BAB I PENDAHULUAN
1.6 Manfaat penelitian
2.1.5 Pos Pelayanan Terpadu Lanjut Usia
Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap indvidu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Batasan usia lanjut didasarkan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 adalah minimal 60 tahun.
Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lanjut usia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan dan sosial lanjut usia yang ditujukan untuk meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, mencapai masa tua bahagia dan berdayaguna dalam kehidupan berkeluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata pelayanan kesehatan dan sosial pada kelompok lanjut usia, pemerintah telah menetapkan pelayanan pada lanjut usia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan dan sosial di tingkat masyarakat adalah posyandu lanjut usia.
Pos Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disebut Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Sedangkan posyandu lansia untuk warga usia pra lanjut usia yaitu 45-59 tahun dan
warga lanjut usia di atas usia 60 tahun. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas Pusat Kesehatan Masyarakat, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya.
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia adalah suatu wadah pelayanan kepada lanjut usia di masyarakat, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif. Disamping pelayanan kesehatan, di Posyandu Lanjut Usia juga dapat diberikan pelayanan sosial, agama, pendidikan, ketrampilan, olah raga dan seni budaya serta pelayanan lain yang dibutuhkan para lanjut usia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Pelayanan yang dilakukan di posyandu merupakan pelayanan ujung tombak dalam penerapan kebijakan pemerintah untuk pencapaian lanjut usia sehat, mandiri dan berdaya guna. Oleh karena itu arah dari kegiatan posyandu tidak boleh lepas dari konsep active ageing/menua secara aktif. Active Ageing adalah proses optimalisasi peluang kesehatan, partisipasi dan keamanan untuk meningkatkan kualitas hidup di masa tua. Jika seseorang sehat dan aman, maka kesempatan berpartisipasi bertambah besar. Masa tua bahagia dan berdayaguna
tidak hanya fisik tetapi meliputi emosi, intelektual, sosial, vokasional dan spiritual yang dikenal dengan dimensi wellness.
Agar pelaksanaan kegiatan posyandu berjalan efisien dan efektif dibutuhkan:
1. Organisasi yang tertata baik
Organisasi posyandu lanjut usia adalah organisasi kemasyarakatan non struktural yang berdasarkan azas gotong royong untuk sehat dan sejahtera, yang diorganisir oleh seorang koordinator atau ketua, dibantu oleh sekretaris, bendahara dan beberapa orang kader. Organisasi posyandu lanjut usia ini tidak saja dapat dibentuk oleh masyarakat setempat, tetapi dapat juga oleh :
1) Kelompok seminat dalam masyarakat misalnya Club Jantung Sehat, Majelis Ta’lim, WULAN (warga usia lanjut), kelompok gereja, dan lain – lain 2) Organisasi profesi
3) Institusi pemerintah/swasta 4) Lembaga Swadaya Masyarakat
2. Sumber daya manusia yang mempunyai ilmu dan kemampuan;
Tenaga yang dibutuhkan dalam pelaksanaan posyandu sebaiknya 8 orang namun bisa kurang dengan konsekuensi bekerja rangkap. Kepengurusan yang dianjurkan adalah:
1) Ketua Posyandu 2) Sekretaris 3) Bendahara
(1) Meja 1 (satu) tempat pendaftaran
(2) Meja 2 (dua) tempat penimbangan dan pencatatan berat badan, pengukuran dan pencatatan tinggi badan serta penghitungan index massa tubuh (IMT)
(3) Meja 3 (tiga) tempat melakukan kegiatan Pemeriksaan dan pengobatan sederhana (tekanan darah, gula darah, Hb dan pemberian vitamin, dan lain - lain)
(4) Meja 4 (empat) tempat melakukan kegiatan konseling (kesehatan, gizi dan kesejahteraan)
(5) Meja 5 (lima) tempat memberikan informasi dan melakukan kegiatan sosial (pemberian makan tambahan, bantuan modal, pendampingan, dan lain – lain sesuai kebutuhan)
3. Tugas dan fungsi yang jelas dari masing – masing petugas posyandu; 1) Ketua Posyandu
(1) Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan posyandu (2) Bertanggung jawab terhadap kerjasama dengan semua stakeholder
dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan posyandu
2) Sekretaris, mencatat semua aktivitas perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta pengendalian posyandu.
3) Bendahara, pencatatan pemasukan dan pengeluaran serta pelaporan keuangan posyandu. Pendanaan bisa bersumber dari anggota kelompok tersebut, berupa iuran/sumbangan anggota, atau sumber lain seperti donator atau sumber lain yang tidak megikat.
4) Kader, tugas kader dalam posyandu lanjut usia antara lain:
(1) Mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan pada kegiatan posyandu.
(2) Memobilisasi sasaran pada hari pelayanan posyandu.
(3) Melakukan pendaftaran sasaran pada pelayanan posyandu lanjut usia. (4) Melaksanakan kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran
tinggi badan para lanjut usia dan mencatatnya dalam KMS atau buku pencatatan lainnya.
(5) Membantu petugas dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan pelayanan lainnya.
(6) Melakukan penyuluhan (kesehatan, gizi, sosial, agama dan karya) sesuai dengan minatnya.
4. Mekanisme kerja yang baik meliputi perencanaan, pelaksanan, monitoring dan evaluasi.
Untuk memberikan pelayanan kesehatan dan sosial yang prima terhadap lanjut usia di kelompoknya, dibutuhkan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang benar dan tepat waktu, serta pengendalian yang akurat.
Berdasarkan berbagai definisi posyandu yang telah dijelaskan sebelumnya, posyandu adalah bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) dimana pembentukan, penyelenggaraan, pengelolaannya dari, oleh, untuk, bersama masyarakat dan dibantu oleh puskesmas dan lintas sektor yang terkait. Maka dari itu implementasi posyandu tergolong dalam pendekatan bottom-up dan mekanisme pasar. Peneliti memilih model implementasi pendekatan bottom up
dan mekanisme pasar dari Smith, karena menurut peneliti teori tersebut memiliki penjelasan yang lebih rinci dan tepat untuk digunakan dalam penelitian tentang implementasi pos pembinaan terpadu usia lanjut (posbindu usila) di wilayah kerja Puskesmas Singandaru Kota Serang