BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
5. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa kuisioner yang disusun oleh peneliti dengan berpedoman pada tinjauan pustaka dan kerangka konsep. Kuisioner penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu kuisioner data demografi meliputi nomor responden, umur responden, jenis kelamin, agama, pendidikan, kuisioner peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas meliputi pelayanan kesehatan, penemu kasus, penyuluhan kesehatan, koordinator dan kolaborator, konselor dan panutan.
Kuisioner terdiri dari 23 pertanyaan tertutup dengan dua kemungkinan jawaban “ya” (skor = 2) dan “tidak” (skor = 1)
Berdasarkan rumus statistika menurut Sudjana (1992)
kelas Banyak
Rentang P =
dimana P merupakan panjang kelas, dengan rentang (selisih nilai tertinggi dan nilai terendah) sebesar 23. menggunakan P = 11 dan nilai terendah 23 sebagai batas bawah kelas interval pertama, maka peran dan fungsi perawat dalam
pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas dikategorikan sebagai berikut:
23 – 34 = tidak terlaksana 35 – 46 = terlaksana
6. Uji reabilitas
Kuisioner peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care disusun oleh peneliti sendiri, maka perlu untuk dilakukan uji reabilitas. uji reabilitas ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar derajat kemampuan alat ukur secara konsisten sasaran yang akan diukur. Alat ukur yang baik adalah apabila beberapa kali dipakai sebagai alat ukur pada kelompok yang sama.
Uji reabilitas untuk kuisioner peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas telah dianalisa menggunakan rumus formula KR – 20 yang telah diperoleh hasil uji reabilitasnya terhadap 10 responden yaitu
r
11 = 0,93 .Menurut Polite & Huengler bahwa instrumen penelitian yang diuji realibilitasnya dengan hasil ≥ 0,70 maka kuisioner tersebut layak untuk digunakan. Dengan demikian kuisioner ini dapat dikatakan reliabel.
7. Pengumpulan data
Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran USU, kemudian surat permohonan izin yang diperoleh
diajukan ke Kepala Dinas Kesehatan Pemerintahan Kota Binjai. Setelah mendapat izin penelitian, peneliti melakukan pengumpulan data.
Pada saat pengumpulan data peneliti menjelaskan waktu, tujuan, manfaat dan prosedur pelaksanaan penelitian kepada calon responden dan yang bersedia menjadi responden diminta untuk menandatangani informed consent. Responden yang bersedia menjadi objek penelitian diwawancarai selama 10 menit dan diberi kesempatan bertanya apabila ada pertanyaan yang tidak dipahami. Selesai wawancara, peneliti memeriksa kelengkapan data dan jika ada data yang kurang lengkap dapat langsung dilengkapi. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis.
8. Analisa data
Analisa data dilakukan melalui beberapa tahap yang dimulai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi, dilanjutkan dengan memberi kode pada kuisioner untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi data.
Kemudian dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik komputerisasi yaitu program SPSS versi 12,0.
Pengolahan data dengan menggunakan statistik deskriptif meliputi distribusi frekuensi dan presentase untuk mendeskripsikan tentang data demografi, peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai.
BAB 5
HASIL DAN PENELITIAN
1. Hasil Penelitian
Dalam Bab ini diuraikan hasil penelitian tentang Peran dan Fungsi Perawat dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai melalui proses pengumpulan data yang dilakukan pada tanggal 11 Juni 2007 sampai dengan tanggal 23 Juni 2007.
1.1.Karakteristik Responden
Data tabel 1 adalah karakteristik responden (53 orang) meliputi umur, jenis kelamin, pengalaman kerja dan pelatihan tentang perkesmas. Data yang diperoleh menunjukkan mayoritas responden berumur 31 – 40 tahun (38%), seluruhnya adalah perempuan (100%), pengalaman kerja > 5 tahun (77%) dan pelatihan tentang perkesmas tidak pernah dilakukan (72%).
Tabel 1. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden (n = 53)
Karakteristik Frekuensi Persentase
Umur Responden
Tabel 1.(Lanjutan)
Karakteristik Frekuensi Persentase
Jenis Kelamin
1.2 Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan bahwa (72%) responden melakukan anamnese untuk mengumpulkan data dan hanya sebagian kecil responden melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil (9%), membuat diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan (28%), merencanakan tindakan berdasarkan diagnosa keperawatan (26%), melakukan implementasi berupa pelayanan 5T yaitu timbang berat badan dan pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus, pemberian vaksinasi Tetanus Toxoid dan pemberian tablet tambah darah, melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan haemoglobin darah ibu hamil, merujuk ibu hamil (21%) dan melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan (17%).
