BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Instrumen Penelitian
Beberapa instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Instrumen Pra penelitian
a. Observasi terhadap guru (observing teacher)
Pengamatan terhadap guru dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disebut dengan catatan anekdotal. Catatan anekdotal merupakan catatan terperinci mengenai tindakan yang dilakukan guru dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas, yang mencakup kegiatan pembuka (melakukan apersepsi dan penyampaian SK/KD), kegiatan inti (penguasaan materi ajar, pemanfaatan media pembelajaran, pembelajaran yang melibatkan siswa, penilaian proses dan hasil belajar siswa), dan kegiatan penutup membuat kesimpulan, melakukan refleksi. Catatan anekdotal ada pada lampiran1 hal. 155
b. Observasi terhadap siswa (Observing student )
Pengamatan terhadap siswa dilakukan terhadap masing-masing individu siswa maupun terhadap kelompok siswa. Pengamatan dilakukan pada saat sebelum dan sesudah diterapkanya metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Observasi terhadap siswa meliputi kegiatan pembelajaran (kesiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran), kegiatan inti (siswa memperhatikan penjelasan guru, siswa menanggapi pembahasan guru, siswa mencatat hah-hal yang penting dan sebagainya), kegiatan penutup (siswa mengerjakan tugas dengan baik, secara pribadi ataupun berkelompok). Disini siswa dapat diamati secara individual maupun kelompok sebelum sampai sesudah usainya pembelajaran. Catatan anekdotal ada pada lampiran 2 hal. 156 c. Observasi terhadap kelas (Observing classroom condition)
Pengamatan terhadap kelas dilakukan untuk menilai kondisi kelas saat dilangsungkannya pembelajaran. Pengamatan terhadap kondisi kelas ini mencakup pengamatan terhadap guru dalam mengelola situasi kelasnya. Apakah siswa dalam kelas tersebut hanya pasif saja, ramai sendiri atau tiduran dikelas. Selain itu, peneliti juga mengamati tata letak peralatan kelas, dan kondisi ruang kelas. di samping itu, observasi ini juga dapat menunjukan langkah yang digunakan oleh guru dalam menangani masalah yang timbul di dalam kelas selama pemebelajaran berlangsung. Catatan anekdotal ada pada lampiran 3 hal. 157
2. Pelaksanaan Tindakan a. Perencanaan (planning)
Dalam tahap perencanaan dilakukan penyusunan rencana tindakan berupa persiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menggunakan instrumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP ini disusun oleh peneliti untuk menetapkan langkah-langkah yang akan dilakukan guru dalam pembelajaran. Selain RPP, peneliti juga menyiapkan media lain yang menunjang kegiatan pembelajaran dikelas seperti materi pelajaran, metode pembelajaran dan strategi pembelajaran serta kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan siswa. RPP tersedia pada lampiran 17 hal. 211
b. Tindakan (acting)
Tindakan ini merupakan implementasi pembelajaran kooperatif tipe
teams-games-tournament yang telah direncanakan sebelumnya.
Dalam melaksanakan tindakan ini, kegiatan guru adalah mengajarkan materi yang sudah dipersiapkan dengan menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang sudah disediakan. instrumen untuk menilai tingkat motivasi belajar siswa menggunakan kuesioner sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran kooperatif tipe TGT. Kuesioner tersedia pada lampiran 13 dan 14 hal. 172 dan hal. 175
c. Observasi (Observing)
Observasi dilakukan peneliti dibantu oleh orang yang ditunjuk peneliti untuk membantu kegiatan observasi. Pada saat mengobservasi,
pengamat hendaknya mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam kelas. Hal-hal yang perlu diamati mencakup:
1) Lembar observasi kegiatan guru di kelas
Lembar observasi kegiatan guru digunakan untuk mengetahui perilaku guru selama siklus pertama pembelajaran dengan menerapkan metode TGT berlangsung. Tersedia pada lampiran 7 hal. 162
2) Lembar observasi kegiatan siswa di kelas
Lembar observasi kegiatan siswa dilakukan untuk merekam proses yang terjadi selama siklus pertama pembelajran dengan menerapkan metode TGT berlangsung. Tersedia pada lampiran 8 hal. 164
3) Lembar observasi kegiatan kelas
Lembar observasi kegiatan kelas digunakan untuk mencatat keadaan kelas selama siklus pertama pembelajaran dengan menerapkan metode TGT berlangsung. Tersedia pada lampiran 9 hal. 166
d. Refleksi (reflection)
Kegiatan refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengemukakan apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Refleksi ini dilakukan setelah pelaksanaan pembelajaran sebagai upaya untuk menilai keberhasilan dan kekurangan dari metode yang
sudah diterapkan sebelumnya. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut:
Analisis pemaknaan penjelasan penyimpulan tindak lanjut. Instrumen yang digunakan adalah lembar refleksi untuk guru mitra dan lembar refleksi siswa tentang pembelajaran dengan menerapkan metode TGT yang sudah terlaksana. Refleksi tersedia pada lampiran 11 dan 12 hal. 168 dan hal. 170
3. Motivasi Belajar
