BAB I PENDAHULUAN
B. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran
Dalam model pembelajaran terdapat strategi untuk mencapai kompetensi yang harus bisa di kuasai oleh siswa, yaitu dengan menggunakan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan merupakan konsep dasar yang melingkupi metode pembelajaran dengan cakupan teoritis. Sedangkan metode merupakan penjabaran dari berbagai pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Metode merupakan prosedur pembelajaran yang difokuskan pada pencapaian tujuan. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Teknik sendiri merupakan cara konkrit yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan uraian tersebut, guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam satu metode yang sama.
Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran (Suyatno, 2009:26).
Trianto (2010:51) mengemukakan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pebelajaran dalam tutorial. Selain itu, Agus Suprijono (2009:45-46) menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional dikelas. Secara lebih sederhana, model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas (Suyatno, 2009:26).
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Suyatno (2009:51), model pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut Slavin (2008:4):
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajarai dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman mereka.
Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keaktifan siswa. Made Wena (2009:189) berpendapat bahwa dengan aktifnya siswa dalam kegiatan
pembelajaran diharapkan hasil pembelajaran dan retensi siswa dapat meningkat dan kegiatan pembelajaran lebih bermakna. Menurut Nurhadi dan Senduk (Made Wena, 2009:189), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara sadar menciptakan interaksi yang silih asih sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar, tetapi juga sesama siswa. Sedangkan Anita Lie (Made Wena, 2009:189) menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pembelajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) melalui pembelajaran kooperatif ternyata lebih efektif daripada pembelajaran oleh pengajar.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pengajaran yang membagi siswa menjadi kelompok kecil yang heterogen agar setiap anggota kelompok dapat bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual dalam memahami materi pelajaran.
3. Unsur-unsur Dasar Model Pengajaran Kooperatif
Pengajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Ada berbagai elemen yang merupakan ketentuan pokok dalam pembelajaran kooperatif. Tidak semua belajar kelompok dapat dikatakan sebagai pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Menurut Roger dan David Johnson (Agus Suprijono, 2009:58) lima unsur tersebut adalah:
a. Positive interdependence (saling ketergantungan positif) b. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan) c. Face to face promotive interaction (interaksi promotif) d. Inter personal skill (komunikasi antar anggota)
e. Group processing (pemrosesan kelompok)
Unsur pertama pengajaran kooperatif adalah saling ketergantungan positif. Dalam unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertanggungjawaban itu meliputi pertanggungjawaban mempelajari bahan yang ditugaskan kelompok dan menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang sudah ditugaskan. Unsur kedua dari pengajaran kooperatif adalah pertanggungjawaban individual. Pertanggungjawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci yang menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama”. Unsur ketiga dari pengajaran kooperataif adalah interaksi promotif. Unsur ini dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Agus Suprijono (2009:60) menyebutkan ciri-ciri interaksi promotif adalah:
a. Saling membantu secara efektif dan efisien.
b. Saling member informasi dan sarana yang diperlukan.
c. Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien. d. Saling mengingatkan.
e. Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi.
f. Saling percaya dan saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
Unsur keempat dari pengajaran kooperatif adalah keterampilan sosial. Untuk mencapai tujuan peserta didik harus saling mengenal, mampu
berkomunikasi secara akurat, saling mendukung, dan mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif. Unsur kelima adalah pemrosesan kelompok. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.
4. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif yang belum dilaksanakan dengan baik akan menimbulkan kekhawatiran kelas akan menjadi gaduh karena dalam pembelajaran kooperatif guru hanya membagi siswa kedalam kelompok kemudian memberikan tugas untuk dikerjakan tanpa memberikan pedoman terdahulu. Sehingga siswa menjadi bingung dan tidak paham bagaimana proses pengerjaanya. Untuk meminimalkan hal tersebut terjadi, maka perlu memahami sintak model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari enam fase menurut (Agus Suprijono, 2009:65) berikut ini:
Tabel 2.1
Sintaks Pembelajaran Kooperatif
FASE-FASE PERILAKU GURU
Fase 1: Present goals and set menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan
mempersiapkan peserta didik siap belajar.
Fase 2: Present information Menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi kepada peserta didik secara verbal.
Fase 3: Organize students into learning teams
Mengorganisir peserta didik
Memberikan penjelasan kepada peserta
kedalam tim-tim belajar. belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien. Fase 4: Assist team work and
study
Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya. Fase 5: Test on the materials
Mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi
pembelajaran
atau kelompok-kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya. Fase 6: Provide recognition
Memberikan pengakuan atau penghargaan.