Tabel 2. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53) Peran dan fungsi perawat sebagai pemberi
pelayanan kesehatan
Frekuensi Persentase
Melakukan anamnese untuk mengumpulkan data Ya Melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil
Ya Melakukan implementasi berupa pelayanan 5T,
melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan haemoglobin dan merujuk ibu hamil
Ya Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan
Ya
1.3. Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Penemu Kasus Dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak melakukan kunjungan rumah untuk mencari dan menemukan ibu hamil (98%) dan tidak melakukan kunjungan rumah bila ada ibu yang tidak mengunjungi Puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan (94%).
Tabel 3. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai penemu kasus dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53)
Peran dan fungsi perawat sebagai penemu kasus Frekuensi Persentase Melakukan kunjungan rumah untuk mencari dan
menemukan ibu hamil Melakukan kunjungan rumah bila ada ibu yang
tidak berkunjung ke Puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan
1.4. Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Penyuluh Kesehatan Dalam Pelaksanaan
Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai.
Pada tabel 4 digambarkan hasil penelitian untuk kategori peran dan fungsi perawat sebagai penyuluh kesehatan didapatkan bahwa (66%) responden tidak menjelaskan pentingnya pemeriksaan ibu selama hamil (76%) tidak menjelaskan tentang kondisi kehamilan ibu, (70%) tidak menjelaskan tentang perubahan yang
dari resiko kehamilan, (68%) tidak memberikan penyuluhan tentang nutrisi, olah raga dan perawatan payudara, (72%) tidak menjelaskan alasan dirujuk bila ada indikasi dirujuk, dan (74%) tidak memberitahu/mengingatkan kapan harus datang ke Puskesmas untuk diperiksa ulang.
Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai penyuluh kesehatan dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53)
Peran dan fungsi perawat sebagai penyuluh kesehatan
Frekuensi Persentase Menjelaskan pentingnya pemeriksan ibu hamil
Ya Menjelaskan tentang kondisi kehamilan ibu
Ya Penjelasan tentang perubahan yang terjadi pada ibu
karena kehamilannya Menjelaskan tentang bahaya dari resiko kehamilan
Ya Memberikan penyuluhan tentang nutrisi, obat-obatan,
perubahan psikologis ibu hamil, merokok, olah raga dan perawatan payudara Menjelaskan alasan dirujuk bila ada indikasi dirujuk
Ya Memberitahu/mengingatkan kapan harus datang ke
Puskesmas untuk diperiksa ulang
1.5. Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Koordinator dan Kolaborator Dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Berdasarkan tabel 5 distribusi frekuensi dan persentase responden didapatkan bahwa hanya (15%) yang menyatakan melakukan koordinasi terhadap semua pelayanan yang diterima ibu, (23%) bekerjasama dengan keluarga dalam perencanaan pelayanan keperawatan dan (9%) menyatakan sebagai penghubung dengan institusi pelayanan kesehatan dan sektor terkait lainnya.
Tabel 5. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai koordinator dan kolaborator dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53) Peran dan fungsi perawat sebagai
koordinator dan kolaborator
Frekuensi Persentase Melakukan koordinasi terhadap semua pelayanan
yang diterima ibu Bekerjasama dengan keluarga dalam perencanaan
pelayanan keperawatan Sebagai penghubung dengan institusi pelayanan
kesehatan dan sektor terkait lainnya Ya
1.6. Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Konselor dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Tabel 6 menunjukkan mayoritas responden tidak menyediakan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan ibu (85%), tidak mendengarkan keluhan ibu hamil ketika ibu datang memeriksakan kehamilannya (68%), tidak memberikan dukugan moril berupa motivasi terhadap ibu pada waktu memeriksakan kehamilannya (70%), dan tidak turut serta dalam memilih pemecahan masalah yang dihadapi selama kehamilannya (89%).