Dalam pembuatan kuesioner yang merupakan instrumen di dalam teknik komunikasi tidak langsung didasarkan pada masalah dan tujuan penelitian ini. Untuk menyusun suatu kuesioner, dipastikan bahwa kisi-kisi atau indikator sudah dibuat. Untuk selanjutnya, indikator tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan pertanyaan-pertanyaan kuesioner sesuai dengan rincian aspek dari gejala di dalam variabel yang akan diungkapkan. Dimana penyusunan kuesioner ini akan digunakan peneliti sebagai alat untuk untuk mengukur tingkat motivasi siswa. Pengukurandata motivasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner tertutup. Peneliti membagikan kuesioner tersebut sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan metode kooperatif tipe TGT. Berikut disajikan tabel operasionalisasi variabelnya:
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Aspek Indikator Nomor butir Positif Negatif
Motivasi belajar
Motivasi Intrinsik
1. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil
1, 7, 10 4, 8, 11
2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
2, 12, 13 3. Adanya harapan dan
cita-cita masa depan
3, 6 Motivasi Ekstrinsik 4. Adanya penghargaan dalam belajar 15, 16, 17 14 5. Adanya kegiatan yang
menarik dalam belajar
5, 20 6. Adanya lingkungan
belajar yang kondusif
9, 18 19
Untuk mengukur motivasi ini digunakan skala Likert, alternatif ini disusun untuk mengungkap sikap pro dan kontra, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju terhadap suatu objek sosial. Dalam skala sikap, objek sosial berlaku sebagai objek sikap. Di mana pernyataan sikap terdiri atas dua macam, yaitu pernyataan yang favorable (memihak pada objek sikap) dan pernyataan yang tidak favorable (tidak memihak pada objek sikap) (Saifuddin Azwar, 2009:98). Dalam skala Likert, terdapat empat alternatif jawaban yang diberi tanda (√) pada lembar yang telah disediakan yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Bobot yang diberikan untuk alternatif jawaban adalah: Sangat Setuju (SS) diberi skor 4, Setuju (S) skor 3, Tidak Setuju (TS) diberi skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1.
Kategori kecenderungan variabel dinilai dengan menggunakan penilaian acuan patokan tipe II (PAP II), sebagai berikut (Masidjo, 1995:157):
Tabel 3.2
Penilaian Acuan Patokan Tipe II (PAP II)
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai Huruf Kategori Kecenderungan Variabel 81% - 100% 66% - 80% 56% - 65% 46% - 55% Dibawah 46% A B C D E Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah
Teknik yang digunakan dalam menguji instrumen data penelitian adalah uji validitas. Uji validitas digunakan untuk menunjukkan tingkat validitas atau keabsahan dari tiap item pada kuesioner dengan menggunakan analisis product moment (Suharsimi Arikunto, 1991:137)
�= �(∑ ��)−(∑ � ∑ �)
�_∑ �2 −(∑ �)2�� ∑ �2−(∑ �)2
Keterangan:
r = Koefisien korelasi antara variabel X dengan variabel Y Y = Skor total dari seluruh item
X = Skor total dari setiap item n = Jumlah responden
Jika nilai koefisien �ℎ����� lebih besar dari ������, maka butir item tersebut dapat dikatakan valid. Jika �ℎ����� lebih kecil dari ������, maka butir item tersebut dapat dikatakan tidak valid. Proses perhitungan uji validitas dan reliabilitas data menggunakan program SPSS for windows versi 16.
Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen motivasi dilaksanakan di kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 pada tanggal 16 Oktober 2012. Berikut ini disajikan hasil uji validitas dan reliabilitas untuk tiap- tiap butir motivasi (lampiran 31 hal.256):
a. Pengujian validitas motivasi belajar
Tabel 3.3
Rangkuman Pengujian Uji Validitas Motivasi belajar
Butir
No. Nilai r tabel
Nilai r hitung Status 1 0,2787 0,679 Valid 2 0,2787 0,697 Valid 3 0,2787 0,511 Valid 4 0,2787 0,551 Valid 5 0,2787 0,684 Valid 6 0,2787 0,401 Valid 7 0,2787 0,552 Valid 8 0,2787 0,623 Valid 9 0,2787 0,709 Valid 10 0,2787 0,710 Valid 11 0,2787 0,526 Valid 12 0,2787 0,701 Valid 13 0,2787 0,792 Valid 14 0,2787 0,535 Valid 15 0,2787 0,636 Valid 16 0,2787 0,737 Valid 17 0,2787 0,627 Valid 18 0,2787 0,565 Valid 19 0,2787 0,523 Valid
20 0,2787 0,734 Valid
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa ke dua puluh butir pertanyaan motivasi belajar valid. Dengan jumlah data (n) sebanyak 48 responden dan derajat keyakinan (α) = 5% atau 0,05
maka diperoleh nilai sebesar 0,2787. Karena > 0,2787, maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan variabel motivasi belajar valid.
b. Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian
Tabel 3.4
Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian Berdasarkan Reliability Statistic
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
.933 .935 20
Dari dua puluh pertanyaan pada variabel motivasi belajar dengan jumlah data (n) sebanyak 48 responden diperolehalpha cronbach sebesar 0,933.Jika alpha cronbach> dari 0,6 maka dikatakan kuesioner tersebut reliabel (Natalina Premastuti Brataningrun, 2008:23-24). Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai alpha cronbach 0,933 > 0,6 maka dapat disimpulkan bahwa ke dua puluh item kuesioner tersebut reliabel.