Mempersiapkan cara untuk mengakui
usaha dan prestasi individu maupun kelompok.
5. Implikasi Model Pembelajaran Kooperatif
Davidson (Trianto, 2009:62-63) memberikan sejumlah implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut:
a. Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar. Kelompok kecil membentuk suatu forum di mana siswa menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar dari pendapat orang lain, memberikan kritik yang membangun dan menyimpulkan penemuan mereka dalam bentuk tulisan.
b. Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah.
c. Suatu masalah idealnya cocok untuk didiskusikan secara kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan secara objektif. Seorang siswa dapat mempengaruhi siswa lain dengan arggumentasi yang logis.
d. Siswa dalam keompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
e. Ruang lingkup materi dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan.
6. Metode-Metode Pengajaran Kooperatif
Ada beberapa metode pengajaran kooperatif yang telah dikembangkan dan diteliti secara ekstensif dalam dunia pendidikan. Menurut Slavin (2008:10-26), metode-metode pengajaran kooperatif meliputi:
a. Student Team-Achievement Division (STAD).
Yang menggunakan langkah pembelajaran di kelas dengan menempatkan siswa ke dalam tim belajar yang terdiri dari empat orang campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyampaikan materi, kemudian siswa dalam tim mereka memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya siswa mengerjakan kuis menegenai materi secara sendiri-sendiri, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan saling bantu. Tim yang skornya dapat memenuhi kriteria tertentu akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lainya.
b. TeamsGames-Tournament (TGT).
Hampir sama dengan STAD tetapi kuis yang ada pada STAD diganti dengan turnamen mingguan dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. c. Jigsaw II.
Yang merupakan pengembangan dari teka-teki. Dalam metode jigsaw siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan empat orang yang mempelajari materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Tiap anggota tim ditugaskan menjadi “ahli” untuk aspek tertentu dari subbab.
d. Team Accelerated Instruction (TAI).
Sama dengan STAD dan TGT menggunakan penggunaan bauran kemampuan empat anggota yang berbeda dan memberi sertifikat untuk tim dengan kinerja terbaik. Namun TAI merupakan metode pengajaran kooperatif yang lebih menekankan pengajaran individual meskipun tetap menggunakan pola kooperatif.
e. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada kelas sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah. Dalam CIRC, guru menggunakan novel atau bacaan yang berisi latihan soal dan cerita. Siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif.
f. Group Investigation (penelitian kelompok).
Merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan. Sharan dan Sharan (Slavin, 2008: 24) menyatakan bahwa
Group Investigation merupakan perencanaan pengaturan kelas yang umum di mana para siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan pertanyaan kooperatif, diskusi kelompok, serta perencanaan dan proyek kooperatif.” Dalam metode ini, para siswa dibebaskan membentuk kelompok sendiri yang terdiri dari 2 sampai 6 anggota.
g. Learning Together (Belajar Bersama).
Yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima siswa heterogen untuk menangani tugas tertentu dan akan menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.
h. Complex Instruction (Pengajaran Kompleks).
Merupakan metode pengajaran kooperatif yang berorientasi pada penemuan khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan ilmiah, matematika, dan ilmu sosial. Fokus utama dari complex instruction pada membangun respek terhadap semua kemampuan yang dimiliki siswa.
i. Structur Dyadic Method (Metode Struktur Berpasangan).
Merupakan metode pengajaran kooperatif berstuktur melibatkan kelompok beranggotakan sekitar empat orang yang memiliki kebebasan tertentu dalam menentukan bagaimana mereka akan bekerja sama. Ada 2 macam stuktur yang dikembangkan untuk mengajarkan isi akademis yaitu Think-pair-share dan Numbered-heads-together (Arends, 1997:122).
7. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
a. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif
Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran diantaranya (Wina Sanjaya, 2011:247-249):
1) Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3) Pembelajaran kooperatif membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4) Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5) Pembelajaran kooperatif merupakan suatu energi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
6) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7) Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8) Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
b. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Di samping keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki keterbatasan, diantaranya (Wina Sanjaya, 2011:247-249):
1) Untuk memahami dan mengerti filosofi pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat pembelajaran kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
2) Ciri utama pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling membelajarkan.
3) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
4) Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran dalam berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, dalam hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
5) Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam
kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu, idealnya dalam pembelajran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam pembelajaran kooperatif memang bukan pekerjaan yang mudah.