Tabel 6. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai konselor dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53)
Peran dan fungsi perawat sebagai konselor Frekuensi Persentase Menyediakan informasi tentang hal-hal yang
berkaitan dengan kehamilan ibu Mendengarkan keluhan ibu hamil ketika ibu
datang memeriksakan kehamilannya Memberikan dukungan moril berupa motivasi
terhadap ibu pada waktu memeriksakan kehamilannya Turut serta dalam memilih pemecahan masalah
yang dihadapi selama kehamilannya
1.7. Peran dan Fungsi Perawat Sebagai Panutan (Role Model) Dalam Pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa seluruh responden (100%) menyatakan bahwa perawat Puskesmas dapat dijadikan contoh oleh ibu-ibu hamil dalam perilaku hidup bersih sehat misalnya tidak merokok dan gaya hidup sehat.
Tabel 7. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan peran dan fungsi perawat sebagai panutan dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai (n = 53)
Peran dan fungsi perawat sebagai panutan Frekuensi Persentase Perawat Puskesmas dapat dijadikan contoh oleh
ibu-ibu hamil dalam perilaku hidup bersih sehat misalnya tidak merokok dan gaya hidup sehat
Ya Tidak
53 0
100 0
2. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan akan berfokus pada peran dan fungsi perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan, penemu kasus,
pendidik/penyuluhan kesehatan, koordinator dan kolaborator, panutan (Role Model) dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah
Tinggi Binjai.
Data dari hasil penelitian diketahui bahwa perawat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Tinggi Binjai mayoritas berusia 31 – 40 tahun (38%).
Data ini memberi gambaran bahwa mayoritas staf yang ada di Puskesmas Tanah
Tinggi Binjai adalah staf pada tahap usia produktif. Bila dilihat dari 77%
responden dengan pengalaman kerja > 5 tahun maka seharusnya produktivitas kerjanya akan semakin baik (Siagian, 1995). Namun hal tersebut berbeda dengan kenyataan dilapangan bahwa mayoritas responden tidak melaksanakan peran dan fungsinya sebagaimana mestinya yang ditunjukkan dengan hasil penelitian.
2. Peran Dan Fungsi Perawat sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care Di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa mayoritas perawat melakukan anamnese untuk mengumpulkan data (72%), hal ini seiring dengan pendapat Ali (2001) yang mengemukakan bahwa anamnese adalah hal penting dalam interaksi antara perawat dengan klien atau keluarga klien tentang kesehatan klien, sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data yang akurat pada klien, pendapat ini sejalan dengan Morton (2005) bahwa anamnese kesehatan yang efektif memerlukan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan interpersonal yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa perawat telah melaksanakan peran dan fungsinya sebagai pemberi pelayanan kesehatan.
Berbeda dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hanya 9%
perawat yang melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil dan 72% tidak membuat diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan dan tidak membuat perencanaan (74%). Hal ini menunjukkan bahwa perawat belum melaksanakan proses keperawatan yang seharusnya dibuat oleh perawat profesional yang menggambarkan masalah kesehatan yang dirasakan pasien/klien
berdasarkan diagnosa keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan dan evaluasi. (Ali, 2001)
Dari data yang diperoleh hasil (79%) responden menyatakan tidak melakukan implementasi berupa pelayanan 5T, tidak melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan haemoglobin dan tidak merujuk ibu hamil, asumsi ini tidak sesuai dengan pendapat Garisson, dkk (2000) bahwa Kunjungan Baru Bumil (KI) adalah kunjungan yang pertama kali kepada tenaga kesehatan pada trimester satu dengan mendapat pelayanan Ante Natal Care 5T yaitu : timbang berat dan pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus, pemberian vaksinasi tetanus Toxoid dan pemberian tablet tambah darah. Menurut Muninjaya (2004) kegiatan integrasi pada program KIA/KB antara lain pemeriksaan haemoglobin.
Dan dari hasil penelitian menunjukkan terdapat responden yang menyatakan tidak melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan (83 %), hasil ini tidak relevan dengan tahapan dari proses keperawatan, dimana evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat secara terus menerus untuk membandingkan hasil dengan tujuan keperawatan atau dengan kata lain evaluasi keperawatan adalah penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan, dengan membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang telah ditetapkan, menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan pelaksanaan, hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
(Effendy (1998); Lismidar (1998); Potter & Perry (2005).
