adalah obyek program yang menerima pelayanan kesehatan di Posbindu Usila. Sedangkan Kepala Puskesmas Singandaru adalah penanggung jawab segala kegiatan yang ada di Puskesmas Singandaru
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data yang peneliti peroleh merupakan sumber data primer dan data sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data misalkan melalui dokumen.
Secara umum, terdapat empat macam teknik pengumpulan data, dimana peneliti menggunakan keempat teknik tersebut untuk meneliti penelitian tentang implementasi Pos Pembinaan Terpadu Usia Lanjut (Posbindu Usila) di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang, yaitu:
1. Observasi,
Menurut Marshall dalam Sugiyono (2011: 226), melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut. teknik obervasi yang peneliti gunakan yaitu observasi partisipatif dimana peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
2. Wawancara,
Menurut Irawan dalam Fuad & Nugroho (2014: 61) metode wawancara merupakan suatu alat pengumpulan data yang digunakan dengan instrumen lainnya. wawancara dalam penelitian kualitatif bersifat mendalam (in depth interview). Dalam penelitian tentang implementsi pos pembinaan terpadu usia lanjut di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang, peneliti menggunakan jenis wawancara tak berstruktur, dimana pertanyaan biasanya tidak disusun terlebih dahulu, tetapi disesuaikan dengan keadaan dan ciri yang unik dari informan sehingga pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti percakapan sehari-hari. Maka dari itu peneliti hanya menetapkan point-point wawancaranya saja yang nantinya akan dikembangkan berdasarkan keadaan yang ada di lokasi penelitian.
3. Dokumentasi,
Studi dokumentasi merupakan salah satu sumber data sekunder yang diperlukan dalam penelitian. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dalam penelitian tentang Implementasi Kebijakan Pos Pembinaan Terpadu Usia Lanjut (Posbindu Usila) menggunakan bentuk dokumentasi berupa catatan tulisan wawancara dan rekaman selama wawancara berlangsung.
3.8 Analisis Data Dan Uji Keabsahan Data