3. Peran dan Fungsi Perawat sebagai Penemu Kasus dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dari hasil distribusi frekuensi dan persentase peran dan fungsi perawat sebagai penemu kasus dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai diperoleh bahwa mayoritas (98%) perawat tidak melakukan kunjungan rumah untuk mencari dan menemukan ibu hamil dan (94%) tidak melakukan kunjungan rumah bila ada ibu yang tidak mengunjungi Puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan. Hasil ini dimungkinkan karena beratnya beban kerja, minimnya tenaga perawat, tidak adanya kemauan dari perawat dan keterbatasan dana operasional Puskesmas sehingga kunjungan rumah yang seharusnya dilakukan oleh perawat Puskesmas jarang dilakukan, bahkan hampir tidak pernah dilakukan (Anwar (2006) ; Nadesul (2007)), sehingga hasil ini tidak sesuai dengan kegiatan pokok Puskesmas Depkes RI (1991) dalam Efendi (1998) bahwa disebutkan salah satu kegiatan perawat Puskesmas pada program kesehatan ibu dan anak adalah melakukan kunjungan rumah.
4. Peran dan Fungsi Perawat sebagai Pendidik/Penyuluhan Kesehatan dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dalam penelitian ini responden mengatakan tidak menjelaskan tentang pentingnya pemeriksaan ibu selama masa hamil (66%), kondisi kehamilan ibu (76%), perubahan yang terjadi pada ibu karena kehamilannya (70%), resiko dan bahaya dari resiko kehamilan (74%), nutrisi, obat-obatan, perubahan psikologis ibu hamil, merokok, olah raga dan keperawatan payudara (68%), menjelaskan
untuk diperiksa ulang (74%). Hal ini memberi arti bahwa peran dan fungsi perawat sebagai pendidik/penyuluhan kesehatan belum dapat dilaksanakan dan tidak sesuai dengan penelitian Winarsih (2006) menjabarkan bahwa pendidikan kesehatan yang diberikan oleh perawat mampu mengatasi keluhan hamil pada ibu-ibu hamil.
Hal tersebut juga tidak sesuai dengan rancangan pedoman kegiatan perawat kesehatan masyarakat di Puskesmas oleh Depkes RI (2004) bahwa disebutkan salah satu peran dan fungsi perawat komunitas adalah sebagai pendidik kesehatan dimana perawat diharapkan mampu mengajarkan kepada individu, keluarga, kelompok tentang cara hidup sehat, hasil ini seiring dengan pendapat Imbalo (2006), petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang resiko dan bahaya yang ditemukan pada saat ibu memeriksakan kehamilannya, alasan ibu dirujuk bila ada indikasi dirujuk dan kapan harus datang untuk periksa ulang dan berdasarkan penelitian. Jumiati (2005), perawat harus mampu memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat terutama kaum ibu.
5. Peran dan Fungsi Perawat sebagai Koordinator dan Kolaborator dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden (85%) tidak melakukan koordinasi terhadap semua pelayanan yang diterima ibu, (77%) tidak bekerjasama dengan keluarga dalam perencanaan pelayanan keperawatan, (91%) tidak sebagai penghubung dengan institusi pelayanan kesehatan dan sektor terkait lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum koordinasi kerja dalam program Puskesmas
128/Menkes/SK/II/2004 tentang kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat bahwa salah satu dari azas penyelenggaraan, yaitu Azas Keterpaduan Lintas Program dan Lintas Sektor, dimana perawat melaksanakan keterpaduan Kesehatan Ibu dan Anak dengan Program Pemberantasan Penyakit Menular, Program Gizi dan Pengobatan.
Selanjutnya peran dan fungsi perawat menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan (1989) dalam Mubarak (2005) mengungkapkan bahwa peran perawat sebagai koordinator dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien, peran sebagai kolaborator dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari : dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lainnya dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk dalam penentuan pelayanan selanjutnya.
6. Peran dan Fungsi Perawat sebagai Konselor dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Mayoritas perawat tidak menyediakan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan ibu (85%), tidak mendengarkan keluhan ibu hamil ketika ibu datang memeriksakan kehamilannya (68%), tidak memberikan dukungan moril berupa motivasi terhadap ibu pada waktu memeriksakan kehamilannya (70%), tidak turut serta dalam memilih pemecahan masalah yang dihadapi selama kehamilannya (89%). Hasil penelitian ini tidak sesuai
Depkes RI (2004), bahwa dalam perannya sebagai konselor perawat Puskesmas membantu klien dalam hal ini ibu hamil untuk mencari dan memilih pemecahan masalah kesehatan. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain menyediakan informasi, memberi dukungan, menolong klien, mengidentifikasi masalah dan faktor-faktor yang terkait, memandu klien menggali permasalahan dan memilih pemecahan masalah yang dapat dikerjakan, oleh karena itu menurut Bondan Palestin (2007), bahwa peran dan fungsi perawat spesialis komunitas perlu ditingkatkan.
7. Peran dan Fungsi Perawat sebagai Panutan (Role Model) dalam Pelaksanan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dari hasil penelitian ini diketahui laporan responden menunjukkan dimana seluruh responden (100%) menyatakan perawat Puskesmas dapat dijadikan contoh oleh ibu-ibu hamil dalam Prilaku Hidup Bersih Sehat menyatakan ini relevan dengan pendapat Stanhope & Lancaster (2000), bahwa perawat kesehatan masyarakat berperan sebagai panutan (Role Model) dimana perawat menjadi contoh bagi anak-anak dan keluarga. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Herawati (2007), bahwa dengan kondisi tenaga perawat Puskesmas seperti saat ini, maka minimal perawat di Puskesmas memiliki enam peran dan fungsi salah satunya sebagai panutan bagi masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai tidak terlaksana (79%), menurut Suparmanto (2007) hal ini disebabkan karena
tugas menyebabkan perawat di Puskesmas belum dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, contohnya perawat lebih banyak memberikan pelayanan medik yang tidak sesuai dengan kewenangannya. Selain itu berdasarkan studi oleh Direktorat Keperawatan dan Keteknisan Medik Depkes RI bekerjasama dengan WHO tahun 2000 di empat provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur menemukan 47,4% perawat belum memiliki uraian tugas secara tertulis, 70,9% perawat tidak pernah mengikuti pelatihan dalam tiga tahun terakhir, 39,8% perawat masih melaksanakan tugas non keperawatan serta belum dikembangkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja perawat.
BAB 6
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa perawat yang ada di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai mayoritas berusia 31 – 40 tahun (38%), dengan pengalaman kerja mayoritas > 5 tahun (77%) dan (72%) responden tidak pernah mengikuti pelatihan tentang perkesmas.
Peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai yang terlaksana dengan baik hanya peran dan fungsi perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan pada aspek melakukan anamnese untuk mengumpulkan data (72%) dan sebagai Role Model (100%), sedangkan peran dan fungsi perawat sebagai penemu kasus, penyuluhan kesehatan, koordinator dan kolaborator serta konselor, belum dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga dapat dikatakan bahwa peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan Program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai dapat dikategorikan tidak terlaksana (79%).
2. Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian maka penting diberi rekomendasi kepada : 1. Praktek Keperawatan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan perawat tentang peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care
di Puskesmas, sehingga diharapkan perawat mampu menerapkan peran dan fungsinya dalam pelaksanaan program Ante Natal Care menjadi lebih baik.
2. Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dari hasil penelitian yang dilakukan perawat hanya melaksanakan dengan baik peran dan fungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan pada aspek melakukan anamnese untuk mengumpulkan data dan sebagai role model, karena itu perlu direkomendasikan kepada Puskesmas untuk melakukan pelatihan dan revitalisasi Perkesmas, sehingga perawat dapat menerapkan peran dan fungsinya dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
3. Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi penelitian selanjutnya yang ingin melakukan penelitian dengan topik dan ruang lingkup yang sama dengan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Z. (2003). Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
Anwar. (2006). Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu Perlu Didahulukan.
Diakses dari http://pks.or.id pada tanggal 8 Oktober 2007.
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Dep Kes RI, (2001). Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi. Jakarta.
Dep Kes RI, (2004). Keputusan Menkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004.
Dep Kes RI, (2004). Rancangan Pedoman Kegiatan Perawat Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Jakarta.
Effendi, N. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
Farrer, H. (1999). Perawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Garrison, dkk. (2000). Penyeliaan Pelayanan Kesehatan, Meningkatkan Kinerja Petugas. Diakses dari www.kbberkualitas.or.id. pda tanggal 27 Maret 2007.
Giebing, H. & Marr H. (2001). Penjamin Kualitas Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC.
Lismidar, dkk. (1990). Proses Keperawatan. Jakarta : UI-Press.
Lismidar, dkk. (1990). Proses Keperawatan. Jakarta : UI-Press.